Hadits Tentang Penghormatan


Maimun bin Abi Syabiib berkata (yang artinya) : Seorang peminta lewat di depan ’Aisyah, maka dia memberinya sepotong roti. Kemudian tidak lama datang seorang peminta yang lebih sopan, dipersilakannya duduk dan diberi makan. Ketika ’Aisyah ditegur tentang perbedaan dalam memperlakukan dua peminta tersebut, ia berkata,”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,”Tempatkanlah masing-masing orang menurut kedudukannya” (HR. Abu Dawud, ia berkata,”Maimun tidak bertemu dengan ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa).

Muslim menyebutkan di awal kitab Shahihnya secara [Imu’allaq[/I] disebutkan dari ’Aisyah bahwa ia berkata,”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menempatkan setiap orang pada tempatnya”. Al-hakim Abu Abdillah (yaitu Al-Hakim An-Naisaburi) menyebutkan dalam kitab(nya) Ma’rifat Ulumil-Hadiits, dia berkata,”hadits tersebut shahih”.

Hadits ini sanadnya terputus, yaitu antara Maimunah dengan ’Aisyah radliyallaahu ’anha. Juga ada seorang perawi yang bernama Habib bin Abi Tsabit, dia seorang mudallis dan meriwayatkan dengan kata : Fulan ’an Fulan (Fulan dari si Fulan). Sedangkan riwayat Muslim di awal kitab Shahihnya, bahwa syarat perawi yang dipakai Muslim pada hadits tersebut bukan syarat yang ditetapkan pada kitab Shahihnya. Sedangkan perkataan Al-Hakim tidak mempunyai dasar, karena sanad hadits tersebut terputus dan terjadi tadlis di dalamnya.

Lihat Al-Misykah hadits nomor 4989; dan Bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 356.

Anas radliyallaahu ’anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Tidaklah seorang pemuda menghormati orang yang lebih tua karena usianya, kecuali Allah akan mendatangkan untuknya orang yang menghormatinya ketika dia sudah tua” (HR. Tirmidzi; ia berkata,”Hadits gharib”).

Hadits ini dla’if dan mempunyai dua cacat. Di dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Yazid bin Bayan Al-Muallim Al-‘Uqaili. Adz-Dzahabi mengatakan dalam Al-Mizaan bahwa Ad-daruquthni berkata,”Dia (Yazid) adalah perawi yang lemah”. Al-Bukhari berkata,”Dalam sanad hadits itu ada perawi yang perlu diteliti. Begitu juga gurunya Abu Rihal; Abu Hatim berkata tentang dia : Dia seorang yang tidak kuat (hafalannya) dan munkar haditsnya”.

Lihat Silsilah Adl-Dla’iifah hadits nomor 304; dan bahjatun-Naadhiriin hadits nomor 359.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: