Hukum Mengemis / Meminta-minta Dalam Islam


Kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan , maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui. [Al Baqarah 273]


Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa meminta-minta kepada manusia sementara ia memiliki kemampuan maka ia datang pada hari kiamat dengan bekas cakaran atau garukan di wajahnya”. Ada yang bertanya, “Apakah batas kecukupan itu ya Rasulullah?” Belum berkata, “50 dirham atau emas yang seharga dengan itu.” [Shahih, Abu Dawud 1626, Tirmidzi 650, Nasa'I V/97, Ibnu Majah 1840, Ahmad I/388 & 441, Ad Darimi I/386]

BATASAN 40 DIRHAM

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa dari kalian meminta-minta sementara ia memiliki uqiyyah [40 dirham atau 28 gram perak] atau seharga dengan itu berarti ia telah melakukan ilhaf [meminta terus menerus sampai diberi].” [Shahih, Malik II/199, Abu Dawud 1627, Al Baghawi 1602, dari Zaid bin Aslam dari Atha' bin Yasar secara marfu].

MEMILIKI MAKANAN UNTUK SIANG DAN MALAM

Dari Sahl bin Hanzhaliyah, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa meminta-minta sementara ia memiliki kecukupan maka sesungguhnya ia sedang memperbanyak bagian dari neraka. Ia [Sahl] bertanya, “Apakah batasan kecukupan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkata, “Sekedar kecukupan untuk makan siang dan makan malam.” [Shahih, Abu Dawud 1629, Ahmad IV 180-181, dari Rabi'ah bin Yazid dari Abu Kabsyah Al Alawi]

Sebagian ulama berpendapat hadits Sahl mansukh, sebagian lagi berpendapat barangsiapa yang memiliki kebutuhan pokok sehari-hari tidak boleh meminta-mintam sebagian lagi berpendapat hadits Sahl berlaku atas orang yang secara kontinyu memiliki kebutuhan pokok.

Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly mengatakan, “Klaim mansukh atas hadits Sahl tidak benar, sementara proses jama’ masih bisa dilakukan. Baransiapa memiliki harta mencapai nishab sementara ia masih memiliki tanggungan keluarga maka ia boleh menerima shadaqah tanpa meminta, maka ia tergolong fakir, wallahu ‘alam.”

ORANG YANG BERHUTANG, TERTIMPA MUSIBAH, KEMELARATAN ABSOLUT

Dari Qabishah bin Al Mukhariq Al Hilaly, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Hai Qabishah, meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi tiga orang : Pertama, seorang yang memikul tanggungan hamalah [hutang yang ditanggung dalam usaha mendamaikan 2 pihak yang bertikai], maka ia boleh meminta bantuan hingga ia dapat menutupi hutangnya kemudian berhenti meminta. Kedua, seorang yang tertimpa musibah yang meludeskan seluruh hartanya, maka ia boleh meminta bantuan hingga ia memperoleh apa yang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Ketiga, seseorang yang ditimpa kemelaratan, hingga 3 orang yang berakal dari kaumnya membuat persaksian : “Si Fulan telah ditimpa kemelaratan”, maka ia boleh meminta bantuan hingga ia memperoleh apa yang dapat memenuhi kebutuhannya. Selain dari 3 itu hai Qabishah, hanyal barang haram yang dimakan oleh si peminta-minta sebagai barang haram.” [HR Muslim 1044]

Sumber :
Ensiklopedi Larangan Menurut Al Qur’an dan As Sunnah, Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly, Pustaka Imam Asy Syafi’i.

About these ads

6 Responses to “Hukum Mengemis / Meminta-minta Dalam Islam”

  1. Cuma ingin bertanya, apakah hukumnya kita sebagai orang Islam memberi wang atau seumpanya kepada orang yang meminta-minta itu?

    Abu al Maira :

    Ya boleh2 saja, namanya juga memberi/sedekah….

  2. Jadi hukum jelasnya apa mengenai mengemis itu? Apakah masuk kepada haram??

    Abu al Maira :

    Haram, keculai orang yang tertimpa musibah, orang yang berhutang dan orang dengan kemelaratan absolut…

    Dari Qabishah bin Al Mukhariq Al Hilaly, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Hai Qabishah, meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi tiga orang : Pertama, seorang yang memikul tanggungan hamalah [hutang yang ditanggung dalam usaha mendamaikan 2 pihak yang bertikai], maka ia boleh meminta bantuan hingga ia dapat menutupi hutangnya kemudian berhenti meminta. Kedua, seorang yang tertimpa musibah yang meludeskan seluruh hartanya, maka ia boleh meminta bantuan hingga ia memperoleh apa yang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Ketiga, seseorang yang ditimpa kemelaratan, hingga 3 orang yang berakal dari kaumnya membuat persaksian : “Si Fulan telah ditimpa kemelaratan”, maka ia boleh meminta bantuan hingga ia memperoleh apa yang dapat memenuhi kebutuhannya. Selain dari 3 itu hai Qabishah, hanyal barang haram yang dimakan oleh si peminta-minta sebagai barang haram.” [HR Muslim 1044]

  3. kalau meminta-minta dalam hal “celamitan”, contoh : meminta kertas atau cemilan ke teman. itu bagaimana hukumnya?

    Abu al Maira :
    Semuanya kembali ke ‘urf [kebiasaan] masyarakat Mbak.
    Misal dalam hal meminta kertas, misalnya anda bekerja dalam satu intsansi dimana anda yang bertanggung jawab memegang kertas/ATK, tentunya orang2 akan meminta kepada anda. Apakah dengan ini orang yang meminta akan dikategorikan sebagai pengemis..? Atau layak dikatakan celamitan..?

    Begitu juga mengenai makanan. Secara umum di negeri kita ini jika anda memakan sesuatu di muka orang-orang yang kenal/akrab dengan kita atau anda menaruh makanan/cemilan anda di meja kerja anda misalnya, anggapan umum adalah kita mempersilahkan orang lain untuk mencicipi cemilan/makan kita atas izin kita. Ini sudah menjadi kebiasaan / ‘urf di negeri kita. Kalau ada yang meminta cemilannya, jangan kita salahkan dan sebut dia celamitan / pengemis. Jadi kalau kita tidak ingin berbagi untuk .makanan/cemilannya, sebaiknya kita makan sembunyi2 dan jangan makan di depan orang2 yg kenal/akrab dengan kita. Bahkan kita bisa mengatakan tidak ketika ada orang yang ingin mencicipi makanan/cemilan kita, dan akibat berikutnya adalah orang lain akan menganggap kita orang yang bakhil/pelit sebagaimana kita menganggap orang lain adalah peminta-minta/celamitan.

    Misalnya juga dalam pergaulan sehari2, jika seseorang punya kendaraan lantas temannya berkata “nebeng dong”, atau jika seseorang yang mendapat rezeki lebih lantas temannya berkata “traktir2 ya”, dan hal-hal lainnya.
    Hal-hal seperti ini tidak lantas bisa katakan seseorang adalah seorang peminta-minta atau celamitan misalnya.

    Kalau boleh saya kasih saran, kalau sekiranya kita enggan berbagi dengan orang lain dengan alasan apapun maka sebaiknya kita tidak menampakkan sesuatu yang membuat orang lain ingin kita bisa berbagi dengan mereka.

    Dan disatu sisi lagi, saling memberi dan saling menghadiahi sangat dianjurkan dalam agama.

    Allahu ‘alam

  4. Wah, bagus sekali pak artikelnya…
    semoga berkah… :-)

Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: