Archive for Juni 12th, 2007

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Yasin


Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya”. [Ibnul Jauzi Al-Maudhu’at 1/247]Keterangan : Hadits ini Palsu. Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. [Periksa : Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944]

Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya”. Keterangan : Hadits ini Lemah. Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). [Periksa : Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465]

Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid”. Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. [Periksa : Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45]

Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya”. Keterangan : Hadits ini Lemah. Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H. [Periksa : Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22]

Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali”. [Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman]. Keterangan : Hadits ini Palsu.
[Lihat Dha’if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani]

Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali”. [Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman]. Keterangan : Hadits ini Palsu. [Lihat Dha’if Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani]

Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali”. Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah Hadits Dha’if No. 169, hal. 202-203) Imam Waqi’ berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta. [Periksa : Mizanul I’tidal IV:173]

Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi”. Keterangan : Hadits ini Lemah. Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. [Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283]

Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu“. Keterangan : Hadits ini Lemah. Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas)

Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya“. Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. [Periksa : Mizanul I’tidal IV : 90-91]

Barangsiapa yang membaca Yasin maka Allah tuliskan dengan membacanya sama dengan membaca Al Quran 10 kali”. Asy Syekh al Albani mengatakan: Maudhu’ (palsu) karena ada rawi yang bernama Harun Abi Muhammad, azd Dzahabi menuduhnya sebagai pendusta [lihat perinciannya dalam Silsilah al Ahadits adh Dhaifah, no:169]

Iklan
Juni 12, 2007

Hadits Tentang Perpecahan Umat


Ummatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya di Surga kecuali kaum zindiq.”. Hadits ini diriwayatkan dari tiga jalan: Jalan Pertama, diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab adh-Dhu’afaa’ (IV/201) dan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhu’aat (I/267) dari jalan Mu’adz bin Yasin az-Zayyat, telah menceritakan kepada kami al-Abrad bin al-Asyras dari Yahya bin Sa’id dari Anas secara marfu’[1]. Jalan Kedua, diriwayatkan oleh ad-Dailami (II/1/41) dari jalan Nu’aim bin Hammad, telah menceritakan ke-pada kami Yahya Ibnul Yaman dari Yasin az-Zayyat dari Sa’ad bin Sa’id saudara Yahya bin Sa’id al-Anshari dari Anas. Jalan Ketiga, diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dari ad-Daraquthni dari jalan ‘Utsman bin Affan al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Abu Isma’il al-Ubulli Hafsh bin Umar dari Mus’ir dari Sa’ad bin Sa’id dari Anas. Pada jalan pertama ada dua orang perawi yang sangat lemah: Mu’adz bin Yasin az-Zayyat; Imam ‘Uqaili berkata: “Ia adalah seorang perawi yang majhul (tidak dikenal), haditsnya tidak terpelihara.” [Lihat Mizaanul I’tidal IV/133 dan Lisanul Mizan (VI/ 55-56)]. Al-Arbad bin al-Asyras; Imam Ibnu Khuzaimah berkata: “Ia adalah tukang dusta dan tukang memalsu hadits.” Dan al-Azdi berkata: “Haditsnya tidak sah.”  [Lihat Mizaanul I’tidal I/77-78 dan Lisaanul Mizan I/128-129]. Pada jalan kedua juga ada dua orang perawi yang lemah yaitu Nu’aim bin Hammad; Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia benar, akan tetapi banyak salah.” [Lihat Taqriibut Tahdziib II/250 no.7192.]. Yasin bin Mu’adz az-Zayyat; Imam al-Bukhari berkata: “Munkarul hadits.” Imam an-Nasa-i dan Ibnul Jarud berkata: “Ia seorang perawi yang matruk.” Ibnu Hibban berkata: “Ia sering meriwa-yatkan hadits maudhuu’.” [Lihat Mizaanul I’tidal IV/358.]. Pada jalan ketiga juga ada dua orang perawi tukang dusta yaitu ‘Utsman bin ‘Affan al-Qurasyi as-Sijistani;
Ibnu Khuzaimah berkata: “Aku bersaksi bahwa ia sering memalsukan hadits atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Lihat Mizaanul I’tidal III/49]. Abu Isma’il al-Ubulli Hafsh bin Umar bin Maimun; Abu Hatim ar-Razi berkata: “Ia adalah syaikh tukang dusta.”  [Lihat al-Jarh wat Ta’dil (III/183, no. 789)]. Ibnul Jauzi berkata: “Hadits dengan lafazh seperti di atas, tidak ada asalnya, yang benar adalah: ‘Satu golongan yang masuk Surga, yaitu: al-Jama’ah.’” [Lihat al-Maudhuu’at I/267-268]. Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani t berkata: “Hadits dengan lafazh seperti ini (yakni seperti lafazh yang tersebut di atas) adalah palsu.” [Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha’iifah wal Maudhuu’ah no. 1035].

“Perselisihan umatku adalah rahmat” ternyata bukan merupakan sabda Rasulullah. Atau disebut juga hadits maudhu’[1]. Adapun ‘ilat (kelemahan) hadits ini adalah adanya perawi yang bernama Sulaiman bin Abi Karimah, Abu Hatim Ar Rozy melemahkannya. Perawi yang bernama Juwaibir, dia seorang Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang dinyatakan Nasa’i, Daruquthny. Dia meriwayatkan dari Adh Dhohhak perkara-perkara yang palsu termasuk “hadits” ini. Terputusnya (jalur riwayat) antara Adh Dhohhak dan Ibnu ‘Abbas.
Berkata sebagian ulama : “Hadits ini menyelisihi nash-nash ayat dan hadits, seperti firman Allah Ta’ala : “Dan mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang yang dirahmati Robbmu” dan sabda Rasulullah “Janganlah kalian berselisih, maka akan berselisih hati-hati kalian” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan dikeluarkan di dalam Sunan Abu Daud oleh Asy Syeikh Al Albani) dan hadits-hadits yang lain banyak sekali. Maka kesimpulannya bahwa kesepakatan (di atas kebenaran) itu lebih baik daripada perselisihan
.



[1] MAUDLU’ DAN MATRUK Hadist yang disanadnya ada seorang PENDUSTA, dinamakan HADIST MAUDLU’, PALSU ATAU LANCUNG; atau yang dibuat oleh orang-orang lalu mereka katakan sebagai sabda Nabi. Hadist yang disanadnya ada seorang TERTUDUH SEBAGAI PENDUSTA dinamakan HADIST MATRUK, yang ditinggalkan, yang tidak diambil, yang dibuang



[1] Satu hadist yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh seorang rawi kepada rawi lainnya sampai kepada ulama mudawwin seperti Bukhari, Muslim , Ahmad, Abu Daud dan lainnya dinamakan HADIST MARFU’, yakni hadist yang riwayatnya diangkat sampai kepada Nabi saw. Kalau ada perkataan Ahli Hadist bahwa hadist itu dirafa’kan oleh sahabat Nabi, seperti Ibnu Umar umpamanya, maka maksudnya bahwa Ibnu Umar katakan Hadist itu dari Nabi saw. bukan dari fatwanya sendiri

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Tasbih


“Sebaik-baik pengingat adalah subhah/biji tasbih” (Diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Musnad Firdaus).

Status hadits : MAUDLU’, dikarenakan :
–   sanadnya sangat gelap, yaitu para perawinya tidak dikenal;
–   sebagian rawinya ada yang tertuduh berdusta (muttaham).

Dari Abu Hurairah secara marfu’ : Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertasbih dengan kerikil” (Diriwayatkan oleh Abul-Qasim Al-Jurjani dalam Tarikh Jurjaan nomor 68).

Status hadits : MAUDLU’, dikarenakan terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Rabi’ah Al-Qudami yang sering meriwayatkan hadits-hadits munkar dan palsu (Lihat Adl-Dla’iifah nomor 1002).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah menemui seorang wanita dan di tangan wanita tersebut ada bijian atau kerikil yang ia gunakan untuk bertasbih/dzikir (Diriwayatkan oleh Abu Dawud nomor 1500, At-Tirmidzi nomor 3568, dan lain-lain).

Status hadits : DLA’IF, dikarenakan terdapat rawi yang bernama Khuzaimah yang majhul; juga Sa’id bin Abi Hilal, walaupun Ibnu Hajar berkata : Shaduq, akan tetapi Imam Ahmad telah menjarh-nya dimana Sa’id bin Abi Hilal ini rusak hafalannya di akhir umurnya. (Kesimpulan : Hadits ini tidak lepas dari kritik).

Dari KInanah maula Shafiyyah berkata : Aku mendengar Shafiyyah berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah menemuiku dan ditanganku ada empat ribu nawat (bijian kurma) yang aku pakai untuk menghitung dzikirku….” (Dikeluarkan oleh Tirmidzi nomor 3554).

Status hadits : DLA’IF, dikarenakan terdapat rawi yang bernama :
–   Hasyim bin Sa’id. Ibnu Ma’in berkata tentangnya bahwa ia tidak ada apa-apanya (maksudnya dla’if). Ibnu Hajar dalam At-Taqrib menyebutnya dla’if.
–   Kinanah Maula Shafiyyah adalah majhul haal

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Sujud


Sa’ad bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu dia berkata (yang artinya) : Kami keluar bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari Makkah hendak ke Madinah. Maka tatkala kami dekat denga ‘azwara’ beliau singgah lalu mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah sesaat kemudian beliau bersungkur sujud dan berdiam cukup lama, kemudian bangkit lalu mengangkat kedua tangannya sesaat kemudian bersungkur sujud. Beliau melakukannya tiga kali – dan bersabda : “Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku dan aku memberi syafa’at untuk umatku, maka Dia memberi sepertiga umatku. Maka aku bersungkur sujud kepada Rabbku sebagai bentuk rasa syukur. Kemudian aku angkat kepalaku, lalu aku memohon untuk umatku, maka Dia memberi sepertiga umatku. Maka aku pun bersungkur sujud kepada Rabbku karena bersyukur. Kemudian aku angkat kepalaku lalu aku memohon kepada Rabbku untuk umatku lalu Dia memberiku sepertiga yang lain. Maka aku bersungkur sujud kepada Rabbku” (HR. Abu Dawud). Sanad hadits di atas adalah dla’if, karena ada dua perawi yaitu : Musa bin Ya’qub Az-Zamai (=Orang yang buruk hafalannya) dan Yahya bin Al-Hasan bin ‘Utsman (=gurunya), yaitu orang yang majhul (tidak diketahui identitasnya). Lihat Silsilah Adl-Dla’iifah hadits nomor 3229; Al-Irwa’ hadits nomor 467; Dla’if Sunan Abi Dawud hadits nomor 590; Bahjatun-Naadhiriin hadits 1159; dan Takhrij Riyaadlush-Shalihiin hadits nomor 1159

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Silaturrahmi


Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-sa’idi radliyallaahu ’anhu bersabda (yang artinya) : ”Ketika kami duduk di sisi Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salimah, ia bertanya,”Ya Rasulullah, apakah masih ada jalan untuk berbakti kepada orang tuaku sesudah mereka meninggal dunia?”. Rasulullah menjawab,”Ya, dengan jalan mendoakan keduanya, memintakan ampun keduanya, melaksanakan janji (wasiat) keduanya, menjalin silaturahim yang hanya dapat dilakukan keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya” (HR. Abu Dawud). Sanad hadits ini dla’if, karena dalam periwayatan hadits ini ada seorang perawi yang bernama Ali bin ’Ubaid As-Sa’idi; dia adalah seorang yang tidak dikenal. Sedangkan perawi lainya adalah tsiqah. Lihat dalam kitab bahjatun-Naadhiriin hadots nomor 343 oleh Syaikh Salim bin ’Ied Al-Hilaly; dan Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Sholat


Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’” HADITS MAUDHU’ Kata Ibnul Jauzi: “Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya).” [Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).].

Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursiy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati)” HADITS INI MAUDHU’ Kata Ibnul Jauzy: “Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits.” [Al-Maudhu’at (II/123-124).]

Dari Ali bin Abi Thalib berkata, “termasuk perkara sunnah adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan dalam sholat di bawah pusar” hadits ini dhoif, dikeluarkan Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, ad Dharuqutni, al Baihaqi, namun sanadnya dho’if, ada Abdurrahman bin Ishaq al Kuffi dia seorang yang dhoif, ada juga Ziyad bin Zaid dia seorang yang majhul, hadits ini dilemahkan oleh syaikh al Albani dalam kitab Dhoif Abu Daud dan didhoifkan juga oleh syaikh Muqbil dalam kitab Riyadul Jannah.

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi SAW, shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka’at (hadits riwayat : Ibnu Abi Syaibah, Abdu bin Humaid, Thabrani di kitabnya Al-Mu’jam Kabir dan Ausath, Baihaqi & Ibnu Adi dan lain-lain). Di riwayat lain ada tambahan : “Dan (Nabi SAW) witir setelah shalat dua puluh raka’at”. Riwayat ini semuanya dari jalan Abu Syaibah, yang namanya : Ibrahim bin Utsman dari Al-Hakim dari Misqam dari Ibnu Abbas. Imam Thabrani berkata : Tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas melainkan dengan isnad ini. Imam Baihaqi berkata : Abu Syaibah menyendiri dengannya, sedang dia itu dlo’if. Imam Al-Haistami berkata di kitabnya “Majmauz Zawaid (3/172) : Sesungguhnya Abu Syaibah ini dlo’if. Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata di kitabnya Al-Fath (syarah Bukhari) : Isnadnya dlo’if, Al-Hafidz Zaila’i telah mendlo’ifkan isnadnya di kitabnya Nashbur Rayah (2/172). Demikian juga Imam Shan’ani di kitabnya Subulus Salam (syarah Bulughul Maram) mengatakan tidak ada yang sah tentang Nabi shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka’at. Abdul Hakim bin Amir Abdat berpandangan : Bahwa hadits ini DLO’IFUN JIDDAN (Sangat Dlo’if). Bahkan muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan : MAUDLU’. Tentang kemaudlu’an hadits ini telah beliau terangkan di kitabnya “Silsilah Hadits Dlo’if wal Maudlu” kitab “Shalat Tarawih” dan “Irwaul Ghalil”. Ulama-ulama ahli hadits menerangkan mengenai Ibrahim bin Utsman Abu Syaibah, sebagai berikut : Kata Imam Ahmad, Abu Dawud, Muslim, Yahya, Ibnu Main dll : Dlo’if. Kata Imam Tirmidzi : Munkarul Hadits. Kata Imam Bukhari : Ulama-ulama (ahli hadits) mereka diam tentangnya (ini satu istilah untuk rawi lemah tingkat tiga). Kata Imam Nasa’i : Matrukul Hadits. Kata Abu Hatim : Dlo’iful Hadits, Ulama-ulama diam tentangnya dan mereka (ahli hadits) meninggalkan haditsnya. Kata Ibnu Sa’ad : Adalah dia Dlo’iful Hadits. Kata Imam Jauzajaniy : Orang yang putus (satu istilah untuk lemah tingkat ketiga). Kata Abu Ali Naisaburi : Bukan orang yang kuat (riwayatnya). Kata Imam Ad-Daruquthni : Dlo’if. Al-Hafidz menerangkan : Bahwa ia meriwayatkan dari Al-Hakam hadits-hadits munkar. Periksalah kitab-kitab : Irwaul Ghalil, oleh Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 2 : 191, 192, 193; Nashbur Raayah, oleh Al-Hafidz Zaila’i. 2 : 153; Al-Jarh wat Ta’dil, oleh Imam Ibnu Abi Hatim. 2 : 115; Tahdzibut-Tahdzib, oleh Imam Ibnu Hajar. 1 : 144, 145; Mizanul I’tidal, oleh Imam Adz-Dzahabi. 1 : 47, 48.

Dari Yazid bin Ruman, ia berkata : Adalah manusia pada zaman Umar bin Khattab mereka shalat tarawih di bulan Ramadlan dua puluh tiga raka’at”. (hadits riwayat : Imam Malik dikitabnya Al-Muwath-tha 1/115). MUNQATI’ (Terputus Sanadnya). Karena Yazid bin Ruman yang meriwayatkan hadits ini tidak bertemu dengannya. Imam Baihaqi sendiri mengatakan : Yazid bin Ruman tidak bertemu dengan Umar, dengan demikian sanad hadits ini Terputus.

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu dia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : Jadikanlah imam itu di tengah dan isilah celah-celah (shaff) (HR. Abu Dawud). Matan (redaksi) hadits tersebut adalah dla’if, karena ada dua orang perawi yang majhul (tidak dikeyahui identitasnya), yaitu Yahya bin Basyir bin Khallad dan ibunya. Tapi lanjutan hadits tersebut yang berbunyi : ﻞﻠﺨﻟﺍ ﺍﻭﺪﺳﻭ (dan isilah celah-celah shaff) adalah shahih; sebagaimana ada syahid riwayat dari hadits lain dari Ibnu ‘Umar, yaitu pada hadits nomor 1098 (Kitab Riyaadlush-Shaalihiin). Lihat Dla’if Sunan Abi Dawud hadits nomor 133; Dla’if Jaami’ush-Shaghiir hadits nomor 6122; Bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 1096; dan Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin hadits nomor 1096.

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Shalawat


Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu : “Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.” (Keterangan: Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215)

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Rumah Tangga


Umar radliyallaahu ’anhu mengatakan bahwa nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”seorang laki-laki tidak akan ditanya (tidak akan dituntut) : Mengapa ia memukul istrinya?” (HR. Abu Dawud dan lainnya).

Sanad hadits ini dla’if, karena ada dua ’illat (cacat); yaitu : Pertama, pada riwayat Imam Ahmad tersebut perawinya bernama Dawud Al-Audi. Jika yang dimaksud adalah Dawud bin Yazid Al-Audi, maka ia orang yang tidak kuat dalam periwayatan hadits. Sedangkan pada riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah disebutkan Dawud bin Abdullah Al-Audi. Jika yang dimaksud adalah perawi ini, maka ia adalah orang yang tsiqah. Kedua, baik riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, maupun Imam Ahmad, ada perawi lainnya yang bernama Abdurrahman Al-Musla, ia tidak diketahui identitasnya (majhul), sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mizaan.

Lihat kitab Irwaaul-Ghaliil hadits no. 2034; Dla’if Sunan Abi Dawud hadits no. 469; Dla’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 431; Al-Misykah hadits no. 3268; Dla’iful-Jaami’hadits no. 6218; Bahjatun-Naadhiriin hadits no. 68; Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin hadits no. 68.

Ummu Salamah radliyallaahu ’anha mengatakan bahwa Rasulullaah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Setiap istri yang meninggal dunia dan diridlai oleh suaminya, maka ia masuk surga” (HR. Tirmidzi; ia berkata,”Hadits ini hasan”).

Hadits ini munkar, karena di dalam sanadnya terdapat dua perawi majhul (tidak dikenal), yaitu Musawir Al-Himyari dan ibunya (karena Musawir membawa kabar ini dari ibunya). Ibnul-jauzi dalam Al-Wahiyaat (2/141) berkata,”Musawir dan ibunya adalah majhul”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizaan,”Dalam sanadnya ada perawi yang majhul khabar (hadits) itu munkar

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Ramadhan / Puasa


“Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya….”. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhu’at (Kitab tentang Hadits-hadits palsu, 2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada al-Muthalibul Aaliyah (Bab A-B/ manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas’ud Al-Ghifari. Hadits ini Maudhu’ (palsu), cacatnya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hidupnya dinukil Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata: “Terkenal dengan kelemahan (dha’if)” beliau juga menukil ucapan Abu Nu’aim tentangnya: “Dia itu suka memalsukan hadits.” Al-Bukhari juga berkata, “Haditsnya tertolak”, dan menurut an-Nasai, “matruk”[1] (ditinggalkan/tidak dipakai haditsnya).”!

“Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/bebas dari neraka..”. Dua murid terpercaya Syeikh Al-Bani (wafat 2 Oktober 1999) yakni Syeikh Ali Hasan dan Syeikh Al-Hilaly mengemukakan, hadits itu juga panjang dan dicukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Menurut murid ahli hadits ini, hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga, (no. 1887), dan Al-Muhamili di dalam Amali-nya (no 293) dan Al-Ashbahani di dalam At-Targhib (Q/178, B/ manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman. Hadits ini, menurut dua murid ulama Hadits tersebut, sanadnya Dhaif (lemah) karena lemahnya Ali bin Zaid. Ibnu Sa’ad berkata, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya,” dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata, “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “Lemah di segala segi”, dan Ibnu Khuzaimah berkata: “Jangan berhujjah dengan hadits ini karena jelek hafalannya.” demikianlah di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323).

“Berpuasalah maka kamu sekalian sehat.” Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Said, dari ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Nahsyal itu termasuk yang ditinggal (tidak dipakai) karena dia pendusta, sedang Ad-Dhahhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan oleh at-Thabrani di dalam al-Ausath (1/Q, 69/ al-Majma’ul Bahrain) dan Abu Na’im di dalam ath-Thibbun Nabawi, dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhai bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abi Hurairah. Sanadnya Dha’if (lemah). (Berpuasa menurut Sunnah Rasulullah SAW, hal. 84). Peringatan bagi orang yang meninggalkan puasa tanpa alasan dibawakan oleh Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur tiba-tiba ada dua orang yang datang dan memegang pangkal lenganku dan membawaku ke sebuah gunung yang tinggi seraya berkata: “naiklah!” aku berkata: “aku tidak bisa”, keduanya berkata lagi: “kami akan memberi kemudahan kepadamu”, lalu akupun naik sampai ke pertengahan, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: “Suara apa itu?” Mereka menjawab: “Itu suara teriakan penghuni Neraka” Kemudian mereka membawaku mendaki lagi, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang yang digantung dengan urat belakang mereka, dari pinggiran mulutnya mengeluarkan darah. Aku bertanya: “Siapakah mereka?” Dijawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa (pada) bulan Ramadhan sebelum tiba waktunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, Shalat Tarawih ) “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 17-18).

“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya” Hadits ini sering kali kita dengar, paling tidak, maknanya bahwa ada yang mengatakan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dengan tidur saja. Bahkan barangkali karenanya, shalat lima waktu ada yang bolong padahal kualitas hadits ini adalah DHO’IF (lemah). Hadits tersebut disebutkan oleh Imam as-Suyuthiy di dalam kitabnya “al-Jami’ ash-Shaghir”, riwayat ad-Dailamy di dalam Musnad al-Firdaus dari Anas. Imam al-Manawy memberikan komentar dengan ucapannya, “Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz- Dzahaby berkata di dalam kitabnya adh-Dhu’afa, ‘Ibnu ‘Ady berkata, ‘(dia) termasuk orang yang suka memalsukan hadits.”  Menurut Syaikh al-Albany, hadits ini ada pada riwayat yang lain tanpa periwayat tersebut sehingga dengan demikian, hadits ini bisa terselamatkan dari status Maudlu’, tetapi tetap DHO’IF. Syaikh al-Albany juga menyebutkan bahwa Abdullah bin Ahmad di dalam kitabnya Zawa-`id az-Zuhd, hal. 303 meriwayatkan hadits tersebut dari ucapan Abi al-‘Aliyah secara mauquf dengan tambahan: ما لم يغتب (selama dia tidak menggunjing/ghibah). Dan sanad yang satu ini adalah Shahih, barangkali inilah asal hadits. Ia Mauquf (yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh Shahabat atau Tabi’in) lantas sebagian periwayat yang lemah keliru dengan menjadikannya Marfu’ (hadits yang sampai kepada Rasulullah). Wallahu a’lam. (Silsilah al-Ahadits adl-Dlo’ifah wa al-Maudlu’ah, jld.II, karya Syaikh al-Albany, no. 653, hal. 106).

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bila berbuka membaca Allahumma laka shumtu…” , Kitabush shalah hal.134. Hadits ini Riwayat Abu Dawud, mursal dan mursal termasuk dha’if. Mursal karena Muadz bin Zuhrah bukan sahabat, lalu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam…, bahkan dia juga tergolong majhul. [lihat perinciannya dalam Irwa’ul Ghalil no:919], asy syekh al Albani mengatakan: “Dha’if”.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui). [Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir]. Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta). Kata Imam Ibnu Hibban : Pemalsu hadits. Kata Imam Dzahabi : Dia dituduh pemalsu hadits. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya). Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta. Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : “Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya”. Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani dan lain-lain. Periksalah kitab-kitab : Mizanul I’tidal 2/666, Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami, Zaadul Ma’ad di kitab Shiyam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim, Irwaul Ghalil 4/36-39 oleh Muhaddist Al-Albani. [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam – Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M].

Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka). [Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shagir hal 189 dan Mu’jam Awshath]. Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if. Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah. Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : “Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya”. Kata Imam Ibnu ‘Ady : “Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut”. Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : “Lemah ! Saya berkata Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239)”. Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan. Kata Al-Albani : “Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly”. Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : “Matruk”. Kata Imam Ibnu ‘Ady : “Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut” (lihat Mizanul I’tidal 2/7). Saya berkata : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di kitabnya Risalah Puasa akan tetapi beliau diam tentang derajat hadits ini ? [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam – Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M].

Dinyatakan oleh Az-Zuhri, Imam Malik dan Imam Ahmad dengan membawakan dalil riwayat Abu Dawud: Umar Ibnul Khatab radliyallahu `anhu mengumpulkan (manusia) kepada Ubai bin Ka`ab dan dia shalat bersama mereka pada malam ke 20. Dia tidak qunut kecuali pada pertengahan akhir bulan Ramadlan. (HR. Abu Dawud dalam Sunannya 2/65). Pada sanad riwayat dari Umar ada inqitha’ (putus sanad) yakni Al-Hasan dari Umar, sedang Al-Hasan tidak bertemu Umar. Pada sanad riwayat dari Anas yang meriwayatkan dari beliau adalah Abul Atikah. Dia dlaif sebagaimana kata Ibnul Qayim Al-Jauziyahdi dalam Aunul Ma’bud: “Abu Atikah dlaif.” Juga kata Al-Baihaqi: “Tidak shahih sanadnya (lihat halaman ini pada rujuk Imam Malik dalam syarah Az-Zarqani terhadap Al-Muwatha’ 1/216 dan rujuk Imam Ahmad dalam Masail Ibnu Hani 1/100 no. 500. Demikian pula keterangan Syaikh Masyhur Hasan Salman dan beliau berkata: “Benar, qunut witir pada pertengahan akhir Ramadlan mempunyai keadaan yang khusus yang diterangkan oleh atsar yang terdapat dalam Shahih Ibnu Khuzaimah 2/155-156 dengan sanad yang shahih. Akan tetapi qunut witir tidak dikhususkan dan terbatas pada waktu ini, tetapi ia syariatkan di seluruh tahun (Al-Qaulul Mubin hal 133-134). Demikian juga yang dinyatakan oleh Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah 1/165 dan lain-lain. Oleh karena itu Syaikh Masyhur memasukkan pendapat di atas sebagai kesalahan.

Barangsiapa membatalkan (puasanya) satu hari dari bulan Ramadlan tanpa udzur dan sakit, maka tidak dapat diqadla` walaupun dia puasa sepanjang tahun. Hadits ini disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya (4/160 – Fathul Bari) secara mu’alaq tanpa sanad. Disebutkan sanad-sanadnya oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 1987, Tirmidzi 723, Abu Dawud 2397, Ibnu Majah 1672, Nasai dalam Al-Kubra, sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 10/373, Al-Baihaqi 4/228, Ibnu Hajar dalam Ta’liqut Ta’liq 3/170 dari jalan Abul Muthawwis dari ayahnya dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 4/161: “Hadits ini banyak diperselisihkan pada Habib bin Abi Tsabit. Sehingga hadits ini memiliki tiga ‘ilat (cacat), yaitu: idltirab (sanadnya goncang), keadaan Abul Muthawis majhul (tidak dikenal), Abul Muthawwis mendengar dari ayahnya dari Abu Hurairah diragukan. Ibnu Khuzaimah setelah meriwayatkan hadits ini berkata dengan ucapan: “Aku tidak mengetahui siapa Ibnul Muthawis dan ayahnya.” Sehingga hadits ini juga dlaif.

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Telah berfirman Allah ‘azza wa jalla : “Hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah yang paling segera berbuka (puasa)” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata : Hadits hasan). Sanad hadits tersebut adalah dla’if, karena ada seorang perawi yang bernama Qurrah bin Abdirrahman. Ia adalah seorang yang buruk hafalannya. Ibnu Hibban menguatkan Qurrah, tetapi jumhur ahli hadits melemahkannya, sehingga pendapat yang diterima adalah pendapat jumhur. Hadits tersebut bisa dipakai sebagai syahid untuk hadits-hadits lain yang semakna dengannya. Dengan demikian, peng-hasan-an hadits tersebut (oleh At-Tirmidzi) tidak dapat dikatakan sebagai hadits yang berderajat hasan. Wallaahu a’lam. Lihat Bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 1235 dan Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin hadits nomor 1235.

Dari Ummu Umarah Al-Anshariyyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam masuk kepadanya lalu ia menyuguhkan makanan kepada beliau. Maka beliau berkata,”Makanlah!”. Dia menjawab,”Sesungguhnya aku puasa”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya orang yang berpuasa itu selalu didoakan (dimintakan ampunan) oleh malaikat apabila ada yang makan di rumahnya hingga mereka selesai”. Barangkali beliau bersabda,”Hingga mereka kenyang”. (HR. Tirmidzi, dia berkata,”Hadits hasan”). Keterangan : Sanad hadits tersebut dla’if, karena ada seorang perawi (yang bernama Laila), yang majhul (tidak diketahui identitasnya). Lihat Silsilah Adl-Dla’iifah hadits nomor 1332; Bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 1266; dan Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin hadits nomor 1266.


[1] MAUDLU’ DAN MATRUK Hadist yang disanadnya ada seorang PENDUSTA, dinamakan HADIST MAUDLU’, PALSU ATAU LANCUNG; atau yang dibuat oleh orang-orang lalu mereka katakan sebagai sabda Nabi. Hadist yang disanadnya ada seorang TERTUDUH SEBAGAI PENDUSTA dinamakan HADIST MATRUK, yang ditinggalkan, yang tidak diambil, yang dibuang

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Penghormatan


Maimun bin Abi Syabiib berkata (yang artinya) : Seorang peminta lewat di depan ’Aisyah, maka dia memberinya sepotong roti. Kemudian tidak lama datang seorang peminta yang lebih sopan, dipersilakannya duduk dan diberi makan. Ketika ’Aisyah ditegur tentang perbedaan dalam memperlakukan dua peminta tersebut, ia berkata,”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,”Tempatkanlah masing-masing orang menurut kedudukannya” (HR. Abu Dawud, ia berkata,”Maimun tidak bertemu dengan ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa).

Muslim menyebutkan di awal kitab Shahihnya secara [Imu’allaq[/I] disebutkan dari ’Aisyah bahwa ia berkata,”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menempatkan setiap orang pada tempatnya”. Al-hakim Abu Abdillah (yaitu Al-Hakim An-Naisaburi) menyebutkan dalam kitab(nya) Ma’rifat Ulumil-Hadiits, dia berkata,”hadits tersebut shahih”.

Hadits ini sanadnya terputus, yaitu antara Maimunah dengan ’Aisyah radliyallaahu ’anha. Juga ada seorang perawi yang bernama Habib bin Abi Tsabit, dia seorang mudallis dan meriwayatkan dengan kata : Fulan ’an Fulan (Fulan dari si Fulan). Sedangkan riwayat Muslim di awal kitab Shahihnya, bahwa syarat perawi yang dipakai Muslim pada hadits tersebut bukan syarat yang ditetapkan pada kitab Shahihnya. Sedangkan perkataan Al-Hakim tidak mempunyai dasar, karena sanad hadits tersebut terputus dan terjadi tadlis di dalamnya.

Lihat Al-Misykah hadits nomor 4989; dan Bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 356.

Anas radliyallaahu ’anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Tidaklah seorang pemuda menghormati orang yang lebih tua karena usianya, kecuali Allah akan mendatangkan untuknya orang yang menghormatinya ketika dia sudah tua” (HR. Tirmidzi; ia berkata,”Hadits gharib”).

Hadits ini dla’if dan mempunyai dua cacat. Di dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Yazid bin Bayan Al-Muallim Al-‘Uqaili. Adz-Dzahabi mengatakan dalam Al-Mizaan bahwa Ad-daruquthni berkata,”Dia (Yazid) adalah perawi yang lemah”. Al-Bukhari berkata,”Dalam sanad hadits itu ada perawi yang perlu diteliti. Begitu juga gurunya Abu Rihal; Abu Hatim berkata tentang dia : Dia seorang yang tidak kuat (hafalannya) dan munkar haditsnya”.

Lihat Silsilah Adl-Dla’iifah hadits nomor 304; dan bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 359.

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Nisfu Sya’ban


Al ‘Allamah Asy Syaukani menulis dalam bukunya “Al Fawaidul Majmuah” sebagai berikut : bahwa hadits yang mengatakan : “Wahai Ali, barang siapa yang melakukan sholat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, ia membaca setiap rakaat Al fatihah dan Qul huwallah ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya … dan seterusnya. Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal), hadits ini diriwayatkan dari kedua dan ketiga jalur sanad, kesemuanya maudhu dan perawi-perawinya tidak diketahui.

Dalam kitab “Al Mukhtashor” Syaukani melanjutkan : hadits yang menerangkan tentang sholat Nisfu Sya’ban adalah bathil, Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu : jika datang malam Nisfu Sya’ban bersholat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dloif.

Dalam buku “Allaali” diriwayatkan bahwa : “Seratus rakaat pada malam Nisfi sya’ban (dengan membaca surah) Al ikhlas sepuluh kali (pada setiap rakaat) bersama keutamaan keutamaan yang lain, diriwayatkan oleh Ad Dailami dan lainya bahwa itu semua maudlu’ (palsu), dan mayoritas perowinya pada ketiga jalur sanadnya majhul (tidak diketahui) dan dloif (lemah).

Riwayat Turmudzi dan hadits Aisyah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Baqi’ dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban, untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing, karena pembicaraan kita berkisar tentang sholat yang diadakan pada malam Nisfu Sya’ban itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqothi’ (tidak bersambung) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan diatas, mengenai malam Nisfu Sya’ban, jadi dengan jelas bahwa sholat (khusus pada) malam itu juga lemah dasar hukumnya. Al Hafidz Al Iraqi berkata : hadits (yang menerangkan) tentang sholat Nisfi Sya’ban itu maudlu dan pembohongan atas diri Rasulallah”.

Dari Mujibah Al-bahiliyyah dari bapaknya – atau pamannya – , sesungguhnya ia mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian kembali pulang dan ia datang lagi setelah setahun – dan telah berubah bentuk dan rupanya – . Maka berkata : “Wahai Rasulullah, apakah Anda tidak mengenaliku?”. Beliau balik bertanya,”Siapa kamu”. Ia menjawab,”Aku Al-Bahiliy yang datang kepada Anda setahun yang lalu”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya,”Lalu apa yang merubah (bentuk dan keadaan) kamu, padahal dulu kamu punya rupa yang bagus?”. Ia menjawab,”Aku tidak pernah makan semenjak berpisah dengan Anda kecuali malam hari”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Kamu telah menyiska diri sendiri”. Kemudian bersabda : Berpuasalah di bulan sabar (Ramadlan) dan sehari dalam setiap bulannya” Ia berkata,”Tambah lagi wahai Rasul, karena aku masih kuat”. Beliau bersabda :”Berpuasalah dua hari” Ia berkata lagi,”Tambah lagi!”. Beliau menjawab :”Berpuasalah tiga hari” Ia berkata,”Tambah lagi”. Beliau menjawab :”Berpuasalah dari bulan-bulan haram, lalu tinggalkanlah, berpuasalah di bulan-bulan haram lalu tinggalkanlah, berpuasalah di bulan-bulan haram lalu tinggalkanlah”. Beliau mengumpukan jarinya, kemudian melepaskannya. (HR. Abu Dawud).
Sanad hadits tersebut adalah dla’if, karena ada perawi yang bernama Mujibah Al-Bahiliyyah, orang yang majhul (tidak diketahui identitasnya), sehingga hadits tersebut tidak dapt dipakai sebagai hujjah. Lihat catatan Syaikh Al-Albani pada At-Ta’liq Ar-Raghib ‘alaa Targhib wat-Tarhib (2/82); Bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 1248; dan Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin hadits nomor 1248.

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Nasehat


Ibnu Mas’ud radliyallaahu ’anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Sesungguhnya kerusakan pertama yang terjadi pada bani Isra’il ialah ketika seorang bertemu kawannya yang sedang berbuat kejahatan lalu ditegur,”Ya Fulan, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan perbuatan yang tidak halal itu’. Kemudian pada esok harinya mereka bertemu lagi, sedangkan ia masih berbuat maksiat lagi, maka ia tidak mencegah kemaksiatannya. Bahkan ia menjadi teman makan minum dan teman duduknya. Jika demikian keadaan mereka, maka Allah menutup hati masing-masing, sebagaimana Firman-Nya : ”Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Isra’il dengan lisan Dawud dan Isa Putera Maryam. Yang demikian itu dikarenakan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), tentu tidak menjadikan orang-orang musyrikin sebagai pemimpin, tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Maaidah ayat 78-81).
Kemudian Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,”Janganlah seperti mereka. Demi Allah, kalian harus menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, dan menahan kejahatan orang yang dhalim, dan kalian kembalikan ke jalan yang hak dan kalian batasi dalam hak tersebut. Kalau kalian tidak berbuat demikian, maka Allah akan menutup hati kalian, kemudian melaknat kalian, sebagaimana Allah melaknat mereka”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata,”Hadits ini hasan”).

Sedangkan lafadh hadits yang diriwayatkan Tirmidzi adalah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Ketika kemaksiatan sudah melanda Bani Israil, maka ulama-ulama mereka mencegahnya, tapi mereka tetap melakukannya. Sehingga ulama-ulamam mereka ikut serta dalam majelis mereka, dan makan minum bersama mereka, maka Allah menutup hati mereka dan melaknat mereka, dengan lisan Dawud dan ’Isa Putera Maryam. Karena kemaksiatan mereka yang melampaui batas.” Ketika itu Rasulullah duduk bersandar, dan bersabda,”Tidak demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kalian harus membelokkan mereka dan menghentikannya kepada yang benar”.

Hadits ini sanadnya dla’if, karena ada Abu Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud; ia tidak mendengar sendiri riwayat hadits tersebut dari bapaknya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Tirmidzi. Sehingga hadits ini munqathi’ (terputus sanadnya). Ibnu Hibban menegaskan bahwa ia (Abu ’Ubaidah) sama sekali tidak pernah mendengar sesuatupun dari bapaknya. Hal ini juga diakui oleh Al-Hafidh Al-Mizzi dan Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-’Atsqalani (Tahdzibut-Tahdzib)

Lihat Silsilah Al-Ahaadits Adl-Dla’iifah hadits nomor 1105; Dla’if Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 582; Dla’if Sunan Abi Dawud hadits nomor 932; Dla’if Sunan Ibnu Majah hadits nomor 867; Al-Misykah hadits nomor 5148; Bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 196; dan Takhrij Riyaadlush-Shaalihiin hadits nomor 196.

Juni 12, 2007

Hadits Tentang Mihrab


Dari Musa Al Juhani berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Ummatku/umat ini selalu berada di dalam kebaikan selama mereka tidak menjadikan di dalam masjid-masjid mereka seperti mihrab-mihrabnya orang-orang kristen.” (HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al Mushannaf). Komentarku (Al Albani) : Ini adalah sanad yang dlaif. Padanya ada dua ‘illat (penyakit) yaitu : Pertama, I’dhal/Mu’dhal. Karena Musa Al Juhani, yakni Abu Abdillah hanya meriwayatkan dari shahabat melalui perantara para tabi’in seperti Abdurrahman bin Abi Laila, Sya’bi, Mujahid, Nafi’, dan lain-lainnya. Sedangkan ia (Musa Al Juhani) adalah seorang tabi’ut tabi’in. As Suyuthi mengatakan dalam I’lamul Ariib bi Hudutsi Bid’atil Mahaarib halaman 30 bahwa hadits ini adalah mursal. Sebenarnya pernyataan ini kurang tepat karena mursal menurut istilah para Muhadditsin (ulama Ahli Hadits) adalah ucapan tabi’in yang langsung menyebut sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tanpa menyebutkan nama shahabat. Sedangkan ia (Musa Al Juhani) adalah seorang tabi’ut tabi’in. Kedua, dlaif (lemahnya) Abu Israil yang nama aslinya adalah Ismail bin Khalifah Al ‘Absi. Al Hafidh mengomentari orang ini dalam At Taqrib : “Orangnya jujur tapi jelek dari segi hafalannya.”

Dari Wa’il bin Hujr radliyallahu ‘anhu berkata, aku menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika bangkit menuju masjid maka beliau masuk ke mihrab. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir. Kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.” (HR. Baihaqi). Saya (Al Albani) menyatakan, hadits ini adalah dlaif. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi 2/30 dari Muhammad bin Hujr Al Hadhrami bahwa kami telah diberitahu oleh Sa’id bin Abdil Jabbar bin Wail dan ada tambahan baginya. Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al Kabir sebagaimana dalam Al Majma 1/232, 2/134-135 dan beliau berkata : “Di dalamnya ada Sa’id bin Abdul Jabbar.” An Nasa’i berkata bahwa dia laisa bi qawi (tidak kuat hafalannya).
Ibnu Hibban menyebut dalam Ats Tsiqat : “Muhammad bin Hujr adalah dlaif (lemah).” Dan beliau berkata di dalam tempat yang lain : “Di dalamnya ada Muhammad bin Hujr.” Imam Bukhari berkata : “Padanya ada sebagian kritikan.” Imam Dzahabi berkata : “Hadits-haditsnya mungkar.” Aku berkata (Al Albani), At Turkamani berkata seperti itu di dalam Al Jauhar An Naqi’ dan menambahkan : “Dan ibunya Abdul Jabbar adalah Ummu Yahya, aku tidak mengetahui keadaannya (asal-usulnya) dan tidak tahu siapa namanya.”