Hadits Tentang Perpecahan Umat


Ummatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya di Surga kecuali kaum zindiq.”. Hadits ini diriwayatkan dari tiga jalan: Jalan Pertama, diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab adh-Dhu’afaa’ (IV/201) dan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhu’aat (I/267) dari jalan Mu’adz bin Yasin az-Zayyat, telah menceritakan kepada kami al-Abrad bin al-Asyras dari Yahya bin Sa’id dari Anas secara marfu’[1]. Jalan Kedua, diriwayatkan oleh ad-Dailami (II/1/41) dari jalan Nu’aim bin Hammad, telah menceritakan ke-pada kami Yahya Ibnul Yaman dari Yasin az-Zayyat dari Sa’ad bin Sa’id saudara Yahya bin Sa’id al-Anshari dari Anas. Jalan Ketiga, diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dari ad-Daraquthni dari jalan ‘Utsman bin Affan al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Abu Isma’il al-Ubulli Hafsh bin Umar dari Mus’ir dari Sa’ad bin Sa’id dari Anas. Pada jalan pertama ada dua orang perawi yang sangat lemah: Mu’adz bin Yasin az-Zayyat; Imam ‘Uqaili berkata: “Ia adalah seorang perawi yang majhul (tidak dikenal), haditsnya tidak terpelihara.” [Lihat Mizaanul I’tidal IV/133 dan Lisanul Mizan (VI/ 55-56)]. Al-Arbad bin al-Asyras; Imam Ibnu Khuzaimah berkata: “Ia adalah tukang dusta dan tukang memalsu hadits.” Dan al-Azdi berkata: “Haditsnya tidak sah.”  [Lihat Mizaanul I’tidal I/77-78 dan Lisaanul Mizan I/128-129]. Pada jalan kedua juga ada dua orang perawi yang lemah yaitu Nu’aim bin Hammad; Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia benar, akan tetapi banyak salah.” [Lihat Taqriibut Tahdziib II/250 no.7192.]. Yasin bin Mu’adz az-Zayyat; Imam al-Bukhari berkata: “Munkarul hadits.” Imam an-Nasa-i dan Ibnul Jarud berkata: “Ia seorang perawi yang matruk.” Ibnu Hibban berkata: “Ia sering meriwa-yatkan hadits maudhuu’.” [Lihat Mizaanul I’tidal IV/358.]. Pada jalan ketiga juga ada dua orang perawi tukang dusta yaitu ‘Utsman bin ‘Affan al-Qurasyi as-Sijistani;
Ibnu Khuzaimah berkata: “Aku bersaksi bahwa ia sering memalsukan hadits atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Lihat Mizaanul I’tidal III/49]. Abu Isma’il al-Ubulli Hafsh bin Umar bin Maimun; Abu Hatim ar-Razi berkata: “Ia adalah syaikh tukang dusta.”  [Lihat al-Jarh wat Ta’dil (III/183, no. 789)]. Ibnul Jauzi berkata: “Hadits dengan lafazh seperti di atas, tidak ada asalnya, yang benar adalah: ‘Satu golongan yang masuk Surga, yaitu: al-Jama’ah.’” [Lihat al-Maudhuu’at I/267-268]. Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani t berkata: “Hadits dengan lafazh seperti ini (yakni seperti lafazh yang tersebut di atas) adalah palsu.” [Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha’iifah wal Maudhuu’ah no. 1035].

“Perselisihan umatku adalah rahmat” ternyata bukan merupakan sabda Rasulullah. Atau disebut juga hadits maudhu’[1]. Adapun ‘ilat (kelemahan) hadits ini adalah adanya perawi yang bernama Sulaiman bin Abi Karimah, Abu Hatim Ar Rozy melemahkannya. Perawi yang bernama Juwaibir, dia seorang Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang dinyatakan Nasa’i, Daruquthny. Dia meriwayatkan dari Adh Dhohhak perkara-perkara yang palsu termasuk “hadits” ini. Terputusnya (jalur riwayat) antara Adh Dhohhak dan Ibnu ‘Abbas.
Berkata sebagian ulama : “Hadits ini menyelisihi nash-nash ayat dan hadits, seperti firman Allah Ta’ala : “Dan mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang yang dirahmati Robbmu” dan sabda Rasulullah “Janganlah kalian berselisih, maka akan berselisih hati-hati kalian” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan dikeluarkan di dalam Sunan Abu Daud oleh Asy Syeikh Al Albani) dan hadits-hadits yang lain banyak sekali. Maka kesimpulannya bahwa kesepakatan (di atas kebenaran) itu lebih baik daripada perselisihan
.




[1] MAUDLU’ DAN MATRUK Hadist yang disanadnya ada seorang PENDUSTA, dinamakan HADIST MAUDLU’, PALSU ATAU LANCUNG; atau yang dibuat oleh orang-orang lalu mereka katakan sebagai sabda Nabi. Hadist yang disanadnya ada seorang TERTUDUH SEBAGAI PENDUSTA dinamakan HADIST MATRUK, yang ditinggalkan, yang tidak diambil, yang dibuang




[1] Satu hadist yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh seorang rawi kepada rawi lainnya sampai kepada ulama mudawwin seperti Bukhari, Muslim , Ahmad, Abu Daud dan lainnya dinamakan HADIST MARFU’, yakni hadist yang riwayatnya diangkat sampai kepada Nabi saw. Kalau ada perkataan Ahli Hadist bahwa hadist itu dirafa’kan oleh sahabat Nabi, seperti Ibnu Umar umpamanya, maka maksudnya bahwa Ibnu Umar katakan Hadist itu dari Nabi saw. bukan dari fatwanya sendiri

2 Komentar to “Hadits Tentang Perpecahan Umat”

  1. ass.tolong teks arabnya hadist juga disertakan so pengunjung tidak perlu susah-susah mencari lagi! jazakalloh

  2. insya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: