HEPATITIS


 Kanker hati adalah kanker yang sering dijumpai di Indonesia. Kanker ini dihubungkan dengan infeksi hepatitis B atau C. Artinya, pada umumnya penderita kanker hati pernah terinfeksi hepatitis B atau C.

Istilah “hepatitis” sendiri dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut (hepatitis A), bisa kronik (hepatitis B dan C) dan bisa juga kemudian menjadi kanker hati (hepatitis B dan C).

Virus yang menyebabkan penyakit ini berada dalam cairan tubuh manusia yang sewaktu-waktu bisa ditularkan ke orang lain. Memang sebagian orang yang terinfeksi virus ini bisa sembuh dengan sendirinya, namun demikian virus ini akan menetap dalam tubuh seumur hidup.

Penyakit hepatitis B dan C sering dialami penduduk Indonesia (Peta Penyebaran Penyakit Hepatitis di Indonesia, 2002: http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m9_s2_i231_b.pdf). Kedua penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh, seperti lewat hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah. Pada umumnya, saat ini transfusi darah sudah aman: darah yang akan diberikan diskrining hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Dengan demikian kemungkinan penularan Hepatitis dan HIV melalui transfusi darah sudah menjadi kecil.
 

Hepatitis A
Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik.

Masa inkubasi 30 hari. Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi.

Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.
 

Hepatitis B
Hepatitis B adalah peradangan pada hati. Selain tipe A, virus hepatitis B paling sering ditemui. Sebagian penderita hepatitis B akan sembuh sempurna dan mempunyai kekebalan seumur hidup, tapi sebagian lagi gagal memperoleh kekebalan. Orang itu akan terus menerus membawa virus hepatitis B dan bisa menjadi sumber penularan. Penularannya dapat terjadi lewat jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, transfusi darah dan gigitan manusia. Hepatitis B sangat beresiko bagi pecandu narkotika dan orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.

Gejala hepatitis B adalah lemah, lesu, sakit otot, demam ringan, mual, kurang nafsu makan, mata dan kulit kuning dan air kencing berwarna gelap.

Pengobatan penyakit ini dilakukan dengan interferon alfa-2b, lamivudine dan imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B (diberikan 14 hari setelah paparan). Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun lalu.

Untuk mencegah penularan hepatitis B adalah dengan imunisasi hepatitis B terhadap bayi yang baru lahir, menghindari hubungan badan dengan orang yang terinfeksi, menghindari penyalah-gunaan obat dan pemakaian bersama jarum suntik, menghindari pemakaian bersama sikat gigi ataupun alat cukur dan memastikan alat suci-hama bila ingin bertatto, melubangi terlinga atau tusuk jarum.
 

Hepatitis C
 

Apakah Hepatitis C itu? 
Hepatitis artinya peradangan pada hati. Alkohol, bahan-bahan kimia, obat-obatan, penyakit auto imun atau infeksi viral dapat menyebabkan hepatitis. Hepatitis C adalah infeksi viral. Infeksi viral berarti, ada suatu virus yang masuk dan hidup di dalam tubuh.
Virus Hepatitis C (VHC) ini sebelumnya dikenal sebagai penyebab Hepatitis non-A non-B (NANB) pasca transfusi. Virus ini sangat bervariasi karena terdiri dari berbagai macam subtipe. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa VHC bukan saja merupakan penyebab terbanyak Hepatitis NANB pasca-transfusi, tetapi juga sebagai penyebab dari kasus-kasus hepatitis NANB sporadis atau “community acquired”.
Hepatitis C tersebar di seluruh dunia. Diperkirakan di seluruh dunia terdapat 100 juta pengidap kronis VHC.  Dari segi epidemiologik, hepatitis C merupakan penyebab penyakit hati yang penting.  Hal ini disebabkan selain menimbulkan hepatitis akut, sebagian besar penderitanya berlanjut menjadi hepatitis menahun dan pengidap yang merupakan sumber infeksi. Sekitar 20 dari penderita hepatitis menahun akan berkembang menjadi sirosis hati, yang sangat berpotensi menjadi kanker hati di kemudian hari. Waktu rata-rata diperlukan untuk berkembang menjadi sirosis hati adalah 17 tahun, dan menjadi kanker hati dalam waktu 20 tahun.
Tidak seluruh penederita hepatitis C menunjukkan gejala. Hanya sekitar 40% penderita yang timbul keluhan. Keluhan pun umumnya lebih ringan dari gejala yang ditimbulkan oleh Hepatitis A maupun B. Sisanya tidak memberikan gejala (asymptomatik). Pada hepatitis C kecenderungan untuk menjadi kronis dengan resiko menjadi sirosis dan kanker hati kemungkinannya sama dengan Hepatitis B. Seperti juga hepatitis B, pada hepatitis C juga terdapat pengidap sehat.

Cara Penularan
Penularan VHC terutama parenteral. Umumnya terjadi setelah mendapat kontak darah, seperti transfusi darah atau produk darah lainnya.  Penggunaan bersama alat cukur atau sikat gigi dalam keluarga dapat menjadi salah satu cara penularan. Seperti HIV, karena virus ini adalah virus yang tinggal dalam darah, maka kontak darah merupakan cara penularan utama, seperti transfusi darah, tukar-menukar jarum suntik, peralatan dokter gigi yang tidak steril, dll. Selain itu virus ini juga dapat menular melalui cairan kelamin (saat hubungan seksual) dan ASI dari ibu pengidap Hepatitis C ke bayinya, meskipun memang angka kejadiannya lebih kecil daripada penularan melalui kontak darah.
Orang-orang yang mempunyai risiko tinggi terkena Hepatitis C adalah penderita penyakit yang memerlukan “cuci darah” (hemodialisa, kelompok pemakai obat secara intravena (Intravenous Drug User) atau pengguna narkoba suntikan, dan orang yang sering mendapat transfusi darah seperti penderita hemofilia dan thallasemia.
Di kalangan pecandu, penggunaan jarum suntik semakin meningkat. Seiring dengan meningkatnya penggunaan jarum suntik, meningkat secara tajam pula angka penularan virus Hepatitis C. Ini dikarenakan kebiasaan tukar menukar jarum suntik yang dilakukan oleh para pengguna narkoba suntikan. Sekarang ini, jumlah pengidap Hepatitis C sudah mencapai 90 % dari keseluruhan jumlah pecandu.

Gejala
Gejala Hepatitis C mirip dengan infeksi virus hepatitis B. Masa inkubasi berkisar antara 15-150 hari dengan rata-rata 8 minggu.  Keluhan dan gejala yang ada antara lain kuning, air seni berwarna gelap, mual, mutah, kembung, tidak nafsu makan, rasa lelah, demam, mengigil, sakit kepala, sakit perut, mencret, sakit pada sendi dan otot, serta rasa pegal-pegal.
Gejala yang ditimbulkan oleh hepatitis C umumnya lebih ringan dibandingkan dengan hepatitis B. Kadang-kadang ditemukan penderita yang tanpa gejala. Nilai SGPT dan SGOT tidak setinggi pada hepatitis A dan B, tetapi dalam perjalanan penyakitnya terjadi kenaikan dan penurunan yang berfluktuasi, keadaan yang tidak ditemukan pada hepatitis virus lain. Setiap peningkatan enzim ini ada kaitannya dengan episode viremia.

Diagnosa
Diagnosa hepatitis C umumnya diperoleh dengan pemeriksaan berikut:

Pemeriksaan IgM anti-VHC dengan cara Elisa
IgM anti-VHC + menunjukkan adanya antibodi terhadap VHC. Antibodi ini tidak menyatakan kekebalan tetapi menadakan adanya partikel virus. Pemeriksaan ini berguna untuk mendiagnosa infeksi akut hepatitis C, mengetahui aktivitas VHC pada infeksi kronis, dan untuk mengetahui respon pasien hepatitis C kronis terhadap pengobatan interferon.

Pemeriksaan VHC RNA dengan cara biomolekuler (PCR)
Manfaat pemeriksaan ini antara lain untuk memastikan apakah penderita benar-benar pengidap VHC, menentukan prognosis, dan mengukur respons penderita setelah pengobatan dengan interferon.

Prognosa
Sekitar 80-90% penderita yang terkena infeksi akut hepatitis C akan berlanjut penyakitnya menjadi penyakit kronis. Kejadian menjadi kronis jauh lebih sering terjadi dibandingkan dengan hepatitis B. Dilaporkan bahwa sekitar 20% penderita akan mengalami sirosis hati yang berlanjut menjadi kanker hati (karsinoma hepatoseluler). Selain itu, ada beberapa kasus diamana hepatitis C dapat menjadi hepatitis fulminan bila terjadi superinfeksi dengan virus hepatitis B kronis.

Pengobatan
Baru-baru ini, ada tiga jenis interveron dan suatu kombinasi interferon dan ribavirin yang digunakan untuk mengobati hepatitis C. Pasien yang akan dirawat dapat ditentukan melalui pemeriksaan biokimiawi, virologi, dan bila perlu, biopsi liver, bukan hanya lewat ada atau tidaknya gejala.
Interferon harus diberikan melalui suntikan, dan memiliki beberapa efek samping termasuk gejala yang mirip flu: sakit kepala, demam, merasa lelah, hilangnya nafsu makan, mual, muntah, depresi, dan rambut rontok. Interferon juga dapat mengganggu /mengacaukan produksi sel darah putih dan platelet darah dengan menurunkan/melemahkan sumsum tulang. Tes darah secara periodik dibutuhkan untuk memonitor sel darah and platelet.
Ribavirin dapat menyebabkan anemia parah yang datang secara tiba-tiba dan kecacatan pada janin sehingga kehamilan sebainya dihindari oleh wanita yang sedang menjalani perawatan dan selama 6 bulan setelah perawatan. Tingkat keparahan dan jenis efek samping berbeda-beda bagi setiap orang. Perawatan bagi anak-anak dengan virus Hepatitis C masih dalam penelitian.
Meskipun 50-60% pasien menunjukkan respon terhadap perawatan  pada awalnya, hilangnya virus untuk jangka waktu yang bertahan lama hanya terjadi pada sekitar 10-40% pasien. Perawatan dapat diperpanjang dan diberikan untuk kedua kalinya bagi yang relapse setelah perawatan awal. Perawatan ulang dengan konsensus interferon yang dirancang secara biologis saja dapat menghilangkan virus pada 58% pasien yang dirawat selama satu tahun. Efek samping dapat terjadi tetapi pengobatannya sendiri biasanya dapat ditolerir dengan baik. Terapi kombinasi (interferon dan ribavirin) menunjukkan hilangnya virus setelah terapi selama 6 bulan.  Efek samping dapat muncul dari kedua obat.
Sekarang ini, di Amerika Serikat hampir satu setengah transplantasi liver dilakukan untuk hepatitis-C tahap akhir. Tetapi, infeksi ulang HCV pada liver hasil transplantasi juga terjadi dengan angka yang tinggi. Untungnya, ini jarang memerlukan transplantasi kedua.

Orang-orang dengan hepatitis C sebaiknya melakukan vaksinasi hepatitis A dan B dan sebaiknya tidak minum alkoholCobalah untuk menjalankan pola hidup sehat dengan diet yang seimbang, olahraga, dan memiliki sikap yang positif. Hindari pekerjaan atau tugas yang berlebihan dan membuat depresi dan belajarlah untuk merawat diri Anda dan beristirahatlah bila Anda merasa lelah. Kerjakan pekerjaan atau tugas yang melelahkan fisik pada pagi hari saat level energi Anda sedang berada di puncaknya. 
Interferon diberikan dengan dosis lebih tinggi, dengan jangka waktu pemberian yang lebih lama. Hasil lebih baik bila diberikan pada penderita yang usianya kurang dari 45 tahun, tidak ada sirosis, dan penyakitnya belum berlangsung lama.
Tetapi pengobatan dengan interferon ini masih diperdebatkan hasilnya, karena belum ada kepastian 100% bahwa interferon dapat menyembuhkan, atau menghilangkan virus yang ada. Kurang lebih baru sekitar 50% dari kasus yang ada melaporkan bahwa virus Hepatitis C mereka hilang, atau sembuh.
Selain itu, Interferon memiliki dampak samping yang berbahaya, yaitu depresi, disamping efek-efek samping lainnya yang bersifat fisik. Itulah sebabnya tidak dianjurkan bagi para pecandu yang baru bersih untuk menjalani pengobatan dengan Interferon ini. Para pecandu pada umumnya memang orang-orang yang depresi, dan efek samping dari interferon ini sangat berbahaya bagi pemulihan si pecandu itu, terutama bila ia baru dalam pemulihan dan belum cukup stabil, kecenderungan untuk relapse akan besar sekali.
Sebaiknya sebelum menjalani pengobatan dengan interferon para pecandu terlebih dahulu berkonsultasi, baik dengan dokter maupun dengan konselornya, atau orang-orang yang lebih lama berada dalam pemulihan. Sebaiknya si pecandu telah memiliki dasar pemulihan yang cukup solid agar lebih bisa mengatasi dampak psikologis yang mungkin timbul saat pengobatan ataupun bila hasil setelah mengikuti pengobatan ternyata masih positif. Untuk itu, sebaiknya jika memang memutuskan untuk menjalani pengobatan, ia dikelilingi oleh orang-orang yang memahaminya misalnya sesama pecandu dalam pemulihan dengan waktu bersih dan umur pemulihan yang lebih lama darinya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kecenderungan untuk mengisolasi diri akan besar dan ini sebaiknya jangan dibiarkan berlarut-larut terlalu lama.
Pencegahan
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pihak medis adalah dengan melakukan uji saring donor darah terhadap infeksi virus Hepatitis C.
Di kalangan pecandu sendiri, harm reduction dapat dilakukan dengan selalu menggunakan jarum suntik baru dan tidak saling tukar-menukar jarum suntik. Dan jika berhubungan seks pemakaian kondom sangat dianjurkan.
Ibu yang mengidap virus Hepatitis C sebaiknya tidak menyusui bayinya, dan melakukan tes Hepatits C pada bayinya setelah bayi berusia 18 bulan (masa inkubasi VHC pada bayi).

Hepatitis C adalah penyakit infeksi yang bisa tak terdeteksi pada seseorang selama puluhan tahun dan perlahan-lahan merusak organ hati (lever). Penyakit ini sekarang muncul sebagai salah satu masalah pemeliharaan kesehatan utama di Amerika Serikat, baik dalam segi hilangnya nyawa maupun tekanan pada ekonomi. Di Indonesia, Hepatitis C memang masih kalah terkenal dibandingkan dengan Hepatitis B. Padahal, penderitanya cukup banyak.

Biasanya orang-orang yang menderita penyakit hepatitis C tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit ini, karena memang tidak ada gejala-gejala khusus. Malah beberapa orang berpikir kalau mereka hanya terserang flu. Gejala yang biasa mereka rasakan antara lain demam, rasa lelah, muntah, sakit kepala, sakit perut atau hilangnya nafsu makan.

Meskipun penyakit ini dapat dideteksi melalui tes darah sederhana, para dokter, petugas asuransi, dan pejabat kesehatan pemerintah semua mengungkapkan keprihatinannya tentang makin maraknya orang yang terjangkit dan hanya sedikit korban yang tahu mereka terinfeksi:
· American Medical Association -yang mewakili para dokter- mengatakan, Hepatitis C kemungkinan akan menjadi “prioritas utama kesehatan masyarakat, karena jumlah penduduk yang meninggal akibat penyakit ini dan orang yang membutuhkan cangkok hati diperkirakan akan meningkat secara besar-besaran dalam dasawarsa berikut.”
· National Institute of Allergy and Infectious Diseases, satu divisi National Institutes of Health milik pemerintah, dengan agak cemas telah mengingatkan, “tanpa pengobatan yang lebih baik, angka kematian diperkirakan akan naik tiga kali lipat pada 2015 -lebih tinggi daripada tingkat kematian per tahun sekarang akibat AIDS.”
· Kelompok usaha asuransi terkenal, Alliance of American Insurers yang berkantor pusat di Downers Grove, Illinois, menyebut hepatitis C sebagai suatu “epidemi yang sedang berkembang.”
· American Liver Foundation, lembaga advokasi yang berkantor pusat di New York mengatakan, Hepatitis C merupakan penyebab utama transplantasi hati di Amerika Serikat. Permintaan hati yang telah jauh melampaui persediaan diperkirakan akan naik dalam jumlah besar selama 20 tahun berikut.

Angka statistik yang membingungkan ini mungkin sebagian berakar dalam perilaku yang berisiko tinggi. Enam puluh persen infeksi baru terjadi akibat pemakaian jarum bersama, demikian menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Atlanta. Menurut CDC, Hepatitis C adalah infeksi kronis yang ditularkan oleh darah yang paling umum di Amerika Serikat. Sekitar 4 juta orang terinfeksi, atau 1,8 persen dari seluruh penduduk. Dari jumlah ini, sekitar 2,7 juta orang diduga terinfeksi kronis – suatu tahap dalam penyakit ini ketika kerusakan hati telah terjadi atau hampir terjadi. Selain itu, Hepatitis C menimbulkan penyakit hati kronis dan kemungkinan mengakibatkan kematian di antara tujuh dari sepuluh orang yang terinfeksi.

Hepatitis C sering dicampuradukkan dengan dua jenis hepatitis yang tidak begitu mematikan lainnya, yang dikenal sebagai Hepatitis A dan B. Kedua jenis terakhir ini dapat dicegah melalui vaksinasi. Hepatitis A ditularkan terutama oleh makanan dan minuman yang terkontaminasi. Itulah sebabnya orang yang sering bepergian ke negara-negara lain sering terinfeksi hepatitis ini. Meskipun dapat menimbulkan demam tinggi dan mengganggu fungsi hati sehingga mengakibatkan penyakit kuning – warna pucat kekuning-kuningan pada kulit dan bagian putih mata -penyakit ini jarang mengakibatkan penyakit hati kronis. Hampir semua orang pulih tanpa meninggalkan masalah yang berkepanjangan.

Hepatitis B muncul dalam darah seperti Hepatitis C. Penyakit ini menyebar melalui kontak dengan darah, air mani dan cairan vagina yang terinfeksi. Hubungan seks dengan orang yang terinfeksi atau penggunaan bersama jarum obat dapat menyebarkan penyakit ini. Gejalanya meliputi penyakit kuning, lemah, rasa sakit pada perut dan muntah. Namun, hampir semua penderitanya sembuh. Hanya 2 persen hingga 6 persen orang yang terkena penyakit ini mengalami kerusakan hati serius.

Hepatitis C ditularkan melalui kontak seksual, penggunaan obat-obatan dengan jarum, bahkan pemakaian bersama pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang telah terinfeksi. Para pakar yakin, kemungkinan ada faktor risiko lain yang memerlukan studi lebih lanjut, seperti penggunaan tato atau menusuk tubuh dalam lingkungan yang tidak bersih. CDC mengatakan, penerima transfusi darah sebelum 1992 -ketika persediaan darah Amerika secara nasional dimusnahkan karena darah itu ternoda -juga mempunyai risiko terjangkit penyakit ini.

Hepatitis C sangat membingungkan bagi pekerja perawatan kesehatan karena belum ada vaksinnya. Selain itu, hanya dalam sejumlah relatif kecil dari kasus yang baru-baru ini didiagnosa, barangkali sekitar 25 persen, pasien memperlihatkan gejalanya dan gejala ini pun mirip dengan gejala Hepatitis B. Kebanyakan kasus baru terjadi pada orang dewasa berusia muda, antara 25 hingga 40 tahun. Kecuali pasien sendiri meminta dilakukannya tes darah sederhana untuk memeriksa apakah muncul antibodi yang menjadi petunjuk adanya infeksi ini, Hepatitis C dapat tetap tidak ketahuan selama bertahun-tahun.

Menurut Dr. Peter Somani, mantan direktur Ohio Department of Health, “kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka telah mengidap Hepatitis C sampai mereka mengalami fase kronis dan kerusakan hati yang telah parah.” Begitu seseorang disembuhkan dengan memberikan obat-obat utama -yaitu gabungan dua obat Interferon-Alfa dan Ribavirin, penyakit ini dapat ditahan walau jarang mendapat kesembuhan.

Hati adalah salah satu organ tubuh yang paling penting. Organ ini berperan sebagai gudang untuk menimbun gula, lemak, vitamin dan gizi; memerangi racun dalam tubuh seperti alkohol; menyaring produk-produk yang tidak berguna lagi dari darah; dan bertindak sebagai semacam pengaruh seluruh bagian tubuh yang menjamin terjadinya keseimbangan zat-zat kimia dalam sistem itu. Kalau hati tidak sanggup berfungsi, tubuh akan rentan terhadap infeksi sekunder dan organ pada umumnya akan gagal berfungsi.

Usaha menemukan vaksin untuk penyakit Hepatitis C memang terus berlangsung. Tetapi tampaknya sampai saat ini belum ditemukan. Untuk itulah beberapa tips berikut ini mungkin bisa membantu Anda dalam usaha menjaga diri terhindar dari penyakit Hepatitis C:

  1. Jangan gunakan benda-benda pribadi yang kemungkinan bisa menyebabkan terjadinya pendarahan. Contohnya: sikat gigi dan alat cukur. Jika ada luka sayatan segera bersihkan dan obati luka pada kulit, setelah itu balut lukanya.
  2. Bicarakan dengan pasangan Anda mengenai virus Hepatitis C, serta penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
     

Hepatitis D
Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat progresif.

Hepatitis E
Gejala mirip hepatitis A, demam pegel linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri ( self-limited ), keculai bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces.

Hepatitis F
Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah.

Hepatitis G
Gejala serupa hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik.

4 Komentar to “HEPATITIS”

  1. ayah saya menderita kangker hati,,tadinya penyakit hepatitis C yang sudah menahun (kronis).saya ingin agar ayah saya dapat bertahan seoptimal mungkin dari kondisi yang penyakitnya itu..sekarang ayah sedang menjalankan pengobatan di RS Gatsu dengan Prosedur TAE (Trans Arteri Embolization). namun, pengobatan tersebut memerlukan biaya yang mahal karena harus dilakukan setiap bulan. sedangkan kondisi keuangan keluarga kami tidak memungkinkan?
    padahal saya menginginkan ayah saya menjadi lebih baik kondisi kesehatannya. sampai sekarang saya dan keluarga hanya bisa berdoa kepada alloh SWT..semoga keluarga kami diberikan solusi yang terbaik.

  2. Semoga ayah anda diberik ketabahan dan kekuatan dalam menjalani hidu ini.ayah saya juga meninggal karean kanker hati.mungkin juga karean hepatitis.berharap lah hanya kepada Tuhan ya.Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha.coba obat2an herbal seperti mahkota dewa.uda banyak tu link2 di internet.

  3. maaf ada data pasien hepatitis a,b,c g?? klo ada n bisa kirim ke alamat email kimaxx_1@telkom.net saya sangat membutuhkan data itu terima kasih

    Abu Al Maira :

    Maaf, saya tidak punya datanya…

  4. teman saya salah satu penderita hepatitis B, dia sudah mencoba pengobatan hepsera selama satu bulan titer HbsAg naik, sedangkan HBeAg turun meskipun cuman sedikit, ada dokter yang menyarankan pengobatan interferon, namun biayanya sangat tinggi, apakah dengan menggunakan interferon kecenderungan untuk sembuh lebih besar??tolong informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: