Hukum Asuransi Dalam Islam


 

 

Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu, baik itu berbentuk imbalan, Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi), sebagai imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut (muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya.Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah, yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi.Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain:

A. Tertanggung, yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda

B. Penanggung, dalam hal ini Perusahaan Asuransi, merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan

ASURANSI KONVENSIONAL

A. Ciri-ciri Asuransi konvensional

Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional, diantaranya adalah:

1. Akad asuransi konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak, pihak penanggung dan pihak tertanggung. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan.

2. Akad asuransi ini adalah akad mu’awadhah, yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya.

3. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil.

4. Akad asuransi ini adalah akad idz’an (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung,

B. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam

Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya, maka permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam.Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah.

Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya:“Dan tidak ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Q. S. Hud: 6)“……dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)?……” (Q. S. An-Naml: 64)“Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup, dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (Q. S. Al-Hijr: 20)Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segala-galanya untuk keperluan semua makhluk-Nya, termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah telah menyiapkan bahan mentah, bukan bahan matang. Manusia masih perlu mengolahnya, mencarinya dan mengikhtiarkannya.

Melibatkan diri ke dalam asuransi ini, adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan dan masa tua. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash, maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi, yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari.

Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga, yaitu:

I. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya, temasuk asuransi jiwa Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq, Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania), Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth‘i (mufti Mesir”). Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:

· Asuransi sama dengan judi

· Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti.

· Asuransi mengandung unsur riba/renten.

· Asuransi mengandung unsur pemerasan, karena pemegang polis, apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya, akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi.

· Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba.

· Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai.

· Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis, dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah.

 

II. Asuransi konvensional diperbolehkan Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. Wahab Khalaf, Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari‘ah Universitas
Syria), Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir), dan Abd. Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). Mereka beralasan:

· Tidak ada nash (al-Qur‘an dan Sunnah) yang melarang asuransi.

· Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.

· Saling menguntungkan kedua belah pihak.

· Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan.

· Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil)

· Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‘awuniyah).

· Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen.

 

III. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada Universitas Cairo).Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan kelompok kedua, dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh).

Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu.Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini, masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan, sehingga sukar untuk menentukan, yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar.Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh, tentu jalan itulah yang pantas dilalui.

Jalan alternatif baru yang ditawarkan, adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam.Dalam keadaan begini, sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:“Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu.” (HR. Ahmad)Asuransi syariah

 

A. Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah

Suatu asuransi diperbolehkan secara syar’i, jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1. Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ), tolong menolong, saling menjamin, tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Allah SWT berfirman,” Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

2. Asuransi syariat tidak bersifat mu’awadhoh, tetapi tabarru’ atau mudhorobah.

3. Sumbangan (tabarru’) sama dengan hibah (pemberian), oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. Kalau terjadi peristiwa, maka diselesaikan menurut syariat.

4. Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan, harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan.

5. Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah.

6. Apabila uang itu akan dikembangkan, maka harus dijalankan menurut aturan syar’i.

 

B. Ciri-ciri asuransi syari’ah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri, diantaranya adalah Sbb:

1. Akad asuransi syari’ah adalah bersifat tabarru’, sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. Atau jika tidak tabarru’, maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba.

2. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan, dan kalau ada imbalan, sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama’ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama).

3. Dalam asuransi syari’ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama’ah seperti dalam asuransi takaful.

4. Akad asuransi syari’ah bersih dari gharar dan riba.

5. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.

 

C. Manfaat asuransi syariah.

Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah, yaitu:

1. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota.

2. Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong.

3. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat.

4. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak.

5. Juga meningkatkan efesiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu, dan biaya.

6. Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu, dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti.

7. Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad.

8. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja).Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional.

 

A. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari’ah.

Jika diamati dengan seksama, ditemukan titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah, diantaranya sbb:

1. Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing- masing pihak.

2. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota

3. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus)

4. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak.

 

B. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah.

Dibandingkan asuransi konvensional, asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal.

1. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.

2. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).

3. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.

4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.

5. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

6. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.

 

Dari perbandingan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syar’i yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpangan-penyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut.

Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut, serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami paparkan di muka.

Referensi: 1. Al-Quran AL-karim. 2. Al-fiqh al-Islamy wa adillatuhu, DR. Wahbah Azzuhaily. 3. Al-Islam wal manahij al-Islamiyah, Moh. Al Gozali. 4. Asuransi dalam hukum Islam, Dr. Husain Hamid Hisan. 5. Majalah al- buhuts al- Islamiyah, kumpulan ulama-ulama besar pada lembaga riset, Fatwa, dan dakwah. 6. Masail al-fiqhiyah, zakat, pajak, asuransi dan lembaga keuangan, M. Ali Hasan. 7. Halal dan haram, DR. Muhammad Yusuf al-Qordhowi. 8. Riba wa muamalat masrofiyah, DR. Umar bin Abdul Aziz al-Mutrik. 9. Riba wa adhroruhu ala al mujtama’, DR. Salim Segaf al-Djufri. 10. Masail diniyah keputusan musyawarah nasional Alim ulama NU, bandar lampung, 16-20 Rajab/ 25 januari 1992 M

About these ads

34 Responses to “Hukum Asuransi Dalam Islam”

  1. Kok kayak jawabannya syariah online ya? apakah syariah online yg nyontek blog ini, atau blog ini yg nyontek syariah online, atau blog ini pemiliknya sama dg syariah online ya?

    Abu Al Maira :

    Wah, kayaknya saya banyak nyontek dari sana-sini.
    Mulai nyontek dari penjelasan dan ilmu yang saya terima dari ustadz saya, dari kitab-kitab hadits, juga nyontek dari kitab2 dan fatwa para ulama, juga nyontek dari situs-situs islami.
    Kadang2 saya jadi bertanya, apakah para ulama/ustadz bisa dikatakan juga mencontek ? Soalnya mereka juga belajar dari guru2nya, dari ulama2 yang lain dan juga dari kitab2…

    Jadi yang saya tuliskan disini, bukan dari pemikiran saya pribadi, apalagi sampai mengarang2. Yang saya tuliskan atau lebih tepatnya saya sampaikan disini adalah ilmu dan pemahaman yang saya terima dari sumber2 yang ada.

    Saya hanyalah seorang penuntut ilmu, masih banyak kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki. Mohon maaf kiranya jika pengunjung blog ini merasa tidak puas dengan apa yang saya sampaikan.

    Jika ada yang salah dengan blog ini, tafadhal antum koreksi saya supaya blog ini terhindar dari kesalahan2 yang fatal.
    Adapun jika antum merasa bahwa apa yang disanmpaikan oleh blog ini, tingkat keilmuan dan informasinya jauh dari yang antum harapkan [atau tidak mencapai level yang antum harapkan untuk dijadikan ajang diskusi], ya silahkan antum merujuk kepada blog2 yang antum lebih yakini kapasitasnya, keilmuannya dan kebenarannya. Bahkan ana berharap antum bisa menambahkan khazanah di blog ini.
    Kalau ana perhatikan dimana blog antum jauh lebih berbobot.

    Jangan marah ya akhana Abu Zaid’ Faidzin Firdhaus bin Sumedi bin Yasmudi bin Naya al Banyumasiy

    Afwan kalo ada kata2 yang gak pantas…

    Barakallahu fiik…

    • Assalaamu ‘alaikum akhi. Memang ahsannya antum menyebutkan sumber penyalinan agar para pembaca bisa melacak balik sumber yang antum sebutkan. Baarakallaahu fiik

      Abu al Maira :

      ‘Alaikumussalaam akhi… Sebenarnya ana sudah kasih referensi2nya di bawah tulisan… Jadi ini lebih tepat campuran dari nukilan2…. Terima kasih atas masukan antum…. wa iyyak wa baarakallahu fiik…

  2. Assalaamu ‘Alaikum wr. wbr.

    Salam kenal
    Saya sangat setuju pada jawaban dan tanggapan akhi Abu Al Maira.
    Barang kali boleh menambahkan. Yang disebut ilmu pengetahuan itu adalah suatu ilmu yang kemudian didukung oleh beberapa rujukan dalam hal ini biasa ditulis dengan istilah karya ilmiah.
    jadi bisa di bilang sesuatu itu ilmiyyah apabila didukung alasan-alasan yang jelas dan kuat.
    atau jika kita melirik pada ilmu ushul fiqh, disana dikenal dengan ittiba’ yang mempunyai arti umum seseorang berpendapat tapi dia punya alasan-alasan yang diambil dari beberapa rujukan. hal seperti ini dianjurkan dalam agama.

    terima kasih
    wassalaamu ‘alaikum wr wbr

    Abu al Maira :

    Alaukumussalam warahmatullahi wa barakaatuh….
    Baarakallahu fiik…..

  3. assalamu’alaikum.. bagaimana kalau sipengelola yg konvensional membuka yan syariahnya juga? apakah ini Tadarruz (mencampuradukan yg halal&yg bathil?) Tadarruz = Haram hukumnya…
    Bagaimana komentar ustadz…Syukron dari HM.A.Darajat Al Muwahid.Cikarang Bks

    Abu al Maira :

    Alaikumussalam warahmatullah….
    Kalau gak salah, Lajna Daimah [MUI nya Arab Saudi] pernah mengeluarkan fatwa bahwa bolehnya/halalnya sehubungan dengan kasus yang anda tanyakan di atas pak Haji. Ini juga dimuat di Majalah Asy Syariah. Tapi Maaf saya lupa no referensinya…. Kalo pa Haji berkenan, di kategori muamalah di blog saya, pernah juga saya tuliskan mengenai fatwa tentang hal ini… Silahkan pak Haji baca2 n cari2 disana….

    Dan tentu saja, hal ini halal selama tidak melanggar aturan2 syariat itu sendiri….
    Allahu’alam

  4. asslm… saya mau tanya tentang asuransi jiwa itu haram atau halal. asuransi dari kantor???terima kasih atas jawabannya.

    Abu al Maira :

    Pendapat yang kuat mengatakan bahwa asuransi jiwa termasuk haram hukumnya.

    Namun jika asuransi ini diberikan oleh kantor sedikit saya kutipkan pendapat dari ulama besar ahlussunnah Syaikh Al Albani sbb :

    Asy-Syaikh Al-Albani ditanya tentang asuransi yang diwajibkan oleh pemerintah, bagaimana hukumnya?

    Maka beliau menjawab: “Kami mengatakan bahwa asuransi yang dibayar oleh pemilik mobil karena paksaan pemerintah, masuk dalam kategori pajak (yang dipungut oleh pemerintah secara paksa) yang pada dasarnya tidak disyariatkan. Akan tetapi karena hal tersebut diwajibkan secara paksa kepada mereka (untuk membayarnya) maka mereka lepas dari tanggung jawab di hadapan Allah dan tidak akan mendapatkan hukuman karenanya.
    Lain halnya dengan asuransi yang merupakan pilihan sendiri (tanpa paksaan) sebagaimana kebanyakan asuransi yang ada, berupa asuransi perumahan, pertokoan, barang (dan yang lainnya) maka seluruhnya adalah judi, haram untuk dilakukan.
    Adapun asuransi yang diwajibkan (dipaksakan oleh pemerintah) terhadap seseorang, maka (seperti kata pepatah): “Saudaramu ini terpaksa melakukannya, bukannya dia pemberani (menerjang perkara yang haram).”

    Kemudian sang penanya bertanya lagi: “Akan tetapi apakah dibenarkan baginya untuk melakukan muamalah dengan pihak syarikah (perusahaan asuransi terkait) atas dasar bahwa mobilnya terasuransikan di situ?”

    Asy-Syaikh berkata: “Tidak boleh.” [tidak boleh baginya untuk memanfaatkan (mengambil) uang asuransi dari perusahaan tersebut] (Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani)

    Allahu ‘alam

  5. klo jadi agen asuransi gimana hukumnya ?

  6. Assalamu`alaikum

    mau tanya bagai mana hukum orang yang bekerja di asuransi konvensional apakah gaji yg ia terima termasuk barang haram ?

    syukron atas jawabannya

    Abu al Maira :

    Alaikumussalaam warahmatullah..

    Sifat dari asuransi itu sendiri sudah bathil menurut syari’at… Ditambah lagi dengan perilaku bisnis asuransi yang turut melakukan praktek riba….

    Berusahalah mencari pekerjaan lain yang halal….

  7. Repot juga kalo asuransi jiwa haram hukumnya soalnya ada asuransi jasaraharja yang notabene asuransi jiwa. Preminya dibayar sekalian dengan tiket yg kita beli ketika naik kereta, kapal, maupun pesawat. Bahkan penumpang busway pun dilindungi asuransi jasa raharja karena mereka telah membayar premi ketike membeli tiketnya. Jadi kalo asuransi jiwa haram berarti naik kereta haram, naik kapal haram, naik pesawat haram, naik busway haram.

    Abu al Maira :

    Tidak ada yang repot… Yang jadi masalah adalah ketika kita berinisiatif mengikuti program asuransi konvensional ribawi. Adapun jika operator transportasi memberlakukan perlindungan asuransi kecelakaan pada penumpangnya ya sah-sah saja.

    Jangan dipanjangkan ke hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan keharaman asuransi konvensional. Sama halnya jika kita membayar pajak. Padahal pajak dalam Islam adalah haram. Apakah lantas kita berdosa karena kita bekerja di perusahaan sedangkan tiap bulan perusahaan dan kita sebagai karyawan diharuskan membayar pajak? Tentu tidak…

  8. Bagaimana hukumnya kalo berprofesi sbg agen asuransi yg mempunyai produk asuransi jiwa non syariah dan syariah?

    Abu al Maira :

    Jumhur ulama mengharamkan asuransi non syariah, dan bekerja di dalamnya dianggap sebagai tindakan tolong menolong di dalam perkara yang diharamkan…
    Adapun asuransi syariah, sampai sejauh mana kita bisa mengetahui kehalalan sistem asuransi tersebut berdadarkan sistem syariah… Kalau memang benar2 100% tidak melanggar syariah, maka boleh2 saja… Pertanyaannya, apakah kita bisa mengkaji sistem asuransi syariah tersebut….???

    Saran saya, carilah pekerjaan yg benar2 jauh dari perkara2 yang meragukan apalagi perkara yang diharamkan…

    Analogi paling ekstrim seperti ini …

    Misalnya anda lulusan S1 Manajemen… Dikarenakan suatu kondisi keluarga, maka anda harus pulang kampung untuk mengurus orang tua… Kemudian di kampung anda, hanya ada satu2nya pekerjaan kantoran… Anggaplah itu Bank dengan sistem riba seperti halnya bank2 konvensional yang ada… Gaji yang ditawarkan pun cukup baik….
    Selain kerja di bank tersebut, hanya ada pekerjaan2 ala kampung… Misalnya berdagang di pasar becek dengan penghasilan yang tidak tetap, jadi buruh tani dengan bayaran pas2an, atau jadi kuli di pasar dengan bayaran pas2an…
    Lantas kemudian mana yang anda pilih….???

    Intinya, pekerjaan itu tetap ada… Penghasilan tetap ada…. Hanya saja kekhawatiran kita akan ketidakcukupan dan kemiskinan jauh lebih besar daripada kepercayaan kita atas rezeki yang sudah ditetapkan atas diri kita…

  9. saya suka sma jawaban di no 9
    trm ksh ilmuny!!

  10. bahasan bagus, ijin copas ya sob , ane mau masukkan di blog ane untuk rujukan/referensi hukum asuransi

  11. Terimaksih sudah memuat bacaan ini, semoga Allah Swt membalas kebaikan anda,.. jangan berhenti dengan hal2 yang semacam ini, karena dengan ini umat muslim dapat bertambah pengetahuannya,.. makasih ya brader,..

  12. mudah2an Allah SWT membalas amal antum. Alhmdulillah ana lbh paham. Syukron

  13. Alhmdulillah ana mndpat ilmu yg brmanfaat. Syukron

  14. aslm, sy muklis syofian dari pekan baru, selama ini sy mengasuransikan usaha sy dari musibah kebakaran, gempa, huru-hara, kemalingan, dan dari bencana lainnya, yg ingin sy tanyakan bgm hukumnya mnrt islam tentang asuransi utk bisnis dr bencana alam dan lainnya. terima kasih atas jawabannya.

    Abu al Maira :

    Haram hukumnya…. Kecuali asuransi tersebut adalah biaya yang secara otomatis harus dibayar dan tidak ada niatan dari diri kita untuk mengikuti asuransi… Misal ketika membeli kendaraan yang harus membayar biaya asuransi… Atau tiket transportasi yang harus membayar asuransi… Demikian juga seperti pengurusan SIM/STNK dan hal-hal lainnya yang semisal dengan itu

  15. Mohon ijin memasukkan url berita ini di http://www.kibarkabar.com

    Dengan segala hormat dan kerendahan hati, mohon berkenan untuk submit url ke http://www.KibarKabar.com pada setiap berita.

    Terima kasih
    Best Regards
    KibarKabar

    Social & News Portal

    More Visitors to Your Website – The Traffic Network – KibarKabar

  16. :Ijin share Ustadz… Syukron…

  17. saya kapok dan ga akan ikutan asuransi, banyak mengandung penipuannya.

  18. Assalamu’alaikum wr. wb. Terima kasih kami ucapkan atas ulasannya yang memberi kita wawasan dalam bermuamallah menurut syar’i sehingga terhindar dari adzab Allah. Jaman sekarang banyak penawaran menarik dan menggiurkan. makalah seperti ini sangat diperlukan sebagai fiqih kotemporer yang mungkin belum ada zaman dulu atau belum dikupas pada kitab-kitab rujukan terdahulu. sekali lagi terima kasih.

  19. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Alhamdulillah setelah saya membaca ini, saya mendapatkan satu ilmu yang baru lagi Apa itu Asuransi dalam islam?
    karena sebelumnya saya pernah diajak oleh teman untuk menjadi agen asuransi. Tapi krena saya belum tau pasti apa itu asuransi. maka saya browsing di internet. Alhamdulillah saya menemukan blog ini yg mengulas tentang asuransi. Sangat bagus sekali. klo bisa dijadikan sebuah buku. maka masyarakat muslim akan mendapatkan wawasan yg luas. Dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. Terutama umat muslim di Indonesia.
    Semoga Sukses Selalu untuk bapak.

    Wassalam

  20. Terima kasih ilmunya semoga bermanfaat untuk saya

  21. Assalamu’alaikum wr. wb pa ustadz kebetulan saya ikutan program asuransi + investasi yang katanya syariah
    asuransinya (jiwa dan kesehatan) setelah saya baca di sini sepertinya asuransi jiwa apapun bentuknya haram, jadi saya berkesimpulan tidak ada asuransi jiwa syariah… dan masih ragu juga yang asuransi kesehatan yg katanya syariah..
    bagaimana pendapat pak ustadz.. apakah sebaiknya saya tutup aja asuransi saya dengan menanggung kerugian karena sebagian investasi dari setoran bulanan mungkin sangat kecil.
    terima kasih
    wass

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam….

    Jika mau aman, tinggalkan saja….

  22. assalamualaikum wr wb
    saya seorang single parents dengan 2 orang anak yatim, ketika suami meninggal 6 tahun yang lalu saya mengikuti program asuransi konvensional untuk diri saya meliputi kematian dan rawat inap rumah sakit. Tahun ini adalah tahun ke 6 untuk premi yang sudah saya bayarkan. Kalau benar asuransi konvensional adalah haram, bagaimana saya harus bersikap ? mengingat saya mengikuti asuransi ini adalah untuk planning masa depan saya dan anak-anak yatim saya.
    mohon penjelasannya, mksh dan wassalam

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Memang untuk biaya kesehatan di masa sekarang ini cukup berat bagi rakyat pada umumnya, sehingga rakyat “terpaksa” mengikuti program asuransi untuk “meringankan” biaya kesehatan…

    Apa yang halal tetap halal dan apa yang haram tetap haram…. Walaupun yang haram bisa menjadi halal dengan dasar darurat, dan kehalalannya sebatas menghilangkan darurat…

    Sebaiknya berhentilah mengikuti asuransi tersebut.

  23. assalamu’alaikum,
    trimakasih atas ilmunya ttg asuransi,,bbrapa wktu lalu saya tlh menutup axa mandiri sya dmana didalamnya ada asuransi jiwa dan investasi jangka panjang,,namun hal itu justru mendpt tkanan dri orang2 terdekat,,alhamdulillah dng adanya pengetahuan ini sya smkin yakin dgn apa yg sdh sya lakukan,trims
    wassalamu’alaikum

  24. assalamu’alaikum

    Trima kasih atas info nya mas !! :D
    Ini Berguna untuk menambah pengetahuan saya bahwa asuransi haram hukumnya dalam islam

    kunjungi blog saya juga yah mas : http://srysys.blogspot.com , di tunggu kunjungan baliknya :D

    wassalamu’alaikum

  25. trimakasih buat artikelnya, sangat membantu bagi saya dalam kegiatan diskusi di sekolah dan teman-temanku

  26. Asalamualaikum ya akhi ??? ane mau tanya dikantor saya bekerja menggunakan asuransi jams***tek untuk JPK,JHT,,, bagaimana hukumnya,, apakah itu termasuk haram ???

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Kalau anta bisa meminta bagian HRD untuk menghilangkan jamsostek anda, bisa atau tidak ?
    Saya rasa itu tidak bisa karena sudah menjadi peraturan pemerintah kalau perusahaan wajib memberikan jamsostek kepada karyawannya.
    Intinya adalah ini suatu paksaan dimana kita mau tidak mau harus mengikutinya sebagai konsekuensi kita sebagai karyawan.

  27. assalamu’alaikum, ana mau bertanya, di prudential itu, asuransinya berupa tabungan, jadi jika tidak ada klaim pun, uang tetap bisa diambil utuh jadi kedua pihak sama-sama untung. bagaimana hukum nya, jazakallah.

    Abu al Maira:

    ‘Alaikumussalaam…

    Ada penambahan manfaat, ada nilai pengembangan, ada bunga di dalamnya. Itu adalah riba.

  28. mas nanya apakah hukum asuransi konvensional dalam islam masih diperdebatkan atau tidak. karena masih banyak orang yang beranggapan bahwa asuransi konvensional masih dalam ranah perdebatan Mohon penjelasannya
    terima kasih

    Abu al Maira :

    Yang menganggap masih ranah perdebatan karena masih belum bisa menerima akan keharaman asuransi

  29. Ass.. Saya menekuni Prudential Syariah dan saat ini telah membuka agency khusus syariah, karena transparansinya dan ada Dewan Pengawas Syariahnya. Di sana sangat jelas berapa iuran tabaru’ nya dan perjanjian surplus sharingnya. Iuran tabaru’ akan dihitung setiap tahun jadi iuran tidak akan sama karena dihitung berdasarkan usia dan keadaan anggota (tertanggung). Jumlah tabungan tabaru’ ini akan dihitung dan dilaporkan setiap tahun, jika ada sisa dana karena jumlah klaim lebih kecil dari dana tabaru’ maka 70 % akan dikembalikan yang 30 % akan di pakai sebagai cadangan klaim tahun berjalan. Jika tabaru’ kurang maka menjadi kewajiban seluruh anggota untuk dana tabaru’ dengan cara dipinjami dengan cordul hasan (pinjaman tanpa bunga) yang akan dikembalikan dari iuran tabaru’ tahun berikutnya. Jadi tabaru’ di Prudential itu bukan hibah tetapi iuran tolong menolong yang akan dihitung ulang setiap tahunnya.

    Sedang penempatan tabungan peserta / anggota juga transparan yaitu dalam perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic Indeks (JII) dengan reksadana syariah dan bukan riba.

    Saya merekrut agen hanya yang komitmen menjalankan produk syariahnya saja. Sistem yang ada di prudential memungkinkan saya untuk memantau siapa saja agen yang “jual” konvensional dan jika ini terjadi sy akan pisahkan / lepaskan dan ikutkan ke unit konvensional.

    Setelah saya membaca jawaban-jawaban bapak, saya jadi ragu dan cemas karena melalui pekerjaan saya ini telah banyak pemuda-pemudi, ibu rumah tangga bahkan sy sengaja mendidik lulusan SLTA yang tdk mampu kuliah untuk “nyambi” sebagai agen agar bisa kuliah bahkan sy telah mendirikan yayasan yang menggabungkan antara 3 komponen masyarakat untuk tolong menolong dalam muamalah ini. Seperti ini pak : sy kumpulkan infaq dan sedekah untuk dipakai sebagai iuran (premi) dengan tertanggung para guru ngaji dan TPA sbg tambahan kesejahteraan mereka berupa layanan kesehatan dan pensiun. Pemegang polisnya yayasan dan pengelolaannya dibantu oleh mahasiswa yang agen tadi yang tinggal di mess yang sy sediakan.

    Di bulan Juli ini rumah saya telah berubah menjadi pesantren calon penghafal Qur’an dengan 100 santri dan 8 murobbi. Saya berfikir, dengan terjun di dalamnya kita bisa bendung mereka dengan mendakwahkan asuransi syariahnya sehingga bisa kita manfaatkan untuk memperkuat tali ukhuwah kita. Tapi membaca nasehat-nasehat bapak di blok ini ……. yang harus mundur dan membatalkan rencana-rencana mereka dg asuransi syariah sekalipun….. lalu Bagaimana saya harus bersikap ya pak……….. selama ini pegangan saya : Ini syariah yang diawasi oleh DSN dan Bismillah Inamal a’malu binniat. Begitu pak. Mohon solusi untuk sy….. Jazakillah.

    Abu al Maira :

    Sebenarnya ini bukan jawaban2 saya… Tetapi saya hanya menyampaikan jawaban dan pendapat-pendapat ulama atas kasus2 serupa…

    Asuransi Tabaru’ ataupun ta’awwun yang bersifat asuransi sosial pada dasarnya boleh… Misal, anda dan tetangga satu RT membentuk dana semisal kas RT. Dana itu nantinya akan digunakan untuk membantu warga rt yang mengalami musibah atau kesulitan. Tentunya tujuan dari hal ini adalah sosial… Tidak ada sedikitpun niatan untuk meraup keuntungan di dalamnya…

    Yang perlu dicermati, nasabah pada dasarnya menitipkan uangnya di pihak asuransi. Lantas pihak asuransi mengembangkankan dana tersebut. Dan sama-sama kita ketahui adalah bahwa setiap nasabah sudah dijanjikan nilai yang akan diperolehnya dalam kurun waktu tertentu, dengan kata lain nasabah memperoleh tambahan keuntungan dari nilai premi yang sudah dibayarkannya tanpa menanggung resiko apapun [resiko kerugian dari pengembangan dana oleh pihak asuransi pada berbagai macam sektor]. Lantas apa bedanya ini dengan riba ?

    Apakah bisa katakan saja bahwa pihak asuransi memberikan keuntungan sebagai hadiah/sedekah kepada para nasabahnya ? Padahal tidak sedikit modal yang dikeluarkan oleh pihak asuransi untuk membayar berbagai macam biaya semisal sewa gedung, gaji pegawai, perlengkapan kantor, dll…

    Saran saya,,, tinggalkan apa yang meragukan… Apapun manfaat yang diberikan asuransi, tidaklah lantas bisa menjadikan asuransi tersebut aman dari permasalahan syariat…

    Kita dituntut untuk cermat dan bijak dalam mengambil keputusan… Walaupun dilabeli syariah dan diawasi oleh DSN, tetapi secara individu kita wajib untuk mengerti terlebih dahulu dasar-dasar hukumnya… Kita pelajari pendapat2 yang mengatakan adanya permasalahan pada asuransi syariah.

    Saya rasa anda sudah bisa mencerna dengan baik… Pada intinya, pihak asuransi dan nasabahnya sama2 ingin mencari keuntungan, bukan semata2 untuk tolong menolong. Lain halnya dengan kas RT seperti yang saya sebutkan diatas….

  30. Kalau bekerja di jasaraharja itu hukumnya gmn ?

Trackbacks

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: