HUkum Harga Tangguh (Time Value of Money) Dalam Islam


Oleh  

Syafii Antonio dan Team Redaksi tazkiaonline.com

Ekonomi Islam tidak mengenal bunga, karena bunga sesungguhnya telah jatuh ke dalam kategori riba. Pelarangan riba sudah berkali-kali ditulis di halaman ini dari berbagai sisi peninjauan.Islam juga tidak mengenal konsep time value of money. Di mata Islam yang bernilai adalah waktu itu sendiri, economic value of time. Penghargaan Islam atas waktu tercermin dari banyaknya sumpah Allah yang terdapat dalam Alquran, yang menggunakan terminologi waktu. Misalnya demi masa, demi waktu dhuha, demi waktu fajar, demi waktu ashar, demi waktu malam dan masih banyak lagi. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah juga pernah bersabda, “Waktu itu seperti pedang, jika kita tidak bisa menggunakannya dengan baik, ia akan memotong kita. ” Sedangkan Sayyid Qutb juga mengatakan, waktu adalah hidup.Namun penghargaan Islam terhadap waktu ini tidak diwujudkan dalam rupiah tertentu atau persentase bunga tetap. Karena hasil yang nyata dari pemanfaatan waktu ini bersifat variabel, tergantung pada jenis usaha, sektor industri, keadaan pasar stabilitas politik dan masih banyak lagi. Islam mewujudkan penghargaan pada waktu dalam bentuk kemitraan usaha dengan konsep bagi hasil.

Memang, Islam juga memperbolehkan penetapan harga tangguh-bayar (deferred payment) lebih tinggi dari pada harga tunai. Zaid bin Ali Zainal bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, cicit Rasulullah Saw, adalah orang yang menjelaskan pertama kali dibolehkannya penetapan harga tangguh-bayar lebih tinggi dari pada harga tunai. Namun dasarnya bukanlah time value of money, melainkan semata-mata karena ditahannya hak si penjual barang.

Satu contoh misalnya, bila barang dijual tunai dengan untung Rp 10.000, maka si penjual dapat membeli lagi dan menjualnya dengan untung yang sama, sehingga dalam satu hari penjual akan mendapat laba sebesar Rp 20.000. Tetapi kalau dijual dengan tangguh-bayar, hak penjual untuk mendapatkan untung lagi tertahan sehingga dia tidak dapat membeli lagi dan menjual lagi. Akibat lebih jauh dari itu, hak keluarga dan anak si penjual untuk makan malam pada hari itu tertahan oleh pembeli. Untuk alasan inilah, yaitu tertahannya hak penjual yang telah memenuhi kewajibannya (menyerahkan barang), Islam memperbolehkan penetapan harga tangguh-bayar lebih tinggi dari pada harga tunai.

Iklan

One Comment to “HUkum Harga Tangguh (Time Value of Money) Dalam Islam”

  1. itu mah time value of money jugaaa..
    —-
    Konsep time value of money merupakan kembangan dari teori-teori bunga yang ada (theory of interest), dari berbagai pandangan para ekonom kapitalis sepanjang masa.

    Dalam classical theory of interest tokoh yang sangat terkenal adalah Smith dan Ricardo, mereka berpendapat bahwa bunga merupakan kompensasi yang dibayarkan oleh peminjam (borrower) kepada si pemberi pinjaman (lender) sebagai balas jasa atas keuntungan yang diperoleh dari uang yang dipinjamkan tersebut.

    Abu al Maira :

    Kok bisa sama….. gimana anda ini…..

    Kita sedang tidak berbicara pinjam meminjam seperti yang anda sebutkan lender dan borrower…
    Kita sedang membicarakan harga tangguh, deffered payment….

    Ada-ada saja anda ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: