Hukum Pinjam Meminjam Dalam Islam (Al Ariyyah)


 HUKUM AL ARIYYAH

Al Ariyyah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain dalam jangka waktu tertentu lalu dikembalikan kepada pemilik.

…Dan tolong-menolonglah kamu dalam  kebajikan dan takwa…” (Al Maaidah 2)

Ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam meminjam baju besi dari Shafwan bin Umaiyyah, Shafwan berkata, “Apakah ini perampasan hai Muhammad ?”. Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, “Namun Al Ariyyah itu harus diganti.”

Hukum-hukumnya :

  • Harus sesuatu yang boleh dipinjamkan. “…dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (Al Maaidah 2)
  • Jika yang meminjamkan mensyaratkan kepada peminjam untuk mengganti barang yang dipinjamkan jika mengalami kerusakan, maka pihak peminjam wajib mengganti. Jika yang meminjamkan tidak mensyaratkan, tetapi barang rusak bukan karena keteledoran peminjam, maka disunnahkan untuk mengganti, tidak diwajibkan. Tetapi jika rusak karena keteledoran peminjam, maka wajib diganti walaupun pemilik tidak mensyaratkannya. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, “Tangan berkewajiban atas apa yang diambilnya hingga ia menunaikannya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, Al Hakim mengshahihkannya).
  • Peminjam harus menanggung biaya pengangkutan pada saat pengembalian.
  • Peminjam tidak boleh menyewakan barang yang dipinjamnya. Boleh meminjamkan lagi ke orang lain dengan izin dari pemilik.
  • Jika seseorang meminjamkan kebun untuk ditembok, peminjam tidak boleh mengambil lagi hingga temboknya roboh. Jika meminjamkan sawah untuk ditanami, peminjam tidak boleh mengambilnya hingga panen usai.
  • Jika meminjamkan dalam jangka waktu tertentu, peminjam disunnahkan untuk tidak mengambil barangnya sebelum masa waktunya habis.

Maraji’ :

  • Al Jawi, Shiddiq. Kerjasama Bisnis (Syirkah) Dalam Islam. Majalah Al Waie 57
  • An Nabhani, Taqiyuddin. 1996. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif. Surabaya: Risalah Gusti.
  • Abu Bakr Jabr Al Jazairi, Ensiklopedia Muslim, Minhajul Muslim, Penerbit Buku Islam Kaffah, Edisi Revisi, 2005.
About these ads

3 Komentar to “Hukum Pinjam Meminjam Dalam Islam (Al Ariyyah)”

  1. Makasih ya ini sangat membantu dalam pembelajaran

  2. bagaimana tentang orang yang berusaha pinjam ke orang lain untuk meminjami saudaranya. Namun disini kondisi orang yg di pinjami dari saudaranya itu juga sedang tidak memiliki uang, namun dia berusaha pinjam ke orang lain. Apakah di bolehkan juga dalam islam’ meminjami orang lain sedangkan dia kekurangan?..trims

    Abu al Maira :

    Menimbang manfaat dan mudharat, lebih baik tidak usah…

  3. Akh, saya mau bertanya tentang pinjam meminjam uang. Apakah yang meminjamkan uang berhak untuk mengetahui kegunaan uang yang dipinjamkannya, ataukah si peminjam berhak untuk merahasiakannya? Terima kasih.

    Abu al Maira :

    Setahu saya tidak ada keharusan untuk menceritakan perihal kebutuhan peminjaman… Tetapi Kreditur sah-sah saja jika bertanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: