Hukum Membaca Basmalah Pada Waktu Sholat [Jahr atau Sirr]


MENJAHRKAN BACAAN BASMALAH DALAM SHALAT JAHRIYYAH

Dalam masalah ini para ulama’ berbeda pendapat menjadi tiga, yaitu pendapat yang menjahrkan basmalah, yang tidak menjaharkan, dan yang berusaha mengkompromikan dua pendapat tersebut (kadang jahar dan kadang tidak – boleh kedua-duanya).

Pendapat Pertama : Menjaharkan Bacaan Basmalah

Pendapat ini merupakan pendapat dari Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, dan Abu-Zubair radliyallaahu ‘anhum ‘ajma’iin. Dan ini juga merupakan pendapat Atha’, Thawus, Mijahid, dan Sa’ad bin Jubair; yang kemudian dikuatkan pula oleh Imam Syafi’I dan Abu Tsaur.

Mereka berdalil pada beberapa hadits, dan yang paling kuat di antaranya adalah hadits dari Khalid bin Yazid dari Sa’id bin Abi Hilal dari Nu’aim Al-Mujammir, ia berkata :
ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﻡﺄﺑ ﺃﺮﻗ ﻢﺛ ﻢﻴﺣﺮﻟﺍﻥﺎﻤﺣﺮﻟﺍ ﷲﺍ ﻢﺴﺑ ﺃﺮﻘﻓ ﺓﺮﻳﺮﻫ ﻲﺑﺃ ﺀﺍﺭﻭ ﺖﻴﻠﺻ
: ﺪﺠﺳ ﺎﻤﻠﻛ ﻝﻮﻘﻳﻭ ﻦﻴﻣﺁ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻝﺎﻘﻓ ﻦﻴﻣﺁ ﻝﺎﻘﻓ ﻦﻴﻟﺂﻀﻟﺍ ﻻﻭ ﻎﻠﺑ ﺍﺫﺇ ﻰﺘﺣ
ﻝﺎﻗ ﻢﻠﺳ ﺍﺫﺇﻭ .ﺮﺒﻛﺃ ﷲﺍ ﻝﺎﻗ ﻦﻴﺘﻨﺛﻹﺍ ﻲﻓ ﺱﻮﻠﺠﻟﺍ ﻦﻣ ﻡﺎﻗ ﺍﺫﺇﻭ ﺮﺒﻛﺃ ﷲﺍ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺮﺑ ﺓﻼﺻ ﻢﻜﻬﺒﺷﻷ ﻲﻧﺇ ﻩﺪﻴﺑ ﻲﺴﻔﻧ ﻱﺬﻟﺍﻭ
“Aku shalat di belakang Abu Hurairah kemudian ia membaca Bismillaahir-rahmaanir-rahiim, lalu membaca Ummul-Qur’an (Al-fatihah) sampai beliau membaca : “Waladl-dlaaalliin”, beliau berkata : “Aamiin”. Maka manusia berkata (juga) : “Aamiin”. Dan beliau berucap setiap kali sujud : “Allaahu Akbar”, dan ketika bangkit dari duduk raka’at kedua beliau berkata : “Allaahu Akbar”. Dan apabila beliau salam maka beliau berkata : “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya akulah diantara kalian yang paling serupa shalatnya dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”

Hadits ini diriwayatkan oleh An-nasa’I 2/134, IbnulJarud no. 184, Ath-Thahawi 1/199, Ibnu Khuzaimah no. 499 dan 688, Abu Ahmad Al-hakin dalam Syi’ar Ashhaabul-Hadiits hal. 41, Ibnu Hibban no. 1797 dan 1801, Al-hakim 1/232, Ad-daruquthni 1/305, Al-baihaqy 2/46 dan 58. Dan Imam Bukhari menyebutnya secara mu’allaq 2/266 – Fathul-Baari -

Hadits di atas merupakan dalil terkuat bagi orang-orang yang berpendapat menjahrkan basmalah dalam shalat jahriyyah. Namun di dalam hadits tersebut terdapat beberapa kelemahan, yaitu :

Berkata Az-Zailay dalam Nashbur-Rayyah 1/336 : Hadits ini ma’lul (memiliki cacat), karena penyebutan basmalah dalam (hadits ini) dari hal-hal yang Nu’aim Al-Mujammir ber-tafarrud (bersendirian) dengannya (yaitu dalam meriwayatkannya) di antara ashhaab (murid-murid) Abu Hurairah yang jumlah mereka delapan ratus (orang) dari kalangan shahabat dan tabi’in. Dan tidaklah tsabit (sah, kuat) dari seorang tsiqahpun dari ashhaab Abu Hurairah bahwa ia bercerita dari Abu Hurairah bahwa beliau (Nabi) shallallaahu ‘alaihi wasallam menjaharkan basmalah dalam shalat. Dan dua pengarang Ash-Shahiih (Al-Bukhari dan Muslim) telah berpaling dari penyebutan basmalah dalam hadits Abu Hurairah……”.

Berkata Al-hafidh Ibnu rajab dalam fathul-Baari 4/367 : “Khalid dan Sa’id, walaupun keduanya rawi yang tisqah (terpercaya) akan tetapi berkata Abu ‘Utsaman Al-Bardza’iy dalam ‘Ilal-nya dari Abu Zur’ah Ar-Razi tentang kedua perawi ini : “kadang-kadanmg terbetik dalam hati saya (suatu keraguan) karena baiknya hadits dari keduanya”. Abu Hatim berkata : “Saya khawatir sebagiannyaadalah riwayat-riwayat yang mursal dari Abu farwah dan Ibnu Sam’an”. Yaitu (riwayat-riwayat tersebut) di-tadlis dari keduanya”.

Dari Syaikh Al-Albani dalam Tamaamul-Minnah halaman 168-169 menta’lil dan melemahkan hadits di atas dengan Sa’id bin Abi Hilal. Alasannya adalah karena ia adalah rawi yang mukhtalith (bercampur hafalannya).

Dan Al-hafidh Ibnu Rajab dan Syaikh Al-Albani juga menerangkan bahwa andaikata hadits di atas shahih, tidak terkandung di dalamnya penegasan bahwa basamalah dijaharkan dan juga tidak ada penegasan bahwa bacaan basmalah dari Abu Hurairah beliau ambil dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam (= mempunyai hukum marfu’ ).

Demikian kelemahan dan tidak tegasnya dalil pendapat pertama yang mereka anggap sebagai dalil yang paling kuat sehingga bisa memberikan gambaran bahwa hadits-hadits yang lainnya tidak bisa dijadikan sebagai sandaran. Dari kelemahan hadits-hadits tersebut telah diuraikan secara tuntas oleh Al-Hafidh Ibnu Rajab dalam Fathul-Baari 4/368-372 dan Az-Zaila’iy dalam Nashbur-Rayah 1/335-355.

Berkata Al-‘Uqaily : “Tidak ada satupun hadits musnad yang shahih dalam menjaharkan basmalah”. Baca fathul-Baari karya Ibnu Rajab 4/372.

Dan berkata Ad-Daruquthni : “Setiap riwayat dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang menjaharkan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim bukanlah (hadits) shahih”. Lihat Al-Mughy ‘anil Hifdhi wal-Kitaab karya Abu Hafsh Al-Mushily halaman 267 – Junatul Murtab – .

Pendapat kedua : Tidak Menjaharkan Basmalah (Sirr)

Pendapat ini merupakan pendapat dari kebanyakan ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in setelahnya seperti Abu bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair, dan ‘Ammar. Demikian pula pendapat Abu Wail, Ibnu Sirrin, Al-hasan Al-Bashri, bakr Al-Muzani, Asy-Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’I, Abu Ishaq As-Sabi’iy, ‘Umar bin Abdul-‘Aziz-dalam salah satu riwayat, Abu ja’far Muhammad bin Ali, Al-Ahkam, Hammad, Al-‘Auza’I, Qatadah, Ats-Tsauri, Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubrumah, Ibnul-Mubarak, Ahmad, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Al-Hasan bin Hayyi, dan ashhabur-ra’yi.

Mereka berdalil dengan beberapa hadits, diantaranya :

Hadits Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
ﻥﻮﺤﺘﺘﻔﻳ ﺍﻮﻧﺎﻛ ﺎﻤﻬﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﺮﻤﻋﻭ ﺮﻜﺑ ﺎﺑﺃﻭ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻥﺃ
ﻦﻴﻤﻟﺎﻌﻟﺍ ﺏﺭ ﺪﻤﺤﻟﺍﺏ ﺓﻼﺼﻟﺍ
“Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan ‘Umar membuka (bacaan) shalatnya dengan membaca Alhamdulillaahi rabbil-‘aalamiin”. Ini adalah lafadh Imam Bukhari.

Imam Muslim meriwayatkan dengan lafadh lain :
ﻊﻤﺳﺃ ﻢﻠﻓ ﻥﺎﻤﺜﻋﻭ ﺮﻤﻋﻭ ﺮﻜﺑ ﻲﺑﺃﻭ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻒﻠﺧ ﺖﻴﻠﺻ
ﻢﻴﺣﺮﻟﺍﻥﺎﻤﺣﺮﻟﺍ ﷲﺍ ﻢﺴﺑ ﺃﺮﻘﻳ ﻢﻬﻨﻣ ﺍﺪﺣﺃ
“Saya shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, dan saya tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca Bismillaahir-rahmaanir-rahiim”.

Dan dalam riwayat lain ;
ﺍﻮﻧﺎﻜﻓ ﻥﺎﻤﺜﻋﻭ ﺮﻤﻋﻭ ﺮﻜﺑ ﻲﺑﺃﻭ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻒﻠﺧ ﺖﻴﻠﺻ
ﻢﻴﺣﺮﻟﺍﻥﺎﻤﺣﺮﻟﺍ ﷲﺍ ﻢﺴﺑ ﻥﻭﺮﻛﺬﻳ ﻦﻴﻤﻟﺎﻌﻟﺍ ﺏﺭ ﺪﻤﺤﻟﺍﺏ ﻥﻮﺤﺘﻔﺘﺴﻳ
ﺎﻫﺮﺧﺁ ﻲﻓ ﻻﻭ ﺓﺀﺍﺮﻗ ﻝﻭﺃ ﻲﻓ
“Saya shalat di belakang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, mereka membuka dengan Alhamdulillaahir-rabbil-‘aalamiin; tidaklah mereka menyebutkan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim di awalnya dan tidak pula di akhirnya”.

Hadits-hadits di atas telah disepakati keshahihannya tanpa ada yang membantah, kecuali apa yang dinukil dari Al-Hafidh As-Suyuthi (yang mana pendapat lemah beliau telah diberikan bantahan ilmiah oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-wadi’I dalam Riyaadlul-Jannah fir-Raddi ‘alaa A’daa-us-Sunnah halaman 87-99).

Pendapat Ketiga : Boleh Menjaharkan dan Boleh Pula Tidak (Kadang Menjaharkan dan Kadang Tidak)

Ada beberapa ulama yang berusaha mengkompromikan 2 pendapat di atas dengan dasar bahwa : Kadang Nabi menjaharkan basmalah dan kadang pula tidak (lihat Subulus-Salaam 1/272). Dan in pula yang menjadi pendapat Ibnul-Qayyim rahimahullah, walaupun beliau menyatakan bahwa tidak dijaharkan adalah lebih banyak (lihat Zaadul-Ma’ad 1/199). Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil dan Syaikh Bin Baz (dalam ta’liq beliau terhadap Fathul-Baari).

Kesimpulan

Dari uraian di atas yang menyebutkan beberapa dalil dan pendapat ulama’, maka yang terkuat insyaAllah adalah pendapat yang kedua yang menyebutkan tidak menjaharkan bacaan basmalah. Adapun dalil yang menyatakan menjaharkan, maka hadits itu adalah lemah. Kalaupun shahih, maka itupun tidak menunjukkan secara sharih (jelas) bahwa basamalah dijaharkan ketika shalat.

Berkata At-Tirmidzi : “Amalan kebanyakan ulama’ di atas hal ini (adalah tidak menjaharkan basmalah”.

Berkata Abu Wa’il : “Mereka (para shahabat dan tabi’in) tidak menjaharkan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim”.

Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, beliau berkata : “Saya mendapati para imam dan mereka tidaklah membuka bacaannya kecuali dengan Alhamdulillaahi rabbil-‘aalamiin”.

Pendapat ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Tamaamul-Minnah dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarhul-Mumti’.

Sumber :

http://www.myquran.org/forum/showthread.php?t=22148

About these ads

One Trackback to “Hukum Membaca Basmalah Pada Waktu Sholat [Jahr atau Sirr]”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: