<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Al Maira - و هل يكبّ النّاس في النّار عل وجو ههم إلاّ حصا ئد ألسنتهم</title>
	<atom:link href="http://jacksite.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jacksite.wordpress.com</link>
	<description>&#34;Tidakkah wajah dan leher manusia dijerembabkan ke dalam api neraka kecuali akibat apa yang diucapkan lidah-lidah mereka&#34; - “Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya”</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 02:58:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jacksite.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2f846ec076185051ebc6e599fcc074cf?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu Al Maira - و هل يكبّ النّاس في النّار عل وجو ههم إلاّ حصا ئد ألسنتهم</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Biografi SYAIKH ABDUL QADIR AL-ARNA`UTH</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-syaikh-abdul-qadir-al-arnauth/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-syaikh-abdul-qadir-al-arnauth/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
Syaikh -rahimahullah- dilahirkan di Frila, propinsi Kosovo di kawasan Balkan (saat ini Kosovo, yang dihuni etnis Albania dan tengah berupaya memisahkan diri dari republik Serbia-red), pada tahun 1347, kemudian hijrah bersama ayahandanya ke Damaskus saat masih berusia 3 tahun. Hijrah tersebut bagi kaum Muslimin di sana merupakan upaya menyelamatkan diri dari penindasan kaum atheis komunis. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=790&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syaikh -rahimahullah- dilahirkan di Frila, propinsi Kosovo di kawasan Balkan (saat ini Kosovo, yang dihuni etnis Albania dan tengah berupaya memisahkan diri dari republik Serbia-red), pada tahun 1347, kemudian hijrah bersama ayahandanya ke Damaskus saat masih berusia 3 tahun. Hijrah tersebut bagi kaum Muslimin di sana merupakan upaya menyelamatkan diri dari penindasan kaum atheis komunis. Di Damaskus, ia mendapatkan suasana yang kondusif dan tinggal di sana melewati hari-hari yang diberkahi. Namun demikian, beliau pun terus menjaga hubungan dakwahnya dengan negeri asalnya. <span id="more-790"></span></p>
<p>Beliau dikenal dengan nama Abdul Qadir al-Arna`uth. Hanya saja, nama aslinya dalam identitas diri adalah Qadri Shauqel Abdoe. Al-Arna`uth merupakan penisbatan yang diberikan para khalifah Utsmaniah kepada para penduduk di pinggiran negara Albania.</p>
<p><strong>Perkembangan Ilmiah Dan Guru-Gurunya</strong></p>
<p>Syaikh al-Arna`uth tumbuh di Damaskus sedangkan ayahandanya adalah seorang rakyat biasa yang mencintai ilmu. Ia menyerahkan al-Arna`uth kecil kepada beberapa pengajian Syaikh. Di awal pertumbuhannya, ia belajar Mabadi` al-Funun kepada Syaikh Shubhi al-‘Aththar dan Sulaiman Ghawidji al-Albani (ayahanda syaikh Wahbi) di perkampungan Arna`uth di Damaskus. Kemudian ia bekerja sebagai tukang jam di kelontong milik Syaikh Sa’id al-Ahmar di kampung Emara. Syaikh al-Ahmar ini merupakan seorang ulama jebolan universitas al-Azhar. Al-Ahmar kagum dengan kecerdasan al-Arna`uth, lalu berkata kepada ayahandanya, “Anakmu ini harus menjadi seorang penuntut ilmu.” Karena pesan itu, al-Arna`uth bergabung dengan pengajian Syaikh Shalih al-Farfur di Jami’ Umawi. Para rekannya ketika itu adalah Syaikh Abdur Razzaq al-Halabi, Ramzi al-Bazm, Adib al-Kallas dan Syu’aib al-Arna`uth (Peneliti hadits terkenal juga-red).</p>
<p>Melihat Syaikh kita ini amat menonjol dalam membaca al-Qur`an sesuai dengan ilmu tajwidnya, maka ia pun membacakan kepada para temannya tersebut dan mengajarkan mereka ilmu tajwid. Kemudian ia terus meningkatkan keilmuannya hingga membaca di hadapan Syaikh al-Qurra`, Mahmud Faiz ad-Dir’athani dan mengkhatamkan bacaan al-Qur`an ala Qira`at Hafsh. Gurunya ini amat suka dengan bacaan dan makhraj Syaikh kita yang demikian bagus. Suatu hari ia berkata kepadanya, “Bacaanmu lancar.” Gurunya itu berupaya agar ia terus bersamanya untuk menggabungkan Qira`at, namun Syaikh kita lebih memilih untuk meninggalkan tempat mengaji itu dan menimba ilmu hadits.</p>
<p>Perlu disinggung di sini, sebagian orang yang memuat biografi Syaikh kita ini sering menyebutkan bahwa ia belajar dengan Syaikh Abdur Razzaq al-Halabi. Ini tidak benar, sebab mereka berdua adalah berteman sejak awal menuntut ilmu.</p>
<p>Syaikh kita tidak meraih satu pun tanda tamat, yang dikenal di zaman kontemporer ini dengan ijazah, selain ijazah kelas 5 Ibtidaiyah dari Madrasah al-Is’af al-Khairi di mana beliau belajar di madrasah al-Adab al-Islami selama dua tahun.</p>
<p>Syaikh kita terus menuntut ilmu, muthala’ah dan berdakwah. Allah SWT menganugerahkannya hafalan yang kuat sehingga dapat digunakannya untuk menerima ilmu dan menghafal. Beliau menggunakan waktu selama di Dar al-Maktab al-Islami milik Syaikh Zuhair asy-Syawis untuk mengambil manfaat dengan mendampingi al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rah, Syu’aib al-Arna`uth dan ulama selain keduanya. Beliau juga mengambil manfaat dari hubungannya dengan Syaikh as-Salifiyyin di Syam, Muhammad Bahjat al-Baithar, yang dikenal di semananjung Syam, Hijaz dan Nejd.</p>
<p>Di akhir hayatnya, beliau mendapatkan sebagian ijazah, di antaranya dari Abdul Ghani ad-Daqir dan Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin ‘Uqail Tadija.</p>
<p>Di akhir masa belajarnya dengan Syaikh Shalih Farfur terjadi sedikit masalah di antara keduanya. Intinya, beliau disidang karena dinilai melakukan pelanggaran, yaitu memiliki buku al-Wabil ash-Shayyib karya Ibn al-Qayyim. Karenanya, Syaikh kita ini diusir dari pengajian karena dituduh menganut paham ‘Wahabi.’ Para temannya pun ikut mengisolirnya. Label ‘Wahabi’ di Damaskus kala itu merupakan tuduhan paling keji yang dilekatkan kepada seseorang bahkan setara dengan kata ‘Zindiq.’!! (Na’udzu billah Min Dzalik)</p>
<p>Ketika itu, Syaikh kita ini belum mengetahui sesuatu pun tentang ‘Wahabiah.’ Akan tetapi setelah kejadian itu dan pergelutan dininya dengan ilmu hadits, terutama setelah mempelajari dan menghafal shahih Muslim serta mendapatkan arahan yang baik dari Syaikh yang diberi usia panjang, Abdurrahman Albani –hafizhahullah-, maka hal itu merupakan sebab langsung perubahannya menjadi seorang Salafi, bahkan ia kemudian menjadi bagian dari kepemimpinannya dan namanya menggaung di seantero Dunia Islam, apalagi di bidang ilmu hadits. Kiranya, sepeninggal Syaikh al-Albani, belum ada ulama yang lebih besar pengabdiannya terhadap ilmu hadits dari syaikh kita ini. Hingga akhirnya, nama beliau diusulkan untuk meraih penghargaan Raja Faishal kategori pengabdian terhadap Islam.</p>
<p>Pekerjaan Dan Rutinitasnya</p>
<p>Syaikh kita ini dilimpahi tugas mengimami dan berkhutbah di Jami’ al-Arna`uth di awal usia 20-an. Di sana beliau berkenalan dengan tetangganya, Syaikh al-Albani rah namun belum sempat terjadi kontak ilmiah ketika itu.</p>
<p>Kemudian bersama sejumlah para dermawan, beliau mendirikan Jami’ Umar bin al-Khaththab di kawasan al-Qadam, selatan Damaskus. Di sana, beliau mengimami dan berkhutbah selama sepuluh tahun. Kemudian juga menjadi khatib di Jami’ al-Ishlah di kawasan ad-Dahadil selama sepuluh tahun, kemudian Jami’ al-Muhammadi di al-Muzzah selama delapan tahun. Di sana, pada tahun 1415 beliau berhenti berkhutbah.</p>
<p>Sedangkan dalam bidang pengajaran, maka beliau telah memulainya dengan di pengajian syaikhnya, Shalih al-Farfur dalam ilmu tajwid sebagaimana telah dipaparkan di atas. Kemudian mengajarkan ilmu-ilmu al-Qur`an dan hadits di madrasah al-Is’af al-Khairi -dimana beliau tamat- antara tahun 1373-1380.</p>
<p>Pada tahun 1381, beliau pindah ke al-Ma’had al-‘Arabi al-Islami sebagai pengajar al-Qur`an dan fiqih dan tetap mengajar di sejumlah Ma’had ilmiah di Damaskus hingga sekitar dua tahun, tepatnya di Ma’had al-Aminiah.</p>
<p>Dengan begitu, total masa belajar dengan menimba ilmu di bidang pengajaran, menjadi imam dan khatib beliau jalani selama 50 tahun. Semua itu beliau lakukan dengan mengharap pahala dari Allah SWT semata.</p>
<p>Perlu diketahui, ‘Allamah Syam, Syaikh Muhammad Bahjat al-Baithar sebelumnya telah menyerahkan tugas mengimami Jami’ asy-Syuriji di al-Maedan kepada Syaikh kita, demikian juga dengan mengajar. Ini merupakan rekomendasi ilmiah tertinggi kepada syaikh kita, al-Arna`uth.</p>
<p>Beliau juga diangkat sebagai delegasi oleh Samahah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rah ke kawasan Balkan untuk berdakwah sejak empat puluh lima tahun lalu. Hal itu terjadi manakala keduanya berjumpa di Masjid Nabawi. Syaikh Bin Baz tertarik dengan ceramah yang disampaikannya dan merasa yakin bahwa ia menguasai bahasa Albania dengan baik.</p>
<p>Syaikh kita, al-Arna`uth aktif memberikan fatwa kepada masyarakat dan ikut memberikan solusi bagi permasalahan mereka. Tidak ada orang yang bisa menandingi beliau ketika itu selain Samahah asy-Syaikh Bin Baz. Semua orang dari berbagai penjuru Suriah mengambil fatwa darinya, terutama dalam masalah Talak di mana beliau berfatwa sesuai dengan pendapat Syaikhul Islam, Ibn Taimiah. Beliau terus berfatwa untuk seluruh lapisan masyarakat hingga beberapa bulan menjelang wafatnya.</p>
<p>Dapat dikatakan di sini, bahwa pintunya selalu terbuka buat para penuntut ilmu, sampai-sampai beliau tidak bisa mengatur waktunya dengan orang-orang yang berkepentingan dengannya.</p>
<p>Beliau juga sering bepergian untuk berdakwah, menyampaikan ceramah dan mengikuti berbagai seminar ke berbagai negara. Beliau memiliki hubungan yang kontinyu dengan para ulama kerajaan Arab Saudi dan lainnya.<br />
Aktifitas Ilmiahnya<br />
Beliau tidak terlalu konsern dengan dunia karya tulis. Di antara risalahnya yang paling masyhur adalah al-Wajiz Fi Manhaj as-Salaf ash-Shalih Wa Washaya Nabawiah. Namun Syaikh kita ini dikenal dan tersohor dengan berbagai Tahqiq-nya terhadap sejumlah buku. Bahkan beliau terrmasuk orang yang banyak melakukan hal itu di mana beliau telah menahqiq lebih dari 60 buku dalam berbagai disiplin ilmu keislaman. Barangkali di antara buku paling masyhur yang dikeluarkannya sejak 40 tahun lalu adalah Jami’ al-Ushul karya Ibn al-Atsir dalam 15 jilid. Buku itu hingga saat ini masih menjadi rujukan dan ensiklopedia cetak paling penting yang dicetak dan melayani ilmu hadits. Banyak para peneliti menukil putusan hadits yang beliau keluarkan di sana. Kitab inilah yang menjadikan Syaikh kita lebih dominan di bidang hadits.</p>
<p>Di antara karyanya yang paling masyhur adalah tahqiq beliau terhadap kitab Zad al-Ma’ad karya Ibn al-Qayyim, bersama dengan Syaikh Syu’aib al-Arna`uth. Ini merupakan kitab yang agung di mana Allah mencatatkan respons manusia yang luar biasa terhadapnya dan penyebaran yang luas.</p>
<p>Di antara buku lainnya yang beliau teliti (baca: tahqiq) adalah al-Azkar karya Imam an-Nawawi, Zad al-Masir Fi ‘Ilm at-Tafsir, Ghayah al-Muntaha, al-Mubdi’ Syarh al-Muqni’, Raudhah ath-Thalibin, Jala` al-Afham, Misykah al-Mashahabih, al-Kafi karya al-Muwaffiq, Raf’u al-Mulam ‘An al-A`immah al-A’lam karya Ibn Taimiah, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, Fath al-Majid, Syarh Tsulatsiat al-Musnad, Mukhtashar Syu’ab al-Iman, Tuhfah al-Maudud Fi Ahkam al-Maulud, Qa’idah Jalilah Fi at-Tawassul Wa al-Wasilah, al-Furqan karya Ibn Taimiah, al-Wabil ash-Shayyib karya Ibn al-Qayyim, al-Kalim ath-Thayyib karya Ibn Taimiah, at-Tibyan Fi Adab Hamalah al-Qur`an, at-Tawwabbin karya Ibn Qudamah, Washaya al-Aba` Li al-Abna`, asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyadh, dan lain sebagainya.</p>
<p>Beliau juga banyak memberikan pengantar pada sejumlah buku, di antaranya Jamharah al-Ajza` al-Haditsiah.</p>
<p>Sifat Fisik Dan Akhlaknya</p>
<p>Syaikh kita berkulit putih kemerahan, bermata biru, pirang, agak tinggi dan tegap. Hal ini karena beliau mantan atlet di masa mudanya. Allah menjaga kesehatannya secara umum hingga malam wafatnya. Hanya saja, patah kaki yang dideritanya yang mempengaruhi kedua lututnya mengharuskannya menjalani operasi penggantian kedua sendi lutut setelah sekian tahun menderita. Lalu di akhir umurnya, beliau mengalami semacam ‘stroke’ ringan yang berpengaruh bagi wajahnya.</p>
<p>Syaikh al-Arna`uth juga sosok yang selalu ceria, pandai beranekdot dan berkelakar. Di antara sifat utamanya, ia tidak mengenal kata takabur dan tidak memandang dirinya beruntung. Secara fitrah, ia amat tawadhu’ dan ilmu yang dimilikinya menambah ia semakin tawadhu’. Dalam tanda tangan yang dibubuhkannya dan di sisi namanya, ia selalu menulis, “Hamba yang faqir kepada Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Kuasa, Abdul Qadir al-Arna`uth, Khadim (Pengabdi) ilmu hadits di Damaskus.”</p>
<p>Sekalipun demikian, beliau seorang yang kuat dan pemberani dalam menyatakan kebenaran dan membelanya. Banyak sekali sikap yang menunjukkan kegigihannya dalam membela as-Sunnah, menentang bid’ah dan kemungkaran para pelakunya.</p>
<p>Beliau juga seorang yang dermawan, pandai bergaul dengan masyarakat, selalu menghadiri undangan dan momen-momen yang diadakan mereka. Hanya saja, di antara perbedaannya dengan banyak tuan guru, bahwa beliau hampir tidak pernah walau sedetik pun membuang waktunya tanpa meminta petunjuk dan nasehat. Begitu duduk, ia dengan suaranya yang lantang dan fasih berkata, “Fulan dan Fulan meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda….” Lalu beliau mengetengahkan sejumlah hadits yang sesuai dengan kondisi. Semua itu dibacanya dari hafalannya yang jitu, meriwayatkannya secara harfiah, bukan makna, dengan begitu fasih, bukan dengan mengulang-ulang atau terbata-bata.</p>
<p>Wafatnya</p>
<p>Beliau wafat di Damaskus, pada pagi Jum’at, 13 Syawal 1415 H sesuai kalender Suriah dan Ummul Qura, di Arab Saudi, atau 14 Syawwal berdasarkan ru’yah hilal di Arab Saudi.</p>
<p>Muhammad, putra Syaikh Abdul Qadir al-Arna`uth berkata, “Syaikh kita kemarin, Kamis, masih segar bugar, kemudian ia tidur. Tatkala ibunda saya hendak membangunkannya untuk shalat fajar, ia tidak menyahut. Kemudian ia menggerak-gerakkannya namun mendapatinya telah menghembuskan nafasnya yang terakhir sementara keningnya tampak berpeluh. Tidak ada keluarganya yang merasakan firasat apapun terhadapnya. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un.”</p>
<p>Ba’da shalat Jum’at di Jami’ Zainal ‘Abidin, di jalan al-Maedan, beliau dishalati dengan imam Syaikhul Qurra` di Syam, Syaikh Karim Rajih –hafizhahullah.- Sebelum shalat, Jami’ tersebut telah disesaki jemaah. Demikian pula, jalan-jalan penuh sesak padahal suhu udara amat dingin. Sudah lama sekali, Damaskus belum pernah lagi menyaksikan suasana jenazah yang dihadiri ribuan pelayat seperti itu.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah, semoga Syaikh kita mendapatkan Husnul Khatimah. Semoga di antara yang menjadi indikasinya, beliau wafat setelah bulan Ramadhan, dengan peluh yang tampak di kening, di hari Jum’at dan wafat dengan penuh ketegaran, kemuliaan dan kemantapan sekalipun beberapa waktu sebelum ajalnya, ia menghadapi banyak tekanan dan gangguan. Kita memohon kepada Allah agar menaungi beliau dengan rahmat-Nya, menggantikan bagi umat ini orang-orang semisalnya, serta meringankan penderitaan yang dialami keluarga, para murid dan handai tolannya. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi Lagi Maha Mulia.</p>
<p>Semoga Allah merahmati syaikh kita dan menempatkannya di surganya nan maha luas. (SUMBER: hawahome/AH)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&amp;id=115</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/790/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=790&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-syaikh-abdul-qadir-al-arnauth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh Abu Abdillah, Abdurahman bin Nashir as-Sa’di (Ulama Dari &#8216;Unaizah, Qashim)</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-syaikh-abu-abdillah-abdurahman-bin-nashir-as-sa%e2%80%99di-ulama-dari-unaizah-qashim/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-syaikh-abu-abdillah-abdurahman-bin-nashir-as-sa%e2%80%99di-ulama-dari-unaizah-qashim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=787</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
&#160;
Beliau bernama Asy-Syaikh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah Nasir As-Sa’di, berasal dari Bani Tamim. Dilahirkan di kota Unaizah pada tanggal 12 Muharam 1307 H (1886 M). Ibunya meninggal ketika beliau berumur 4 tahun yang disusul ayahnya tiga tahun kemudian. 
Diantara guru beliau adalah Asy-Syaikh Ibrahim bin Muhammmad bin Hasir, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=787&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beliau bernama Asy-Syaikh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah Nasir As-Sa’di, berasal dari Bani Tamim. Dilahirkan di kota Unaizah pada tanggal 12 Muharam 1307 H (1886 M). Ibunya meninggal ketika beliau berumur 4 tahun yang disusul ayahnya tiga tahun kemudian. <span id="more-787"></span></p>
<p>Diantara guru beliau adalah Asy-Syaikh Ibrahim bin Muhammmad bin Hasir, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Karim Asy-Syabil, Asy-Syaikh Shalih bin Utsaimin (Qadhi Unaizah), Asy-Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi dan yang lainya. Siapapun yang mengaku gurunya adalah Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan ia berbicara di atas kebenaran, maka Asy-Syaikh As-Sa’di akan menjadi seorang pelajar yang bersemangat sekali mengkaji karya-karyanya.</p>
<p>Asy-Syaikh As-Sa’di memiliki beberapa karya tulis diantaranya Tafsir Al-Qur’an (8 jilid), Hasyiah Fiqhiyah, Diwan Khutab, Al-Qawa’idul Hishan, Tanzih Ad-Din, Rad ‘Ala Al-Qashimi, Al-Haq Al-Wadih Al-Mubayyin, Bahjatu Qulub Al-Abrar, Ar-Riyadh An-Nadhirah dan lain-lain.</p>
<p>Beliau hidup dalam keadaan merasa cukup atas nikmat Allah dan dalam kesederhanaan sampai beliau diwafatkan Allah pada tanggal 24 Jumada Tsani 1376 H (1955 M). Semoga Allah merahmati beliau.</p>
<p>(Sumber: Mutiara Kehidupan Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah- Abdullah Alercon, dkk)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&amp;id=113</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/787/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=787&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-syaikh-abu-abdillah-abdurahman-bin-nashir-as-sa%e2%80%99di-ulama-dari-unaizah-qashim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Imam Al-Qurthubi (Ulama Besar dari Spanyol)</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-imam-al-qurthubi-ulama-besar-dari-spanyol/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-imam-al-qurthubi-ulama-besar-dari-spanyol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
Nama dan asal beliau
Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, seorang ahli tafsir dari Cordova (sekarang bernama Spanyol). Ia berkelana ke negeri timur dan menetap di kediaman Abu Khusaib (di selatan Asyut, Mesir). Dia salah seorang hamba Allah yang shalih dan ulama yang arif, wara’ dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=785&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nama dan asal beliau</strong></p>
<p>Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, seorang ahli tafsir dari Cordova (sekarang bernama Spanyol). Ia berkelana ke negeri timur dan menetap di kediaman Abu Khusaib (di selatan Asyut, Mesir). Dia salah seorang hamba Allah yang shalih dan ulama yang arif, wara’ dan zuhud di dunia, yang sibuk dirinya dengan urusan akhirat. Waktunya dihabiskan untuk memberikan bimbingan, beribadah dan menulis.<span id="more-785"></span></p>
<p>Karya-Karya Beliau</p>
<p>Dia adalah menulis mengenai tafsir al-Qur’an, sebuah kitab besar yang terdiri dari 20 jilid, yang diberinya judul: “Al-Jami’ liahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan”. Kitab ini merupakan salah satu tafsir terbesar dan terbanyak manfaatnya. Penulis tidak mencantumkan kisah-kisah atau sejarah, dan sebagai gantinya, penulis menetapkan hukum-hukum al-Qur’an, melakukan istimbath atas dalil-dalil, menyebutkan berbagai macam qira’at, I’rab, nasikh, dan mansukh.</p>
<p>Al-Asna fi Syarh Asma’illaj al-Husna</p>
<p>At-Tidzkar fi Afdhal al-Adzkar</p>
<p>Syar at-Taqashshi</p>
<p>Qam’ al-Hirsh bi az-Zuhd wa al-Qana’ah</p>
<p>At-Taqrib likitab at-Tamhid</p>
<p>Al-I’lam biima fi Din an-Nashara min al-Mafasid wa al-Auham wa Izhharm Mahasin Din al-Islam</p>
<p>At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa umur al-Akhirah (edisi Indonesia: Buku Pintar Alam Akhirat)</p>
<p>Guru-Guru Beliau</p>
<p>Beliau mendengar pelajaran dari Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi dan meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Ali al-Hasan bin Muhammad bin Hafsh dan lain sebagainya.<br />
Beliau tinggal di kediaman Abu al-Hushaib.</p>
<p>Wafat Beliau</p>
<p>Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi meninggal dan dimakamkan Mesir yaitu dikediaman Abu al-Hushaib, pada malam senin, tanggal 09 Syawwal tahun 671 H. semoga Allah merahmati dan meridhai beliau.</p>
<p>Sumber: Lihat dalam Al-A’lam karya Az-Zirikli, 5/322. dan Hadiyyatul ‘Arifin, karya Al-Babani, 2/129.</p>
<p>http://alsofwah.or.id/?pilih=lihattokoh&amp;id=147</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/785/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=785&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/biografi-imam-al-qurthubi-ulama-besar-dari-spanyol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bid’ahkah Menghadapkan Orang yang Sakaratul-Maut ke Arah Kiblat ?</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/bid%e2%80%99ahkah-menghadapkan-orang-yang-sakaratul-maut-ke-arah-kiblat/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/bid%e2%80%99ahkah-menghadapkan-orang-yang-sakaratul-maut-ke-arah-kiblat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah, Kuburan dan Ziarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Naashiruddin Al-Albaniy rahimahullah berkata dalam kitabnya yang masyhur : Ahkaamul-Janaaiz wa Bida’uhaa hal. 307 (Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1412 H) saat menjelaskan macam-macam bid’ah seputar pengurusan jenazah :
“………………
5. Menghadapkan orang yang sedang sakaratul-maut ke arah kiblat. Perbuatan tersebut telah diingkari oleh Sa’iid bin Al-Musayyib sebagaimana terdapat dalam Al-Muhallaa 5/174 dan Maalik sebagaimana dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=782&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Naashiruddin Al-Albaniy rahimahullah berkata dalam kitabnya yang masyhur : Ahkaamul-Janaaiz wa Bida’uhaa hal. 307 (Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1412 H) saat menjelaskan macam-macam bid’ah seputar pengurusan jenazah :<span id="more-782"></span></p>
<p>“………………</p>
<p>5. Menghadapkan orang yang sedang sakaratul-maut ke arah kiblat. Perbuatan tersebut telah diingkari oleh Sa’iid bin Al-Musayyib sebagaimana terdapat dalam Al-Muhallaa 5/174 dan Maalik sebagaimana dalam Al-Madkhal 3/229-230. Tidaklah shahih hadits yang menjadi dasar akan hal itu (telah lewat pembahasannya pada halalaman 11)[1].” [selesai].</p>
<p>Adapun atsar Sa’id bin Al-Musayyib yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah adalah :</p>
<p>وأما قراءة سورة ( يس ) عنده ، وتو جيهه نحو القبلة فلم يصح فيه حديث ،بل كره سعيد بن المسيب توجيهه إليها ، وقال : &#8221; أليس الميت امرأ مسلما !؟ &#8220;.</p>
<p>وعن زرعة بن عبد الرحمن أنه شهد سعيد بن المسيب في مرضه وعنده أبو سلمة بن عبد الرحمن فغشي على سعيد ، فأمر أبو سلمة أن يحول فراشه إلى الكعبة . فأفاق ، فقال : حولتم فراشي ! ؟ فقالوا نعم ، فنظر إلى أبي سلمة فقال : أراه بعلمك ؟ فقال : أنا أمرتهم!فأمر سعيد أن يعاد فراشه.</p>
<p>إخرجه ابن أبي شيبة في &#8221; المصنف &#8221; ( 4 / 76 ) بسند صحيح عن زرعة .</p>
<p>“Adapun bacaan surat Yaasiin di sisi mayit dan menghadapkannyake arah kiblat, maka tidak ada satupun hadits shahih. Bahkan menghadapkan ke arah kiblat merupakan hal yang dibenci oleh Sa’iid bin Al-Musayyib. Ia berkata : “Bukankah mayit itu seorang muslim ?”.</p>
<p>Dan dari Zur’ah bin ‘Abdirrahman, bahwsannya ia pernah menyaksikan Sa’iid bin Al-Musayyib ketika ia sedang sakit dan di sisinya ada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman. Sa’iid pun pingsan ketika itu. Lalu Abu Salamah memerintahkan agar tempat tidurnya dihadapkan ke arah Ka’bah (kiblat). Sa’id kemudian sadar (dari pingsannya) dan berkata : &#8220;Apakah kalian telah merubah tempat tidurku ?”. Mereka menjawab : “Ya”. Lalu ia memandang Abu Salamah dan berkata : “Aku pikir hal itu dilakukan berdasarkan pengetahuanmu”. Abu Salamah berkata : “Aku (memang) yang memerintahkan mereka !”. Sa’id pun kemudian menyuruh agar tempat tidurnya dikembalikan ke tempat semula”. [Ahkaamul-Janaaiz, hal. 20-21].[2]</p>
<p>Penjelasan beliau rahimahullah di atas perlu dicermati lebih lanjut, karena ada beberapa riwayat yang bertolak belakang dari apa yang beliau jelaskan. Berikut di antaranya :</p>
<p>أخبرني إسماعيل بن محمد بن الفضل بن محمد الشعراني ثنا جدي ثنا نعيم بن حماد ثنا عبد العزيز بن محمد الدراوردي عن يحيى بن عبد الله بن أبي قتادة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم المدينة سأل عن البراء بن معرور فقالوا توفي وأوصى بثلثه لك يا رسول الله وأوصى أن يوجه الى القبلة لما احتضر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أصاب الفطرة وقد رددت ثلثه على ولده ثم ذهب فصلى عليه فقال اللهم اغفر له وارحمه وأدخله جنتك وقد فعلت. هذا حديث صحيح فقد احتج البخاري بنعيم بن حماد واحتج مسلم بن الحجاج بالدراوردي ولم يخرجا هذا الحديث ولا أعلم في توجه المحتضر الى القبلة غير هذا الحديث</p>
<p>Telah mengkhabarkan kepada kami Isma’iil bin Muhammad bin Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’raaniy : Telah menceritakan kepada kami kakekku : Telah menceitakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad Ad-Daraawardiy, dari Yahyaa bin ‘Abdillah bin Abi Qataadah, dari ayahnya[3] : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau bertanya tentang Al-Barraa’ bin Ma’ruur. Maka mereka (para shahabat) berkata : “Ia telah meninggal dan berwasiat dengan sepertiga (hartanya) untukmu wahai Rasulullah. Ia juga berwasiat agar ia dihadapkan ke kiblat jika ia meninggal&#8221;. Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ia berada di atas fithrah, dan aku kembalikan sepertiga harta itu kepada anaknya”. Lalu beliau pergi untuk menshalatinya. Beliau bersabda : “Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, dan masukkanlah ia ke dalam surga-Mu. Dan aku telah melakukannya”.</p>
<p>Al-Hakim berkata : “Hadits ini shahih. Nu’aim bin Hammaad telah digunakan sebagai hujjah oleh Al-Bukhari. Adapun Muslim telah berhujjah dengan Ad-Daraawardiy. Namun hadits ini tidak diriwayatkan oleh mereka berdua. Aku tidak mengetahui dalil untuk menghadapkan kiblat bagi orang yang meninggal kecuali hadits ini” [Al-Mustadrak lil-Haakim, 1/353; Majlis Daairatil-Ma’aarif, Cet. 1/1340 H].</p>
<p>Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :</p>
<p>صحيح، فقد احتج (خ) بنعيم و(م) بالدراوردي.</p>
<p>“Shahih, Al-Bukhari telah berhujjah dengan Nu’aim dan Muslim berhujjah dengan Ad-Daraawardiy” [idem, 1/354].</p>
<p>Hadits ini lemah karena Nu’aim bin Hammaad. Walaupun ia dipakai oleh Al-Bukhariy, para ulama telah banyak memberikan kritik kepadanya. Setelah menyebutkan beberapa komentar ulama dalam At-Tahdziib, Ibnu Hajar rahimahullah memberi kesimpulan dalam At-Taqriib :</p>
<p>صدوق يخطىء كثيرا فقيه عارف بالفرائض</p>
<p>“Jujur namun banyak salahnya. Seorang faqiih yang mengetahui seluk-beluk ilmu faraaidl” [At-Taqriib, hal. 1006 no. 7215, tahqiq : Abul-Asybaal Shaghiir Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].</p>
<p>Selain itu, riwayat ‘Abdul-‘Aziiz Ad-Darawardiy dari Nu’aim bin Hammaad &#8211; sebagaimana dalam sanad yang dibawakan oleh Al-Haakim &#8211; bukan merupakan persyaratan yang dipakai oleh Al-Bukhariy.[4]</p>
<p>Namun riwayat ini mempunyai beberapa penguat di antaranya :</p>
<p>وأخبرنا أبو بكر بن القاضي أنبأ أبو سهل بن زياد، ثنا عبد الكريم بن الهيثم، ثنا أبو اليمان، أنبأ شعيب، عن الزهري، عن عبد الرحمن بن عبد الله بن كعب بن مالك في قصة ذكرها قال : وكان البراء بن معرور أول مَن استقبل القبلة حياً وميتاً.</p>
<p>Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr bin Al-Qaadliy : Telah memberitakan kepada kami Abu Sahl bin Ziyad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Kariim bin Al-Haitsam : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah memberitakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, dari ‘Abdurahman bin ‘Abdillah bin Ka’b bin Maalik mengenai kisah yang ia sebutkan/ceritakan. Ia berkata : “Adalah Al-Barraa’ bin Ma’ruur orang yang pertama kali menghadap ke kiblat pada saat hidupnya maupun saat matinya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa, 3/384, tahqiq : Muhammad ‘Abdil-Qaadit ‘Athaa (3/539-540); Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 3/1424 H. Al-Baihaqiy berkata : “Hadits tersebut adalah mursal jayyid”].</p>
<p>Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :</p>
<p>وروى يعقوب بن سفيان في تاريخه من طريق ابن شهاب عن عبد الرحمن بن عبد الله بن خعب قال : قال خعب : كان البراء بن معرور أول من استقبل الكعبة حياً وعند حضرة وفاته&#8230;</p>
<p>Ya’quub bin Sufyaan meriwayatkan dalam Taariikh-nya dari jalan Ibnu Syihaab, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Ka’b, ia berkata : Telah berkata Ka’b : “Adalah Al-Barraa’ bin Ma’ruur orang yang pertama kali menghadap ke Ka’bah (kiblat) saat hidupnya dan pada saat kematiannya…” [Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar, 1/149 no. 619].</p>
<p>عبد الرزاق عن معمر عن الزهري : أن البراء بن معرور الأنصاري لما حضره الموت قال لأهله وهو بالمدينة : استقبلوا بي الكعبة.</p>
<p>‘Abdurrazzaaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhriy : Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur Al-Anshaariy saat menjelang kematiannya ia berkata kepada keluarganya – yang saat itu ia berada di Madinah &#8211; : “Hadapkanlah aku ke Ka’bah !” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6064 – mursal].</p>
<p>Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :</p>
<p>وروى ابن شاهن بإسنا لين من طريق عبد الله بن أبي قتادة حدثني أمي عن أبي : أن البراء بن معرور مات قبل الهجرة فوجه قبره إلى الكبلة&#8230;</p>
<p>Dan Ibnu Syaahin meriwayatkan dengan sanad layyin (lemah) dari jalan ‘Abdullah bin Abi Qataadah : Telah menceritakan kepadaku ibuku, dari ayahku : Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur meninggal sebelum hijrah, dan kuburnya dihadapkan ke arah Kiblat…” [Al-Ishaabah, 1/149].</p>
<p>Juga tentang kisah wafatnya Faathimah yang dibawakan oleh Ummu Salmaa, yang di dalamnya disebutkan :</p>
<p>واضطجعت واستقبلت القبلة وجعلت يدها تحت خدها</p>
<p>“….lalu ia tidur terlentang, menghadap kiblat, dan meletakkan kedua tangannya di bawah pipinya…” [Diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad, 6/461 – dla’if, karena ‘an’anah Ibnu Ishaaq dan juga karena ke-dla’if-an ‘Ubaidullah bin ‘Aliy bin Abi Raafi’].</p>
<p>Beberapa penguat di atas dapat menaikkan hadits Al-Barraa’ bin Ma’ruur ke derajat hasan (lighairihi) sehingga bisa digunakan sebagai hujjah.</p>
<p>Ditambah lagi, perbuatan sebagian shahabat Sa’iid bin Al-Musayyib kepada Sa’id untuk menghadapkannya ke arah kiblat saat menjelang wafatnya menunjukkan perbuatan tersebut merupakan satu kelaziman di kalangan salaf. Adapun pengingkaran Sa’id, ada kemungkinan ia belum mengetahui dalil akan masyru’-nya perbuatan itu sebagaimana diketahui para shahabatnya rahimahumullah.</p>
<p>An-Nawawiy rahimahullah berkata :</p>
<p>يستحب أن يستقبل به القبلة وهذا مجمع عليه وفى كيفيته المستحبة وجهان (أحدهما) علي قفاه واخمصاه الي القبلة ويرفع رأسه قليلا ليصير وجهه إلى القبلة حكاه جماعات من الخراسانيين وصاحبا الحاوى والمستظهري من العراقيين وقطع به الشيخ أبو محمد الجويني والغزالي وغيرهما قال امام الحرمين وعليه عمل الناس (والوجه الثاني) وهو الصحيح المنصوص للشافعي في البويطي وبه قطع جماهير العراقيين وهو الاصح عند الاكثرين من غيرهم وهو مذهب مالك وأبى حنيفة يضحع على جنبه الايمن مستقبل القبلة كالموضوع في اللحد فان لم يمكن لضيق المكان أو غيره فعلى جنبه الايسر إلى القبلة فان لم يمكن فعلى ففاه والله أعلم</p>
<p>“Disukai untuk menghadapkannya ke arah kiblat, dan ini telah menjadi kesepakatan. Adapun dalam hal kaifiyah-nya, maka ada dua cara : Pertama, ia dibaringkan di atas tengkuk dan punggungnya ke arah kiblat, dan kepalanya diangkat sedikit agar wajahnya menghadap kiblat. Pendapat ini diriwayatkan dari para ulama Khurasan, serta pengarang kitab Al-Haawiy (yaitu Al-Mawardiy – Abul-Jauzaa’) dan Al-Mustadhariy dari kalangan ulama ‘Iraq. Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwainiy, Al-Ghazzaaliy, dan yang lainnya juga memilih pendapat ini. Al-Imam Al-Haramain berkata : ‘Perbuatan inilah yang diamalkan oleh orang-orang’. Kedua, dan inilah yang shahih ternukil dari Asy-Syaafi’iy dalam riwayat Al-Buwaithiy. Pendapat inilah yang dipilih oleh mayoritas ulama ‘Iraq; dan paling shahih menurut mayoritas ulama (lainnya) dibandingkan selain mereka. Inilah madzhab Maalik dan Abu Hanifah, yaitu orang yang akan mati itu tidur miring ke sebelah kanan menghadap kiblat, seperti jenazah yang diletakkan di liang lahat. Apabila itu tidak bisa dilakukan karena sempitnya tempat atau yang lainnya, maka miring ke sebelah kirinya sambil menghadap kiblat. Jika itu tidak bisa juga, maka di atas tengkuknya (sebagaimana cara pertama). Wallaahu a’lam” [Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 5/105-106, tahqiq : Muhammad Najiib Al-Muthii’iy; Maktabah Al-Irsyaad].</p>
<p>Asy-Syaukaniy rahimahullah berkata :</p>
<p>والأولى الاستدلال لمشروعية التوجيه بما رواه الحاكم والبيهقي عن أبي قتادة‏:‏ ‏&#8221;‏أن البراء بن معرور أوصى أن يوجه للقبلة إذا احتضر فقال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ أصاب الفطرة‏&#8221;‏</p>
<p>“Dan istidlal yang lebih kuat adalah disyari’atkanya untuk menghadapkan (mayit/orang yang akan mati ke arah kiblat) berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Haakim dan Al-Baihaqiy dari Abu Qataadah : ‘Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur berwasiat agar dihadapkan ke kiblat apabila ia meninggal. Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Ia telah sesuai dengan fithrah” [Nailul-Authaar, 4/21; Maktabah Ad-Dakwah Al-Islaamiyah].</p>
<p>Kesimpulan : Disunnahkan bagi orang yang hendak meninggal untuk dihadapkan ke arah kiblat. Perbuatan ini bukan termasuk bid’ah. Inilah pendapat kuat yang dipegang jumhur ulama salaf.</p>
<p>Wallaahu a’lam.</p>
<p>[Abul-Jauzaa’ – banyak mengambil faedah dari penjelasan Asy-Syaikh Mushthafa bin Al-‘Adawiy hafidhahullah dalam Al-Ghusl wal-Kafaan – perumahan ciomas permai, bogor – http://abul-jauzaa.blogspot.com].</p>
<p>[1] Sebagaimana dalam kitab asli – Abul-Jauzaa’.</p>
<p>[2] Ada empat lafadh dalam atsar Sa’iid bin Al-Musayyib rahimahullah ini :</p>
<p>حدثنا أبو عامر العقدي عن محمد بن قيس قال حدثني زرعة بن عبد الرحمن أنه شهد سعيد بن المسيب في مرضه وعنده أبو سلمة بن عبد الرحمن فغشي على سعيد فأمر أبو سلمة أن يحول فراشه إلى الكعبة فأفاق فقال حولتم فراشي فقالوا نعم فنظر إلى أبي سلمة فقال أراه عملك فقال أنا أمرتهم فقال فأمر سعيد أن يعاد فراشه</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al-‘Aqadiy, dari Muhammad bin Qais, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Zur’ah bin ‘Abdirrahman, bahwsannya ia pernah menyaksikan Sa’iid bin Al-Musayyib ketika ia sedang sakit dan di sisinya ada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman. Sa’iid pun pingsan ketika itu. Lalu Abu Salamah memerintahkan untuk tempat tidurnya dihadapkan ke arah Ka’bah (kiblat). Sa’id kemudian sadar (dari pingsannya) dan berkata : Apakah kalian telah merubah tempat tidurku ?”. Mereka menjawab : “Ya”. Lalu ia memandang Abu Salamah dan berkata : “Aku pikir hal itu dilakukan berdasarkan pengetahuanmu”. Abu Salamah berkata : “Aku (memang) yang memerintahkan mereka !”. Sa’id pun kemudian menyuruh agar tempat tidurnya dikembalikan ke tempat semula” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/239, tahqiq &amp; takhrij : Muhammad ‘Awwaamah (7/121); Daarul-Qiblah, Cet. 1/1427 H - shahih].</p>
<p>حدثنا جعفر بن عون عن سفيان عن إسماعيل بن أمية عن سعيد بن المسيب أنه كرهه وقال أليس الميت امرءا مسلما</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin ‘Aun, dari Sufyaan, dari Ismaa’iil bin Umayyah, dari Sa’iid bin Al-Musayyib : Bahwasannya ia membencinya (memiringkan mayit ke arah kiblat – Abul-Jauzaa’). Ia berkata : “Bukankah mayit itu orang yang beragama Islam (muslim) ?” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/239 (7/120) – shahih].</p>
<p>عن عبد الرزاق عن ابن جريج عن إسماعيل بن أمية أن إنساناً حين حضر ابن المسيب الموتُ وهو مستلق، قال : احرفوه، قال : أو لست عليها، يعني أنه على القبلة وإن لم كن مستقبلها لأنه مسلم.</p>
<p>Dari ‘Abdurrazzaaq, dari Ibnu Juraij, dari Ismaa’iil bin Umayyah : Bahwasannya ada seseorang yang hadir saat Sa’iid bin Al-Musayyib menjelang kematiannya, dan ia alam keadaan tidur terlentang. Orang tersebut berkata : “Balikkanlah ia (ke arah kiblat)”. Sa’iid berkata : “Atau apakah aku tidak berada di atasnya ?” – yaitu ia berada di atas kiblat, meskipun ia tidak menghadap ke arahnya, karena ia seorang muslim [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6062, tahqiq &amp; takhrij : Habiibur-Rahmaan Al-A’dhamiy, Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403 H – shahih].</p>
<p>عبد الرزاق عن معمر والثوري عن إسماعيل بن أمية أن رجلاً دخل على ابن المسيب وهو شاكي مستلقي فقال : وجّهوه للقبلة، فغضب سعيد، وقال : أَوَ لستُ إلى القبلة.</p>
<p>‘Abdurrazzaq, dari Ma’mar dan Ats-Tsauriy, dari Ismaa’iil bin Umayyah : Bahwasannya ada seorang laki-laki yang masuk menemui Ibnul-Musayyib yang tengah sakit dan tidur terlentang. Ia berkata : “Hadapkanlah ia ke arah kiblat !”. Sa’id pun marah (mendengar itu) dan berkata : “Ataukah aku tidak berada di atas kiblat (muslim) ?” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6063 – shahih].</p>
<p>[3] Yang benar : “Dari Yahyaa – yaitu Ibnu Abi Katsiir &#8211; , dari ‘Abdullah bin Abi Qataadah, dari ayahnya” [lihat Tatabbu’u Auhaam Al-Haakim allatiii Sakata ‘Alaihadz-Dzahabiy oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Wadi’iy, 1/499; Daarul-Haramain, Cet. 1/1417 H].</p>
<p>[4] Lihat At-Ta’diil wat-Tajriih liman Kharaja ‘anhul-Bukhaariy fil-Jamii’ish-Shahiih oleh Abul-Waliid Al-Baajiy, 2/860 no. 735, tahqiq : Ahmad Al-Bazzaar; Cet. Maroko].</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/bidahkah-menghadapkan-orang-yang.html</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/782/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=782&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/09/bid%e2%80%99ahkah-menghadapkan-orang-yang-sakaratul-maut-ke-arah-kiblat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM SEPUTAR ABORSI</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/05/hukum-seputar-aborsi/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/05/hukum-seputar-aborsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 02:27:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/2009/11/05/hukum-seputar-aborsi/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
Segala puji bagi Allah,kita memujiNYA,memohon ampun dan berlindung kepadaNYA dari keburukan-keburukan diri kita,dan kejelekan perbuatan kita.Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah,maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkan dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah,maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi,tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=780&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Segala puji bagi Allah,kita memujiNYA,memohon ampun dan berlindung kepadaNYA dari keburukan-keburukan diri kita,dan kejelekan perbuatan kita.Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah,maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkan dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah,maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk.</p>
<p>Aku bersaksi,tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNYA.</p>
<p>Ya Allah,ajarilah kami apa yang bermanfaat bagi kami,dan berilah kami manfaat atas apa yang Engkau ajarkan pada kami,dan tambahkanlah ilmu kepada kami.</p>
<p>Ya Allah,tunjukilah kebenaran kepada kami atas apa-apa yang diperselisihkan,sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada orang-orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.Wa ba’du,</p>
<p>Sebab dipilihnya tema ini adalah  dua hal :</p>
<p>Pertama : Banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai hukumnya.</p>
<p>Kedua :  Kemajuan ilmu kedokteran,sehingga dengan kemajuan tersebut praktek aborsi dapat dengan mudah dilakukan.Seorang suami cukup dengan sekedar membawa istrinya atau bahkan seorang istri dapat pergi sendiri ke dokter laki-laki ataupun perempuan dan dalam waktu sekejap apa yang ada dalam kandungannya dengan mudah digugurkan.</p>
<p><span id="more-780"></span>Definisi Aborsi secara etimologi dan terminologi.</p>
<p>Adapun secara etimologi,Aborsi adalah menggugurkan anak,sehingga ia tidak hidup.</p>
<p>Adapun secara terminologi,Aborsi adalah praktek seorang wanita yang menggugurkan janinnya baik dilakukan sendiri ataupun orang lain.</p>
<p>Sejarah Aborsi dan perkembangannya</p>
<p>Aborsi merupakan hasil dari propaganda pembatasan jumlah penduduk dan pertumbuhan populasi manusia.Propaganda ini telah lama muncul yaitu diakhir abad ke 18 Masehi. Orang yang pertama kali mempropagandakan ide ini yaitu ide untuk membatasi jumlah penduduk dan pertumbuhan populasi manusia adalah “Malthus”</p>
<p>Ide ini muncul ketika ia beranggapan bahwa banyaknya jumlah penduduk akan mengakibatkan dampak yang berbahaya bagi sumber daya alam.Dimana jumlah penduduk akan terus bertambah secara teknis dan berkesinambungan dua,empat,delapan,enam belas,tiga dua dan seterusnya. Sedangkan Sumber daya alam bertambah secara bilangan dua,tiga,empat dan seterusnya.Propaganda ini kemudian mendapatkan sambutan yang baik.yang kemudian tersiar di Negara Amerika.Padahal,pada mulanya timbul banyak pertentangan baik dari masyarakat maupun pemerintah.Akan tetapi setelah itu pada tahun 1942 telah berdiri di Amerika Planned Parenthood Federation yaitu organisasi yang mempropagandakan pemakaian alat kontrasepsi,diantarnya Aborsi hal ini dalam rangka mengatasi pertumbuhan populasi manusia.</p>
<p>Kemudian pada tahun 1964 Organisasi tersebut menjadi bagian dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang selanjutnya memiliki banyak cabang di banyak negara hingga negara Islam.</p>
<p>Pandangan Islam serta Agama-Agama lain tentang Aborsi</p>
<p>Aborsi menurut Agama-agama sebelum Islam adalah termasuk yang diharamkan.Dalam Agama Yahudi aborsi dianggap haram,tidak diperbolehkan dan pelakunya mendapatkan hukuman.Akan tetapi hukumannya tidaklah ditentukan.</p>
<p>Demikian pula dalam Agama Nasrani,aborsi dianggap haram dan sangsinya adalah eksekusi mati.Oleh karena itu sejak dulu di Negara Inggris sampai Tahun 1524,hukuman bagi pelaku aborsi adalah eksekusi mati.</p>
<p>Kemudian hukuman tersebut diperingan dengan penjara seumur hidup ditambah kerja berat.Kemudian kembali diperingan hingga akhirnya aborsi diperbolehkan dibanyak Negara.</p>
<p>Kejadian serupa juga terjadi di Negara Amerika dimana hukuman pelaku aborsi pada mulanya adalah eksekusi mati, kemudian diperingan menjadi penjara seumur hidup,kemudian kembali diperingan hingga akhirnya diperbolehkan.</p>
<p>Disinyalir,Uni Soviet adalah Negara yang pertama kali membolehkan aborsi yaitu pada tahun 1920 M.Kemudian pada tahun 1935 aborsi dilarang disebabkan meningkatnya angka kematian ibu yamg melakukan praktek aborsi.Hal ini dikarenakan, aborsi dapat menimbulkan dampak yang berbahaya bagi sang ibu yang melakukan aborsi.Bahaya tersebut terkadang sampai kepada tingkat kematian.</p>
<p>Kemudian Uni Soviet mengikuti aturan Negara Jepang yang membolehkan aborsi bagi penduduk yang memiliki lima anak.Akan tetapi aturan ini kemudian diperingan hingga akhirnya aborsi diperbolehkan untuk kandungan yang berusia tiga bulan.</p>
<p>Data statistik Aborsi<br />
Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO),jumlah janin yang digugurkan hingga tahun 1984 mencapai lima juta janin.Sedangkan angka kematian ibu disebabkan aborsi berkisar antara 170.000 – 200.000 orang<br />
Di Amerika,jumlah janin yang diaborsi antara tahun1973 sampai tahun 1983,atau sekitar sepuluh tahun,adalah 15 juta janin.<br />
Di kota Newyork terdapat lebih dari 300 klinik Aborsi, setelah paktek tersebut diperbolehkan.</p>
<p>Dari angka diatas jelaslah bahaya yang ditimbulkan aborsi,dimana ia adalah penyebab meningkatnya angka kematian.Padahal,tidak diragukan lagi bahwa aturan agama apapun sepakat dalam menjaga jiwa.Karena aturan-aturan agama datang dalam rangka menjaga adhdharuriyyaat al-khams,lima hal penting ; Agama,jiwa,kehormatan,akal dan juga harta.Dan aborsi menggugurkan salah satu dari lima maslahat yang urgen tadi,dimana seluruh Agama sepakat untuk menjaganya.</p>
<p>Demikian pula pandangan Syariat Islam yang secara umum mengharamkan praktek aborsi.Hal itu tidak diperbolehkan karena beberapa sebab :</p>
<p>1.Syariat Islam datang dalam rangka menjaga adhdharuriyyaat al-khams,lima hal yang urgen,seperti telah dikemukakan.</p>
<p>2.Aborsi sangat bertentangan sekali dengan tujuan utama pernikahan.Dimana tujuan penting pernikahan adalah memperbanyak keturunan.Oleh sebab itu Allah memberikan karunia kepada Bani Israil dengan memperbanyak jumlah mereka,Allah berfirman :</p>
<p>“Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar “ (Al-isra : 6 )</p>
<p>Nabi juga memerintahkan umatnya agar memperbanyak pernikahan yang diantara tujuannya adalah memperbanyak keturunan. Beliau bersabda :</p>
<p>(تزوجوا الودود الولود فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة)</p>
<p>“Nikahilah wanita penyayang nan banyak melahirkan,karena dengan banyaknya jumlah kalian aku akan berbangga-bangga dihadapan umat lainnya pada hari kiamat kelak”.</p>
<p>3. Tindakan aborsi merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah.</p>
<p>Anda akan menjumpai banyak diantara manusia yang melakukan aborsi karena didorong rasa takut akan ketidak mampuan untuk mengemban beban kehidupan,biaya pendidikan,dan segala hal yang berkaitan dengan konseling dan pengurusan anak.Ini semua merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah.Padahal,Allah telah berfirman :</p>
<p>“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya”</p>
<p>Maka,Syariat Islam  memandang bahwa hukum aborsi adalah haram kecuali beberapa kasus tertentu yang insya Allah akan diterangkan.</p>
<p>Hukum aborsi secara terperinci</p>
<p>Adapun secara terperinci,maka aborsi terbagi menjadi beberapa jenis :</p>
<p>I. Aborsi alami</p>
<p>Aborsi alami adalah proses alami,dimana rahim mengeluarkan janin yang unsur kehidupannya belum sempurna.</p>
<p>Aborsi seperti ini terjadi pada wanita tanpa keinginan darinya,karena tidak ada tangan yang masuk ke rahim baik tangan wanita itu sendiri apalagi tangan laki-laki asing.Secara kedokteran telah terbukti bahwa 70 % sampai 80 % janin yang diaborsi secara alami,mengalami kecacatan.Tentunya ini merupakan rahmat Allah azza wajalla.</p>
<p>Hukumnya</p>
<p>Hukum Aborsi jenis pertama ini jelas tidak berdosa dan tidak diberlakukan sangsi.Bahkan,telah kita sebutkan bahwa proses aborsi alami oleh rahim tersebut adalah rahmat Allah azza wa jalla sebagaimana telah disebutkan oleh para dokter pada kesempatan lalu.</p>
<p>II. Aborsi tanpa adanya kebutuhan syar’i</p>
<p>Para Ulama membaginya menjadi tiga kondisi :</p>
<p>Kondisi pertama ; Aborsi pada empat puluh hari usia janin</p>
<p>Beberapa orang sering mempertanyakan masalah ini,Anda akan dapatkan beberapa orang yang dikaruniai anak,kemudian selang beberapa waktu istrinya kembali mengandung.Namun ia berkeinginan untuk menggugurkan kandungan tersebut.Atau terkadang orang yang baru menikah kemudian sang istri mengandung dalam waktu yang singkat,akan tetapi sang suami ingin menggugurkan kandungannya pada empat puluh hari usia kandungan.</p>
<p>Hukumnya</p>
<p>Ada dua pendapat dikalangan Ulama :</p>
<p>Pendapat pertama,Haram,tidak diperbolehkan.</p>
<p>Ini adalah pendapat Malik dan sebagian peneliti dikalangan Ulama seperti Ibn Rajab,Al’iz ibn ‘Abdissalam dan Ibnul jauzi.Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikhul Islam ibn Taimiyah juga merupakan madzhab Ahli dzahir.</p>
<p>Dalil yang mereka pegang adalah sebagai berikut :</p>
<p>1. Firman Allah subhanahu wata’ala :</p>
<p>وَإِذَا الْمَوْؤُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ</p>
<p>“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh”. (At-Takwir: 8-9)</p>
<p>Dan aborsi pada saat kandungan yang masih dalam bentuk sperma termasuk al wa-du ( mengubur bayi hidup-hidup,pent.) karena Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam menamai ‘azl (yaitu mencabut kemaluan agar sperma tidak masuk kemaluan istri saat berhubungan) dengan wa-d khafiyy ( pembunuhan anak terselubung).Padahal sperma tidak berada didalam rahim.Maka apabila sperma sudah berada didalam rahim (kemudian digugurkan) maka ini lebih layak dikategorikan sebagai wa-d.</p>
<p>2.Hadits Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
<p>(إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك…)</p>
<p>“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan ciptaannya didalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk sperma,kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama,kemudian menjadi sekerat daging dalam waktu yang sama pula….”</p>
<p>Kesimpulan makna dari hadits diatas adalah ; Allah subhanahu wata’ala mengumpulkan penciptaan dalam waktu empat puluh hari,termasuk didalamnya penciptaan dan pembentukan.Hanya saja hal itu tersembunyi ( tidak terlihat ).</p>
<p>Para dokter pun sepakat membenarkan kandungan hadits tersebut.Dan ini adalah diantara mukjizat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.Dan apabila penciptaan dan pembentukan –walaupun hal itu tidak terlihat- terjadi dalam waktu empat puluh hari,maka tidak diperbolehkan berbuat melanggar kehormatan janin tersebut.</p>
<p>3. Sesungguhnya menegakkan hukum had dan qishos adalah kewajiban.</p>
<p>Apabila ada seorang wanita yang dikenai hukum had ataupun qisos,namun terbukti bahwa ia sedang mengandung,maka penegakkan hukum pun diakhirkan sampai wanita tersebut melahirkan apa yang ada didalam perutnya walaupun hanya berupa sperma.Dan hukum had dan qishas yang wajib ditegakkan ini akhirnya ditangguhkan disebabkan sperma yang ada dalam kandungan wanita.Dan perkara yang wajib itu tidaklah ditangguhkan kecuali disebabkan sesuatu yang dihormati yang tidak boleh dianiaya.</p>
<p>4. Diantara dalil yang paling kuat disebutkan oleh para dokter adalah;bahwa fase kandungan yang paling sensitif adalah ketika kandungan masih dalam bentuk sperma.Pada fase tersebut janin mulai terbentuk dan kebiasaan,tabiat,serta sifat bawaan mulai berpindah ke janin.Pada fase ini kandungan sangat mudah terpengaruh dibandingkan dengan fase lainnya.Apabila fase ini adalah fase yang paling sensitif dimana keagungan Allah dan kebesaranNYA nampak pada fase tersebut,maka tidak boleh menganiaya dan melanggar kehormatan kandungan tersebut.Padahal, melanggar kehormatan kandungan sangat bertentangan dengan tujuan syariat -sebagaimana telah disebutkan- yang menjaga adhdharuriyyaat, juga bertentangan dengan tujuan terpenting sebuah pernikahan.</p>
<p>Pendapat kedua,Boleh</p>
<p>Ini adalah pendapat mayoritas Ulama dari madzhab Hanafi,syafi’i,dan Hambali.</p>
<p>Dalil yang menjadi pijakan :</p>
<p>1. Firman Allah ta’ala :</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ</p>
<p>“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna…”. (QS.Al Hajj :5)</p>
<p>Yang menjadi pijakan adalah firmanNYA :  مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.Ini menunjukkan bahwa penciptaan belum terjadi kecuali pada fase segumpal daging,dan tidak ada penciptaan pada fase dimana kandungan masih dalam bentuk sperma.Apabila penciptaan belum terjadi,maka maka keharaman pun tidak ada,oleh sebab itu diperbolehkan menggugurkan kandungan tersebut.</p>
<p>Sanggahannya : Ayat tersebut tidak memastikan tidak adanya penciptaan ketika kandungan masih dalam bentuk sperma belum dalam bentuk sekerat daging.Bahkan penciptaan tetaplah ada.Karena penciptaan yang dimaksudkan oleh nash terbagi menjadi dua :</p>
<p>Pertama : penciptaan yang tidak nampak.seperti yang ditunjukkan oleh hadits Ibn mas’ud dan diakui oleh para Dokter.</p>
<p>Kedua : penciptaan yang nampak seperti yang ditunjukkan oleh ayat diatas.</p>
<p>2. Hadits Jabir :</p>
<p>“كنا نعزل والقرآن ينزل”</p>
<p>“Dahulu kami melakukan ‘azl padahal Al-quran masih tetap turun”</p>
<p>Dan Nabi Muhammad menyetujui perbuatan ‘azl tersebut.Ini menunjukkan bahwa tiada keharaman pada sperma itu sendiri.</p>
<p>Sanggahannya :</p>
<p>Haruslah dibedakan antara dua kasus.Pada kasus ‘azl,sperma tidak menetap didalam rahim dan belum terjadi padanya penciptaan.Berbeda dengan sperma yang sudah menetap dan berada didalam rahim.Sebagaimana yang difirmankan Allah :</p>
<p>Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?; kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) (Al-Mursalaat:20-21)</p>
<p>Apabila sperma tersebut sudah berada dalam tempat yang kokoh,yakni ditempat yang menjaganya maka tidak diperbolehkan menganiaya tempat yang kokoh tersebut ( rahim,pent.).Oleh sebab itu haruslah dibedakan antara kasus ‘azl dan kasus dimana sperma telah menetap didalam rahim.</p>
<p>Dan dalam sebuah kaidah disebutkan :</p>
<p>الدفع أهون من الرفع</p>
<p>“ mendorong lebih ringan bila dibandingkan dengan mengangkat”.</p>
<p>Dan sekedar mengeluarkan sperma begitu pula ‘azl lebih mudah dibandingkan dengan mengeluarkan sperma dari tempat yang menjaganya.</p>
<p>3. Mereka berpendapat : Sesungguhnya janin yang masih dalam bentuk sperma belumlah diciptakan.Jika demikian,ia tidak akan dibangkitkan pada hari kiamat.dan jika tidak dibangkitkan,maka tidak mengapa melanggar kehormatannya juga menggugurkannya.</p>
<p>Sanggahannya :  Berdalil semacam ini adalah berdalil dengan perkara yang diperselisihkan,hal ini juga merupakan pandangan yang bersebrangan dengan atsar(hadits,pent.).</p>
<p>Tarjih</p>
<p>Atas dasar ini,maka pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran adalah : tidak diperbolehkannya menggugurkan sperma (didalam rahim,pent.) agar terbebas dari kehamilan atau takut akan biaya nafkah dan pendidikan anak,atau ingin meringankan diri dari anak,dan lain sebagainya.</p>
<p>Seminar karya-karya ilmiah yang diadakan di Kuwait pada tahun 1403 H,telah sampai kepada sebuah pendapat bahwa menggugurkan janin yang masih dalam bentuk sperma tidaklah diperbolehkan bedasarkan dalil-dalil yang disebutkan diatas.Terkecuali pada kondisi yang sangat darurat.</p>
<p>Senada dengan fatwa Lembaga Ulama-Ulama Senior di Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1407 H, bahwa menggugurkan janin yang masih dalam bentuk sperma tidaklah diperbolehkan kecuali apabila keselamatan ibu terancam.Kasus ini insyaAllah akan dibahas nanti.</p>
<p>Kondisi kedua ; Aborsi setelah empat puluh hari (usia kandungan,pent.)sampai ditiupkannya ruh.</p>
<p>Terdapat dua pendapat Ulama dalam masalah ini.</p>
<p>Pendapat pertama,haram tidak diperbolehkan.</p>
<p>Ini adalah pendapat para Ulama yang tidak membolehkannya aborsi pada empat puluh hari usia kandungan,mereka berpendapat bahwa pada kondisi ini lebih tidak diperbolehkan.Pendapat ini adalah pendapat Ulama Maliki,Addzahiriyah,Syaikhul islam Ibnu Taimiyah,Ibnu Rajab,Al- ‘Izz ibn ‘Abdissalam,Ibnul jauzi,juga para Ulama Hanabilah.</p>
<p>Pendapat kedua ; boleh</p>
<p>Ini adalah pendapat Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyyah.</p>
<p>Tarjih</p>
<p>Apabila pendapat yang rajih pada permasalahan aborsi kandungan yang masih dalam bentuk sperma adalah tidak diperbolehkan.Maka,Aborsi kandungan yang masih dalam bentuk gumpalan darah ataupun potongan daging lebih tidak diperbolehkan.</p>
<p>Kondisi ketiga ; Aborsi setelah ditiupkannya ruh.</p>
<p>Para Ulama sepakat atas larangan menggugurkan kandungan setelah genap empat bulan usia kandungan.Karena pada saat itu malaikat telah diutus kepada sang janin untuk meniupkan ruh, sebagaimana hal ini disebutkan pada hadist Ibnu Mas’ud.Oleh sebab itu tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan tersebut.</p>
<p>Dalilnya : Aborsi pada fase ini merupakan pembunuhan jiwa yang semestinya dijaga.Padahal,Allah berfirman :</p>
<p>وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ</p>
<p>“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”.</p>
<p>Demikian pula hadits Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda :</p>
<p>لا يحل دم امرئ مسلم يشهد ألا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله إلا بإحدى ثلاث، النفس بالنفس والثيب الزاني والتارك لدينه المفارق للجماعة</p>
<p>“Tidaklah dihalalkan (menumpahkan) darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah,dan Muhammad adalah utusan Allah,kecuali disebabkan oleh satu dari tiga sebab ; jiwa dengan jiwa (qisos,pent.),orang yang telah menikah kemudian berzina,orang yang meninggalkan agamanya serta keluar daru jamaah”.</p>
<p>Dan dalam Islam kandungan ini mengikuti kebaikan kedua orang tuanya.Maka,tidak boleh digugurkan.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Dapat kita simpulkan bahwa aborsi jenis kedua,yakni aborsi tanpa adanya kebutuhan syar’i yang mencakup tiga fase diatas tidak diperbolehkan.Baik ketika janin masih dalam bentuk sperma,ataupun setelah empat puluh hari usia kandungan yakni ketika masih daklam bentuk gumpalan darah dan potongan daging,ataupun setelah ditiupkannya ruh.</p>
<p>III. Aborsi disebabkan oleh kebutuhan syar’i</p>
<p>Dimana menetapnya janin didalam rahim dapat mengancam nyawa sang ibu.Seperti misalnya ;ibu yang menderita sakit,yang dengan keberadaan janin didalam rahimnya akan menambah sakit yang dideritanya sehingga mengancam nyawanya.Contoh : seorang ibu yang menderita sakit liver,ginjal atau terkena penyakit ganas seperti kanker payudara,kanker rahim atau penyakit yang berkaitan dengan darah atau yang lainnya.Pokoknya,keberadaan janin mengancam keselamatan sang ibu.</p>
<p>Lalu apakah diperbolehkan menggugurkan janin pada kasus ini demi menjaga keselamatan sang ibu,atau sebalikknya hal itu tidak diperbolehkan ?</p>
<p>Pada aborsi jenis ini terdapat dua kondisi :</p>
<p>Kondisi pertama : sebelum ditiupkannya ruh</p>
<p>Para Ahli fikih kontemporer berpendapat bolehnya menggugurkan janin apabila hal tersebut dilakukan demi menjaga keselamatan ibu atau demi keberlangsungan hidupnya.diantara pendapat ini adalah fatwa Komite tetap urusan fatwa Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1416 H, disebutkan dalam fatwa tersebut : “dan tidak diperbolehkan menggugurkan janin sebelum tim kedokteran yang terpercaya memutuskan bahwa keberlangsungan janin akan mengancam keselamatan ibu.Hal ini setelah dikerahkannya segala macam cara untuk menghindari bahaya”.</p>
<p>Beberapa fuqaha terdahulu telah sedikit menyinggung permasalahan ini.diantaranya Ulama Syafi’iyyah.Karena Ulama Syafi’iyah lah yang banyak menyinggung masalah aborsi.</p>
<p>Dasar pembolehannya adalah sebagai berikut :</p>
<p>Para Ulama membolehkan hal tersebut dengan dalih bahwa bahaya  yang sangat berat dapat dihilangkan dengan bahaya yang lebih ringan.Mereka berpendapat bahwa pelakunya tidak lain hanya memilih satu diantara dua bahaya yang lebih ringan.Karena menggugurkan janin lebih ringan bila dibandingkan dengan kematian sang ibu.</p>
<p>Hukum asal aborsi – sebagaimana yang telah dikemukakan- adalah haram.Akan tetapi dikarenakan kaidah ini,yakni kaidah :</p>
<p>الضرورات تبيح المحظورات</p>
<p>“Hal-hal yang darurat dapat menyebabkan dibolehkannya hal-hal yang dilarang”</p>
<p>Para Ulama kontemporer membolehkan aborsi dengan syarat-syarat sebagai berikut :<br />
Terbukti adanya penyakit yang membahayakan jiwa sang ibu.<br />
Tidak ditemukannya cara penyembuhan kecuali dengan cara aborsi.<br />
Adanya keputusan dari seorang dokter yang dapat dipercaya bahwa aborsi adalah satu – satunya cara untuk menyelamatkan sang ibu.</p>
<p>Apabila syarat ini terpenuhi,maka aborsi janin pun diperbolehkan.</p>
<p>Syarat-syarat ini haruslah terpenuhi.Karena para dokter masa kini memutuskan bahwa hampir tidak ditemukan satu jenis penyakit pun yang mengharuskan dilakukannya aborsi.Segala jenis penyakit yang diderita sang ibu dapat diobati tanpa dilakukannya aborsi. hal ini disebabkan oleh kemajuan ilmu kedokteran.Oleh sebab itu,Dr. Muhammad Al-Bar menyebutkan bahwa hanya satu penyakit yang dapat mengancam nyawa sang ibu apabila tidak dilakukan aborsi.Penyakit itu adalah keracunan kandungan.Adapun penyakit selain itu,maka tidak diperlukan adanya aborsi.Karena disebabkan kemajuan ilmu kedokteran penyakit – penyakit seperti ini mungkin untuk disembuhkan.</p>
<p>Dengan ini anda dapat ketahui sikap beberapa dokter yang terkesan lalai dengan mengatakan : “ sesungguhnya sang ibu dalam kondisi sakit dan kandungannya akan membahayakannya sehingga harus digugurkan ”  adalah perkataan yang perlu untuk dikaji.</p>
<p>Maka,pada dasarnya aborsi diharamkan kecuali apabila syarat-syarat yang syar’i tersebut terpenuhi dengan disertai kehati-hatian serta sikap waspada.</p>
<p>Kondisi kedua : setelah ditiupkannya ruh.</p>
<p>Maksudnya ,janin telah berusia lebih dari empat bulan.Dan keberadaan janin tersebut dapat membahayakan sang ibu.Jadi,hanya ada dua pilihan,apakah kita menggugurkan janin yang berarti membunuhnya dan menyelamatkan sang ibu,atau kita membiarkan sang janin dan sang ibu pun terancam mati.</p>
<p>Hukumnya :</p>
<p>Pendapat pertama :</p>
<p>Hampir – hampir Ulama pada zaman dahulu sepakat akan keharaman aborsi walaupun pengharaman tersebut menyebabkan kematian sang ibu.Diantara Ulama dizaman ini yang berpendapat seperti itu adalah Syaikh Muhammad ibn ‘Utsaimin.</p>
<p>Dalil yang menjadi pijakan mereka adalah :</p>
<p>1. Tidak ada perselisihan diantara Ulama bahwa seseorang tidak diperbolehkan membunuh orang lain meskipun ia dipaksa untuk membunuh sekalipun hal itu mneyebabkan jiwanya terancam.Maksudnya,Apabila ada seseorang yang memaksa orang lain untuk membunuh dengan ancaman apabila ia tidak membunuh maka ia yang akan dibunuh.Menurut pendapat pertama ini,orang yang diancam tersebut tidak diperbolehkan untuk membunuh walaupun hal ini menyebabkan dirinya terbunuh.Hal ini seperti yang terjadi pada diri wanita.Dimana kita tidak boleh membunuh janin tersebut dalam rangka menjaga jiwa sang ibu.</p>
<p>2. Adanya ijma’ ,bahwa seseorang yang dalam keadaan darurat dan lapar tidak diperbolehkan baginya untuk membunuh orang lain kemudian memakannya demi menjaga keberlangsungan hidupnya.Demikian pula sang janin.Tidak diperbolehkan membunuh janin tersebut demi menjaga jiwa sang ibu.</p>
<p>3. Apa yang disebutan oleh Ibnu Nujaim,ia berkata : “menjaga jiwa seseorang dengan mengorbankan jiwa orang lain,tidak pernah didapatkan pada dalil manapun dengan menganalisa kandungan syariat”.</p>
<p>Pendapat kedua :</p>
<p>Pendapat Mayoritas Ulama kontemporer,Mereka berpendapat : jika terbukti dengan benar bahwa jiwa sang ibu akan terancam apabila tidak dilakukan pengguguran janin,maka dalam kondisi seperti ini dibolehkan.</p>
<p>Diantara dalil yang menjadi pijakan mereka :</p>
<p>1. Pada banyak kasus,sang janin biasanya tidak dapat tertolong.Apabila sang ibu meninggal maka janin pun ikut meninggal.Cara lain adalah dengan menggugurkan janin agar sang ibu selamat.Jika tidak,sang janin biasanya tidak dapat tertolong.jika sang ibu meninggal maka janin pun ikut meninggal.karena janin adalah bagian dari sang ibu.</p>
<p>Sanggahannya :</p>
<p>Pendapat ini perlu untuk dikaji ulang.Karena Ulama zaman dahulu pun telah membahas  kasus ini. Apabila sang ibu meninggal,memungkinkan untuk membedah perut sang ibu untuk menyelamatkan janin.Apalagi zaman sekarang,dimana Ilmu kedokteran telah berkembang.Karena pada kasus ini sangat memungkinkan untuk membedah perut sang ibu untuk kemudian mengeluarkan janin.Sekalipun janin belum genap berumur enam bulan,sangat memungkinkan untuk mengurus janin tersebut sampai ia tumbuh.</p>
<p>2. Sesungguhnya janin mengikuti sang ibu dan merupakan bagian darinya.Dan menurut kesepakatan Ulama seseorang diperbolehkan memotong bagian dari tubuhnya agar bagian tubuh lainnya selamat.Contohnya,apabila seseorang mempunyai tangan yang dapat menggerogoti bagian tubuh lainnya ataupun kaki yang dapat menggerogoti bagian lainnya dan tidak memungkinkan untuk menyelamatkan bagian tubuh lainnya kecuali dengan mengamputasi bagian tubuh yang dapat menggerogoti tersebut.maka bagian tubuh tersebut boleh kita amputasi agar bagian tubuh lainnya dapat selamat.Demikian pula janin.Ia seperti bagian tubuh yang dapat menggerogoti sehingga harus kita amputasi agar nyawa sang ibu dapat terselamatkan.</p>
<p>Sanggahannya</p>
<p>Ini adalah qiyas ma’al faariq,analogi yang terdapat padanya perbedaan karena kedua-duanya adalah jiwa yang terjaga dan saling terpisah.</p>
<p>3. Mereka berdalil dengan beberapa kaidah diantaranya :</p>
<p>المشقة تجلب التيسير</p>
<p>Kesulitan menyebabkan adanya kemudahan</p>
<p>Juga kaidah yang berbunyi :</p>
<p>يرتكب أهون الشرين</p>
<p>Memilih satu diantara dua keburukan yang lebih ringan</p>
<p>IV. Menggugurkan sperma yang statusnya haram.</p>
<p>Maksudnya apabila tindakan aborsi disebabkan oleh perbuatan amoral seperti zina,yang kemudian si perempuan hamil disebabkan perbuatan tersebut.Dalam kasus ini,apakah sang janin diaborsi atau tidak?</p>
<p>Seperti kita ketahui bersama,bahwa dizaman kita sekarang banyak merebak perbuatan zina baik di negri kafir serta banyak pula dinegara-negara Islam.Penyebabnya adalah banyaknya alat-alat yang melalaikan serta acara-acara telavisi yang mendorong perbuatan keji ini.Ketika merebaknya zina di negri-negri kafir,dengan terpaksa negri-negri tersebut membolehkan tindakan aborsi.Maka dikeluarakanlah keputusan yang membolehkan aborsi.Bahkan aborsi di beberapa negara menjadi barang dagang yang menguntungkan.sehingga banyak dipromosikan dan diiklankan diberbagai media cetak.Sebagaimana telah kita sebutkan bahwa di kota Newyork saja terdapat kurang lebih 300 klinik spesialis aborsi janin.</p>
<p>Hukumnya</p>
<p>Menggugurkan sperma yang statusnya haram,dibagi menjadi dua kondisi :</p>
<p>Kondisi pertama : sebelum ditiupkannya ruh</p>
<p>Para Ahli fikih kontemporer berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat</p>
<p>Pendapat pertama : tidak boleh,karena tidak ada keperluan untuk melakukan aborsi.</p>
<p>Dalilnya :</p>
<p>Kisah wanita ghomidiyah yang mendatangi Nabi dalam keadaan hamil disebabkan perbuatan zina.Nabi tidak menegakkan hukum had padanya sampai ia melahirkan.Andaikan janin tersebut boleh digugurkan tentunya Nabi akan menegakkan hukum had padanya.Karena apabila ditegakkan wanita tersebut akan mati,sehingga janinnya pun ikut mati.Nabi menangguhkan hukum had tersebut sampai ia melahirkan.Hal ini menunjukkan bahwa kandungan tersebut walaupun  belum ditiupkan ruh memiliki kehormatan yang tidak boleh dilanggar.</p>
<p>Pendapat kedua : Masalah tersebut haruslah diperinci.Apabila perbuatan zina tersebut dilakukan atas dasar paksaan,maka diperbolehkan menggugurkan janin hasil zina tersebut sebelum ditiupkannya ruh.Akan tetapi apabila perbuatan zina terjadi atas dasar suka sama suka maka aborsi pun tidak diperbolehkan.</p>
<p>Alasannya,apabila perbuatan zina tersebut terjadi atas dasar paksaan.Maka,pihak wanita pun memiliki udzur.Karena janin tersebut akan membahayakannya dan menyakitkan (mencemarkan,pent.)</p>
<p>Selama ia memiliki uzur,aborsi pun diperbolehkan.</p>
<p>Pendapat ketiga : boleh secara mutlak.Baik zina tersebut atas dasar paksaan ataupun suka sama suka.</p>
<p>Alasannya :<br />
Sperma tersebut statusnya haram.Sesuatu yang haram menurut syariat seperti sesuatu yang tidak ada secara indrawi,maka ia tidak memiliki kehormatan.Dan aku ingat pada tahun-tahun yang lalu,aku bertanya kepada Syaikh Muhammad (maksudnya,Ibnu Utsaimin) –semoga Allah merahmatinya- Tentang hukum menggugurkan sperma yang statusnya haram.Maka beliau menjawab bahwa sperma tersebut digugurkan.<br />
Sperma tersebut akan menimbulkan bahaya dan menyakitkan (mencemarkan,pent.) wanita serta keluarganya.<br />
Diri sang janin pun apabila telah dilahirkan akan menjumpai permasalahan yang akan membahayakan dam menyakitkan dirinya,karena ia merupakan anak hasil zina.</p>
<p>Tarjih</p>
<p>Dalam Masalah ini yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang memperinci.Apabila wanita tersebut melakukan zina karena dipaksa atau ia telah melakukannya atas dasar suka sama suka kemudian bertaubat lalu kembali kepada Allah,maka diperbolehkan menggugurkan janin selama sebelum ditiupkannya ruh.Karena keberadaannya akan membahayakan sang ibu,keluarganya,bahkan sang anak sendiri setelah dilahirkan.Dan dalam kaidah syariat,bahaya atau keburukan yang lebih lebih ringan lebih dipilih (dari pada bahaya yang lebih berat,pent.) dan Kesulitan menyebabkan adanya kemudahan.Apalagi ternyata sperma ini statusnya haram menurut syariat.sedangkan segala sesuatu yang haram menurut syariat maka ia seperti sesuatu yang tidak ada secara indrawi.</p>
<p>Adapun apabila zina dilakukan atas dasar keridoan dan suka sama suka maka aborsi hukumnya haram,tidak diperbolehkan.</p>
<p>Kondisi kedua : Setelah ditiupkannya ruh.</p>
<p>Yaitu setelah umur janin mencapai seratus dua puluh tahun.Pada kasus ini menggugurkan janin hukumnya haram.Karena hal ini merupakan pembunuhan jiwa yang semestinya dijaga.Karena setelah ditiupkannya ruh sang janin menjadi jiwa yang terjaga yang tidak boleh dibunuh.</p>
<p>Sedangkan bahaya yang akan dialami sang ibu ataupun anak setelah dilahirkan tidak setara dengan bahaya membunuh janin tersebut.Karena hal itu termasuk dosa besar.Allah berfirman :</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu ; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.</p>
<p>Allah juga berfirman :</p>
<p>ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق</p>
<p>“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar” .</p>
<p>Dan pada pembahasan lalu telah disebutkan hadits yang berbunyi :</p>
<p>لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث…</p>
<p>“Tidak dihalalkan darah seorang muslim kecuali,disebabkan oleh salah satu dari tiga perkara……..”</p>
<p>Demikian pula maqaasid asy-syariaah,Tujuan syariat adalah menjaga adhdharuriyyaat al khams,lima perkara penting yang disepakati oleh kesuluruhan syariat.Yang mana diantara lima perkara tersebut adalah menjaga jiwa.</p>
<p>Andaikan aborsi tersebut dilakukan setelah ditiupkannya ruh,maka hal itu tidak diperbolehkan dan pelakunya berdosa bahkan berbuat dosa besar.Hukumnya pun sebanding dengan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja terhadap janin.Sehingga ia terkena –sebagaimana yang disebutkan oleh para Ulama- kewajiban membayar diyat serta hukuman.</p>
<p>V.  Aborsi karena takut terjadinya malformasi janin ( kecacatan pada janin )</p>
<p>Malformasi janin merupakan prediksi akan terjadinya kecacatan bawaan pada janin.</p>
<p>Para Dokter menyebutkan bahwa kecacatan yang terjadi pada janin ada tiga macam :</p>
<p>Pertama,kecacatan yang terjadi pada janin pada dua minggu pertama usia kandungan.</p>
<p>Andaikan sang janin terancam akan mengalami kecacatan pada dua minggu tersebut dikarenakan adanya faktor eksternal,maka biasanya janin tersebut akan musnah.Dan biasanya rahim akan mengeluarkan janin yang terkena cacat.Dan telah kita sebutkan bahwa aborsi alami adalah proses alami dimana rahim mengeluarkan janin yang cacat.Dan telah kita sebutkan bahwa para dokter menyatakan bahwa 70 % sampai 90 % janin yang digugurkan secara alami adalah janin yang mengalami kecacatan.</p>
<p>Kedua,kecacatan yang terjadi antara minggu ketiga sampai minggu ke delapan.</p>
<p>Ini adalah fase yang paling sensitif  akan terjadinya kecacatan pada janin.Pada fase ini janin akan terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal sehingga akan turun dari dari tempatnya sehinga keluar dalam keadaan cacat.</p>
<p>Para dokter telah menyebutkan bahwa Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi janin pada fase kedua ini sangatlah banyak.Diantaranya : Faktor turunan,konsumsi obat-obatan,Bahan-bahan kimia dan mendengarkan gosip,dll.Oleh sebab itu,diperlukan adanya sikap waspada agar janin tidak terpengaruh oleh faktor-faktor yang dapat menyebabkan kecacatan pada fase ini.Karena pada fase ini ia mudah terpengaruh.Adapun pada fase sebelumnya,andaikan sang janin terpengaruh biasanya ia akan gugur –atas izin Allah- .</p>
<p>Ketiga, Cacat yang terjadi setelah fase kedua.Para dokter menyebutkan bahwa pada fase ini,janin biasanya tidak akan terpengaruh oleh kecacatan.Sekalipun hal ini terjadi,maka sang janin akan meiliki berat yang ringan.</p>
<p>PENANGGULANGAN SYAR’I TERHADAP JANIN YANG CACAT</p>
<p>Berkaitan dengan janin yang cacat,hukum syariat dapat disimpulkan menjadi tiga poin :</p>
<p>Poin pertama,Mencegah kecacatan tersebut dengan kewaspadaan.Sang ibu maupun bapak mengambil sikap waspada dengan mencegah adanya fakor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi janin.Hal ini sedikit telah kami singguh sebelumnya.Dan syariat datang dengan membawa kaidah :</p>
<p>سد الذرائع</p>
<p>“Mencegah faktor-faktor yang dapat menghantarkan menuju kerusakan”</p>
<p>Poin kedua,Mengobati kecacatan apabila terjadi.Jika memungkinkan diadakannya pengobatan terhadap janin didalam kandungan sang ibu –setelah terbukti menurut dokter adanya kecacatan-,maka pengobatan ini adalah wajib hukumnya.</p>
<p>Poin ketiga,Aborsi.Apakah boleh mengambil langkah ini atau tidak diperbolehkan ketika para dokter tidak sanggup mengobati kecacatan tersebut ?</p>
<p>Hukumnya :</p>
<p>Para ilmuwan fikih dizaman ini telah membagi kecacatan pada janin menjadi dua bagian:</p>
<p>Pertama : kecacatan yang terjadi sebelum ditiupkannya ruh.</p>
<p>Maksudnya,Pada janin tersebut telah terdeteksi adanya cacat bawaan sebelum ditupkannya ruh.Mayoritas Ulama kontemporer membolehkan aborsi janin tersebut pada fase ini.Sesuai dengan kaidah : ارتكاب أخف الضررين</p>
<p>“memilih satu diantara dua bahaya yang lebih ringan”</p>
<p>Aborsi adalah bahaya.Akan tetapi keluarnya janin dalam keadaan cacat akan membahaykan dirinya dan kedua orang tuanya.</p>
<p>Kedua,cacat,atau cacat bawaan yang terdeteksi setelah ditupkannya ruh.</p>
<p>Pada kasus ini  aborsi tidak boleh dilakukan.Sebagaimana telah disebutkan dalil-dali yang menunjukkan diharamkannya membunuh jiwa.Karena janin tersebut setelah ditiupkan padanya ruh menjadi jiwa yang terjaga tidak boleh dibunuh dan dilanggar kehormatannya.Akan tetapi telah kami sebutkan bahwa mayoritas Ulama dizaman ini membolehkan dilakukannya aborsi terhadap janin setelah ditiupkannya ruh apabila keberadaannya terbukti membahayakan sang ibu.Atas dasar ini,apabila sang janin mengalami cacat bawaan atau sakit yang dapat mebahayakan sang ibu –berupa kematian yang terbukti- atas dasar yang telah kami sebutkan berkenaan dengan silang pendapat antara Ulama kontemporer dan Ulama terdahulu  tentang hukum Aborsi.Ulama terdahulu berpendapat tidak diperbolahkan dilakukannya aborsi sedangkan Ulama kontemporer berpendapat,jika terbukti sang janin akan mengakibatkan kematian sang ibu,maka boleh dilakukan aborsi.</p>
<p>Sebagian Dokter menyebutkan : “Sesungguhnya kecacatan yang terjadi pada janin,hanyalah spekulasi saja.yakni bukan perkara yang terbukti.Oleh sebab itu tidak diperbolehkan bagi sang ibu maupun dokter  terburu-buru menggugurkan janin.Karena ini adalah perkara yang spekulatif saja.Karena terkadang doter berpendapat sesuatu kemudian pada kesempatan lain ia membatalkan pendapatnya sendiri.Ini yang pertama.</p>
<p>Kedua, sebagian Dokter menyebutkan bahwa kecacatan biasanya tidak dapat terdeteksi kecuali setelah ditiupkannya ruh.Jika demikian,maka tidak boleh menggugurkan janin setelah ditiupkannya ruh sebagaimana yang telah disebutkan.Kecuali menurut pendapat Ulama kontemporer yang membolehkan dilakukannya aborsi apabila keberadaan janin terbukti dapat membahayakan atau bahkan mengakibatkan kematian sang ibu.</p>
<p>Sumber : http://www.almoshaiqeh.com/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.direktori-islam.com/2009/11/hukum-aborsi-secara-terperinci/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/780/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/780/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/780/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/780/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/780/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/780/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/780/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/780/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/780/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/780/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=780&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/05/hukum-seputar-aborsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Aqidah Ahlus-Sunnah : Kaum Mukminin Kelak Akan Melihat Allah di Hari Kiamat/Akhirat (Ru&#8217;yatullah)</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/02/aqidah-ahlus-sunnah-kaum-mukminin-kelak-akan-melihat-allah-di-hari-kiamatakhirat-ruyatullah/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/02/aqidah-ahlus-sunnah-kaum-mukminin-kelak-akan-melihat-allah-di-hari-kiamatakhirat-ruyatullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
&#160;
&#8216;Aqidah Ahlus-Sunnah : Kaum Mukminin Kelak Akan Melihat Allah di Hari Kiamat/Akhirat (Ru&#8217;yatullah)
&#160;
&#160;
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=778&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/10/aqidah-ahlus-sunnah-kaum-mukminin-kelak.html" target="_blank">&#8216;Aqidah Ahlus-Sunnah : Kaum Mukminin Kelak Akan Melihat Allah di Hari Kiamat/Akhirat (Ru&#8217;yatullah)</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/778/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=778&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/02/aqidah-ahlus-sunnah-kaum-mukminin-kelak-akan-melihat-allah-di-hari-kiamatakhirat-ruyatullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKIDAH IMAM MALIK -rohimahulloh-</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/02/akidah-imam-malik-rohimahulloh/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/02/akidah-imam-malik-rohimahulloh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
&#160;
Imam Malik pernah ditanya tentang ilmu kalam dan tauhid, maka beliau menjawab: “Mustahil orang berprasangka kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau telah mengajarkan umatnya cara istinja’, tapi tidak mengajarkan tauhid. Dan tauhid adalah apa yang disabdakan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Aku telah diperintah untuk memerangi segenap manusia, hingga mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallooh’, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=776&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Imam Malik pernah ditanya tentang ilmu kalam dan tauhid, maka beliau menjawab: “Mustahil orang berprasangka kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau telah mengajarkan umatnya cara istinja’, tapi tidak mengajarkan tauhid. Dan tauhid adalah apa yang disabdakan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Aku telah diperintah untuk memerangi segenap manusia, hingga mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallooh’, maka apa yang karenanya darah dan harta menjadi terlindungi, itulah hakekat tauhid. (Dzammul Kalam, lembaran no: 210)</p>
<p>Walid bin Muslim mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Imam Malik, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, dan al-Laits bin Sa’d, tentang Nash-nash yang menerangkan sifat-sifat Alloh. Maka mereka semua mengatakan: “Perlakukanlah Nash-nash itu dengan apa adanya!”. (ash-Shifat lid Daruquthni, hal:75. Asy-Syari’ah lil Ajurri, hal:314. Al-I’tiqod lil baihaqi, hal:118. At-Tamhid libni Abdil barr, 7/149)</p>
<p><span id="more-776"></span>Ibnu Abdil Bar mengatakan: Imam Malik pernah ditanya: “Apakah Alloh akan dilihat (makhluk-Nya) pada hari kiamat?”. Beliau menjawab: “Ya, Alloh azza wajalla berfirman: Pada hari itu wajah-wajah (orang mukmin) berseri-seri, memandang kepada Tuhannya. (surat Al-Qiyamah: 22-23). Alloh juga mengatakan kepada sekelompok manusia lain: “Sekali-kali tidak, sungguh mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Tuhannya”. (Al-Muthoffifin: 15) (lihat kitab Al-Intiqo, hal: 36)</p>
<p>Dari Ibnu Nafi’, dan Asyhab, -salah satu dari keduanya berkata dan yang lain menambahi-: “wahai Abu Abdillah (sebutan kesayangan Imam Malik)! Firman Alloh: Pada hari itu wajah-wajah (orang mukmin) berseri-seri, memandang kepada Tuhannya. (surat Al-Qiyamah: 22-23). Benarkah mereka akan melihat Alloh?</p>
<p>“Ya, dengan dua mata mereka ini”. Jawab beliau.</p>
<p>Aku mengatakan: “Ada sekelompok orang mengatakan: mereka tidak akan melihat Alloh, karena maksud redaksi ‘nadhiroh’ dalam ayat itu adalah ‘muntadhirotuts tsawab’ (menunggu pahala)”.</p>
<p>Beliau mengatakan: “Sungguh mereka telah dusta, yang benar mereka akan melihat Alloh, tidakkah kau dengar perkataan Musa -alaihissalam-: ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau!’ (surat Al-A’rof:143), apakah kau kira Nabi Musa meminta suatu yang mustahil kepada Tuhannya?!… Lalu Alloh menjawab: “Kamu tidak akan mungkin melihatku” (surat Al-A’rof:143), maksudnya ketika di dunia, karena dunia adalah tempat semua yang fana’, dan sesuatu yang kekal tidak akan dapat dilihat dengan sesuatu yang fana’, lalu apabila mereka sudah sampai pada kehidupan yang kekal, tentu mereka akan melihat suatu yang kekal dengan suatu yang kekal pula. Alloh juga berfirman: “Sekali-kali tidak, sungguh mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Tuhannya”. (Al-Muthoffifin: 15). (lihat kitab tartibul madarik lil qodli iyadh, 2/42)</p>
<p>Ja’far bin Abdulloh mengatakan: Kami pernah bersama Imam Malik bin Anas, lalu datanglah seorang lelaki, ia mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (panggilan kesayangan Imam Malik), Alloh berfirman: ‘Yang maha pengasih itu beristiwa’ (berada) di atas arsy’ (Surat Thoha:5), bagaimana istiwa’-Nya?”. Maka, tidak pernah Imam Malik marah sebagaimana marahnya ketika mendengar pertanyaan orang itu, lalu beliau memandang ke tanah, dan mulai mengusap keringat yang mengucur dengan kayu di tangannya, kemudian mengangkat kepalanya dan melempar orang itu dengan kayunya, dan mengatakan: “Bagaiamananya sifat itu tidak mungkin diketahui, tetapi istiwa’Nya bukanlah hal yang tidak dimengerti, dan wajib mengimani hal itu, sedang mempertanyakannya adalah bid’ah. Dan Aku mengira kau adalah ahli bid’ah itu! lalu beliau memerintahkan agar ia dikeluarkan dari majlisnya. (Al-Hilyah li Abi Nu’aim 6/325. Aqidatus salaf ahlil hadits lis shobuni, hal:17-18. At-Tamhid 7/151. al-Asma was shifat lil baihaqi, hal: 407. Alhafidz Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Bari 13/406-407 mengatakan sanadnya jayyid, dan adz-Dzahabi dalam kitab al-Uluw, hal:103 menshohihkannya)</p>
<p>Yahya bin Ar-Robi’ mengatakan: Aku pernah bersama Imam Malik bin Anas, lalu ada seorang lelaki yang datang menemuinya, dan mengatakan: “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu terhadap orang yang mengatakan bahwa Alqur’an itu makhluk?” Imam malik menjawab: “Ia ini zindiq, bunuhlah dia!”. Orang itu mengatakan: “Wahai Abu Abdillah, aku hanya menceritakan perkataan yang ku dengar!”. Beliau mengatakan: “Aku belum pernah mendengarnya dari seorang pun, aku baru mendengarnya darimu”, dan beliau menganggap perkataan itu sangat berbahaya. (Al-Hilyah li abi Nu’aim 6/325. Syarhu Ushul I’tiqodi ahlissunnah wal jama’ah lil laalaka’i 1/249. Tartibul Madarik lil qodhi iyadh 2/44)</p>
<p>Abdulloh bin Nafi’ mengatakan: Imam Malik dahulu mengatakan: “Barangsiapa mengatakan Alqur’an itu makhluk, maka harusnya ia dihukum dengan cambukan dan dibui hingga bertaubat”. (Al-Intiqo’, hal:35).</p>
<p>Dari Abdulloh bin Nafi’: Imam malik mengatakan: “Alloh berada di atas langit, sedang ilmunya meliputi segala tempat”. (Masa’il Imam Ahmad li Abi Dawud, hal:263. Assunnah li abdillah bin Ahmad, hal:11. At-Tamhid libni Abdil Barr, 7/138).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://addariny.wordpress.com/2009/10/31/akidah-imam-malik-rohimahulloh/#more-1191</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/776/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=776&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/11/02/akidah-imam-malik-rohimahulloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ciri – Ciri Khusus Bagi Surat – Surat Makkiyah</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/28/ciri-%e2%80%93-ciri-khusus-bagi-surat-%e2%80%93-surat-makkiyah/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/28/ciri-%e2%80%93-ciri-khusus-bagi-surat-%e2%80%93-surat-makkiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 04:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Para ulama telah menganalisa surat – surat Makkiyah dan surat – surat Madaniyyah dalam Alqur’an. Merekapun berkesimpulan bahwa masing mempunyai ciri – ciri khusus dalam gaya bahasa dan pembahasan. Para ulamapun mengeluarkan beberapa kaidah dan ketentuan dalam hal ini.
Ketentuan – ketentuan tergolongnya suatu surat kedalam Makkiyah diantaranya adalah :
1. Setiap surat yang di dalamnya terdapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=772&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Para ulama telah menganalisa surat – surat Makkiyah dan surat – surat Madaniyyah dalam Alqur’an. Merekapun berkesimpulan bahwa masing mempunyai ciri – ciri khusus dalam gaya bahasa dan pembahasan. Para ulamapun mengeluarkan beberapa kaidah dan ketentuan dalam hal ini.</p>
<p><strong><span id="more-772"></span>Ketentuan – ketentuan tergolongnya suatu surat kedalam Makkiyah diantaranya adalah :</strong></p>
<p>1. Setiap surat yang di dalamnya terdapat ayat sajdah maka termasuk Makkiyah</p>
<p>2. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata “Kallaa”, maka termasuk Makkiyah</p>
<p>3. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata “يا أيها الناس” dan tidak terdapat “يا أيها الذين آمنوا”, maka termasuk Makkiyah. Kecuali dalam surat Al-hajj, karena di akhir – akhir surat terdapat ayat “يا أيها الذين آمنوا”. Tapi walaupun begitu, banyak para ulama menyatakan bahwa ayat tersebut termasuk Makkiyah juga.</p>
<p>4. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah para Nabi dan umat terdahulu, maka termasuk Makkiyah kecuali surat Albaqarah.</p>
<p>5. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah Adam dan Iblis, maka termasuk Makkiyah kecuali surat Albaqarah</p>
<p>6. Setiap surat yang dibuka dengan huruf – huruf Hijaiyyah seperti “Alif Laam Miim”, “Alif Laam Raa” “Haa Miim” dan yang semisalnya, maka termasuk Makkiyah, kecuali Azzahrowain, yaitu Surat Albaqarah dan Ali Imran, dan para ulama berbeda pendapat pada surat Arra’d.</p>
<p><strong>Adapun di lihat dari ciri pembahasan dan gaya bahasa, secara umum bisa dilihat dari poin berikut :</strong></p>
<p>1. Mengajak kepada tauhid dan hanya beribadah kepada Allah, pengukuhan kerasulan, pengukuhan adanya kebangkitan dan pembalasan, penyebutan hari Kiamat dan kehebatannya, neraka dan adzabnya, syurga dan kelezatannya, Mendebat orang – orang musyrik dan bukti – bukti kauniyyah ( alam semesta )</p>
<p>2. Peletakkan dasar – dasar umum untuk pensyariatan dan akhlaq – akhlaq terpuji yang dengannya dunia tetap eksis, pembeberan kejahatan – kejahatan kaum musyrikin tentang pembunuhan, memakan harta anak yatim, penguburan anak hidup – hidup, dan semua kebiasan buruk yang ada pada mereka .</p>
<p>3. Penyebutan kisah – kisah para Nabi dan umat – umat terdahulu sebagai peringatan bagi kaum musyrikin agar mereka mengambil pelajaran dari perjalanan akhir para pembangkang sebelum mereka, dan juga sebagai hiburan untuk Nabi sallallahu ‘Alaihi Wasallam agar bersabar dari kejahatan mereka dan agar merasa tenang bahwa beliau akan mengalahkan mereka.</p>
<p>4. Pendeknya potongan ayat – ayat beserta kuatnya kandungan lafadz – lafadznya, dan ungkapannya yang singkat, yang bisa memelingkan telinga, ketukan nadanya sangat keras terhadap pendengaran, menggetarkan hati, menguatkan kandungan ayat dengan banyaknya sumpah seperti di surat – surat yang pendek.</p>
<p>Wallahu A’lam</p>
<p>( Abu Maryam Abdusshomad, diambil dari kitab : Mabahits Fi Ulumil Qur’an oleh : Syaikh Manna’ al- Qhaththan )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatquran&amp;id=128</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/772/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=772&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/28/ciri-%e2%80%93-ciri-khusus-bagi-surat-%e2%80%93-surat-makkiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebab Utama Tertolaknya Hadits</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/28/sebab-utama-tertolaknya-hadits/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/28/sebab-utama-tertolaknya-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 04:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=769</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
&#160;
Para ulama telah membagi hadits – hadits yang tertolak kepada banyak macam. Sebagian besar mereka beri nama khusus untuk hadits tersebut, dan sebagian lain dimasukkan kedalam nama umum bagi hadits yang tertolak yaitu hadits dhaif.
Penyebab tertolaknya suatu hadits banyak sekali, tetapi secara umum semuanya kembali kepada dua sebab utama, yaitu :
Penyebab Utama  Pertama : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=769&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para ulama telah membagi hadits – hadits yang tertolak kepada banyak macam. Sebagian besar mereka beri nama khusus untuk hadits tersebut, dan sebagian lain dimasukkan kedalam nama umum bagi hadits yang tertolak yaitu hadits dhaif.<br />
Penyebab tertolaknya suatu hadits banyak sekali, tetapi secara umum semuanya kembali kepada dua sebab utama, yaitu :</p>
<p><strong><span id="more-769"></span>Penyebab Utama  Pertama : Gugurnya rawi pada sanad hadits ( Saqthun Minal Isnad )</strong><br />
Maksud dari gugurnya rawi pada sanad adalah terputusnya rangkaian sanad hadits karena gugurnya salah satu rawi atau lebih, baik gugur tersebut disengaja oleh sebagian rawi yang lain atau tidak sengaja, baik gugurnya itu di awal sanad, ditengah atau di akhirnya, dan baik gugurnya terlihat jelas atau tersembunyi.<br />
Kemudian gugurnya rawi pada sanad terbagi dua berdasarkan jelas dan samarnya, yaitu :</p>
<ul>
<li><strong>Gugur yang terlihat jelas ( Saqthun Dhahir )</strong></li>
</ul>
<p>Gugurnya rawi pada jenis ini bisa diketahui oleh para ulama ahli dan bisa juga diketahui oleh setiap orang yang punya perhatian di bidang ilmu hadits. Gugurnya rawi ini bisa diketahui dari tidak bertemunya seorang rawi dengan orang yang ia mengambil hadits darinya ( syaikhnya ), bisa disebabkan karena rawi tersebut tidak sezaman dengan syaikh tadi, atau sezaman tapi tidak bertemu dengannya. Oleh karena itu, seorang peneliti hadits membutuhkan pengetahuan tentang sejarah hidup para rawi, karena mencakup bahasan waktu lahir mereka, waktu wafat, waktu mereka menuntut ilmu, waktu perpindahan mereka dan sebagainya.<br />
Untuk gugurnya rawi yang terlihat jelas ini, para ulama telah memberi empat nama khusus dilihat berdasarkan letak gugurnya rawi atau jumlah rawi yang gugur pada sanad. Nama – nama tersebut adalah :<br />
1.	Mu’allaq<br />
2.	Mursal<br />
3.	Mu’dhal<br />
4.	Munqothi’</p>
<ul>
<li><strong>Gugur yang samar tersembunyi ( Saqthun Khafi )</strong></li>
</ul>
<p>Gugurnya rawi pada jenis ini hanya bisa diketahui oleh para ulama ahli yang mumpuni di bidang jalan – jalan hadits ( thuruq hadits) dan penyakit ( illat ) dari hadits – hadits.<br />
Para ulama telah memberi dua nama khusus untuk gugurnya rawi jenis ini, yaitu :<br />
1.	Mudallas<br />
2.	Mursal Khafi</p>
<p><strong>Penyebab Utama Kedua : Adanya Cela Pada Rawi</strong><br />
Maksud dari cela pada rawi adalah pembahasan cela pada rawi dilihat dari segi adilnya seorang rawi dan agamanya serta dari segi kekuatan hafalannya, ketelitian, dan semacamnya.<br />
Penyebab seorang rawi mempunyai cela ada sepuluh macam, lima macam berhubungan dengan sifat adilnya dam lima berhubungan dengan hafalan dan ketelitiannyai.<br />
Adapun yang berhubungan dengan celaan pada sifat adil seorang rawi adalah :<br />
1.	Berdusta<br />
2.	Tertuduh berdusta<br />
3.	Kefasikan<br />
4.	Bid’ah<br />
5.	Jahalah ( tidak diketahuinya identitas rawi )</p>
<p>Adapun yang berhubungan dengan celaan pada hafalan dan ketelitian rawi adalah :<br />
1.	Fuhsyul gholath ( banyaknya kesalahan dalam riwayat )<br />
2.	Su’ul hifdz ( buruknya hafalan )<br />
3.	Ghoflah ( kelupaan dan kealpaan )<br />
4.	Katsrotul Auham ( banyaknya kealpaan)<br />
5.	Mukhalafatuts Tsiqot ( penyelisihan kepada orang yang lebih terpercaya )</p>
<p>( Abu Maryam Abdusshomad, diambil dari : Taisir Musthalah Hadits oleh Dr. Mahmud Thahhan )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&amp;id=158</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/769/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=769&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/28/sebab-utama-tertolaknya-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BEKERJA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DIRI DAN KELUARGANYA</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/bekerja-untuk-memenuhi-kebutuhan-diri-dan-keluarganya/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/bekerja-untuk-memenuhi-kebutuhan-diri-dan-keluarganya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=766</guid>
		<description><![CDATA[

Ahmad bercita-cita menjadi pedagang. Ketika saya ceritakan kepada teman-teman, mereka banyak yang menyayangkan mengapa ia tidak bercita-cita untuk menjadi ulama? Mengapa saya tidak mengarahkannya agar mengubah cita-citanya untuk menjadi ulama? Pertama, mungkin orangtua Ahmad telah mengarahkan anaknya agar ketika besar memilih menjadi pedagang. Sehingga saya merasa tidak berhak mengarahkan untuk bercita-cita kepada yang lain selama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=766&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div>
<p style="text-align:justify;">Ahmad bercita-cita menjadi pedagang. Ketika saya ceritakan kepada teman-teman, mereka banyak yang menyayangkan mengapa ia tidak bercita-cita untuk menjadi ulama? Mengapa saya tidak mengarahkannya agar mengubah cita-citanya untuk menjadi ulama? Pertama, mungkin orangtua Ahmad telah mengarahkan anaknya agar ketika besar memilih menjadi pedagang. Sehingga saya merasa tidak berhak mengarahkan untuk bercita-cita kepada yang lain selama cita-citanya bukan maksiat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-766"></span>Kedua, menurut saya tidak ada pertentangan antara menjadi pedagang dan ulama karena berapa banyak ulama-ulama Islam yang usahanya sebagai pedagang sebagaimana kita dapatkan dalam buku <em>Siyar A’laam An-Nubalaa’</em> yang ditulis oleh Imam Adz-Dzahabi <em>Rahimahullah</em>. Nasihat untuk para orang tua hendaklah mengarahkan dan menumbuhkan minat anak agar memiliki cita-cita mulia dan disesuaikan dengan kebutuhan umat serta kemampuan dan bakat anak. Ketika anak sudah besar, janganlah memaksakan keinginan kepadanya, selama masih dalam batas-batas yang telah disebutkan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara yang membantu seorang muslim pada umumnya dan seorang dai khususnya, dalam memelihara ilmu dan dirinya adalah dengan bekerja mencari nafkah dari jalan yang halal, seperti berdagang atau pekerjaan lainnya. Dengan bekerja, ia dapat memelihara kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta kepada orang lain serta tidak bergantung kepada manusia, tidak takut kepada mereka dan tidak menaruh harapan kepada mereka kecuali hanya kepada Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Para nabi <em>Alaihimush Salatu Was Salam</em> dalam menjalankan dakwah, mereka tidak meminta upah, tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terimakasih. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Zakaria <em>Alaihis Salam</em> adalah seorang yang pandai dalam perkayuan. Nabi Daud <em>Alaihis Salam</em> adalah seorang yang pandai dalam hal besi. Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> bersabda,</p>
<h2 style="text-align:right;">مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ –عَلَيْهِ السَّلاَمُ- كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. رواه البخاري</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Yang terbaik bagi seseorang dalam hal memakan makanan adalah dengan memakan dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud Alaihis Salam memakan dari hasil usahanya sendiri.”</em> [1]</p>
<p style="text-align:justify;">Pekerjaan yang mulia mendidik seseorang untuk bertawakal kepada Allah, melatih untuk menjadi orang yang rendah hati (tawadhu’) dan mendidik untuk menjadi orang yang bertanggungjawab.</p>
<p style="text-align:justify;">Hendaklah ia, istri dan anak-anaknya menjadi orang yang qana’ah, selalu merasa cukup atas pemberian dan karunia Allah, jika mereka telah berdoa, berikhtiar dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Hendaklah melihat orang yang berada di bawah kita dalam hal ekonomi dan urusan keduniaan. Sehingga selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tidak terhingga dan tidak terbilang.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dalam urusan ibadah, ilmu agama dan amal saleh lainnya hendaklah melihat orang yang berada di atas, sehingga terhindar dari ujub dan sombong. Bahkan kita harus selalu merasa sedikit dalam ibadah dan amal saleh. Dengan demikian akan memotifasi kita agar lebih giat lagi dalam mengoreksi diri dan berupaya selalu meluruskan niat serta meningkatkan ibadah dan amal saleh.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bekerja seperti berdagang atau lainnya, jangan sampai melalaikan seseorang dari kewajiban-kewajiban seperti salat, puasa, zakat, haji, berbakti kepada kedua orangtua, mendidik istri dan anak-anaknya, silaturahmi, menuntut ilmu agama dan lainnya. Hendaklah seorang muslim sadar bahwa tujuan yang hakiki dalam hidup di dunia adalah agar menjadi hamba Allah yang sejati, menjadikan dunia sebagai ladang untuk akhirat. Allah berfirman yang artinya,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”</em> (QS. Al-Qashash: 77);</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”</em> (QS. An-Nuur: 37-38 )</p>
<p style="text-align:justify;">Memang dunia dengan segala keindahannya menarik hati manusia dan membuat mereka terpesona. Sedikit demi sedikit, tanpa sadar manusia rela menggadaikan akidah dan keimanannya untuk meraih ambisi berupa kenikmatan dunia yang semu dan melalaikan. Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> bersabda,</p>
<h2 style="text-align:right;">مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ. رواه أحمد والترمذي وغيرهما</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan..”</em> [2]</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits di atas telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab <em>Rahimahullah</em> dalam sebuah buku tersendiri dan telah diringkas ke dalam bahasa Indonesia serta dimuat di bagian akhir buku “Tabir Hidayah (10 Penghalang Untuk Mengikuti Kebenaran)”.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita harus hati-hati, jangan mudah mengklaim orang lain sebagai orang yang lalai dan tenggelam dalam kehidupan dunia. Hal itu nantinya akhirnya nanti akan berbalik kepada diri sendiri, semoga Allah melindungi diri kita semua dari fitnah dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Hidup adalah ujian, hidup ini dipenuhi dengan tantangan, rintangan dan batu sandungan. Hendaklah selalu berdoa kepada Allah agar menyelamatkan kita dari segala ketergelinciran, membahagiakan kita di dunia dan akhirat, memberi kita rezeki yang halal dan memberkahi usaha kita dan melindungi dari rezeki yang haram. Kita mohon kepada Allah agar dikaruniai ilmu yang bermanfaat sehingga dapat membedakan yang halal dan yang haram. Menetapkan kesabaran agar dapat beristiqamah dalam berpegang teguh kepada kebenaran di tengah-tengah badai godaan, bujukan dan rintangan. Semoga Allah menjadikan kita selalu ingat akan kematian dan menjadikan akhir hidup kita di dunia dalam keadaan husnul khatimah.</p>
<p>Imam Syafi’i <em>Rahimahullah</em> berkata,</p>
<h2 style="text-align:center;">عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ إِنْ كُنْتَ غَافِلاً                  يَأْتِيْكَ بِالْأَرْزَاقِ مِنْ حَيْثُ لاَتَدْرِيْفَكَيْفَ</h2>
<h2 style="text-align:center;">تَخَافُ الْفَقْرَ وَاللهُ رَازِقًا                     فَقَدْ رَزَقَ الطَّيْرَ وَالْحُوْتَ فِى الْبَحْرِ</h2>
<h2 style="text-align:center;">وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ الرِّزْقَ يَأْتِيْ بِقُوَّةٍ                       مَا أَكَلَ الْعُصْفُوْرُ شَيْئًا مَعَ النَّسْرِتَزُوْلُ عَنِ الدُّنْيَا فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِيْ             	إِذَا جَنَّ عَلَيْكَ اللَّيْلُ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ</p>
<p>فَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ          وَكَمْ مِنْ سَقِيْمٍ عَاشَ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ</p>
<p>وَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا      وَأَكْفَانُهُ فِى الْغَيْبِ تُنْسَجُ وَهْوَ لاَ يَدْرِيْ</p>
<p>فَمَنْ عَاشَ أَلْفًا وَأَلْفَيْنِ                          فَلاَ بُدَّ مِنْ يَوْمٍ يَسِيْرُ إِلَى  الْقَبْرِ</h2>
<p style="text-align:center;"><em>Bertakwalah kepada Allah jika kamu lalai<br />
Niscaya dia memberimu rezeki dari jalan yang tidak kamu ketahui<br />
Bagaimana kamu takut kefakiran padahal Allah pemberi rezeki<br />
Dia memberi rezeki kepada burung dan ikan di laut bahari<br />
Barangsiapa menyangka bahwa kekuatan mendatangkan rezeki<br />
Tentu burung pipit kalah dengan burung elang tidak mendapat rezeki<br />
Kamu pasti akan meninggalkan dunia dan kamu tidak mengetahui<br />
Apabila malam tiba apakah kamu akan tetap hidup sampai besok pagi<br />
Berapa banyak orang sehat yang meninggal tanpa sakit lagi<br />
Berapa banyak orang sakit yang tetap hidup bertahun-tahun lagi<br />
Berapa banyak anak muda yang tertawa-tawa ketika sore dan pagi<br />
Padahal kain kafannya sedang dijahit sedang dia tidak menyadari<br />
Barangsiapa dapat hidup seribu atau dua ribu tahun lagi<br />
Ia akan mendatangi kubur dan itu sudah pasti</em></p>
<p style="text-align:left;">———–</p>
<p style="text-align:justify;">[1] HR. Bukhari. Lihat<em> kitaabul buyuu’</em>, No. 2072 dan <em>Fathul Baari</em>, jilid 4, hal. 355.</p>
<p style="text-align:justify;">[2] HR. Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam <em>Shahih</em>nya. Syaikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq mengatakan, Hadits ini telah dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Albani dan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>29 Pelajaran Berharga dari Kisah Dai Cilik</em>, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darus Sunnah Jakarta)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">http://fariqgasimanuz.wordpress.com/</p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/766/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=766&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/bekerja-untuk-memenuhi-kebutuhan-diri-dan-keluarganya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKIDAH IMAM ABU HANIFAH -rohimahulloh-</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/akidah_imam_-abu_hanifah_rohimahulloh/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/akidah_imam_-abu_hanifah_rohimahulloh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/763/</guid>
		<description><![CDATA[AKIDAH IMAM ABU HANIFAH -rohimahulloh-.
قال الإمام أبو حنيفة: لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين، وغضبه ورضاه صفتان من صفاته بلا كيف، وهو قول أهل السنة والجماعة، وهو يغضب ويرضى ولا يقال: غضبه عقوبته، ورضاه ثوابه. ونصفه كما وصف نفسه أحد صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد، حي قادر سميع بصير عالم، [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=763&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>AKIDAH IMAM ABU HANIFAH -rohimahulloh-.</strong></p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين، وغضبه ورضاه صفتان من صفاته بلا كيف، وهو قول أهل السنة والجماعة، وهو يغضب ويرضى ولا يقال: غضبه عقوبته، ورضاه ثوابه. ونصفه كما وصف نفسه أحد صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد، حي قادر سميع بصير عالم، يد الله فوق أيديهم، ليست كأيدي خلقه، ووجهه ليس كوجوه خلقه</strong><strong> </strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Alloh ta’ala tidak boleh disifati dengan sifatnya para makhluk, sifat marah dan ridho adalah dua sifat dari banyak sifat-Nya dengan tanpa mempertanyakan bagaiamana wujudnya. Ini adalah perkataan Ahlussunnah waljama’ah, Dia itu bisa marah dan Dia juga bisa ridho. Tidak boleh dikatakan: bahwa marah-Nya adalah siksaan-Nya, dan ridho-Nya adalah pahala-Nya. Kita menyifati-Nya sebagaimana Dia menyifati diri-Nya, yang esa, yang semua membutuhkan-Nya, tidak melahirkan, tidak dilahirkan, dan tidak ada yang menyamai-Nya. Dia lah yang maha hidup, maha berkuasa, maha melihat, dan maha mengetahui. Tangan Alloh berada di atas tangan makhluk-Nya, tidak seperti tangan makhluk-Nya, dan wajah-Nya juga tidak seperti wajah-wajah makhluk-Nya”. (Al-Fikhul Absath, hal: 56)<span id="more-763"></span></p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: وله يد ووجه ونفس كما ذكره الله تعالى في القرآن، فما ذكره الله تعالى في القرآن، من ذكر الوجه واليد والنفس فهو له صفات بلا كيف، ولا يقال: إن يده قدرته أو نعمته؛ لأن فيه إبطالَ الصفة، وهو قول أهل القدر والاعتزال</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Alloh ta’ala memiliki tangan, wajah, dan dzat, sebagaimana Alloh menyebutnya dalam Alqur’an. Dan apa yang disebutkan Alloh dalam Alqur’an, seperti wajah, tangan, dan dzat, maka itu merupakan sifat bagi-Nya, dengan tanpa mempertanyakan bagaimana wujudnya. Tidak boleh dikatakan: bahwa tangan-Nya adalah kekuasaan-Nya, karena yang demikian itu termasuk menafikan sifat, dan itu merupakan perkataan kelompok qodariyah dan mu’tazilah…” (Al-Fikhul Akbar, hal: 302)</p>
<p align="center"><strong>قال البزدوي: العلم نوعان علم التوحيد والصفات، وعلم الشرائع والأحكام. والأصل في النوع الأول هو التمسُّك بالكتاب والسُّنة ومجانبة الهوى والبدعة ولزوم طريق السنُّة والجماعة، وهو الذي عليه أدركنا مشايخنا وكان على ذلك سلفنا أبو حنيفة وأبو يوسف ومحمد وعامة أصحابهم. وقد صنف أبو حنيفة – رضي الله عنه – في ذلك كتاب الفقه الأكبر، وذكر فيه إثبات الصفات وإثبات تقدير الخير والشر من الله</strong></p>
<p>Al-Bazdawi mengatakan: “Ilmu itu ada dua jenis: ilmu tauhid dan sifat, dan ilmu hukum dan syariat. Adapun jenis pertama, maka dasarnya adalah berpegang teguh dengan Alquran dan Assunnah, menjauhi hawa nafsu dan bid’ah, serta menetapi jalan Ahlussunnah waljama’ah. Itulah jalan yang ditempuh oleh para syeikh yang kami temui, dan itu pula jalannya Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, dan mayoritas sahabatnya. Dan Imam Abu Hanifah -semoga Alloh meridhoinya- telah mengarang kitab <strong>fikih akbar</strong>, dan didalamnya menyebutkan penetapan sifat dan takdir dari Alloh, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk…”. (ushul bazdawi, hal: 3. Kasyful Asror 1/7-8)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: لا ينبغي لأحد أن ينطق في ذات الله بشيء، بل يصفه بما وصف به نفسه، ولا يقول فيه برأيه شيئاً تبارك الله تعالى ربّ العالمين</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Tidak pantas bagi siapapun, mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan dzat Alloh. Tapi (yang benar adalah) menyifati-Nya dengan sifat yang diterangkan oleh-Nya, dan tidak mengatakan apapun di dalamnya dengan pendapatnya, maha suci dan maha tinggi Alloh, tuhan semesta alam”. (syarah Akidah thohawiyah 2/427, dan jala’ul ainain, hal: 368 )</p>
<p align="center"><strong>سئل الإمام أبو حنيفة عن النزول الإلهي، فقال: ينزل بلا كيف</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah pernah ditanya tentang turunnya Alloh (ke langit dunia), maka beliau menjawab: “Dia turun, entah bagaimana wujudnya”. (akidah salaf ash-habil hadits, hal: 42, Al-Asma’ was shifat lil baihaqi, hal: 456, Syarhut thohawiyah, hal: 245, Syarhul fiqhil Akbar lil qori, hal: 60)</p>
<p align="center"><strong>قال الملاَّ علي القاري بعد ذكره قول الإمام مالك: “الاستواء معلوم والكيف مجهول…”: اختاره إمامنا الأعظم – أي أبو حنيفة – وكذا كل ما ورد من الآيات والأحاديث المتشابهات من ذكر اليد والعين والوجه ونحوها من الصفات. فمعاني الصفات كلها معلومة وأما كيفيتها فغير معقولة؛ إذْ تَعقُّل الكيف فرع العلم لكيفية الذات وكنهها. فإذا كان ذلك غير معلوم؛ فكيف يعقل لهم كيفية الصفات. والعصمة النَّافعة من هذا الباب أن يصف الله بما وصف به نفسه، ووصفه به رسوله من غير تحريف ولا تعطيل ومن غير تكييف ولا تمثيل، بل يثبت له الأسماء والصفات وينفي عنه مشابهة المخلوقات، فيكون إثباتك منزهاً عن التشبيه، ونفيك منزَّهاً عن التعطيل. فمن نفى حقيقة الاستواء فهو معطل ومن شبَّهه باستواء المخلوقات على المخلوق فهو مشبِّه، ومن قال استواء ليس كمثله شيء فهو الموحِّد المنزه</strong></p>
<p>Setelah menyebutkan perkataan Imam Malik: “Sifat istiwa’ itu diketahui (maknanya), sedangkan bagaimana bentuknya itu tidak diketahui…”, Al-Mulla Ali Al-Qori mengatakan: “Inilah yang dipilih oleh Imam kami yang mulia -yakni Abu Hanifah-, begitu pula semua sifat yang datang dari banyak ayat maupun hadits mutasyabihat (dari sisi hakekatnya), yang menyebutkan sifat tangan, mata, wajah, dan banyak sifat yang sejenisnya. Semua makna sifat-sifat itu bisa dipahami, adapun bagaiamana bentuknya maka itu tidak bisa dinalar, karena memikirkan bagaimana bentuknya adalah cabang dari mengetahui bagaimana bentuk dzat dan hakikatnya. Dan jika hal itu tidak diketahui, maka bagaiamana mereka bisa memikirkan bagaimana bentuk sifat-Nya?!. Pintu keselamatan yang sangat bermanfaat dalam bab ini adalah, dengan menyifati Alloh dengan sifat yang diterangkan oleh-Nya dan Rosul-Nya, dengan tanpa merubah dan menafikannya, serta tanpa mempertanyakan bagaimana wujudnya dan menyerupakannya. Tapi (yang benar adalah) dengan menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat, dan menafikan dari-Nya penyerupaan-Nya dengan para makhluknya. Sehingga penetapanmu bebas dari penyerupaan, dan penafianmu bebas dari penghapusan sifat. Maka barangsiapa menafikan hakekat istiwa’ maka ia menjadi orang menafikan sifat-Nya, sedang barangsiapa menyerupakan istiwa’nya dengan istiwa’nya para makhluk, maka ia menjadi orang yang menyerupakan sifat-Nya (dengan sifatnya para makhluk), adapun barangsiapa yang mengatakan: istiwa’-Nya itu tidak seperti istiwa’nya yang lain, maka dialah orang yang mensucikan dan mentauhidkannya”. (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih 8/251)</p>
<p align="center"><strong>قال الألوسي الحنفيُّ: أنت تعلم أن طريقة كثير من العلماء الأعلام وأساطين الإسلام الإمساك عن التأويل مطلقاً مع نفي التَّشبيه والتجسيم. منهم الإمام أبو حنيفة، والإمام مالك، والإمام أحمد، والإمام الشافعيَّ، ومحمد بن الحسن، وسعد بن معاذ المروزيُّ، وعبد الله بن المبارك، وأبو معاذ خالد بن سليمان صاحب سفيان الثوري، وإسحاق بن راهُويه، ومحمد بن إسماعيل البخاري، والترمذي، وأبو داود السجستاني</strong></p>
<p>Imam Al-Alusi Al-Hanafi mengatakan: “Kamu tahu bahwa jalannya banyak ulama besar dan para pengabdi islam adalah sama sekali tidak menta’wil sifat Alloh, sekaligus menafikan penyerupaan dan penjasmanian, diantara para ulama besar itu adalah: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Muhammad bin Hasan, Sa’d bin Mu’adz al-marwazi, Abdulloh bin Mubarok, Abu Mu’adz Kholid bin Sulaiman (sahabatnya Sufyan Ats-Tsauri), Ishak bin Rohuyah, Imam Bukhori, Imam At-Tirmidzy, dan Imam Abu Dawud As-Sijistani…” (Ruhul Ma’ani, 2/456)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: ولا يشبه شيئاً من الأشياء من خلقه، ولا يشبهه شيء من خلقه، لم يزل ولا يزال بأسمائه وصفاته</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Dia sama sekali tidak menyerupai makhluknya, sebaliknya tidak ada sesuatupun dari makhluknya yang menyerupainya, Dia tetap dan akan terus dengan nama-nama dan sifat-sifatNya…” (Al-Fikhul Akbar, hal: 301)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: وصفاته بخلاف صفات المخلوقين يعلم لا كعلمنا، ويقدر لا كقدرتنا، ويرى لا كرؤيتنا، ويسمع لا كسمعنا، ويتكلَّم لا ككلامنا</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Sifat-sifat Alloh itu tidak seperti sifat-sifatnya para makhluk, Dia mengetahui tapi tidak seperti pengetahuan kita, Dia berkuasa tapi tidak seperti kekuasaan kita, Dia melihat tapi tidak seperti penglihatan kita, Dia mendengar tapi tidak seperti pendengaran kita, dan Dia berbicara tapi tidak seperti berbicaranya kita…” (Al-Fikhul Akbar, hal: 302)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Alloh ta’ala tidak boleh disifati dengan sifat-sifatnya para makhluk. (Al-Fikhul Absath, hal: 56)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: وصفاته الذاتية والفعلية: أما الذاتية فالحياة والقدرة والعلم والكلام والسمع والبصر والإرادة، وأما الفعلية فالتخليق والترزيق والإنشاء والإبداع والصنع وغير ذلك من صفات الفعل لم يزل ولا يزال بأسمائه وصفاته</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Sifat-sifat Alloh itu (ada dua): Dzatiyah dan Fi’liyah. Contoh sifat dzatiyah, seperti: memiliki kehidupan, kekuasaan, perkataan, pendengaran, penglihatan, dan kehendak. Adapun contoh sifat fi’liyah, seperti: Menciptakan, memberi rizki, menumbuhkan, memulai, membuat, dan sifat-sifat pekerjaan-Nya yang lainnya. Dia tetap dan akan terus dengan nama-nama dan sifat-sifatNya”. (Al-Fikhul Akbar, hal: 301)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: ولم يزل فاعلاً بفعله، والفعل صفة في الأزل، والفاعل هو الله تعالى، والفعل صفة في الأزل والمفعول مخلوق وفعل الله تعالى غير مخلوق</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Alloh akan terus dengan perbuatan-Nya. Perbuatan-Nya adalah sifat azali, dan pelakunya adalah Alloh ta’ala. Perbuatan-Nya adalah sifat azali, dan obyek perbuatannya itu makhluk, sedang perbuatan Alloh ta’ala, itu bukan makhluk”. (Al-Fikhul Akbar, hal: 301)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: من قال لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض فقد كفر، وكذا من قال إنه على العرش، ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Barangsiapa mengatakan: aku tidak tahu Tuhanku, apa Dia di langit atau di bumi, maka ia telah kafir! Begitu pula orang yang mengatakan: Sesungguhnya Dia di atas Arsy, tapi aku tidak tahu Arsy, apakah di langit atau di bumi?” (Al-Fikhul Absath, hal: 49. Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah 5/48. Ijtima’ juyusy islamiyah, hal: 139. Al-Uluw lidz Dzahabi, hal: 101-102. Al-Uluw libni Qudamah, hal: 116. Syarah thohawiyah libni Abil Izz, hal: 301)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة للمرأة التي سألته أين إلهك الذي تعبده؟ قال: إن الله سبحانه وتعالى في السماء دون الأرض، فقال رجل: أرأيت قول الله تعالى: {وَهُوَ مَعَكُمْ}  قال: هو كما تكتب للرجل إني معك وأنت غائب عنه </strong></p>
<p>Ada wanita bertanya kepada Imam Abu Hanifah: “Dimana tuhanmu yang kau sembah itu?”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya Alloh subhanahu wata’ala di atas langit, bukan di bumi”. Lalu ada seorang lelaki mengatakan: “Bukankah kau tahu firman Alloh ta’ala: Dia (Alloh) itu bersama kalian?!” (surat Al-Hadid:4). Maka beliau mengatakan: “Itu seperti kamu menulis surat kepada orang lain: sungguh aku bersamamu, padahal kamu tidak bersamanya”. (Al-Asma’ was Shifat, hal: 429)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: والقرآن غير مخلوق</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Alqur’an itu bukan makhluk”. (Al-Fikhul Akbar, hal: 301)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: ونقر بأن القرآن كلام الله تعالى غير مخلوق</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Kami mengikrarkan bahwa Alqur’an itu kalamulloh, bukan makhluk. (al-Jawahirul Manfiyah fi syarhi washiyatil Imam, hal: 10)</p>
<p align="center"><strong>قال الإمام أبو حنيفة: ونقر بأن الله تعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة</strong></p>
<p>Imam Abu Hanifah mengatakan: “Kami mengikrarkan bahwa Alloh ta’ala berada di atas Arsy, dan Dia tidak membutuhkannya. (Syarhul Washiyah, hal: 10)</p>
<p>http://addariny.wordpress.com/2009/10/24/akidah-imam-abu-hanifah-rohimahulloh/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/763/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=763&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/akidah_imam_-abu_hanifah_rohimahulloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NIFAS</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/nifas/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/nifas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan. Baik darah itu keluar bersamaan ketika proses melahirkan, sesudah atau sebelum melahirkan, yang disertai dengan dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan, seperti rasa sakit, dll. Rasa sakit yang dimaksud adalah rasa sakit yang kemudian diikuti dengan kelahiran. Jika darah yang keluar tidak disertai rasa sakit, atau disertai rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=760&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan. Baik darah itu keluar bersamaan ketika proses melahirkan, sesudah atau sebelum melahirkan, yang disertai dengan dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan, seperti rasa sakit, dll. Rasa sakit yang dimaksud adalah rasa sakit yang kemudian diikuti dengan kelahiran. Jika darah yang keluar tidak disertai rasa sakit, atau disertai rasa sakit tapi tidak diikuti dengan proses kelahiran bayi, maka itu bukan darah nifas.</p>
<p>Selain itu, darah yang keluar dari rahim baru disebut dengan nifas jika wanita tersebut melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia. Jika seorang wanita mengalami keguguran dan ketika dikeluarkan janinnya belum berwujud manusia, maka darah yang keluar itu bukan darah nifas. Darah tersebut dihukumi sebagai darah penyakit (istihadhah) yang tidak menghalangi dari shalat, puasa dan ibadah lainnya.</p>
<p><span id="more-760"></span>Perlu diketahui bahwa waktu tersingkat janin berwujud manusia adalah delapan puluh hari dimulai dari hari pertama hamil. Dan sebagian pendapat mengatakan sembilan puluh hari.</p>
<p>Sebagaimana hadits dari Ibnu Mas’ud <em>sradhiyallahu ‘anhu </em>, bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> memberitahukan kepada kami, dan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> adalah orang yang benar dan yang mendapat berita yang benar, <em>“Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah seperti itu pula, kemudian menjadi mudhghah seperti itu pula. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan kepadanya untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Menurut Ibnu Taimiyah, “Manakala seorang wanita mendapati darah yang disertai rasa sakit sebelum masa (minimal) itu, maka tidak dianggap sebagai nifas. Namun jika sesudah masa minimal, maka ia tidak shalat dan puasa. Kemudian apabila sesudah kelahiran ternyata tidak sesuai dengan kenyataan (bayi belum berbentuk manusia-pen) maka ia segera kembali mengerjakan kewajiban. Tetapi kalau ternyata demikian (bayi sudah berbentuk manusia-pen), tetap berlaku hukum menurut kenyataan sehingga tidak perlu kembali mengerjakan kewajiban.” (kitab <em>Syarhul Iqna’</em>)</p>
<p>Secara ringkas dapat disimpulkan beberapa hal untuk mengenali darah nifas:</p>
<ol>
<li> Nifas adalah darah yang keluar dari rahim disebabkan melahirkan, baik sebelum, bersamaan atau sesudah melahirkan</li>
<li> Disertai dengan tanda-tanda akan melahirkan (seperti rasa sakit, dll) yang diikuti dengan proses kelahiran</li>
<li> Bayi yang dilahirkan/ dikeluarkan sudah berbentuk manusia (terdapat kepala, badan dan anggota tubuh lain seperti tangan dan kaki, meskipun belum sempurna benar)</li>
</ol>
<p><strong>Lama Keluarnya Darah Nifas</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam <em>Risalah fid Dima’ Ath-Thabi’iyah lin Nisa</em> mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang apakah nifas itu ada batas minimal dan maksimalnya.</p>
<p>Adapun Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi di dalam <em>Al Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz</em> mengatakan bahwa nifas ada batas maksimalnya, yaitu empat puluh hari. Pendapat beliau berdasarkan hadits dari Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata,<em> “Kaum wanita yang nifas tidak shalat pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  selama empat puluh hari.”</em> (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Hadits hasan shahih). Waktu empat puluh hari dihitung sejak keluarnya darah, baik darahnya itu keluar bersamaan, sebelum atau sesudah melahirkan.</p>
<p>Pendapat yang kuat, insyaa Allah, pada dasarnya tidak ada batasan minimal atau maksimal lama waktu nifas. Waktu empat puluh hari adalah kebiasaan sebagian besar kaum wanita. Akan tetapi apabila sebelum empat puluh hari wanita tersebut telah suci, maka ia wajib mandi dan melakukan ibadah wajibnya lagi.</p>
<p>Mengenai banyaknya darah, juga tidak ada batasan sedikit atau banyaknya. Selama darah nifas masih keluar maka sang wanita belum wajib mandi (bersuci).</p>
<p>Secara ringkas, ada beberapa kondisi wanita yang sedang nifas:</p>
<ol>
<li>Darah nifas berhenti keluar sebelum 40 hari dan tidak keluar lagi setelah itu. Maka sang wanita wajib mandi (bersuci) dan kemudian melakukan ibadah wajibnya lagi, seperti shalat dan puasa, dll.</li>
<li>Darah nifas berhenti keluar sebelum 40 hari, akan tetapi kemudian darah keluar lagi sebelum hari ke-40. Maka, jika darah berhenti ia mandi (bersuci) untuk shalat dan puasa. Jika darah keluar, ia harus meninggalkan shalat dan puasa. Akan tetapi, bila berhentinya darah kurang dari sehari, maka tidak dihukumi suci.</li>
<li>Darah nifas terus keluar dan baru berhenti setelah hari ke-40. Maka sang wanita harus mandi (bersuci).</li>
<li>Darah terus keluar hingga melebihi waktu 40 hari. Ada beberapa kondisi:
<ol>
<li>Darah nifas berhenti dilanjutkan keluarnya darah haid (berhentinya darah nifas bertepatan waktu haid), maka sang wanita tetap meninggalkan shalat dan puasa. Darah yang keluar setelah 40 hari dihukumi sebagai darah haid. Sang wanita baru wajib mandi (bersuci) setelah darah haid tidak keluar lagi.</li>
<li>Darah tetap keluar setelah 40 hari dan tidak bertepatan dengan kebiasaan masa haid, ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut ulama yang berpendapat bahwa lama maksimal nifas adalah 40 hari, menilai darah yang keluar setelah 40 hari sebagai darah <em>fasadh </em>(penyakit) yang statusnya adalah sebagaimana <a title="Istihadlah" href="http://muslimah.or.id/fikih/hukum-seputar-darah-wanita-istihadlah.html" target="_self"><em>istihadhah</em></a>. Sedangkan menurut ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal dan maksimal lama nifas, mereka menilai darah yang keluar setelah 40 hari tetap sebagai darah nifas. Pendapat inilah yang lebih kuat, insya Allah.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Akan tetapi, jika ingin berhati-hati, setelah 40 hari dinilai suci. Sehingga sang wanita bersuci untuk melaksanakan shalat dan puasa, meski darah tetap keluar. Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada 2 keadaan:</p>
<ul>
<li> Ada tanda bahwa darah akan berhenti/ makin sedikit. Maka sang wanita menunggu darah berhenti keluar, baru kemudian mandi (bersuci)</li>
<li> Ada kebiasaan dari kelahiran sebelumnya, maka itu yang dipakai. Misal, sang wanita telah mengalami beberapa kali nifas yang lamanya 50 hari. Maka batasan ini yang dipakai.</li>
</ul>
<p><strong>Hal-hal yang Diharamkan bagi Wanita yang Nifas</strong><br />
Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang sedang nifas diharamkan melakukan apa saja yang diharamkan bagi wanita yang haid. Antara lain,</p>
<ol>
<li>Sholat.<br />
Wanita yang haid dan nifas haram melakukan shalat fardhu maupun sunnah, dan mereka tidak perlu menggantinya apabila suci. (Ibnu Hazm di dalam kitabnya <em>al-Muhalla</em>)</li>
<li>Puasa.<br />
Wanita yang sedang nifas tidak boleh melakukan puasa wajib maupun sunnah. Akan tetapi ia wajib mengqadha puasa wajib yang ia tinggalkan pada masa nifas. Berdasarkan hadits Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, <em>“Ketika kami mengalami haid, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”</em> (Muttafaq ‘alaih)</li>
<li>Thawaf.<br />
Wanita haid dan nifas diharamkan melakukan thawaf keliling ka’bah, baik yang wajib maupun sunnah, dan tidah sah thawafnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> bersabda kepada Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, <em>“Lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah sampai kamu suci.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Jima’.<br />
(lihat sub judul “Hukum Suami yang Bercampur dengan Istri yang sedang Nifas”)</li>
<li>Tidak bleh diceraikan.<br />
Diharamkan bagi suami menceraikan istrinya yang sedang haid atau nifas. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,<em> “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (dengan wajar).”</em> (Qs. ath-Thalaq: 1)</li>
</ol>
<p><strong>Hukum-hukum Seputar Nifas</strong><br />
Tidak ada perbedaan hukum antara haid dan nifas, <strong>kecuali </strong>beberapa hal di bawah ini:</p>
<p><strong>1. Iddah</strong><br />
Apabila wanita tidak sedang hamil, masa iddah dihitung dengan haid, bukan dengan nifas. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, <em>“Wanita-wanita yang dicerai hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’…”</em> (Qs. al-Baqarah: 228)<br />
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, yang dimaksud ‘<em>quru</em>‘ adalah haid, dan inilah pendapat yang lebih kuat, insyaa Allah. Oleh karena itu, masa iddah dihitung berdasarkan haid, bukan nifas. Sebab, jika suami menceraikan istrinya sebelum melahirkan, masa iddahnya habis karena melahirkan, bukan karena nifas. Adapun jika suami menceraikan istrinya setelah melahirkan, maka masa iddahnya adalah sampai sang istri mendapat 3 kali haid.</p>
<p><strong>2. Masa Ila’</strong><br />
Ila’ adalah sumpah seorang laki-laki untuk tidak melakukan jima’ terhadap istrinya selamanya atau lebih dari empat bulan. Setelah masa empat bulan, bila sang istri meminta untuk berhubungan, maka sang suami harus memilih antara jima’ atau bercerai.</p>
<p>Masa haid termasuk hitungan masa ila’, sedangkan masa nifas tidak. Jadi, apabila seorang suami bersumpah untuk tidak berjima’ dengan istrinya, sedangkan istrinya sedang dalam keadaan nifas, maka masa ila’ ditetapkan empat bulan ditambah masa nifas. Setelah masa itu, bila sang istri meminta untuk melakukan jima’, sang suami harus memilih apakah jima’ atau bercerai.</p>
<p><strong>3. Balighnya seorang wanita dihitung dari saat haid pertama kali, bukan nifas.</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Hukum Suami yang Bercampur dengan Istri yang sedang Nifas</strong><br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah </em>berkata, “Menggauli wanita nifas sama halnya dengan wanita haid, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama.” (Lihat Majmu’ Fatawa)<br />
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,<em> “Mereka bertanya kepadamu tentang wanita haid, maka katakanlah, “Bahwa haid adalah suatu kotoran, maka janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci.” </em>(Qs. al-Baqarah: 222)</p>
<p>Seorang suami boleh sekedar bercumbu dengan istri yang sedang nifas asal tidak sampai jima’. Akan tetapi bila sampai terjadi jima’, para ulama berselisih pendapat apakah wajib membayar kaffarah (denda) ataukah tidak (Lihat al-Mughni oleh Imam Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat, insya Allah, <strong>wajib membayar kaffarah</strong>. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas <em>sradhiyallahu ‘anhu </em>. Dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>, ketika berbicara tentang seorang suami yang mencampuri istrinya di waktu haid, Rasulullah bersabda,<em> “Hendaklah ia bershadaqah satu dinar atau separuh dinar.” </em>(Shahih Ibnu Majah no:523, ‘Aunul Ma’bud 1:445 no:261, Nasa’ai I:153, Ibnu Majah 1:210 no:640. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)</p>
<p>Adapun apabila seorang wanita telah suci dari nifas sebelum 40 hari, kebanyakan ulama berpendapat bahwa suami tidak dilarang untuk menggaulinya. Dan inilah pendapat yang kuat. Karena tidak ada dalil syar’i yang melarangnya.</p>
<p>Riwayat yang ada hanyalah dari Imam Ahmad dari Utsman bin Abu Al-Ash bahwa istrinya datang kepadanya sebelum empat puluh hari, lalu ia berkata, “Jangan engkau dekati aku!” Akan tetapi, ucapan Utsman tersebut bukan berarti seorang suami terlarang menggauli istrinya. Sikap Utsman tersebut mungkin timbul karena kehati-hatiannya, yaitu khawatir istrinya belum suci benar, atau takut dapat mengakibatkan pendarahan disebabkan senggama atau hal lain. (Lihat <em>al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz</em>)</p>
<p>Karena itu, apabila pada diri seorang suami atau istri timbul keragu-raguan, maka hendaklah memastikan dahulu, apakah sang istri benar-benar telah suci dari darah nifasnya. Karena secara medis, jima’ aman dilakukan bila sang istri telah melewati masa nifas, kecuali bila saat itu sang istri langsung mengalami haid, terjadi perdarahan, atau sedang menjalani terapi tertentu. Apabila masih ragu, hendaklah berkonsultasi dengan dokter. Apakah kondisi sang istri telah normal dan benar-benar pulih secara medis sehingga bisa dicampuri oleh suaminya. Karena dalam hal ini kondisi setiap wanita berbeda-beda. Tidak selayaknya seorang muslim melakukan hal yang berbahaya dan membahayakan orang lain.<br />
Wallahu Ta’ala a’lam.</p>
<p>Maraaji’ :<br />
<em>Al Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz</em> (Terj.), Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi (Pustaka As Sunnah)<br />
<em>Darah Kebiasaan Wanita</em> (terjemahan <em>Risalah fid Dima’ Ath-Thabi’iyah lin Nisa</em>), Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin (penerbit Darul Haq)<br />
<em>Catatan Daurah Muslimah “Darah Kebiasaan Wanita” </em>oleh ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar, tahun 2007<br />
<em>Catatan Kajian Al Wajiz</em> oleh ustadz Muslam, tahun 2004</p>
<p>http://muslimah.or.id/fikih/hukum-seputar-darah-wanita-darah-nifas.html</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/760/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=760&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/nifas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengajian Sembunyi-Sembunyi</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/pengajian-sembunyi-sembunyi/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/pengajian-sembunyi-sembunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=757</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Jika engkau melihat ada sekelompok orang yang berbisik-bisik membicarakan masalah agama tanpa ingin diketahui orang lain maka ketahuilah bahwa mereka itu di atas landasan kesesatan” (Riwayat Darimi no 307).
Sungguh tepat apa yang diungkapkan oleh seorang ulama sekaligus umara (penguasa) ini. Kita jumpai di sekeliling kita bahwa orang-orang yang menyebarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=757&subd=jacksite&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Jika engkau melihat ada sekelompok orang yang berbisik-bisik membicarakan masalah agama tanpa ingin diketahui orang lain maka ketahuilah bahwa mereka itu di atas landasan kesesatan” (Riwayat Darimi no 307).</p>
<p>Sungguh tepat apa yang diungkapkan oleh seorang ulama sekaligus <em>umara </em>(penguasa) ini. Kita jumpai di sekeliling kita bahwa orang-orang yang menyebarkan pemahaman yang menyimpang biasanya memilih metode dakwah secara sembunyi-sembunyi supaya bisa berhasil menyerat mangsa yang biasanya adalah orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan agama yang pas-pasan.<br />
Untuk ‘<em>ngaji</em>’ ada yang harus ditutup matanya terlebih dahulu. Ada juga yang bergerilya dari satu kamar kos ke kamar kos yang lain. Anehnya ketika ‘<em>ngaji</em>’ pintu kamar kos harus ditutup rapat-rapat bahkan jika perlu semua alas kaki harus dimasukkan demi alasan ‘keamanan’. Ada juga yang merahasiakan siapa sebenarnya ketua ‘pengajian’ mereka. Belum tiba saatnya, demikian alasan yang diajukan. Umumnya ‘pengajian’ semisal itu tidak berani diadakan secara terbuka di masjid umum. Ujung-ujungnya ‘anak-anak ngaji’ tersebut didoktrin dengan berbagai pemahaman yang menyimpang.</p>
<p><span id="more-757"></span>Bukankah ajaran agama kita itu sesuai dengan fitrah manusia?! Jika memang demikian mengapa mesti takut menyampaikan kebenaran tersebut di tengah-tengah kaum muslimin? Bukankah itu malah menjadi pertanda bahwa mereka membawa pemahaman yang ‘unik’, lain dari pada yang lain. Benarlah apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.</p>
<p>Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ<br />
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran. Tidaklah masalah bagi mereka adanya orang-orang yang tidak mau menolong mereka. Demikianlah keadaan mereka sehingga datanglah ketetapan Alloh (baca:hari Kiamat)” (HR Muslim no 5059).</p>
<p>Hadits ini mengisyaratkan bahwa metode dakwah yang dijalankan oleh para pengusung kebenaran semenjak masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir zaman nanti adalah dakwah dengan terang-terangan dalam menyampaikan kebenaran. Tidak ada yang ditutupi dalam dakwah mereka.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِى إِلاَّ هَالِكٌ<br />
“Sungguh kutinggalkan kalian di atas agama yang terang, malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya sepeninggalku kecuali orang yang binasa” (HR Ibnu Majah no 43 dari Irbadh bin Sariyah, dinilai shahih oleh al Albani).</p>
<p>Yang dimaksud denga ‘<em>baidha</em>’ dalam hadits di atas sebagaimana penjelasan Muhammad Fuad Abdul Baqi adalah <strong>agama dan argumen yang terang dan jelas yang tidak mengandung kesamaran sama sekali.</strong></p>
<p>Jika demikian, mendakwahkan agama ini tidak perlu tertutup.</p>
<p>Beralasan bahwa dulu di awal dakwah, Nabi mempergunakan metode sembunyi-sembunyi sungguh tidak tepat.<br />
<strong>Pertama</strong>, semenjak dakwah dengan terang-terangan, Nabi tidak pernah lagi sembunyi-sembunyi dalam dakwah.<br />
<strong>Kedua </strong>, berdalil dengan hal di atas itu mungkin tepat jika dakwah dilakukan di tengah-tengah masyarakat kafir yang menekan dakwah Islam.<br />
Sedangkan dakwah sembunyi-sembunyi di tengah-tengah masyarakat Islam hanyalah awal kesesatan.</p>
<p>http://ustadzaris.com/pengajian-sembunyi-sembunyi-tanda-kesesatan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/757/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&blog=981316&post=757&subd=jacksite&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2009/10/26/pengajian-sembunyi-sembunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>