TANYA JAWAB BERSAMA AL-IMAM AL-MUHADDITS MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI – HAKIKAT BID’AH DAN KUFUR


HAKIKAT BID’AH DAN KUFUR
TANYA JAWAB BERSAMA AL-IMAM AL-MUHADDITS
MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAHU
Sumber : Transkrip kaset “Haqiqotul Bida’ wal Kufri”
Silsilah Huda wa Nur no 666 (rekaman Abu Laila al-Atsari)
Tanggal 7 Sya’ban 1413 / 31 Januari 1993

Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat
dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga
dan para sahabatnya. Rekaman ini merupakan Silsilah Fatawa oleh Syaikh
Nashiruddin al-Albani rahimahullahu yang direkam oleh Abu Laila al-Atsari
pada 7 Sya’ban 1413 yang bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1993.
Syaikh Nashir diajukan beberapa pertanyaan penting oleh para pemuda
dari Uni Emirat Arab (UEA), semoga dapat memberikan manfaat bagi
umat.

Penanya : Apa pendapat Anda, wahai syaikh, tentang orang-orang yang
tidak memperbolehkan tarahum [memohonkan rahmat bagi orang yang telah meninggal seperti ucapan rahimahullahu] kepada orang-orang yang menyelisihi
i’tiqod salaf, seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, Ibnu Hazm dan
Ibnul Jauzi serta orang-orang yang semisal mereka dari (ulama) salaf?
Juga tokoh-tokoh kholaf (kontemporer) seperti al-Banna dan Sayyid Quthb,
mengingat Anda telah mengetahui dengan baik apa yang ditulis oleh Hasan al-Banna dalam bukunya Mudzakkirat ad-Da’wah wa ad-Da’iyyah dan Sayyid
Quthb dalam bukunya Fii Zhilaali al-Qur’an???

Syaikh : Kami berkeyakinan bahwa rahmat dan tarahum diperbolehkan bagi
seluruh kaum muslimin dan diharamkan bagi seluruh orang kafir. Jawaban
ini merupakan furu’ (cabang) dari i’tiqod yang dimiliki oleh seseorang. Jadi,
barangsiapa yang meyakini bahwa orang-orang yang disebutkan di dalam
pertanyaan tadi adalah muslim, maka jawabannya adalah telah ma’ruf
(diketahui) -sebagaimana yang telah saya katakan barusan- yaitu boleh
mendo’akan : “semoga Alloh merahmati dan mengampuni mereka”. Dan
siapapun yang menganggap bahwa mereka yang disebutkan di dalam
pertanyaan tadi adalah bukan muslim (kafir) -semoga Alloh tidak
mengizinkan hal ini-, maka tarahum tidaklah diperbolehkan, karena rahmat
diharamkan bagi orang kafir. Inilah jawabanku berkenaan dengan apa yang
datang dari pertanyaan tadi.

Penanya : Namun Syaikh, Mereka mengatakan bahwa hal ini termasuk
bagian dari manhaj salaf, yang mana mereka tidak melakukan tarahum
terhadap mubtadi’ (pelaku bid’ah). Konsekuensinya, orang-orang yang
disebutkan di dalam pertanyaan pertama tadi dianggap sebagai mubtadi’
dan mereka (para salaf) tidak melakukan tarahum dengan mereka.

Syaikh : Kami telah katakan tadi, bahwa rahmat atau tarahum
diperbolehkan bagi setiap muslim dan tidak boleh bagi seluruh orang kafir.
Jika (jawabanku tadi, pent.) ini benar, maka pertanyaan kedua tadi tidak
memiliki dasar (hujjah). Jika ini (jawaban saya) tidak benar, maka
(pertanyaan kedua tadi) memiliki dasar dan bisa didiskusikan lebih lanjut…
Bukankah mereka yang telah divonis oleh sebagian ulama sebagai mubtadi’,
mereka tetap disholati? Dan termasuk i’tiqod salaf yang disepakati oleh
kholaf adalah, bahwa kita (tetap) menegakkan sholat di belakang muslim
yang shalih sebagaimana pula kita shalat di belakang muslim yang fajir.
Kita juga menshalati orang yang shalih maupun orang yang fajir. Adapun
orang kafir tidak boleh dishalati.

Oleh karena itu, orang yang disebutkan di dalam pertanyaan tadi, mau tidak
mau, haruslah disebut sebagai ahlul bid’ah. Jadi, haruskah mereka
disholati atau tidak?…
Saya sebenarnya tidak berkeinginan untuk mendiskusikan hal ini kecuali
karena terpaksa. Jika jawabannya adalah mereka tetap harus disholati,
maka jawabannya berhenti sampai di sini, pembahasan selesai dan tak ada
lagi tempat untuk mendiskusikan pertanyaan kedua tadi. Namun jika
(dijawab) tidak boleh mensholatinya, maka kesempatan untuk diskusi masih
terbuka dan dapat dilanjutkan kembali…

Penanya : Jika dikatakan, kami tidak mensholatinya karena mereka
termasuk mubtadi’, maka apa jawaban Anda???

Syaikh : Apa dalilnya???

Penanya : Mereka menggunakan af’alus salaf (amalan para salaf) sebagai
dalil dan mereka membedakan antara pelaku kemaksiatan dengan pelaku
bid’ah yang mengada-adakan kebid’ahan di dalam agama. Kaum salaf
terdahulu, mereka tidak mau mensholati ahlul bid’ah ataupun bermajelis
dengan mereka serta bermuamalah dengan mereka. Berdasarkan hal inilah
mereka membangun dakwaannya.

Syaikh : Pertanyaanku tadi apa?

Penanya : Kita mensholati mereka ataukah tidak???

Syaikh : Tidak! Anda meluaskan jawaban Anda dari pertanyaanku tadi dan
Anda kehilangan maksud (melenceng ed.) dari pertanyaanku. Pertanyaanku
barusan adalah, “Apakah dalilnya?” dan Anda menjawab dengan dalil
“dakwaan’. Padahal “dakwaan” tidaklah sama dengan dalil. Sedangkan Anda
menyatakan bahwa mereka mendakwakan sholat jenazah tidak dilakukan
bagi mubtadi’.

Penanya : Tidak ada dalilnya wahai syaikh, mereka berargumentasi dengan
amalan para salaf.

Syaikh : Apakah amalan para salaf itu dalil???

Penanya : Itu yang mereka katakan (dakwakan).

Syaikh : Manakah dalil dari dakwaan ini???

Penanya : Dalilnya biasanya sangat umum pada perkara ini.

Syaikh : Bukankah para ulama salaf ketika melakukan muqotho’ah (isolir
/pemutusan hubungan) dengan individu-individu tertentu yang melakukan
kemaksiatan dan kebid’ahan, lantas, apakah ini berarti mereka menghukumi
mereka sebagai kafir?

Penanya : Tidak!

Syaikh : Tidak! Sebab mereka masih menganggap mereka sebagai muslim.
Kita tidak memiliki sikap pertengahan di antara muslim dan kafir. Apabila
mereka ini muslim, maka harus diperlakukan sebagai muslim atau jika
mereka kafir maka diperlakukan sebagai kafir. Kita tidak memiliki sikap
pertengahan sebagaimana sikapnya mu’tazilah yang menyatakan adanya
suatu tempat diantara dua tempat (manzilah bayna manzilatain), yaitu
diantara muslim dan kafir.

Selanjutnya, semoga Alloh memberkahimu, hal ini murni merupakan
dakwaan belaka, yaitu para salaf tidak mensholati mubtadi’ secara umum.
Ini merupakan dakwaan belaka yang diusung oleh para pemuda yang khoir
(baik) -sebenarnya- namun mereka mengambil beberapa masalah dengan
semangat yang meluap-luap tanpa disertai dengan ilmu yang benar
berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Saya telah menunjukkan pada Anda suatu hakikat yang tidak mungkin ada
dua orang berbeda pendapat tentangnya, yaitu tentang apakah orang
tersebut muslim atau kafir. Jika ia muslim -menurut dari apa yang ia
tampakkan- maka ia disholati, bahkan -sebagai tambahan- hartanya diwarisi
oleh ahli warisnya, mayatnya dimandikan dan dikafani serta ia dikuburkan di
pekuburan kaum muslimin. Namun jika ia kafir, maka ia dihempaskan
seperti bebijian dan dikuburkan di pekuburan kaum kafir. Kita tidak punya
pendapat pertengahan dalam hal ini.

Kendati demikian, apabila ada seseorang yang tidak turut menshalati
seorang muslim -atau para ulama tidak mau mensholatinya-, hal ini tidaklah
menunjukkan bahwa mensholati orang ini adalah terlarang. Hal ini
mengindikasikan bahwa para salaf sedang menunjukkan suatu hikmah dan
beberapa hal yang tidak dapat dipenuhi (dilakukan) oleh orang selainnya.

Sebagaimana kisah dalam sebuah hadits -yang pasti Anda ingat- di dalam
beberapa riwayat dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,
“Sholatilah saudara kalian ini” sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa
Salam tidak turut menshalatinya. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?
Apakah Nabi yang tidak turut menshalati seorang muslim ini lebih penting
(dijadikan dalil) ataukah ulama salafi yang menolak menshalati muslim?
Katakan padaku, mana yang lebih utama???

Penanya : Penolakan Nabi yang lebih penting!!!

Syaikh : Hasan (baik). Penolakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam-lah yang
lebih penting. Penolakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menshalati
seorang muslim tadi tidak menunjukkan bahwa menshalati muslim tersebut
adalah dilarang. Maka jelaslah, bahwa para ulama salaf yang meninggalkan
sholat jenazah tidaklah menunjukkan larangan mensholatinya.

Selanjutnya, taruhlah seandainya sholat jenazah tadi tidak boleh
dilaksanakan, apakah ini juga berarti seseorang tidak boleh memohon
rahmat dan maghfirah baginya -berdasarkan pandangan kita bahwa dia
masih seorang muslim-.

Singkat kata, penolakan sebagian ulama salaf dalam menshalati sebagian
kaum muslimin pelaku bid’ah, tidaklah membatalkan keabsahan
mensholatkan mereka. Sebenarnya mereka (ulama salaf) melakukan hal ini
(tidak turut menshalati, pent.) dikarenakan termasuk dalam kategori umum
tahdzir (peringatan) dari kejahatan si mayit agar orang-orang yang
sepertinya mendapatkan pelajaran.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
terhadap seorang lelaki yang tidak disholatinya. Mengapa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak menshalatinya? Sebabnya adalah, karena
si mayit itu menyembunyikan beberapa bagian dari harta ghanimah untuk
dirinya sendiri. Keengganan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk
mensholatinya adalah lebih penting daripada keengganan para ulama salaf
yang melaksanakan hal ini, namun hal ini tidaklah meniadakan atau
membatalkan keabsahan mensholati muslim pelaku bid’ah.

Dari sini, kiranya perlulah diteliti siapakah yang dimaksud dengan mubtadi’
itu dan siapakah orang kafir itu. Ada pertanyaan yang muncul dalam
pembahasan kali ini, yaitu apakah setiap orang yang jatuh ke dalam amalan
kafir maka dengan serta merta ia menjadi kafir?? Dan apakah setiap orang
yang jatuh kepada amalan bid’ah dengan serta merta ia menjadi mubtadi’
ataukah tidak???

Jika jawabannya tidak, maka kita dapat lanjut melihat kepada subyeknya.
Jika subyeknya tidak jelas maka perlu diklarifikasi. Saya akan mengulang
permasalahan yang menyangkut pertanyaan ini dengan beberapa tambahan
terperinci…

Apakah yang dimaksud dengan bid’ah??? Bid’ah ialah perkara baru yang
menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan pelakunya
melakukan bid’ah ini dengan bermaksud menambah taqarub (pendekatan
diri) kepada Alloh Jalla wa ‘Ala.

Lantas, apakah setiap orang yang melakukan kebid’ahan dengan serta merta
menjadi mubtadi’??? Saya ingin jawaban singkat, ya atau tidak???

Penanya : Tidak!

Syaikh : Kalau begitu siapakah mubtadi’ itu???

Penanya : Seseorang yang telah didatangkan padanya hujjah yang nyata dan
meyakinkan, namun ia tetap bersikeras melaksanakan bid’ahnya.

Syaikh : Ahsan (baik). Jadi, orang yang disebutkan di dalam pertanyaan tadi
-yang disebutkan tidak boleh kita bertarahum kepada mereka-, apakah
hujjah telah ditegakkan kepada mereka??? Allohu a’lam. Lantas apa dasar
prinsip tentang mereka??? Apakah mereka muslim atau kafir???

Penanya : Muslim…

Syaikh : Prinsip dasarnya adalah mereka muslim! Oleh karena itu boleh
bertarahum kepada mereka. Prinsip dasarnya sekali lagi adalah kita boleh
memohon maghfiroh dan rahmat bagi mereka. Bukankah ini masalahnya???
Jadi -dengan demikian- masalah ini telah selesai. Kita tidak boleh
mengadopsi madzhab baru ini, yaitu madzhab bahwa tarahum terhadap
fulan dan polan, atau ulama ini dan itu dari kaum muslimin adalah tidak
boleh, baik secara umum maupun mu’ayan (spesifik).

Mengapa??? Dengan dua alasan yang tersimpulkan dari jawabanku tadi.
Alasan pertama adalah mereka muslim. Alasan kedua adalah, kalaupun
seandainya kita telah tahu bahwa mereka adalah pelaku bid’ah, namun kita
belum tahu apakah hujjah sudah ditegakkan atas mereka ataukah belum,
dan kita tidak tahu apakah mereka masih bersikeras melakukan
kebid’ahannya dan melanjutkan kesesatannya ataukah tidak.

Karena itu saya katakan : diantara kesalahan fatal pada hari ini adalah, para
pemuda muslim yang multazim (komitmen) dan mutamassikin (berpegang
teguh) dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, disebabkan mengadopsi madzhab
baru ini, mereka telah menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa mereka
sadari. Secara otomatis, berdasarkan madzhab mereka ini pula, saya berhak
untuk menvonis mereka sebagai mubtadi’ dikarenakan mereka menyelisihi
al-Qur’an dan as-Sunnah (karena madzhab baru yang mereka adopsi ini,
pent.) Kendati demikian, saya takkan menyelisihi madzhabku sendiri.

Prinsip dasar yang berkenaan dengan pernyataan mereka (orang-orang yang
disebutkan di dalam pertanyaan tadi, pent.) adalah, bahwa mereka masih muslim dan mereka tidak bermaksud untuk mengada-adakan suatu bid’ah
serta mereka tidak menolak hujjah yang ditegakkan kepada mereka.
Sesungguhnya kami berpendapat bahwa mereka melakukan kesalahan di saat
mereka mencari kebenaran. Jika kita sadar dan faham akan hal ini, niscaya
kita akan selamat dari masalah yang tengah merebak dewasa ini.

Serupa dengan keadaan (para pemuda ini, pent.) adalah jama’ah yang dikenal
dengan jama’ah takfir wal hijrah di Mesir, yang fikrahnya tersebar sampai
masuk ke Suriah di saat saya masih di sana, bahkan hingga saat ini. Kami
memiliki beberapa ikhwan di sana yang (manhajnya) berada di atas al-
Qur’an dan as-Sunnah -atau yang kita sebut sebagai salafiy- yang turut
terpengaruh oleh dakwah batil ini, sampai-sampai mereka meninggalkan
sholat jama’ah, bahkan juga sholat jum’at. Mereka biasanya sholat di
rumah-rumah mereka sampai pada suatu hari kami mengadakan pertemuan
dan berdiskusi dengan mereka.

Kita memiliki tiga sesi pertemuan yang berbeda. Sesi pertama terjadi di
antara waktu maghrib dan isya’ dan mereka menolak sholat bersama kami –
salafiyun-. Mereka berkata tentang diriku, “kami tidak bersandar (tidak
mengakui, pent.) pada buku-bukumu”, oleh karena itulah mereka tidak mau
sholat di belakangku. Kenapa??? Karena kami tidak melakukan takfir
(menvonis kafir) terhadap orang-orang yang mereka kafirkan. Ini dalam
pertemuan pertama.

Pertemuan kedua terjadi di hadapan pemimpin mereka dan diskusi
berlangsung hingga tengah malam. Untungnya -alhamdulillah- dengan
diskusi ini mulai tampak tanda-tanda kebaikan pada mereka, dimana mereka
sedikit demi sedikit mulai menerima dakwah kita yang menyeru kepada al-
Haq ini. Jadi, ketika kami memberitahukan bahwa kami akan melakukan
sholat malam pada paruh malam terakhir, mereka mau sholat di belakang
kami. Ini terjadi pada pertemuan kedua.

Adapun pertemuan ketiga… diskusi ini berlangsung mulai ba’da sholat isya’
sampai adzan fajar. Pertemuan ini adalah pertemuan yang menentukan dan
semenjak saat itulah mereka senantiasa menyertai kami, selama hampir dua
belas tahun, alhamdulillah. Semua ini terjadi disebabkan oleh syubuhat
belaka yang berangkat dari dangkalnya pemahaman mereka terhadap
Kitabullah dan as-Sunnah.

Mungkin Anda dapat memahaminya wahai al-Akh Khalid (saudara penanya,
pent.), bahwa fiqh (pemahaman) al-Qur’an dan as-Sunnah tidaklah mudah di
zaman kita sekarang ini, terlebih setelah kita mewarisi beraneka ragam
madzhab yang beraneka ragam dan banyaknya aliran-aliran di dalam aqidah
sebagaimana beranekaragamnya aliran-aliran (madzahib) di dalam fiqh.

Oleh karena itulah, seorang penuntut ilmu pemula tidak akan mampu
menuntun diri mereka sendiri kepada akar dari segala perselisihan ini,
kecuali hingga ia melewati waktu yang cukup panjang di dalam mempelajari
-apa yang disebut dengan- al-Fiqh al-Muqooron (fikih perbandingan
madzhab) dan mempelajari pula dalil-dalil mereka yang berbeda-beda
dalam ushul dan furu’nya yang berasal dari berbagai kelompok madzhab.
Pada hakikatnya, perkara ini memerlukan waktu yang panjang, ini yang
pertama. Dan yang kedua, hal ini memerlukan taufiq dari Alloh Rabbul
‘Alamin, sebelum Alloh mengizinkan seorang muslim untuk
mengaktualisasikan do’a yang ditinggalkan oleh Rasulullah sebagai suatu
sunnah yang patut kita teladani. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam biasa
membaca do’a ini di sebagian sholat malam beliau, yaitu : Allahumma
ihdinii fiima-khtulifa fiihi minal haqqi biidznika innaka laa tahdii man
tasyaa’u ilaa shiroothol mustaqiima (“Ya Alloh, tunjukilah saya kepada yang
benar dari apa-apa yang diperselisihkan manusia dengan izin-Mu.
Sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki kepada
jalan yang lurus”).

Karena semua inilah, kami menasehatkan kepada para pemuda kami yang
sedang tumbuh sekarang, yang berada di atas madzhab al-Qur’an dan as-
Sunnah, agar mereka tidak boleh tergesa-gesa dan mau merenungkan
masalah ini secara lebih mendalam, dan tidak menghukumi hanya sematamata
dari dhahir teks semata. Hal ini dikarenakan, tidak selayaknya seorang
muslim berhenti pada setiap makna yang tampak lahiriah (dhahir) semata,
atau jika tidak, kita akan menjadi bingung terhadap ilmu yang tidak akan
ada habisnya…

Saya rasa Anda pasti tahu bahwa madzhab yang terdekat dengan al-Qur’an
dan as-Sunnah adalah madzhabnya ahlul hadits. Andapun tahu bahwa para
ulama hadits mendasarkan periwayatannya kepada beberapa mubtadi’
selama mereka tsiqoh, jujur dan kuat hafalannya. Ini menunjukkan bahwa
para ulama hadits tidak menganggap mereka termasuk golongan kafir atau
golongan yang kita diharamkan bertarahum kepada mereka. Namun
kenyataannya, ada ulama-ulama terkenal yang diikuti saat ini dan tidak
diragukan lagi akan keutamaannya, dan mereka dianggap sebagai ulama
yang ‘alim, walaupun demikian mereka menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah
serta menyelisihi as-Salaf as-Shalih dalam beberapa hal.

Yang kumaksudkan, sebagai contohnya adalah, an-Nu’man bin Tsabit Abu
Hanifah rahimahullahu yang menyatakan bahwa iman tidak bertambah dan
tidak pula berkurang. Beliau juga mengatakan, tidak boleh bagi seorang mukmin mengatakan “saya mukmin insya Alloh”. Jika orang tersebut
mengatakan demikian -“saya mukmin insya Alloh”- maka ia bukanlah
seorang muslim. Tidak ragu lagi ini adalah pendapat yang baru -bid’ah- di
dalam agama20, karena pendapat ini menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah.
Kendati demikian, beliau tidaklah bermaksud mengutarakannya sebagai
kebid’ahan, namun beliau berusaha mencari al-Haq namun beliau tergelincir
(kepada kebid’ahan ed.).

Oleh karena itulah, membuka jalan keragu-raguan kepada para ulama -baik
salaf maupun kholaf- adalah menyelisihi jalannya orang mukminin. Rabb
kita, Alloh Azza wa Jalla berfirman di dalam Kitab-Nya:
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia
leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan
ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali.”

Terakhir, saya ingin mengingatkan kalian sebuah hakikat (realita) yang tidak
ada perselisihan di dalamnya, dan saya tambahkan pula suatu (kaidah) yang
banyak para pemuda kita tidak pernah berfikir tentangnya. Hakikat itu
adalah sabda Nabi : “Barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim maka
ia telah kafir”. Ini adalah suatu hakikat yang tidak diragukan lagi.
Penjelasan tentang hadits ini didapatkan pada riwayat lainnya, yaitu jika ia
mengkafirkan seorang yang kafir maka ia telah benar, namun jika tidak
maka vonis itu akan kembali kepadanya. Hadits ini jelas dan tidak perlu
dibahas lagi.

Oleh karena itu, saya juga tambahkan dengan ucapan : Jika seorang yang
menuduh seorang muslim sebagai mubtadi’, maka ia benar apabila
kenyataannya demikian, namun apabila tidak maka ia sendirilah yang
mubtadi’. Inilah hakikat yang telah kukemukakan barusan tadi, bahwa para
pemuda kita menvonis ulama kita sebagai mubtadi’ sedangkan mereka
sendirilah yang jatuh ke dalam kebid’ahan tanpa mereka sadari. Mereka
sebenarnya tidaklah bermaksud melakukan kebid’ahan, bahkan mereka
sebenarnya berkeinginan untuk memeranginya.

Oleh karena itu kami nasehatkan para pemuda ini untuk senantiasa beramal
dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebatas dengan ilmu yang dimilikinya, dan
janganlah mereka lancang menuduh orang lain yang ilmu, faham dan
kesholihannya tidak mampu mereka tandingi dan tidak pula mereka mampu
membandingkan pemahaman mereka dengan orang-orang semisal mereka
ini, tidak pula kejujuran mereka, yaitu orang-orang semisal an-Nawawi dan
al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani. Seluruh kaum muslimin di seluruh dunia
mengenal kedua orang ini.

Adapun Sayyid Quthb, tinggalkan beliau!!! Karena beliau adalah orang biasa.
Kami memuji atas amal dan jihadnya, namun hal ini tidaklah merubah
kenyataan bahwa beliau hanyalah seorang penulis belaka. Beliau punya
keahlian kesusasteraan namun beliau bukanlah seorang ulama. Jadi,
tidaklah mengherankan apabila ada yang keluar dari dirinya sesuatu yang
menyelisihi manhaj yang haq.

Adapun orang-orang yang disebutkan beserta dirinya, seperti an-Nawawi dan
Ibnu Hajar, tidak benar dan bahkan merupakan suatu kezhaliman apabila
menyebut mereka sebagai mubtadi’. Saya tahu bahwa mereka terpengaruh
dengan pemahaman Asy’ariyah namun mereka tidaklah sengaja dan
memaksudkannya untuk menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah. Kesalahan
mereka dalam masalah aqidah hanyalah dua hal yang mereka warisi dari
Asy’ariyah.

Pertama, Imam (Abul Hasan) Al-Asy’ari berpegang dengan pendapatnya
tersebut dimana kenyataannya itu adalah pendapat beliau yang terdahulu
dan beliau menarik seluruh pendapat-pendapat beliau yang terdahulu itu, dan kedua, mereka keliru menduga bahwa hal ini -aqidah Asy’ariyah- adalah
suatu kebenaran padahal kenyataannya adalah sebaliknya -tidak benar-.

Penanya : Apakah benar bahwa para ulama salaf tidak akan menghukumi
seseorang sebagai ahlus sunnah yaitu berada di atas manhaj salaf kecuali
apabila ia memiliki alamat (karakteristik) ahlus sunnah, dan jika ia
melakukan kebid’ahan atau memuji pelaku bid’ah maka ia dianggap sebagai
golongan mereka -ahlul bid’ah-??? Sebagaimana ulama salaf ada yang
mengatakan, “barangsiapa yang mengatakan Alloh tidak berada di atas
langit maka ia adalah seorang jahmiy.”

Syaikh : Ada beberapa perincian dalam hal ini. Namun jangan lupa dengan
apa yang telah kukemukakan di awal pembahasan tadi. Hal ini tidak
menunjukkan dia sebagai bukan muslim (kafir) seperti yang telah
dicontohkan di awal tadi tentang penolakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam mensholati orang yang mengambil ghanimah tanpa izin. Hal ini
dikategorikan sebagai bagian ta’dib (memberikan pelajaran) bukan bagian
takfir (menvonisnya sebagai kafir).

Poin lainnya adalah riwayat dari para salaf, yang mana riwayatnya tidak
banyak dan tidak semuanya bersepakat, maka tidak selayaknya mengambil
permasalahan manhaj dari sebagian kecil individu atau seorang individu
saja, yang kemudian manhaj ini menyelisihi amalan salaf itu sendiri.
Telah diketahui dengan jelas bahwa seorang muslim tidaklah dikatakan
keluar dari lingkaran Islam dikarenakan melakukan kemaksiatan ataupun
kebid’ahan. Jadi, apabila kita menemukan perkara yang menyelisihi ushul
(dasar) ini, maka kita kembali kepada apa yang telah kukemukakan pada
awal penjelasanku di depan, yaitu merupakan bagian dari tahdzir
(peringatan) dan ta’dib (pelajaran).

Kita ambil contoh, misalnya Imam Bukhari, Apakah ada yang tidak mengenal
Imam Bukhari ini??? Namun ada beberapa ulama hadits meninggalkan Imam
Bukhari dan tidak meriwayatkan dari beliau. Kenapa?? Karena beliau merinci
antara orang yang mengatakan “al-Qur’an makhluk” -maka ia mubtadi’
sesat dan kafir menurut pendapat lainnya yang dipegang oleh sebagian
ulama-, dan antara yang mengatakan “bacaan al-Qur’anku adalah makhluk.”
Imam Ahmad pernah mengatakan, “Barangsiapa yang mengatakan bahwa
“lafazh (bacaan) al-Qur’an-ku adalah makhluk” maka ia termasuk golongan
jahmiyah.” Berdasarkan hal ini, orang-orang setelah zaman Imam Ahmad
membuat suatu penilaian untuk tidak menerima periwayatan dari Imam Bukhari, karena beliau telah membuat suatu pernyataan yang sama dengan
jahmiyah. Walaupun demikian, jahmiyah tidaklah mengatakan bahwa
bacaan al-Qur’an adalah makhluk, namun mereka berpendapat bahwa al-
Qur’an itu sendirilah yang bukan kalamullah namun makhluk Alloh.
Apakah pendapat kita terhadap ucapan Imam Bukhori yang membedakan
antara orang yang mengatakan “bacaan al-Qur’anku adalah makhluk”
dengan pendapat ulama hadits seperti Imam Ahmad yang mengatakan
bahwa siapa yang mengatakan bacaan al-Qur’an makhluk maka ia adalah
seorang jahmiy? Tidak mungkin kita mengatakan bahwa kedua pendapat di
atas adalah benar, kecuali jika kita membuat suatu takwil yang shahih
mengikuti dasar kaidah hukum.

Sebelum melanjutkan, saya percaya bahwa Anda akan membuat suatu
perbedaan -sebagaimana diriku- terhadap orang yang mengatakan bahwa
“al-Qur’an adalah makhluk” dengan orang yang mengatakan “bacaan al-
Qur’an adalah makhluk”. Benar?

Penanya : Benar wahai syaikh.

Syaikh : Lantas, bagaimanakah kita menjawab ucapan Imam Ahmad yang
mengatakan, “barang siapa yang mengatakan bahwa bacaan al-Qur’an
adalah makhluk, maka ia adalah seorang jahmiy”? Apa yang kita katakan
terhadap ucapan ini? Tidak ada jawaban melainkan dengan apa yang telah
kusebutkan pada kalian sebelumnya, yaitu hal ini bermakna sebagai
peringatan terhadap kaum muslimin untuk menjauhi ucapan yang dapat
digunakan oleh ahlul bid’ah dan para pengikut kesesatan -jahmiyah- untuk
menjajakan pemahamannya. Hal ini dikarenakan seseorang boleh jadi
mengatakan “bacaan al-Qur’anku adalah makhluk” dalam rangka menjebak
orang-orang yang ada di sekitarnya, dengan maksud bahwa al-Qur’an itu
sendirilah yang makhluk.

Namun, tidak mesti setiap orang yang mengatakan demikian -“bacaan al-
Qur’anku adalah makhluk” memiliki maksud yang sama buruknya,
sebagaimana ucapan Imam Bukhari tadi, yang mana beliau tidak perlu
tazkiyah (pujian) dari kita karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang
telah melakukannya (memujinya, ed.) dengan menjadikan bukunya sebagai
buku yang diterima menurut kesepakatan kaum muslimin setelah kitabullah
terhadap segala perkara yang mereka perselisihkan di tengah-tengah
mereka.

Oleh karena itu, ketika beliau mengatakan “bacaan al-Qur’anku adalah
makhluk”, maka sesungguhnya yang beliau maksudkan adalah maksud yang
benar. Sedangkan Imam Ahmad, beliau mengatakan perkataan yang keluar
dari rasa takut beliau, yaitu ‘barangsiapa yang mengatakan demikian dan
demikian maka ia adalah demikian’, maka yang beliau maksudkan adalah
sebuah bentuk peringatan bukan suatu prinsip keimanan… prinsip keimanan
yang jika ada orang mengatakan demikian dan demikian maka ia adalah
seorang jahmiy. Apabila kita dapatkan ada sebagian pernyataan sebagian
ulama salaf yang menghukumi seseorang yang jatuh kepada kebid’ahan
sebagai mubtadi’, maka pernyataan ini harus diambil dari sudut pandang
bahwa pernyataan tersebut adalah suatu bentuk peringatan, bukan suatu
pernyataan I’tiqodiyah.

Mungkin, layak kiranya saya sebutkan suatu kejadian tentang ucapan Imam
Malik yang telah ma’ruf (diketahui) dengan baik, ketika beliau ditanya
‘bagaimana istiwa’ (bersemayam)-nya Alloh?’ beliau berkata, “Istiwa’ itu
telah ma’lum (diketahui maknanya), kaifiat (bentuk)-nya tidak diketahui
dan mempertanyakan tentang kaifiyatnya adalah bid’ah serta mengimani
(maknanya) adalah wajib. Usir orang ini karena dia adalah seorang
mubtadi’!!!”. Riwayat terkenal ini terjadi ketika seseorang datang kepada
Imam Malik dan menanyakan tentang kaifiyat istiwa’ Alloh. Imam Malik
menjawab, “Istiwa’ itu telah ma’lum (diketahui maknanya), kaifiat
(bentuk)-nya tidak diketahui dan mempertanyakan tentang kaifiyatnya
adalah bid’ah serta mengimani (maknanya) adalah wajib. Usir orang ini
karena dia adalah seorang mubtadi’!!!”. Penanya ini tidak dengan serta
merta menjadi seorang mubtadi’ hanya dengan sekedar bertanya tentang
hal ini. Imam Malik ingin memahamkan orang ini bahwa ia telah menyelisihi
prinsip-prinsip aqidah salaf dengan mempertanyakan hakikat sifat-sifat
Alloh. Makanya beliau memerintahkan untuk mengusir orang tersebut dari
majlisnya, “Usirlah karena dia adalah seorang mubtadi’!!!”.

Perhatikanlah, bagaimana maksudnya berbeda… apa yang akan Anda fikirkan
seandainya saya atau ulama lainnya ditanya tentang hal yang sama oleh
kaum muslimin yang awam ataupun suatu kelompok tertentu dari kaum
muslimin yang lebih berilmu, apakah menurut Anda kami harus memberi
jawaban sebagaimana yang diberikan oleh Imam Malik? Apakah kita akan
mengatakan kepada orang-orang untuk mengeluarkan dia dari majlis kita
karena menganggap dia seorang mubtadi’?? tidak!!! Karena masanya
berbeda.

Jadi, metode yang digunakan di masa itu (Imam Malik, pent.) adalah diterima
namun tidak diterima di masa sekarang ini. Karena menerapkan metode itu
di zaman ini akan lebih mendatangkan madharat daripada maslahat. Kami
dapat tambahkan dalam pembahasan ini mengenai prinsip muqotho’ah
(isolir) atau hajr (boikot) yang telah dikenal di dalam Islam. Kami sering
ditanya ini dan itu, ada seorang teman yang tidak sholat, merokok dan
melakukan ini dan itu, apakah kita boikot dirinya? Saya katakan, tidak!!
Anda jangan memboikotnya, karena boikotmu adalah hal yang ia inginkan
darimu dan boikotmu takkan mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya.
Bahkan kenyataannya adalah hal yang sebaliknya, boikotmu akan
menyebabkan dirinya gembira dan ia dapat lebih leluasa meneruskan
penyimpangannya.

Tidak jauh berbeda dengan hal ini adalah ucapan seorang Syaami (dari
negeri Syam) berkenaan tentang adanya seorang fasik yang gemar
meninggalkan sholat. Orang ini kemudian bertaubat dan akan melaksanakan
sholat di Masjid untuk kali pertama, namun hanya karena ia mendapatkan
pintu masjid terkunci, ia berkata, “pintunya tertutup, maka aku tidak jadi
sholat”. Orang fasik yang meninggalkan sholat ini, apakah ia ingin seorang
muslim yang ta’at memboikotnya?? Hal ini serupa dengan misal ucapannya,
“pintunya tertutup, maka aku tidak jadi sholat”, orang yang diboikot pun
akan mengatakan hal yang serupa, “aku tidak perlu persahabatannya, aku
tidak menghendaki bersama dengannya.” Hal ini dikarenakan persahabatan
orang yang shalih dengan orang yang fasik akan mencegah diri si fasik bebas
melakukan apa yang ia kehendaki nantinya, sedangkan orang fasik ini tidak
menghendaki hal ini (ia tidak bebas melakukan kehendaknya, pent.). Jadi,
boikot terhadap orang yang tidak shalih oleh orang yang shalih adalah hal
yang diinginkan oleh orang yang tidak sholih tadi.

Oleh karena itu, hukum boikot di dalam Islam dimaksudkan untuk memenuhi
suatu kemaslahatan, yaitu mendidik orang tersebut. Jadi, jika boikot tidak
lagi memberi dia pelajaran, namun malah menambah kesesatannya, maka
dalam kondisi seperti ini, boikot tidaklah tepat dan pas untuk diterapkan.
Dengan demikian, tidaklah tepat meniru metode yang digunakan oleh para
ulama terdahulu pada hari ini, sebab mereka (para ulama terdahulu, pent.)
dapat melakukan demikian dikarenakan posisi dan kekuatan yang mereka
miliki dan adanya kemampuan untuk menanggulangi (kemaksiatan ataupun
kebid’ahan, pent.).

Saat ini, lihatlah bagaimana keadaan kaum muslimin kini… mereka lemah
dalam segala hal, tidak hanya dari sektor pemerintahan namun juga dari
segi individunya. Keadaan ini, sebagaimana yang telah digambarkan oleh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika beliau bersabda, “Islam bermula
dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana
permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing (ghurobaa’)”,
beliau ditanya, “siapakah ghuroba’ itu wahai Rasulullah?”, beliau
menjawab, “mereka adalah orang-orang yang shalih di tengah-tengah orang
banyak, orang-orang yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada yang
mengikuti mereka.” (HR Muslim).

Jadi, jika kita membuka pintu pemboikotan dan mudah menvonis manusia
sebagai mubtadi’, maka sebaiknya kita pergi dan menyepi di gununggunung.
Karena yang wajib bagi kita sekarang adalah berdakwah mengajak
ke jalan Rabb kita dengan cara yang hikmah dan mau`idhoh (pelajaran)
yang baik serta jidal (berdiskusi) dengan mereka dengan cara yang lebih
baik.

Penanya : Untuk melengkapi manfaat dari pembahasan kita ini, yaitu
pembahasan yang berkaitan dengan sejumlah pertanyaan yang telah
diajukan hari ini, saya akan menyebutkan tentang ucapan mereka (para
pemuda yang ghuluw, pent.) ketika kami dinasehati bahwa kami tidak
seharusnya bertarahum terhadap mereka (para imam yang disebutkan di
pertanyaan pertama, pent.), tarahum terhadap mereka tidak wajib namun
hanya suatu hal yang mubah (diperbolehkan). Kami tidak mengharamkan
tarahum terhadap mereka. Hanya saja kami menghindari bertarahum
terhadap mereka dalam rangka untuk menjauhi segala bentuk pujian atau
tazkiyah terhadap ahlul bid’ah.

Lalu, tentang orang-orang yang tidak kami nyatakan sebagai ahlul bid’ah,
kami hanyalah tidak memuji mereka dan menyebut mereka sebagai imam
atau ulama terkemuka. Sebagai contoh jika ada sebuah perkataan
disandarkan kepada an-Nawawi, maka kami tidak mengatakan “imam
Nawawi berkata”… atau bahkan mereka (para pemuda yang ghuluw tadi,
pent.) menghindari dari mengambil riwayat dari beliau atau menukil ucapan
beliau ataupun bahkan menisbatkan suatu pernyataan kepada beliau.
Beberapa ikhwan meriwayatkan dari riwayat yang berasal dari orang-orang
ini, dan dikatakan kepadanya, “bagaimana bisa Anda meriwayatkan dari
orang-orang ini? Orang yang terakhir disebutkan tidaklah sama dengan orang yang pertama (disebutkan di dalam pertanyaan pertama tadi, pent.) seperti
Ibnu Hajar dan an-Nawawi, tapi (mereka) semisal Sayyid Quthb atau
Muhammad Quthb”. Mereka berkata, “Bagaimana bisa Anda mengambil
riwayat dari orang-orang ini padahal Anda telah tahu secara pasti bahwa
mereka ini bukanlah salafiyin? Jadi… Anda sebagai seorang salafiy, apabila
Anda turut mengambil riwayat dari mereka, maka Anda telah memuji
mereka dan memberikan tazkiyah kepada orang-orang yang bukan salafiyin.
Hal ini merupakan cara yang menyebabkan para pemuda yang masih baru
(belajar) menjadi bingung dan tertipu mengenai orang-orang ini, atau
mungkin dapat menyebabkan para pemuda ini menjadi seperti mereka di
dalam kebid’ahan dan penyimpangan mereka serta jauh dari manhaj yang
haq!!!”

Bagaimana komentar Anda -wahai Syaikh terhadap pernyataan ini???

Syaikh : Saya tidak yakin bahwa ini adalah maksud mereka, ini yang
pertama. Yang kedua, jika ini memang benar maksud mereka, (maka aku
tidak percaya) bahwa ini adalah ushlub (cara) yang diterima di dalam
mentarbiyah umat atau menyadarkan mereka. Orang-orang yang Anda
sebutkan ini, apakah mereka membaca Fathul Bari’ atau tidak?? Jika mereka
membacanya maka mereka telah salah, namun jika mereka mengatakan,
“kami tidak membacanya” maka dari manakah mereka akan mendapatkan
pemahaman tentang Shahih al-Bukhari??? Baik itu syarh (penjelasan)
mengenai fikih, perbedaan pendapat, ilmu mustholah-nya dengan seluk
beluknya baik dari segi istilah ataupun pemahamannya… mereka tidak akan
menemukan seorang pensyarh Shahih al-Bukhari di manapun di dunia ini
sebagai salafiy menurut definisi yang mereka miliki. Sekalipun ada, itu
hanyalah syarh singkat tentangnya.

Karena “samudera ilmu yang luas” (al-Baari`) ini membuka (fath) bagi
penulis Fathul Bari’, dan tidaklah ditemukan suatu buku apapun yang
sepadan dengannya (Fathul Bari`). Dengan demikian, mereka bakal rugi
dan kehilangan sebagian besar ilmu, apabila mereka memaksudkan untuk
mentahdzir (memperingatkan) umat supaya mau menjauhinya, yang mana
hal ini menyebabkan mereka tidak dapat mengambil manfaat dari
penjelasan para a`immah dan ulama’ yang besar ini, sehingga mereka telah
kehilangan ilmu. Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk menghimpun
perkara yang benar dan menghindari perkara yang berbahaya atau
menyimpang darinya, sebagaimana cara yang ditempuh oleh para ulama.
Tak ada satupun ulama setelah masa Ibnu Hajar al-Asqolani atau an-Nawawi
yang dapat memahami Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tanpa beristifadah
(memetik faidah) dari Syarh mereka berdua. Para ulama banyak yang beristifadah
dari kedua buku kedua ulama besar ini pada sebagian besar
permasalahan, padahal (mereka tahu) keduanya terpengaruh pemahaman
Asy’ariyah dan menyelisihi manhaj as-Salaf ash-Shalih dalam hal ini. Namun
mereka (para ulama tersebut) dapat mengambil ilmu dari kedua buku ini
dengan cara mengambil ilmunya yang benar dan bermanfaat dan
meninggalkan yang salah. Saya khawatir akan ucapan-ucapan mereka (para
pemuda yang ghuluw, pent.) -yang telah disebutkan tadi- bahwa ada suatu
tahdzir untuk mengambil manfaat dari buku-buku mereka, yang mana hal ini
adalah suatu kerugian yang sangat besar sekali…

Jika mereka mengatakan, “tidak, kami juga beristifadah dari buku-buku
mereka, kami membacanya dan mempelajarinya!”, kalau begitu, apa
manfaat manhaj mereka tadi? Yang mana mereka melarang bertarahum
terhadap para ulama ini, padahal para ulama ini adalah jelas-jelas muslim
sebagaimana yang telah kami utarakan di awal pembahasan tadi. Lebih jauh
lagi, apa manfaatnya ucapan mereka, “kami tidak melarang tarahum
terhadap para ulama ini namun hanya saja kami tidak mau melakukannya”.
Mengapa? “Karena mereka melakukan kebid’ahan.”

Padahal telah kami paparkan di muka tadi, bahwa tidaklah setiap orang
yang membuat suatu kebid’ahan maka dengan serta merta ia dianggap
mubtadi’ dan tidak pula setiap orang yang melakukan perbuatan kufur
dengan serta merta ia menjadi kafir. Bagi orang tersebut (para pelaku
bid’ah), kebid’ahan adalah suatu hal yang masih terselubungi dengan
syubuhat (kesamaran) dan lainnya, kekufuran juga masih syubuhat atas
mereka. Oleh karena itu, perbuatan ini bukanlah suatu perbuatan yang jelas
bid’ah atau kufur (di mata mereka). Dengan demikian, menyebut mereka
begitu (mubtadi’ atau kafir) sebagai bentuk pencegahan tidaklah
bermanfaat.

Selanjutnya, wahai ikhwan salafiyin -yang kholafiy-, apakah para ulama
yang kita mewarisi dakwah sholihah ini dari mereka, apakah begini ini sikap
mereka terhadap ulama?!! Ataukah ini merupakan sikapnya jama’ah baru
yang mengklaim sebagai salafiyin?! Yang benar adalah kebalikannya! Mereka
seharusnya seperti para salaf (pendahulu) kita di dalam menempuh dakwah
yang shalihah ini.

Penanya : Beberapa orang mengatakan bahwa siapa saja yang melakukan
bid’ah mukaffirah maka ia keluar dari lingkaran ahlus sunnah dan siapa saja
yang melakukan bid’ah mufassiqoh, maka ia tidak keluar dari lingkaran
ahlus sunnah, walaupun hujjah telah ditegakkan atasnya dan orang itu masih
tetap bersikeras melanjutkan kebid’ahannya. Apakah orang yang demikian
ini masih dianggap sebagai pengikut ahlus sunnah?

Syaikh : Apa maksudnya bid’ah mukaffirah dan bid’ah ghoyr mukaffirah???

Penanya : Bid’ah mukaffirah adalah suatu bid’ah dimana seseorang yang
mengucapkan suatu perkataan kufur, seperti mengatakan bahwa Alloh tidak
beristiwa’ di atas Arsy-Nya atau perkataan yang semisal dengan itu. Adapun
bid’ah mufassiqoh adalah seperti bid’ah-bid’ah di dalam ibadah, semisal
maulid dan sebagainya…

Syaikh : Pernyataan ini tidak benar. Pernyataan ini berangkat dari ilmu
kalaam (theologi). Pembagian antara bid’ah dalam hal ushul dan furu’ atau
bid’ah dalam ahkam atau ibadah, adalah pembagian yang bid’ah. Bagaimana
(menurut Anda) jika seandainya ada seseorang yang melaksanakan sunnah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam seperti (sholat) sunnah Fajr, namun dia
melaksanakannya sebanyak empat raka’at. Termasuk manakah bid’ah ini diklasifikasikan? Bid’ah mufassiqoh-kah atau mukaffiroh-kah apabila ia
membuat bid’ah empat raka’at dan ia tetap bersikeras melakukannya
(setelah ditegakkan hujjah atasnya, pent.)???

Penanya : Berdasarkan penjelasan mereka, hal ini termasuk bid’ah
mufassiqoh.

Syaikh : Ini adalah pernyataan yang bathil (salah). Di antara perkaraperkara
yang diwarisi oleh para kholaf -generasi yang terkemudian dari
salaf-, istilah salaf di sini yang kumaksudkan adalah makna yang berbeda
dengan makna teknis yang telah diketahui diantara kita, adalah adanya
taqsim (pembagian) antara kesalahan di dalam furu’ dan di dalam ushul.
Suatu kesalahan di dalam furu’ dimaafkan sedangkan kesalahan di dalam
ushul tidak termaafkan.

Ada sebuah hadits shahih yang telah ma’ruf (dikenal), yaitu : “Apabila
seorang hakim memutuskan suatu hukum dan ia berijtihad dan apabila
ijtihadnya benar maka baginya dua pahala, dan apabila salah maka baginya
satu pahala.” Hadits ini (oleh mereka) difahami jika salahnya dalam masalah
furu’, namun apabila salah dalam masalah ushul maka kesalahannya tak
terampuni. Pembagian semacam ini tidak memiliki dasar, baik dari al-
Qur’an, as-Sunnah maupun ucapan as-Salaf ash-Shalih. Yang ada di dalam
ucapan para as-Salaf ash-Shalih adalah sebuah peringatan yang keras
terhadap segala bentuk bid’ah secara umum, baik di dalam masalah aqidah
maupun ibadah.

Telah kusebutkan tadi di awal, bahwa barangsiapa yang menuduh seorang
muslim kafir, maka dirinya sendiri yang kafir (apabila tuduhannya tidak
benar, pent.), dan telah saya tambahkan pula, bahwa barangsiapa yang
menuduh seorang muslim sebagai mubtadi’ maka ia sendiri yang mubtadii’,
karena pada hakikatnya, tidak ada perbedaan bagiku antara kekufuran dan
kebid’ahan.

Apabila seorang muslim mulai melakukan kebid’ahan dan telah dijelaskan
akan hakikat kebid’ahan yang ia amalkan namun ia masih bersikeras
melakukannya -sebagaimana contoh yang telah kukemukakan sebelumnyamaka
hal ini sama dengan seseorang yang mengingkari istiwa’-nya Alloh di
atas Arsy atau mengingkari al-Qur’an adalah Kalamullah. Tidak ada bedanya
antara yang tadi dengan yang ini sedikitpun, tidak secara positif dan tidak
pula secara negatif. Jika secara positif, maka ia telah kufur dengan syarat
yang telah disebutkan dan telah ditegakkan hujjah atasnya. Sedangkan jika
secara negatif, maka tidak ada takfir (vonis kafir) -tidak dalam hal ini dan
tidak pula dalam hal tersebut- kecuali dengan syarat yang telah disebutkan.
Kembali ke pembahasan, sesungguhnya mu’tazilah dan khowarij memiliki
titik temu yang sama dalam beberapa penyimpangannya dan berselisih
dalam beberapa hal lainnya. Contohnya, khowarij dan mu’tazilah samasama
menyatakan al-Qur’an itu makhluk… namun, para muhadditsun (ulama ahli hadits) tidak ada satupun yang mengkafirkan khowarij. Jadi, bagaimana
caranya kita menyatukan dalam benak kita bahwa orang yang mengingkari
aqidah adalah kafir sedangkan orang yang melakukan kebid’ahan adalah
fasiq?? Kita perhatikan, bahwa para imam ahli hadits meriwayatkan dari
orang-orang khowarij dan mu’tazilah padahal mereka menyimpang dari
aqidah yang shahih dalam beberapa perkara masalah. Mereka misalnya,
mengatakan bahwa Kalamullah adalah makhluk, mereka juga mengingkari
ru’yatullah (melihat Alloh) di akhirat kelak. Pengingkaran tersebut, dan
pengingkaran mereka yang sebelumnya -berdasarkan definisi sebelumnyalayak
untuk ditetapkan kepada mereka, yaitu kafir. Namun… tidaklah setiap
orang yang terjerumus kepada kekufuran maka ia dengan serta merta
menjadi kafir.

Bagaimana cara kita mengkompromikan ketika kita mendapati para imam
ahli hadits dan imam salaf semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan
(muridnya, pent.) Ibnul Qoyyim menvonis sesat kepada khowarij dan
mu’tazilah, namun tidak menvonis mereka kafir?? Hal ini -menurut merekakarena
ada beberapa kemungkinan, yaitu : pertama, perkara tersebut penuh
dengan syubuhat, dan yang kedua, hujjah belum sampai kepada mereka.
Kita kembali kepada pokok permasalahan, taruhlah mereka adalah ahlul
bid’ah… namun kita tidak tahu apakah mereka sengaja bermaksud
melakukan bid’ah tersebut??? Dan apakah hujjah telah ditegakkan atas
mereka?? Dan lain lain…

Inilah manhaj ulama di dalam menghukumi kesesatan mu’tazilah, kesesatan
khowarij, kesesatan asy’ariyah dalam berbagai masalah, namun mereka
semua tidak sampai mengkafirkan mereka, karena adanya kemungkinan yang
telah kami sebutkan tadi. Hal ini berkisar pada dua hal, yaitu : Pertama,
mereka tidak bermaksud membuat bid’ah dengan sengaja dan tanpa
bermaksud menyelisihi sunnah. Kedua, kita tidak tahu apakah telah
ditegakkan hujjah kepada mereka ataukah belum?, jadi hisab (perhitungan)
mereka adalah kembali kepada Alloh, karena kita hanya menilai dari yang
zhahir (tampak) bahwa mereka adalah kaum muslimin dan mati dalam
keadaan Islam serta dikuburkan di pekuburan kaum muslimin.
Jadi… membedakan antara bid’ah mukaffiroh dan bid’ah mufassiqoh adalah
: pertama, ini termasuk perbedaan istilah yang dikembangkan oleh ahli
kalam, dan kedua, tidak ada dalil yang menunjukkan pembagian ini sama
sekali.

Saya tutup pembicaraan ini dengan menyebutkan sebuah hadits dari Shahih
al-Bukhari yang menunjukkan bahwa tidak setiap orang yang terjerumus
kepada kekufuran maka dirinya menjadi kafir dengan serta merta.
Diriwayatkan oleh dua sahabat besar Nabi, Abu Sa’id al-Khudri dan
Hudzaifah bin al-Yaman -Radhiyallahu ‘anhuma- mereka berkata, bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
“Dahulu pada zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang lelaki yang
sedang sekarat, lalu ia mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya. Ia
berkata kepada mereka, “Bapak seperti apakah aku ini di mata kalian?”
mereka menjawab, “sebaik-baik bapak”. Dia melanjutkan, “Sesungguhnya
aku belum pernah berbuat kebajikan sekecil apapun, jika Alloh
menakdirkanku maka Ia akan menyiksaku dengan siksa yang amat keras. Jika
aku mati, bawalah mayatku dan bakarlah dengan api kemudian sebagian
debunya hamparkan di atas lautan dan sebagian lagi biarkan diterpa angin.”

Lalu diapun mati. Anak-anaknya kemudian membakarnya dan membiarkan
separuh debunya diterpa angin dan separuhnya lagi dihamparkan di lautan.
Alloh Azza wa Jalla lalu berfirman kepada debunya yang beterbangan di
udara, “jadilah fulan” maka ia pun menjadi fulan. Alloh Azza wa Jalla lalu
berfirman kepadanya, “hai hambaku, apa yang menyebabkanmu berbuat
demikian?” ia menjawab, “Rabbku, sesungguhnya (Engkau telah tahu) aku
melakukannya karena takut kepada-Mu.” Alloh berfirman lagi kepadanya,
“pergilah, karena Aku telah mengampunimu.”

Ada sebuah pertanyaan, apakah lelaki itu kufur dengan ucapannya, “Apabila
Alloh menakdirkanku…” ataukah ia tidak kufur? Iya, dia telah kufur, namun
Alloh mengampuninya.

Kita telah tahu pula dari al-Qur’an al-Karim bahwa Alloh tidak akan
mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa selainnya kepada siapa
saja yang dikehendaki-Nya. Bagaimana kita memahami hadits ini sebagai
penerang makna yang jelas dari al-Qur’an? (Maknanya) yaitu bahwa Alloh
takkan mengampuni dosa syirik yang disengaja. Bagaimana menurut Anda
syarat (disengaja) ini? Ini benar. Namun apakah ada syarat ini di dalam ayat
tadi? Tidak, tidak ada… lantas dari mana kita memperoleh (syarat) ini?? Ini
dari syariat. Hal ini tadi diambil hanya dari satu buah hadits atau satu buah
ayat saja, namun hal ini diambil dari kombinasi antara keduanya yang
berkaitan dengan permasalahan.

Maka dari itu, bukan hanya dalam pembahasan fikih saja dibutuhkan
kombinasi dari seluruh nash yang berkaitan hingga kita mengetahui mana
nash yang nasikh dan yang mansukh, mana yang ‘am (umum) dari yang
khash (khusus), mutlak dan muqoyyad, dan lain lain… Bahkan sebenarnya,
hal ini lebih diperlukan di dalam masalah aqidah.

Ketika para ulama menjelaskan ayat, “Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik”, mereka biasanya tidak sampai sedetail ini di
dalam memahaminya karena masalah ini cukup jelas bagi mereka sehingga
tidak memerlukan lagi tafshil (detail) yang seperti ini. Namun ketika
musykilah (problematika) dan perkara yang membingungkan muncul pada
saat ini, maka diperlukan ulama yang alim yang menjelaskannya sebatas
ilmu yang ia miliki. Jadi orang yang membuat permohonan ini (yang
disebutkan di dalam hadits di atas, pent.) tidak membayangkan bahwa
permohonannya tersebut mengandung kesalahan dan kesesatan yang tiada
bandingannya. Ia meminta supaya dirinya dibakar dalam rangka untuk
bersembunyi dari tuhannya, padahal Alloh Subhanahu berfirman : ” Dan ia
membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia
berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang Telah
hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang
menciptakannya kali yang pertama. dan dia Maha mengetahui tentang
segala makhluk.”. Namun setelah itu tuhan kita mengampuninya.
Mengapa? Karena kekufuran tidak merasuk ke dalam hati orang itu. Hal ini
dikarenakan ia membayangkan dosa-dosanya dan rasa takutnya kepada Alloh
apabila ia bertemu dengan-Nya, bahwa Alloh akan mengadzabnya dengan
siksa yang amat pedih. Rasa takut dan kekhawatirannya membutakan dirinya dari aqidah yang shahih sehingga ia membuat permohonan tersebut. Dan
hadits ini jelas (menunjukkan ampunan Alloh, pent.) dimana Alloh Ta’ala
berfirman kepadanya, “Pergilah karena Aku telah mengampunimu”.

Tidak sepatutnya kita membayangkan bahwa Sayyid Quthb terjerumus
kepada Wahdatul Wujud (Pantheisme) sebagaimana Ibnu ‘Arabi -misalnya-,
bahwasanya dirinya, yakni Sayyid Quthb, bermaksud demikian dan hatinya
terikat atasnya, sebagaimana Ibnu ‘Arabi yang telah menyesatkan jutaan
kaum muslimin shufiyin dan lain lain. Mungkin… masih tertinggal
pemahaman sufi yang terdetik di dalam benaknya atau terbesit di dalam
hatinya ketika ia masih dipenjara, sedangkan dia tidak memiliki ilmu yang
sempurna tentang hal ini. Kemudian ia menulis suatu pernyataan yang mana
akulah orang pertama yang mengkritisinya.

Kita tidak bisa menghukuminya sebagai kafir, karena kita tidak tahu apakah
kekufuran telah merasuk ke dalam hatinya atau hujjah (bukti) akan
kesalahan tulisan atau pemikirannya telah dijelaskan padanya, terutama
pada saat dirinya dipenjara. Aku tidak berfikir bahwa hal itulah masalahnya.
Oleh karena itu, kita tidak bisa mengaitkan antara seorang muslim yang
melakukan kekufuran dengan orang yang benar-benar kafir semenjak
awalnya. Kita tidak mengaitkan dua hal ini sekaligus. Ini yang pertama. Dan
tahdzir (peringatan) akan hal ini telah berulang-ulang. Dan tentu saja -yang
kedua-, kita tidak membedakan antara bid’ah di dalam aqidah dan bid’ah di
dalam ibadah, karena adakalanya keduanya merupakan kesesatan dan
adakalanya merupakan kekufuran. Mungkin jawaban ini sudah cukup wahai
Abu Abdurrahman…?

Penanya : Apakah memuji ahlul bid’ah semisal at-Turabi atau orang yang
semisal dengannya dibolehkan, walaupun mereka mengklaim telah
berkhidmat untuk Islam dan mereka berupaya di balik itu (untuk kemajuan
Islam, pent.)??

Syaikh : Jawabannya berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi. Apabila
maksud pujian tersebut terhadap seorang muslim yang kita duga sebagai
mubtadi’, dan kita tidaklah mengatakan dia (benar-benar) mubtadi’.
Setelah muhadhoroh (ceramah) yang panjang ini, kita dapat membedakan
antara dua hal ini insya Alloh. Jika maksud pujian terhadapnya adalah
dalam rangka difa’ (pembelaan) terhadap dirinya dari kaum kafir, maka hal
ini adalah wajib. Namun apabila maksud pujian terhadapnya adalah untuk
memperindah manhajnya dan mengajak manusia kepadanya, maka hal ini
termasuk tadhlil (penyesatan) dan tidaklah diperbolehkan.

Penanya : Apakah benar dari yang kami dengar (dari Anda) bahwa menghajr
mubtadi’ pada zaman ini tidak dapat diimplementasikan?

Syaikh : Dia (penanya) bermaksud mengatakan bahwa praktek hajr tidak
layak untuk diterapkan, apakah benar tidak layak diterapkan? Yang benar
adalah praktek hajr memang tidak diterapkan karena mubtadi’, orang-orang
fasik dan fajir (durhaka) mayoritas di zaman ini. Akan tetapi dia (penanya)
ingin mengatakan tidak layak untuk diimplementasikan. Dan penanya
seakan-akan memaksudkanku dengan pertanyaannya ataukah tidak memaksudkanku.

Maka aku katakan, “iya” keadaannya adalah demikian,
tidak layak untuk diterapkan. Saya telah mengatakannya dengan jelas tadi
ketika aku membuat permisalan tentang perkataan Syaami (orang Syam) :
“Kamu menutup (pintu masjid) maka aku tidak sholat.”

Penanya : Tapi (wahai syaikh), misalkan ada sebuah lingkungan, dan yang
dominan di lingkungan ini adalah ahlus sunnah misalnya, kemudian
ditemukan ada sekelompok orang yang berbuat bid’ah di dalam agama Alloh
Azza wa Jalla, maka apakah (hajr) diterapkan ataukan tidak?

Syaikh : Apakah kelompok yang berbuat bid’ah itu berasal dari lingkungan
itu juga??

Penanya : Iya benar, yaitu (mereka berada) di lingkungan yang kebenaran
dominan di dalamnya, kemudian muncul kebatilan atau kebid’ahan, maka
pada kondisi yang seperti ini, apakah (hajr) diterapkan atau tidak???

Syaikh : Yang wajib adalah kita harus menggunakan hikmah. Jika kelompok
yang lebih kuat yang mayoritas menghajr kelompok yang menyeleweng -kita
kembalikan kepada pembahasan yang telah lalu- apakah hal ini akan
memberikan manfaat pada kelompok yang berpegang pada kebenaran
ataukah malah akan mencederai (memudharatkan)nya? Ini dari satu sisi.
Kemudian dari sisi lain apakah hajr yang diterapkan oleh ath-Thaifah al-
Manshurah bermanfaat bagi kelompok yang dihajr atau justru menimbulkan
mudharat bagi mereka. Jawabannya telah lalu.

Tidaklah patut dalam permasalahan seperti ini kita mengambil sikap dengan
hamasah (semangat) dan ‘athifah (perasaan) belaka, namun seharusnya
dengan sikap hati-hati, tenang (tidak gegabah) dan penuh hikmah.
Contohnya di sini adalah salah seorang dari mereka menyelisihi jama’ah,
Apakah (lantas dikatakan) wahai orang yang memiliki ghirah Alloh, isolir
dirinya?!!

Tidak! Namun bersikap lembutlah kepadanya, nasehati dia, tuntunlah
dirinya, dan seterusnya… temanilah dirinya selama beberapa waktu, dan
apabila sudah tidak bisa diharapkan lagi -ini yang pertama-, kemudian
dikhawatirkan penyakitnya menular kepada Zaid, Bakr dan lainnya, maka
pada keadaan seperti ini dia perlu diisolir (muqotho’ah) apabila diduga kuat
bahwa muqotho’ah adalah obat yang terbaik, sebagaimana dikatakan, obat
yang terakhir adalah kay.

Pada zaman ini, aku tidak menasehatkan atau menganjurkan untuk
menggunakan hajr sebagai solusi karena mudharatnya lebih besar ketimbang
manfaatnya. Dan dalil terbesar adalah fitnah yang sekarang ini terjadi di
Hijaz. Mereka semua dipersatukan oleh dakwah tauhid, dakwah kepada al-
Qur’an dan as-Sunnah. Namun, sebagian di antara mereka memiliki kegiatan
khusus, baik dalam bidang politik atau dalam sejumlah pemikiran yang
sebelumnya tidak dikenal dari seorang pun ulama, yang bisa jadi pemikiran
tersebut kadang benar dan kadang salah. Maka kita tidak sabar untuk
mendengar sesuatu yang baru, terutama apabila perkaranya adalah suatu
yang tampak jelas oleh kita sebagai suatu kemungkaran, sehingga kita
langsung begitu saja memeranginya.

Ini adalah suatu kesalahan wahai saudaraku… ini adalah kesalahan!!! Apa
kau mengharap teman yang tak punya kesalahan sedikitpun? Namun apakah
kayu gaharu dapat terbakar tanpa mengeluarkan asap???

Kami berangan-angan sekiranya Ikhwanul Muslimin hanya sama seperti kita
dalam masalah tauhid, itu saja. Hanya sama dalam tauhid saja sehingga
Anda bisa bersama mereka namun mereka tidak ridha bersama kita
walaupun dalam masalah aqidah. Mereka menganggap bahwa menghidupkan
khilafiyah hanya mencerai-beraikan barisan dan seterusnya… Mereka,
saudara-saudara kita tersebut, menyempal dari mereka sebuah jama’ah atau
mereka yang menyempal dari jama’ah -wallahu a’lam-, mereka itu
(sebenarnya) bersama kita di atas jalan kita, yakni al-Qur’an, as-Sunnah dan
di atas manhaj as-Salaf ash-Shalih. Hanya saja mereka membawa suatu
pemikiran baru yang kenyataannya sebagiannya salah dan sebagiannya
benar.

Lantas, mengapa kita sekarang menyebarkan di antara kita dan sebagian
kita kepada sebagian yang lain, perpecahan dan tahazzub (berpartai-partai)
dan ta’ashshub (fanatisme? Padahal dulu kita -ahlus sunnah- adalah satu
kelompok, lalu kemudian menjadi dua kelompok dan kemudian menjadi tiga
kelompok. Jadilah ahlus sunnah (dengan sebutan) Safariyyun, Sururiyyun, dan seterusnya… Allohu Akbar!!! Yang memecah belah mereka hanyalah
suatu perkara yang tidak layak untuk menjadi sebab perpecahan. Tidak ada
perbedaan pada perkara-perkara besar yang tidak terbayangkan bahwa
salafiyyun akan bertikai di dalamnya. Kita semua tahu dengan baik bahwa
para sahabat berselisih di dalam beberapa permasalahan, namun manhaj
mereka tetap satu!!!

Jadi, apabila ada sejumlah orang yang menyeleweng dari jama’ah ahlus
sunnah atau ath-Tha’ifah al-Manshurah, maka hendaknya kita mensikapi
mereka dengan lemah lembut dan halus wahai saudara, dan kita harus
berupaya menjaga mereka agar senantiasa bersama jama’ah. Kita tidak
menghajr dan mengisolir (muqotho’ah) mereka, kecuali apabila kita
khawatir akan suatu keburukan dari mereka. Namun kekhawatiran ini tidaklah muncul dan tampak begitu saja. Tidak sesederhana apabila ada
seorang yang menampakkan sebuah pendapat yang menyelisihi pendapat
jama’ah maka dengan serta merta kita langsung segera memboikotnya. Kita
harus sabar tidak tergesa-gesa dan meneliti lebih dahulu, semoga Alloh
memberi petunjuk kepada hatinya atau kemudian telah menjadi jelas atas
kita bahwa mengisolir (muqotho’ah)-nya ternyata cara terbaik.

Penanya : Apakah ada hal lain yang diperlukan selain menegakkan hujjah
kepada orang kafir agar dapat digolongkan sebagai kafir, atau kepada
seorang mubtadi’ agar dapat digolongkan sebagai mubtadi’, atau maksiat,
seperti meyakinkan atau menghilangkan syubhat (keragu-raguan)?

Syaikh : Tidak, hal ini tidak perlu. Namun apa yang diperlukan adalah ilmu.
Karena dengan ilmulah hujjah dapat tegak. Dia (orang yang menegakkan
hujjah, pent.) haruslah seorang pewaris nabi (ulama, ed.) dan bukan orang
biasa di antara orang-orang yang bermacam-macam.

Penanya : Apakah jama’ah tabligh termasuk kelompok yang dibicarakan
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam? Apakah al-Ikhwan dan at-Tabligh
termasuk diantara kelompok (yang selamat) yang nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam mengabarkannya kepada kita??

Syaikh : Tidak… tidak… al-Ikhwan al-Muslimun di dalam barisan mereka,
terdapat anggota-anggotanya yang berasal dari berbagai macam kelompok.
Diantara mereka ada yang syi’ah dan lain lain… oleh karena itu, tidaklah
benar menyematkan kepada mereka label tunggal. Bahkan sesungguhnya
kita katakan siapa saja di antara anggota-anggota mereka yang
menggunakan manhaj yang menyelisihi manhaj (salaf), maka individu
tersebut bukanlah termasuk al-Firqoh an-Najiyah (golongan yang selamat).
Bahkan, ia termasuk golongan yang binasa. Salafiyyun sendiri… apa yang
Anda fikirkan? Penilaian terhadap mereka juga dibuat pada tiap individunya
masing-masing… (Selesai)

Sumber : Situs Abusalma

One Comment to “TANYA JAWAB BERSAMA AL-IMAM AL-MUHADDITS MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI – HAKIKAT BID’AH DAN KUFUR”

  1. terus terang saya mrasa prihatin pada beberapa ulama salafiyyin yang terlalu keras dalam mentahdzir umat dari beberapa ulama, semisal karangan asy-syaikh rabi’ bin hadi dan asy-syaikh luqman bin muhammad ba’abduh rahinahumullah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: