ILMU HADITS : Pedoman Keenam : Pernyataan Mereka (Ahli Hadits) : Para Perawinya adalah Para Perawi Hadits Shahih, Bukanlah Penilaian Shahih Atas Suatu Hadits


 

Pedoman Keenam : Pernyataan Mereka (Ahli Hadits) : Para Perawinya adalah Para Perawi Hadits Shahih, Bukanlah Penilaian Shahih Atas Suatu Hadits  

[Syaikh Al-Albani dalam Tamaamul-Minnah ]

Pada pedoman pertama telah diketahui pengertian hadits shahih yaitu hadits yang terbebas dari cacat-cacat seperti syudzudz, idlthirab (kegoncangan), dan tadlis, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pernyataan beberapa ahli hadits : “Para Perawinya adalah Para Perawi Hadits Shahih” atau “Para Perawinya adalah Orang-Orang Terpercaya” atau yang semisal; adalah tidak sama dengan pernyataan : “Rantai Periwayatannya Shahih. Pernyataan yang terakhir ini berbeda dengan pernyataan yang sebelumnya, yaitu menunjukkan adanya semua persyaratan keotentikan seperti terbebas dari cacat. Adapun pernyataan yang pertama hanya menunjukkan satu syarat, yaitu keadilan dan dipercayanya para perawi, tetapi tidak menunjukkan keotentikan hadits.

Ada juga hal yang perlu diperhatikan lagi, yaitu hadits yang dibahas di atas meskipun terbebas dari cacat-cacat, tidak otomatis hadits tersebut shahih. Sebab terkadang dalam rantai periwayatannya ada seorang perawi yang tidak menjadikan hadits tersebut sebagai acuan, tetapi ia meriwayatkannya sekedar sebagai saksi, karena ia lemah hafalannya, atau termasuk perawi yang hanya mendapat kepercayaan dari Ibnu Hibban.

Pernyataan beberapa peneliti hadits : “Dan perawi-perawinya adalah orang-orang yang mendapatkan kepercayaan”, menunjukkan bahwa mempercayai beberapa perawi tersebut mengandung kelemahan. Oleh karena itu, keotentikan hadits tidak dapat dipahami dari pernyataan mereka yang telah kami sebutkan di atas.

Karena kurang menyadari hal ini, muallif (yaitu Sayyid Sabiq dalam Fiqhus-Sunnah) sering menganggap shahih hadits berdasarkan pada otoritas ini. Saya telah menambahkan penjelasan bagi pedoman ini pada muqadimah kitab saya Shahih At-Targhib wat-Tarhib (halaman 39-46). Lihatlah, karena sangat penting.

Sumber :

Ditulis oleh Abu Al Jauzaa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: