Hukum Poligami Dalam Islam


 

HUKUM POLIGAMI

Syaikh bin Baz mengatakan [Majalah Al-Balagh, edisi 1028 Fatwa Ibnu Baz] :

Berpoligami itu hukumnya sunnah bagi yang mampu, karena firmanNya “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [An-Nisa : 3]

Dan praktek Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri, dimana beliau mengawini sembilan wanita dan dengan mereka Allah memberikan manfaat besar bagi ummat ini. Yang demikian itu (sembilan istri) adalah khusus bagi beliau, sedang selain beliau dibolehkan berpoligami tidak lebih dari empat istri. Berpoligami itu mengandung banyak maslahat yang sangat besar bagi kaum laki-laki, kaum wanita dan Ummat Islam secara keseluruhan. Sebab, dengan berpoligami dapat dicapai oleh semua pihak, tunduknya pandangan (ghaddul bashar), terpeliharanya kehormatan, keturunan yang banyak, lelaki dapat berbuat banyak untuk kemaslahatan dan kebaikan para istri dan melindungi mereka dari berbagai faktor penyebab keburukan dan penyimpangan.

Tetapi orang yang tidak mampu berpoligami dan takut kalau tidak dapat berlaku adil, maka hendaknya cukup kawin dengan satu istri saja, karena Allah berfirman “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja”. [An-Nisa : 3]

TAFSIR AYAT POLIGAMI

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” [An-Nisa : 3]

Dan dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisa : 129]

Dalam ayat yang pertama disyaratkan adil tetapi dalam ayat yang kedua ditegaskan bahwa untuk bersikap adail itu tidak mungkin. Apakah ayat yang pertama dinasakh (dihapus hukumnya) oleh ayat yang kedua yang berarti tidak boleh menikah kecuali hanya satu saja, sebab sikap adil tidak mungkin diwujudkan ?

Mengenai hal ini, Syaikh bin Baz mengatakan [Fatawa Mar'ah. 2/62] :

Dalam dua ayat tersebut tidak ada pertentangan dan ayat yang pertama tidak dinasakh oleh ayat yang kedua, akan tetapi yang dituntut dari sikap adil adalah adil di dalam membagi giliran dan nafkah. Adapun sikap adil dalam kasih sayang dan kecenderungan hati kepada para istri itu di luar kemampuan manusia, inilah yang dimaksud dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisa : 129]

Oleh sebab itu ada sebuah hadits dari Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membagi giliran di antara para istrinya secara adil, lalu mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam do’a: “Ya Allah inilah pembagian giliran yang mampu aku penuhi dan janganlah Engkau mencela apa yang tidak mampu aku lakukan” [Hadits Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim]

KERIDHAAN ISTRI TIDAK MENJADI SYARAT DI DALAM PERNIKAHAN KEDUA

Syaikh bin Baz mengatakan [Fatwa Ibnu Baz : Majalah Al-Arabiyah, edisi 168] :

Jika realitasnya kita sanggup untuk menikah lagi, maka boleh kita menikah lagi untuk yang kedua, ketiga dan keempat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anda untuk menjaga kesucian kehormatan dan pandangan mata anda, jikalau anda memang mampu untuk berlaku adil, sebagai pengamalan atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” [An-Nisa : 3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kesanggupan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kesucian farji ; dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menjadi benteng baginya” [Muttafaq ‘Alaih]

Menikah lebih dari satu juga dapat menyebabkan banyak keturunan, sedangkan Syariat Islam menganjurkan memperbanyak anak keturunan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Kawinilah wanita-wanita yang penuh kasih sayang lagi subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan menyaingi umat-umat yang lain dengan bilangan kalian pada hari kiamat kelak” [Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban]

Yang dibenarkan agama bagi seorang istri adalah tidak menghalang-halangi suaminya menikah lagi dan bahkan mengizinkannya. Selanjutnya hendak kita berlaku adil semaksimal mungkin dan melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya terhadap istri-istri kita. Semua hal diatas adalah merupakan bentuk saling tolong menolong di dalam kebaikan dan ketaqwaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman “Dan saling tolong menolong kamu di dalam kebajikan dan taqwa” [Al-Maidah : 2]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Dan Allah akan menolong seorang hamba selagi ia suka menolong saudaranya” [Riwayat Imam Muslim]

Anda adalah saudara seiman bagi istri anda, dan istri anda adalah saudara seiman anda. Maka yang benar bagi anda berdua adalah saling tolong menolong di dalam kebaikan. Dalam sebuah hadits yang muttafaq ‘alaih bersumber dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa yang menunaikan keperluan saudaranya, niscaya Allah menunaikan keperluannya”

Akan tetapi keridhaan istri itu bukan syarat di dalam boleh atau tidaknya poligami (menikah lagi), namun keridhaannya itu diperlukan agar hubungan di antara kamu berdua tetap baik.

BERPOLIGAMI BAGI ORANG YANG MEMPUNYAI TANGGUNGAN ANAK-ANAK YATIM

Ada sebagian orang yang berkata, sesungguhnya menikah lebih dari satu itu tidak dibenarkan kecuali bagi laki-laki yang mempunyai tanggungan anak-anak yatim dan ia takut tidak dapat berlaku adil, maka ia menikah dengan ibunya atau dengan salah satu putrinya (perempuan yatim). Mereka berdalil dengan firman Allah “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat” [An-Nisa : 3]

Syaikh bin Baz mengatakan [Fatwa Ibnu Baz, di dalam Majalah Al-Arabiyah, edisi 83]
:

Ini adalah pendapat yang bathil. Arti ayat suci di atas adalah bahwasanya jika seorang anak perempuan yatim berada di bawah asuhan seseorang dan ia merasa takut kalau tidak bisa memberikan mahar sepadan kepadanya, maka hendaklah mencari perempuan lain, sebab perempuan itu banyak dan Allah tidak mempersulit hal itu terhadapnya.

Ayat diatas memberikan arahan tentang boleh (disyari’atkan)nya menikahi dua, tiga atau empat istri, karena yang demikian itu lebih sempurna dalam menjaga kehormatan, memalingkan pandangan mata dan memelihara kesucian diri, dan karena merupakan pemeliharaan terhadap kehormatan kebanyak kaum wanita, perbuatan ikhsan kepada mereka dan pemberian nafkah kepada mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya perempuan yang mempunyai separoh laki-laki (suami), sepertiganya atau seperempatnya itu lebih baik daripada tidak punya suami sama sekali. Namun dengan syarat adil dan mampu untuk itu. Maka barangsiapa yang takut tidak dapat berlaku adil hendaknya cukup menikahi satu istri saja dengan boleh mempergauli budak-budak perempuan yang dimilikinya. Hal ini ditegaskan oleh praktek yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana saat beliau wafat meninggalkan sembilan orang istri. Dan Allah telah berfirman “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada Rasulullah suri teladan yang baik” [Al-Ahzab : 21]

Hanya saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada ummat Islam (dalam hal ini adalah kaum laki-laki, pent) bahwa tidak seorangpun boleh menikah lebih dari empat istri. Jadi, meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menikah adalah menikah dengan empat istri atau kurang, sedangkan selebihnya itu merupakan hukum khusus bagi beliau.

Sumber :

Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq

About these ads

74 Komentar to “Hukum Poligami Dalam Islam”

  1. assalamualaikum
    saya minta tolong dibantu, saya memerlukan contoh ijin dari pengadilan agama soal ijin poligami.
    saya harap bisa mendapat bentuan dari anda.
    Terima kasih.
    wassalamualaikum wr wb

    • Izin poligami dari Pengadilan agama bisa saya sebutkan diantaranya :
      1. Surat keterangan berpenghasilan yang ditanda tangan oleh Lurah / kepala desa setempat
      2. Surat keterangan berlaku adil
      3. bagi yang PNS,, mintak surat izin atasan…

      wess yang saya tau sih itu aja mas…?

  2. wah wah…
    maaf mas, saya gak bisa kasih jawaban tentang contoh ijinnya.

  3. bagaiman dengan saudara saya yang mempunyai istri 10..tapi semuanya awet-awet aja..ya..apa hkumnya..dia itu?

    Abul Maira :

    ***Nash mengatur untuk mempunyai istri maximal 4 orang. ***

  4. apakah balasan dari Allah swt bagi seorang istri yg merelakan suaminya berpoligami….ayat tentang itu dan hadist nabi saw ….saya bener membutuhkan jawaban itu…

    Abu Al Maira :

    Karena banyaknya keterbatasan yang saya miliki, sementara baca disini : http://jilbab.or.id/archives/409-jeritan-seorang-perawan-tua/

    http://salafiyunpad.wordpress.com/2007/10/24/terapi-rasulullah-dalam-menyembuhkan-penyakit-al-isyq-cinta/

    Maaf sebelumnya…

  5. assalamu’alaikum
    salam kenal mas.

    aboe zayd

    http://salafiyunpad.wordpress.com

    http://cambuk-hati.web.id

    Abul Maira :

    Alaykum salam warahmatullah…

    Salam kenal juga akh…

  6. mohon ijin untuk menyebarkan artikel ini. jzakallahu khairan katsiran

    Abu al Maira :

    na,am, tafadhal akh… wa iyyakum…

  7. Assalamualaikum

    Saya tertarik dengan tulisan bapak, sesungguhnya wanita diciptakan dari 1 tulang rusuk laki2 pada zaman nabi Adam, saya kira, sebagai seorang yg masih belajar agama, dan melihat semua dengan logika dan sederhana hati, pikiran, bahwa perkembangan sejarah dari nabi Adam hingga nabi Muhammad ttg pernikahan, hukum poligami, dan hukum lainnya, sudah dipikirkan ALLAH SWT, dalam arti akan terjadi seperti ini , terlepas keridhoan seorang wanita atau tidak, pendapat mazhab apapun, semua ini sudah diperkirakan ALLAH SWT, zaman Adam, Musa, Isa, Ibrahim semua mempunyai proses pemikiran, yg pada akhirnya perkembangan pemikiran manusia sejalan dengan perkembangan syetan menggoda manusia yang juga semakin berkembang, seorang teman yg banyak membantu menumpas syetan spt tenaga “ghost buster” berkata, kepandaian syetan tidak jauh hebatnya dengan pikiran manusia, krn tahu manusia lemah pada nafsu dan perasaan.

    Bila melihat keadaan sekarang, sangatlah pantas hukum poligami diturunkan setelah zaman nabi Muhammad SAW, yg tidak mungkin diturunkan di zaman nabi Adam AS, atau nabi Musa, semua seperti sudah “diperkirakan” Tuhan dan Maha Tahu segalanya…sesungguhnya tingkat keimanan saat ini benar2 diuji (menurut saya) kekomplektisan dan berbagai pendapat melihat konteks sejarah islam dan Qur’an ngg akan berhenti, hingga maut menjemput. Yang pasti, hanyalah, beberapa golongan orang-orang menurut keimanan mereka, toh kita semua tahu, bahwa hanya orang yg beriman dapat karunia bertemu dengan Sang Khaliq, kita semua merindukannya. Semua mempunyai golongan keimanan yg berbeda.

  8. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat.

    Berarti ini untuk orang/laki-laki yang sedang berhadapan dengan dengan “kasus” itu saja kan? [Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya)] …atau ini untuk kondisi general?

    Banyak pendapat yang memasukkan alasan poligami karena istri “bermasalah” dalam hal sexual, seperti mandul atau tidak lagi bisa melayani suami. Juga kondisi suami yang cenderung hipersex…jadi daripada bezina lebih baik poligami. Bagaimana kalau yang “bermasalah” si suami? Impotensi, misalnya. Atau, yang cenderung hipersex adalah si istri?

    Abu al Maira :

    Ya ini bersifat general, bersifat umum.. Tidak dibatasi oleh hal2 yang anda sebutkan diatas… Coba anda baca lagi di akhir2 penjelasan oleh Syaikh bin Baz…

    Jika suami yang bermasalah, yang lebih utama adalah istri bersabar dan mendukung suami, karena keutamaan seorang istri adalah berbakti kepada suaminya… Walaupun tidak menutup kemungkinan sang istri meminta cerai dari sang suami.
    Jika sang istri cenderung hypersex, ya berobatlah sehingga penyakit itu bisa hilang, bukan lantas meminta persamaan hak [poliandri misalnya].

    • Kenapa bila suami hipersex tidak disuruh berobat saja?
      Sebagian wanita juga mempunyai kecenderungan sex yang sama besarnya dengan laki-laki toh?
      Jadi kesimpulannya hipersex itu penyakit yang harus diobati bukan diliarkan dengan cara berpoligami.
      Saya tidak setuju artikel diatas karena cenderung tidak netral mengarahkan pria untuk berpoligami, padahal dalam islam bukan cuma ada poligami tapi monogami. Kedua jenis pernikahan tersebut ada sejak keturunan Nabi Adam AS yang pertama.
      Menurut saya Rosul berpoligami bukan karna nafsu shaywat & bukan karna tidak memiliki keturunan. Percayalah… jika seorang pria menikah hanya untuk memuaskan nafsu shaywatnya belaka maka bisa dipastikan bahwa 4 istri saja tidak akan cukup! Pria tersebut pasti menginginkan lebih & lebih banyak istri lagi! Setan terus menggoda dia sementara umurnya terus berkurang! selayaknya seekor binnatang ia hidup hanya mengandalkan nafsu & naluri tanpa menghiraukan logika, perasaan & hati nurani.

      Poligami & monogami sebenarnya sama saja tergantung niat & cara pelaksanaanya.
      Begitu juga laki-laki & perempuan sama saja yang membedakan hanya ketaqwaan kepada Allah! Harap penulis tidak menuliskan sesuatu yang tidak diketahuinya dengan baik. Pernikahan bukan hanya soal syahwat belaka tapi juga untuk kemslahatan kedua belah pihak toh?

  9. Assalamu’alaikum.wr.wb
    Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua…..
    salam kenal,,,,,,
    mas mohon sarannya, kakak saya telah beristri dan punyaa anak tapi dia ingin menikah lagi dengan seorang cwek………
    Tapi dalam prosesnya terjadi ketidakwajaran……..
    Semoga Allah mengampuni saya,dimana sang cwe’ tersebut menggunakan guna-guna atau dlam bhs trendnya pelet,,,,,,
    Dalam kondisi tertentu dia sadar dan mengakui kesalahnnya tp dalam kondisi lain dia ngotot harus nikah dengan si cwe’ tsb…….
    Lalu bagaimana hukum poligami itu sendiri berkaitan dg kondisi tersebut,lalu bagaimana tindakan saya selaku adik……….. mohon jwbnya……terima kasih….ws

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullah….

    Wah terus terang saya bukan ahlinya dalam permasalah seperti ini. Dan setahu saya, tidak ada syarat dalam nikah bahwa tidak sah nikah jika dengan atau karena pelet/sihir. Allahu ‘alam….

    Untuk masalah dilematis dalam internal keluarga, baiknya anda bicarakan hal ini dengan anggota2 keluarga yang lain….

    Hanya demikian yang bisa saya sampaikan, maaf jika tidak memuaskan….

  10. Assalamu’alaikum.Wr.Wb.

    Salam kenal.
    Saya mohon masukannya, saya seorang suami yang memiliki 1 istri dan 1 anak. saat sekarang ini saya dengan istri berjauhan dikarenakan pekerjaan kami masing-masing. kami sudah lama berpisah. Dan saya mempunyai keinginan untuk berpoligami, dan saya sudah mengutarakan keinginan ini kepada istri saya namun istri saya tidak menyetujuinya.
    1. Bagaimana hukumnya berpoligami untuk saya?
    2. Bagaimana cara memberi pengertian kepada istri saya atas keinginan saya tersebut?
    Atas masukan yang diberikan saya ucapkan jazakumullahu khairan katsiran.

    Wassalam.

    Abu al Maira :

    Alaikumussalam warahmatullah….
    Ada baiknya masalh ini anda bicarakan dengan keluarga anda [keluarga besar]….
    Maaf jika saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda….
    Baarakallahu fiik..

  11. Assalamu’alaikum.wr.wb
    Semoga Awloh senantiasa merahmati kita semua…..agar kita bisa saling bersilahturahmi baik di dunia dan kelak di akhirat……
    salam kenal,,,,,,

    Tolong Jelaskan dong mas, abang, abah dan guru arti dari ayat-ayat Qur’an dan Hadis-nya dibawah ini, karena suamiku pingin sekali poligami sedangkan keluargaku tidak setuju merasa dia belum mampi tetapi dia menjelaskan Ayat Qur’an seperti dibawah ini. Dan katanya di surga kelak juga akan ada poligami jadi poligami itu bukan dosa dan kita wajib melakukannya di bumi sebagai latihan untuk kebahagiaan abadi :
    Apakah benar yang diucapkan suami saya itu mas ? Jika kelak suami saya akan mendapatkan bidadari-bidadari di surga menjadi apakah status saya ? Apakah saya boleh juga selingkuh atau berhak memiliki bidadara-bidadara yang gagah dan jantan perkasa dan melakukannya di depan suami dan mertua beserta seluruh keluarga suami saya ?

    Berikut penjelasan suami saya mengenai surga islami berdasarkan Quran dan hadis :

    “Suatu kali Rasulullah pernah ditanya sahabat tentang hal ini. “Apakah penghuni surga melakukan persetubuhan?” Beliau menjawab, “Ya, dengan penyemburan yang keras, dengan kemaluan yang tidak lemas dan dengan syahwat yang tidak terputus, tetapi tidak keluar air mani sedikitpun, baik dari lelaki atau perempuan. Apabila selesai, perempuan kembali bersih dan kembali perawan.” (HR. Ibnu Hibban).

    Kemudian marilah kita melangkah jauh kedalam Quran dengan ahli tafsir Quran yang terpercaya, berikut petikannya

    QS 52: 17 – 20

    Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.

    QS 55: 70 -77

    Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik, yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.

    QS 56: 35 – 36

    Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan,

    QS 78: 33 – 44

    dan gadis-gadis remaja berdada montok* yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

    Kenapa kata berdada montok tidak disebutkan sama sekali dalam Quran bahasa Indonesia padahal dalam bahasa Arabnya ada jelas tertulis?

    QS 78: 33 ; Kawa’eba atraba

    Kata Arab ‘Kawa’eba’ berarti wanita perawan muda yang dadanya kencang montok dan berbentuk indah. Kata ‘atraba’ berarti usia yang sama. Tapi penerjemah Qur’an Indonesia terlalu malu untuk menerjemahkan dada montok tersebut sebab memang itu bertentangan dengan nurani sang penerjemah. Tapi bahasa Arabnya jelas menyebutkan hal itu. Karena merasa malu dan risih inilah para penerjemah Quran Indonesia dengan nekad mengedit kata2 Allah. Astagfirullah…

    Buku tentang surga birahi yang dapat anda cari di Gramedia : “Indahnya Bidadari Surga” penulis Jamal Abdulrahman

    Berikut ayat2 lain yang berkenaan dengan surga; QS 37: 40–48, 55: 56-58, 56: 22-24, 2: 25, dan 47:15.

    Bagaimana hadis menjelaskan surga dan bidadarinya?

    TIRMZI, vol. 2 p 138;

    Setiap lelaki yang masuk surga akan diberi 72 bidadari; tidak peduli pada umur berapa dia mati, ketika dia masuk surga dia akan menjadi seorang berumur 30 tahun dan tidak akan tambah tua. Lelaki di surga akan diberi keperkasaan yang sama dengan keperkasaan seratus orang lelaki.

    TIRMZI, vol. 2 p 35-40;

    Bidadari adalah wanita muda tercantik dengan badan tembus pandang. Sumsum tulang-tulangnya kelihatan bagaiman garis-garis dalam mutiara dan batu mirah. Dia terlihat bagaikan anggur merah di gelas putih. Dia berwarna putih dan bebas dari cacat fisik biasa perempuan seperti menstruasi, menopause, kencing dan berak, mengandung anak dan kekotoran-kekotoran lainnya yang berhubungan. Bidadari adalah seorang gadis berusia muda, berdada besar (montok) yang bulat menantang, dan tidak berayun-ayun. Bidadari-bidadari tinggal di dalam istana dengan sekelilingnya yang megah.

    Di bawah ini adalah hal2 yang lebih menakjubkan lagi yang akan menunggu muslim mukmin di surga islam menurut buku dari Imam Ghazzali yang berjudul Ihya Uloom Ed-Din. Buku ini dianggap paling penting setelah Quran oleh orang Islam Sunni.

    Volume 4, Halaman-4.430

    “Menurut Nabi Muhammad (SW) bidadari-bidadari di surga adalah wanita-wanita murni – bebas dari menstruasi, kencing, berak, batuk dan anak-anak. Bidadari-bidadari ini akan menyanyi di surga tentang kemurnian Ilahi dan memuja – kamilah bidadari-bidadari tercantik dan kami disediakan untuk suami-suami terhormat. Muhammad berkata bahwa penghuni surga akan mempunyai kekuatan seksual 70 lelaki. Dia berkata, “Seorang penghuni surga akan punya 500 bidadari, 4,000 wanita lajang dan 8,000 janda. Setiap dari mereka akan terus memeluk dia sepanjang hidupnya di dunia.”

    Volume 4, Halaman–4.431

    Muhammad berkata, “Jika penghuni surga ingin punya anak lelaki, akan dia dapatkan. Masa tinggalnya dalam rahim, disapih dan masa mudanya akan berlalu pada saat yang sama.” Muhammad berkata, “Penghuni surga tidak berjenggot dan tidak berbulu. Mereka berwarna putih dan mata mereka digambar dengan khol. Mereka akan jadi pemuda berusia 33 tahun. Mereka akan setinggi 60 cubits dan selebar 7 cubits.”

    Hadith: Al hadiths, Vol. 4, Page-172, No.34:

    Hozrot Ali (r.a) meriwayatkan bahwa Rasul Allah berkata, “Di surga ada satu pasar terbuka di mana tidak ada pembelian ataupun penjualan, tetapi ada lelaki dan perempuan. Jika seorang lelaki menginginkan seorang perempuan cantik, seketika itu dia bisa menyetubuhinya sesuai nafsunya.

    QS 36 : 55

    Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).

    Kesibukan apa ya?

    Berdasarkan tafsir Al Jalalani, kesibukan diartikan dengan fakehoun, atau memerawani wanita (virginity ripper), bahkan tafsiran yang lebih tajam diberikan oleh al- ‘Ouaza’i, yang merupakan cendikiawan Islam pertama memberikan tafsirnya tentang ayat Quran tadi (baca: Ihy’a ‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Vol IV, p. 575.), kemudian seorang Ahli Tafsir Quran bernama Ibn ‘Abbas dalam bukunya “Ibn ‘Abbas, Tanweer al-Miqbas, commenting on Q 36:55″ mengatakan hal yang sama dengan Tafsir Al Jalalani.

    Maksud sesungguhnya dari QS 36 : 55 adalah;

    Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam memerawani bidadari2.

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullah…

    Terus terang, bahasan diatas sudah banyak beredar di milis2 internet.,,

    Kalau dikatakan bahwa poligami itu adalah wajib di dunia, ya tentunya tidak. Dan belum pernah saya mendengar ada orang yang ingin masuk syurga karena hasrat seksual yang tinggi terhadap bidadari-bidadari di syurga.
    Jadi tidak ada korelasi antara seorang penghuni syurga yang ditemani oleh ribuan bidadari, lantas membutuhkan latihan di dunia ini untuk kebahagian abadi seperti yang suami anda maksudkan.

    Intinya pun, wanita penghuni syurga tidak akan menjadi iri/merana/nestapa/ gundah gulana karena suaminya [bisa suami asli di dunia ataupun suami yang disediakan di syurga] memiliki istri2 dan bidadari2 lain yang senantiasa menyenangkan sang suami. Jadi sepertinya tidak perlu dipertanyakan perasaan sang wanita penghuni syurga tsb, dan yang pasti Allah sudah mengatur dengan seadil-adilnya.

    Adapun kitab Ihya Ulumuddiin adalah kitab yang banyak diperdebatkan oleh para ulama ahlusunnah karena banyaknya kesalahan2 didalamnya, diantaranya banyaknya hadits2 yang riwayatnya lemah dan palsu. Diantara ulama2 yang mengkritiknya adalah Ibnu Katsir, Ibnu Jauzi, Imam al Zahabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. [Dan maaf saya belum bisa menuliskan kritikan2/koreksi2 dan penjelasan2 ulama2 tsb atas kitab Ihya]. Coba rujuk kesini : http://www.scribd.com/doc/3756928/IHYA-ULUMUDDIN-DALAM-PANDANGAN-PARA-ULAMA.
    Dan tentunya, bukan hak kita untuk mendiskreditkan atau menghina Imam al Ghazali, ulamapun bisa jatuh kepada kesalahan.

    Hanya saja alasan suami anda cukup unik, dan terus terang saya juga belum membaca dari tafsir atas ayat2 yang dimaksud. Coba anda baca tafsir lain dari ulama2 ahlusunnah yang diakui kredibilitasnya misalnya tafsir Ibnu Katsir, anda bisa baca maksud dari ayat2 diatas.
    Ahsan dan alangkah baiknya, jika anda menanyakan kepada orang-orang yang lebih ‘alim/berilmu daripada saya…
    Maaf atas keterbatasan saya…

  12. alhamdulillah akhirnya ketemua juga….
    terima kasih mass….

  13. izinkan untuk memakai artikel anda dalam referensi tugas saya pak. terima kasih

  14. Ass..saya seorang suami beranak 1..dan sudah sering sekali saya bertengkar masalah ketatakramaan istri kemertua dan masalah ibadah.terutama sholat, dan ngaji..selama ini istri saya klo gk di suruh sholat dia agak males dan selalu alesan klo disuruh ngaji, dan karena hal sperti itu dan kesopanannya ke mertu..sering sekali terlontar dari mulutnya meminta cerai..karena saya ada anak saya gk tega untuk bercerai, dan yg ada dipikiran saya, saya ingin mencari istri lagi yg sholehah dari kmpung..menurut bapak berdosakan saya bila menikah tanpa sepengetahuan istri pertama..

    Abu al Maira :
    Tidak ada nash/dalil yang mensyaratkan izin dari istri untuk berpoligami… Jadi tidak berdosa pak… Hanya saja untuk kasus anda, ada baiknya anda konsultasi dengan pakar-pakar konsultasi perkawinan dimana Insya Allah mereka bisa memberikan alternatif-alternatif solusi untuk anda…

    Untuk mencari istri yang shalehan tidak cukup dari kampung saja pak… Yang paling utama adalah mencari istri yang bisa dididik…. Banyak juga wanita-wanita yang rajin sholatnya, rajin puasanya, rajin baca ngaji, tapi berbicara kasar thd suami, keras kepala dan merasa paling pintar.
    Dan tentu saja, biasanya istri itu mencontoh suami. Maksudnya, jika kita mendidik istri kita harus memberikan contoh yg baik juga. Jika kita perintahkan istri untuk menjaga sholatnya, maka kita harus memberikan contoh dengan rutin menghadiri sholat jamaah di masjid. Jika kita melarang istri untuk mengaji, maka kita memberikan contoh misalnya dengan tidak bermalas2an di depan TV, tidak berleha2 mendengarkan musik, atau kita rutin menghadiri kajian mingguan yang sesuai sunnah. Kalo kita mau istri nurut sama mertuanya, maka kita harus terlebih dahulu menghormati orang tuanya dan orang tua sendiri. Bagaimana mungkin istri mau nurut, kalo kita sendiri senang membantah/menggerutu/mengeluh sama orang tua/mertua…

    Sementara itu saja pak,,, Maaf gak bisa banyak membantu…

    Mari kita belajar dan mencontoh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dalam mendidik dan memperlakukan istrinya…. Semoga Allah memudahkan….

  15. Assalamualaikum
    Maph saya ingin bertanya :
    1. Apakah seorang istri yg menolak dipoligami berarti dia jg digolongkan menolak hukum Allah
    2. Apakah perjanjian sebelum nikah itu diperbolehkan. Contoh seorang istri mengajukan persyaratan bahwa slama nikah dengannya suami gak boleh poligami selama istri masih hidup dan mampu.
    3. Apakah saat haid,nifas atau hamil istri bisa dianggap tidak mampu utk melayani suaminya sehingga suami dibolehkan poligami
    Mohon jwban,bisa dkrim lwat email creiz_bo@yahoo.co.id
    Makaci

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullahi…

    Sudah saya kirim via email… Semoga dapat membantu…

  16. Asalamualaikum,…
    Saya dan pacar saya berniat menikah dlm wkt dekat kebetulan dia seorang jama’ah dalam sbuah lembaga islam sedangkan saya hanya muslim biasa yg bukan anggota jamaah.
    Tetapi saya bru masuk dalam lembaga islam itu,.artinya saya anggota baru.
    Secara tiba2 dia teringat akan amanat almarhum ayah nya bahwa dia harus menikahi seorang jama’ah yg memang dia bnar2 jama’ah dri kcil.krna dia tkut durhaka maka sblm menikahi saya,terlebih dulu dia menikahi seorang mobhaloghoh yg brusia blm genap 20 thn.
    sebelumnya dia juga menjelaskan bhwa dia akan melakukan poligami kelak,mubhaligoh itu ridho saja.
    nah,…stelah dia mnjalan kan amanat alm.ayah nya baru lah dia menikahi saya,.dia selalu meyakinkan bhwa sayalah yg pertama dihatinya,tapi saya ga bisa terima saya ga sanggup kalo harus berbagi suami,. Maksud saya disini,…
    1. apakah boleh stlah dia mnjalankan amanat alm.ayahx lalu dia ceraikan istrinya??
    2. Boleh kah amanat itu ditawar sdikit,karna ayahnya meminta seorang jama’ah yg memang dri kecil yg mnjadi pndampingnya kelak bolehkah itu dganti dg jama’ah baru yg walopun bukan jama’ah dri kcil tp inti nya sama2 jama’ah,..
    wlopun org baru dalam jamah saya bs bljar bnyak ttg agama saya jg bersedia mlakukan apa yg dprintah kan suami,.
    Saya sampai nazar jika calon suami saya tidak menjadikan saya istri kedua saya akan berbakti seumur hdp saya dan tidak akan berbohong padanya dalam hal sekecil apa puN.
    Mohon tanggapan nya.
    Terimakasih
    Assalamualaikum

    Abu al Maira :

    Alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh…

    Saya coba salinkan sebuah fatwa :

    SYARAT NIKAH DENGAN MENCERAIKAN ISTERI PERTAMA
    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh

    Pertanyaan
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya : Apabila seorang wanita mau dinikahi dengan syarat isteri pertama diceraikan, bagaimana jika ia tahu hukumnya dan bagaimana jika ia tidak tahu hukumnya?

    Jawaban
    Apabila seorang wanita mau menikah dengan syarat istri pertama ditalak menuurt pendapat Abil Khattab penikahan sah. Akan tetapi menurut Syaikh Taiyuddin pernikahan tersebut tidak sah dan inilah pendapat yang benar. Tidak boleh bagi seorang wanita mau dinikah dengan syarat isteri pertama dicerai dan jika tetap bersikeras mensyaratkan seperti itu, maka syarat tersebut dinyatakan sia-sia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Setiap syarat yang tidak dibenarkan oleh aturan Allah maka syarat tersebut bathil”

    Dan dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Janganlah seorang wanita meminta suaminya untuk mentalak isteri lainnya untuk mendapatkan sesuatu yang tidak menjadi haknya”.

    Apabila seorang wanita tidak mau menikah kecuali dengan syarat isteri yang pertama diceraikan dan ia tidak rela jika mengetahui isteri pertama belum ditalak sementara ia tahu bahwa syarat tersebut bathil maka persyaratan tersebut dinyatakan sia-sia. Sebab bila wanita mengetahui hukum sesuatu tetapi tetap melanggarnya, maka ia harus diberi sanksi untuk tidak mendapatkannya kecuali bila ia tidak tahu, maka pernikahannya dibatalkan karena akad nikahnya tidak memiliki persyaratan.

    [Fatawa wa Rasaail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Juz 10]

    Sehubungan dengan pertanyaan anda….

    1. Tergantung dari amanatnya, apakah maksud amanat dari sang ayah untuk menikahi wanita dalam arti membina rumah tangga dengannya atau bukan..?? Umumnya, untuk amanat seperti ini jawabannya sudah hampir jelas bahwa maksudnya sang ayah meminta sang anak membina rumah tangga dengan wanita dari jamaah tsb.
    Kalau pertanyaan mengenai bolehnya thalaq atau tidak setelah menikah ya boleh, tapi kepentingannya untuk apa?

    2. Yang namanya amanah ya harus dijalankan mbak, selama tidak mengandung perkara-perkara yang melanggar syariat. Selanjutnya mengenai amanat untuk menikahi seseorang, berikut saya salinkan sebuah fatwa :

    AYAH MEMAKSA PUTRANYA MENIKAH
    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukumnya bila seorang ayah menghendaki putranya menikah dengan seorang wanita yang tidak shalihah ? Dan apa pula hukumnya kalau ayah menolak menikahkan putranya dengan seorang wanita shalihah ?

    Jawaban.
    Seorang ayah tidak boleh memaksa putranya menikah dengan wanita yang tidak disukainya, apakah itu karena cacad yang ada pada wanita itu, seperti kurang beragama, kurang cantik atau kurang berakhlaq.

    Sudah sangat banyak orang-orang yang menyesal di kemudian hari karena telah memaksa anaknya menikah dengan wanita yang tidak disukainya.

    Hendaknya sang ayah mengatakan, ‘Kawinilah ia, karena ia adalah putri saudara saya’ atau ‘karena dia adalah dari margamu sendiri’, dan ucapan lainnya. Anak tidak mesti harus menerima tawaran ayah, dan ayah tidak boleh memaksakan kehendaknya supaya ia menikah dengan wanita yang tidak disukainya.

    Demikian pula jika si anak hendak menikah dengan seorang wanita shalihah, namun sang ayah melarangnya, maka ia tidak mesti mematuhi kehendak ayahnya apabila ia menghendaki istri yang shalihah.

    Jika sang ayah berkata kepadanya, “Jangan menikah dengannya”, maka sang anak boleh menikahi wanita shalihah itu, sekalipun dilarang oleh ayahnya sendiri. Sebab, seorang anak tidak wajib taat kepada ayah di dalam sesuatu yang tidak menimbulkan bahaya terhadapnya, sedangkan bagi anak ada manfaatnya.

    Kalau kita katakan, bahwa seorang anak wajib mematuhi ayahnya di dalam segala urusan sampai pada urusan yang ada gunanya bagi sang anak dan tidak membahayakan sang ayah, niscaya banyak kerusakan yang terjadi. Namun dalam masalah ini hendaknya sang anak bersikap lemah lembut terhadap ayahnya, membujuknya sebisa mungkin.

    [Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini]

    Mengenai nazar anda, untuk berikutnya sebaiknya anda tidak usah bernazar. Karena nazar tidak menghasilkan apapun, tidak merubah takdir, tidak merubah nasib, dan hanya dilakukan oleh orang2 yg bakhil. Anda menjadi istri pertama atau istri kedua, toh tetap saja anda wajib berbakti dan tidak berbohong kepada suami. Kalau anda sudah bernazar, maka anda wajib menunaikannya.

    Allahu ‘alam

  17. bagaimana hukum asal berpoligami, dan hukum poligami di masa sekarang.. apakah ada perbedaan di antara keduanya ( poligami masa nabi dan di zaman modrn )….

    Abu al Maira :
    Hukum poligami adalah halal, demikian hingga zaman sekarang.

  18. salam kenal akhi… saya merasa senang bisa berkenalan dengan antum.

    mari sama2 kita dakwahkan Islam yang hanif di dunia internet. :)

    Abu al Maira :
    Salam kenal juga… Maaf kalo boleh bertanya, Islam yg hanif itu yang seperti apa ya?

  19. Assalamualaikum…
    Saya ingin bertanya..apakah hukum bagi suami yang sepatutnya berada di rumah isteri ke 2 selama 3 hari tetapi pergi ke rumah isteri pertama pada siang hari selama 3 hari berikut?

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullah…

    Jika suami berjanji untuk mengatur giliran, sedangkan kemudian dia tidak bisa menepati janjinya maka dia bersalah atas hal tidak menepati janji. Tapi jika dia merubah waktu giliran, sedang sang istri ikhlas maka hal ini tidak mengapa. Hal ini pernah terjadi sewaktu seorang istri Nabi merelakan waktunya bersama Nabi untuk istri Nabi lainnya yaitu Aisyah.

  20. as…ana ingin btanya.poligami dibolehkan dalam islam.menentang poligami berarti menntang aturannya allah swt.suami sy mubaligh dan ia sptnya ada niatan bpoligami.setiap mndengar poligami,hati ini rasanya dak enak ,membayangkan suami bercumbu dg istri yang lain.bagaimana y mnghilangkan persaan resah dihati ini n biar hati ini ridho seandainya suami berpoligami??apalagi bukan niatan syariah melainkan merasakan perempuan yang baru yng lbh muda.saya merenungi ,hidup sebentar didunia untuk akhirat yang panjang,ingin meningggal dalam keadaan mulia.meraih keridhoan allah adalh kuncinya.keridoan yang bs didapatkan dgn meraih ridho suami.mencintai,melaukan hak suami benar karena allah bukan karena suami.senyum meski hati bertentangan.dll.berkorban apapun jg termasuk hati yngsebenarnya g riho diduakan., gmn cr menghilangkan keresahan hati takut dipoligami nn biar riho suami bpoligami?.mgkn iman yang msh blm kuat kp allah yang maha adil,maha mengetahui.mengutamakn kehendaknya allah dari kehendaknya diri( yang ingin berpisah sj,males senyum,ingin jauh darinya).

    Abu al Maira :
    Perbanyaklah sholat malam, perbanyak dzikir, minta perlindungan kepada Allah dari gangguan dan bisikan syaithan yg selalu mengganggu hati manusia.
    Dan senantiasa tetapkan di hati bahwa Allah senantiasa memberikan jalan yang terbaik untuk anda

  21. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Tanya nih ,
    Saya seorang guru PNS 45 th. Dulu (15 tahun yang lalu) pernah tertarik kepada seorang siswi dan dia pun menyambut cinta saya. Tapi karena waktu itu saya telah berkeluarga dengan 1 anak dan dia masih saya anggap memiliki kesempatan luas untuk meraih cita-cita maka saya pun , lillaahi ta’ala, melepaskannya. Tiga bulan yang lalu kami bertemu. Dia berstatus janda, dua anak (10 dan 6 tahun). Asmara pun tumbuh lagi di antara kami. Belakangan saya tahu, rasanya sulit mendapatkan pendamping karena ia punya sakit asma dan gangguan ginjal. Dia akan menikah lagi asalkan dengan saya meskipun jadi istri ke-2 karena dia meras saya pilihan terbaik dan bisa menjadi imam keluarganya.

    Saya berkeinginan menikahinya karena kasihan (disamping cinta kami juga tumbuh lagi). akan tetapi kendalanya:
    1. saya tidak cukup mampu secara ekonomi
    2 istri pertama saya (masih) keberatan.
    Terhadap kendala itu dia menjawab:
    1. dia tidak ingin nafkah lahir dari saya karena merasa telah memiliki penghasilan yang cukup untuk hidup dan membesarkan anak-anak. Dia juga telah memiliki tempat tinggal.
    2. dia bersedia saya nikahi kalau ada keikhlasan dari isteri pertama saya.

    Pertanyaan saya, :
    1. bolehkah saya menikahinya dengan tanpa memberi nafkah lahir secara-tetap kecuali yang sifatnya insidental untuk sekadar membantu dan menunjukkan perhatian dan kasih sayang?
    2. Bagaimana hukumnya kalau niat saya menikahi lebih didasari rasa kasihan dan keinginan mengisi kekurangan dalam rumah tangganya. Terus terang saya tidak tega melihat dia harus bekerja keras sebagai ibu rumah tangga sementara tidak ada teman lelaki (suami) yang mendampinginya, padahal dia seorang muslimah yang baik.
    3. bagaimana caranya agar istri pertama saya bisa menerima dia sebagai madunya? saya ingin dia dan istri saya akur dan akrab.
    4. Sulitkah mengurus izin menikah lagi bagi seorang PNS?

    Terima kasih atas jawabannya dan kalau berkenan dikirim ke emali saya

    Abu al Maira :

    Sudah saya kirim email pak…

  22. saya sangat tertarik dengan pertanyaan yang di ajukanoleh bapak agus setiono (pernah di bahas pad 28 februari 2010,maaf tidak dapat mengaksek)tapi sayang jawabannya dikirimlewat email,mohon di bahas lagi dan dikirim ke email saya.mohonsekali.waslmmualikum

  23. assalamualaikum wr wb,saya sangat tertarik dengan pertanyaan yang di ajukan oleh bapak agus setiawan,karena salah satu sadara saya ada yang kondisinya hampir sejenis dengan beliau,mohon dengan sangat di ulas kembali , dan berkenan mengirim via email untuk menjaga privasi bpk agus ,mohon sekali,wasalamualaikum wr wb.

  24. ASS.WR.WB.
    saya mengalami seperti yg dialami oleh bapak agus….. hnya saja saya yg mnjadi istri no.2 nya dan kami tlah mnikah siri 1thun yg lalu….
    berdosakah kmi kpada isti pertama nya pak????
    mohon saya untuk dbntu …..dan berkenan mngirim via email saya
    terima ksih sblum nya….. wassalam mualaikuum wr.wb

  25. Assalamuaalaikum wr wb .., saya mau tanya, beberapa minggu lalu suami mentalak saya (talak3 sekali ucap) dikarenakan saya tidak mau dipoligami, sebelum masa iddah selesai dia mengajak rujuk lagi namun tetap berpoligami. Pertanyaan saya :1. masih bisakah kami rujuk? 2. Apa hukumnya secara syar’i bila istri menolak rujuk karena tidak mau dipoligami. 3. Benarkan mnrt syar’i istri tidak boleh menuntut cerai kalo alasannya tidak mau dimadu? Terimakasih. wassalamualaikum wr wb.

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam warahmatullah…

    Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai thalaq 3 yang dikatakan sekaligus. Sebagian ulama mengatakan bahwa thalaq 3 yang dikatakan sekaligus maka thalaq mutlaq yang tidak bisa rujuk lagi [kecuali sang istri menikah lagi dengan orang lain]. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa thalaq 3 yang dikatakan sekaligus, maka hitungannya adalah 1 thalaq. Bukan 3 thalaq.

    Jumhur ulama [mayoritas] berpendapat, bahwa thalaq 3 yang dijatuhkan sekaligus adalah haram hukumnya. Walaupun demikian banyak berpendapat thalaq tersebut terhitung 3 thalaq.

    Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat yang menyatakan bahwa thalaq seperti itu adalah terhitung 1 thalaq.

    Pendapat kedua ini dipegangi oleh banyak Ulama salaf dan khalaf, dan ini pendapat Ashhab Malik, abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal, dan pendapat kedua ini yang lebih tepat, berdasarkan banyak dalil diantaranya:

    Dari Ibnu Abbas yang terdapat dalam As Shahih (yang dimaksud shahih Muslim):

    {عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ الطَّلَاقُ الثَّلَاثُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ وَاحِدَةً}

    “Dahulu Thala tiga pada zaman Rasulillah صلى الله عليه وسلم, Abu Bakar, dan di awal kekhilafahan Umar adalah “satu”.

    Dalil lain adalah hadits riwayat Ahmad dan lainnya dari Ibnu Abbas dengan sanad yang baik:

    {أَنَّ رُكَانَةَ بْنَ عَبْدِ يَزِيدَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ثَلَاثًا فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ، وَجَاءَ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إنَّمَا هِيَ وَاحِدَةٌ وَرَدَّهَا عَلَيْهِ}

    “Rukanah bin Abdi Yazid menthalaq istrinya tiga kali dalam satu majlis, lalu datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, lantas beliau bersabda: “Sesungguhnya itu hanya tehitung sekali, kemudian beliau mengembalikan sang istri kepadanya.”

    Dan hadits ini telah ditsabitkan oleh Ahmad dan lainnya.

    Ahmad, Abu Ubaid, Ibnu Hazm dan lainnya telah melemahkan (hadits Rukanah) yang diriwayatkan dengan lafadz:

    {أَنَّهُ طَلَّقَهَا أَلْبَتَّةَ وَقَدْ اسْتَحْلَفَهُ مَا أَرَدْت إلَّا وَاحِدَةً؟}

    “Ia menthalaq istrinya dengan thalaq tiga, lalu ia diminta bersumpah bahwa : “Aku tidak menghendakinya kecuali satu”.

    Berdasarkan penjelasan diatas maka :

    1. Sesuai sunnah, jika belum pernah thalaq atau pernah 1x thalaq, maka boleh rujuk lagi.
    2. Itu hak istri.
    3. Pada dasarnya permintaan cerai seorang istri terhadap suaminya tanpa adanya suatu alasan yang dibenarkan maka ia dilarang, . Dan perkara poligami bukanlah alasan syar’i untuk menuntut cerai kepada suami. Walaupun demikian istri sah2 saja kalau mau lari ke pengadilan agama. Baiknya hal ini dikonsultasikan kepada ustadz2….

    Lain halnya jika anda menolak poligami, tapi anda tidak menuntut cerai, tapi kemudian suami anda yg men-thalaq anda…

    Allahu ‘alam

  26. Assalamu alaikum Wr Wb. sy mau tanya,disaat sekarg ini sy menyukai dan dekat sm seorang wanita yg bisa diblg soleha,slalu mgingatkan sy dgn hal2 yg baik dlm islam,tapi sy sdh punya istri dan anak,sy sdh konsultasikan sm istri sy mengenai wanita itu,tp istri sy tdk setuju dan mita cerai,padahal sy tdk menginginkan cerai,sy cuma mau dia menerima wanita itu sebagai istri ke 2,

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam warahmatullah…

    Tidak halal bagi seorang istri menuntut cerai kepada suami tanpa adanya alasan yang jelas. Dan poligami bukanlah alasan yang diizinkan secara syariat bagi istri untuk menuntut cerai….

  27. #

    Assalamualaikum
    Maph saya ingin bertanya :
    1. Apakah seorang istri yg menolak dipoligami berarti dia jg digolongkan menolak hukum Allah
    2. Apakah perjanjian sebelum nikah itu diperbolehkan. Contoh seorang istri mengajukan persyaratan bahwa slama nikah dengannya suami gak boleh poligami selama istri masih hidup dan mampu.
    3. Apakah saat haid,nifas atau hamil istri bisa dianggap tidak mampu utk melayani suaminya sehingga suami dibolehkan poligami
    Mohon jwban,bisa dkrim lwat email creiz_bo@yahoo.co.id
    Makaci

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullahi…

    Sudah saya kirim via email… Semoga dapat membantu…

    Eristrin dibahas juga di dalam Agustus 10, 2009 pada 6:17 am | Balas
    #

    Ass?? saya minta dikirimi kopian jawaban tersebut, atau ke e-mail saya easta87@yahoo.com
    Wasskum??

    Sudah

  28. ass’salam kenal..saya mohon penjelasan..
    apakah poligami boleh dilakukan dng proses awal slingkuh??? sya sangat membenarkan poligami sah dlm islam..tp terkadang org hny tau hasilnya saja..tp tdk tau prosesnya..poligami sah bagi pria muslim di seluruh dunua..tp tanpa takdir Allah tdk smua pria mendapatkan takdir itu..akhirnya ada anggapan ‘yah drpd zinah ,lbh baik poligami” krn ternyata hny alasan suami yg diterima dlm poligami..misalnya..istri tdk bs mberi kturunan..tp bgmana jika suami blm pernah tau kl istrinya tdk bs mberi anak?? blm pernah melakukan usaha sampai titik akhir? miasalnya krn istrinya sakit..tp sebenarnya istrinya tdk sakit dan tdk cacat..atao calon istri ke 2 menjelek kan istri pertama..jd ada suami yg cuma mencari alasan unt di sahkan poligami…apakah salah si istri tdk ridho kalu situasinya sperti ini????
    trimakasi atas waktunya….wasalam..

    Abu al Maira :

    Hal mendasar yang perlu difahami bahwa poligami itu adalah halal dalam islam. Jadi, suami boleh2 saja melakukan poligami walaupun ia memiliki istri yang shalehah, cantik, sehat, bisa memberikan keturunan, kaya, dll.

    Kalau poligami lantas dikaitkan dengan perselingkuhan, ya tidak benar juga. Karena, perselingkuhan biasanya terjadi karena kondisi suami yang tidak nyaman dengan kondisi istrinya, disamping kemungkinan hasrat suami yang terlalu besar.

    Jika kondisi poligami terpaksa dilakukan karena suami sudah melakukan hal yang melanggar syariat [berzina dengan wanita lain misalnya, atau melakukan perbuatan2 keji yang tidak layak dilakukan oleh laki2 muslim], maka istri berhak meminta keputusan kepada hakim [pengadilan agama] untuk memberikan solusi terhadap permasalah tersebut.
    Lain halnya jika suami berpoligami tanpa didahului oleh perbuatan2 yang melanggar aturan syariat, maka tiada berhak bagi istri untuk menggugat sang suami.

  29. izinkan untuk memakai artikel anda dalam referensi tugas saya pak.jzakallahu khairan katsiran

  30. Menurut hemat saya, poligami itu mubah (dlm fiqih sunnah sayid syabiq). Tapi dalam kondisi tertentu bisa menjadi haram, sunnah, bahkan mungkin wajib. Ketika seorang suami menikah karena ingin menyakiti pertamanya atau istri keduanya.. mungkin terjadi khan? Atau suami yang tidk than menghadapi istrinya yang sdh melewati batas kewajaran dlm bertingkah laku. Bisa mnjadi wajib.

    Jadi pada hakekatnya poligami itu tetap berdasar pada hukum pernikahan. Dalam kondisi tertentu bisa haram, sunnah, mubah dan wajib. Benarkah spt ini? Tksh

  31. ass.wr.wb
    4 bulan yg lalu status saya yang janda 10 tahun berubah menjadi istri kedua dari suami yang 9 tahun lebih muda dengan dilamarkan oleh istri pertamanya.segala proses dan perijinan semua diurus suami dan istri I.Dlm sr kesepakatan yang dibuat oleh istri I, saya mendapat giliran 3 hari kunjungan dalam seminggu dan nafkah lahir sesuai kewajaran.Tp dlm prakteknya saya tidak mendapatkan nafkah lahir sama sekali dari suami dan wkt kunjungan tidak sesuai kesepakatan.Tiap suami selesai gajian, besoknya saya dibelikan istri I sabun cuci dan mandi kebutuhan yang tidak ckp dipakai dalam sebulan Saya ikhlas dengan pemberiannya krn saya menyadari suami adalah pegawai biasa dan saya wirausaha.Tapi yang membebani pikiran saya dan menjadikan saya ga ikhlas serta selalu suudzon pd beliau adalh sikap suami yang menyuruh saya selalu mengalah dan laporan apapun yang ingin saya sampaikan pada beliau.Saya merasa asing dengan suami dan suami tidak berkomunikasi dengan baik pada saya.Beliau tdk lagi berjamaah salat subuh wkt kunjungan kesaya dan bila wkt jamaah maghrib tidak menunggu saya.Perlu diketahui lokasi rumah suami dan saya adalah berseberangan/bertetangga.Semakin lama saya merasa jauh dengan suami.Jujur saya tidak mendapatkan manfaat dari pernikahan ini.Mohon saran apa yang saya hrs lakukan agar prnikahan ini menjadi lebih baik bagi semua dan jadi pernikahan terakhir bagi saya dan suami.trmkasih

    Abu al Maira :

    Ada baiknya anda konsultasikan permasalahan ini dengan suami anda. Jika tidak ada penyelesaian, mintalah bantuan dari saudara/kerabat suami dan/atau saudara/kerabat anda sendiri.
    Anda juga bisa meminta pendapat ke Pengadilan Agama / KUA.

    Semoga Allah memudahkan masalah anda dengan suami…

  32. Assalamu’alaikum….
    salam kenal akh..saya mau nanya nih “Mengapa yang dibolehkan poligami hanya lelaki?atau apa hukum poliandri beserta dalilnya ya mas?Terima kasih sebelumnya….
    Wassalam..

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam warahmatullah..

    Poligami diperkenankan untuk laki-laki karena sesuai firman Allah :
    “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” (QS. 4:3)

    Adapun hikmah dihalalkannya poligami bagi kaum laki-laki adalah sebagai berikut :
    1. Islam menganjurkan agar memperkuat serta memperbanyak keturunan dan generasi. Poligami merupakan salah satu sarana untuk mencapai hal tersebut.

    2. Secara alamiyah wanita memiliki halangan biologis seperti haid dan nifas, dan terkadang menderita berbagai penyakit tertentu, sedangkan sang suami dalam kondisi yang prima, sementara berzina diharamkan dalam Islam. Jika dia dilarang menikah lagi dan juga dilarang berzina serta nikah mut’ah maka dia menghadapi kesulitan besar. Sehingga Allah subhanahu wata’ala membolehkan seseorang untuk berpoligami karena di dalamnya terdapat manfaat untuk menghilangkan kerusakan dan kehancuran.

    3. Terkadang kaum wanita tidak lagi memiliki gairah dan keinginan untuk berhubungan suami istri karena kondisi biologis. Maka seorang suami menikah dengan wanita lain lebih baik daripada menceraikan istrinya. Demikain pula terkadang seorang istri ada yang mandul, sedang untuk menceraikan tidak mungkin, sehingga terjadi problem rumah tangga. Maka jalan keluar yang terbaik adalah dengan berpoligami.

    4. Terkadang ada seorang wanita yang berusia agak lanjut (dan belum menikah), atau mengalami cacat dan kekurangan dari segi fisik, sehingga dia sangat memungkinkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang telah memiliki istri.

    5. Jumlah kaum wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, bahkan mungkin berlipat ganda. Maka kaum laki-laki jelas menghadapi kerusakan dan bahaya yang besar. Membatasi hanya menikah dengan satu wanita saja jelas menjadikan jumlah wanita tak bersuami akan membengkak.

  33. Yth. Akhwan.
    sy sdh brkeluarga, mmpunyai anak tunggal, istri sy sdh di vonis oleh dkter tdk bsa mmpunyai kturunan lgi krn Medis.
    sy msh syg sm dia, msh cinta sm dia.
    apakah sy diprbolehkan brpoligami….??
    sdg sy py calon, tdk mau di jadikan istri kedua.
    apakah yg hrus sya lakukan,,,,>???

  34. ass.wr.wb. sy akhwat berusia 24thn,,3 bln k belakang sy punya kenalan ikhwan dan akhirnya kami dkt serta memutuskan tuk menikah,tp ikhwan tsbt sdh berkeluarga dan akan menjadikan sy istri kedua,,apa yg harus sy lakukan,,istri pertamanya pun tahu hub kami,,dia sempat bilang klo qt nikah dia mengizinkan ga,,tdk mengizinkan ga,,,skrg sy malah bingung apa sy dosa klo sy melanjutkan k pernikahan…

    Abu al Maira :

    Silahkan anda lanjutkan rencana pernikahan tersebut… Semoga Allah menjadikan keluarga anda keluarga yg sakinah mawadah wa rahmah.. Dan anda tidak berdosa karenanya…

  35. mohon d bls v email aj

  36. menurut yg saya baca ,surat An- Nisa ayat 2-3 itu jelas sekali berbicara tentang perlindungan terhadap anak-anak yatim dan wanita yg suaminya gugur di medan perang.Poligami disyariatkan sebagai bentuk social care .itulah yg dipraktekkan Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam.Kecuali Aisyah binti Abu bakar RA,semua yg diperistri oleh Nabi adalah janda,bahkan sudah menopouse.Justru yang menarik dicermati adalah perkawinan monogami Rasullulah dengan KHadijah RA yg langgeng selama lebih dari 25 tahun.Bersamanya Rasulullah membina rumah tangga monogami di tengah masyarakat yang justru mempraktekkan poligami.Dan itu berlangsung hingga Khadijah wafat.Rasulullah menikah lagi 2 thn setelah khadijah wafat .dalam QS Ar Rum ayat 21 dikatakan bahwa hidup berpasangan sebagai suami istri tujuannya memperoleh sakinah,mawaddah,wa rahmah untuk mendapatkan ketentraman cinta dan kasih sayang dan itu berlaku bagi pelaku
    monogami ataupun poligami.Wallahu’alam.

    Abu al Maira :

    jadi kesimpulan anda bagaimana?

  37. POLIGAMI HUKUMNYA HARAM

    Oleh Noor Chozin Agham

    METODE TAFSIR AYAT POLIGAMI
    (QS an-Nisaa ayat 3 dan 129)
    Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S. an-Nisaa:3)

    Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. an-Nisaa: 129)

    Berdasarkan disiplin ilmu bahasa, para ahli tafsir menyebutkan bahwa kalimat fankikhuu … kawinilah perempuan lain, dua, tiga atau empat, (bagian pertama Q.S.an-Nisaa: 3) bukan merupakan perintah mutlak (amar mutlaq) karena dari segi bahasa (Nahwu-sharaf) dalam hal ini ”siyaqul-kalam”-nya, atau runtutan kalimatnya, sebelum kata (kalimat) fankikhuu terdapat kalimat yang diawali dengan shighat (tanda) ismun al-khabr yang bermakna ”pengandaian” dan membutuhkan jawaban sebagai khabr alternatif final; (shighat yang dimaksud yaitu an. lan, idzan dan kay) yang terdapat dalam jumlah atau kalimat: wa in khiftum allaa (asalnya an laa) tuqsithuu.. dan fa in khiftum allaa (an laa) ta’diluu; (jika Anda takut (khawatir) atau jika Anda tidak bisa berbuat adil dst.).
    Dengan kata lain, bahwa kalimat fankikhuu dalam ayat 3 surat an-Nisaa tersebut bukan kalimat amar tetapi kalimat ikhtar atau kalimat penawaran, yang dalam konteks ilmu bahasa kita (etimologi Indonesia) disebut dengan kalimat usulan kegiatan atau project-proposal, atau usulan untuk berbuat sesuatu (dhi. berpoligami) karena ada permasalahan sebelumnya yang sebagai latar belakang masalah (dhi. anak yatim dan ketidak-mampuan berlaku adil). Jadi, poligami yang tergambar dalam ayat 3 surat an-Nisaa tersebut sesungguhnya belum terjadi atau masih berupa wacana atau berupa usulan (proposal) dari Allah Swt.
    Kemudian – masih dalam konteks lughawi (tekstual) berdasarkan ilmu Nahwu-sharaf – bahwa karena dalam ayat 3 QS an-Nisaa tersebut terdapat dua shighat khabar, yaitu in khiftum allaa (an laa) tuqshithuu dan in khiftum allaa (an laa) ta’diluu, maka jumlah (kalimat) khabar yang pertama, atau sebagai alternatif pemula yaitu fankikhuu maa thaaba lakum minannisaai matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa’… yakni penawaran untuk menikahi perempuan; dua, tiga atau empat. Sedangkan untuk jumlah (kalimat) khabar yang kedua sebagai penawaran alternatif pamungkas yaitu fa waahidatan, maka (nikahilah) satu saja.
    Berikutnya, karena al-Qur’an (Allah Swt.) pada proposal pertama dalam QS an-Nisaa ayat 3 tersebut tidak menyertakan ”wahidatan” (wahid/satu) tetapi langsung menyebutkan matsnaa (dua), tsulaatsa (tiga) dan rubaa’(empat), maka secara morfologis, proposal pertama ini sifatnya masih berupa wacana penawaran beristri dua, tiga atau empat. Sedangkan kalimat ”wahidatan” disertakan belakangan, yakni pada jumlah (kalimat) berikutnya, maka kalimat fa waahidatan dimaksudkan sebagai jawaban alternatif. Jadi, jelasnyua, bahwa dalam ayat tersebut Allah menawarkan berpoligami, sekaligus Allah pulalah yang memberi jawaban alternatif yang bersifat final supaya jangan berpoligami melainkan menikahlah seorang saja. Dengan demikian, makin nyatalah bahwa penawaran untuk beristri dua, tiga atau empat, sudah tidak perlu direspon atau dilaksanakan karena sudah ada respon atau jawaban langsung dari Allah Swt, yaitu fa waahidatan, beristrilah seorang perempuan saja.
    Metode pemahaman dengan runtutan tersebut itulah yang tampaknya sengaja dilupakan oleh para penghalal poligami. Padahal, jika mereka tidak melupakannya, mereka pasti dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa tawaran dari Allah Swt. untuk berpoligami sudah tidak berlaku, bahkan sudah tidak boleh lagi dilaksanakan karena sudah ada tawaran penutup, yaitu fa waahidatan, beristrilah seorang saja.
    Kemudian jika pemahaman metodologis demikian itu dikaitkan dengan Q.S.an-Nisaa: 129, maka yang perlu diyakini lebih dulu yaitu bahwa poligami dalam al-Qur’an (Q.S. an-Nisaa: 3) masih bersifat penawaran wacana, belum menggambarkan ada dalam al-Qur’an, dan karenanya, dalam ayat 129 QS an-Nisaa pun, mutlak harus dipahami masih dalam wacana. Metode munasabah al-ayah yang direkomendir ilmu tafsir (’ulumul-Qur’an), masih harus diberlakukan, karena memang kalimat yang digunakan dalam ayat 129 tersebut masih sama dengan yang digunakan dalam ayat 3 surat yang sama, yaitu an-Nisaa. Selama ini, kata an-Nisaa dalam ayat 129 diterjemahkan dengan ”istri-istri” yang menggambarkan seolah-olah poligami telah terjadi, padahal sebagaimana tersebut di atas (QS an-Nisaa:3) sesungguhnya poligami masih berupa tawaran wacana, sehingga dengan demikian terjemahan ayat 129 tersebut menjadi :

    Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara para perempuan (jika diperistri), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (untuk berpoligami), sebab kamu akan membiarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (untuk tidak berpoligami), Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. an-Nisaa: 129).

    Kenapa dimaknai ”janganlah kamu terlalu cenderung (untuk berpoligami)” bukan ”cenderung kepada yang kamu cintai”?. Karena – secara Nahwu – dalam kalimat lanjutannya menggunakan dhamir (kata ganti) bukan hunna (para perempuan) tetapi haa (mu’annats, tidak musti orang perempuan tunggal) yaitu fa tadzaruu-haa kal-mu’allaqati (sebab kamu membiarkan yang lain terkatung-katung). Ini menunjukkan, bahwa kata ganti haa dalam kalimat (kata) tadzaruu-haa (Anda membiarkannya) bukan kembali (tertuju) pada mereka (perempuan-perempian) yang terkatung-katung melainkan kembali (tertuju) pada amaliyah (perbuatan) yang mengindikasikan kesengsaraan, kesakithatian dan terkatung-katung jika terjadi poligami. Jika kecenderungan itu ditujukan kepada salah satu istri, rasanya tidak mungkin karena memang poligaminya masih dalam bentuk wacana, belum menggambarkan keberadaannya di samping karena para perempuan tentu memunyai kelebihan masing-masing yang membuat kelayakannya untuk dinikahi.
    Di samping ada kaitan makna kata (kalimah) an-Nisaa dalam kedua ayat tersebut (ayat 3 dan ayat 129), ada juga keterkaitan makna kata (kalimah) ’adala (adil). Dalam ayat 3 (QS an-Nisaa) pada tawaran alternatif terakhir (kedua) yaitu : fa in khiftum allaa ta’diluu fa waahidatan (jika Anda semua khawatir atrau takut tidask bisa berlaku adil, maka nikahilah seorang saja). Sedangkan yang terdapat dalam jumlah (kalimat) ayat 129 (QS an-Nisaa’) yaitu : wa lan tastathii’uu an ta’diluu bainannisaa’i walau harashtum. (…Anda semua takkan pernah dapat berbuat ’adil dalam menghadapi para perempuan yang jika Anda nikahi kendatipun Anda berusaha keras untuk itu). Kesamaan kata adil dalam kedua ayat ini (ayat 3 dan 129 surat an-Nisaa’) memberi petunjuk bahwa keadilan yang dimaknai dari kata dasar ’ain, dal dan lam (’adala) adalah keadilan yang tidak akan bisa ditempuh oleh siapa saja. Karena istilah adil yang bersumber dari bahasa Arab ’adala yaitu keadilan yang bersifat kualitatif, yang tidak dapat ditimbang dan diukur dengan angka-angka.

    Abu al Maira :

    Atas dasar apa anda bisa mengharamkan poligami pak…?

    Bagaimana mungkin poligami masih sekedar wacana, sedangkan Nabi dan para sahabatnya sudah melaksanakannya..

  38. Assalamualaikum Wr.Wb…

    Saya seorang janda dan memiliki seorang anak. suami saya meninggal – dan banyak hal yang saya ketahui setelah kepergiannya – dan hal itu terus membayangi saya…

    Saat ini ada saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang. tetapi dengan berbagai hal yg terjadi di masa lalu saya, membuat saya tidak terlalu yakin dengan pernikahan. Jujur, saya menyayanginya…Dia pernah menyampaikan maksud untuk menikahi saya, tetapi saya membutuhkan banyak waktu untuk mampu percaya dengan laki – laki. terlebih denga status saya – yang terus terang membuat saya sangat minder…

    Apabila saya menikah nanti….
    Saya sangat takut terjadi perselingkungan pada pernikahan saya yang kedua.
    Namun dalam hati, terbesit niat untuk memperbolehkan suami saya untuk melakukan poligami – jika suatu saat dia menanyakan hal itu pada saya.
    Saya sangat menyayanginya, dan saya ingin membalas kebahagiaan yang ia berikan karena telah menjaga dan membahagiakan saya dan anak saya. Bagaimana pun, saya sangat sadar dengan kekurangan yang ada pada diri saya – terlebih Allah SWT memberikan keistimewaan bagi laki – laki untuk menikah lebih dari satu. Di satu sisi, saya ingin menjadikan pernikahan saya yang kedua sebagai tempat ibadah… Meskipun saya mencintai dirinya, saya sadar sepenuhnya, bahwa rasa cinta yang sejati haruslah tertuju pada – Nya. saya tidak ingin mencintai – melebihi rasa cinta saya pada diri – Nya.

    Akan tetapi…
    Meskipun saya sudah meniatkan hal tersebut pada diri saya…
    Tetap saja hati saya merasa berat jika membayangkan hal tersebut benar – benar terjadi….
    Saya mengerti, meskipun kelak suami saya bersikap adil kepada istri – istrinya (baik masalah materi ataupun pergiliran), tetapi dia tidak akan mampu mengelak terhadap kecenderungan pada salah satu istrinya.
    Hal itu terkadang menciutkan niat hati saya…Berbagai prasangka datang dan membuat saya menjadi terombang – ambing pada masa lalu saya.

    Saya hanya perempuan biasa…yang masih banyak belajar untuk bisa sabar, ikhlas, dan mensyukuri segala takdir – Nya.
    Mohon bantuan Saudara, untuk bisa memberikan pencerahan dan ketenangan bagi diri saya…
    Hal apakah yang mampu membuat saya tenang dan lebih pasrah, apabila hal itu benar – benar terjadi?
    Lalu bagaimana cara meredam gejolak jiwa, apabila rasa cemburu, ketakutan, dan penyakit hati lainnya datang, ketika melihat suami saya kelak sedang bersama dengan istri lainnya?

    Mohon maaf,…karena sangat sedikit ilmu yang saya miliki…Mohon kiranya Saudara berkenan menjelaskan.
    Terima kasih,

    Wassalam ,

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam warahmatullah….

    Ikhlaskan hati dan bertawakallah kepada Allah…. Mohonlah kepada Allah agar anda diberikan keikhlasan… Berkumpullah dengan orang-orang shaleh, bahkan dengan wanita-wanita shalehah yang dipoligami oleh suami2 mereka… Bertukar pikiran dengan mereka, kenali suka dukanya… Insya Allah, Allah akan menenangkan hati anda….

  39. kenapa poligami itu di perbolehkan padahal jelas jelas menyakiti hati perempuan

    Abu al Maira :

    Kalau menyakiti gak akan ada di Al Qur’an

  40. poligami ibarat pisau dua mata, dan melakukannya tidak semudah menyebutkannya
    Poligami Dihujat & Poligami Dibela
    baca disini

    http://gubukyatim.blogspot.com/2011/02/poligami-dihujat-poligami-dibela.html

  41. salam kenal ya, postingnya mantap,,,,,

  42. KAdang bingung juga dengan pernyataan bahwa “manusia dicipatakan perpasangan”
    kalo demikian, kok bisa ada poligami?

    Abu al Maira :

    Tidak usah bingung… Karena kita sudah terbiasa istilah pasangan adalah satu dengan satu…

    Coba anda bayangkan sebuah pesawat dengan dua pasang sayap, atau memakai alas kaki dengan dua pasang sendal/sepatu, sepeda dengan dua pasang roda depan dan belakang, dan lainnya…

  43. Assalamu’aikum wr.wb.
    izinkan saya menceritakan kisah hidup saya….dua tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang pria yang berstatus sebagi suami dengan 2 orang anak lalu dia mengutarakan keinginannya untuk menikahi saya hingga akhirnya saya menolak keinginannya, dan akhirnya saya tidak pernah berkomunikasi dengannya. hingga akhirnya seiring berjalannya waktu 6 bln yg lalu kami kembali dipertemukan, entah kenapa akhirnya saya menyambut keinginannya untuk bisa memperistrikan saya yang sebelumnya pernah saya tolak keinginan itu, karna saya melihat keimanan dan tg jwb dia sebagai pemimpin klrg amatlah baik itu semua yg membuat saya bs menerima keinginannya dan saya jg ingin mendptkan syurga dr laki2/suami yg sholeh..”ini semua kuasa ALLAH SWT”. tapi saya masih takut apakah saya bersalah dan dosa kepada istrinya kalau saya menerima keinginannya untuk memperistri saya sedangkan saya tau dia sudah berkeluarga?
    sedangkan saat ini saya dan dia saling menyayangi dan kita punya rencana menikah tetapi saya meminta kepada dirinya untuk meminta izin terlebih dahulu kpd istrinya ttg niatannya utk menikahi saya, apakah saya salah dengan meminta syarat spt itu kpd dia utk bs menikahi saya? krn saya tidak mau menyakiti hati sesama muslimah tetapi saya jg tdk bs membohongi ht kecil sya klo saya jg ingin menjadi istrinya…
    saya mohon pendapat dari anda…trimakasih
    Wassalamu’alaikum

    Abu al Maira :

    ‘alaikumussalaam warahmatullah…

    Sah-sah saja jika anda mengajukan syarat yg tidak melanggar syariat…

  44. Assalaamu ‘alaykum…

    terima kasih atas jawaban yg telah diberikan.

    Ehmmm, saya sudah mencoba menjelaskan kepada istri ttg niat saya
    berpoligami dengan bahasa sederhana, namuuuun ternyata dia tetap tidak
    mau menerimanya walau tau hukumnya.

    yang ingin saya tanyakan lagi:
    1. dia minta cerai klo saya sampai berpoligami, nah apakah saya berhak
    tidak menceraikannya? (misalnya sperti kasus AA Gym tp AA Gym tidak
    mau menceraikannya) berdosakah saya mempertahankannya ?

    2. ketika saya mengabulkan permintaan cerainya (kasus AA Gym) apakah
    saya/ AA Gym berdosa terhadap istri dan keluarganya

    3. Alasan utama apa yang harus dipegang suami shingga ada niat
    berpoligami ? (padahal dari segi materi belum bisa mencukupi untuk
    menafkahi 2 keluarga), apa karena ingin menjalankan sunnah saja?

    4. apa bisa disebutkan seperti AA Gym, sudah tidak cinta lagi dengan
    teh Ninih sehingga ketika teh Ninih minta cerai, AA Gym
    mengabulkannya.

    5. misalnya ada kasus, calon istri kedua tdk mau dipoligami juga,
    apakah saya salah meyakinkannya sperti ini, “Kamu tenang saya, istri
    pertama saya juga tidak mau berpoligami, saya tetap akan izin ingin
    menikahi kamu, nah pasti dia akan minta cerai. Jadi begitu surat cerai
    sudah ada kita bisa menikah”. mohon pendapat anda.

    6. ketika sudah menceraikan istri pertama dan menikahi istri kedua,
    tentunya ditetangga akan ditanggapi beragam. mungkin mayoritas akan
    menyalahkan saya karena sudah menceraikan istri pertama. bagaimanakah
    seharusnya jawaban saya yang baik? apakah sama ingin menjalankan
    sunnah, tapi karena istri pertama tdk mau ya akhirnya bercerai.

    7. bagaimanakah cara mendidik dan mempersiapkan diri dan istri pertama
    serta calon istri kedua dalam berpoligami dengan bijak?

    terima kasih atas jawabannya, mohon maaf atas kekurangnnya….

    wassalamualaikum…..

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Sebelum anda mengutarakan niatan anda untuk berpoligami, apakah anda sudah menjelaskan dan mendakwahi istri tentang perkara poligami sehingga ia mengerti tentang ilmunya ?
    Kalau anda hanya mengutarakan niat tanpa mempersiapkan mental istri, ya wajar saja istri menolak pak.
    Yang sudah dipersiapkan saja bisa tidak setuju, apalagi yang belum.

    1. Anda berhak tidak menceraikannya. Tapi dalam hal ini anda menempatkan istri dalam posisi yang sulit jika anda tidak mempersiapkan mental istri dalam perkara poligami.

    2. Kalau anda berniat poligami, lantas apa manfaatnya dengan menceraikan istri. Maksud saya begini, anda boleh saja berpoligami dan anda boleh saja menceraikan istri. Tapi apa manfaat dari semua ini ?

    3. Anda yang jawab sendiri, apa alasan anda untuk berpoligami. Jika dengan alasan untuk menjalankan sunnah, apakah kehidupan anda dan istri anda sudah sesuai dengan sunnah ? Walaupun kehidupan anda tidak sesuai dengan sunnah, sah2 saja jika anda ingin berpoligami.

    4. Coba anda kontak langsung AA Gym

    5. Kalau saya perhatikan, anda sepertinya bukan ingin berpoligami tetapi ingin mengganti istri

    6. Ini sudah saya jawab sebelumnya

    7. Tunjukkan bahwa anda adalah imam keluarga yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Didik istri dan anak2 anda.

  45. terima kasih kembali atas jawabannya pak ustadz

    assalamualaikum wr.wb..

    sebenarnya saya mencintai keduanya pak. tidak ada niat untuk menggantikannya. untuk itu saya ingin skali berpoligami. saran ustaz gmn cara menyiapkan mental istri pertama dan calon istri kedua? terima kasih

    wasslamualaikum……….

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam….

    Siapkan dulu mental anda….

  46. Assalamu’alaikum wr. wb.,
    Pak, Ustadz, numpang tanya dan mohon dijawab segera karena penting sekali bagi saya. Ini pengalaman pribadi yang sangat mengganjal karena saya takut dari yang saya alami/lakukan ada yang salah dari sisi syariah.
    Begini ustadz,
    Saya berpoligami/menikahi secara sirri (di bawah tangan) seorang janda beranak 2 (8 tahun/ laki2 dan 14 thn/perempuan. Pernikahan sirri saya tetapi dengan keadaan sebagai berikut:
    1) wali si janda adalah wali hakim, karena ayahnya tidak setuju si janda saya nikahi sirri;
    2) saksi pernikahan tidak kami kenal;
    3) yang menikahkan kami seorang ustad/mubaligh yang kami kenal lewat ceramah2nya di radio. Beliau juga buka praktik pengobatan alternatif;
    4) pernikahan saya yang kedua ini seizin istri-pertama saya tetapi ia minta harus sirri mengingat berisiko ke pekerjaan saya sebagai PNS;
    5) dari semula saya jujur kepada istrikedua saya bahwa saya tidak janji bisa menafkahi secara materi karena penghasilan saya jadi hak istri pertama saya dan satu-satunya anak saya, meskipun dalam hati saya bertekad menafkahi semampu saya dan membantu biaya sekolah anak-anaknya.
    6) istri kedua saya (si janda) berketetapan hati ingin hidup bersama saya karena ia yakin saya bisa jadi imam keluarga dan bisa menjadi teman membesarkan anak-anaknya meskipun tidak dinafkahi secara materi/lahir;

    Pertanyaan saya ustadz, SAHKAH pernikahan kami terkait hal-hal sbb:
    – dengan wali hakim/ yang menikahkan seorang mubaligh tetapi masih praktik pengobatan alternatif
    – saksi pernikahan kami adalah orang-orang yang tidak kami kenal (mereka teman mubaligh/ustad yang menikahkan kami)
    – orang tua si janda tidak merestui (karena anaknya dinikah sirri)
    – maksud pernikahan sirri saya adalah menyelamatkan karier/pekerjaan saya sebagai PNS mengingt syarat menikah resmi sulit dan jika melihat persyaratannya hampir mustahil dapat izin
    – saya tidak secara eksplisit/terucap berakad akan menafkahi tetapi hanya berjanji dalam hati tetap membantu.

    Terima kasih atas jawaban Ustadz. Jika berkenan dikirim juga ke email saya.
    Jazakallah khoiron,

    Wassalamu’alaikum wr wb.

  47. saya tertarik dengan apa yang bapak sampaikan dalam media ini karena bisa dirasionalakan…………..terimakasih

  48. menurut syaik bin baz mengatakan bahwa kridhaan isteri tidak menjadi syarat didalam pernikahan kedua,,

    jadi bagaiman nasib kaum wanita kalau seandainya lak-laki menikah lagi tanpa persetujuan wanita,, dan kebanyakan laki-laki itu tidak bisa bertanggung jawab dan hanya menginginkan kesenagan.

  49. asslmkm. wr. wb

    bagaimana atau apa saja yang harus disiapkan mental kita untuk berpoligami

    terima kasih
    waslmkum

  50. Assalamu’alaikum wr.wb.
    ustadz, terima kasih atas jawaban Ustadz. beberapa referensi yang saya baca membolehkan wali muhakam dalam pernikahan kalau secara prosedural wali hakim dari pemerintah (KUA) sulit dimintai tolong terlebih jika tahu calon pengantin pria PNS beropilgami. terus terang saya jadi bingung dan takut ustadz.
    pertanyaan saya,
    1. apakah wali hakim yang Ustadz maksud boleh bertindak selaku pribadi dalam menikahkan dalam pernikahan sirri atau harus membawa nama instansi (KUA)?
    2. bukankah hal itu berarti saya harus menyiapkan surat-surat syarat resmi yang hampir mustahil saya dapatkan?
    3.apa yang saya harus lakukan untuk memperbaikai pernikahan sirri saya ?

    Mohonperkenan jawaban segera ustadz.
    jazakallah khoiron
    wasssalamualaikum wr wb,

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Hukum dasarnya yang menjadi wali hakim adalah orang/lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah/amir/sulthan, dan bisa juga kepanjang tanganan dari orang/lembaga yang telah ditunjuk oleh pemerintah.
    Seandainya ada seorang yang ditunjuk oleh KUA untuk menjadi wali hakim, maka boleh2 saja.
    Kalau anda memiliki literatur/nara sumber bahwa boleh saja mencari wali hakim selain dari KUA/orang/lembaga yang sah bisa menjadi wali hakim, ini yang menjadi masalah. Kalau mau hanya sekedar bisa mensahkan pernikahan sirri, anda datang ke pesanteren-pesanteren banyak kyai2 ataupun pengasuh pondok pesantren yang dengan gagah berani mau menjadi wali hakim. Tapi apakah bisa dibenarkan?
    Nantinya semua orang bermudah2an untuk menikah dengan mencari wali hakim

    Yang menjadi pertanyaan saya, apakah anda sudah maksimal berusaha untuk meminta izin dari kantor maupun berusaha secara maksimal agar bisa disahkan oleh KUA?

    Kemudian, kenapa anda langsung mencari wali hakim. Wali tidak harus dari ayah si wanita. Jika ayah tidak mau menyetujui tanpa alasan yang jelas, maka bisa saja yg menjadi wali adalah kakeknya, adik/kakak laki2nya, keponakan laki2 dari jalur ayah, saudara laki2 ayahnya, sepupu dari jalur ayah… Nah kalau wali2 tersebut secara sepakat menolak untuk menikahkan si wanita dengan anda, barulah si wanita bisa mengajukan wali hakim…
    Jadi WALI HAKIM ADALAH PILIHAN TERAKHIR…

    Pernikahan anda adalah pernikahan syubhat, meragukan… Amannya… segeralah mencari wali dari kalangan kerabat si wanita seperti yang saya sebutkan diatas… Insya Allah ada dari kerabat yang bersedia menjadi wali…

  51. ass…
    Pak ustad saya punya masalah yang hampir sama dengan pertanyaan yang di tulis oleh ista pada tgl 3 september 2010. Mohon kirim juga copy jawaban’y ke alamat email saya iyank.imutz@yahoo.co.id
    trimakasih
    wasalam…

  52. ass…
    Pak ustad saya mau tanya beberapa hal. Saya adlah istri ke2 dan pernikahan saya baru 5bulan. Istri pertama suami saya tidak mau di madu n dia meminta suami untuk menceraikan saya. Padahal suami saya ga mau pisah sama saya n begitu pula saya terlebih lagi saya baru saja ke guguran anak pertama kami. Istri pertama suami saya berdalih dia tidak ridho di madu n dia meminta suami untuk memilih antara saya dan dia. Sepertinya suami saya memilih bercerai dari saya dengan alasan anak mereka.

    1.Apah perceraian seperti itu boleh pak ustad?
    2. Istri pertama suami saya sering menolak bila suami ingin berhubungan intim bahkan sampai di jatah 1minggu sekali. Pa tu bisa di jdikan alsan berpoligami?
    3. Selama ini suami saya slalu menuruti perintah2 istri pertamanya,yang sangat tidak adil pada saya. Apakah kesabaran saya slama ni yg merasa di curangi mendapatkan pahala pak? Krna saya melakukan tu smua demi rumah tangga saya dan tidak mau menambah beban suami.
    3. Apakah janin usia 3bulan 2minggu yg meninggal bisa menjadi penolong saya di akhirat pak?
    Trimakasih atas jawabannya pak ustad.
    Wassalam

    Abu al Maira :

    1. Peceraian tetap sah
    2. Poligami tidak memerlukan satu alasanpun untuk dilaksanakan. Artinya walaupun kehidupan rumah tangga seseorang sangat mapan, harmonis, jika suami ingin poligami maka sah2 saja.
    3. Kesabaran itu membuahkan pahala
    4. Kesabaran itu menggugurkan dosa

  53. suami saya akan menikah lagi dengan orang sebangsanya dia,sedangkan saya istri yang pertama tau bahwa akan di poligame sedang kan istri yang akan sekarang di nikah itu tidak tau bahwa calon suaminya itu punya istri,bagai mana itu hukumnya,alasan suami saya nikah lagi karena aku bukan sebangsa nya dia,

    Abu al Maira :

    Poligami tidak harus mendapatkan izin dari istri pertama. Jika anda bisa menemui calon istri keduanya, maka temuilah dan katakan bahwa anda adalah istri dari calon suaminya. Jika si calon istri tsb tidak keberatan, maka semua tinggal tergantung anda…

  54. Assalamualaikum teman-teman…poligami itu kan telah diperdepatkan para ulamak kesahihannya dan ternyata dibenarkan Islam. Malah JELAS menjadi praktis rasulullah. Beriman saja pada hikmah dan kenikmatan yang Allah janjikan…seperti kenikmatan berlapar (puasa) sepanjang hari seperti yang sentiasa diperbodohkan oleh org kafir. Barang siapa yang beriman akan hikmah kehebatan berpuasa pasti akan mendapt nikmatnya walaupun KELIHATANNYA menyiksakan. Begitu juga poligami. Beriman saja akan nikmat akhiratnya. Susah dunia sikit2 nggak apa-apa kerna hidupkan singkat sekali. Larangan isteri itu sekadar gangguan syaitan untuk berjihad. Sekiranya tiada gangguan syaitan padanya..pasti ia redho kerana isteri kita juga insyaA berilmu seperti kita dan membca Quran yg sama. Biar bersusah kerana Allah. Cinta pada Allah itukan berjuta hebat dari cinta pada isteri pertama. InsyaA dengan mengambil jalan Allah akan Allah hadiahkan rasa kasih sayang yg lebih bertambah pada isteri pertama. yang amat PENTING kan kualiti amalan kita sebagai suami. Jangan bisa ngomong mau poligami tapi sholat dan zikirnya entah kemana. Orang mukmin yang berkualiti hatinya tegar pada hukum. Dalam keadaan bersih dari maksiat..insyaA kita punya peluang lebih baik untuk dimaqbulkan doa agar isteri dan ank2 sentiasa didalam hidayah dan rahmat Allah.

    Jazakallah.

  55. assalamualaikum,
    pak berdosakah jika menikah lagi tanpa seizin istri pertama,terus bagaimana hukumnya jika memiliki kecenderungan lebih mencintai salah satunya.walaupun secara materi kedua-duanya tercukupi.thank’s ( kalo bisa sama dasar hukumnya )

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Tidak berdosa jika ingin menikah lagi tanpa izin istri pertama. Masalah perasaan yang berbeda terhadap para istri adalah hal yang wajar

  56. artikelx kreeeeennn bngat,,,,
    mkasih,,,,
    wassalam

  57. pak ustad, sya mw tanya nc,,,
    ”poligami dilakukan bgi mereka yg mampu berlaku adil”, trus sya pernah mndengr tman kerja sya berkata bahwa nabi pernah berkata bahwa tdak ada manusia yg mampu berlaku adil,

    pertanyaan sya apa bnar nabi pernah berkata sperti itu,? mhon penjelasanx pak ustadz,,,

    trims

    Abu al Maira :

    Yang anda tanyakan ada pada QS An Nisaa’ ayat 3 dan ayat 129

  58. Ass pak Abu, sy mau tanya bagaimana menenangkan hati klien-klien saya sejumlah 345 perempuan plus anak yang ditelantarkan oleh suaminya yang menikah lagi (ini dalam kurun 3 tahun menangani kasus), dinafkahi tidak dicerai juga tidak, malahan terkadang dipukul sampai telinganya tuli karena meminta nafkah, apakah ada suatu usaha untuk menyantuni perempuan2 tersebut yang bingung status, janda tidak istripun bukan, sy coba minta bantuan baital mal tapi cuma 10 orang yang disantuni, itupun cuma sekali dikasih sejumlah 600.000,- rupiah, sudah ada 1 yang sangat stress hingga tidak kenal dirinya lagi dan anak2nya…..dan sayang sekali sebagai pengacara dari sisi hukum juga sy tidak bisa berbuat banyak karena perkawinan tersebut kebanyakan di bawah tangan…terakhir sy tangani perempuan yang sudah ditinggal poligami oleh suaminya selama 7 tahun dengan 3 anak yang masih kecil, yang minggu lalu datang kerumah suaminya meminta nafkah tapi kemudian diusir oleh istri kedua dan dimaki oleh suaminya…selama 7 tahun itu dia menafkahi anak-anaknya dari kerja mencuci baju di rumah-rumah orang lain….apa yang bisa kita lakukan untuk mereka ? Kita tidak usah menghabiskan energi untuk berdebat soal boleh atau tidaknya poligami karena jelas poligami itu dibolehkan, tapi yang utama adalah bagaimana membantu perempuan dan anak-anak yang ditelantarkan dan teraniaya tersebut,….mudah2an ada saran yang baik..amin.

    Abu al Maira :

    Pertanyaan ini sama halnya dengan pertanyaan bagaimana menyelesaikan masalah kemiskinan dan anak-anak terlantar… Kalau saya boleh kasih saran, berikan kail/pancing sambil memberikan ikannya…. Artinya sambil menyantuni hendaknya juga diberikan modal untuk berusaha… Tentu saja ini tugas berat untuk menggalang dana

  59. Assalamu’alaikum pa abu, salam kenal
    saya sangat membutuhkan masukanny atas masalah yg sedang saya hadapi ini
    saya sudah menikah hampir 5 tahun, dan sampai sekarang blm dikaruniai keturunan. penyebabnya ternyata baru diketahui dalam 1 tahun terakhir ini, dimana istri saya sempat keguguran dan ternyata diakibatkan adanya endomentriosis di rahimnya. menurut dokter, kemungkinan utk bisa hamil normal sangatlah kecil, sehingga ini yg menjadi beban mental istri saya. saat ini saya hidup terpisah karena faktor pekerjaan saya dan bisnis yg ditekuni istri saya, dan ini sudah berlangsung dalam 2 tahun kebelakang.

    kamipun sering bertengkar kecil maupun besar, yg kalau saya coba pahamai itu berawal dari blm adanya anak di tengah2 kami, sejak awal pernikahan. namun saya jadi sering menemukan ketidakcocokan dalam hidup kami. jika sdng bertengkar, istri saya bisa lebih marah dari saya, padahal saya sdh ingatkan bahwa jika suara istri tdk boleh lebih tinggi dari suami. namun itu sering terulang, walau berujung istri meminta maaf pada saya. entah karna sering bertengkar, saya sempat berfikir utk menceraikan istri saya dng pertimbangan mungkin ini jalan yg terbaik, namun blm saya utarakan.

    saat pertengkaran mulai berkurang, akhir2 ini, muncul ucapan dari istri saya yg menganjurkan saya utk perpoligami dengan alasan saya punya hak utk memiliki keturunan langsung. istri saya beranggapan bahwa selagi saya mampu mendapatkan keturunan maka itu sah2 saja, walau saya sering menyarankan utk mengadopsi anak saja.

    pertanyaan saya:
    1. ada dorongan dari istri utk melakukan poligami karna faktor tdk bisa memberikan keturunan, sedangkan saya tidak pernah terfikirkan sebelumnya, apakah yg sebaikny saya lakukan?
    2. dalam hati kecil saya, tdk saya pungkiri bahwa saya ingin memiliki keturunan langsung, namun jika saya berpoligami, sedangkan saya blm memikirkan sebelumnya, apakah saya tergolong orang yg boleh melakukan poligami?
    3. seandainya saya sdh berpoligami, istri ke 2 saya ikut tinggal di kota tempat saya bekerja, sedangkan istri pertama tetap tinggal di kota tempat usahanya, apakah itu bisa tetap dikatergorikan adil, sedangkan hal ini sudah di ikhlaskan oleh istri pertama saya?
    4. apakah memberi nafkah yg adil itu adalah memberikan hasil pendapatan yg saya hasilkan sama besar ke kedua istri saya?
    5. istri saya sering kesakitan saat behubungan yg disebabkan penyakitnya itu, apakah jika istri saya tdk meminta saya utk berhubungan intim lagi dengannya dikarenakan saya sdh berpoligami, apakah itu tetap dikatakan adil?

    atas perhatian pa abu saya ucapkan banyak terima kasih
    masukan dari pa abu akan sangat berarti buat saya.., aamiin.

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam warahmatullah…

    1 & 2. Kalau anda sanggup, ya silahkan saja… Seandainya pun istri anda bisa hamil dan walau tanpa izin istri anda pun , anda boleh berpoligami.

    3. Tidak ada masalah selama anda bisa menafkahi keduanya secara adil

    4. Sesuai dengan kebutuhan masing2…. Istri dengan anak 5 tentunya beda kebutuhannya dengan istri tanpa anak

    5. Anda wajib menafkahi kedua istri lahir dan bathin. Akan tetapi jika secara medis istri anda kesulitan saat berhubungan dan menjadi menderita karenanya, berobatlah ke dokter. Anda tidak dituntut atas apa-apa yang diluar kemampuan anda…

    Barakallahu fiik…

  60. Assalamulaikum Warahmatullahiwabarokatuh

    1.Saya ingin bertanya. Apa hukum isteri pertama mencaci dan mencela isteri kedua sedangkan dia mengizinkan suaminya bernikah.
    2. Wanita yang mengizinkan suami bernikah lagi, sering disebut “mendapat payung Fatimah”. Tetapi saya ingin bertanya, jika isteri pertama telah izinkan tetapi mencaci dan mencela isteri kedua, adakah dia masih tergolong dalam orang yang boleh memperoleh payung fatimah ini.
    Pak Abu al Maira, terima kasih banyak-banyak.

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Seorang muslim tidak boleh mencela/menghina saudaranya sesama muslim….

    لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تحسسوا ولا تنافسوا ولا تجسسوا ولا تناجشوا ولا تهاجروا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا كما أمركم، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره، التقوى ههنا x3 ويشير إلى صدره، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم حرام دمه وعرضه وماله، إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث، إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم.

    “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarakannya dan tidak boleh menghinanya.
    Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya.
    Cukup merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta.
    Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari).

    Tentang payung fatimah saya belum pernah mendengar

  61. assalamualaikum. .
    pk ustad bolehkah saya meminta email bapak agar bisa berkonsultasi dengan pk ustadz. .

  62. assalamu’alaykum..
    afwan ana ingin nanya :

    1. adakah dalil syar’i dari alquran / assunnah mengenai bahwa seorang suami boleh menikah lagi tanpa izin istrinya??? karena jika itu ijtihad ulama, maka itu bisa benar & salah??

    2. bukankah asas islam mendahulukan maslahat dibadingkan mudharat, jadi bagaimana bila suami berpoligami namun menimbulkan kemudharatan kpd keluarganya??

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam

    1. Sudah saya jawab ya… Ternyata bukan terhapus, tetapi belum dimoderasi…

    2. Kalau sekiranya poligami hanya membawa kemudharatan, tidak mungkin ada ayat tentang poligami. Jika anda tidak yakin sanggup berpoligami, ya satu saja cukup. Tetapi jika anda yakin bahwa dengan poligami lebih membawa kebaikan maka lakukanlah.

  63. ko koment ana dihapus??

    ana tanyakan lagi ya :

    adakah dalil syar’i dari Alquran / Assunnah mengenai “KERIDHAAN ISTRI TIDAK MENJADI SYARAT DI DALAM PERNIKAHAN KEDUA” karena adapun fatwa syekh bin bazz tidaklah menjadi hujjah yg rajih.. dg menjadikan surat An-Nisa : 3 menjadi dalil pembolehannya menikah tanpa izin istri??

    Syukron…

    Abu al Maira :

    Maaf terhapus [saya sendiri tidak ingat komentar anda]

    Logika anda terbalik… Yang dicari bukanlah dalil tentang bolehnya poligami tanpa izin istri sebelumnya.

    Tetapi…

    “Adakah dalil syar’i yang mewajibkan izin istri pertama [istri2 yg ada] sebagai syarat sahnya bagi seorang suami untuk menikahi wanita lain [poligami] ?

    atau


    “Adakah dalil syar’i yang melarang seorang suami untuk menikahi wanita lain [poligami] jika tidak ada istri pertama [istri2 yg ada] ?


    Kalau anda menemukan dalilnya, tolong kasih tau saya….

  64. kalau poligami didasari arrohman arrohhim bagaimana menurut anda para sahabat,…,,..,,..,,..,.,.,.,.,.,.,.??????

  65. Wah jadi jelas dech tentang poligami itu…terimakasih informasinya mudah2an jadi ilmu untuk kita semua..

  66. assalamualaikum wrwb….dua tahun lalu saya pernah konsul disini tentang pernikahan saya yang sejak awal tidak adil.Sebetulnya sejak satu tahun lalu saya ingin berpisah dg suami karena saya merasa istri I tidak ikhlas dan selalu bersikap kasar kepada anak anak nya karena kecemburuannya pada saya.Tetapi istri I sambil menangis memohon pada saya agar tidak berpisah.2 bulan yang lalu,tanpa saya tahu sebabnya,istri I mendatangi rumah saya dengan marah2 dan merusak serta memecah barang2 dirumah saya dan mengancam membunuh saya atau dia bunuh diri jika bercerai dengan suami.Sejak saat itu,suami tidak pernah datang ataupun kirim kabar kepada saya walaupun jarak kami hanya beberapa langkah (bertetangga).Yang saya tanyakan,apakah saya perlu ijinnya seperti yang saya lakukan selama ini bila saya bepergian atau melakukan apapun,mengingat dia tidak memperdulikan saya lagi?

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Coba anda minta pemecahan masalah ini ke Pengadilan Agama / KUA. Karena mereka lebih pakar dalam membantu penyelesaian permasalahan keluarga.

    Kalau boleh saya saran… JIka suami anda memang tidak menceraikan anda… Mintalah kepadanya untuk tinggal di tempat lain yang tidak berdekatan…. Lain Kota misalnya…

  67. Assalamu alaikum wr b

    Saya menikahi istri kedua saya 10bln lalu. Baru ini saya ceritakan kepada istri pertama saya. Dia marah berlebihan dengan memukuli-mengumpa dgn kata2 kotor-mempermalukan dengan mengumbar keburukan saya kpd orang-memaksa saya menceraikan istri keda saya dengan ancaman kekerasan-dan memaksa saya menceraikannya dengan semua harta diserahkan kepadanya. Pertanyaan saya, bagaimana sebaiknya saya menyikapi sikap istri pertama saya itu.
    Terimakasih sebelumnya atas tanggapannya

    Wasalamualaikum wr wb
    Permana

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam..

    Kesalahan awal ada pada anda karena tidak memberitahu sedari awal tentang rencana pernikahan anda dengan istri kedua. Adapun yang dilakukan oleh istri anda adalah faktor emosional. Sebaiknya anda menghubungi KUA untuk meminta penyelesaian terbaik.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: