<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Al Maira - و هل يكبّ النّاس في النّار عل وجو ههم إلاّ حصا ئد ألسنتهم</title>
	<atom:link href="http://jacksite.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jacksite.wordpress.com</link>
	<description>&#34;Tidakkah wajah dan leher manusia dijerembabkan ke dalam api neraka kecuali akibat apa yang diucapkan lidah-lidah mereka&#34; - “Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya”</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 00:59:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jacksite.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu Al Maira - و هل يكبّ النّاس في النّار عل وجو ههم إلاّ حصا ئد ألسنتهم</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jacksite.wordpress.com/osd.xml" title="Abu Al Maira - و هل يكبّ النّاس في النّار عل وجو ههم إلاّ حصا ئد ألسنتهم" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jacksite.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MUSTADRAK DAN MUSTAKHRAJ</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/12/15/mustadrak-dan-mustakhraj/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/12/15/mustadrak-dan-mustakhraj/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 07:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1144</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Pembahasan Seputar Kitab Mustdarak Imam AL-Hakim, Shahih Ibnu Hibban Dan Shahih Ibnu Khuzaimah Mustdarak Al-Hakim adalah salah satu kitab berukuran besar di antara kitab-kitab hadits, yang mana di dalamnya penyusunnya menyebutkan hadits-hadits shahih berdasarkan (sesuai) syarat asy-Syaikhani (Imam al-Bukhari dan Muslim) atau syarat salah satunya, namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mencantumkan hadits tersebut dalam kitab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1144&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>Pembahasan Seputar Kitab Mustdarak Imam AL-Hakim, Shahih Ibnu Hibban Dan Shahih Ibnu Khuzaimah</strong></p>
<p align="justify"><strong>Mustdarak Al-Hakim</strong> adalah salah satu kitab berukuran besar di antara kitab-kitab hadits, yang mana di dalamnya penyusunnya menyebutkan hadits-hadits shahih berdasarkan (sesuai) syarat <em>asy-Syaikhani</em> (Imam al-Bukhari dan Muslim) atau syarat salah satunya, namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mencantumkan hadits tersebut dalam kitab mereka. Penyusunnya juga menyebutkan hadits-hadits shahih menurutnya sekalipun tidak berdasarkan syarat salah satu di antara keduanya (al-Bukhari dan Muslim), dengan mengungkapkan bahwa hadits tersebut <em>shahih sanadnya</em>. Dan terkadang menyebutkan beberapa hadits yang tidak shahih, namun ia memperingatkan hal itu, dan dia (Imam al-Hakim) termasuk seorang ulama yang <em>mutasaahil</em> (mudah/gampang dalam menshahihkan sebuah hadits).</p>
<p align="justify"><span id="more-1144"></span>Maka hendaknya diteliti dan dihukumi hadits-hadits yang ada di kitab tersebut sesuai dengan keadaan hadits yang sebenarnya. Imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> telah meneliti dan menghukumi sebagian besar hadits yang ada (di dalam kitab tersebut) sesuai dengan keadaan hadits yang sebenarnya. Namun kitab tersebut (al-Mustadrak) masih membutuhkan penelitian, pengkajian dan perhatian.</p>
<p align="justify"><strong>Shahih Ibnu Hibban</strong> Kitab ini penyusunannya dengan metode baru, ia tidak berdasarkan urutan bab-bab, dan tidak juga berdasarkan urutan kitab Musnad. Oleh sebab itu kitab ini dinamakan <em>at-Taqaasiim wa al-Anwaa’</em>. Dan untuk menyingkap hadits yang ada di dalam kitab ini sangat susah. Sebagian ulama mutaakhirin (masa kini) telah mengurutkan susunannya berdasarkan urutan bab-bab. Dan penyusunnya (Ibnu Hibban) termasuk <em>mutasaahil</em> dalam menshahihkan hadits, akan tetapi ia lebih baik dibandingkan dengan Imam al-Hakim.</p>
<p align="justify"><strong>Shahih Ibnu Khuzaimah</strong> kitab ini lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan shahih Ibnu Hibban, dikarenakan kehati-hatiannya (dalam menshihkan hadits) sampai-sampai beliau <em>rahimahullah</em> <em>tawaqquf</em> (berhenti/tidak bersikap) dalam menshohihihkan hadits disebabkan adanya sedikit saja kritikan dalam sanad hadits tersebut.</p>
<p align="justify"><strong>Al-Mustakhrajaat ‘Alaa Ash-Shahihain</strong></p>
<p align="justify"><strong>Tema dalam kitab Mustakhraj</strong></p>
<p align="justify">Yaitu seorang penyusun Mustakhraj mengkaji salah satu kitab dari sekian banyak kitab-kitab hadits, lalu ia mentakhrij hadits-hadits tersebut, namun dengan sanadnya sendiri, bukan dengan sanad penulis kitab asli. Maka sanadnya akan bertemu dengan sanad penulis asli pada guru mereka atau di atasnya.</p>
<p align="justify"><strong>Di Antara Kitab Mustkahraj Terhadap Shahihain</strong></p>
<p align="justify">Al-Mustakhraj ‘Ala al-Bukhari karya Abu Bakar al-Isma’ili <em>rahimahullah</em>.</p>
<p align="justify">Al-Mustakhraj ‘Ala Muslim karya Abu ‘Awanah <em>rahimahullah</em>.</p>
<p align="justify">Al-Mustakhraj ‘Ala al-Bukhari wa Muslim karya Abu Nu’aim <em>rahimahullah</em>.</p>
<p align="justify"><strong>Apakah Penulis Al-Mustakhrajaat Konsisten Untuk Mencocokkan Lafzah (Redaksi) Hadits Dalam Kitabnya Dengan Shahih al-Bukhari dan Muslim?</strong></p>
<p align="justify">Penulis al-Mustakhrajaat tidak mengharuskan dirinya sendiri untuk menyamakan lafazh haditsnya dengan lafazh yang ada dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Karena mereka hanyalah meriwayatkan lafazh yang sampai kepada mereka melalui jalur guru mereka. Oleh sebab itu terjadilah sedikit perbedaan dalam sebagian lafazh.</p>
<p align="justify">Demikian juga apa yang dikatakan oleh para penulis kitab dari ulama-ulama dahulu dalam tulisan-tulisan mereka, seperti Imam al-Baihaqi, al-Baghawi, dan yang semisalnya, mereka mengatakan (dalam mentakhrij kitab mereka):<em>”Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari atau Imam Muslim.”</em>. maka telah terjadi perbedaan pada sebagian hadits dalam lafazh (redaksi) dan maknanya. Maka yang dimaksud oleh mereka dengan ucapan <em>”Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari atau Imam Muslim.”</em> adalah bahwa keduanya meriwayatkan pokok/inti hadits tersebut.</p>
<p align="justify">Apakah Boleh Menukil Hadits Dari Kitab-Kitab Tersebut (Al-Mustakhrajaat) dan Menyandarkannya Kepada Al-Bukhari dan Muslim?</p>
<p align="justify">Berdasarkan penjelasan yang telah lalu, maka tidak boleh bagi seseorang untuk menukil hadits dari kitab al-Mustakhrajaat atau kitab yang disebutkan tadi, lalu ia mengatakan :<em>”Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari atau oleh Imam Muslim.”</em>, kecuali dengan dua hal:</p>
<p align="justify">1. Ia membandingkan hadits tersebut dengan riwayat keduanya (al-Bukharid dan Muslim)</p>
<p align="justify">2. Penulis atau penyusun al-Mustakhraj mengatakan:<em>”Diriwayatkan oleh keduanya dengan lafazhnya.”</em></p>
<p align="justify">(<strong>Sumber: تيسير مصطلح الحديث </strong>karya Dr. Mahmud ath-Thahhan, dengan sedikit tambahan. Maktabah Ma’arif, Riyadh, halaman 39-41. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)</p>
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify"><a href="http://alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&amp;id=288">http://alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&amp;id=288</a></p>
<p align="justify">
<p align="justify">
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1144&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/12/15/mustadrak-dan-mustakhraj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waspada Penyesat Umat</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/12/08/waspada-penyesat-umat/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/12/08/waspada-penyesat-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 02:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufs]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1141</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; &#160; عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)  Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan, dan jika diletakkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1141&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)</p>
<p> Syaddad bin Aus <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,<em>“Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan, dan jika diletakkan pedang </em><em>pada </em><em>umatk</em><em>u, </em><em>maka tidak akan diangkat dari mereka sampai hari kiamat”.</em> (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab <em>Silsisilah Al Ahadits Ash Shahihah</em>, no. 1582)</p>
<p><span id="more-1141"></span>Makna pemimpin:</p>
<p>1.  Para pemimpin negara yang sesat dan para ulama yang menyesatkan.</p>
<p align="center">والمراد بقوله: “الأئمة المضلين”: الذين يقودون الناس باسم الشرع، والذين يأخذون الناس بالقهر والسلطان; فيشمل الحكام الفاسدين، والعلماء المضلين، الذين يدعون أن ما هم عليه شرع الله، وهم أشد الناس عداوة له.</p>
<p>Yang dimaksud “الأئمة المضلين” adalah orang-orang yang menuntun manusia dengan membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan, dan termasuk mereka ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya (syariat Allah) (Lihat kitab <em>Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid</em>, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).</p>
<p>2.  Para pemimpin kekuasaan, para ulama, para ahli ibadah yang menyesatkan.</p>
<p>“الأئمة”,  <em>a</em><em>immah</em> adalah jamak (bentuk plural) dari imam. Imam berarti panutan yang diikuti baik dalam kebaikan atau keburukan.</p>
<p>Jika panutan dari orang-orang yang sesat maka umat akan tersesat, dan terjadi di tengah-tengah mereka akan muncul keburukan, dan mereka yang dimaksudkan adalah para pemimpin negara yang sesat, para ulama yang sesat, para ahli ibadah yang sesat, dan para ahli dakwah yang sesat. Setiap dari mereka adalah para pemimpin yang sesat, jika umat dituntun oleh mereka maka mereka akan menuntun kepada kebinasaan. Adapun jika yang menuntun umat adalah para penyeru kebenaran maka mereka akan menuntun umat kepada kebaikan dan keselamatan (Lihat kitab<em> I’anat Al Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid</em>, karya Syaikh Shalih Al Fauzan).</p>
<p><strong>Mari perhatikan beberapa pernyataan yang sangat bermanfaat di bawah ini:</strong></p>
<p>Bahwa para pemimpin itu ada tiga jenis: <em>u</em><em>mara</em> (pemimpin negara), <em>u</em><em>lama</em> (para ahli ilmu agama), <em>‘u</em><em>bbad</em>(para ahli ibadah).  Mereka inilah yang ditakutkan akan mudah menyesatkan orang lain karena mereka adalah orang-orang yang diikuti. Para <em>u</em><em>mara</em>, mereka memiliki kekuasaan dan pelaksanaan. Para ulama mereka memiliki penyuluhan dan pendidikan. Sedangkan para ahli Ibadah mereka kadang menipu dengan keadaan mereka. Merekalah orang-orang yang ditaati dan jadi panutan, maka pengaruh mereka sungguh amat mengkhawatirkan. Karena jika mereka sesat maka mereka akan menyesatkan kebanyakan manusia. Namun, jika mereka mendapat petunjuk pada kebaikan, maka banyak orang akan ikut mendapat petunjuk (Lihat kitab <em>Al Qaul Al Mufid</em>, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).</p>
<p>Seorang yang berilmu yang diikuti dan dipandang dengan mata keshalihan, jika mengerjakannya (shalat-shalat bid’ah), maka jelas akan memberikan kerancuan terhadap orang awam bahwa hal tersebut adalah termasuk sunnah, jadilah dia seorang yang berdusta atas nama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>dengan perbuatannya, yang terkadang bisa jadi penyebab langsung ia berdusta atas nama Rasul<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kebanyakan manusia melakukan bid’ah dengan sebab ini. Mereka mengira orang yang mereka ikuti termasuk orang berilmu dan bertakwa. Padahal dia bukan orang seperti itu. Lalu mereka memperhatikan perkataan dan perbuatannya. Kemudian mereka mengikutinya dalam hal tersebut dan akhirnya rusaklah keadaan mereka.</p>
<p>Di dalam hadits riwayat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,<em>“Sesungguhnya termasuk yang kukhawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan”.</em> (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits ini adalah hadits yang shahih”)</p>
<p>Dan di dalam kitab Ash Shahih, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu tiba-tiba, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang berilmu. Akhirnya manusia menjadikan orang-orang bodoh (sebagai ulama), akhirnya mereka (orang-orang bodoh tadi) memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan”.</em></p>
<p>Imam Ath Tharthusyi <em>rahimahullah</em> berkata, “Renungkanlah kalian semua hadits ini. Sesungguhnya hadits ini menunjukkan bahwa bid’ah itu tidaklah muncul disebabkan oleh para ulama mereka. Akan tetapi bid’ah muncul ketika wafat ulama-ulama mereka, lalu orang yang tidak berilmu memberi fatwa. Akhirnya muncullah bid’ah dari orang yang tidak berilmu itu.<strong></strong></p>
<p>Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> memindahkan makna ini dengan berkata: “Seorang yang amanah tidak akan pernah berkhianat. Akan tetapi jika diberi amanat, orang yang tidak amanat akan terlihat hidung belangnya (sifat khianatnya)”.  Kita pun dapat mengatakan,“Tidak pernah seorang alim melakukan bid’ah. Akan tetapi orang yang tidak berilmu dimintai fatwa. Lantas dia sesat dan menyesatkan orang lain.”</p>
<p>Dan demikianlah perbuatan Rabi’ah. Imam Malik berkata: “Suatu hari Rabi’ah menangis dengan sekencang-kencangnya ketika ditanya, “Apakah ada musibah yang menimpamu?” Beliau menjawab, “Tidak. Akan tetapi akan ditanya orang yang tidak berilmu maka akhirnya muncul masalah yang amat besar<strong>”</strong><strong> (</strong>Lihat Kitab <em>Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’</em>, karya Abu Syamah).</p>
<p><strong>2)   Menanggung dosa seluruh orang </strong><strong>yang </strong><strong>mengikuti Anda dalam dosa dan maksiat.</strong></p>
<p>Al Mundzir bin Jarir medapatkan riwayat dari bapaknya, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p align="center">مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”.</em> (HR. Muslim dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>3)   Diadukan kepada Allah Ta’ala oleh orang yang mengikuti Anda di dalam dosa dan maksiat agar Anda mendapat siksa berlipat dan terlaknat, akibat kesesatan yang Anda sebarkan.</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">{إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (65) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong”. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. “Dan mereka berkata: “Ya</em><em>Rabb</em><em> kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”.</em> (QS. Al Ahzab: 64-68).</p>
<p><strong>Pesan </strong><strong>T</strong><strong>erakhir</strong><strong></strong></p>
<p>Jadilah manusia yang menjadi kunci kebaikan bukan kunci kesesatan. Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya dari manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup keburukan. Juga ada manusia yang menjadi kunci keburukan dan menjadi penutup kebaikan. Bahagialah orang yang telah Allah anugerahkan ia sebagai kunci kebaikan melalui tangannya dan celakalah bagi siapa yang telah Allah jadikan baginya kunci keburukan melalui tangannya”<strong>.</strong></em> (HR. Ibnu Majah dan dihasankan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1332).</p>
<p>Ahad, 17 Dzulhijjah 1432H, Dammam KSA.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: <a href="http://www.dakwahsunnah.com/">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc (Da’i di Islamic Cultural Center Dammam, KSA)</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/panutan-penyesat-umat.html">http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/panutan-penyesat-umat.html</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1141&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/12/08/waspada-penyesat-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tawasul dan Tabaruk &#8211; Kitab As Siyar</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/09/30/tawasul-dan-tabaruk-kitab-as-siyar/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/09/30/tawasul-dan-tabaruk-kitab-as-siyar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 02:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Tabaruk]]></category>
		<category><![CDATA[Tawasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1136</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Pertanyaan: Saya menelaah tentang biografi Imam Al Bukhari pada kitab Siyar A’lam An Nubala. Ketika membaca tentang wafatnya beliau, saya menjumpai perkataan yang sangat mengganggu hati saya. Dalam kitab tersebut Imam Adz Dzahabi berkata: وقال أبو علي الغساني: أخبرنا أبو الفتح نصر بن الحسن السكتي السمرقندي، قدم علينا بلنسية عام أربع وستين وأربع مائة، قال: قحط المطر [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1136&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya menelaah tentang biografi Imam Al Bukhari pada kitab <em>Siyar A’lam An Nubala</em>. Ketika membaca tentang wafatnya beliau, saya menjumpai perkataan yang sangat mengganggu hati saya. Dalam kitab tersebut Imam Adz Dzahabi berkata:</p>
<p>وقال أبو علي الغساني: أخبرنا أبو الفتح نصر بن الحسن السكتي السمرقندي، قدم علينا بلنسية عام أربع وستين وأربع مائة، قال: قحط المطر عندنا بسمرقند في بعض الأعوام فاستسقى الناس مرارا، فلم يسقوا، فأتى رجل صالح معروف بالصلاح إلى قاضي سمرقند، فقال له: إني رأيت رأيا أعرضه عليك.<br />
قال: وما هو؟<br />
قال: أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الإمام محمد بن إسماعيل البخاري، وقبره بخرتنك، ونستسقي عنده، فعسى الله أن يسقينا.<br />
قال: فقال القاضي: نعم، ما رأيت.<br />
فخرج القاضي والناس معه، واستسقى القاضي بالناس، وبكى الناس عند القبر، وتشفعوا بصاحبه، فأرسل الله تعالى السماء بماء عظيم غزير أقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها، لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته، وبين خرتنك وسمرقند نحو ثلاثة أميال. هـ.</p>
<p><span id="more-1136"></span>“<em>Abu Ali Al Ghassani berkata, Abul Fath Nasr bin As Sikti As Samarqandi mengabarkan kepadaku: Kami datang dari Valencia pada tahun 464 H. Ketika itu selama beberapa tahun di Samarkand tidak pernah turun hujan. Maka orang-orang pun shalat istisqa berkali-kali, namun hujan belum juga turun. Maka seorang lelaki yang dikenal dengan keshalihannya mendatangi Qadhi kota Samarkand,</em></p>
<p><em>ia berkata kepada sang Qadhi: “Saya punya usul yang akan saya sampaikan kepada anda”</em></p>
<p><em>Qadhi berkata: “Apa itu?”</em></p>
<p><em>lelaki shalih berkata: “Menurutku sebaiknya anda keluar bersama orang-orang menuju kubur Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari, makam beliau berada di Kharatnak. Kita shalat istisqa di samping kubur beliau, mudah-mudahan Allah menurunkan hujan untuk kita”.</em></p>
<p><em>Qadhi berkata: “Baiklah, aku setuju”.</em></p>
<p><em>Maka keluarlah sang Qadhi Samarkand dengan orang-orang menuju kubur Imam Al-Bukhari, lalu shalat istisqa di sana. Orang-orang pun yang menangis di samping kubur, mereka juga meminta syafa’at kepada Imam al-Bukhari. Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras, hingga orang-orang saat itu menetap di Kharatnak sekitar tujuh hari. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat pulang ke Samarkand karena banyak dan derasnya hujan. Padahal jarak antara Samarqand dan Kharatnak sekitar tiga mil</em>“. (selesai nukilan)</p>
<p>Sebenarnya saya tidak heran dengan kisah ini, karena banyak orang yang pergi lebih jauh dari itu dan mereka bukan meminta hujan kepada Allah, namun <em>malah </em>meminta hujan kepada mayat yang di dalam kubur! Semoga Allah menjauhkan saya dari perbuatan demikian. Tapi yang saya herankan adalah bahwa Imam Adz Dzahabi menyebutkan kisah yang merupakan bid’ah yang munkar ini, lalu beliau tidak mencelanya dan tidak memberi catatan sedikitpun. Hal ini bertentangan dengan metode beliau yang beliau pakai dalam kitab As Siyar, yaitu betapa banyak beliau mengomentari riwayat-riwayatnya misalnya dengan perkataan: “<em>Menurutku, kisah ini batil dan kedustaan yang nyata</em>”, “<em>Perkataan ini tidak benar dan keji</em>”, “<em>Perkataan ini perlu dikritisi</em>”, “<em>Yang benar adalah sebaliknya</em>”, “<em>Hal ini menyelisihi sunnah</em>”, “<em>Semoga Allah menimpakan kejelekan kepada orang yang mematikan sunnah dan atsar nubuwah</em>”, “<em>Riwayat ini telah menghidupkan kesesatan</em>”, atau perkataan semisal yang menunjukkan bahwa beliau menentang riwayat yang berisi perkataan atau perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran. Namun ketika meriwayatkan kisah di atas beliah tidak berhenti untuk berkomentar walau satu huruf pun. Apakah yang kemungkinan yang menyebabkan beliau diam terhadap kebid’ahan tersebut yang dapat menjerumuskan kepada syirik akbar? Semoga Allah menjaga kita dari ketergelinciran.</p>
<p>Semoga Allah memberkahi ilmu anda, dan atas apa yang anda sampaikan kepada saya dan kepada kaum muslimin semoga Allah membalasnya dengan lebih baik.</p>
<p><strong>Syaikh Abdullah Al Faqih <em>Hafizhahullah</em> menjawab:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, keluarganya serta para sahabatnya. <em>Amma ba’du</em>,</p>
<p>Semoga Allah mencintai Anda atas apa yang engkau cintai dari kami. Dan aku berterima kasih kepada anda, karena telah menghubungiku. Semoga Allah memberi kita taufiq untuk dapat istiqamah pada apa yang diridhai dan dicintai oleh Allah.</p>
<p>Kemudian kami ingin menjelaskan kepada anda, saudaraku yang mulia, apa yang mengganggu pikiran anda itu benar adanya. Apa yang terkandung dalam kisah tersebut jelas-jelas bertentangan dengan agama kita dan merusak kemurnian tauhid kita kepada <em>Rabbil Alamin</em>. Justru kepada Allah lah kita memintakan ampunan bagi orang-orang yang sudah mati, dan kepada-Nya lah kita memohon kebaikan bagi orang-orang yang masih hidup. Dan kami telah menjelaskan tentang hukum berdoa di sisi kubur pada fatwa nomor 52015.</p>
<p>Adapun tentang nukilan Imam Adz Dzahabi yang janggal tersebut, itu memang benar terdapat pada kitab-kitabnya, dan ini memang mengherankan. Karena beliau, seorang ulama besar, sungguh telah mengingkari perbuatan semacam ini. Andai beliau tidak menukil riwayat semacam itu, itulah yang lebih baik.</p>
<p>Sebagai peringatan yang perlu digaris bawahi, hendaknya janganlah terpedaya dengan nukilan-nukilan janggal yang berasal dari Adz Dzahabi ataupun ulama Islam yang lain. Kami jelaskan kepada anda, yang bisa menjadi dalil adalah apa yang ditetapkan oleh nash-nash syariat, baik Al Qur’an atapun Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, kemudian pemahaman yang benar terhadap nash-nash tersebut, yaitu pemahaman para sahabat dan yang mengikuti mereka. Karena merekalah tiga generasi yang terbaik dalam Islam. Sedangkan perkataan ulama itu membutuhkan dalil dan bukan dijadikan dalil. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam fatwa sebelumnya yang khusus membahas hal ini.</p>
<p>Khusus tentang Imam Adz Dzahabi <em>rahimahullah</em>, jika seseorang membaca kitab biografi dan sejarah yang ditulisnya, yaitu kitab <em>Siyar A’lamin Nubala</em>, akan mendapati banyak riwayat sebagaimana yang telah diingkari oleh penanya dan penanya telah benar dengan pengingkarannya. Dengan adanya riwayat-riwayat ini, sebagian orang-orang sufi mengumpulkan nukilan-nukilan janggal dari Adz Dzahabi ini kemudian memberi komentar tambahan. Diantaranya kitab <em>Al Barakah Wat Tabarruk Min Dzahabiyyat.</em></p>
<p>Untuk itu perlu kami jelaskan, benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman Al ‘Ulwan dalam kitab beliau yang berjudul <em>Ithaf Ahlil Fadhl Wal Inshaf Bi Naqdhi Kitab Ibnil Jauzi</em>, kitab ini adalah sebuah bantahan terhadap syubhat dari komentar-komentar As Saqqaf terhadap kitab Ibnul Jauzi. Syaikh Sulaiman berkata:</p>
<p>والذهبي ـ عفا الله عنه ـ عنده تساهل في نقل مثل هذه الحكاية وأشباهها دون تعقب لها، وقد قرأت كتابه: السير ـ فرأيت فيه أشياء يتعجب منها، كيف يذكرها ولا يتعقبها؟ مع أن بعضها مما يناقض ما بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم، فكان الأولى بالذهبي ـ رحمه الله ـ ردها وإبطالها، أو عدم ذكرها، لأنها تخالف مذهب السلف، وهو واحد من علماء السلف الذين خدموا هذا الدين بالمصنفات الكثيرة، وقد رأيت بالاستقراء أهل السير والتواريخ يتساهلون في النقل، والله المستعان</p>
<p>“<em>Adz Dzahabi, semoga Allah mengampuni beliau, ia telah bermudah-mudah dan membuat syubhat dalam menukil kisah seperti ini, tanpa memberikan tanggapan terhadapnya. Saya telah membaca kitabnya, yaitu As Siyar, dan saya dapati banyak hal yang mengherankan. Mengapa beliau menyebutkannya dan tidak menanggapinya? Padahal sebagiannya termasuk hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam yang diutus oleh Allah. Semestinya Adz Dzahabi rahimahullah membantah dan mengingkarinya, atau minimal tidak menyebutkan riwayat-riwayat tersebut. Karena hal tersebut bertentangan dengan mazhab salaf. Beliau sendiri adalah salah satu ulama salaf yang melayani agama ini dengan tulisan-tulisan beliau yang banyak. Namun saya memang telah meneliti bahwa ternyata penulis kitab-kitab sejarah sering bermudah-mudah dalam menukil riwayat. Wallahul musta’an”</em>. [sampai di sini perkataan Syaikh Sulaiman]</p>
<p>Selain itu kami perlu tekankan di sini bahwa Adz Dzahabi <em>rahimahullah</em> dan para ulama yang diakui keilmuannya tidak menganggap bolehnya bertawassul dan bertabarruk dengan jasad mayat di dalam kubur. Dalam hal ini yang mereka bahas adalah tentang berdoa di tempat turunnya berkah dan rahmat. Oleh karena itu ketika Adz Dzahabi membawakan perkataan dari Ibrahim Al Harbi yang berbunyi:</p>
<p>قبر معروف الترياق المجرب</p>
<p>“<em>Kuburan Ma’ruf Al Kharki adalah obat yang mujarab</em>”</p>
<p>Adz Dzahabi <em>rahimahullah</em> mengomentari:</p>
<p>يريد إجابة دعاء المضطر عنده، لأن البقاع المباركة يستجاب عندها الدعاء، كما أن الدعاء في السحر مرجو، ودبر المكتوبات، وفي المساجد بل دعاء المضطر مجاب في أي مكان اتفق</p>
<p>“<em>Yang dimaksud adalah terkabulnya doa di samping kuburnya. Karena sebidang tanah yang diberkahi membuat doa dikabulkan di sana. Sebagaimana doa di waktu sahur dikabulkan, juga doa di ujung shalat, doa di masjid bahkan doa dalam keadaan terdesak akan dikabulkan dimanapun tempat yang disepakati</em>”</p>
<p>Imam Asy Syaukani <em>rahimahullah </em>dalam kitabnya, <em>Tuhfatu Adz Dzakirin</em>, ketika menjelaskan perkataan Ibnul Jauzi yang terdapat dalam kitab <em>Hisnul Hushain</em>, yaitu Ibnul Jauzi berkata:</p>
<p>وجرب استجابة الدعاء عند قبور الصالحين</p>
<p>“<em>Terkabulnya doa di sisi kubur orang shalih</em>”</p>
<p>Asy Syaukani menjelaskan:</p>
<p>وجه ذلك مزيد الشرف ونزول البركة، وقد قدمنا أنها تسري بركة المكان على الداعي، كما تسري بركة الصالحين الذاكرين الله سبحانه على من دخل فيهم ممن ليس هو منهم، كما يفيده قوله صلى الله عليه وسلم: هم القوم لا يشقى بهم جليسهم</p>
<p>“<em>Hal tersebut dikarenakan adanya tambahan keutamaan dan turunnya berkah di sana. Telah kami jelaskan bahwa hal tersebut bisa mengalir pada orang-orang yang berdoa di sana. Sebagaimana berkah para ulama yang shalih juga mengalir pada orang-orang yang datang ke majelis mereka, meskipun yang datang bukan termasuk orang shalih. Sebagaimana salah satu makna dari hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: ‘Para ulama, merekalah orang-orang yang jika membuat majelis, maka orang-orang yang hadir di dalamnya tidak akan kehausan</em>‘”</p>
<p>لكن ذلك بشرط أن لا تنشأ عن ذلك مفسدة، وهي أن يعتقد في ذلك الميت ما لا يجوز اعتقاده، كما يقع لكثير من المعتقدين في القبور، فإنهم قد يبلغون الغلو بأهلها إلى ما هو شرك بالله عز وجل، فينادونهم مع الله ويطلبون منهم ما لا يطلب إلا من الله عز وجل، وهذا معلوم من أحوال كثير من العاكفين على القبور، خصوصا العامة الذين لا يفطنون لدقائق الشرك، وقد جمعت في ذلك رسالة مطولة سميتها: الدر النضيد في إخلاص التوحيد</p>
<p>“<em>Namun, hal tersebut disyaratkan tidak terjadi kerusakan di dalamnya. Kerusakan yang dimaksud adalah memiliki keyakinan yang tidak boleh diyakini berkaitan dengan si mayit, sebagaimana yang banyak terjadi pada orang-orang yang berdoa di sisi kubur. Mereka terkadang berlebihan terhadap si mayit yang ada di dalam kubur sampai tergolong sesuatu yang merupakan kesyirikan. Selain berdoa dengan memanggil nama Allah, mereka juga memanggil nama si mayit. Mereka juga meminta kepada si mayit, yang permintaan itu sejatinya hanya dapat dikabulkan oleh Allah semata. Ini fakta yang terjadi pada kebanyakan orang sering yang beri’tikaf di kuburan. Terutama orang-orang awam yang mereka tidak memahami tentang kesyirikan secara terperinci. Dan saya telah membahas fenomena ini dalam sebuah tulisan yang saya beri judul Ad Darr An Nadhid Fii Ikhlasi At Tauhid</em>” [sampai di sini perkataan Asy Syaukani]</p>
<p>Walaupun Asy Syaukani di atas jelas telah memberikan syarat atas bolehnya berdoa di sisi kubur orang shalih, namun ketahuilah sesungguhnya pembolehan ini sendiri tidak tepat dan menyelisihi sunnah dan menyelesihi riwayat-riwayat yang shahih dari<em> salafus shalih</em> yang merupakan generasi terbaik umat Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>telah menjelaskan secara rinci permasalahan ini dalam kitabnya <em>Iqtidha Shiratil Mustaqim</em>:</p>
<p>إن قيل: قد نقل عن بعضهم أنه قال: قبر معروف الترياق المجرب. وروي عن معروف أنه أوصى ابن أخيه أن يدعو عند قبره. ونقل المروزي عن جماعات بأنهم دعوا عند قبور جماعات من الأنبياء والصالحين. ….. وذكر أشياء من هذا النحو إلى أن قال: وقد أدركنا في أزمامنا وما قاربها من ذي الفضل عند الناس علما وعملا من كان يتحرى الدعاء عندها والعكوف عليها، وفيهم من كان بارعا في العلم، وفيهم من له عند الناس كرامات، فكيف يخالف هؤلاء؟ وإنما ذكرت هذا السؤال مع بعده عن طريق أهل العلم والدين، لأنه غاية ما يتمسك به القبوريون.</p>
<p>“<em>Kalau ada orang yang berkata:</em></p>
<p>“<em>Dinukil oleh sebagian ulama bahwa Ibrahim Al Harbi mengatakan: ‘Kuburan Ma’ruf Al Kharki adalah obat yang mujarab’. Dan diriwayatkan pula dari Ma’ruf Al Kharki bahwa ia mewasiatkan kepada saudaranya agar saudaranya tersebut berdoa di sisi kubur beliau. Al Marwazi juga meriwayatkan dari sekelompok ulama bahwa mereka pernah berdoa di sisi kubur beberapa orang Nabi dan orang shalih”</em></p>
<p><em>Lalu orang ini terus menyebutkan alasan-alasan semisal, hingga ia berkata:</em></p>
<p>“<em>Saya lihat di zaman kita ini dan beberapa zaman sebelum ini, ada tokoh agama yang memilih untuk berdoa di sisi kuburan dan beri’tikaf di sana. Diantara mereka itu ada yang ilmunya sangat mumpuni, ada juga yang memiliki karomah, masak sih kita menentang mereka? Sungguh saya bertanya hal ini karena demikianlah yang diamalkan orang para tokoh agama, dan inilah sebenarnya alasan pamungkas yang dipegang oleh orang-orang yang beribadah di kuburan</em>”</p>
<p>، قلنا: الذي ذكرنا كراهته لم ينقل في استحبابه فيما علمناه شيء ثابت عن القرون الثلاثة التي أثنى عليها رسول الله صلى الله عليه و سلم حيث قال: خير أمتي: القرن الذي بعثت فيه ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم</p>
<p>“<em>Maka kita jawab pertanyaan ini:</em></p>
<p>“<em>Alasan kami mengharamkan berdoa di sisi kuburan adalah karena sepengetahuan kami, sama sekali tidak terdapat anjurannya dalam riwayat-riwayat shahih dari tiga generasi terbaik umat Islam yang di puji oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabdanya: ‘Sebaik-baik umat adalah generasi yang aku diutus kepadanya (para sahabat), kemudian setelahnya (para tabi’in), kemudian setelahnya (tabi’ut tabi’in)’</em>”</p>
<p>مع شدة المقتضي عندهم لذلك لو كان فيه فضيلة، فعدم أمرهم وفعلهم لذلك مع قوة المقتضي لو كان فيه فضل يوجب القطع بأن لا فضل فيه، وأما من بعد هؤلاء فأكثر ما يفرض أن الأمة اختلفت فصار كثير من العلماء والصديقين إلى فعل ذلك، وصار بعضهم إلى النهي عن ذلك، فإنه لا يمكن أن يقال اجتمعت الأمة على استحسان ذلك لوجهين:</p>
<p><strong>أحدهما</strong>: أن كثيرا من الأمة كره ذلك وأنكره قديما وحديثا</p>
<p><strong>الثاني</strong>: أنه من الممتنع أن تتفق الأمة على استحسان فعل لو كان حسنا لفعله المتقدمون ولم يفعلوه، فإن هذا من باب تناقض الإجماعات، وهي لا تتناقض، وإذا اختلف فيه المتأخرون فالفاصل بينهم هو الكتاب والسنة وإجماع المتقدمين نصا واستنباطا، فكيف ـ والحمد لله ـ لا ينقل هذا عن إمام معروف ولا عالم متبع؟ بل المنقول في ذلك إما أن يكون كذبا على صاحبه، وإما أن يكون المنقول من هذه الحكايات عن مجهول لا يعرف، ونحن لو روي لنا مثل هذه الحكايات المسيبة أحاديث عمن لا ينطق عن الهوى، لما جاز التمسك بها حتى تثبت، فكيف بالمنقول عن غيره؟.</p>
<p><em>“</em><em>Karena mereka umat terbaik, maka konsekuensinya mereka sangat di tuntut untuk mengerjakan hal tersebut, yaitu berdoa di sisi kuburan, andai memang berdoa di sisi kuburan itu memiliki keutamaan. Namun nyatanya mereka tidak pernah memerintahkan ataupun melakukannya. Ini menunjukkan bahwa berdoa di sisi kuburan tidak memiliki keutamaan sama sekali. Adapun orang-orang setelah tiga generasi tadi, banyak diantara mereka mengklaim bahwa hal ini merupakan khilafiyyah, dengan alasan sebagian ulama dan orang shalih melakukannya dan sebagian lagi melarang. Dari sini, kita katakan bahwa tidak mungkin disepakati (ijma’) bolehnya menganggap baik perbuatan ini, dengan 2 alasan:</em></p>
<ul>
<li><em>Banyak ulama yang telah melarang dan mengingkari, baik ulama dahulu maupun ulama masakini.</em></li>
<li><em>Andaikan perbuatan ini baik, sungguh orang-orang terdahulu telah melakukannya, dan fakta mengatakan mereka tidak melakukannya (Ini menunjukkan ijma salafus shalih, pent.). Andai disepakati (ijma’) bolehnya perbuatan ini oleh orang-orang setelah mereka, maka sungguh, ijma itu tidak mungkin bertentangan. </em><em>Jika orang-orang muta’akhirin yang hidup setelah tiga generasi tadi berselisih pendapat maka tentu penengah di antara mereka ada Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’ salafus shalih, yang diambil dari nash atau dari istimbath.</em></li>
</ul>
<p><em>Selain itu, andaikan perbuatan ini dibolehkan, mengapa tidak diriwayatkan para imam yang ma’ruf juga tidak diriwayatkan oleh para ulama yang memiliki banyak pengikut? Namun justru perbuatan ini diriwayatkan dalam riwayat-riwayat yang dusta, atau diriwayatkan dalam hikayat-hikayat yang majhul. Kemudian, andaikan memang ada hadits tentang perbuatan ini yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang sabda beliau bisa jadi hujjah, ini saja perlu kita pastikan keshahihannya, maka bagaimana lagi dengan riwayat-riwayat yang diriwayatkan bukan dari beliau?</em>”</p>
<p>ومنها: ما قد يكون صاحبه قاله أو فعله باجتهاد يخطئ ويصيب، أو قاله بقيود وشروط كثيرة على وجه لا محذور فيه، فحرف النقل عنه.</p>
<p>ثم سائر هذه الحجج دائرة بين نقل لا يجوز إثبات الشرع به، أو قياس لا يجوز استحباب العبادات بمثله، مع العلم بأن الرسول صلى الله عليه وسلم لم يشرعها، وتركه مع قيام المقتضي للفعل بمنزلة فعله، وإنما يثبت العبادات بمثل هذه الحكايات والمقاييس من غير نقل عن الأنبياء النصارى وأمثالهم، وإنما المتبع في إثبات أحكام الله: كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وسبيل السابقين أو الأولين، لا يجوز إثبات حكم شرعي بدون هذه الأصول الثلاثة، نصا واستنباطا بحال</p>
<p>“<em>Alasan lain, terkadang ahli ilmu yang menyatakan kebolehannya atau melakukannya, ia berbuat demikian dengan ijtihadnya. Dan ijtihad itu terkadang salah dan terkadang benar. Atau terkadang, mereka sebenarnya membolehkan dengan banyak syarat-syarat hingga perbuatan itu menjadi tidak terlarang, namun dalam kesempatan itu ia menukil begitu saja tanpa menyebutkan syarat-syaratnya.</em></p>
<p><em>Kemudian, alasan-alasan yang dilontarkan orang-orang yang gemar berdoa di sisi kuburan, semuanya hanya seputar riwayat-riwayat yang tidak bisa dijadikan dalil atau qiyas yang bisa digunakan untuk menganjurkan sebuah ibadah. Dan mereka sebetulnya mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkan perbuatan demikian, dan Rasulullah pun tidak pernah mengerjakan perbuatan demikian padahal seharusnya beliau mengerjakannya andai memang ada keutamaannya. Kebiasaan mensyariatkan ibadah dengan dasar hikayat-hikayat serta qiyas-qiyas yang tidak benar dari para Nabi adalah kebiasaan kaum Nasrani atau yang semisal mereka. Sedangkan dalam Islam, yang bisa digunakan untuk menetapkan sebuah hukum adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta jalan yang ditempuh oleh generasi-generasi pertama umat Islam. Tidak boleh menentukan hukum syar’i tanpa didasari tiga pondasi ini, baik diambil secara nash atau istimbath dari sebuah kejadian</em>”. [sampai di sini perkataan Syaikhul Islam]</p>
<p>Kemudian Syaikhul Islam <em>Rahimahullah</em> menjawab syubhat ini secara global dan juga rinci. Silakan lihat rinciannya pada kitab <em>Al Iqtidha</em>.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.islamweb.net/ver2/fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&amp;Id=137854&amp;Option=FatwaId">http://www.islamweb.net/ver2/fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&amp;Id=137854&amp;Option=FatwaId</a></p>
<p>Beberapa catatan terkait pembahasan di atas:</p>
<ul>
<li>Tidak layak membolehkan <em>tabarruk </em>atau <em>tawassul </em>di kubur orang shalih dengan <em>hujjah </em>berupa pendapat Imam Adz Dzahabi, Asy Syaukani atau Ibnul Jauzi. Karena hujjah adalah Al Qur’an, As Sunnah dan pemahaman <em>salafush shalih</em>.</li>
<li>Andai berhujjah dengan perkataan Asy Syaukani pun, pada umumnya, orang-orang yang gemar bertabarruk dan bertawassul dengan kuburan tidak memenuhi syarat yang beliau sampaikan.</li>
<li>Yang dibicarakan dalam artikel di atas adalah tentang berdoa di sisi kuburan orang shalih, semisal Imam Al Bukhari. Sedangkan yang banyak dilakukan orang-orang di zaman ini, terutama di negeri kita, adalah bertabarruk dan bertawassul di kuburan orang yang tidak jelas keshalihannya,  atau hanya dianggap shalih oleh para peziarahnya, atau kadang kuburan yang belum jelas penghuninya si Fulan atau bukan, atau bahkan terkadang kuburan ahli bid’ah, bahkan lebih parah lagi kuburan ahli maksiat pun didatangi.</li>
<li>Riwayat janggal yang dinukil Imam Adz Dzahabi juga kami temukan di kitabnya yang lain <em>Al Mu’jam Asy Syuyukh</em> yang juga merupakan kitab biografi seperti <em>As Siyar</em>. Dan jawabannya pun sebagaimana jawaban di atas.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/aqidah/riwayat-tentang-tawassul-dan-tabarruk-dalam-kitab-as-siyar.html">http://muslim.or.id/aqidah/riwayat-tentang-tawassul-dan-tabarruk-dalam-kitab-as-siyar.html</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1136&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/09/30/tawasul-dan-tabaruk-kitab-as-siyar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS MUKHTALATH</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/13/hadits-mukhtalath/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/13/hadits-mukhtalath/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2011 09:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Hadits Dhaif, dkk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1132</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Ikhtilath Ibnu Hajar rahimahullah berkata:&#8221;Buruknya hafakan yang menimpa seorang perawi hadits.&#8221; As-Sakhawi rahimahullahberkata:&#8221;Hakekatnya adalah rusaknya akal seorang perawi dan ketidakteraturan ucapan-ucapan dan perbuatannya.&#8221; Ash-Shan&#8217;ani rahimahullah berkata:&#8221;Seorang perawi yang Mukhtalath (orang yang tertimpa ikhtilath) adalah seorang perawi yang tertimpa hal-hal yang menjadikannya tidak tsiqah (tidak kredibel.) Dan pernyataan yang mengatakan bahwa hakekat Ikhtilath adalah rusaknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1132&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/01/false-hadist.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1033" title="false-hadist" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/01/false-hadist.jpg?w=107&#038;h=150" alt="" width="107" height="150" /></a>Pengertian Ikhtilath </strong><br />
Ibnu Hajar rahimahullah berkata:&#8221;Buruknya hafakan yang menimpa seorang perawi hadits.&#8221;<br />
As-Sakhawi rahimahullahberkata:&#8221;Hakekatnya adalah rusaknya akal seorang perawi dan ketidakteraturan ucapan-ucapan dan perbuatannya.&#8221;<br />
Ash-Shan&#8217;ani rahimahullah berkata:&#8221;Seorang perawi yang Mukhtalath (orang yang tertimpa ikhtilath) adalah seorang perawi yang tertimpa hal-hal yang menjadikannya tidak tsiqah (tidak kredibel.)</p>
<p><span id="more-1132"></span><br />
Dan pernyataan yang mengatakan bahwa hakekat Ikhtilath adalah rusaknya akal menunjukkan secara jelas bahwa seorang perawi yang disifati dengan Ikhtilath dahulunya adalah orang yang sehat akalnya, kemudian tertimpa sesuatu yang merubah hafalannya dan berpengaruh terhadap ingatannya. Oleh sebab itu kita mendapati sebagian ulama mengungkapkan hal itu dengan perkataanya:&#8221;Thari&#8217;u atau &#8216;Aridh.&#8221;<br />
<strong>Sebab-sebab Ikhtilath </strong><br />
sebab-sebanya ada bermacam-macam, di antaranya adalah :<br />
1. Tertimpa ketuaan (memasuki usia tua) dan apa-apa yang menimpanya berupa berbagai macam penyakit, seperti kebutaan dan lain-lain apabila dia meriwayatkan hadits dari kitabnya.<br />
2. Hilang, rusak atau terbakar kitab-kitabnya (kitab hadits), apabila dia meriwayatkan hadits dari kitabnya.<br />
3. Matinya orang yang dicintainya seperti anak dan yang semisalnya.<br />
4. Kecurian harta (hartanya dicuri), dan kejadian ini (kecurian) termasuk musibah yang kadang-kadang mempengaruhi akal sebagian perawi.<br />
<strong>Tingkatan-tingkatan Mukhtalathin </strong><br />
Perawi yang didha&#8217;ifkan (dilemahkan) hadits pada sebagian wakt dan dishahihkan pada waktu yang lain, mereka adalah ats-Tsiqat (perawi-perawi kredibel) yang mengalami Ikhtilath (perubahan hafalan) pada akhir-akhir umurnya, dan mereka bertingkat-tingkat dalam Ikhtilathnya. Maka di antara mereka ada yang Ikhtilathnya parah dan ada yang ringan.</p>
<p><strong>Hukum hadits Mukhtalath </strong><br />
Al-&#8217;Iraqi rahimahullah berkata:&#8221;Hukum terhadap perawi yang Ikhtilath (berubah hafalannya) adalah tidak diterima dari hadits yang disampaikannya ketikda dalam kondisi Ikhtilath, demikian juga yang tidak jelas dan membingungkan keadaaanya, sehingga tidak diketahui apakah dia meriwayatkan hadits sebelum atau setelah Ikhtilath? Dan apa yang diriwayatkannya sebelum Ikhtilath diterima, hanya saja hal itu dibedakkan dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari mereka (Mukhtalathin), maka di antara mereka ada yang mendengar hadits darinya sebelum Ikhtilath saja, dan di antara mereka ada yang mendengar hadits darinya setelah saja dan di antara mereka ada yang mendengar hadits darinya dalam dua kondisi dan tidak bisa dibedakkan.&#8221;<br />
Dan Ibnu Hajar rahimahullah mengungkapkan dengan kata &#8220;tawaqquf/berhenti&#8221; sebagai ganti dari kata: &#8220;laa yuqbal/tidak diterima&#8221;, beliau berkata:&#8221;Dan hukum dalam masalah ini, bahwasanya apa yang diriwayatkan darinya sebelum Ikhtilath apabila bisa dibedakan adalah diterima, dan apabila tidak dapat dibedakkan maka tawaqquf. Demikian pula perawi yang tidak jelas keadaannya, dan hal tersebut hanya diketahui bedasarkan penilaian para perawi yang mengambil hadits darinya.&#8221;<br />
Dan pengungkapan dengan kata &#8220;tawaqquf&#8221; mungkin lebih utama, karena dimungkinka seorang peneliti hadits menemukan sesuatu yang bisa membedakan perawi tersebut (yang terkena ikhtilath), atau dia mendapatkan perkataan yang menjelaskan waktu dia (perawi) mengambil hadits dari perawi yang mukhtalath(yang terkena ikhtilath). Wallahu A&#8217;lam.<br />
Cara mengetahui keadaan perawi sebelum dan setelah ikhtilath?<br />
Hal tersebut bisa diketahui lewat murid-muridnya. Sebagian murid mengambil hadits dari perawi tersebut dalam keadaan sehatnya, lalu apabila doa merasa ada perubahan maka dia berhenti mengambil hadits dari perawi yang mukhtalath tersebut. Maka hadits murid tersebut dari syaikh (guru) ini terhitung hadits shahih, dan seolah-olah syaikh tersbut sudah meninggal hanya dengan terjadinya perubahan dalam dirinya (hafalannya). Dan siapa saja yang meriwayatkan darinya setelah ikhtilath, maka orang inilah yang riwayatnya diliputi keraguan.<br />
Dan sebagian mereka ada yang mengambil/meriwayatkan hadits darinya dalam kedua keadaan dan tidak berhenti dari meriwayatkan darinya serelah terjadi ikhtilath, maka perawi yang seperti ini hadits-haditsnya tidak dipakai walaupun yang shahih.<br />
Dan terkadang sampai kepada kita hadits dan di dalamnya ada perawi yang meriwayatkan hadits syaikh yang mukhtalath setelah terjadinya ikhtilath, dan terakadang kita dengan cepat mengatakan:&#8221;Hadits ini dha&#8217;if (lemah), karena di dalamnya ada Fulan dan dia mukhtalath, dan Fulan (perawi) meriwayatkan darinya, dan dia termasuk perawi yang meriwayatkan darinya (syaikh yang mukhtalath) setelah terjadinya ikhtilath.&#8221;<br />
Akan tetapi kalau kita bersabar (tidak secara cepat menghukumi hadits), dan kita membuka-buka kitab hadits, lalu kita kumpulkan jalur-jalur hadits, niscaya akan kita dapatkan bahwa di sana ada perawi yang meriwayatkan hadits dari syaikh tersebut, dan dia termasuk perawi yang mengambil haditsnya dari syaikh tersebut sebelum ikhtilath, mak dengan demikian shahihlah hadits tersebut, dan dan tidak dihukumi dengan dha&#8217;if, sebagaiman dia dihukumi sebelum diteliti secara panjang lebar terhadap hadits tersebut.Wallahu A&#8217;lam</p>
<p>&nbsp;<br />
(Sumber: Fataawaa Hadiitsiyyah karya Syaikh Sa&#8217;d bin Abdullah Alu Humaid hal.155-156, dan http://www.al-ittibaa.net/go/showthread.php?t=794. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&#038;id=248</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1132&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/13/hadits-mukhtalath/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/01/false-hadist.jpg?w=107" medium="image">
			<media:title type="html">false-hadist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kredit Via Pihak Ketiga [Bank/Leasing]</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/kredit-via-pihak-ketiga-bankleasing/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/kredit-via-pihak-ketiga-bankleasing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 06:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1128</guid>
		<description><![CDATA[Suatu persoalan yang sering muncul di dunia bisnis adalah jual beli kredit melalui pihak ketiga. Kasusnya adalah semacam ini: Sebuah dealer menjual motor kepada Ahmad dengan cara kredit. Namun, Ahmad harus membayar cicilan kredit tersebut kepada sebuah bank. Praktek jual beli seperti inilah yang banyak dipraktekkan di banyak dealer atau showroom. Juga dapat kita temui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1128&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/riba1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1129" title="riba1" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/riba1.jpg" alt="" width="99" height="109" /></a>Suatu persoalan yang sering muncul di dunia bisnis adalah jual beli kredit melalui pihak ketiga. Kasusnya adalah semacam ini: Sebuah dealer menjual motor kepada Ahmad dengan cara kredit. Namun, Ahmad harus membayar cicilan kredit tersebut kepada sebuah bank.</p>
<p>Praktek jual beli seperti inilah yang banyak dipraktekkan di banyak dealer atau showroom. Juga dapat kita temui praktek yang serupa pada beberapa KPR dan toko elektronik. Sekarang, apakah jual beli semacam ini dibenarkan? Mari kita simak pembahasan berikut, semoga kita bisa mendapatkan jawabannya.<span id="more-1128"></span></p>
<p>Yang Harus Dipahami Terlebih Dahulu</p>
<p>Di awal pembahasan kali ini, kita akan melihat terlebih dahulu praktek jual beli yang terlarang yaitu menjual barang yang belum selesai diserahterimakan atau masih berada di tempat penjual.</p>
<p>Contohnya adalah Rizki memberi beberapa kain dari sebuah pabrik tekstil. Sebelum barang tersebut sampai ke gudang Rizki atau selesai diserahterimakan, dia menjual barang tersebut kepada Ahmad. Jual beli semacam ini adalah jual beli terlarang karena barang tersebut belum selesai diserahterimakan atau belum sampai di tempat pembeli.</p>
<p>Larangan di atas memiliki dasar dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dibawakan oleh Bukhari dan Muslim. Bukhari membawakan hadits tersebut dalam Bab:</p>
<p>باب بيع الطعام قبل أن يقبض وبيع ما ليس عندك</p>
<p>“Menjual bahan makanan sebelum diserahterimakan dan menjual barang yang bukan miliknya.”</p>
<p>Sedangkan An Nawawi dalam Shahih Muslim membawakan judul Bab,</p>
<p>بُطْلاَنِ بَيْعِ الْمَبِيعِ قَبْلَ الْقَبْضِ</p>
<p>“Batalnya jual barang yang belum selesai diserahterimakan.”</p>
<p>Hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah:</p>
<p>[Hadits Pertama]</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ</p>
<p>“Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”</p>
<p>Ibnu ‘Abbas mengatakan,</p>
<p>وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ</p>
<p>“Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>[Hadits Kedua]</p>
<p>Dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>مَنِ اشْتَرَى طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ وَيَقْبِضَهُ</p>
<p>“Barangsiapa membeli bahan makanan, maka janganlah dia menjualnya hingga menyempurnakannya dan selesai menerimanya.” (HR. Muslim)</p>
<p>[Hadits Ketiga]</p>
<p>Ibnu ‘Umar mengatakan,</p>
<p>وَكُنَّا نَشْتَرِى الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ.</p>
<p>“Kami biasa membeli bahan makanan dari orang yang berkendaraan tanpa diketahui ukurannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menjual barang tersebut sampai barang tersebut dipindahkan dari tempatnya.” (HR. Muslim)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Umar juga mengatakan,</p>
<p>كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.</p>
<p>“Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.” (HR. Muslim)</p>
<p>Dari hadits-hadits di atas menunjukkan beberapa hal:</p>
<p>1.       Terlarangnya menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.</p>
<p>2.      Larangan menjual barang yang belum selesai diserahterimakan ini berlaku bagi bahan makanan dan barang lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas di atas.</p>
<p>3.       Barang yang sudah dibeli harus berpindah tempat terlebih dahulu sebelum dijual kembali kepada pihak lain.</p>
<p>An Nawawi mengatakan,</p>
<p>“Dalam hadits-hadits di atas terdapat larangan untuk menjual barang hingga barang tersebut telah diterima oleh pembeli. Dan para ulama memang berselisih pendapat dalam masalah ini. Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa menjual kembali barang kepada pihak lain sebelum diterima oleh pembeli adalah jual beli yang tidak sah baik barang tersebut berupa makanan, aktiva tetap (seperti tanah), barang yang bisa berpindah tempat, dijual secara tunai ataupun yang lainnya.” (Syarh Muslim, 169-170)</p>
<p>Apa hikmah di balik larangan ini?</p>
<p>Hal ini diterangkan dalam hadits lain. Dari Thowus, Ibnu ‘Abbas mengatakan,</p>
<p>أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى أن يبيع الرجل طعاما حتى يستوفيه . قلت لابن عباس كيف ذاك ؟ . قال ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ</p>
<p>“Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli bahan makanan hingga barang tersebut telah diserahterimakan.”</p>
<p>Thowus mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Kenapa bisa demikian?”</p>
<p>Beliau pun mengatakan, “Sebenarnya yang terjadi adalah jual beli dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (HR. Bukhari) [Bukhari: 39-Kitabul Buyu’, 54-Bab Masalah Jual Beli Bahan Makanan dan Barang yang Ditimbun]</p>
<p>Hikmah lainnya adalah karena barang yang diserahterimakan kepada pembeli boleh jadi rusak. Hal ini disebabkan barang tersebut terbakar, rusak terkena air, atau mungkin karena sebab lainnya. Sehingga jika pembeli barang tersebut menjual kembali barang tadi kepada pihak lain, ia tidak dapat menyerahkannya.</p>
<p>Sekali Lagi Tentang Riba dalam Hutang Piutang (Riba Qordh)</p>
<p>Perlu diketahui bahwa yang namanya hutang-piutang adalah salah satu jenis akad yang di dalamnya terdapat unsur menolong dan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan bantuan. Sehingga akad hutang-piutang semacam ini tidak diperbolehkan sama sekali bagi siapa pun untuk mencari keuntungan. Keuntungan yang diperoleh dari hasil hutang piutang seperti ini disebut riba yakni riba qordh.</p>
<p>Contoh riba qordh: Ahmad berhutang pada Rizki sejumlah Rp.1.000.000,-. Kemudian Ahmad harus mengembalikan hutang tersebut dengan jumlah lebih yaitu Rp.1.200.000,- dalam jangka waktu satu bulan.  Tambahan Rp.200.000,- inilah yang disebut riba.</p>
<p>Para ulama memberi kaedah yang sangat masyhur dalam ilmu fiqih:</p>
<p>كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا</p>
<p>“Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, maka itu adalah riba.” (Lihat Asy Syarh Al Mumthi’, 8/63)</p>
<p>Perlu diketahui bahwa perbuatan menarik riba adalah perbuatan yang diharamkan dan suatu bentuk kezholiman. Kezholiman meniadakan keadilan yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ</p>
<p>“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al Baqarah: 279)</p>
<p>Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa orang yang berhutang itu ridho (rela) jika dikenakan bunga atau riba? Ada dua sanggahan mengenai hal ini:</p>
<p>Pertama, ini sebenarnya masih tetap dikatakan suatu kezholiman karena di dalamnya terdapat pengambilan harta tanpa melalui jalur yang dibenarkan. Jika seseorang yang berhutang telah masuk masa jatuh tempo pelunasan dan belum mampu melunasi hutangnya, maka seharusnya orang yang menghutangi memberikan tenggang waktu lagi tanpa harus ada tambahan karena adanya penundaan. Jika orang yang menghutangi mengambil tambahan tersebut, ini berarti dia mengambil sesuatu tanpa melalui jalur yang dibenarkan. Jika orang yang berhutang tetap ridho menyerahkan tambahan tersebut, maka ridho mereka pada sesuatu yang syari’at ini tidak ridhoi tidak dibenarkan. Jadi, ridho dari orang yang berhutang tidaklah teranggap sama sekali.</p>
<p>Kedua, pada hakikat senyatanya, hal ini bukanlah ridho, namun semi pemaksaan. Orang yang menghutangi (creditor) sebenarnya takut jika  orang yang berhutang tidak ikut dalam mu’amalah riba semacam ini. Ini adalah ridho, namun senyatanya bukan ridho. (Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- dalam Fiqh wa Fatawa Al Buyu’, 10)</p>
<p>Hati-hatilah dengan riba karena orang yang memakan riba (rentenir) dan orang yang memberinya (nasabah), keduanya sama-sama dilaknat.</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,</p>
<p>لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim) [Muslim: 23-Kitab Al Masaqoh, 19-Bab Laknat pada Orang yang Memakan Riba dan yang Menyerahkannya].</p>
<p>Maksud perkataan “mereka semua itu sama”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim, 64)</p>
<p>Jadi bukan hanya rentenir saja yang mendapatkan laknat dan dosa, namun orang yang menyerahkan riba (yaitu nasabah) juga terlaknat berdasarkan hadits di atas. Nas-alullaha al ‘afwa wal ‘afiyah.</p>
<p>Perkreditan Melalui Pihak Ketiga</p>
<p>Setelah kita mengetahui dua pembahasan di atas, yakni masalah jual beli barang sebelum dipindahkan dan praktek riba dalam hutang-piutang, maka kita akan meninjau praktek perkreditan mobil, motor ataupun rumah yang saat ini terjadi. Gambarannya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Sebuah dealer menjual motor kepada Ahmad dengan cara kredit. Namun, Ahmad harus membayar cicilan kredit tersebut ke bank atau PT. Perkreditan dan bukan dibayar ke dealer, tempat ia membeli barang tersebut.</p>
<p>Kalau kita mau bertanya, kenapa Ahmad harus membayar cicilan tersebut ke bank bukan ke dealer yang menjualkan motor padanya?</p>
<p>Jawabannya:</p>
<p>Bank ternyata telah mengadakan kesepakatan bisnis dengan dealer tersebut yang intinya: Bila ada pembeli yang membeli dengan cara kredit, maka pihak banklah yang akan membayar secara cash kepada dealer. Sedangkan pembeli diharuskan membayarkan cicilan kepada bank tadi. Dealer mendapatkan keuntungan karena dia mendapatkan uang cash langsung. Sedangkan bank mendapatkan keuntungan karena dia menjual barang tersebut dengan harga lebih tinggi, namun dengan cara kredit. Seandainya pembeli itu ngotot untuk membayar kepada dealer, maka pihak dealer akan berkeberatan. Pihak dealer menganggap urusannya dengan pembeli telah selesai, sekarang tinggal urusan pembeli dengan bank.</p>
<p>Jika kita melihat, kejadian di atas memiliki dua penafsiran. Masing-masing penafsiran akan jelas menunjukkan kesalahan, yaitu terjatuh dalam riba atau dalam jual beli barang yang belum dipindahkan (diserahterimakan).</p>
<p>Penafsiran pertama:</p>
<p>Misalnya kita anggap kalau harga motor adalah Rp. 15.000.000,- secara cash. Sedangkan secara kredit adalah Rp. 18.000.000,-. Jadi, kemungkinan yang terjadi, bank telah menghutangi pembeli motor sejumlah Rp.15.000.000,- dan dalam waktu yang sama bank langsung membayarkannya ke dealer, tempat pembelian motor. Kemudian bank akhirnya menuntut pembeli ini untuk membayar piutang tersebut sejumlah Rp.18.000.000,-.. Bagaimana dengan akad semacam ini?</p>
<p>Ini adalah akad riba karena bank menghutangi Rp.15.000.000,-, kemudian minta untuk dikembalikan lebih banyak sejumlah Rp.18.000.000,-. Ini jelas-jelas adalah riba. Hukumnya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah lewat, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim)</p>
<p>Penafsiran kedua:</p>
<p>Bank telah membeli motor tersebut dari dealer dan menjualnya kembali kepada pembeli. Jika memang penafsirannya seperti ini, maka ini berarti bank telah menjual motor yang ia beli sebelum ia pindahkan dari tempat penjual (dealer) dan ini berarti bank telah menjual barang yang belum sah ia miliki atau belum ia terima. Di antara bukti hal ini adalah surat menyurat motor semuanya ditulis dengan nama pembeli dan bukan atas nama bank. Penafsiran kedua ini sama dengan penafsiran Ibnu ‘Abbas yang pernah kami sebutkan,</p>
<p>ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ</p>
<p>“Sebenarnya yang terjadi adalah jual beli dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Jadi, yang terjadi adalah jual beli rupiah dengan rupiah, sedangkan motornya ditunda. Dengan demikian penjualan dengan cara seperti ini tidak sah karena termasuk menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.</p>
<p>Kesimpulan: Perkreditan dengan cara ini adalah salah satu bentuk akad jual beli yang haram, baik dengan penafsiran pertama atau pun kedua tadi. Wallahu a’lam.</p>
<p>Alangkah baiknya jika kita sebagai seorang muslim tidak melakukan praktek jual-beli semacam ini. Lebih baik kita membeli barang secara cash atau meminjam uang dari orang lain (yang lebih amanah, tanpa ada unsur riba) dan kita berusaha mengembalikan tepat waktu. Itu mungkin jalan keluar terbaik.</p>
<p>Saudaraku, cukup nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut sebagai wejangan bagi kita semua.</p>
<p>إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ</p>
<p>“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)</p>
<p>Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pengusaha muslim sekalian. Semoga Allah selalu memberikan kita ketakwaan dan memberi kita taufik untuk menjauhkan diri dari yang haram.</p>
<p>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1128&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/kredit-via-pihak-ketiga-bankleasing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/riba1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">riba1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tawasul Dan Tabaruk Dalam As Siyar</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/tawasul-dan-tabaruk-dalam-as-siyar/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/tawasul-dan-tabaruk-dalam-as-siyar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 05:31:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1124</guid>
		<description><![CDATA[Riwayat Tentang Tawassul dan Tabarruk Dalam As Siyar Pertanyaan: Saya menelaah tentang biografi Imam Al Bukhari pada kitab Siyar A’lam An Nubala. Ketika membaca tentang wafatnya beliau, saya menjumpai perkataan yang sangat mengganggu hati saya. Dalam kita tersebut Imam Adz Dzahabi berkata: وقال أبو علي الغساني: أخبرنا أبو الفتح نصر بن الحسن السكتي السمرقندي، قدم [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1124&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/tawasul-kubur.jpeg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1125" title="tawasul kubur" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/tawasul-kubur.jpeg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a>Riwayat Tentang Tawassul dan Tabarruk Dalam As Siyar</p>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Saya menelaah tentang biografi Imam Al Bukhari pada kitab Siyar A’lam An Nubala. Ketika membaca tentang wafatnya beliau, saya menjumpai perkataan yang sangat mengganggu hati saya. Dalam kita tersebut Imam Adz Dzahabi berkata:</p>
<p>وقال أبو علي الغساني: أخبرنا أبو الفتح نصر بن الحسن السكتي السمرقندي، قدم علينا بلنسية عام أربع وستين وأربع مائة، قال: قحط المطر عندنا بسمرقند في بعض الأعوام فاستسقى الناس مرارا، فلم يسقوا، فأتى رجل صالح معروف بالصلاح إلى قاضي سمرقند، فقال له: إني رأيت رأيا أعرضه عليك.<br />
قال: وما هو؟<br />
قال: أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الإمام محمد بن إسماعيل البخاري، وقبره بخرتنك، ونستسقي عنده، فعسى الله أن يسقينا.<br />
قال: فقال القاضي: نعم، ما رأيت.<br />
فخرج القاضي والناس معه، واستسقى القاضي بالناس، وبكى الناس عند القبر، وتشفعوا بصاحبه، فأرسل الله تعالى السماء بماء عظيم غزير أقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها، لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته، وبين خرتنك وسمرقند نحو ثلاثة أميال. هـ.</p>
<p>“Abu Ali Al Ghassani berkata, Abul Fath Nasr bin As Sikti As Samarqandi mengabarkan kepadaku: Kami datang dari Valencia pada tahun 464 H. Ketika itu selama beberapa tahun di Samarkand tidak pernah turun hujan. Maka orang-orang pun shalat istisqa berkali-kali, namun hujan belum juga turun. Maka seorang lelaki yang dikenal dengan keshalihannya mendatangi Qadhi kota Samarkand,</p>
<p>ia berkata kepada sang Qadhi: “Saya punya usul yang akan saya sampaikan kepada anda”</p>
<p>Qadhi berkata: “Apa itu?”</p>
<p>lelaki shalih berkata: “Menurutku sebaiknya anda keluar bersama orang-orang menuju kubur Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari, makam beliau berada di Kharatnak. Kita shalat istisqa di samping kubur beliau, mudah-mudahan Allah menurunkan hujan untuk kita”.</p>
<p>Qadhi berkata: “Baiklah, aku setuju”.</p>
<p>Maka keluarlah sang Qadhi Samarkand dengan orang-orang menuju kubur Imam Al-Bukhari, lalu shalat istisqa di sana. Orang-orang pun yang menangis di samping kubur, mereka juga meminta syafa’at kepada Imam al-Bukhari. Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras, hingga orang-orang saat itu menetap di Kharatnak sekitar tujuh hari. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat pulang ke Samarkand karena banyak dan derasnya hujan. Padahal jarak antara Samarqand dan Kharatnak sekitar tiga mil“.﻿ (selesai nukilan)</p>
<p>Sebenarnya saya tidak heran dengan kisah ini, karena banyak orang yang pergi lebih jauh dari itu dan mereka bukan meminta hujan kepada Allah, namun malah meminta hujan kepada mayat yang di dalam kubur! Semoga Allah menjauhkan saya dari perbuatan demikian. Tapi yang saya herankan adalah bahwa Imam Adz Dzahabi menyebutkan kisah yang merupakan bid’ah yang munkar ini, lalu beliau tidak mencelanya dan tidak memberi catatan sedikitpun. Hal ini bertentangan dengan metode beliau yang beliau pakai dalam kitab As Siyar, yaitu betapa banyak beliau mengomentari riwayat-riwayatnya misalnya dengan perkataan: “Menurutku, kisah ini batil dan kedustaan yang nyata”, “Perkataan ini tidak benar dan keji”, “Perkataan ini perlu dikritisi”, “Yang benar adalah sebaliknya”, “Hal ini menyelisihi sunnah”, “Semoga Allah menimpakan kejelekan kepada orang yang mematikan sunnah dan atsar nubuwah”, “Riwayat ini telah menghidupkan kesesatan”, atau perkataan semisal yang menunjukkan bahwa beliau menentang riwayat yang berisi perkataan atau perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran. Namun ketika meriwayatkan kisah di atas beliah tidak berhenti untuk berkomentar walau satu huruf pun. Apakah yang kemungkinan yang menyebabkan beliau diam terhadap kebid’ahan tersebut yang dapat menjerumuskan kepada syirik akbar? Semoga Allah menjaga kita dari ketergelinciran.</p>
<p>Semoga Allah memberkahi ilmu anda, dan atas apa yang anda sampaikan kepada saya dan kepada kaum muslimin semoga Allah membalasnya dengan lebih baik.<span id="more-1124"></span></p>
<p>Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah menjawab:</p>
<p>Alhamdulillah, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, keluarganya serta para sahabatnya. Amma ba’du,</p>
<p>Semoga Allah mencintai Anda atas apa yang engkau cintai dari kami. Dan aku berterima kasih kepada anda, karena telah menghubungiku. Semoga Allah memberi kita taufiq untuk dapat istiqamah pada apa yang diridhai dan dicintai oleh Allah.</p>
<p>Kemudian kami ingin menjelaskan kepada anda, saudaraku yang mulia, apa yang mengganggu pikiran anda itu benar adanya. Apa yang terkandung dalam kisah tersebut jelas-jelas bertentangan dengan agama kita dan merusak kemurnian tauhid kita kepada Rabbil Alamin. Justru kepada Allah lah kita memintakan ampunan bagi orang-orang yang sudah mati, dan kepada-Nya lah kita memohon kebaikan bagi orang-orang yang masih hidup. Dan kami telah menjelaskan tentang hukum berdoa di sisi kubur pada fatwa nomor 52015.</p>
<p>Adapun tentang nukilan Imam Adz Dzahabi yang janggal tersebut, itu memang benar terdapat pada kitab-kitabnya, dan ini memang mengherankan. Karena beliau, seorang ulama besar, sungguh telah mengingkari perbuatan semacam ini. Andai beliau tidak menukil riwayat semacam itu, itulah yang lebih baik.</p>
<p>Sebagai peringatan yang perlu digaris bawahi, hendaknya janganlah terpedaya dengan nukilan-nukilan janggal yang berasal dari Adz Dzahabi ataupun ulama Islam yang lain. Kami jelaskan kepada anda, yang bisa menjadi dalil adalah apa yang ditetapkan oleh nash-nash syariat, baik Al Qur’an atapun Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian pemahaman yang benar terhadap nash-nash tersebut, yaitu pemahaman para sahabat dan yang mengikuti mereka. Karena merekalah tiga generasi yang terbaik dalam Islam. Sedangkan perkataan ulama itu membutuhkan dalil dan bukan dijadikan dalil. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam fatwa sebelumnya yang khusus membahas hal ini.</p>
<p>Khusus tentang Imam Adz Dzahabi rahimahullah, jika seseorang membaca kitab biografi dan sejarah yang ditulisnya, yaitu kitab Siyar A’lamin Nubala, akan mendapati banyak riwayat sebagaimana yang telah diingkari oleh penanya dan penanya telah benar dengan pengingkarannya. Dengan adanya riwayat-riwayat ini, sebagian orang-orang sufi mengumpulkan nukilan-nukilan janggal dari Adz Dzahabi ini kemudian memberi komentar tambahan. Diantaranya kitab Al Barakah Wat Tabarruk Min Dzahabiyyat.</p>
<p>Untuk itu perlu kami jelaskan, benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman Al ‘Ulwan dalam kitab beliau yang berjudul Ithaf Ahlil Fadhl Wal Inshaf Bi Naqdhi Kitab Ibnil Jauzi, kitab ini adalah sebuah bantahan terhadap syubhat dari komentar-komentar As Saqqaf terhadap kitab Ibnul Jauzi. Syaikh Sulaiman berkata:</p>
<p>والذهبي ـ عفا الله عنه ـ عنده تساهل في نقل مثل هذه الحكاية وأشباهها دون تعقب لها، وقد قرأت كتابه: السير ـ فرأيت فيه أشياء يتعجب منها، كيف يذكرها ولا يتعقبها؟ مع أن بعضها مما يناقض ما بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم، فكان الأولى بالذهبي ـ رحمه الله ـ ردها وإبطالها، أو عدم ذكرها، لأنها تخالف مذهب السلف، وهو واحد من علماء السلف الذين خدموا هذا الدين بالمصنفات الكثيرة، وقد رأيت بالاستقراء أهل السير والتواريخ يتساهلون في النقل، والله المستعان</p>
<p>“Adz Dzahabi, semoga Allah mengampuni beliau, ia telah bermudah-mudah dan membuat syubhat dalam menukil kisah seperti ini, tanpa memberikan tanggapan terhadapnya. Saya telah membaca kitabnya, yaitu As Siyar, dan saya dapati banyak hal yang mengherankan. Mengapa beliau menyebutkannya dan tidak menanggapinya? Padahal sebagiannya termasuk hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam yang diutus oleh Allah. Semestinya Adz Dzahabi rahimahullah membantah dan mengingkarinya, atau minimal tidak menyebutkan riwayat-riwayat tersebut. Karena hal tersebut bertentangan dengan mazhab salaf. Beliau sendiri adalah salah satu ulama salaf yang melayani agama ini dengan tulisan-tulisan beliau yang banyak. Namun saya memang telah meneliti bahwa ternyata penulis kitab-kitab sejarah sering bermudah-mudah dalam menukil riwayat. Wallahul musta’an”. [sampai di sini perkataan Syaikh Sulaiman]</p>
<p>Selain itu kami perlu tekankan di sini bahwa Adz Dzahabi rahimahullah dan para ulama yang diakui keilmuannya tidak menganggap bolehnya bertawassul dan bertabarruk dengan jasad mayat di dalam kubur. Dalam hal ini yang mereka bahas adalah tentang berdoa di tempat turunnya berkah dan rahmat. Oleh karena itu ketika Adz Dzahabi membawakan perkataan dari Ibrahim Al Harbi yang berbunyi:</p>
<p>قبر معروف الترياق المجرب</p>
<p>“Kuburan Ma’ruf Al Kharki adalah obat yang mujarab”</p>
<p>Adz Dzahabi rahimahullah mengomentari:</p>
<p>يريد إجابة دعاء المضطر عنده، لأن البقاع المباركة يستجاب عندها الدعاء، كما أن الدعاء في السحر مرجو، ودبر المكتوبات، وفي المساجد بل دعاء المضطر مجاب في أي مكان اتفق</p>
<p>“Yang dimaksud adalah terkabulnya doa di samping kuburnya. Karena sebidang tanah yang diberkahi membuat doa dikabulkan di sana. Sebagaimana doa di waktu sahur dikabulkan, juga doa di ujung shalat, doa di masjid bahkan doa dalam keadaan terdesak akan dikabulkan dimanapun tempat yang disepakati”</p>
<p>Imam Asy Syaukani rahimahullah dalam kitabnya, Tuhfatu Adz Dzakirin, ketika menjelaskan perkataan Ibnul Jauzi yang terdapat dalam kitab Hisnul Hushain, yaitu Ibnul Jauzi berkata:</p>
<p>وجرب استجابة الدعاء عند قبور الصالحين</p>
<p>“Terkabulnya doa di sisi kubur orang shalih”</p>
<p>Asy Syaukani menjelaskan:</p>
<p>وجه ذلك مزيد الشرف ونزول البركة، وقد قدمنا أنها تسري بركة المكان على الداعي، كما تسري بركة الصالحين الذاكرين الله سبحانه على من دخل فيهم ممن ليس هو منهم، كما يفيده قوله صلى الله عليه وسلم: هم القوم لا يشقى بهم جليسهم</p>
<p>“Hal tersebut dikarenakan adanya tambahan keutamaan dan turunnya berkah di sana. Telah kami jelaskan bahwa hal tersebut bisa mengalir pada orang-orang yang berdoa di sana. Sebagaimana berkah para ulama yang shalih juga mengalir pada orang-orang yang datang ke majelis mereka, meskipun yang datang bukan termasuk orang shalih. Sebagaimana salah satu makna dari hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: ‘Para ulama, merekalah orang-orang yang jika membuat majelis, maka orang-orang yang hadir di dalamnya tidak akan kehausan‘”</p>
<p>لكن ذلك بشرط أن لا تنشأ عن ذلك مفسدة، وهي أن يعتقد في ذلك الميت ما لا يجوز اعتقاده، كما يقع لكثير من المعتقدين في القبور، فإنهم قد يبلغون الغلو بأهلها إلى ما هو شرك بالله عز وجل، فينادونهم مع الله ويطلبون منهم ما لا يطلب إلا من الله عز وجل، وهذا معلوم من أحوال كثير من العاكفين على القبور، خصوصا العامة الذين لا يفطنون لدقائق الشرك، وقد جمعت في ذلك رسالة مطولة سميتها: الدر النضيد في إخلاص التوحيد</p>
<p>“Namun, hal tersebut disyaratkan tidak terjadi kerusakan di dalamnya. Kerusakan yang dimaksud adalah memiliki keyakinan yang tidak boleh diyakini berkaitan dengan si mayit, sebagaimana yang banyak terjadi pada orang-orang yang berdoa di sisi kubur. Mereka terkadang berlebihan terhadap si mayit yang ada di dalam kubur sampai tergolong sesuatu yang merupakan kesyirikan. Selain berdoa dengan memanggil nama Allah, mereka juga memanggil nama si mayit. Mereka juga meminta kepada si mayit, yang permintaan itu sejatinya hanya dapat dikabulkan oleh Allah semata. Ini fakta yang terjadi pada kebanyakan orang sering yang beri’tikaf di kuburan. Terutama orang-orang awam yang mereka tidak memahami tentang kesyirikan secara terperinci. Dan saya telah membahas fenomena ini dalam sebuah tulisan yang saya beri judul Ad Darr An Nadhid Fii Ikhlasi At Tauhid” [sampai di sini perkataan Asy Syaukani]</p>
<p>Walaupun Asy Syaukani di atas jelas telah memberikan syarat atas bolehnya berdoa di sisi kubur orang shalih, namun ketahuilah sesungguhnya pembolehan ini sendiri tidak tepat dan menyelisihi sunnah dan menyelesihi riwayat-riwayat yang shahih dari salafus shalih yang merupakan generasi terbaik umat Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menjelaskan secara rinci permasalahan ini dalam kitabnya Iqtidha Shiratil Mustaqim:</p>
<p>إن قيل: قد نقل عن بعضهم أنه قال: قبر معروف الترياق المجرب. وروي عن معروف أنه أوصى ابن أخيه أن يدعو عند قبره. ونقل المروزي عن جماعات بأنهم دعوا عند قبور جماعات من الأنبياء والصالحين. ….. وذكر أشياء من هذا النحو إلى أن قال: وقد أدركنا في أزمامنا وما قاربها من ذي الفضل عند الناس علما وعملا من كان يتحرى الدعاء عندها والعكوف عليها، وفيهم من كان بارعا في العلم، وفيهم من له عند الناس كرامات، فكيف يخالف هؤلاء؟ وإنما ذكرت هذا السؤال مع بعده عن طريق أهل العلم والدين، لأنه غاية ما يتمسك به القبوريون.</p>
<p>“Kalau ada orang yang berkata:</p>
<p>“Dinukil oleh sebagian ulama bahwa Ibrahim Al Harbi mengatakan: ‘Kuburan Ma’ruf Al Kharki adalah obat yang mujarab’. Dan diriwayatkan pula dari Ma’ruf Al Kharki bahwa ia mewasiatkan kepada saudaranya agar saudaranya tersebut berdoa di sisi kubur beliau. Al Marwazi juga meriwayatkan dari sekelompok ulama bahwa mereka pernah berdoa di sisi kubur beberapa orang Nabi dan orang shalih”</p>
<p>Lalu orang ini terus menyebutkan alasan-alasan semisal, hingga ia berkata:</p>
<p>“Saya lihat di zaman kita ini dan beberapa zaman sebelum ini, ada tokoh agama yang memilih untuk berdoa di sisi kuburan dan beri’tikaf di sana. Diantara mereka itu ada yang ilmunya sangat mumpuni, ada juga yang memiliki karomah, masak sih kita menentang mereka? Sungguh saya bertanya hal ini karena demikianlah yang diamalkan orang para tokoh agama, dan inilah sebenarnya alasan pamungkas yang dipegang oleh orang-orang yang beribadah di kuburan”</p>
<p>، قلنا: الذي ذكرنا كراهته لم ينقل في استحبابه فيما علمناه شيء ثابت عن القرون الثلاثة التي أثنى عليها رسول الله صلى الله عليه و سلم حيث قال: خير أمتي: القرن الذي بعثت فيه ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم</p>
<p>“Maka kita jawab pertanyaan ini:</p>
<p>“Alasan kami mengharamkan berdoa di sisi kuburan adalah karena sepengetahuan kami, sama sekali tidak terdapat anjurannya dalam riwayat-riwayat shahih dari tiga generasi terbaik umat Islam yang di puji oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabdanya: ‘Sebaik-baik umat adalah generasi yang aku diutus kepadanya (para sahabat), kemudian setelahnya (para tabi’in), kemudian setelahnya (tabi’ut tabi’in)’”</p>
<p>مع شدة المقتضي عندهم لذلك لو كان فيه فضيلة، فعدم أمرهم وفعلهم لذلك مع قوة المقتضي لو كان فيه فضل يوجب القطع بأن لا فضل فيه، وأما من بعد هؤلاء فأكثر ما يفرض أن الأمة اختلفت فصار كثير من العلماء والصديقين إلى فعل ذلك، وصار بعضهم إلى النهي عن ذلك، فإنه لا يمكن أن يقال اجتمعت الأمة على استحسان ذلك لوجهين:</p>
<p>أحدهما: أن كثيرا من الأمة كره ذلك وأنكره قديما وحديثا</p>
<p>الثاني: أنه من الممتنع أن تتفق الأمة على استحسان فعل لو كان حسنا لفعله المتقدمون ولم يفعلوه، فإن هذا من باب تناقض الإجماعات، وهي لا تتناقض، وإذا اختلف فيه المتأخرون فالفاصل بينهم هو الكتاب والسنة وإجماع المتقدمين نصا واستنباطا، فكيف ـ والحمد لله ـ لا ينقل هذا عن إمام معروف ولا عالم متبع؟ بل المنقول في ذلك إما أن يكون كذبا على صاحبه، وإما أن يكون المنقول من هذه الحكايات عن مجهول لا يعرف، ونحن لو روي لنا مثل هذه الحكايات المسيبة أحاديث عمن لا ينطق عن الهوى، لما جاز التمسك بها حتى تثبت، فكيف بالمنقول عن غيره؟.</p>
<p>“Karena mereka umat terbaik, maka konsekuensinya mereka sangat di tuntut untuk mengerjakan hal tersebut, yaitu berdoa di sisi kuburan, andai memang berdoa di sisi kuburan itu memiliki keutamaan. Namun nyatanya mereka tidak pernah memerintahkan ataupun melakukannya. Ini menunjukkan bahwa berdoa di sisi kuburan tidak memiliki keutamaan sama sekali. Adapun orang-orang setelah tiga generasi tadi, banyak diantara mereka mengklaim bahwa hal ini merupakan khilafiyyah, dengan alasan sebagian ulama dan orang shalih melakukannya dan sebagian lagi melarang. Dari sini, kita katakan bahwa tidak mungkin disepakati (ijma’) bolehnya menganggap baik perbuatan ini, dengan 2 alasan:<br />
Banyak ulama yang telah melarang dan mengingkari, baik ulama dahulu maupun ulama masakini.<br />
Andaikan perbuatan ini baik, sungguh orang-orang terdahulu telah melakukannya, dan fakta mengatakan mereka tidak melakukannya (Ini menunjukkan ijma salafus shalih, pent.). Andai disepakati (ijma’) bolehnya perbuatan ini oleh orang-orang setelah mereka, maka sungguh, ijma itu tidak mungkin bertentangan. Jika orang-orang muta’akhirin yang hidup setelah tiga generasi tadi berselisih pendapat maka tentu penengah di antara mereka ada Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’ salafus shalih, yang diambil dari nash atau dari istimbath.</p>
<p>Selain itu, andaikan perbuatan ini dibolehkan, mengapa tidak diriwayatkan para imam yang ma’ruf juga tidak diriwayatkan oleh para ulama yang memiliki banyak pengikut? Namun justru perbuatan ini diriwayatkan dalam riwayat-riwayat yang dusta, atau diriwayatkan dalam hikayat-hikayat yang majhul. Kemudian, andaikan memang ada hadits tentang perbuatan ini yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang sabda beliau bisa jadi hujjah, ini saja perlu kita pastikan keshahihannya, maka bagaimana lagi dengan riwayat-riwayat yang diriwayatkan bukan dari beliau?”</p>
<p>ومنها: ما قد يكون صاحبه قاله أو فعله باجتهاد يخطئ ويصيب، أو قاله بقيود وشروط كثيرة على وجه لا محذور فيه، فحرف النقل عنه.</p>
<p>ثم سائر هذه الحجج دائرة بين نقل لا يجوز إثبات الشرع به، أو قياس لا يجوز استحباب العبادات بمثله، مع العلم بأن الرسول صلى الله عليه وسلم لم يشرعها، وتركه مع قيام المقتضي للفعل بمنزلة فعله، وإنما يثبت العبادات بمثل هذه الحكايات والمقاييس من غير نقل عن الأنبياء النصارى وأمثالهم، وإنما المتبع في إثبات أحكام الله: كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وسبيل السابقين أو الأولين، لا يجوز إثبات حكم شرعي بدون هذه الأصول الثلاثة، نصا واستنباطا بحال</p>
<p>“Alasan lain, terkadang ahli ilmu yang menyatakan kebolehannya atau melakukannya, ia berbuat demikian dengan ijtihadnya. Dan ijtihad itu terkadang salah dan terkadang benar. Atau terkadang, mereka sebenarnya membolehkan dengan banyak syarat-syarat hingga perbuatan itu menjadi tidak terlarang, namun dalam kesempatan itu ia menukil begitu saja tanpa menyebutkan syarat-syaratnya.</p>
<p>Kemudian, alasan-alasan yang dilontarkan orang-orang yang gemar berdoa di sisi kuburan, semuanya hanya seputar riwayat-riwayat yang tidak bisa dijadikan dalil atau qiyas yang bisa digunakan untuk menganjurkan sebuah ibadah. Dan mereka sebetulnya mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkan perbuatan demikian, dan Rasulullah pun tidak pernah mengerjakan perbuatan demikian padahal seharusnya beliau mengerjakannya andai memang ada keutamaannya. Kebiasaan mensyariatkan ibadah dengan dasar hikayat-hikayat serta qiyas-qiyas yang tidak benar dari para Nabi adalah kebiasaan kaum Nasrani atau yang semisal mereka. Sedangkan dalam Islam, yang bisa digunakan untuk menetapkan sebuah hukum adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta jalan yang ditempuh oleh generasi-generasi pertama umat Islam. Tidak boleh menentukan hukum syar’i tanpa didasari tiga pondasi ini, baik diambil secara nash atau istimbath dari sebuah kejadian”. [sampai di sini perkataan Syaikhul Islam]</p>
<p>Kemudian Syaikhul Islam Rahimahullah menjawab syubhat ini secara global dan juga rinci. Silakan lihat rinciannya pada kitab Al Iqtidha.</p>
<p>Sumber: http://www.islamweb.net/ver2/fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&amp;Id=137854&amp;Option=FatwaId</p>
<p>Catatan:<br />
Tidak layak membolehkan tabarruk atau tawassul di kubur orang shalih dengan hujjah berupa pendapat Imam Adz Dzahabi, Asy Syaukani atau Ibnul Jauzi. Karena hujjah adalah Al Qur’an, As Sunnah dan pemahaman salafush shalih.<br />
Andai berhujjah dengan perkataan Asy Syaukani pun, pada umumnya, orang-orang yang gemar bertabarruk dan bertawassul dengan kuburan tidak memenuhi syarat yang beliau sampaikan.<br />
Yang dibicarakan dalam artikel di atas adalah tentang berdoa di sisi kuburan orang shalih, semisal Imam Al Bukhari. Sedangkan yang banyak dilakukan orang-orang di zaman ini, terutama di negeri kita, adalah bertabarruk dan bertawassul di kuburan orang yang tidak jelas keshalihannya,  atau hanya dianggap shalih oleh para peziarahnya, atau kadang kuburan yang belum jelas penghuninya si Fulan atau bukan, atau bahkan terkadang kuburan ahli bid’ah, bahkan lebih parah lagi kuburan ahli maksiat pun didatangi.<br />
Riwayat janggal yang dinukil Imam Adz Dzahabi juga kami temukan di kitabnya yang lain Al Mu’jam Asy Syuyukh yang juga merupakan kitab biografi seperti As Siyar. Dan jawabannya pun sebagaimana jawaban di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://kangaswad.wordpress.com/2011/01/10/riwayat-tentang-tawassul-dan-tabarruk-dalam-as-siyar/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1124&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/tawasul-dan-tabaruk-dalam-as-siyar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/tawasul-kubur.jpeg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">tawasul kubur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tunggu Makanan Hingga Dingin</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/tunggu-makanan-hingga-dingin/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/tunggu-makanan-hingga-dingin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 04:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan & Minuman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1120</guid>
		<description><![CDATA[Jangan Makan Sampai Dingin عن قرة بن عبد الرحمن عن ابن شهاب عن عروة بن الزبير عن أسماء بنت أبي بكر: أنها كانت إذا ثردت غطته شيئا حتى يذهب فوره ثم تقول : إنى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إنه أعظم للبركة يعني الطعام الذي ذهب فوره ” . Dari Asma binti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1120&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/makanan-panas.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1121" title="makanan panas" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/makanan-panas.jpg?w=150&#038;h=84" alt="" width="150" height="84" /></a>Jangan Makan Sampai Dingin</p>
<p>عن قرة بن عبد الرحمن عن ابن شهاب عن عروة بن الزبير عن أسماء بنت أبي بكر:<br />
أنها كانت إذا ثردت غطته شيئا حتى يذهب فوره ثم تقول : إنى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إنه أعظم للبركة يعني الطعام الذي ذهب فوره ” .</p>
<p>Dari Asma binti Abu Bakr, sesunguhnya beliau jika beliau membuat roti tsarid wadahnya beliau ditutupi sampai panasnya hilang kemudian beliau mengatakan, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya makanan yang sudah tidak panas itu lebih besar berkahnya”. [HR Hakim no 7124. Hakim mengatakan, “Hadits sahih sesuai dengan kriteria Muslim”. Pernyataan beliau ini disetujui oleh adz Dzahabi. Hadits di atas dimasukkan oleh al Albani dalam Silsilah Shahihah jilid 1 bag 2 no hadits 392].</p>
<p>و قد صح عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: ” لا يؤكل طعام حتى يذهب بخاره .<br />
أخرجه البيهقي بإسناد صحيح كما بينته في ” الإرواء ” 2038</p>
<p>Dalam Silsilah Shahihah jilid 1 bag 2 hal 748, al Albani mengatakan, “Terdapat riwayat yang sahih dari Abu Hurairah, beliau mengatakan “Makanan itu belum boleh dinikmati sehingga asap panasnya hilang”. Diriwayatkan oleh al Baihaqi dengan sanad yang sahih sebagaimana kujelaskan dalam Irwa’ Ghalil no 2038”.</p>
<p>Tidakkah kita ingin makanan yang kita makan itu lebih berkah? Sudahkan kita mengamalkan hadits di atas?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1120&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/tunggu-makanan-hingga-dingin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/makanan-panas.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">makanan panas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Tepuk Tangan</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/hukum-tepuk-tangan/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/hukum-tepuk-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 04:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab & Perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1116</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Tepuk Tangan قال في حاشية البجيرمي: ((والتصفيق مكروه كراهة تنزية)). حاشية البجيرمي 4/434. Dalam Hasyiah al Bajairumi asy Syafii disebutkan, “Hukum tepuk tangan adalah makruh” [Hasyiah al Bajairumi 4/434]. وسئل رضي الله عنه عن قول الزركشي إن التصفيق باليد للرجال للهو حرام لما فيه من التشبه بالنساء هل هو مسلم أم لا، وهل الحرمة [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1116&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/tepuktangan-kuncupkembang.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1117" title="Groups - Adults and Business People" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/tepuktangan-kuncupkembang.jpg?w=120&#038;h=150" alt="" width="120" height="150" /></a>Hukum Tepuk Tangan</p>
<p>قال في حاشية البجيرمي: ((والتصفيق مكروه كراهة تنزية)). حاشية البجيرمي 4/434.</p>
<p>Dalam Hasyiah al Bajairumi asy Syafii disebutkan, “Hukum tepuk tangan adalah makruh” [Hasyiah al Bajairumi 4/434].<span id="more-1116"></span></p>
<p>وسئل رضي الله عنه عن قول الزركشي إن التصفيق باليد للرجال للهو حرام لما فيه من التشبه بالنساء هل هو مسلم أم لا، وهل الحرمة مقيدة بما إذا قصد التشبه أو يقال ما اختص به النساء يحرم على الرجال فعله، وإن لم يقصد به التشبه بالنساء.</p>
<p>Al Bajairumi ditanya mengenai perkataan az Zarkasyi, “Sesungguhnya tepuk tangan untuk laki-laki jika untuk permainan yang melalaikan hukumnya haram karena perbuatan tersebut dinilai menyerupai perempuan”. Apakah perkataan tersebut bisa diterima atau tidak? Apakah bertepuk tangan itu haram jika dengan maksud menyerupai perempuan ataukah kita katakan bahwa tepuk tangan merupakan ciri khas perempuan sehingga haram dilakukan oleh laki-laki meski tanpa maksud menyerupai perempuan?</p>
<p>فأجاب: هو مسلم حيث كان للهو، وإن لم يقصد به التشبه بالنساء.</p>
<p>Jawaban beliau, “Perkataan tersebut bisa diterima jika tepuk tangan yang dilakukan oleh laki-laki tersebut dengan tujuan permainan meski pelakunya tidak bermaksud untuk menyerupai perempuan”.</p>
<p>وسئل عن التصفيق خارج الصلاة لغير حاجة هل هو حرام أم لا؟</p>
<p>Al Bajairumi juga ditanya mengenai hukum tepuk tangan di luar shalat tanpa ada kebutuhan apakah hukumnya haram ataukah tidak?</p>
<p>فأجاب إن قصد الرجل بذلك التشبه بالنساء حرم، وإلا كره. ا هـ. نهاية المحتاج 2/47.</p>
<p>Jawaban beliau, “Jika laki-laki yang bertepuk tangan tersebut bermaksud untuk menyerupai perempuan hukumnya haram. Jika tidak demikian, hukumnya makruh” [Nihayah al Muhtaj-buku fiqh syafii- 2/47].</p>
<p>قال ابن حجر: يكره التصفيق خارج الصلاة مطلقا، ولو بضرب بطن على بطن، وبقصد اللعب، ومع بعد إحدى اليدين عن الأخرى. وقال شيخنا الرملي: إنه حرام بقصد اللعب، وكتصفيق فيما ذكر ضرب الصبي على بعضه، أو بنحو قضيب أو ضرب خشب على مثله، حيث حصل به الطرب. حاشية قليوبي 1/216.</p>
<p>Ibnu Hajar al Haitami asy Syafii, “Makruh hukumnya bertepuk tangan di luar shalat apa pun bentuknya meski tepuk tangan dengan bentuk bagian dalam telapak tangan dipukulkan ke bagian dalam telapak tangan dengan tujuan sekedar main-main…. Guru kami ar Ramli mengatakan, ‘Tepuk tangan hukumnya haram jika maksudnya adalah main-main semisal tepuk tangan ketika ada anak kecil yang sedang kelahi dengan kawannya. Demikian pula haram hukumnya memukulkan bambu dengan bambu atau kayu dengan kayu karena hal tersebut menimbulkan irama musik” [Hasyiyah al Qolyubi-buku fiqh Syafii- 1/216].</p>
<p>وقد حرم بعض العلماء التصفيق لقوله عليه السلام: ((إنما التصفيق للنساء)) ((ولعن عليه السلام المتشبهات من النساء بالرجال، والمتشبهين من الرجال بالنساء))،</p>
<p>Sebagian ulama mengharamkan tepuk tangan bagi laki-laki mengingat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tepuk tangan itu hanya untuk perempuan’ dan hadits ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan’.</p>
<p>ومن هاب الإله وأدرك شيئا من تعظيمه لم يتصور منه رقص ولا تصفيق، ولا يصدر التصفيق والرقص إلا من غبي جاهل، ولا يصدران من عاقل فاضل، ويدل على جهالة فاعلهما أن الشريعة لم ترد بهما في كتاب ولا سنة، ولم يفعل ذلك أحد الأنبياء ولا معتبر من أتباع الأنبياء،</p>
<p>Siapa yang benar-benar merasa takut kepada Allah dan memiliki sedikit saja rasa pengagungan kepada Allah tidaklah mungkin berjoget atau pun bertepuk tangan. Tidak ada yang berjoget ataupun bertepuk tangan kecuali orang yang dungu dan bodoh. Dua hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh orang yang benar-benar berakal dan mengerti agama. Di antara bukti kebodohan orang tersebut adalah syariat tidak pernah mengajarkan untuk berjoget ataupun bertepuk tangan dalam al Qur’an ataupun hadits dan tidak ada satupun nabi atau pengikut nabi sejati yang melakukannya.</p>
<p>وإنما يفعل ذلك الجهلة السفهاء الذين التبست عليهم الحقائق بالأهواء، وقد قال تعالى: ﴿وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ﴾</p>
<p>Yang melakukan dua hal tersebut hanyalah orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan kebenaran dengan hawa nafsu. Allah berfirman (yang artinya), “Kami turunkan al Qur’an kepadamu sebagai penjelas bagi segala sesuatu”.</p>
<p>وقد مضى السلف وأفاضل الخلف ولم يلابسوا شيئا من ذلك،</p>
<p>Tidak ada satu pun salaf ataupun ulama khalaf yang melakukan satu pun dari hal-hal tersebut.</p>
<p>ومن فعل ذلك أو اعتقد أنه غرض من أغراض نفسه وليس بقربة إلى ربه، فإن كان ممن يقتدى به ويعتقد أنه ما فعل ذلك إلا لكونه قربة فبئس ما صنع لإيهامه أن هذا من الطاعات، وإنما هو من أقبح الرعونات. قواعد الأحكام 2/220-221.</p>
<p>Siapa yang melakukannya hal (joget atau tepuk tangan) atau menyakini bahwa hal tersebut hal sekedar penghibur hati, bukan amal ibadah kepada Allah maka jika pelakunya adalah person yang diteladani oleh banyak orang sehingga apa yang dia lakukan akan diyakini oleh orang lain sebagai ibadah maka sungguh jelek perbuatannya. Perbuatan tersebut menyebabkan banyak orang yang salah faham, mengira hal tersebut adalah amal ketaatan padahal kedua hal tersebut adalah ketololan yang sangat jelek [Qawaid al Ahkam 2/220-221].</p>
<p>قال في التمهيد: وفيه أن التصفيق لا يجوز في الصلاة لمن نابه شيء فيها ولكن يسبح وهذا ما لا خلاف فيه للرجال</p>
<p>Dalam kitab at Tamhid disebutkan, “Hadits ini menunjukkan bahwa bahwa laki-laki tidaklah bertepuk tangan ketika terjadi sesuatu ketika shalat. Laki-laki cukup mengucapkan tasbih. Hal ini adalah hal yang tidak diperselisihkan oleh para ulama.</p>
<p>وأما النساء فإن العلماء اختلفوا في ذلك فذهب مالك وأصحابه إلى أن التسبيح للرجال والنساء جميعا لقوله صلى الله عليه وسلم ((من نابه شيء في صلاته فليسبح)) ولم يخص رجالا من نساء وتأولوا قول النبي صلى الله عليه وسلم ((إنما التصفيق للنساء)) أي إنما التصفيق من فعل النساء قال ذلك على جهة الذم ثم قال من نابه شيء في صلاته فليسبح وهذا على العموم للرجال والنساء هذه حجة من ذهب هذا المذهب.</p>
<p>Sedangkan untuk perempuan, para ulama berselisih pendapat. Imam Malik dan Malikiyyah berpendapat bahwa mengucapkan tasbih itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa saja yang mengalami sesuatu ketika shalat hendaknya mengucapkan tasbih’. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkhususkan bacaan tasbih untuk laki-laki atau perempuan. Sedangkan hadits ‘Tepuk tangan itu hanya untuk perempuan’ mereka tafsirkan sebagai kalimat celaan bagi perempuan yang melakukannya. Sedangkan dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Siapa saja yang mengalami sesuatu ketika shalat hendaknya mengucapkan tasbih’. Hadits ini bersifat umum, berlaku untuk laki-laki ataupun perempuan. Inilah alasan pendapat ini.</p>
<p>وقال آخرون منهم الشافعي والأوزاعي وعبيد الله بن الحسن والحسن بن حي وجماعة من نابه من الرجال شيء في صلاته سبح ومن نابها من النساء شيء في صلاتها صفقت إن شاءت</p>
<p>Para ulama yang lain semisal Imam Syafii, al Auzai, Ubaidillah bin al Hasan, al Hasan bin Hayy dan sejumlah ulama yang lain mengatakan bahwa laki-laki yang mengalami sesuatu dalam shalatnya hendaknya mengucapkan tasbih. Sedangkan perempuan yang mengalami sesuatu dalam shalatnya hendaknya dia bertepuk jika dia mau.</p>
<p>لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد فرق بين حكم النساء والرجال في ذلك فقال التصفيق للنساء ومن نابه شيء في صلاته يعني منكم أيها الرجال فليسبح واحتج بحديث أبي هريرة التسبيح للرجال والتصفيق للنساء ففرق بين حكم الرجال والنساء وكذلك رواه جماعة في حديث سهل بن سعد هذا قال الأوزاعي: إذا نادته أمه وهو في الصلاة سبح فإن التسبيح للرجال والتصفيق للنساء سنة. التمهيد لابن عبد البر 21/106.</p>
<p>Alasannya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara laki-laki dengan perempuan dalam masalah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tepuk tangan itu untuk perempuan”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Siapa saja yang mengalami sesuatu dalam shalatnya-yaitu di antara kalian wahai para laki-laki-hendaknya mengucapkan tasbih”. Alasan lain adalah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacaan tasbih itu untuk laki-laki. Sedangkan tepuk tangan itu untuk perempuan”. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan ketentuan untuk laki-laki dengan ketentuan untuk perempuan. Demikian pula yang diriwayatkan oleh tujuh kitab hadits dari sahabat Sahl bin Saad. Al Auzai mengatakan, “Jika seorang laki-laki yang sedang shalat wajib dipanggil oleh ibunya, hendaknya dia mengucapkan tasbih karena tasbih untuk laki-laki sedangkan tepuk tangan untuk perempuan, itulah yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” [at Tamhid karya Ibnu Abdil Barr al Maliki 21/106].</p>
<p>قال في طرح التثريب: (( ( الحادية عشرة ) أخذ منه بعضهم أنه لا يجوز للرجل التصفيق باليدين مطلقا لا في الصلاة ولا في غيرها لكونه جعل التصفيق للنساء لكنه محمول على حالة الصلاة بدليل تقييده بذلك في رواية المصنف ومسلم وغيرهما كما تقدم.</p>
<p>Dalam Tharh al Tatsrib disebutkan, “Sebagian ulama menyimpulkan dari hadits ini bahwa laki-laki itu tidak boleh bertepuk tangan dalam kondisi apapun baik ketika shalat ataupun di luar shalat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa tepuk tangan itu untuk perempuan. Namun yang benar, yang dimaksudkan oleh hadits adalah tepuk tangan ketika shalat sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.</p>
<p>ومقتضى قاعدة من يأخذ بالمطلق وهم الحنابلة والظاهرية عدم جوازه مطلقا ومتى كان في تصفيق الرجل تشبه بالنساء فيدخل في الأحاديث الواردة في ذم المتشبهين من الرجال بالنساء ولكن ذلك إنما يأتي في ضرب بطن إحدى اليدين على بطن الأخرى ولا يأتي في مطلق التصفيق)). طرح التثريب 2/250</p>
<p>Konsekuensi dari kaedah yang hanya melihat dalil mutlak dalam masalah seperti ini semisal kaedah yang dianut oleh Hanabilah dan Zhahiriah adalah tidak bolehnya tepuk tangan bagi laki-laki secara mutlak dalam kondisi apapun. Jika tepuk tangan yang dilakukan oleh seorang laki-laki itu mengandung unsur menyerupai perempuan maka laki-laki yang bertepuk tangan itu termasuk dalam hadits-hadits yang melarang laki-laki yang menyerupai perempuan. Namun tepuk tangan yang terlarang bagi laki-laki hanya tepuk tangan dengan bentuk memukulkan bagian dalam telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan, tidak semua bentuk menepukkan tangan. [Tharh al Tatsrib 2/250].</p>
<p>قال الحافظ شمس الدين بن القيم رحمه الله قوله في الحديث: وليصفق النساء دليل على أن قوله في حديث سهل بن سعد المتفق عليه التصفيق للنساء أنه إذن وإباحة لهن في التصفيق في الصلاة عند نائبة تنوب لا أنه عيب وذم.</p>
<p>Ibnul Qayyim mengomentari hadits ‘Hendaknya perempuan bertepuk tangan’ dengan mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam hadits dari Sahl bin Saad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan redaksi ‘Tepuk tangan itu hanya untuk perempuan’ maksudnya adalah memberi izin dan membolehkan perempuan untuk bertepuk tangan dalam shalat ketika terjadi sesuatu, bukan bermakna celaan.</p>
<p>قال الشافعي حكم النساء التصفيق وكذا قاله أحمد.</p>
<p>Imam Syafii dan Ahmad berpendapat bahwa perempuan itu bertepuk tangan.</p>
<p>وذهب مالك إلى أن المرأة لا تصفق وأنها تسبح واحتج له الباجي وغيره بقوله صلى الله عليه وسلم من نابه شيء في صلاته فليسبح. قالوا وهذا عام في الرجال.</p>
<p>Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa perempuan itu tidak bertepuk tangan namun dengan mengucapkan tasbih. Al Baji dan lainnya memberikan dalil untuk pendapat Imam Malik dengan hadits, ‘Siapa saja yang mengalami sesuatu dalam shalatnya hendaknya mengucapkan tasbih’. Mereka mengatakan bahwa hadits ini bersifat umum, untuk laki-laki dan perempuan.</p>
<p>قالوا: وقوله التصفيق للنساء هو على طريق الذم والعيب لهن كما يقال كفران العشير من فعل النساء وهذا باطل من ثلاثة أوجه:</p>
<p>Mereka mengatakan bahwa hadits, ‘Tepuk tangan itu untuk perempuan’ adalah kalimat celaan bagi para perempuan sebagaimana kalimat ‘tidak terima kasih dengan suami adalah perbuatan perempuan’. Ini adalah perkataan yang tidak benar karena tiga alasan.</p>
<p>أحدها: أن في نفس الحديث تقسيم التنبيه بين الرجال والنساء وإنما ساقه في معرض التقسيم وبيان اختصاص كل نوع بما يصلح له فالمرأة لما كان صوتها عورة منعت من التسبيح وجعل لها التصفيق والرجل لما خالفها في ذلك شرع له التسبيح.</p>
<p>Pertama, dalam hadits tersebut terdapat rincian mengenai cara makmum laki-laki dan perempuan mengingatkan imam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan hadits tersebut dalam rangka memberikan rincian yang menjelaskan cara khusus untuk mengingatkan imam bagi laki-laki dan perempuan dengan cara yang sesuatu dengan perbedaan laki-laki dengan perempuan. Mengingat suara wanita adalah aurat, wanita dilarang mengucapkan tasbih, sebagai gantinya wanita bertepuk tangan. Mengingat pertimbangan ini tidak ada pada laki-laki maka laki-laki dituntunkan untuk mengucapkan tasbih.</p>
<p>الثاني: أن في الصحيحين من حديث أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم التسبيح للرجال والتصفيق للنساء فهذا التقسيم والتنويع صريح في أن حكم كل نوع ما خصه به وخرجه مسلم بهذا اللفظ وقال في آخره في الصلاة</p>
<p>Kedua, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacaan tasbih itu untuk laki-laki sedangkan tepuk tangan itu untuk perempuan”. Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memberikan rincian tentang cara mengingatkan imam bagi masing-masing dari laki dan perempuan. Muslim juga meriwayatkan dengan redaksi di atas dengan tambahan keterangan pada bagian akhir hadits ‘dalam shalat’.</p>
<p>الثالث: أنه أمر به في قوله وليصفق النساء ولو كان قوله التصفيق للنساء على جهة الذم والعيب لم يأذن فيه، والله أعلم )).  تهذيب السنن6/155.</p>
<p>Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan perempuan untuk bertepuk dalam sabdanya ‘Hendaknya perempuan bertepuk’. Seandainya makna hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Tepuk tangan itu untuk perempuan’ adalah celaan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengizinkan perempuan untuk melakukan tepuk tangan” [Tahdzib as Sunan 6/155].</p>
<p>قال في إغاثة اللهفان: ((والمقصود أن المصفقين و الصفارين في يراع أو مزمار ونحوه فيهم شبه من هؤلاء ولو أنه مجرد الشبه الظاهر فلهم قسط من الذم بحسب تشبههم بهم، وإن لم يتشبهوا بهم في جميع مكائهم و تصديتهم.</p>
<p>Dalam Ighatsah al Lahafan, Ibnul Qayyim mengatakan, “Intinya, orang-orang yang bertepuk tangan dan bersiul mengiringi klarinet atau seruling atau alat musik yang lain ada pada diri mereka keserupaan dengan orang-orang kafir meski hanya sekedar keserupaan secara lahiriah. Untuk mereka celaan berbanding lurus dengan besaran keserupaan mereka dengan orang-orang kafir dalam masalah ini meski mereka tidak menyerupai orang kafir dalam semua hal terkait tepuk tangan dan siulan orang kafir.</p>
<p>والله سبحانه لم يشرع التصفيق للرجال وقت الحاجة إليه في الصلاة إذا نابهم أمر بل أمروا بالعدول عنه إلى التسبيح لئلا يتشبهوا بالنساء فكيف إذا فعلوه لا لحاجة وقرنوا به أنواعا من المعاصي قولا وفعلا)).   إغاثة اللهفان 1/245.</p>
<p>Allah tidak mengizinkan laki-laki untuk bertepuk tangan pada saat ada kebutuhan untuk melakukannya ketika shalat yaitu ketika ada sesuatu yang terjadi di tengah-tengah shalat. Bahkan laki-laki diperintahkan untuk meninggalkan tepuk tangan dan diganti dengan ucapan tasbih agar tidak serupa dengan perempuan. Lantas bagaimana hukumnya jika laki-laki melakukan tepuk tangan padahal tidak ada kebutuhan padahal tepuk tangan ini dicampur dengan berbagai bentuk kemaksiatan lisan ataupun anggota badan” [Ighatsah Lahafan 1/245].</p>
<p>Demikian tulisan Syaikh Khalid al Mushlih sebagaimana dalam: http://www.almosleh.com/almosleh/article_108.shtml</p>
<p>dalam kesempatan yang lain Syaikh Khalid al Mushlih mengatakan,</p>
<p>التصفيق جائز عند التشجيع وشبهه، والأحسن تركه، فقد كرهه جماعة من أهل العلم، وقال آخرون بتحريمه.</p>
<p>“Tepuk tangan dengan tujuan memberi semangat atau semisalnya hukumnya diperbolehkan meski sebaiknya ditinggalkan mengingat sejumlah ulama menilainya sebagai suatu hal yang makruh bahkan sebagian yang lain mengharamkannya”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: http://www.almosleh.com/almosleh/article_1255.shtml</p>
<p>http://ustadzaris.com/hukum-tepuk-tangan</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1116&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/hukum-tepuk-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/tepuktangan-kuncupkembang.jpg?w=120" medium="image">
			<media:title type="html">Groups - Adults and Business People</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Ijma&#8217;</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/peran-ijma/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/peran-ijma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 04:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mabhats]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=1111</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan makna Ijma&#8217; menurut arti istilah. Ini dikarenakan perbedaan mereka dalam meletakkan kaidah dan syarat Ijma&#8217;. Namun definisi Ijma&#8217; yang paling mendekati kebenaran adalah kesepakatan para ulama ahli ijtihad dari kalangan umat Muhammad setelah wafatnya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada masa tertentu atas suatu perkara agama. &#160; Donlod [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1111&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/ijma.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1113" title="ijma" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/ijma.jpg?w=150&#038;h=76" alt="" width="150" height="76" /></a>Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan makna Ijma&#8217; menurut arti istilah. Ini dikarenakan perbedaan mereka dalam meletakkan kaidah dan syarat Ijma&#8217;. Namun definisi Ijma&#8217; yang paling mendekati kebenaran adalah kesepakatan para ulama ahli ijtihad dari kalangan umat Muhammad setelah wafatnya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada masa tertentu atas suatu perkara agama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/peran-ijma.pdf">Donlod artikel lengkap</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/1111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/1111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/1111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/1111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/1111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/1111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/1111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/1111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/1111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/1111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/1111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/1111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/1111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/1111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=1111&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/10/peran-ijma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/ijma.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ijma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adab Terhadap Orang Kafir</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/07/adab-terhadap-orang-kafir/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/07/adab-terhadap-orang-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Jan 2011 10:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab & Perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; Seorang Muslim meyakini bahwa seluruh agama selain agama Islam itu batil dan pemeluknya kafir. Allah Ta’ala berfirman : إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [Ali Imrân/3: 19] Dan firmanNya: وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ Barangsiapa mencari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=964&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/kafir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-965" title="Kafir" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/kafir.jpg" alt="" width="214" height="150" /></a>Seorang Muslim meyakini bahwa seluruh agama selain agama Islam itu batil dan pemeluknya kafir. Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p>إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ</p>
<p>Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [Ali Imrân/3: 19]</p>
<p><span id="more-964"></span>Dan firmanNya:</p>
<p>وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imrân/3: 85]</p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [al-Mâidah/5: 3]</p>
<p>Dengan berita-berita dari Allah Azza wa Jalla ini, seorang Muslim mengetahui bahwa semua agama sebelum Islam telah dihapus dan Islam menjadi agama semua manusia. Sehingga Allah k tidak akan menerima agama kecuali Islam, juga tidak ridha dengan syariat selain syariat Islam. Dari sini seorang Muslim meyakini bahwa setiap orang yang tidak tunduk kepada Allah dengan menganut Islam, maka dia kafir yang harus disikapi dengan sikap yang telah ditentukan syariat. Di antaranya, sebagai berikut :</p>
<p>1. Tidak menyetujui keberadaannya di atas kekufuran dan tidak ridha terhadap kekufuran. Karena ridha terhadap kekufuran merupakan salah satu kekufuran.</p>
<p>2. Membenci orang kafir karena Allah k juga benci kepadanya. Karena dalam Islam, cinta itu karena Allah, begitu juga benci karena Allah. Oleh karena itu, selama Allah k membenci orang kafir karena kekufurannya, maka seorang Mukmin harus juga membenci orang kafir tersebut.</p>
<p>3. Tidak memberikan wala’ (kedekatan; loyalitas, kesetiaan) dan kecintaan kepada orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p>لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p>Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab; pemimpin; pelindung; penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. [Ali ‘Imrân/3: 28]</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p>Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang yang menentang itu asdalah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. [al-Mujâdilah/58: 22]</p>
<p>4. Bersikap adil dan berbuat baik kepadanya, selama orang kafir tersebut bukan kafir muhârib (orang kafir yang memerangi kaum Muslimin). Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :</p>
<p>لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ</p>
<p>Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [al-Mumtahanah/60: 8]</p>
<p>Ayat yang mulia lagi muhkam (ayat yang maknanya jelas-red) ini membolehkan bersikap adil dan berbuat baik kepada orang-orang kafir, kecuali orang-orang kafir muhârib (orang-orang kafir yang memerangi umat Islam). Karena Islam memberikan sikap khusus terhadap orang-orang kafir muhârib.</p>
<p>5. Mengasihi orang kafir dengan kasih sayang yang bersifat umum. Seperti memberi makan jika dia lapar; memberi minum jika haus; mengobatinya jika sakit; menyelamatkannya dari kebinasaan; dan tidak mengganggunya. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ</p>
<p>Kasihilah orang-orang yang berada di atas bumi, niscaya Dia (Allah) yang berada di atas langit akan mengasihi kamu. [HR. at-Tirmidzi, no. 1924]</p>
<p>6. Tidak mengganggu harta, darah, dan kehormatan, selama dia bukan kafir muhârib. Karena itu merupakan kezhaliman yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla, berdasarkan hadits qudsi berikut ini :</p>
<p>عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا</p>
<p>Dari Abu Dzarr Radhiyallahu &#8216;anhu, dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah Tabâraka wa Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya sesuatu yang diharamkan di tengah kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi”. [HR. Muslim, no. 2577]</p>
<p>7. Boleh memberikan hadiah kepadanya dan boleh juga menerima hadiah darinya serta diperbolehkan memakan daging sembelihan ahli kitab. Allah Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p>وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ</p>
<p>Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu. [al-Mâidah/5: 5]</p>
<p>8. Tidak boleh menikahkan wanita Muslimah dengan laki-laki kafir (walaupun lelaki ini Ahli kitab-pent). Dan laki-laki Muslim tidak boleh menikahi wanita kafir, kecuali wanita Ahli kitab.</p>
<p>Tentang larangan menikahkan wanita Muslimah dengan lelaki kafir, Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ</p>
<p>Mereka (perempuan-perempuan yang beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. [al-Mumtahanah/60: 10]</p>
<p>Allah Azza wa Jalla juga berfirman :</p>
<p>وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ</p>
<p>”Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. [al-Baqarah/2: 221]</p>
<p>Sedangkan tentang bolehnya menikahi wanita Ahli kitab, Allah Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p>وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ</p>
<p>(Dan dihalalkan mangawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka, dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. [al-Mâidah/5: 5]</p>
<p>9. Tidak mendahului orang kafir dalam mengucap salam. Jika orang kafir tersebut mengucapkan salam terlebih dahulu, maka cukup dijawab dengan ”Wa ‘Alaikum”. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ</p>
<p>Jika salah seorang ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah dengan ”Wa ‘Alaikum. [HR. Ibnu Mâjah, no. 3697; dishahîhkan oleh al-Albâni]</p>
<p>Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p>لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ</p>
<p>Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nashâra. Dan jika kamu menemui salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah ia ke jalan yang paling sempit/pinggir. [HR. Muslim, no. 2167]</p>
<p>Dalam penjelasan tentang makna hadits ini, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Para sahabat kami mengatakan, orang kafir dzimmi tidak dibiarkan berjalan di tengah jalan, namun dia didesak ke pinggirnya jika umat Islam melewati jalan tersebut. Namun jika jalan itu sepi, tidak berdesakan (di jalan itu) maka tidak mengapa”.</p>
<p>10. Kaum Muslimin harus menyelisihi orang kafir dan tidak boleh melakukan tasyabbuh (menyerupai) dengannya.</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p>Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka. [HR. Abu Dawud, no. 4031]</p>
<p>Tasyabbuh artinya menyerupai atau meniru. Tasyabbuh dengan orang kafir yang terlarang adalah meniru atau menyerupai orang kafir dalam masalah keyakinan, ibadah, kebiasaan, atau model-model perilaku yang merupakan ciri khas mereka. Demikian keterangan Syaikh Dr. Nâshir bin Abdul Karîm al-‘Aql dalam dalam kitab beliau : &#8220;Man Tasyabbaha Bi Qaumin Fahuwa Minhum&#8221;, hlm. 5.</p>
<p>Inilah beberapa adab berkaitan dengan orang-orang kafir. Lewat paparan singkat ini, kita dapat mengetahui sikap adil yang diajarkan agama Islam dalam menyikapi orang-orang kafir secara umum. Wallahu a’lam bisshawab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://almanhaj.or.id/content/2942/slash/0</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/964/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=964&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2011/01/07/adab-terhadap-orang-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2011/01/kafir.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kafir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AL HILAH &#8211; Rekayasa Hukum Syariat</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2010/11/26/al-hilah-rekayasa-hukum-syariat/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2010/11/26/al-hilah-rekayasa-hukum-syariat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Nov 2010 03:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahkam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=960</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; MEMBUAT HILAH (REKAYASA) SESUATU YANG HARAM, ADALAH HARAM Al hilah, atau melakukan rekayasa, tipu daya dalam perkara yang haram, atau yang mengarah kepada sesuatu yang haram, adalah haram. Kaidah fiqih yang berlaku adalah, &#8220;setiap wasilah dihukumi dengan maksud atau tujuan yang terkandung di dalamnya&#8221;. Oleh karena itu, seseorang yang berniat menghalalkan yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=960&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/11/rekayasa-genetika.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-968" title="rekayasa-genetika" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/11/rekayasa-genetika.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p><strong>MEMBUAT HILAH (REKAYASA) SESUATU YANG HARAM, ADALAH HARAM</strong></p>
<p>Al hilah, atau melakukan rekayasa, tipu daya dalam perkara yang haram, atau yang mengarah kepada sesuatu yang haram, adalah haram. Kaidah fiqih yang berlaku adalah, &#8220;setiap wasilah dihukumi dengan maksud atau tujuan yang terkandung di dalamnya&#8221;. Oleh karena itu, seseorang yang berniat menghalalkan yang telah Allah haramkan, maka hokum sesuatu tersebut tetap haram, walaupun ia memolesnya dengan banyak tipu daya, membuat rekayasa.</p>
<p><span id="more-960"></span></p>
<p><strong>DEFINISI AL HILAH</strong></p>
<p>Secara bahasa, kata al hilah الحيلة) ), sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar di dalam Fat-hul Bari, mempunyai arti, segala cara yang mengantarkan kepada tujuan dengan cara yang tersembunyi (lembut) [Fat-hul Bari (12/326). Lihat kitab Qawa'idul Qasa-il fisy-Syari'ah al Islamiyah].</p>
<p>Adapun secara istilah, al hilah adalah, melakukan suatu amalan yang zhahirnya boleh untuk membatalkan hukum syar&#8217;i serta memalingkannya kepada hukum yang lainnya. [Al Muwafaqat (4/201), asy Syatibi. Lihat kitab Qawa'idul Qasa-il fisy-Syari'ah al Islamiyah]</p>
<p>Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,&#8221;Sesungguhnya kata umum al hilah, bila diarahkan menurut pemahaman ulama fiqih mengandung arti tipu daya atau cara yang dipakai untuk menghalalkan hal-hal yang haram, sebagaimana tipu dayanya orang-orang Yahudi.&#8221; [Al Fatawa al Kubra (3/223)]</p>
<p>Ibnu Qudamah berkata,&#8221;Yaitu dengan menampakkan transaksi yang mubah, sebagai tipu daya dalam melakukan hal yang diharamkan atau jalan yang mengantarkan kepada sesuatu yang telah Allah haramkan…&#8221;. [Al Mughni (4/179). Lihat Qawa'idul Qasa-il fisy-Syari'ah al Islamiyah]</p>
<p>Sehingga, dapat dikatakan, trik atau tipu daya yang diharamkan adalah, tipu daya dalam perkara-perkara yang haram, dengan menggunakan cara tidak langsung atau terselubung.</p>
<p><strong>JENIS AL HILAH SECARA UMUM</strong></p>
<p>Menurut Ibnul Qayyim, terdapat dua jenis al hilah.</p>
<p>Pertama : Jenis yang mengantarkan kepada amalan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan meninggalkan apa yang dilarangNya, menghentikan dari sesuatu yang haram, memenangkan yang haq dari kezhaliman yang menghalang, membebaskan orang yang dizhalimi dari penindasan orang-orang yang zhalim. Jenis ini termasuk baik, dan pelaku atau penyeru (yang mengajaknya) akan mendapatkan pahala.</p>
<p>Kedua : Yang bertujuan untuk menggugurkan kewajiban, menghalalkan perkara yang haram, membolak-balikkan keadaan dari orang yang teraniaya menjadi pelaku aniaya dan orang yang zhalim seakan menjadi orang yang terzhalimi, merubah kebenaran menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Jenis hilah seperti ini, para salaf telah bersepakat tentang kenistaannya…). [Ighatsatul Lahfan (1/339). Lihat kitab Qawa'idul Qasa-il fisy-Syari'ah al Islamiyah]</p>
<p>Imam asy Syatibi memberikan catatan kepada jenis hilah yang tercela (yaitu jenis yang kedua) di atas, bahwa yang dimaksudkan dengan al hilah, (yang seperti itu) adalah, sesuatu yang akan menghancurkan sumber syari&#8217;i yang sebenarnya, serta meniadakan maslahat syar&#8217;i yang terdapat di dalamnya. sesuatu yang akan menghancurkan sumber asli yang syar&#8217;i serta meniadakan maslahat yang syar&#8217;i. [Al Muwafaqat (2/387). Lihat kitab Qawa'idul Qasa-il fisy-Syari'ah al Islamiyah]</p>
<p><strong>MACAM-MACAM HILAH YANG TERLARANG</strong></p>
<p>Menurut Ibnu Qayyim, hilah yang terlarang, atau semisalnya (yang terlarang, Pen), semua kaum Muslimin, seorang pun tidak ada yang meragukan, bahwa hal ini termasuk bagian dari dosa-dosa besar, dan merupakan perbuatan paling jelek dari perkara-perkara yang diharamkan. Perbuatan seperti ini termasuk dalam kategori mempermainkan agama Allah dan memperolok ayat-ayatNya. Dari sisi perbuatannya saja adalah haram, karena adanya kedustaan dan tipu daya di dalamnya. Ditinjau dari maksud dan tujuannya pun, hilah juga haram, karena untuk meniadakan kebenaran dan ingin menghidupkan melanggengkan kebatilan. [I'lamul Muwaqi'in, Ibnu Qayyim (3/287, 288)]</p>
<p>Ibnu Qayyim rahimahullah membagi hilah (tipu daya terlarang) di atas menjadi 3 macam.</p>
<p>Pertama : Hilah haram ditujukan kepada sesuatu yang haram pula. Semisal, melakukan rekayasa untuk menghalalkan amalan yang mengandung unsur riba. Misalnya, seperti dalam masalah mud &#8216;ajwa, yaitu seseorang yang menjual jenis barang yang masuk dalam masalah riba` dengan sejenisnya, dengan disertakan (disyaratkan) bersama keduanya atau salah satunya sesuatu yang lain jenisnya. [Al Mughni (4/155-156). Lihat kitab Qawa'idul Qasa-il fisy-Syari'ah al Islamiyah]</p>
<p>Kedua : Cara atau perbuatan asalnya boleh, akan tetapi dipergunakan untuk sesuatu yang haram. Seperti melakukan safar yang digunakan untuk merampok, membunuh orang, dan lain-lain.</p>
<p>Ketiga : Cara yang dipakai pada asalnya tidak dipergunakan untuk sesuatu yang haram, bahkan dimaksudkan untuk sesuatu yang disyari&#8217;atkan, seperti menikah, melakukan jual-beli, memberikan hadiah, dan sebagainya; namun kemudian dipakai sebagai tangga untuk menuju sesuatu yang diharamkan.</p>
<p>HILAH MERUPAKAN AKHLAK DAN KEBIASAAN YAHUDI</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menjelaskan dalam beberapa ayat, yang menerangkan akhlak orang-orang Yahudi dalam masalah tipu daya ini. Mereka berusaha merubah hukum-hukum yang telah diajarkan oleh para nabi mereka. Semisal laknat dan kemurkaan Allah Ta&#8217;ala tatkala orang-orang Yahudi dilarang berburu pada hari Sabtu. Pada hari tersebut banyak didapatkan ikan, yang tidak didapatkan pada hari lainnya. Kemudian, untuk melakukan rekayas, mereka pun menempatkan perangkap (jaring) pada hari sebelumnya dan mengambil hasilnya pada hari Ahad. Perbuatan ini merupakan tipu daya mereka, yaitu dengan mengabaikan perintah Rabb. Sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam firmanNya:</p>
<p>&#8220;Hai orang-orang yang telah diberi al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (al Qur`an) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merobah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka, sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku&#8221;. [an Nisaa`/4:47].</p>
<p>&#8220;Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik&#8221; [al A'raf/7:163].</p>
<p><strong>CONTOH MU&#8217;AMALAH YANG MENGGUNAKAN HILAH</strong></p>
<p>Bila kita perhatikan, banyak dijumpai praktek-praktek mu&#8217;amalah yang menggunakan tipu daya atau rekayasa. Baik yang telah jelas keharamannya berdasarkan dalil-dalil dari nash, maupun dari masalah-masalah baru yang belum pernah terjadi. Namun jika diperhatikan, masalah-masalah yang berkembang atau baru tersebut, akan didapatkan masalah yang baru tersebut tidak jauh dari permasalahan lama yang bersumber dari nash-nash ataupun kaidah yang telah ada. Para ulama, seperti Ibnul Qayyim  [I'lamul Muwaqi'in, Ibnul Qayyim (3/158-342)], atau sebagian ulama lainnya telah memberikan contoh mengenai mu&#8217;amalah yang menggunakan praktek hilah atau tipu daya ini.</p>
<p>Sebagai contoh, dapat disebutkan beberapa amalan yang sekiranya berhubungan erat dengan masalah hilah ini, yang dimaksudkan sebagai usaha merubah ketentuan syar&#8217;i yang telah ditetapkan syari&#8217;at Islam. Contoh-contoh hilah tersebut antara lain ialah :</p>
<p>- Hilah seorang suami yang ingin berbuat jahat kepada isterinya, dengan berusaha menggugurkan hak dia untuk mendapatkan warisan dari hartanya, tatkala sedang sakit keras ia segera mentalaknya sebanyak tiga kali.</p>
<p>- Hilah seorang yang ingin menghindari hukuman bersetubuh pada bulan Ramadhan dengan berpura-pura sakit atau meminum khamr terlebih dahulu, baru kemudian ia bersetubuh dengan isterinya.</p>
<p>- Hilah orang yang tidak mau berpuasa Ramadhan, dengan cara merencanakan safar setiap bulan Ramadhan datang.</p>
<p>- Hilah seseorang yang ingin menggugurkan kewajiban zakat hartanya yang akan mencapai satu tahun (masa haul), dengan menukarkannya dengan barang semisal, atau dengan menjualnya karena takut zakat, yang kemudian uangnya dibelikan barang sejenis atau yang lainnya. Sehingga ia akan memulai hitungan awal tahun dari barang baru tersebut. Bagitu seterusnya dan seterusnya, setiap akan mencapai waktu satu tahun umur hartanya tersebit. Dengan berbuat seperti itu, menurutnya, selamanya ia akan terbebas dari kewajiban zakat.</p>
<p>- Dua orang mempunyai barang yang berkategori riba, tetapi masing-masing memiliki keadaan berbeda. Yang satu bagus dan yang kedua jelek. Mereka menaksir harga setiap barang di ingatan tanpa ada wujud uang yang nyata. Sehingga yang ditaksir dengan harga rendah harus menambah sesuatu (uang) kepada yang mempunyai barang bagus.</p>
<p>Semacam ini termasuk cara (tipu daya) untuk menghalalkan transaksi riba. Riba yang dimaksud disini adalah jual beli emas dengan emas, atau rupiah dengan rupiah, atau yang lainnya dengan perbedaan jumlah. Padahal syarat yang harus dipenuhi dalam transaksi seperti ini ada dua. Yaitu jumlah (timbangannya sama), dan diberikan langsung di tempat pada waktu terjadi transksi (yadan bi yadin).</p>
<p>- Penjual yang ingin berlepas diri dari barang yang dipenuhi cacat, ia takut nantinya pembeli akan mengembalikannya. Maka iapun memberikan syarat, barang yang telah dibeli tidak boleh dikembalikan lagi bagaimanapun keadaannya. Alasannya, karena barng tersebut sudah keluar dari toko. Praktek semacam ini banyak dilakukan. Maka seharusnya kita menghindarinya.</p>
<p>- Mengambil pendapat yang lemah, serta berpendirian dengan apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada dalil shahih dan jelas sebagai landasan amalannya.</p>
<p>Hilah yang diambil ialah dengan cara pengamalan kaidah ushul fiqih (tidak boleh mengingkari dalam permasalahan khilaf). Pengambilan kaidah yang tidak benar ini sebagai tidu daya (merekayasa) untuk melampiaskan apa yang diinginkannya, tatkala ia menemukan adanya perkataan yang berselisih (berbeda), dan cocok dengan yang ia inginkan. Yang benar dalam penggunaan kaidah tersebut adalah, apabila dalam suatu permasalahan memang tidak didapatkan dalil sharih (jelas) dari Kitab, Sunnah maupun Ijma`, sehingga dibutuhkan ijtihad seorang mujtahid, maka berlakulah kaidah di atas, dengan tidak mengingkari adanya perbedaan yang muncul dari ijtihad para ulama tersebut.</p>
<p>- Hilah seseorang yang ingin mengugurkan kewajiban berhaji atau zakat dengan memberikan hartanya kepada anak atau isterinya, sehingga ia menganggap dirinya orang yang tidak berharta.</p>
<p>- Hilah orang yang ingin memiliki barang dengan tanpa hak dengan merusak atau merubah bentuk barang tersebut.</p>
<p>- Hilah orang yang berusaha membatalkan hukuman potong tangan karena mencuri, dengan mengklaim bahwa barang yang diambilnya adalah barang miliknya sendiri, atau barang serikat antara dirinya dengan pemilik barang yang diambilnya.</p>
<p>- Hilah orang yang sedang berihram untuk haji ataupun umrah. Karena terkait dengan larangan berburu, maka ia menaruh parangkap sebelum memakai ihram, supaya dikatakan yang ia dapatkan tersebut merupakan hasil buruan sebelum ihram.</p>
<p>- Hilah seseorang yang senang melakukan ghibah, dengan mengatakan bahwa ia sedang melakukan amar ma`ruf nahi mungkar. Padahal maslahatnya tidak ada. Atau dalam mentahdzir seseorang, ia sama sekali tidak menggunakan kaidah yang benar.</p>
<p>- Hilah sebagian muslimin yang mengumbar hawa nafsu dan kemaksiatannya, serta tidak ingin dianggap hina.</p>
<p>Misalnya dengan mengatakan:</p>
<p>&#8220;Saya berada di atas sunnah, pembela sunnah, walaupun fasiq termasuk sebagai wali Allah. Sedangkan pelaku bid&#8217;ah, ia adalah musuh Allah, walaupun akhlaknya bagus&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kubur seorang pembela sunnah, walau bagaimanapun kefasikannya, adalah termasuk salah satu taman dari taman-taman surga. Sedangkan kubur ahli bid&#8217;ah adalah lubang neraka&#8221;.</p>
<p>&#8220;Berpegang teguh dengan sunnah dan aqidah yang benar, pasti akan dapat menghapuskan kamaksiatan yang saya lakukan&#8221;.</p>
<p>&#8220;Akhlak tidak baik, no problem. Yang penting aqidah saya benar&#8221;.</p>
<p>Ungkapan-ungkapan seperti tersebut di atas merupakan hilah atau tipu daya, untuk tetap mengumbar apa yang menjadi keinginan hawa nafsunya.</p>
<p>- Hilah seorang yang ingin menghalalkan zina dengan mengatakan, dirinya telah melaksanakan kawin kontrak atau mut&#8217;ah. Padahal syarat-syarat nikah tidak dapat terpenuhi.</p>
<p>- Hilah seorang wanita yang ingin melepaskan diri dari suaminya, dengan cara berzina dengan anak suaminya. Dia beranggapan, setelah digauli oleh anak suaminya, maka ia harus dipisahkan dari suaminya. Atau sebaliknya seorang suami yang berhilah seperti ini.</p>
<p>- Hilah orang yang tidak mau shalat, ngaji dan sebagainya dengan anggapan, bahwa percuma shalat atau ngaji, kalau nantinya masih melakukakan kemaksiatan.</p>
<p>- Hilah seseorang yang ingin menghalalkan jual beli &#8216;inah dengan mengatakan:</p>
<p>&#8220;Sangat wajar, bila si penjual membeli kembali barang yang telah dijualnya dari si pembeli dengan harga yang lebih murah. Karena, bisa jadi barang tersebut telah lama dipakai, atau ada aib yang bisa menurunkan harganya&#8221;. [Lihat Fiqh wa Fatawa Buyu`, Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin]</p>
<p>- Hilah untuk menyembunyikan cacat yang ia ketahui kepada calon pembelinya, dengan mengatakan:</p>
<p>&#8220;Lihat dan coba sendiri barangnya,&#8221; dan tatkala ia ditanya keadaan barang yang dijualnya, si penjual ini tidak mau menjelaskan cacat yang terdapat pada barang tersebut. [Lihat Fiqh wa Fatawa Buyu`, Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin]</p>
<p>- Hilah untuk menghalalkan riba, dengan mengatakan kepada orang yang sedang membutuhkan mobil atau barang lainnya:</p>
<p>&#8220;Cari mobil yang kamu inginkan. Nanti saya membereskan pembayarannya dari toko tersebut. Baru kemudian, kamu bayar kepada saya secara kredit dengan nominal yang kita sepakati&#8221;.</p>
<p>Perbuatan seperti ini sama bentuknya dengan melakukan hilah (tipu daya, rekayasa) untuk menghalalkan riba. Yang nampak seakan ingin membantu, tetapi kenyataannya ingin meraih keuntungan dengan memanfaatkan kesusahan orang lain. Seakan-akan ia mengatakan &#8220;aku pinjamkan uang kepada kamu, tetapi nanti kamu kembalikan uang tersebut (untuk membeli barang itu) dengan tambahan bunga yang kita sepakati&#8221;.</p>
<p><strong>TAKWA DAN IMAN KUNCI UTAMA DALAM BERMU&#8217;AMALAH</strong></p>
<p>Seorang hamba hendaklah menyadari, bahwa kehidupan yang dijalaninya tidak lepas dari kewajiban untuk selalu beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, kewajiban manusia adalah mengikuti ketentuan yang telah disyari&#8217;atkan Allah. Sehingga kita akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman, disebabkan ketakwaan dan keimanan yang selalu terjaga.</p>
<p>Masih adanya kesusahan dan perasaan berat menjalankan syari&#8217;at Allah, seorang hamba tidak seharusnya melampiaskannya dengan melakukan tipu daya, melakukan rekayasa untuk merubah hukum Allah. Yang haram tetaplah haram, meskipun diupayakan dengan berbagai cara, ia tetap tidak berubah hukumnya. Bahkan, jika seorang hamba sengaja memperindah dosa dengan sedikit polesan ketaatan dalam menghalalkan yang diharamkanNya dan mengharamkan yang dilarangNya, niscaya kemurkaan Allah semakin besar. Maka, dengan bersabar dan selalu bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kemudahan. Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Itulah perintah Allah yang diturunkanNya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya&#8221;. [ath Thalaq/65:5].</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik&#8221;. [Yusuf/12:90].</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar&#8221;. [ath Thalaq/65:2].</p>
<p>Semoga uraian ini bisa menjadi peringatakan bagi kita, untuk terus membenahi segala amal baik. Yaitu dengan senantiasa jujur dalam perilaku dan ibadah, serta menjauhi dari segala dosa dan kenistaan. Wallahu a&#8217;lam bish-Shawab.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>- Fiqh wa Fatawa Buyu`, Syaikh Muhammad bin Shalih al &#8216;Utsaimin, Cetakan Adwa-us Salaf.</p>
<p>- Asy Syarhul-Mumti` ‘ala Zadil Mustaqni`, Syaikh Muhammad bin Shalih al &#8216;Utsaimin, Cetakan Muassasah Salam, Jilid 8.</p>
<p>- Qawa-idul Qasa-il fisy-Syari&#8217;ah al Islamiyah, Dr. Mustafa bin Karamatullah Makhdum, Cetakan Daar Syibiliya, Riyadh.</p>
<p>- I&#8217;lamul Muwaqi&#8217;in, Ibnul Qayyim, Cetakan Darul Kitab al &#8216;Arabi, Beirut.</p>
<p>[Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</p>
<p><a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2890/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/2890/slash/0</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/960/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=960&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2010/11/26/al-hilah-rekayasa-hukum-syariat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/11/rekayasa-genetika.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">rekayasa-genetika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Salam</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2010/11/07/hukum-salam/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2010/11/07/hukum-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Nov 2010 04:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab & Perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=957</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; Ketahuilah bahwa memulai salam adalah sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban. Ini adalah sunnah kifayah: karena jika yang memberi salam itu jamaah, maka cukup salah seorang dari mereka saja yang mengucapkan salam. Jika mereka mengucapkan salam semuanya, maka itu lebih utama. Imam al-Qadhi Husain, salah seorang imam dari kalangan sahabat kami dalam kitab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=957&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/11/salam.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-972" title="Salam" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/11/salam.png?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketahuilah bahwa memulai salam adalah sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban. Ini adalah sunnah kifayah: karena jika yang memberi salam itu jamaah, maka cukup salah seorang dari mereka saja yang mengucapkan salam. Jika mereka mengucapkan salam semuanya, maka itu lebih utama.</p>
<p>Imam al-Qadhi Husain, salah seorang imam dari kalangan sahabat kami dalam kitab as-Sair dari ta&#8217;liqnya, mengatakan, &#8220;Kita tidak memiliki sunnah kifayah selain ini.&#8221;</p>
<p>Aku katakan, Apa yang dikatakan oleh al-Qadhi berupa pembatasan tersebut ter-tolak. Karena, menurut para sahabat kami, mendoakan orang yang bersin adalah sunnah kifayah juga, sebagaimana yang akan dijelaskan sebentar lagi, insya Allah. Segolongan sahabat kami, bahkan semuanya berpendapat bahwa kurban adalah sunnah kifayah bagi setiap keluarga. Jika salah seorang dari mereka telah berkurban, maka syiar dan sunah telah diraih oleh mereka semua.</p>
<p>Adapun menjawab salam, jika yang diberi salam hanya satu orang, maka ia wajib menjawabnya sebagai fardhu &#8216;ain. Jika mereka jamaah, maka menjawab salam tersebut sebagai fardhu kifayah atas mereka. Jika salah seorang dari mereka telah menjawabnya, maka gugurlah dosa dari yang lainnya. Jika mereka semua tidak menjawabnya, maka mereka semua berdosa. Jika mereka semua menjawabnya, maka inilah puncak kesem-purnaan dan keutamaan. Demikianlah menurut para sahabat kami, dan ini yang jelas lagi bagus. Para sahabat kami bersepakat bahwa seandainya orang selain mereka yang menjawabnya, maka kewajiban menjawab salam tidak gugur dari mereka, tetapi mereka wajib menjawabnya. Jika mereka mencukupkan dengan jawaban orang asing tersebut, maka mereka berdosa.</p>
<p>Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dari Ali radiyallahu &#8216;anhu, dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau bersabda,</p>
<p>يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوْا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ، وَيُجْزِئُ عَنِ الْجُلُوسِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ.</p>
<p>&#8220;Sudah cukup mewakili jamaah, ketika mereka melintas bila salah seorang dari mereka me-ngucapkan salam; dan sudah mewakili orang-orang yang duduk jika salah seorang dari mereka menjawabnya.&#8221;<br />
<span id="more-957"></span><br />
Kami meriwayatkan dalam al-Muwaththa&#8217; dari Zaid bin Aslam bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>إِذَا سَلَّمَ وَاحِدٌ مِنَ الْقَوْمِ، أَجْزَأَ عَنْهُمْ.</p>
<p>&#8220;Jika salah seorang dari sekelompok orang mengucapkan salam, maka itu sudah mewakili mereka.&#8221;</p>
<p>Aku katakan, Ini hadits mursal yang sanadnya shahih.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Imam Abu Sa&#8217;ad al-Mutawalli dan selainnya mengatakan, &#8220;Jika seseorang memanggil yang lainnya dari belakang tirai atau dinding dengan mengucapkan, &#8220;As-salamu &#8216;alaika ya fulan,&#8221; atau menulis surat yang di dalamnya berisi, &#8220;As-salamu &#8216;alaika ya fulan,&#8221; atau &#8220;As-salamu &#8216;ala fulan,&#8221; atau mengutus seorang utusan dengan mengatakan, &#8220;Sampaikan salam pada fulan,&#8221; lalu surat atau utusan itu telah sampai padanya, maka ia wajib men-jawab salamnya. Demikian pula al-Wahidi dan selainnya menyebutkan bahwa orang yang dikirimi surat wajib menjawab salam, jika ucapan salam sampai padanya.</p>
<p>Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radiyallahu &#8216;anha, ia mengatakan, &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengatakan kepadaku,</p>
<p>هذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: وَعَليْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.</p>
<p>&#8216;Ini Jibril mengucapkan salam kepadamu.&#8221; Aisyah berkata, &#8220;Aku menjawab, &#8216;Wa&#8217;alaihis salam warahmatullah wabarakatuh&#8217;.&#8221;</p>
<p>Demikian pula disebutkan di sebagian riwayat ash-Shahihain kata: wabarakatuh, dan di sebagian riwayat yang lainnya tidak disebutkan. Dan tambahan dari perawi yang tsiqah bisa diterima. Dalam kitab at-Tirmidzi juga disebutkan kata: wabarakatuh, dan dia menga-takan, &#8220;Hadits hasan shahih.&#8221;</p>
<p>Seseorang dianjurkan untuk mengirimkan salam kepada orang yang jauh darinya.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Jika seseorang menitipkan salam pada seseorang kepada yang lainnya, lalu orang yang diutus tersebut mengatakan, &#8220;Fulan menyampaikan salam kepadamu,&#8221; maka, seba-gaimana telah kami kemukakan, bahwa ia wajib menjawab salamnya dengan segera. Dianjurkan pula agar menjawab salam kepada orang yang menyampaikannya juga dengan mengucapkan, &#8220;Alaika wa&#8217;alaihis salam.&#8221;</p>
<p>Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dari Ghalib al-Qaththan, dari seseorang, ia mengatakan, &#8220;Bapakku menuturkan kepadaku dari kakekku, ia ber-kata,</p>
<p>بَعَثَنِيْ أَبِي إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم، فَقَالَ: اِئْتِهِ، فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ. فَأَتَيْتُهُ، فَقُلْتُ: إِنَّ أَبِي يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ. فَقَالَ: عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمُ.</p>
<p>&#8220;Ayahku mengutusku kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan mengatakan, &#8216;Datanglah kepada beliau dan sampaikan salam kepada beliau.&#8217; Aku pun datang kepada beliau lalu aku katakan, &#8216;Ayahku menyampaikan salam kepadamu.&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Alaikas salam wa&#8217;ala abikas salam&#8217;.&#8221;</p>
<p>Aku katakan, Meskipun ini riwayat dari orang yang tidak dikenal (majhul), namun telah kami kemukakan bahwa hadits-hadits fadha&#8217;il boleh diamalkan menurut semua ahli ilmu.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Al-Mutawalli berkata, &#8220;Jika seseorang mengucapkan salam kepada orang tuli yang tidak bisa mendengar, maka hendaklah ia mengucapkan lafal salam karena dia memang mampu untuk itu dan berusaha mengisyaratkan dengan tangan hingga dipahaminya sehingga dia berhak untuk dijawab. Jika tidak menggabungkan di antara keduanya, maka ia tidak berhak untuk dijawab. Demikian pula seandainya orang yang tuli mengucapkan salam kepadanya dan dia hendak menjawabnya, maka hendaklah ia mengucapkan jawa-ban dengan lisan dan memberikan isyarat; agar bisa dipahami dan agar kewajiban men-jawab salam gugur darinya.&#8221;<br />
Dia juga berkata, &#8220;Jika seseorang mengucapkan salam kepada orang bisu, lalu orang bisu tersebut mengisyaratkan dengan tangannya, maka gugurlah kewajiban darinya; karena isyaratnya berkedudukan sebagai kata-kata. Demikian pula seandainya orang yang bisu mengucapkan salam kepadanya dengan isyarat, maka ia wajib menjawabnya, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Al-Mutawalli berkata, &#8220;Seandainya seseorang mengucapkan salam kepada anak kecil, maka ia tidak wajib menjawabnya; karena anak-anak tidak termasuk orang yang dibebani kewajiban.&#8221; Apa yang dikatakannya ini shahih. Tetapi adabnya dan yang dianjurkan ialah menjawabnya.</p>
<p>Menurut al-Qadhi Husain dan sahabatnya, al-Mutawalli, seandainya anak-anak mengucapkan salam kepada orang yang sudah baligh, apakah orang yang sudah baligh tersebut wajib menjawabnya? Mengenai hal ini ada dua pendapat yang bertumpu pada keshahihan keislamannya. Jika kita mengatakan, &#8220;Keislamannya shahih,&#8221; maka salamnya seperti salam orang yang sudah baligh, dan wajib menjawabnya. Jika kita mengatakan, &#8220;Keislamannya tidak shahih,&#8221; maka tidak wajib menjawab salamnya, tetapi dianjurkan. Aku katakan, Yang shahih dari dua pendapat tersebut ialah wajib menjawab salamnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa`ala,</p>
<p>وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ</p>
<p>&#8220;Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).&#8221; (An-Nisa&#8217;: 86)</p>
<p>Adapun ucapan keduanya bahwa ini bertumpukan pada keislamannya, maka asy-Syasyi mengatakan, &#8220;Ini adalah landasan yang batil.&#8221; Dan ini sebagaimana yang dinya-takannya. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Seandainya orang yang sudah baligh mengucapkan salam kepada jamaah yang di antara mereka terdapat seorang anak kecil, lalu anak tersebut menjawabnya dan tidak ada selainnya dari mereka yang menjawabnya; apakah kewajiban gugur dari mereka? Mengenai hal ini ada dua pandangan: yang paling shahih -dan ini pendapat al-Qadhi Husain dan sahabatnya, al-Mutawalli- bahwa kewajiban tidak gugur dari mereka, karena anak tersebut bukan orang yang dibebani kewajiban, sementara menjawab salam adalah wajib. Jadi, kewajiban tidak gugur dengannya, sebagaimana halnya kewajiban untuk men-shalatkan jenazah tidak menjadi gugur dengannya. Kedua -dan ini pendapat Abu Bakr asy-Syasyi, penulis al-Mustazhhiri dari kalangan sahabat kami- bahwa kewajiban tersebut gugur, sebagaimana adzannya sah untuk orang dewasa dan kewajiban adzan gugur dari mereka. Aku katakan, &#8220;Adapun shalat jenazah, maka para sahabat kami berselisih tentang gugurnya kewajibannya dengan shalat yang dilakukan oleh anak-anak dalam dua pan-dangan yang masyhur: dan yang benar dari keduanya, menurut para sahabat kami, bahwa kewajiban tersebut gugur, dan asy-Syafi&#8217;i telah menuliskan hal itu secara tekstual.&#8221; Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Jika seseorang mengucapkan salam kepadanya, lalu sebentar kemudian ia bertemu dengannya, maka disunnahkan mengucapkan salam kepadanya untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, atau lebih. Hal ini disepakati oleh para sahabat kami. Dalil mengenai hal itu adalah:</p>
<p>Apa yang kami riwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu &#8216;anhu dalam hadits tentang orang yang buruk dalam shalatnya,</p>
<p>أَنَّهُ جَاءَ فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَقَالَ: اِرْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ. فَرَجَعَ فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم &#8230; حَتَّى فَعَلَ ذلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.</p>
<p>&#8220;Bahwa ia datang lalu mengerjakan shalat, kemudian ia datang kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam lalu mengu-capkan salam kepadanya, maka beliau menjawab salamnya dan mengatakan, &#8216;Shalatlah kembali, karena engkau belum shalat.&#8217; Ia pun mengulangi shalatnya, kemudian ia datang untuk mengu-capkan salam kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam&#8230; hingga melakukan demikian sebanyak tiga kali.</p>
<p>Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah radiyallahu &#8216;anhu, dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau bersabda,</p>
<p>إِذَا لَقِيَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ، فَإِنْ حَالَتْ بَيْنَهُمَا شَجَرَةٌ أَوْ جِدَارٌ أَوْ حَجَرٌ ثُمَّ لَقِيَهُ، فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ.</p>
<p>&#8220;Jika salah seorang dari kalian bertemu saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Jika keduanya terpisah (sejenak) oleh pohon, dinding atau batu, kemudian ia bertemu lagi dengannya, hendaklah ia mengucapkan salam (lagi) kepadanya.&#8221;</p>
<p>Kami meriwayatkan dalam kitab Ibn as-Sunni dari Anas radiyallahu &#8216;anhu, ia menga-takan,</p>
<p>كاَنَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَتَمَاشَوْنَ، فَإِذَا اسْتَقْبَلَتْهُمْ شَجَرَةٌ أَوْ أَكَمَةٌ، فَتَفَرَّقُوْا يَمِيْنًا وَشِمَالاً، ثُمَّ الْتَقَوْا مِنْ وَرَائِهَا، سَلَّمَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ.</p>
<p>&#8220;Para sahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam (suatu kali) berjalan bersama-sama. Ketika mereka terhalang oleh pohon atau bukit, lalu mereka terpencar ke kanan dan ke kiri, kemudian mereka bertemu di balik (bukit) sana; maka satu sama lain mengucapkan salam.&#8221;</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Bagaimana jika dua orang bertemu, lalu masing-masing dari keduanya mengucap-kan salam kepada yang lainnya secara bersamaan, atau salah satunya sesudah yang lain-nya? Al-Qadhi Husain dan sahabatnya, Abu Sa&#8217;d al-Mutawalli berpendapat, &#8220;Karena masing-masing memulai salam, maka masing-masing dari keduanya wajib menjawab salam kepada sahabatnya.&#8221; Asy-Syasyi mengatakan, &#8220;Pendapat tersebut perlu ditelaah kembali. Karena lafal ini layak sebagai jawaban. Jika salah satu dari keduanya mengucap-kan salam sesudah yang lainnya, maka itu dinilai sebagai jawaban. Jika keduanya mengu-capkan salam secara bersamaan, maka itu bukan sebagai jawaban.&#8221; Apa yang dinyatakan oleh asy-Syasyi inilah yang benar.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Bagaimana jika seseorang bertemu dengan orang lain, lalu orang yang memulai salam mengucapkan, &#8220;Wa&#8217;alaikumus salam?&#8221; Al-Mutawalli berkata, &#8220;Itu bukan salam, dan tidak berhak dijawab. Karena bentuk lafal ini tidak patut untuk memulai salam.</p>
<p>Aku katakan, Bagaimana jika ia mengatakan, &#8220;Alaika&#8221; atau &#8220;Alaikumus salam,&#8221; dengan tanpa wawu? Imam Abu al-Hasan al-Wahidi menegaskan bahwa itu adalah salam yang wajib dijawab oleh orang yang diberi salam, meskipun ia telah merubah lafal yang biasa dipergunakan. Apa yang dinyatakan oleh al-Wahidi ini cukup jelas. Imam al-Haramain juga menegaskannya, ia wajib dijawab; karena ia disebut salam.</p>
<p>Bisa juga dinyatakan bahwa hal itu sebagai salam, ada dua pandangan, sebagaimana dua tinjuan manurut sahabat kami tentang bila seseorang menutup shalatnya dengan: &#8220;Alaikumus salam; apakah sah sebagai penutup shalat ataukah tidak? Pendapat yang paling shahih bahwa itu sah.</p>
<p>Bisa juga dinyatakan bahwa ini tidak berhak dijawab dalam segala ke-adaan, berdasarkan apa yang kami riwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan selainnya dengan sanad shahih dari Abu Jara&#8217;y al-Hujaimi, yang seorang sahabat-yang namanya adalah Jabir bin Sulaim, dan ada yang mengatakan : Sulaim bin Jabir-. Ia menga-takan,</p>
<p>أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم، فَقُلْتُ: عَلَيْكَ السَّلاَمُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: لاَ تَقُلْ: عَلَيْكَ السَّلاَمُ، فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى.</p>
<p>&#8220;Aku datang kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam lalu aku mengucapkan, &#8216;Alaikas salam, ya Rasulallah.&#8217; Beliau menimpali, &#8220;Jangan mengatakan, &#8216;Alaikas salam!&#8217; Karena &#8216;alaikas salam&#8217; adalah salam untuk orang yang sudah mati.&#8221; At-Tirmidzi berkata, &#8220;Hadits hasan shahih.&#8221;</p>
<p>Aku katakan, Mungkin makna hadits ini adalah dalam kapasitas menerangkan yang lebih baik dan lebih sempurna, dan berarti maksudnya, bahwa ini bukan salam. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Imam Abu Hamid al-Ghazali mengatakan dalam al-Ihya&#8217;, &#8220;Dimakruhkan memulai salam dengan mengucapkan, &#8216;Alaikumus salam,&#8217; berdasarkan hadits ini.&#8221;</p>
<p>Yang dipilih ialah dimakruhkan memulai salam dengan lafal demikian, tetapi jika seseorang memulainya dengannya, maka wajib dijawab, karena itu adalah salam juga.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Seseorang disunnahkan memulai salam sebelum segala ucapan. Hadits-hadits shahih dan amalan salaf serta khalaf umat ini yang selaras dengan hal itu cukup masyhur. Inilah yang menjadi sandaran berkenaan dengan dalil pasal ini.</p>
<p>Adapun hadits yang kami riwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Jabir radiyallahu &#8216;anhu adalah ia mengatakan, &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>السَّلاَمُ قَبْلَ الْكَلاَمِ</p>
<p>&#8216;Salam dahulu sebelum berbicara (yang lain)&#8217;.&#8221;</p>
<p>Ini hadits dhaif. At-Tirmidzi menilai ini hadits munkar.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Memulai salam adalah lebih utama, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam dalam hadits shahih,</p>
<p>وَخَيْرُهُمَا الَّذِيْ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ.</p>
<p>&#8220;Dan yang lebih baik dari keduanya ialah orang yang memulai salam.&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu, hendaklah masing-masing dari dua orang yang bertemu berkeingin-an untuk memulai salam.</p>
<p>Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dengan sanad bagus (jayyid) dari Abu Umamah radiyallahu &#8216;anhu, ia mengatakan, &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللهِ مَنْ بَدَأًهُمْ بِالسَّلاَمِ.</p>
<p>&#8216;Sesungguhnya manusia yang paling utama (mendapat rahmat) Allah ialah orang yang memulai salam kepada mereka&#8217;.&#8221;</p>
<p>Dalam riwayat at-Tirmidzi dari Abu Umamah,</p>
<p>قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الرَّجُلاَنِ يَلْتَقِيَانِ، أَيُّهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ؟ قَالَ: أَوْلاَهُمَا بِاللهِ</p>
<p>&#8220;Ditanyakan, &#8216;Wahai Rasulullah, dua orang bertemu, siapakah dari keduanya yang memu-lai salam?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Yang lebih utama (dari rahmat) Allah dari keduanya&#8217;.&#8221; At-Tirmidzi berkata, &#8220;Hadits hasan.&#8221;</p>
<p>Ketahuilah bahwa kita diperintahkan untuk menyebarkan salam, sebagaimana telah kami kemukakan. Tetapi ini ditekankan di sebagian keadaan, diperkenankan di sebagian yang lain, dan (sebaliknya) dilarang di sebagian yang lainnya.</p>
<p>Adapun keadaan-keadaan yang ditekankan dan dianjurkan, maka tidak dapat dihitung; karena inilah hukum dasarnya. Jadi, kita tidak memaksakan diri mengemukakannya satu persatu.</p>
<p>Ketahuilah bahwa termasuk dalam masalah ini ialah mengucapkan salam kepada orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati. Dan telah kami kemukakan dalam kitab dzikir-dzikir berkenaan dengan jenazah tentang tata cara mengucapkan salam kepada orang yang sudah mati.</p>
<p>Adapun keadaan-keadaan yang dimakruhkan, tidak ditekankan atau mubah, maka ini dikecualikan darinya dan memerlukan penjelasan.</p>
<p>Di antaranya: Jika orang yang diberi salam sedang buang air kecil, bersetubuh atau sejenisnya, maka dimakruhkan diberi salam. Seandainya seseorang mengucapkan salam, maka salamnya tidak berhak dijawab. Termasuk di antaranya orang yang sedang tidur atau mengantuk. Juga orang yang sedang melaksanakan shalat, sedang mengumandangkan adzan atau iqamah, sedang berada di kamar mandi,&#8230; atau perkara-perkara sejenis-nya yang selayaknya tidak diucapkan salam. Termasuk di antaranya jika ia sedang makan, sementara makanan ada di mulutnya. Jika seseorang mengucapkan salam kepada orang lain dalam keadaan-keadaan ini, maka tidak berhak dijawab. Adapun jika ia sedang makan, sementara makanan tidak ada dalam mulutnya, maka tidak mengapa diberi salam dan wajib menjawabnya. Demikian pula pada saat jual beli dan semua muamalat, boleh mengucapkan salam dan wajib menjawab.</p>
<p>Adapun mengucapkan salam pada saat Khutbah Jum&#8217;at, maka para sahabat kami berpendapat, dimakruhkan memulai salam; karena mereka diperintahkan untuk mendengarkan khutbah. Jika ia menyelisihinya dan mengucapkan salam, apakah wajib dijawab? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan para sahabat kami. Di antara mereka ada yang berpendapat, salamnya tidak dijawab karena ia melakukan kelalaian. Sebagian yang lainnya ada yang berpendapat, jika kita mengatakan bahwa mendengarkan khutbah adalah wajib, maka kita tidak boleh menjawab salam tersebut. Jika kita mengatakan bahwa mendengarkan khutbah adalah sunnah, maka salah seorang dari hadirin wajib menjawabnya. Namun, tidak boleh lebih dari satu orang yang menjawabnya dalam keadaan apa pun.</p>
<p>Adapun mengucapkan salam kepada orang yang sibuk membaca al-Qur`an, maka Imam Abu al-Hasan al-Wahidi berpendapat bahwa yang terbaik ialah tidak menjawab salamnya karena ia sedang sibuk membaca al-Qur`an. Jika ia diberi salam, cukup menjawabnya dengan isyarat. Jika ia menjawabnya dengan kata-kata, maka ia mengulang isti&#8217;adzah kemudian kembali membacanya. Ini pernyataan al-Wahidi, dan pendapat ini perlu ditinjau kembali. Zahirnya bahwa ia diberi salam, dan wajib menjawabnya secara terucap.</p>
<p>Adapun jika ia sibuk dengan doa, larut di dalamnya, hatinya konsentrasi padanya, maka bisa dikatakan bahwa ia seperti orang yang sedang sibuk membaca al-Qur`an, sebagaimana yang kami sebutkan. Namun, menurutku, yang paling jelas mengenai hal ini adalah bahwa dimakruhkan mengucapkan salam kepadanya; karena ia berada dalam kepayahan dan kesulitan yang lebih berat daripada makan.</p>
<p>Adapun orang yang sedang bertalbiyah dalam ihram, maka dimakruhkan mengucapkan salam kepadanya; karena ia dimakruhkan untuk memutus talbiyah. Jika ia diberi salam, ia harus menjawabnya dengan lafal. Hal ini dituliskan secara tekstual oleh asy-Syafi&#8217;i dan para sahabat kami.</p>
<p><strong>Pasal </strong></p>
<p>Telah disebutkan keadaan-keadaan di mana salam dimakruhkan. Kami telah menjelaskan bahwa itu tidak wajib dijawab. Seandainya orang yang diberi salam ingin menjawab salam; apakah itu disyariatkan kepadanya, ataukah dianjurkan? Mengenai hal ini terdapat perincian.</p>
<p>Adapun orang yang sedang buang air kecil dan sejenisnya, ia dimakruhkan untuk menjawab salam. Kami telah mengemukakan hal ini di awal kitab.</p>
<p>Orang yang sedang makan dan sejenisnya, ia dianjurkan untuk menjawab salam, tetapi dalam posisi tidak wajib.</p>
<p>Sementara orang yang sedang shalat, ia diharamkan mengucapkan, &#8220;Wa&#8217;alaikumus salam.&#8221; Jika ia melakukan hal itu, maka shalatnya batal, jika ia mengetahui keharamannya. Jika tidak tahu, shalatnya tidak batal, menurut pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat yang berkembang di kalangan kami. Jika ia mengatakan, &#8220;Alaihis salam,&#8221; dengan lafal ghaibah (kata ganti orang ketiga), maka shalatnya tidak batal; karena ini doa, bukan khithab (percakapan). Namun, dianjurkan untuk menjawab salam dalam shalat dengan isyarat dan tidak melafalkan dengan kata-kata. Jika ia menjawabnya setelah selesai shalat dengan kata-kata, maka tidak mengapa. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Adapun muadzin, ia tidak dimakruhkan menjawab salam dengan lafal seperti biasanya; karena hal itu mudah, tidak membatalkan adzan dan tidak pula merusaknya.</p>
<p>Sumber : Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta. Disadur oleh Yusuf Al-Lomboky</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatdoa&#038;id=282</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/957/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=957&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2010/11/07/hukum-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/11/salam.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Salam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Mencari-Cari Rukhsoh-Rukhsoh (Pendapat Yang Paling Enak) Para Fuqoha(Ahli Fiqih)</title>
		<link>http://jacksite.wordpress.com/2010/10/20/hukum-mencari-cari-rukhsoh-rukhsoh-pendapat-yang-paling-enak-para-fuqohaahli-fiqih/</link>
		<comments>http://jacksite.wordpress.com/2010/10/20/hukum-mencari-cari-rukhsoh-rukhsoh-pendapat-yang-paling-enak-para-fuqohaahli-fiqih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 08:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Al Maira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jacksite.wordpress.com/?p=954</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya syaithon senantiasa berusaha menggelincirkan manusia dan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran dengan wasilah-wasilah yang beranekaragam. Di antara pintu-pintu kejelekan yang telah dibuka oleh syaithon untuk manusia adalah :”Mencari rukhsoh-rukhsoh (pendapat-pendapat yang paling ringan) dari para fuqoha’ dan  mengikuti kesalahan-kesalahan mereka”. Maka dengan cara ini syaithon menipu banyak kaum muslimin yang bodoh. Sehingga hal-hal yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=954&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/10/1692979850-terrafugia-mobil-terbang-pertama-di-dunia.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-974" title="1692979850-terrafugia-mobil-terbang-pertama-di-dunia" src="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/10/1692979850-terrafugia-mobil-terbang-pertama-di-dunia.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Sesungguhnya syaithon senantiasa  berusaha menggelincirkan manusia dan menyesatkan mereka dari jalan  kebenaran dengan wasilah-wasilah yang beranekaragam. Di antara  pintu-pintu kejelekan yang telah dibuka oleh syaithon untuk manusia  adalah :”Mencari rukhsoh-rukhsoh (pendapat-pendapat yang paling ringan)  dari para fuqoha’ dan  mengikuti kesalahan-kesalahan mereka”. Maka  dengan cara ini syaithon menipu banyak kaum muslimin yang bodoh.  Sehingga hal-hal yang haram dilanggar dan hal-hal yang wajib  ditinggalkan karena bergantung kepada pendapat atau rukhsoh yang palsu.  Maka jadilah orang-orang bodoh tersebut menjadikan hawa nafsu mereka  sebagai hakim dalam masalah-masalah khilafiyah. Mereka memilih pendapat  yang paling mudah dan yang paling enak menurut hawa nafsu mereka tanpa  bersandar kepada dalil syar’i, bahkan karena taqlid kepada kesalahan  seorang alim yang seandainya orang alim tersebut mengetahui kebenaran  maka dia akan meninggalkan pendapatnya (yang salah tersebut) tanpa  ragu-ragu.</p>
<p><span id="more-954"></span>Ketika tidak ada seorangpun yang mengingkari  orang-orang bodoh tersebut maka mereka akan beralasan bahwa mereka  tidaklah melakukan hal tersebut berdasarkan pendapat mereka semata,  tetapi ada ulama yang memfatwakan akan bolehnya apa yang telah mereka  lakukan. Dan mereka bukanlah yang dimintai pertanggungjawaban, mereka  hanyalah mengekor, sedangkan pertanggungjawaban adalah pada ulama yang  memfatwakannya, jika  benar atau salah. Bahkan mereka mengambil rukhsoh  dari para fuqoha’ pada suatu permasalahan dan meninggalkan  pendapat-pendapat mereka pada permasalahan yang lain. Mereka  menyesuaikan antara madzhab-madzhab dan menggabungkan pendapat-pendapat  (menurut hawa nafsu mereka-pent). Mereka menyangka telah melakukan  amalan yang sebaik-baiknya (padahal malah sebaliknya-pent).</p>
<p>Syaithon telah menyebarkan pada orang-orang bodoh tersebut perkataan <strong>“Letakkanlah dia di leher orang alim dan keluarlah darinya dalam keadaan selamat”</strong>.(Maksudnya  yaitu serahkanlah tanggung jawab akibat perbuatan kalian kepada orang  alim yang memfatwakan hal itu, maka kalian akan keluar dengan selamat  tanpa beban –pent). Ketika timbul suatu masalah pada salah seorang di  antara orang-orang bodoh tersebut, maka dia akan pergi ke sebagian ulama  yang tasahul (mudah memberikan jawaban yang ringan dan enak, pent)  dalam berfatwa, lalu mereka (sebagian ulama yang tasahul-pent)  mencarikan untuknya rukhsoh yang telah difatwakan oleh seseorang, lalu  mereka berfatwa dengan rukhsoh tersebut padahal rukhsoh itu menyelisihi  dalil dan kebenaran yang telah mereka yakini.</p>
<p>Kebanyakan orang-orang bodoh itu terdiri dari dua golongan, yaitu (pertama) <strong>orang awam</strong> yang pergi ke ulama yang tasahul dalam berfatwa. Dan (yang kedua) <strong>mufti yang mencari keridhoan manusia</strong> yang tidak berfatwa dengan dalil.</p>
<p>Apakah  mafsadah dan mudhorot yang ditimbulkan oleh cara seperti ini?, manakah  dalil-dalil syar’i yang menunjukan kebatilan hal ini?, bagaimanakah  pendapat-pendapat para ulama tentang hal ini? beserta penjelasan tentang  bagaimanakah sikap yang benar dalam menghadapi masalah khilafiyah?, dan  apa kewajiban seorang mufti?, dan apa kewajiban seorang yang meminta  fatwa?<br />
<strong>Apakah yang dimaksud dengan rukhsoh di sini?</strong></p>
<p>Yang  dimaksud dengan rukhsoh di sini adalah pendapat para ulama dalam  masalah khilafiyah yang paling ringan (paling enak-pent) yang tidak  bersandar kepada dalil yang shohih. Atau kesalahan seorang alim mujtahid  yang kesalahannya tersebut diselisihi oleh para mujtahid yang lain. Dan  inilah makna rukhsoh menurut bahasa. Adapun makna syar’i yaitu nama  terhadap apa yang berubah dari perkara yang asal karena adanya halangan,  atau untuk kemudahan dan keringanan seperti diqoshorkannya sholat  ketika safar dan kesalahan-kesalahan padanya dan rukhsoh-rukhshoh syar’i  yang lainnya.<strong> </strong></p>
<p><strong>Contoh-contoh rukhsoh para ahli fiqih</strong></p>
<p>1.   Pendapat akan bolehnya mencukur jenggot<br />
2.   Pendapat akan bolehnya membayar zakat fitrah dengan uang<br />
3.   Pendapat akan bolehnya meminum semua yang memabukkan kecuali yang dari anggur<br />
4.   Pendapat bahwasanya tidak ada sholat juma’at kecuali pada tujuh wilayah<br />
5.   Pendapat tentang diakhirkannya sholat asar hingga (panjang) bayangan setiap benda adalah empat kalinya<br />
6.   Pendapat akan bolehnya lari pada saat bertemu dengan musuh (ketika jihad -pent)<br />
7.   Pendapat akan bolehnya mendengarkan nyanyian dan alat-alat musik<br />
8.   Pendapat akan bolehnya nikah mut’ah<br />
9.   Pendapat akan bolehnya menukar satu dirham dengan dua dirham secara kontan/tunai.<br />
10. Pendapat akan bolehnya menjimaki istri dari duburnya.<br />
11. Pendapat akan sahnya nikah tanpa wali dan tanpa mahar.<br />
12. Pendapat akan tidak disyaratkannya dua saksi dalam nikah.</p>
<p><strong>Mafsadah yang timbul dengan mencari-cari rukhsoh-rukhsohnya para fuqoha’</strong></p>
<p>Mengikuti  rukhsoh-rukhsohnya para fuqoha’ menimbulkan mafsadah yang banyak. Di  antaranya hilangnya kemulian agama (Islam), dan jadilah agama ini  permainan di tangan para manusia. Di antaranya juga meremehkan hal-hal  yang  haram dan meremehkan batasan-batasan syari’at.</p>
<p>Asy-Syatibi  telah menyebutkan sejumlah mafsadah-mafsadah ini dan berkata : “ Seperti  memisahkan diri dari (ajarran) agama dengan berpaling dari mengikuti  dalil (menuju) kepada mengikuti khilaf, meremehkan agama, meninggalkan  apa-apa yang telah diketahui (kebenarannya) kepada apa-apa yang tidak  diketahui (kebenarannya), terhalangnya (tercapai) undang-undang politik  yang syar’i dengan meninggalkan ketegasan dalam beramar ma’ruf -sehingga  para hakimpun berbuat sewenang-wenang dalam keputusan-keputusan hukum  mereka, maka seorang hakim berfatwa dengan rukhsoh kepada orang yang dia  senangi dan berfatwa yang menyulitkan kepada yang dia tidak sukai. Maka  tersebarlah kekacauan dan kedzaliman-kedzaliman-, dan seperti  terhantarnya hakim ini kepada pendapat menggabung-gabungkan  madzhab-madzhab dengan cara yang bisa merusak ijma’.” (Al-Muwafaqot  4/147-148)</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi berkata : “Dan termasuk perangkap  syaithon bagi para fuqoha’ yaitu bercampurnya (bergaulnya) mereka dengan  penguasa dan para sultan dan bersikap mudahanah terhadap mereka, serta  meninggalkan nahi mungkar terhadap para penguasa tersebut, padahal  mereka mampu melaksanakannya. Dan terkadang mereka memberikan rukhsoh  kepada para penguasa tersebut pada perkara-perkara yang (sebenarnya)  tidak ada rukhsoh padanya agar mendapatkan tujuan-tujuan duniawi dari  mereka. Sehingga dengan hal itu timbulah kerusakan kepada tiga kelompok :</p>
<p>1. Penguasa, dia berkata : “Kalau  seandainya aku tidak di atas kebenaran maka tentu si faqih akan  mengingkariku. Dan bagaimana aku tidak benar sedangkan dia (si faqih)  makan dari hartaku”.<br />
2. Orang awam, dia berkata : “Tidak mengapa  dengan penguasa ini, demikian juga dengan harta dan  perbuatan-perbuatannya karena si faqih senantiasa di sisinya”.<br />
3. Si faqih, karena sesungguhnya dia telah merusak agamanya dengan perbuatannya tersebut. (Talbis Iblis hal 121)<br />
<strong>Akibat-akibat dan mafsadah-mafsadah dari mencari-cari rukhsoh</strong></p>
<p>Sebagian  ulama membahas pendapat-pendapat yang marjuh untuk menghilangkan  kegelisahan dari banyak manusia yang mereka terjerumus dalam sebagian  kemungkaran-kemungkaran, misalnya mencukur jenggot. Contohnya  sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Hubaibullah Asy-Syingqiti  dalam kitabnya “Fathul Mun’im” (1/179) dalam pembahasannya akan bolehnya  mencukur jenggot, dimana dia berkata :”Ketika telah meluas musibah  mencukur jenggot di negeri-negeri timur maka aku bersungguh-sungguh  mencari (kaidah) asal yang di atas (kaidah) asal tersebut aku lahirkan  hukum akan bolehnya mencukur jenggot, hingga sebagian orang-orang yang  mulia (yaitu mulia menurut Muhammad Hubaibullah, namun pada hakikatnya  mereka tidak mulia karena mereka mencukur jangut-janggut mereka –pent)  memiliki kelapangan dari melaksanakan hal yang haram dengan kesepakatan  (maksudnya dia ingin agar orang-orang yang mulia yang mencukur  janggut-janggut mereka tidak dikatakan telah melakukan keharoman -pent).  Maka aku bawakan larangan mencukur janggut pada kaidah usuliyah bahwa  bentuk أَفْعِلْ (yaitu bentuk fiil amr yang terdapat dalam hadits  mengenai perintah Nabi shallallahu &#8216;alihi wa sallam untuk memanjangkan  janggut -pent) menurut pendapat kebanyakan orang adalah untuk kewajiban,  namun dikatakan  (juga) untuk mustahab” (dia ingin memalingkan asal  perintah adalah wajib menjadi mustahab, sehingga menurut dia perintah  Nabi shallallahu &#8216;alihi wa sallam untuk memanjangkan janggut hanyalah  mustahab –pent)</p>
<p>Berkata Al-Allamah As-Saffariniy (wafat 1188 H)  -setelah menjelaskan haromnya mencari-cari rukhsoh dalam taqlid-: “Pada  hal ini (mencari-cari rukhsoh) terdapat banyak kerusakan dan kehancuran  yang banyak, dan pintu ini kalau dibuka maka akan merusak syari’at yang  baik dan akan menghalalkan kebanyakan hal-hal yang harom, dan manakah  pintu yang lebih rusak dari pintu yang menghalalkan zina dan minum khomr  dan yang lainnya?”<br />
Syubhat-syubhat dan bantahannya<br />
<strong><br />
Syubhat pertama</strong></p>
<p>Mereka  para pencari-cari rukhsoh berhujjah dengan كَلاَمٌ حَقٌّ أُرِيْدَ بِهِ  بَاطِلٌ (suatu kalimat yang hak tetapi dimaksudkan untuk hal yang  batil). Mereka berkata bahwasanya agama ini mudah dan Allah ta&#8217;ala telah  berfirman :</p>
<p>يُرِيْدُ اللهُ بِِِِِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِِِِِكُمُ الْعُسْرَ</p>
<p>ِِ<em>Allah menghendaki bagi kalian kemudahan dan tidak menghendaki bagi kalian kesusahan (Al-Baqoroh : 185)</em><br />
Dan Rosulullah shallallahu &#8216;alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا</p>
<p><em>Mudahkanlah dan janganlah kalian mempersulit (Dari hadits Anas t, riwayat Bukhori 1/163 dan Muslim 3/1359)</em></p>
<p>Mereka berkata :”Jika kami memilih  pendapat yang paling ringan (paling enak –pent) maka tindakan kami ini  adalah memudahkan dan menghilangkan kesulitan”.</p>
<p>Maka kita jawab  mereka : Sesungguhnya penerapan syari’at dalam seluruh sisi kehidupan  itulah yang disebut memudahkan dan menghilangkan kesulitan, bukan  menghalalkan hal-hal yang harom dan meningalkan kewajiban-kewajiban”.</p>
<p>Berkata  Ibnu hazm (dalam Al-Ihkam fi usulil ahkam hal 869): ”Kami sungguh telah  mengetahui bahwasanya seluruh yang dilazimkan oleh Allah ta&#8217;ala adalah  kemudahan, sesuai dengan firman Allah ta&#8217;ala:</p>
<p>وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِيْ الدَّيْنِ مِنْ حَرَجٍ )</p>
<p><em>Dan Dia(Allah) sekali-kali tidak  menjadikan bagi kalian dalam agama suatu kesempitan (Al-Haj : 78)</em><br />
Dan Imam Asy-Syatibi telah membantah  oaring-orang yang berhujjah dengan model ini dengan sabda Nabi  shallallahu &#8216;alihi wa sallam:</p>
<p>بُعِثْتُ بِالْحَنِيْفِيَّةِ السَّمْحَةِ<em> </em></p>
<p><em>Aku telah diutus dengan (agama yang) lurus  yang penuh kelapangan (Hadits Hasan)</em></p>
<p>Seraya (Imam Asy-Syatibi) berkata : “Dan  engkau mengetahui apa yang terkandung dalam perkataan (dalam hadits)  ini. Karena sesungguhnya (agama yang) “lurus yang penuh kelapangan” itu,  hanyalah timbul kelapangan padanya dalam keadaan terkait dengan  kaidah-kaidah pokok yang telah berlaku dalam agama, bukan mencari-cari  rukhsoh dan bukan pula memilih pendapat-pendapat dengan seenaknya”.  Maksud beliau yaitu bahwasanya kemudahan syari’at itu terkait dengan  koidah-koidah pokok yang telah diatur dan bukan mencari-cari rukhsoh  yang ada dalam syari’at.</p>
<p>Imam Syatibi juga berkata :”Kemudian  kita katakan bahwasanya mencari-cari rukhsoh adalah mengikuti hawa  nafsu, padahal syari’at melarang mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu  mencari-cari rukhsoh bertentangan dengan kaidah pokok yang telah  disepakati (yaitu dilarangnya mengikuti hawa nafsu). Selain itu hal ini  juga bertentangan dengan firman Allah ta&#8217;ala:</p>
<p>فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى الله وَ الرَّسُوْلِ<br />
<em><br />
Dan jika kalian berselisih tentang sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rosul (An-Nisa 59)</em></p>
<p>Maka tidak boleh khilaf yang ada di  antara para ulama, kita kembalikan kepada hawa nafsu (dengan memilih  pendapat yang paling enak-pent), tetapi kita kembalikan kepada  syari’at”. (Al-Muwafaqot 4/145)</p>
<p><strong>Syubhat kedua</strong></p>
<p>Mereka  berkata :”Kami hanyalah mengikuti yang orang berpendapat dengan rukhsoh  tersebut”. Maka dijawab :”Sesungguhnya orang alim yang kalian taqlidi  tersebut telah berijtihad dan dia telah salah, maka dia mendapatkan  pahala atas ijtihadnya tersebut. Adapun kalian, apa hujjah kalian  mengikuti kesalahannya?, kenapa kalian tidak mengikuti ulama yang lain  yang menfatwakan pendapat (yang benar) yang berbeda dengan pendapat si  alim yang salah itu?”. Dan demikian juga dijawab : “Kenapa kalian  bertaqlid kepada si faqih ini dalam perkara rukhsoh (yang enak menurut  kalian -pent) namun kalian tidak taqlid kepada pendapatnya yang lain  yang tidak ada rukhsoh (yaitu yang tidak enak pada kalian) lalu kalian  mencari dari ahli fiqih selain dia yang berpendapat rukhsoh??. Ini  menunjukan bahwa kalian menjadikan taqlid sebagai benteng (alasan saja  untuk membela) hawa nafsu kalian.!!!”. Dan para salaf telah  memperingatkan terhadap kesalahan-kesalahan para ulama dan bertaqlid  kepada kesalahan-kesalahan mereka tersebut. Umar radhiyallahu &#8216;anhu  berkata:</p>
<p>ثَلاَثٌ يَهُدُّ مِنَ الدِّيْنِ : زَلَّةُ عَالِمٍ, وَجِدَالُ مُنَافِقٍ بِالْقُرْآنِ, وَ أَئِمَّةٌ ْمُضِلُّوْنَ</p>
<p><em>“Tiga  perkara yang merobohkan agama: Kesalahan seorang alim, debatnya orang  munafiq dengan Al-Qur’an, dan para imam yang menyesatkan”. (Riwayat  Ad-Darimi1/71 dengan sanad yang shohih, dan Ibnu Abdilbar dalam Jami’  bayanil ‘ilmi 2/110).</em></p>
<p>Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma:</p>
<p>وَيْلٌ لِلأَتْبَاعِ مِنْ زَلَّةِ  الْعَالِمِ، يَقُوْلُ الْعَالِمِ الشَيْءَ بِرَأْيِهِ, فَيَلْقَى مَنْ هُوَ  أَعْلَمُ بِرَسُوْلِ اللهِ مِنْهُ, فَيُخْبِرُهُ وَيَرْجِعُ وَيَقْضِي  الأَتْبَاعُ بِمَا حَكَمَ</p>
<p><em>“Celakalah orang-orang yang  mengikuti kesalahan seorang alim. Si alim berpendapat dengan ro’yinya  (akalnya) lalu dia bertemu dengan orang yang lebih alim darinya tentang  Rosulullah shallallahu &#8216;alihi wa sallam, kemudian orang tersebut  memberitahukannya (pendapat yang benar) maka si alim tersebut mengikuti  pendapat yang benar dan meninggalkan pendapatnya yang salah dan para  pengikutnya (tetap) berhukum dengan pendapat si alim yang salah  tersebut”.(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam al-madkhol dan Ibnu  Abdilbar (2/122) dengan sanad yang hasan) </em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Hukum mencari-cari rukhsoh para fuqoha’ dan menggabungkan madzhab-madzhab (dengan hawa nafsu)</strong></p>
<p>Telah  sepakat para ulama akan haramnya mencari-cari rukhsoh dan menggabungkan  madzhab-madzhab dan pendapat-pendapat tanpa dalil syar’i yang rojih,  dan berfatwa kepada manusia dengan pendapat tersebut.</p>
<p>Diantara perkataan-perkataan para ulama tentang haramnya hal ini adalah :</p>
<p>1.    Berkata Sulaiman At-Taimy (wafat tahun 143 H) :”Kalau engkau mengambil  rukhsohnya setiap orang alim maka telah berkumpul pada dirimu seluruh  kejelekan”. Berkata Ibnu Abdilbar memberi komentar: “Hal ini adalah  ijmak, dan aku tidak mengetahui ada khilaf dalam perkara ini” (Al-Jami’  2/91,92)</p>
<p>2.   Berkata Ma’mar bin Rosyid (wafat tahun 154 H)  :”Sendainya seorang laki-laki mengambil pendapat Ahlul Madinah tentang  (bolehnya) nyanyian dan (bolehnya) mendatangi wanita dari duburnya, dan  mengambil pendapat Ahlul Makkah tentang (bolehnya) nikah mut’ah dan  (bolehnya) sorf dan mengambil pendapat Ahlul Kufah tentang khomer, maka  dia adalah hamba Allah ta&#8217;ala yang paling buruk”. (Lawami’il anwar karya  As-Safarini 2/466)</p>
<p>3.   Berkata Imam Auza’i (wafat tahun 157 H):  Barangsiapa yang mengambil pendapat-pendapat ulama yang aneh (asing)  maka dia telah keluar dari Islam” (Siyar A’lam An-Nubala’ 7/125 karya  Ad-Dzahabi)</p>
<p>4.   Berkata Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241  H) :”Kalau seorang laki-laki mengamalkan pendapat Ahlul Kufah tentang  anggur (yaitu yang haram hanyalah khomer yang dari anggur –pent) dan  pendapat Ahlul Madinah tentang nyanyian (yaitu bolehnya nyanyian –pent)  dan pendapat Ahlul Makkah tentang mut’ah (yaitu bolehnya nikah mut’ah  –pent) maka dia adalah orang yang fasiq” (Lawami’il anwar al-bahiyah  karya As-Safarini 2/466 dan irsyadul fuhul karya Asy-Syaukani hal 272)</p>
<p>5.    Berkata Ibrahim bin Syaiban (wafat tahun 337 H) :Barangsiapa yang ingin  rusak maka lazimilah rukhsoh” (Siyar a’alam an-nubala’ karya  Adz-Dzahabi 15/392)</p>
<p>6.   Berkata Ibnu hazm (wafat tahun 456 H)  dalam bayan tabaqot al-mukhtalifin: ”Dan tingkatan yang lain dan mereka  adalah kaum yang tipisnya nilai agama mereka dan kurangnya ketakwaan  mereka mengantarkan mereka untuk mencari apa yang sesuai dengan hawa  nafsu mereka pada pendapat setiap orang. Mereka mengambil pendapat yang  rukhsoh dari seorang alim dengan bertaqlid kepadanya tanpa mencari  pendapat yang sesuai dengan nash dari Allah ta&#8217;ala dan Rosulullah  rshallallahu &#8216;alihi wa sallam  (Al-ihkam hal 645). Imam Syatibi telah  menukil dari Ibnu hazm bahwasanya beliau menyampaikan ijmak (para ulama)  bahwasanya mencari-cari rukhsohnya madzhab-madzhab tanpa bersandar  kepada dalil syar’i adalah merupakan kefasikan yang haram.(Al-muwafaqot  4/134)</p>
<p>7.   Berkata Abu ‘Amr Ibnu Solah (wafat tahun 643 H)  menjelaskan tentang sifat tasahulnya (mudah memberikan fatwa yang enak  -pent) seorang mufti : “Dan terkadang sifat tasahulnya dan kemudahan  yang tujuan-tujuan dunia yang rusak telah membawa si mufti tersebut  untuk mencari-cari hilah yang haram atau yang makruh, dan berpegang  teguh dengan syubhat-syubhat untuk mencarikan rukhsoh bagi orang yang  dia ingin beri manfaat, atau bersikap keras terhadap orang yang dia  kehendaki mendapat mudhorot. Maka barang siapa yang melakukan hal ini  maka telah hina agamanya”. (Adabul mufti hal 111)</p>
<p>8.   Berkata  Sulathonul ulama Al-‘Izz bin Abdis Salam (wafat tahun 660 H): “Tidak  boleh mencari-cari rukhsoh.” (Al-fatawa hal 122)</p>
<p>9.   Imam  An-Nawawi ditanya :”Apakah boleh seseorang yang bermadzhab dengan suatu  madzhab untuk bertaqlid pada suatu madzhab yang lain pada perkara yang  dengannya ada kemanfaatan dan mencari-cari rukhsoh?”, beliau menjawab  :”Tidak boleh mencari-cari rukhsoh wallahu a’lam” (fatawa An-Nawawi yang  dikumpulkan oleh muridnya Ibnul ‘Atthor hal 168)</p>
<p>10.  Berkata  Imam Ibnul Qoyyim (wafat 751 H) :”Tidak boleh seorang mufti mengamalkan  dengan pendapat yang sesuai dengan kehendaknya tanpa melihat kepada  tarjih” (I’lamul muwaqi’in 4/211)</p>
<p>11.  Berkata Al-‘Alamah  Al-Hijawi (wafat 967 H) :”Tidak boleh bagi seorang mufti maupun yang  lainnya untuk mencari-cari hilah yang harom dan mencari-cari rukhsoh  bagi orang yang membutuhkannya, karena mencari-cari hal itu adalah  kefasikan dan diharomkan meminta fatwa dengan hal itu”. (Al-Imta’ 4/376)</p>
<p>12.   Berkata Al-‘Alamah As-Safarini (wafat 1188 H) :”Diharamkan bagi orang  awam yang bukan mujtahid untuk mencari-cari rukhsoh untuk ditaqlidi”.  (Lawami’il anwar 2/466)</p>
<p>Kesimpulan dari uraian diatas bahwasanya  empat imam yaitu Ibnu Abdilbar, Ibnu Hazm, Ibnu Solah, dan Al-Baji telah  menukilkan ijma’ tentang haramnya mencari-cari rukhsoh.<br />
<strong>Sikap yang benar terhadap perbedaan pendapat dalam suatu permasalahan dan apakah yang wajib bagi orang yang meminta fatwa ?</strong></p>
<p>Jika  seorang muslim mendapatkan banyak fatwa dalam suatu permasalahan, maka  bagaimanakah sikapnya yang benar dengan perbedaan pendapat ini?</p>
<p>Tidak  boleh baginya mencari-cari rukhsoh para fuqoha’ dan wajib baginya untuk  mengikuti pendapat yang benar dalam permasalahan tersebut. Lalu apakah  yang harus dia lakukan?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>Selayaknya pilihannya itu  terpatok kepada timbangan yang teratur yang bisa digunakan untuk  mengetahui pendapat yang rojih (benar) dari pendapat yang marjuh (yang  salah). Dan timbangan ini adalah firman Allah ta&#8217;ala:</p>
<p>فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى الله وَ الرَّسُوْلِ<br />
<em><br />
Dan jika kalian berselisih tentang sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rosul (An-Nisa 59) </em></p>
<p>Maka pendapat mana saja yang sesuai  dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka itulah yang benar dan yang  menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah maka dia adalah batil.</p>
<p>1.       Wajib bagi seorang muslim yang (mampu untuk) melihat (meneliti) untuk  memilih pendapat yang sesuai dengan dalil yang kuat. Berkata Abu Amr  Ibnu Abdilbar :”Yang wajib dalam menyikapi perselisihan para ulama  adalah mencari dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah dan ijmak serta qiyas  yang berdasarkan usul-usul (qoidah-qoidah pokok) yang bersumber dari  semua itu. Dan demikian itu tidak bisa tidak. Dan jika sama kuat  dalil-dalil (khilaf tersebut) maka wajib untuk memilih kepada yang  paling menyerupai dengan apa-apa yang telah kita sebutkan dengan Kitab  dan Sunnah. Apabila dalil-dalil (khilaf tersebut) tidak jelas maka wajib  untuk tawaqquf (menahan diri). Apabila seseorang terpaksa unutuk  mengamalkan salah satu pendapat (dari khilaf tersebut) pada kondisi yang  khusus pada dirinya, maka boleh baginya untuk taqlid sebagaimana  dibolehkan bagi orang-orang awam. Dan dia mengamalkan sabda Rosulullah  shallallahu &#8216;alihi wa sallam “Kebaikan itu adalah apa yang menenangkan  hati dan dosa adalah apa yang menggelisahkan hati. Maka tinggalkanlah  apa-apa yang meragukanmu menuju kepada apa-apa yang tidak meragukanmu.””  (Jami’ bayan al-‘ilmi 2/80-81). Demikanlah perkataan Al-Khatib  Al-Bagdadi di dalam kitab al-faqih wal mutafaqih 2/203.</p>
<p>2.       Wajib bagi seorang muslim untuk meminta fatwa kepada orang yang telah  terpenuhi syarat-syarat untuk berfatwa baik dalam hal ilmu maupun  kewara’an. Dan janganlah dia bertanya kepada …ilmu yang mereka  mengeluarkan fatwa dengan kebodohan dan kebohongan. Atau dia bertanya  kepada orang-orang yang tasahul dalam berfatwa yaitu mereka-mereka yang  suka memberi fatwa dengan rukhsoh dan hilah (penipuan terselubung).  Mereka-mereka tersebut tidak boleh dimintai fatwa.</p>
<p>3.      Dan  wajib bagi pencari kebenaran untuk beristi’anah kepada Allah ta&#8217;ala dan  tunduk kepadanya dengan berdo’a agar Allah ta&#8217;ala menunjukinya kepada  kebenaran. Dan hendaklah dia berdo’a dengan do’anya Nabi shallallahu  &#8216;alihi wa sallam:</p>
<p>اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَ  مِيْكَائِيْلَ وَ إِسْرَافِيْلَ, فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَلأَرْضِ, عَالِمَ  الْغَيْبِ وّالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمَ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا  كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ, اِهْدِنِيْ لِمَا اخِتُلِفَ فِيْهِ مِنَ  الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهِدِي مَنْ تَشَاءُ اِلَى صِرَاطٍ  مُسْتَقِيْمٍ</p>
<p><em>Ya Allah, Rob jibril, mikail dan isrofil, Yang  menciptakan langit-langit dan bumi, Yang mengetahui ilmu goib dan yang  nampak, Engkau menghakimi hamba-hamba-Mu pada apa-apa yang mereka  perselisihkan. Tunjukilah kepadaku kebenaran dari apa-apa yang mereka  perselisihkan dengan idzin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja  yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus. (Riwayat Muslim 1/534  dari ‘Aisyah)</em></p>
<p>4.      Jika khilafnya sangat kuat  sehingga seorang muslim tidak mampu untuk mengetahui mana yang benar,  maka dia (boleh) bertaqlid kepada orang yang dia tsiqohi (percayai) akan  ilmu dan dan dinnya dan tidaklah dia dibebani dengan beban yang labih  dari ini.</p>
<p>5.      Berkata Al-Khotib Al-Bagdadi :”Jika seseorang  berkata : “Bagaimana engkau berkata terhadap orang awam yang meminta  fatwa jika ada dua orang yang memberinya fatwa dan kedua orang tersebut  berselisih, apakah boleh baginya taqlid?”, maka dijawab : Untuk perkara  ini ada dua sisi :</p>
<p>-  Pertama : Jika orang awam tersebut luas  akalnya (pintar) dan pemahamannya baik, maka wajib baginya untuk  bertanya kepada dua orang yang berselisih tersebut tentang  madzhab-madzhab mereka dan hujah-hujah mereka. Lalu dia mengambil  pendapat yang paling kuat menurut dia. Namun jika akalnya kurang tentang  hal ini dan pemahamannya tidak baik, maka boleh baginya taqlid kepada  pendapat yang paling baik menurut dia diantara kedua orang tersebut.</p>
<p>- Jika dia menempuh jalan yang lebih hati-hati dan wara’, maka  hendaknya dia memilih pendapat yang paling hati-hati dari kedua pendapat  tersebut. Maka hendaklah dia mendahulukan (memilih) pendapat yang  melarang daripada pendapat yang membolehkan dalam rangka menjaga dinnya  dari syubhat, sebagaimana sabda Rosulullah shallallahu &#8216;alihi wa sallam :</p>
<p>فَمَنِ اتَّقَى الشُّبْهَاتِ فَقَدِاسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْدِهِ<br />
<em><br />
Barangsiapa  yang menjaga dirinya dari perkara-perkara syubhat maka dia telah  membersihkan agamanya dan kehormatannya (Muttafaqun ‘alaihi)</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>والله أعلم</p>
<p>وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Diterjemahkan oleh Abu ‘Abdilmuhsin Firanda Andirja dari majallah Al-Asolah</p>
<p>Artikel: <a href="http://www.firanda.com/">www.firanda.com</a></p>
<p>http://www.firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/71-hukum-mencari-cari-rukhsoh-rukhsoh-pendapat-yang-paling-enak-para-fuqohaahli-fiqih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jacksite.wordpress.com/954/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jacksite.wordpress.com/954/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jacksite.wordpress.com/954/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jacksite.wordpress.com/954/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jacksite.wordpress.com/954/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jacksite.wordpress.com/954/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jacksite.wordpress.com/954/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jacksite.wordpress.com/954/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jacksite.wordpress.com/954/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jacksite.wordpress.com/954/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jacksite.wordpress.com/954/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jacksite.wordpress.com/954/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jacksite.wordpress.com/954/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jacksite.wordpress.com/954/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jacksite.wordpress.com&amp;blog=981316&amp;post=954&amp;subd=jacksite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jacksite.wordpress.com/2010/10/20/hukum-mencari-cari-rukhsoh-rukhsoh-pendapat-yang-paling-enak-para-fuqohaahli-fiqih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/91c42d11fc531baffeedba9a19af9bdc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Al Maira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jacksite.files.wordpress.com/2010/10/1692979850-terrafugia-mobil-terbang-pertama-di-dunia.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">1692979850-terrafugia-mobil-terbang-pertama-di-dunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
