Hadits Palsu Tentang Doa


[Dari Kitab Irwa'ul Ghalil 2/178-182. Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani; Kitab Riyaadlush-Shaalihiin dikarang oleh Imam An-Nawawi]

HADITS PERTAMA : 

Dari Hammaad ibn ‘Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan al-Jamhi dari Salim ibn ‘Abdullah dari bapaknya dari ‘Umar ibn al-Khatthab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya. Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu ‘Asakir (7/12/2). At Tirmidzi berkata : ”Hadits ini gharib/diriwayatkan oleh 1 orang sanad, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn ‘Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan darinya.” Bagaimanapun juga hadits ini lemah, berdasarkan pada perkataannya Al Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib, dimana beliau menjelaskan tentang riwayat hidupnya dalam At Tahdzib : ”Ibnu Ma’in berkata:’Dia adalah Syaikh yang baik’, Abu Hatim berkata:‘Lemah didalam (meriwayatkan) hadits‘, Abu Dawud berkata:’Lemah, dia meriwayatkan hadits-hadits munkar‘. Hakim dan Naqash berkata:’Dia meriwayatkan hadits-hadits yang tidak kuat dari Ibnu Juraij dan Ja’far Ash Shadiq’, Dia dinyatakan lemah oleh Ad Daraquthni, Ibnu Hibban mengatakan bahwa dia meriwayatkan sesuatu yang salah melalui jalur Ibnu Juraij dan Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, tidaklah diperbolehkan untuk menjadikannya sebagai sandaran, Ibnu Makula berkata:’mereka semua mencap hadits-hadits dari dia sebagai hadits lemah”’.

 

HADITS KEDUA :

Dari Ibnu Lahi’ah dari Hafsh bin Hisyam bin ‘Utbah bin Abi Waqqash dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya, ”Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengannyaHadits ini Dha’if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492). Ini adalah hadits dha’if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi’ah (Taqribut Tahdzib). Hadits ini tidak bisa dikuatkan oleh dua jalur hadits berdasarkan lemahnya hadits yang pertama.

HADITS KETIGA :

Dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka’b dari Ibnu ‘Abbas radiallaahu ‘anhu (marfu’), ”Jika kamu berdo’a kepada Allah,kemudian angkatlah kedua tanganmu (dengan telapak tangan diatas), dan jangan membaliknya,dan jika sudah selesai (berdo’a) usapkan (telapak tangan) kepada muka”. Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (3/98/1) & Hakim (1/536). Lemahnya hadits ini ada pada Shalih bin Hassan, Sebagai munkarul hadits, seperti dikatakan Al Bukhari dan Nasa’i,”Dia tertolak dalam meriwayatkan hadits”; Ibnu Hibban berkata:”Dia selalu menggunakan (mendengarkan) penyanyi wanita dan mendengarkan musik, dan dia selalu meriwayatkan riwayat yang kacau yang didasarkan pada perawi yang terpercaya”; Ibnu Abi Hatim berkata dalam Kitabul ‘Ilal (2/351):”Aku bertanya pada ayahku (yaitu Abu Hatim al-Razi) tentang hadits ini, kemudian beliau berkata:’Munkar’.” Hadits dari Shalih bin Hasan ini diriwayatkan juga oleh jalur lain yaitu dari Isa bin Maimun, yaitu yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Nashr. Tapi hal ini tidaklah merubah lemahnya hadits ini, sebab Isa bin Maimun adalah lemah. Ibnu Hibban berkata:”Dia meriwayatkan beberapa hadits,dan semuanya tertolak”. An Nasa’i berkata:”Dia tidak bisa dipercaya”.

 

HADITS KEEMPAT :

Hadits dari Ibnu Abbas ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1485), dan Bayhaqi (2/212), melalui jalur ‘Abdul Malik ibn Muhammad ibn Aiman dari ‘Abdullah ibn Ya’qub ibn Ishaq dari seseorang yang meriwayatkan kepadanya dari Muhammad ibn Ka’b, dengan matan sebagai berikut : ”Mintalah kepada Allah dengan (mengangkat) kedua telapak tanganmu,dan minta pada-Nya dengan membaliknya, dan jika kau selesai, maka usaplah mukamu dengannya”. Hadits ini sanadnya dha’if. Abdul Malik dinyatakan lemah oleh Abu Dawud. Dalam hadits ini terdapat Syaikhnya Abdullah bin Ya’qub yang tidak disebutkan namanya, dan tidak dikenal – Bisa saja dia adalah Shalih Bin Hassan atau Isa bin Maimun. Keduanya sudah dijelaskan sebelumnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Hakim (4/270) melalui jalur Muhammad ibn Mu’awiyah, yang berkata bahwa Mashadif ibn Ziyad al-Madini memberitahukan padanya bahwa dia mendengar hal ini dari Muhammad ibn Ka’b al-Qurazi. Adz Dzahabi menyatakan bahwa Ibnu Mu’awiyah dinyatakan kadzab oleh Daraquthni, Maka hadits ini adalah maudhu’. Abu Dawud berkata tentang hadits ini: ”hadits ini telah diriwayatkan lebih dari satu jalur melalui Muhammad ibn Ka’b; semuanya tertolak.”
Mengangkat kedua tangan ketika melakukan qunut memang terdapat riwayat dari Rasulullah tentangnya, yaitu ketika beliau berdoa terhadap kaum yang membunuh 15 pembaca Al Qur’an (Riwayat Ahmad (3/137) & AthThabarani Al-Mu’jamus-Shaghir (hal. 111) dari Anas dengan sanad shahih.
Serupa dengan yang hadits yang diriwaytakan dari Umar dan yang lainnya ketika melakukan qunut pada sholat Witir. Namun mengusap muka sesudah do’a qunut maka tidaklah pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga dari para shahabatnya, ini adalah bid’ah yang nyata.

Sedangkan mengusap muka setelah berdoa diluar sholat berdasarkan pada dua hadits. Dan tidaklah dapat dikatakan benar kedua hadits tersebut bisa menjadi hasan, seperti yang dikatakan oleh Al Manawi, berdasarkan pada lemahnya sanad yang ditemukan pada hadits tersebut. Inilah yang menjadikan alasan Imam An Nawawi dalam Al Majmu bahwa hal ini tidak dianjurkan, menambahkan perkataan Ibnu ‘Abdus-Salaam yang berkata bahwa ”hanya orang yang sesat yang melakukan hal ini”.
Bukti bahwa mengusap muka setelah berdo’a tidak penah dicontohkan adalah dikuatkan bahwa terdapat hadits-hadits yang tsabit yang menyatakan diangkatnya tangan untuk berdo’a, tapi tidak ada satupun yang menjelaskan mengusap muka setelahnya, dengan hal ini, wallahu a’lam, hal ini tidak diterima dan tidak pernah dicontohkan.

 

HADITS KELIMA :

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radliyallahu ’anhu mengatakan bahwa Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Orang yang sempurna akalnya adalah yang mengoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan).Hadits ini sanadnya dla’if, karena ada seorang perawi yang bernama Abu Bakar Ibnu Abi maryam; dia kacau hafalannya setelah rumahnya kecurian. Selanjutnya Adz-Dzahabi menolak dan mengkritiknya dengan berkata,”Demi Allah, Abu Bakar adalh orang yang suka menduga-duga dalam meriwayatkan hadits (rajulun waahin).
Ada syahid untuk hadits tersebut dari Anas radliyallaahu ’anhu yang diriwaytakan oleh Al-baihaqi dalam Syu’abul-Iman, tetapi beliau berkata,”tetapi dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Aun bin Ammarah, dia orang yang dla’if dalam periwayatannya”.
Lihat kitab Silsilah Ahaadits Adl-Dla’iifah hadits nomor 5319; Dla’if Al-Jaami’ Ash-Shaghiir no. 4305; Al-Misykah no. 5289; Dla’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 436; Dla’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 930; Bahjatun-Naadhiriin hadits no. 66 oleh Syaikh Salim Al-Hilaly; Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin hadits no. 66 oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.

HADITS KEENAM :

Doa adalah inti ibadah” [Hadits Dhaif] [Didhaifkan Al-Albani, Ta'liq 'ala Misykatul Masabiih 2/693 No. 2231]

About these ads

4 Komentar to “Hadits Palsu Tentang Doa”

  1. Ass. Wr. Wb.

    A’uudzubillahi minasy-syaitonir-rojim, BismiLlaahir-Rohmaanir-Rohiim. AlhamduliLlaah, wa Sholatu wa salamu ‘alaa RosuuliLlah SAW.
    Wa ba’du,

    Smoga qt diberikan cahaya Hidayah Alloh SWT sebagai mana telah diberikan kepada orang-orang yg telah Alloh berikan ni’mat yaitu para Nabi, Siddiqin, Syuhada & Sholihin.

    Ada pertanyaan yg ingin sy tanyakan kepada saudara,

    Pertama: Bila ada pertentangan pendapat antara Ulama qurun2 sekarang yg pendapatnya bahkan slalu mengakibatkan konflik klasik dlm khilafiyah furu’iyyah dgn cara2 taqlid buta, kultus & aroganisme(merasa paling benar), dengan Ulama Masyhur(mayoritas ulama yg telah mendahului Beliau2), pendapat siapa yg akan saudara ambil????

    Kedua: Apakah semua Hadits do’if (menurut sebagian ulama hadits & Ustad2 saudara, tp menurut ulama ahli hadits yg lain adalah hasan atau bahkan mungkin sohih) adalah sesuatu yg harus qt tolak dan buang jauh2, bagai mana kalao itu haqikatna berasal dari lisan mulia Nabi SAW, kmudian qt cpat memponis utk qt jauhi & menyuruh orang lain utk menjauihnya? (tanpa mau me-ri-cek dalil & cara pandang pihak yg tdk sejalan dengan pendapat saudara)
    Bagaimana sikap klak dihadapan pengadilan Alloh SWT & Rosul-Nya? apa yg akan qt lakukan?

    Maaf kalo ada kata2 yg tdk berkenan di hati, sy pribadi sama skali tdk bermaksud buruk” Naudzubilah” hanya sekedar mengajak merubah sedikit pola pikir kita dalam menyikapi perbedaan pendapat dikalangan umat utk mencari benang merah persamaan & pemperkecil konflik.

    Smoga qt mendapat ampunan-Nya & terjaga dr sifat su-udzon kepada saudara sesama muslim terlebih2 ulama Alloh yg ikhlas!!!!

    Wass. Wr. Wb.

  2. Wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.

    Terima kasih atas tanggapan antum atas postingan ana ini.

    Pertama-tama, dalam hal ini mari kita saling menasehati dan menghindari sikap taqlid buta terhadap seorang ulama, imam, ustadz, dsb.

    Para imam hadits pun tidak sembarangan dalam mentakhrij hadits, ada ilmu tersendiri, dan insya Allah mereka lebih pandai daripada kita.

    Kalau antum perhatikan postingan diatas, bukankan secara detail Syaikh al-Albani menjelaskan kedhaifan hadits2 tersebut. Itupun bukan pendapat pribadi, tetapi beliau juga membawakan pendapat-pendapat imam-imam sebelum beliau seperti Tirmidzi, Abu Daud, Hakim, dll.

    Kalau antum berkenan, silahkan antum bisa baca2 pada ketegori ilmu hadits di blog ana ini.

    Ana sebatas membawakan beberapa hadits dhaif, itupun menurut pendapat sebagian ulama.

    Selanjutnya kalau antum mempertanyakan, “Apakah ana taqlid terhadap pendapat imam/ulama tersebut ?”
    Untuk sementara ana mengatakan “YA”. Karena apa? Karena ilmu ana untuk sementara ini belum setara dengan mereka2 para imam hadits. Tetapi jika ada hujjah yang lebih kuat, bukan tidak mungkin ana akan mengkaji kembali keputusan ana. Dan ini bukan berarti ana plin-plan, tapi sejauh ini, inilah yang ana dapat.
    Bukankan Allah subhana wa ta’ala tidak akan membiarkan umat Muhammad shalallahu alaihi wasalam bersepakat diatas kesesatan.

    Bukankah perkataan seseorang dapat diambil atau dibuang, kecuali Rasulullah shalallahu alaihi wasalam ?

    Sebagai contoh, Syaikh al-Albani mengharamkan emas melingkar untuk kaum wanita (tentu saja berdasarkan analisa dari hadits2 yang ada). Sementara Syaikh bin Baz tidak mengharamkannya dan mengatakan bahwa hadits2 tentang pengharaman emas bagi wanita yang dibawakan oleh Syaikh al-Albani adalah hadits syadz.
    Dalam hal ini, ana cenderung kepada Syaikh bin Baz (allahu ‘alam).
    Tapi tidak dengan begitu ana lantas mendiskreditkan Syaikh al-Albani.

    Begitu juga untuk masalah-masalah yang lain, para ulama pun berbeda pendapat, ini masalah khilaf dan masuk wilayah ijtihad.

    Kita hanya diwajibkan untuk thlabul ‘ilm dan mengikuti nash. Jika memang terjadi perbedaan pendapat antar ulama, insya Allah mari kita ikuti pendapat yang lebih rajih/kuat.

    Insya Allah, alhamdulillah, semoga Allah senantiasa melimpahkan ilmu kepada kita.

  3. Zaja kaLloh khoiro… atas jwban antum, sy sangat setuju dengan sikap antum dalam menyikapi perbedaan umat. Seandainya umat mempunyai sikap toleran sepetri antum, tidak mudah menghujat & menghina ‘Ulama, Insya Alloh Islam akan segera kembali jaya!

    Tapi ada kata yg menurut ana kurang dimengerti dari judul posting antum dengan isi posting tsb. Dari judul tsb, antum memberikan judul “Hadis palsu tentang do’a” sedangkan isinya mengetengahkan hadits2 do’if (menurut pendapat sebagian ‘ulama). Yg jadi pertanyaan, apakah menurut antum yang dinamakan hadits palsu = hadits do’if, walaupun ke-do’if-an hadits tsb msh diperselisihkan.?

    Sementara itu dulu yg ana tanyakan, terimakasih atas tanggapan antum. Smoga Alloh SWT mengaruniakan qt semua khusnul khotimah !!! Aamiin!

  4. Alhamdulillah…
    Ana juga berharap sama seperti antum, semoga banyak umat yang tidak mudah untuk menghujat ulama.

    Begitulah yang ana pelajari dari pendapat-pendapat syaikh-syaikh besar ahlus sunnah.
    Syaikh bin Baz, Syaikh al-Albani, Syaikh Utsaimin, Syaikh Fauzan, dan lain-lain.

    Tapi bukan berarti jika ada pendapat ulama yang sekiranya tidak sesuai dengan nash, hal semacam ini wajib untuk dikoreksi (dalam hal ushul). Tentunya bukan ana yang masih dhaif ini, tapi ana sampaikan pendapat-pendapat ulama lain yang lebih rajih. Karena ulama mempunyai pengikut, ada umat uang mengikuti pendapatnya. Umat wajib mengetahui kebenaran yang haq berdasarkan nash. Dan inipun ada keterbatasan di dalam masalah khilaf dan wilayah ijtihad.

    Terima kasih atas komentar antum mengenai judul posting diatas tentang “Hadits Palsi Tentang Doa”.
    Untuk ini ana jelaskan bahwa hadits dlaif adalah adalah “hadits yang di dalamnya tidak didapati syarat hadits shahih dan tidak pula didapati syarat hadits hasan”.
    Sedangkan hadits maudhu adalah “sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam secara dusta”.

    Hadits maudhu adalah tingkatan hadits yang paling buruk di antara hadits-hadits dhaif lainnya. Sebagian ulama membagi hadits menjadi empat bagian : shahih, hasan, dla’if, dan maudlu’. Maka maudlu’ menjadi satu bagian tersendiri.

    Untuk lengkapnya antum bisa baca-baca di kategori ilmu hadits.

    Memang ana sengaja memberikan judul hadits palsu, bukan hadits dhaif.
    Karena apa?
    Karena masih banyak umat yang belum mengerti perbedaan dhaif dan maudhu itu sendiri. Banyak umat yang mengatakan bahwa hadits hanya ada shahih, hasan dan dhaif (palsu).
    Selanjutnya tingkatan-tingkatan dhaif itu sendiri umat tidak mengetahuinya (atau mungkin bahkan tidak mau tahu).

    Oleh karena itulah ana sengaja menuliskan judul yang spektakuler untuk menarik perhatian umat (walaupun tidak sama dengan detail pembahasan). Selanjutnya biar umat membaca dan ada ketertarikan untuk tholabul ‘ilm (bukan berarti ana sudah hebat).

    Terus terang pertama kali ana buat blog ini adalah untuk share ilmu syariat dengan umat. Sekali lagi bukan ana sudah hebat, ana pun masih copy/paste dari sana-sini. Ketik ulang dari sana-sini. Hal-hal yang ana postingkan disini pun tidak lepas dari masalah bid’ah, khurrofat dan bahkan masalah khilaf.

    Menjawab masalah antum tentang kedhaifan yang masih diperselisihkan, kembali seperti komentar ana sebelumnya.
    Mari kita berkhuznudzon kepada ulama yang insya Allah berjalan di jalan yang sesuai dengan tuntunan nash.
    Insya Allah, Syaikh al-Albani tidak sembarangan untuk mendhaifkan atau memaudhukan suatu hadits. Beliau adalah imam hadits terbesar di abad-19-20. Dalam mentakhrij dan menganalisa haditspun beliau tetap merujuk ke imam-imam hadits sebelumnya.

    Jangankan untuk zaman sekarang, di eranya imam ahmad, bukhari, dan lain-lain pun sudah terjadi khilaf mengenai suatu hadits.

    Memang, jumhur (mungkin ada sebagian yang menyatakan ijma’) bahwa shahih Bukhari Muslim adalah shahih yang paling shahih. Tapi Bukhari dan Muslim tidaklah maksum. Bahkan ada imam hadits dizaman Bukhari yang menentang sebagian isi dari shahih beliau sendiri.

    Kembali ke laptop, mari kita menjauhkan diri dari sikap taqlid buta. Sejauh ini, yang ana ketahui dan dari yang ana pelajari, hadits-hadits tersebut diatas dhaif menurut pandangan dan penilaian Syaikh al-Albani.
    Dan sampai saat ini belum menemukan ada counter dari ulama lain yang bisa menshahihkan atau menghasankan hadits-hadits tersebut.
    Ana sangat bersyukur kalau antum punya hujjah atas pandangan beliau atas hadits-hadits diatas. Kita bisa berbagi dan tholabul ‘ilm disini.

    Sementara ini dulu yang ana komentari.

    Jazaakumullahu khoiran katsiraa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: