Doa dengan perantara orang lain


Oleh
Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih
 Wali adalah setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” [Yunus : 61-62]Macam-macam tawassul kepada Allah dengan perantara wali-waliNya.Pertama.
Seseorang bertawasul dengan do’a seorang wali yang masih hidup, dengan do’a wali tersebut Allah meluaskan rizkinya atau memberi kesembuhan, hidayah dan taufik atau semisalnya. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat tatkala hujan tak kunjung datang, mereka bertawasul kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memohon agar turun hujan, seketika itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah supaya menurunkan hujan. Tidak lama kemudian do’a beliau dikabulkan oleh Allah dan turunlah hujan dengan lebat. [Shahih Muslim, kitab Al-Istisqa bab Do’a Fil istisqa 3/24-25]

Contoh lain para sahabat yang bertawassul kepada Abbas di zaman Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu meminta agar beliau berdo’a kepada Allah untuk memohon diturunkan hujan. Lalu Abbas bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu bedo’a kepada Allah yang diamini para sahabat. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa Fi Yaumil Jum’ah 2/18]

Bertawasul dengan do’a orang shalih yang masih hidup untuk mendatangkan manfa’at atau menghilangkan madharat sering terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

Kedua.
Bertawasul kepada Allah dengan perantara cinta kepada Nabi dan mengikutinya atau cinta kepada para wali dengan mengucapkan : ‘Ya Allah dengan perantara kecintaan dan ketaatanku kepada NabiMu atau kecintaanku kepada para waliMu, maka kabulkanlah permintaanku.

Demikian itu boleh karena termasuk tawassul dengan amal shalih sebagaimana tawassulnya orang-orang yang terperangkap di dalam goa lalu mereka bertawassul kepada Allah dengan amal shalih mereka masing-masing. [Shahih Al-Bukhari, kitab Badul Khalq 4/147-148]

Ketiga.
Bertawassul kepada Allah dengan perantara kedudukan para nabi dan para wali dengan mengucapkan : “Ya Allah saya bertawassul kepadaMu dengan perantara kedudukan para nabi atau kedudukan Husain, maka kabulkanlah permintaanku. Meskipun kedudukan para nabi dan wali sangat agung khususnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi kedudukan tersebut bukan menjadi penyebab terkabulkannya do’a. Oleh sebab itu tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, maka para sahabat Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertawassul dengan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi datang kepada paman beliau yang masih hidup untuk berdo’a kepada Allah agar diturunkan hujan. Padahal kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sangat tinggi dan mulia di atas mereka, akan tetapi tidak ada sahabatpun yang bertawassul dengan kedudukan Nabi setelah wafatnya. Sementara mereka adalah generasi umat terbaik yang paling tahu tentang kedudukan beliau dan generasi yang sangat menctainya.

Keempat.
Berdo’a kepada Allah dengan bertawassul dan bersumpah dengan kedudukan para wali atau para nabi seperti ucapan mereka : Ya Allah demi kedudukan para waliMu atau para nabiMu, kabulkanlah permintaanku. Hal tersebut dilarang karena bersumpah dengan makhluk untuk makhluk saja tidak boleh apalagi bersumpah dengan makhluk untuk khalik (Pencipta). Tidak ada keharusan untuk bersumpah dengan kedudukan para wali dengan anggapan mereka lebih dekat kepada Allah.

Inilah penjelasan yang sesuai dengan dalil-dalil dan sangat relevan dengan tujuan untuk menjaga kemurnian aqidah dan kesyirikan. [Fatawa Islamiyah 1/48-49]

Faedah.
Tujuan meminta do’a dari seseorang yang mustajab doanya adalah memohon manfaat untuk orang yang dimintakan dan orang yang meminta. Sebab orang yang mendo’akan orang lain dari tempat yang jauh, para malaikat pasti berkata kepadanya : Bagimu kebaikan seperti yang kamu mintakan untuknya. Sebaiknya tujuan meminta do’a bukan hanya untuk kemanfaatan bagi yang meminta saja, sebab dapat merendahkan kehormatannya meskipun hal itu dibolehkan.[Fawaid Muntaqa’ Syarh Kitab Tauhid oleh Syaikh Utsaimin hal.76]

[Disain dari buku Jahalatun Nas Fid Du’a edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdo’a hal. 9-13 Darul Haq]

4 Komentar to “Doa dengan perantara orang lain”

  1. -apakah yg sharusnya dilakukan ketika slesai berdzikir ‘allahu akbar’ 33x shabis sholat fardhu…,apakah dilanjutkan dgn berdoa? atau bagaimana?

    -apakah berdoa setelah berdzikir pada setiap sholat fardhu disyariatkan? lalu bagaimana adab/ketentuan dlm berdoa?apakah mengangkat tangan atau tanpa mengangkat tangan?

    -misalkan dalam suatu majelis, penceramah menyebut nama nabi muhammad shalallahu’alaihiwassallam.. bbrpa kali, apakah kita wajib bersholawat di setiap penyebutan tersebut?

    Abu Al Maira :
    Masalah 1-2, sepertinya saya pernah tulis di blog saya. Tapi kalau kurang lengkap dan meyakinkan, gak ada salahnya anda kunjungi situs2 salaf lainnya.

    Dzikir dan doa sehabis sholat itu ada tuntunannya, sebaiknya merujuk ke hadits2 shahih.
    Kalau masalah menangkat tangan pada waktu berdoa, yang saya tahu, bukannya tidak boleh, tapip rasulullah shalallahu alaihi wasalam tidak mengangkat tangan ketika berdoa sehabis sholat fardhu, Allahu ‘alam.

    Mengenai pembacaan shalawat setiap disebutkan nama Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, kalo menurut keumuman haditsnya sih ya iya. “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’ [HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]

    Allahu ‘alam

  2. pak abu tlg tulis artikel ttg doa sehari hari seperti doa mau tidur,bgn tdr,mau makan,slesai makan,msk wc dll yg biasa dlu diajarkan waktu kecil…, tp yg berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah…
    soalnya doa2 yg dulu diajarkan byk yg hadistnya dhaif ato malah g ada dalillnya sama sekali..

  3. saya membaca buku doa dan wirid menurut quran dan sunnah.., tertulis ‘membiasakan /merutinkan do’a sesudah selesai shalat fardhu, mengangkat tangan pada do’a tersebut tidak ada contohnya dari Rasulullah’.(majmu fatawa syaikh bin baz)

    Dalam bahasan yg lain dlm buku tsb…, waktu yg ijabah untuk berdo’a salahsatunya adalah setelah shalat fardhu… Dan salah satu adab berdo’a adalah dengan mengangkat tangan….

    -Bagaimana menyelaraskan tulisan dalam buku tsb..?
    -Bagaimana maksud merutinkan/membiasakan do’a setelah shalat fardhu..?
    -Jika Rasullullah tdk mengangkat tangan saat berdo’a stelah shalat fardhu.., disaat apa saja rasullulah berdo’a dengan mengangkat tangan…..?

    Abu Al Maira :

    Sehabis sholat fardhu, tidak ada riwayat2 [sepanjang pengetahuan saya] yang menyebutkan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam mengangkat tangan pada waktu berdoa.

    Adapun jika Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berdoa mengangkat tangan pada waktu sholat istiqa’ dan sholat2 sunnah lainnya.

    Adapun membiasakan doa/dzikir sehabis sholat fardhu, ya sesuai dengan dzikir dan doa2 yang biasa Rasulullah shalallahu alaihi wasalam baca sehabis sholat fardhu [bukan berarti gak boleh ada doa khusus lainnya yang kita panjatkan].

    Allahu ‘alam

  4. ulasan ini memberi penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai tawassul seperti yang diajarkan oleh ulama2 terdahulu berdasarkan hadits, maka bacalah dengan baik2 dan secara seksama.
    salam hormat dari saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: