Hukum Qurban Wajib Atau Sunnah Dalam Islam ?


Kurban adalah kambing yang disembelih setelah melaksanakan shalat Idul Adha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, karena Dia Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman (yang artinya) : ” Katakanlah : sesungguhnya shalatku, kurbanku (nusuk), hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam tidak ada sekutu bagi-Nya” [Al-An'am : 162]

Nusuk dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.[ Minhajul Muslim (355-356)]

Ulama berselisih pendapat tentang hukum kurban. Yang tampak paling rajih (tepat) dari dalil-dalil yang beragam adalah hukumnya wajib. Berikut ini akan aku sebutkan untukmu -wahai saudaraku muslim- beberapa hadits yang dijadikan sebagai dalil oleh mereka yang mewajibkan :

Pertama.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (yang artinya) : ” Siapa yang memiliki kelapangan (harta) tapi ia tidak menyembelih kurban maka jangan sekali-kali ia mendekati mushalla kami” [Riwayat Ahmad (1/321), Ibnu Majah (3123), Ad-Daruquthni (4/277), Al-Hakim (2/349) dan (4/231) dan sanadnya hasan]
Sisi pendalilannya adalah beliau melarang orang yang memiliki kelapangan harta untuk mendekati mushalla jika ia tidak menyembelih kurban. Ini menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan kewajiban, seakan-akan tidak ada faedah mendekatkan diri kepada Allah bersamaan dengan meninggalkan kewajiban ini.

Kedua.
Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajali, ia berkata : Pada hari raya kurban, aku menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. (yang artinya) : ” Siapa yang menyembelih sebelum melaksanakan shalat maka hendaklah ia mengulang dengan hewan lain, dan siapa yang belum menyembelih kurban maka sembelihlah” [Diriwayatkan oleh Bukhari (5562), Muslim (1960), An-Nasa'i (7/224), Ibnu Majah (3152), Ath-Thayalisi (936) dan Ahmad (4/312,3131).] Perintah secara dhahir menunjukkan wajib, dan tidak ada [Akan disebutkan bantahan-bantahan terhadap dalil yang dipakai oleh orang-orang yang berpendapat bahwa hukum menyembelih kurban adalah sunnah, nantikanlah.] perkara yang memalingkan dari dhahirnya.

Ketiga.
Mikhnaf bin Sulaim menyatakan bahwa ia pernah menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Arafah, beliau bersabda (yang artinya) : ” Bagi setiap keluarga wajib untuk menyembelih ‘atirah [Berkata Abu Ubaid dalam "Gharibul Hadits" (1/195) : "Atirah adalah sembelihan di bulan Rajab yang orang-orang jahiliyah mendekatkan diri kepada Allah dengannya, kemudian datang Islam dan kebiasaan itu dibiarkan hingga dihapus setelahnya.] setiap tahun. Tahukah kalian apa itu ‘atirah ? Inilah yang biasa dikatakan orang dengan nama rajabiyah” [Diriwayatkan Ahmad (4/215), Ibnu Majah (3125) Abu Daud (2788) Al-Baghawi (1128), At-Tirmidzi (1518), An-Nasa'i (7/167) dan dalam sanadnya ada rawi be7rnama Abu Ramlah, dia majhul (tidak dikenal). Hadits ini memiliki jalan lain yang diriwayatkan Ahmad (5/76) namun sanadnya lemah. Tirmidzi menghasankannya dalam "Sunannya" dan dikuatkan Al-Hafidzh dalam Fathul Bari (10/4), Lihat Al-Ishabah (9/151)]
Perintah dalam hadits ini menunjukkan wajib. Adapun ‘atirah telah dihapus hukumnya (mansukh), dan penghapusan kewajiban ‘atirah tidak mengharuskan dihapuskannya kewajiban kurban, bahkan hukumnya tetap sebagaimana asalnya.

Berkata Ibnul Atsir :’Atirah hukumnya mansukh, hal ini hanya dilakukan pada awal Islam.[ Jami ul-ushul (3/317) dan lihat 'Al-Adilah Al-Muthmainah ala Tsubutin naskh fii Kitab was Sunnah (103-105) dan "Al-Mughni" (8/650-651).]

Adapun orang-orang yang menyelisihi pendapat wajibnya kurban, maka syubhat mereka yang paling besar untuk menunjukkan (bahwa) menyembelih kurban hukumnya sunnah adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : ” Apabila masuk sepuluh hari (yang awal dari bulan Dzulhijjah -pen), lalu salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban maka janganlah ia menyentuh sedikitpun dari rambutnya dan tidak pula kulitnya“. [Diriwayatkan Muslim (1977), Abu Daud (2791), An-Nasa'i (7/211dan 212), Al-Baghawi (1127), Ibnu Majah (3149), Al-Baihaqi (9/266), Ahmad (6/289) dan (6/301 dan 311), Al-Hakim (4/220) dan Ath-Thahawi dalam "Syarhu Ma'anil Atsar" (4/181) dan jalan-jalan Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha]

Mereka berkata ["Al-majmu" 98/302) dan Mughni Al-Muhtaj" (4/282) 'Syarhus Sunnah" (4/348) dan "Al-Muhalla" 98/3)] : “Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa menyembelih hewan kurban tidak wajib, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban ….” , seandainya wajib tentunya beliau tidak menyandarkan hal itu pada keinginan (iradah) seseorang”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah telah membantah syubhat ini setelah beliau menguatkan pendapat wajibnya hukum, dengan perkataannya [Majmu Al-Fatawa (22/162-163)]

“Orang-orang yang menolak wajibnya menyembelih kurban tidak ada pada mereka satu dalil. Sandaran mereka adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Siapa yang ingin menyembelih kurban …..” Mereka berkata : “Sesuatu yang wajib tidak akan dikaitkan dengan iradah (kehendak/keinginan) !” Ini merupakan ucapan yang global, karena kewajiban tidak disandarkan kepada keinginan hamba maka dikatakan : “Jika engkau mau lakukanlah”, tetapi terkadang kewajiban itu digandengkan dengan syarat untuk menerangkan satu hukum dari hukum-hukum yang ada. Seperti firman Allah :
(yang artinya) : ” Apabila kalian hendak mengerjakan shalat maka basuhlah ….” [Al-Maidah : 6]

Dikatakan : Jika kalian ingin shalat. Dan dikatakan pula : Jika kalian ingin membaca Al-Qur’an maka berta’awudzlah (mintalah perlindungan kepada Allah). Thaharah (bersuci) itu hukumnya wajib dan membaca Al-Qur’an (Al-Fatihah-pent) di dalam shalat itu wajib.

Dalam ayat ini Allah berfirman (yang artinya) : ” Al-Qur’an itu hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus” [At-Takwir : 27]
Allah berfirman demikian sedangkan keinginan untuk istiqamah itu wajib”.

Kemudian beliau rahimahullah berkata [Sama dengan di atas] :
Dan juga, tidaklah setiap orang diwajibkan padanya untuk menyembelih kurban. Kewajiban hanya dibebankan bagi orang yang mampu, maka dialah yang dimaksudkan ingin menyembelih kurban, sebagaimana beliau berkata (yang artinya) : ” Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji hendaklah ia bersegera menunaikannya ….. ” [Diriwayatkan Ahmad (1/214,323, 355), Ibnu Majah (3883), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (1/114) dari Al-Fadl, namun pada isnadnya ada kelemahan. Akan tetapi ada jalan lain di sisi Abi Daud (1732), Ad-Darimi (2/28), Al-Hakim (1/448), Ahmad (1/225) dan padanya ada kelemahan juga, akan tetapi dengan dua jalan haditsnya hasan Insya Allah. Lihat 'Irwaul Ghalil" oleh ustadz kami Al-Albani (4/168-169)]

Haji hukumnya wajib bagi orang yang mampu, maka sabda beliau : “Siapa yang ingin menyembelih kurban …” sama halnya dengan sabda beliau : “Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji ……..”

Imam Al-‘Aini [Dalam 'Al-Binayah fi Syarhil Hadayah" (9/106-114)] rahimahullah telah memberikan jawaban atas dalil mereka yang telah disebutkan -dalam rangka menjelaskan ucapan penulis kitab “Al-Hadayah”[ Yang dimaksud adalah kitab "Al-Hadayah Syarhul Bidayah" dalam fiqih Hanafiyah. Kitab ini termasuk di antara kitab-kitab yang biasa digunakan dalam madzhab ini. Sebagaimana dalam "Kasyfudh Dhunun" (2/2031-2040). Kitab ini merupakan karya Imam Ali bin Abi Bakar Al-Marghinani, wafat tahun (593H), biografinya bisa dilihat dalam 'Al-Fawaidul Bahiyah" (141).] yang berbunyi : “Yang dimaksudkan dengan iradah (keinginan/kehendak) dalam hadits yang diriwayatkan -wallahu a’lam- adalah lawan dari sahwu (lupa) bukan takhyir (pilihan, boleh tidaknya -pent)”. Al-‘Aini rahimahullah menjelaskan :

“Yakni : Tidaklah yang dimaksudka takhyir antara meninggalkan dan kebolehan, maka jadilah seakan-akan ia berkata : “Siapa yang bermaksud untuk menyembelih hewan kurban di antara kalian”, dan ini tidak menunjukkan dinafikannya kewajiban, sebagaimana sabdanya :(yang artinya) : ” Siapa yang ingin shalat maka hendaklah ia berwudlu” [Aku tidak mendapat lafadh seperti iin, dan apa yang setelahnya cukup sebagai pengambilan dalil]

Dan sabda beliau (yang artinya) : ” Siapa diantara kalian ingin menunaikan shalat Jum’at maka hendaklah ia mandi” [Diriwayatkan dengan lafadh ini oleh Muslim (844) dan Ibnu Umar. Adapun Bukhari, ia meriwayatkannya dan Ibnu Umar dengan lafadh yang lain, nomor (877), 9894) dan (919].

Yakni siapa yang bermaksud shalat Jum’at, (jadi) bukanlah takhyir ….

Adapun pengambilan dalil tidak wajibnya kurban dengan riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kurban untuk umatnya -sebagaimana diriwayatkan dalam “Sunan Abi Daud” (2810), “Sunan At-Tirmidzi” (1574) dan “Musnad Ahmad” (3/356) dengan sanad yang shahih dari Jabir- bukanlah pengambilan dalil yang tepat karena Nabi melakukan hal itu untuk orang yang tidak mampu dari umatnya.

Bagi orang yang tidak mampu menyembelih kurban, maka gugurlah darinya kewajiban ini.

Wallahu a’lam
Sumber :

Ahkaamu Al’ Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Haura’, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein, dinukil dari http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=494

About these ads

44 Komentar to “Hukum Qurban Wajib Atau Sunnah Dalam Islam ?”

  1. Assalamu;alaykum, silahkan dengar kajian seputar “Ahkamul-’Udhhiyah” Hukum seputar Penyembelihan..barokALLOHufiyk.

    Abu Al Maira :

    Wa ‘alaykum salam warahmatullah

    Syukron ya akhii Abu Yahya…

  2. assalamu’alaikum

    mengenai jumlah hewan, bukankah di bulugul marom ada hadist bahwa rasul berkorban seekor kambing untuk dirinya, keluarga beserta umatnya.

    bagaimana implikasinya dengan hadist tersebut

    Abu Al Maira :

    Wa alaykum salam warahmatullah…

    Kalau boleh ana nukil dari buku Hari Raya Bersama Rasulullah oleh Syaikh Ali Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, hadits ini [dengan matan yang maksudnya sama] dimaksudkan bahwa orang2 yang tidak bisa/tidak sanggup untuk berqurban akan mendapat pahala dari orang2 yang melakukan qurban.

    Ana copaskan sebagai tambahan :

    Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata : “Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya.” [Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546]

    Al-Mahally berpendapat : “onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

    Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya. [Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317]

    Jadi kesimpulannya yang rajih menurut ulama, bahwa jika seorang kepala keluarga berqurban, maka itu cukup untuk dia dan keluarganya. Lain halnya jika orang yang belum berkeluarga dan mampu untuk berqurban, maka sunnahnya adalah 1 kambing/domba untuk dirinya sendiri.

    Komen ana sekaligus merevisi komen ana sebelumnya yang mengatakan bahwa “1 kambing/domba untuk 1 anggota keluarga”. Mohon maaf atas kesalahpahaman, berhubung ilmu ana yang masih sangat terbatas. Semoga Allah mengampuni kekeliruan ana.

    Allahul muwaffiq

  3. Assalamu’alaykum
    Akhi Abu al Maira, jika merujuk kepada hadits Nabi: “Dianjurkan bagi setiap keluarga menyembelih qurban.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa`i, dan Ibnu Majah) , maka nampak bahwa anjuran kurban perkeluarga, bukan per anggota keluarga.

    Abu Al Maira :

    Wa alaykum salam warahmatullah…

    Kalau dari hadits tersebut diatas, yang saya ketahui dan saya pahami, memang benar dianjurkan untuk menyembelih kurban/keluarga. Maksudnya adalah setiap keluarga hendaknya berkurban dengan 1 ekor kambing [untuk satu orang anggota keluarga] dan/atau 1 ekor sapi/kerbau [untuk 7 orang].

    Jadi jika keluarga akhi Imam ada 5 anggota keluarga, tapi akhi Imam hanya sanggup berkurban untuk 1 orang anggota keluarga, maka silahkan berqurban dengan menyembelih 1 ekor kambing/domba [bukan 1 kambing/domba untuk seluruh keluarga], demikian yang saya pahami.

    Mohon tanggapan dan koreksi akhi…

    Allahu ‘alam

    *** Koreksi***

    Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata : “Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya.” [Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546]

    Al-Mahally berpendapat : “onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

    Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya. [Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317]

    Jadi kesimpulannya yang rajih menurut ulama, bahwa jika seorang kepala keluarga berqurban, maka itu cukup untuk dia dan keluarganya. Lain halnya jika orang yang belum berkeluarga dan mampu untuk berqurban, maka sunnahnya adalah 1 kambing/domba untuk dirinya sendiri.

    Mohon maaf atas kekeliruan komen ana akhi Imam, semoga Allah mengampuni kekeliruan ana…

  4. apakah sah/boleh jika berkurban 2 kambing,
    satu untuk keluarga sendiri, dan satu lagi diniatkan
    untuk orang lain/keluarga lain,
    misalkan untuk ayahnya ( yg masih hidup) ?

    Abu Al Maira :

    Insya Allah boleh….

  5. apakah ada syarat lain yg mewajibkan berqurban..,misalnya nisab harta atau ukuran mampu itu seperti apa..?

    apakah boleh seorang kepala kluarga berqurban dengan 1/7 sapi untuk kluarganya..?

    Abu al Maira :

    Tidak ada ukuran nisab untuk berqurban, ukuran mampunya ya kalau kita bisa berqurban dengan 1 ekor kambing yang memenuhi persyaratan…

    Intinya, bagi seorang kepala keluarga, apa yang dia qurbankan sudah mencukupi untuk dirinya beserta keluarganya…

    Allahu ‘alam

  6. Tentang nukilan anda bahwa Ibn Taimiyah menyatakan wajibnya hukum qurban, setelah saya cek di majmu’ fatawa sebagaimana nukilan anda, saya nggak temukan.

    Mungkin anda salah dalam menukil.

    Abu al Maira :
    Begitu yang ana nukil dari http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=494

  7. salam, saya ingin mendapat kepastian adakah boleh dalam 1/7 itu dikongsi beramai2 sebagai contoh 1/7 bahgian tapi yang didalamnya itu lebih daripada 6 atau 7 kepala yang bergabung?

    Abu al Maira :

    Dalam bersekutu dengan qurban sapi, maka bersekutunya 7 kepala… Dan yang 1/7 tidak berkongsi di dalamnya…. Artinya 1/7 = 1 kepala…

    Allahu ‘alam

  8. assalamualaikum wr wb.
    dikampung saya pada idul adha tahun ini ada 67 orang yang mendaftarkan ikut berqurban yang rencananya akan berqurban sapi, sehinga diperoleh 9 ekor sapi dan masih ada sisa 4 org peserta.yang mjd permasalahan adalah masih ada beberapa orang yang keberatan kalau 4 sisa tersebut digantikan dengan kambing karena berkeinginan kuat untuk qurban sapi.apakah benar kalau kemudian beberapa ekor sapi dibelikan yang gemuk dan diqiyaskan dengan onta untuk delapan orang?
    wassalam

  9. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Kalau dalam satu keluarga (yg masih hidup) semuanya sudah berkurban, bolehkah berkurban untuk orang yang sudah meninggal ?
    Wassalamu’ alaikum Wr. Wb.

    Abu al Maira:
    Alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh…

    Seseorang yang pernah berkurban, sangat dianjurkan untuk bisa terus berkurban apalagi kalau dia mampu. Bahkan dalam satu hadits, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (yang artinya) : ” Siapa yang memiliki kelapangan (harta) tapi ia tidak menyembelih kurban maka jangan sekali-kali ia mendekati mushalla kami” [Riwayat Ahmad (1/321), Ibnu Majah (3123), Ad-Daruquthni (4/277), Al-Hakim (2/349) dan (4/231) dan sanadnya hasan].

    Selanjutnya mengenai berkurban untuk orang yang sudah meninggal, ulama berselisih faham mengenai hal ini, ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan. Dan menurut pendapat yang kuat, insya Allah seorang anak boleh/halal berqurban untuk orang tuanya [muslim] yang sudah meninggal.

    Allahu ‘alam

  10. assalamualaikum,,

    terima kasih,,

    forum ini cukup membantu saya dalam memahami hukum kurban,,,

    wassalamualaikum wr. wb.

  11. aslm. bolehkah memberikan hadiah qurban utk irang lain (saudara)? Dan gmana kalau orang yg dihadiahi tsb dlm kondisi sdang sakit (psikis)/dlm pngobatan? Jazakumulloh

    Abu al Maira :
    Pada dasarnya menghadiahi qurban untuk orang lain itu boleh, dan si penerima hadiah qurban [yang dibelikan hewan qurban untuknya] sah amalan qurbannya.

    Yang menjadi masalah jika si penerima hadiah ini adalah orang yang gila/hilang akal. Seperti diketahui bahwa syarat diterimanya amalan seseorang adalah berakal.

    Namun perlu diperhatikan juga kondisi2 yang ada. Jika seseorang menderita gangguan jiwa tapi dalam kondisi stress/depresi yang masih bisa membuat orang tersebut sadar dalam mengerjakan sholat, maka orang ini diasumsikan masih bisa mengerjakan amalan2 lainnya seperti puasa, zakat, qurban, dll.

    Tetapi jika seseorang mutlak menderita depresi yang sangat hebat, sehingga dia tidak bisa mengerjakan sholat karena hilangnya kesadaran dan hilang akal, maka orang ini tidak sah dalam melakukan amalan2 ibadah seluruhnya.
    Begitu juga jika depresi berat ini bersifat sementara, dalam artian kadang2 sadar dan kadang2 hilang kesadaran hilang akal [gila/korslet], maka dilihat waktunya.
    Jika dalam keadaan depresi berat hingga hilang akalnya, maka dia terbebas dari amalan apapun. Namun ketika dia kembali sadar dan kembali akalnya, maka dia sah dalam beramal.

    Jika anda membelikan hewan qurban untuk orang yang hilang akal/gila permanen, maka nilainya sedekah saja untuk anda.

    Allahu ‘alaum

  12. Asalamualaikum Abu al-Maira,
    Saya nak pastikan, apa betulkah satu ekor unta itu boleh dikongsi untuk 10 orang? Dalilnya apa ya? Terima kasih banyak

    Abu al Maira :

    Alaikumussalam warahmatullah…

    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).

  13. Saya mau nanya nih, mungkin banyak simpang siur yang saya dengar , sebenarnya yang berhak menerima bagian kurban selain pemilik dan fakir miskin kira – kira siapa lagi ya, karena kebanyakan zaman sekarang panitia , pemotong, tetangga sekitar yang mampu pun menerima jatah kurban dan apa hukumnya untuk yang menerima seperti itu. Terima kasih atas informasinya.

    Abu al Maira :

    Afdhalnya dibagikan semuanya ke fakir miskin, tetapi dengan keterbatasan distribusi dan hal-hal lainnya,,, Jumhur berpendapat bahwa halal memakan/menerima pembagian daging qurban walaupun dia bukan fakir miskin…

    Allahu ‘alam

  14. Usul, jika ada jawaban yang salah di bagian sebelumnya…mohon dihapus saja. Karena kadang ada yang membaca halaman tanya jawab hanya sampai selesai satu jawaban. Sehingga ralat antum di jawaban berikutnya tidak dia baca. Afwan, semoga bermanfaat.

    Abu al Maira :

    Sudah pak,,, Terima kasih…

  15. assalamu’alaikum
    kalau qurban hanya sekedar adat istiadat???

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullah

    Qurban seperti apa ya yg berdasar adat istiadat …??

  16. Assamu’alaikum. Ana mau tanya, kalau kita ingin arisan untuk qurban sapi. Rp 100rb/bln/org dlm 1th dgn 7org. Tetapi dlm 7 org tidak sama setoranya sesui dgn kmampuan .ada yg rp 125rb. Tetapi smua sepakat. Bagaimna hukumnya.

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullah…

    Intinya, dalam qurban sapi itu untuk bersekutu 7 orang.

  17. Assamu’alaikum. Ana mau tanya, kalau kita ingin qurban 1 ekor kambing tahun pertama untuk kepala keluarga kemudian tehun berukutnya untuk istri dan seterusnya sampai anggota keluarga mendapat jatah semua. Pemahaman ana 1 ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya. tetapi adat dikampung qurban diurutkan anggota keluarga. bagaimana hukumnya. terima kasih.

    Abu al Maira :

    Alaikumussalaam warahmatullah

    Cukup kepala keluarga saja pak yang qurban, dan itu mencukupi seluruh keluarga insya Allah…..
    Tidak perlu merisaukan adat atau omongan orang…..

    Ya kalau misalnya anggota keluarga ada 5 orang, dan bapak mau berqurban 5 ekor domba ya sah2 saja…. Tapi tidak perlu misalnya qurban untuk istri saja tahun ini…. Karena kalau qurban untuk pak, maka cukup untuk anggota keluarga semuanya…

  18. Ass…
    kalau si A sebagai kepala keluarga ingin qurban sapi (sapi sudah punya )diperuntukan untuk kepala keluarga ( si A), istri,2 anak, bapak dan ibu , adik…..hukumnya gimana?
    lebih baik mana?
    beli kambing 1 untuk qurban kepala keluarga dan sapinya dijual untuk nabung menghajikan orang tua…

    Abu al Maira :

    Si A sudah cukup berqurban dgn 1 ekor kambing. Andaikan pun berqurban dengan 1 ekor sapi, sah2 saja…

  19. Ass…….
    kalo saya mo qurban 1 kambing, yang qurban kepala keluarga ditujukan untuk kepala keluarga, istri dan anaknya niatnya gimana? trimakasih
    wass

  20. asalamualaikum,,
    saya mau tanya, kalo melakukan kurban tapi belum akikah apakah diperbolehkan,,,
    terimakasih,, wasalamualaikum

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam….

    Boleh….

  21. saya mau tanya pak.., bagaimana hukumnya qurban untuk orang yg sudah meninggal…? apakah sah?

    Abu al Maira :

    Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama.
    Imam Malik dan Imam Ahmad membolehkan. Sedangkan Imam Syafi’i mengharamkan.
    Adapun ulama-ulama syafi’iyah [madzhab syafi'i] berbeda pendapat, ada yang mengharamkan dan ada yang menghalalkan.

  22. Apakah benar ada dalil yang mengatakan bahwa yang berkurban mendapatkan haknya 1/3 bagian?

    Abu al Maira :

    Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia menjumpai subuh hari ketiga sesudah hari raya sedangkan dagingnya masih tersisa walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab, “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  23. Assalamualaikum wr.wb. Sedikit di luar konteks, saya ingin tahu pendapat anda, mengenai riwayat Nabi Ibrahim saat menyembelih Nabi Ismail. Semakin banyak membaca buku, semakin saya bingung, karena ada buku yang menyatakan saat Nabi Ibrahim umur 86 tahun, 100 tahun, sedangkan Nabi Ibrahim berumur ada yang menyatakan 6,7 tahun, ada yang 12, 13 tahun. Soal pendapat bukan Nabi Ismail yang disembelih saya pikir tidak perlu diperdebatkan, sudah jelas ceritanya dari Al Qur’an walau tanpa menyebut nama. Bagaimana dengan umur? Terima kasih bila mau menjawab pertanyaan saya, dan sekalian ditambahkan sumbernya.
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam warahmatullah….

    Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai umur Nabi Ismail ‘Alaihissalaam sewaktu akan disembelih. Akan tetapi pendapat yang masyhur adalah ketika beliau menjelang beranjak baligh. Allahu ‘alam…

  24. Terima kasih atas jawabannya. Saya meralat, maksud saya Nabi Ismail yang berumur 6,7 atau 12,13 tahun saat akan disembelih.Di luar konteks lagi, templatenya segar. Walau resep untuk membuat pisang smoothies versi dari luar negeri, jarang orang Indonesia membuat jus dari pisang beku. Mohon maaf, ini hanya sekedar intermezzo saja, sekali lagi terima kasih.

  25. 1. saya mau tanya… bagaimana huklumnya kurban bagi anak yang masih dalam tanggungan orang tua. kebetulan anaknya lagi di luar kota dan dikirim uang setiap bulan untuk biaya sekolah dan hidupnya. si anak memang rajin menabung sehingga ia, berencana untuk berkurban dengan uang tabungannya, bagaimana hukumnya?

    sukron

    Abu al Maira :

    Pada dasarnya jika seorang suami/bapak berqurban [misal dengan 1 ekor kambing], maka qurbannya itu sudah mencukupi untuk qurban seluruh anggota keluarga [yang menjadi tanggungannya]. Artinya tidak harus masing-masing anggota keluarga berqurban 1 ekor kambing.

    Adapun jika si anak tetap ingin berqurban dengan kemauan dan hartanya sendiri, maka boleh-boleh saja.

  26. ada gak sih bayar kurban secara kolektif?

    Abu al Maira :

    Tergantung kasusnya….

  27. ass , mau tanya lebih utama mana berqurban untuk orang tua yang sudah meninggal atau untuk diri sendiri ?
    berqurban untuk orang tua yang diluar kota dengan memakai uang penghasilan sy hukumnya apa ?
    apakah bisa kalau qurbannya disini tp untuk ortu di luar kota ?
    apakah boleh qurban untuk suami 1 , istri 1
    atau kita qurbankan untuk orang tua yg diluar kota dengan penghasilan sy / untuk orang tua yang sudah meninggal ?

    terima kasih unuk ilmunya

    Abu al Maira :

    Ulama berbeda pendapat mengenai hukum berqurban/beramal khusus untuk orang yang sudah meninggal. Mazhab Hambali membolehkan.

    Adapun Nabi tidak pernah mengkhususkan berqurban untuk istri/anak/paman/kerabatnya yang sudah meninggal.

    Bisa saja qurban untuk orang yang masih hidup. Pada dasarnya jika seorang suami berqurban, maka pahalanya mencukupi untuk seluruh keluarga yang dinafkahinya. Namun jika memiliki kelapangan rezeki dan ingin berqurban lebih dari 1 ekor kambing maka boleh-boleh saja.

  28. Ass

    Apakah daging yg kt kurbankan dapat kt mkn, atau apakah kt bs mengambil sebagian dgng yg kt kurbankan?
    Terimakasih

    Wass

    Abu al Maira :

    Dagingnya boleh dimakan dan diambil, maksimal 1/3

  29. Ass, untuk kemampuan berqurban apakah diwajibkan selama kita mampu atau sekali dalam seumur hidup?

    Abu al Maira :

    Selama kita mampu…. Kalau punya uang/tabungan yang cukup untuk membeli kambing, maka berqurban….

  30. di kampung saya ramai ahir2 ini arisan kurban.pertanyaan saya..apakah arisan kurban itu termasuk nadzar atau bukan?dan bagaimana jika dalam pembagiannya itu telah disepakati sebelum penyembelihan bahwa yg kurban akan mendapatkan bagian sekian..contoh 7 orang kurban sapi..dan disepakati bahwa nanti masing2 dr mereka akan mendapatkan 2kg dan kemudian kulitnya dijual untuk pembangunan madrasah?bgaimana seperti itu…terima kasih sebelumnya…….

    Abu al Maira :

    Tidak termasuk nadzar…. Dan maaf saya kurang paham secara mendetail tentang arisan qurban yang anda maksud… Mungkin anda perlu menjelaskan lebih terperinci… Tapi yang pasti itu bukan nadzar

    • sperti halnya arisan biasa…jadi mereka melakukan arisan dan nanti jika kedapatn menang maka uangnya untuk kurban..mereka niatkan untuk kurban taun depan…

  31. Assalamualaikum wr wb.

    Setelah saya simak, saya mau menggaris bawahi ini…

    Merujuk kepada hadits Nabi:
    “Dianjurkan bagi setiap keluarga menyembelih qurban.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa`i, dan Ibnu Majah)”

    Berdasarkan pendapat Al-Mahally:
    “Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).”

    Berdasarkan hadis dan pendapat tersebut saya menangkap bahwa setiap keluarga cukup untuk menyembelih 1 ekor hewan kurban apakah domba/kambing/sapi/onta sesuai kemampuan keluarga masing2 untuk seluruh anggota keluarganya.
    Mohon di koreksi jika saya salah menangkap maksud dari hadis dan pendapat diatas.

    Yang jadi pertanyaan adalah, berhubung ayah saya sudah meninggal, maka tinggal ibu saya yg menjadi kepala keluarga, beliau telah berkurban satu ekor domba untuk keluarga, apakah anggota keluarga yg lain dalam hal ini saya, yg dalam kondisi sudah bekerja tapi masih ikut tinggal dengan orang tua, wajib untuk berkurban? Atau sudah cukup dengan kurban yg sudah di lakukan oleh ibu saya tersebut?

    Mohon pencerahannya,

    Wasalam.

    Abu al Maira :

    Qurban ibu sudah mencukupi. Tapi kalau anda juga mau berqurban maka sah-sah saja….

  32. Kalo mau kurban…ya kurban lah….lagian kalo hukumnya wajib mana mungkin orang yang tidak mampu, bagaimana mau beli….kambing, yang kecil 1.4 jt, mau beli pake apa mereka buat makan sehari-hari aja kadang harus nunggu orang bersedekah,

    belum tentu orang yg kurban di terima pahalanya….kalo yg buat beli ternyata duit hsl korupsi,mala’, pokoknya dari jalan yg tidak d berkahi.

    tp semangat kurban memang harus trus tertancap dalam hati,karena …dulu aja nabi Ibrahim “kurban “anak semata wayang Nabi Ismail padahal beliau punya anak tsb susah,E…Eh sama Allah di suruh d potong walau akhirnya d ganti wedhus.memang tergantung Ke Imanan kita masing-masing….

  33. Klau aku kurban untuk anak saya yang baru lahir itu hukumnya wajid atau sunah ???

    Abu al Maira :

    Mungkin maksud anda adalah aqiqah

    • Kalau anak sudah 7 hari umurnya, di-sunnat muakkad-kan untuk aqiqah (Riwayat Abu Dawud, al-Turmuzi dan Ibnu Majah). Sedang qurban di-sunnat muakkad-kan bagi Kepala Keluarga yg mampu, jadi kalau pak Izam Zunanto yg ber-qurban, pahalanya juga untuk isteri, anak2 & orang2 serumah yg ditanggung kehidupannya oleh pak Izam. Saran saya, lakukan aqiqah lebih dulu, baru ber-qurban.
      Wass w w

  34. afwan, mau nanya bagaimana dengan riwayat dibawah ini:
    Diriwayatkan dari Abu Sarihah, ia berkata, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma mereka tidak berkurban.” (Shahih, diriwayat oleh Abdurrazaq dan al-Baihaqi)
    Diriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak berkurban, padahal aku adalah orang yang berkelapangan, karena aku khawatir tetanggaku berpendapat hal itu wajib atasku.” (Shahih, diriwayat oleh Abdurrazaq dan al-Baihaqi)

    Abu al Maira :

    Shahih…

    • Ibnu Hazm berkata, ”Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabat pun yang menyatakan bahwa Qurban itu wajib.” (Al-Muhalla 5:295, dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah II:367-368, dan Taudhihul Ahkaam, IV:454).

      Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semua dalil, menunjukkan bahwa masing-masing pendapat sama kuat.

      Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan, “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berQurban. Karena dengan berQurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam”. (Tafsir Adwa’ul bayan, hal. 1120).

      Yakinlah, Allah subhanahu wa ta’ala akan segera memberikan ganti biaya Qurban yang dikeluarkan oleh orang-orang yang berQurban.

    • kalau dilihat dari hadist di bawah:
      Diriwayatkan dari Abu Sarihah, ia berkata, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma mereka tidak berkurban.” (Shahih, diriwayat oleh Abdurrazaq dan al-Baihaqi)
      Diriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak berkurban, padahal aku adalah orang yang berkelapangan, karena aku khawatir tetanggaku berpendapat hal itu wajib atasku.” (Shahih, diriwayat oleh Abdurrazaq dan al-Baihaqi)

      bukankah hukum qurban tidak wajib, karena sahabat pernah tidak melaksanakan…sedangkan yang mewajibkan tidak ada satupun dalil dari perkataan atau perbuatan sahabat ? mohon di jelaskan

      Abu al Maira :

      Kalau anda membaca ulang tulisan diatas, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam perkara qurban.

      Yang mewajibkan bagi yang mampu misalnya, mereka memiliki dalil antara lain :

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (yang artinya) : ” Siapa yang memiliki kelapangan (harta) tapi ia tidak menyembelih kurban maka jangan sekali-kali ia mendekati mushalla kami” [Riwayat Ahmad (1/321), Ibnu Majah (3123), Ad-Daruquthni (4/277), Al-Hakim (2/349) dan (4/231)]

      Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajali, ia berkata : Pada hari raya kurban, aku menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. (yang artinya) : ” Siapa yang menyembelih sebelum melaksanakan shalat maka hendaklah ia mengulang dengan hewan lain, dan siapa yang belum menyembelih kurban maka sembelihlah” [Diriwayatkan oleh Bukhari (5562), Muslim (1960), An-Nasa'i (7/224), Ibnu Majah (3152), Ath-Thayalisi (936) dan Ahmad (4/312,3131).]

      dan seterusnya anda bisa membaca sendiri…

      Kita harus bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat dimana perbedaan pendapat tersebut sama-sama memiliki dalil yang kuat…

      • Imam Syafie berpendapat hukum melakukan ibadah qurban ini adalah

        • Sunat Muakkadah yaitu ibadah yang disunatkan kepada mereka yang mempunyai harta yang melebihi keperluan darinya dan tanggungannya pada Hari Raya Aidil Adha dan hari-hari Tasriq (11,12 dan 13 Zulhijjah) termasuklah orang yang sedang mengerjakan haji.

        • Sunah yang amat ditekankan untuk setiap individu yang memenuhi syarat-syarat :
        o Muslim.
        o Merdeka (bukan Hamba).
        o Baligh lagi berakal .
        o Mampu untuk berqurban, baik yang sedang mengerjakan haji ataupun tidak sekurang-kurangnya sekali seumur hidup.

        • Makruh meninggalkan ibadah ini bagi orang yang mampu melakukannya.

        • Apabila seorang fakir membeli seekor kambing dengan niat untuk diqurbankan, maka ia menjadi wajib. Ini kerana membeli dengan tujuan berqurban oleh seseorang yang tidak wajib melakukannya dianggap wajib kerana perbuatan ini dianggap sebagai satu nazar.

        • Hukum qurban ini menjadikan wajib jika seseorang itu telah bernazar untuk melakukannnya atau telah membuat penentuan (at-ta’yin) untuk melaksanakannya seperti seseorang berkata “lembu ini aku jadikan qurban”. Jika tidak dilakukan dalam keadaan ini maka hukumnya adalah haram. Sabda Rasullullah sallallahu alaihi wassalam,

        “Sesiapa yang bernazar untuk melakukannya karena taat kepada Allah, maka hendaklah dia melakukannya.” (Rujukan : Fiqh al-Sunnah)

        • Untuk kanak-kanak tidak disunatkan melakukan ibadah qurban.

        Baik ibadah qurban wajib ataupun sunat syaratnya adalah dia mampu melaksanakannya.

        Orang yang dianggap mampu adalah mereka yang lapang untuk membeli binatang qurban lebih daripada kebutuhannya dan kebutuhan dari mereka yang dibawah tanggungannya untuk berhari raya dan hari–hari tasyrik.

        Ukuran “mampu” berqurban, hakikatnya sama dengan ukuran kemampuan shadaqah, yaitu mempunyai kelebihan harta (uang) setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (al hajat al asasiyah) -yaitu sandang, pangan, dan papan– dan kebutuhan penyempurna (al hajat al kamaliyah) yang lazim bagi seseorang. Jika seseorang masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka dia terbebas dari menjalankan sunnah qurban (Al Jabari, 1994)

      • afwan, semoga kita senantiasa diberikan kebaikan oleh Allah dalam masalah ilmu…….ana sama sekali bukan bermaksud membantah, namun semata-mata ingin benar-benar melaksanakan syari’at sesuai dengan hukum yang dituntunkan Rasulullah…ana benar-benar ingin meyakinkan pada pemahaman ana mana yang lebih condong dari kedua perselisihan tersebut….semula ana meyakini bahwa hal itu wajib bagi yang mampu….tetapi setelah ana medapat dalil tentang sahabat abu bakar dan umar yang pernah tidak berkorban dalam satu tahun kemudian ana menjadi bingung….sementara ana saat ini punya uang yang cukup untuk berqurban, tetapi ana memiliki kepentingan lain yang sangat penting, namun dalam urusan duniawi….terus terang sekarang ana lebih condong kepada hukum yang mensunnahkan, namun ana takut kalau perubahan pemahaman ana hanya dilandaskan sikap bermudah-mudahan dalam urusan agama, karena masih ada juga ketakutan kalau itu termasuk yang wajib. barakallahu fikum…

        Abu al Maira :

        Ketika anta berhadapan dengan hukum yang ulama berbeda pemahaman di dalamnya, dimana kedua2nya memiliki dalil yang menurut masing2 mendapat bahwa dalil mereka lah yang lebih kuat. Maka jika anta mampu, anda bisa memilih mana dalil yang paling kuat menurut anta. Namun jika anta tidak sanggup menentukan mana dalil yang terkuat diantara pendapat2 yang ada, maka anta boleh memilih salah satu dari pendapat2 yang ada. Dan anda tidak dituntut atas kesalahan atasnya. Yang terpenting adalah anda memilih pendapat bukan atas hawa nafsu.

        Imam Syafi’i pun pernah merubah pendapatnya sendiri. Awalnya pandangan fiqh beliau disebut disebut qaulul qadim (pendapat beliau yang pertama) ketika beliau berguru dan bersahabat dengan para ulama madzhab Hanafi, namun pada tahun 198 H beliau hijrah ke Mesir dan disana beliau menyusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid).

  35. Alhamdulillah…..
    Allah itu selalu memberi kemudahan pada umatnya (yg taqwa)…..
    Apabila anda tahun ini sedang mempunyai kepentingan yg sangat penting, sehingga tahun ini anda TIDAK punya kelebihan harta untuk ber”qurban”, maka yakinilah bahwa anda tidak masuk dlm golongan makruh…..
    Mudah2an tahun2 berikutnya anda akan selalu mendapat kelebihan harta, agar anda bisa melaksanakan sunah muakad tersebut. Amin ya Roballalamin…..

  36. Assalamualaikum wr wb.

    Kalau sebelumnya kita sebagai orang tua sudah pernah kurban dan tahun berikutnya kita gantian dengan anak – anak bagaimana?

    Abu al Maira :

    Seorang kepala keluarga yang berqurban, maka keluarga yang ditanggungnya juga mendapat pahala qurban yang sama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: