Pernikahan Terlarang Dalam Islam


Nikah Syighar

Definisi nikah ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam “Nikah syighar adalah seseorang yang berkata kepada orang lain, ‘Nikahkanlah aku dengan puterimu, maka aku akan nikahkan puteriku dengan dirimu.’ Atau berkata, ‘Nikahkanlah aku dengan saudara perempuanmu, maka aku akan nikahkan saudara perempuanku dengan dirimu”

Dalam hadits lain, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada nikah syighar dalam Islam”

Hadits-hadits shahih di atas menjadi dalil atas haram dan tidak sahnya nikah syighar. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan, apakah nikah tersebut disebutkan mas kawin ataukah tidak [Lihat al-Wajiiz (hal. 296-297) dan al-Mausuu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (hal. 53-56)].

Nikah Tahlil

Yaitu menikahnya seorang laki-laki dengan seorang wanita yang sudah ditalak tiga oleh suami sebelumnya. Lalu laki-laki tersebut mentalaknya. Hal ini bertujuan agar wanita tersebut dapat dinikahi kembali oleh suami sebelumnya (yang telah mentalaknya tiga kali) setelah masa ‘iddah wanita itu selesai.

Nikah semacam ini haram hukumnya dan termasuk dalam perbuatan dosa besar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat muhallil dan muhallala lahu ”

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah terputus. Yaitu menikahnya seorang laki-laki dengan seorang wanita dalam jangka waktu tertentu; satu hari, tiga hari, sepekan, sebulan, atau lebih.

Para ulama kaum muslimin telah sepakat tentang haram dan tidak sahnya nikah mut’ah. Apabilah telah terjadi, maka nikahnya batal!

Telah diriwayatkan dari Sabrah al-Juhani radhiyal-laahu ‘anhu, ia berkata “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kami untuk melakukan nikah mut’ah pada saat Fathul Makkah ketika memasuki kota Makkah. Kemudian sebelum kami mening-galkan Makkah, beliau pun telah melarang kami darinya (melakukan nikah mut’ah)” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1406 (22))]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku pernah mengijinkan kalian untuk bersenang-senang dengan wanita (nikah mut’ah selama tiga hari). Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal tersebut (nikah mut’ah) selama-lamanya hingga hari Kiamat”

Nikah dalam masa ‘iddah.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala “Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa ‘iddahnya” [Al-Baqarah : 235]

Nikah dengan wanita kafir selain Yahudi dan Nasrani .

Berdasarkan firman Allah Ta’ala “Dan janganlah kaum nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedangkan Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” [Al-Baqarah : 221]

Nikah dengan wanita-wanita yang diharamkan karena senasab atau hubungan kekeluargaan karena pernikahan.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala “Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perem-puanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [An-Nisaa’ : 23]

Nikah dengan wanita yang haram dinikahi di-sebabkan sepersusuan, berdasarkan ayat di atas.

Nikah yang menghimpun wanita dengan bibinya, baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya.

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam “Tidak boleh dikumpulkan antara wanita dengan bibinya (dari pihak ayah), tidak juga antara wanita dengan bibinya (dari pihak ibu)”

Nikah dengan isteri yang telah ditalak tiga.

Wanita diharamkan bagi suaminya setelah talak tiga. Tidak dihalalkan bagi suami untuk menikahinya hingga wanitu itu menikah dengan orang lain dengan pernikahan yang wajar (bukan nikah tahlil), lalu terjadi cerai antara keduanya. Maka suami sebelumnya diboleh-kan menikahi wanita itu kembali setelah masa ‘iddahnya selesai.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala “Kemudian jika ia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum ia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan bekas isteri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.” [Al-Baqarah : 230]

Wanita yang telah ditalak tiga kemudian menikah dengan laki-laki lain dan ingin kembali kepada suaminya yang pertama, maka ketententuannya adalah keduanya harus sudah bercampur (bersetubuh) kemudian terjadi perceraian, maka setelah ‘iddah ia boleh kembali kepada suaminya yang pertama. Dasar harus dicampuri adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam “Tidak, hingga engkau merasakan madunya (ber-setubuh) dan ia merasakan madumu”

Nikah pada saat melaksanakan ibadah ihram.

Orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram tidak boleh menikah, berdasarkan sabda Nabi shallal-laahu ‘alaihi wa sallam “Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah atau melamar”

Nikah dengan wanita yang masih bersuami.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala “Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami…” [An-Nisaa’ : 24]

Nikah dengan wanita pezina/pelacur.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala “Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” [An-Nuur : 3]

Seorang laki-laki yang menjaga kehormatannya tidak boleh menikah dengan seorang pelacur. Begitu juga wanita yang menjaga kehormatannya tidak boleh menikah dengan laki-laki pezina. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia (Surga).” [An-Nuur : 26]

Namun apabila keduanya telah bertaubat dengan taubat yang nashuha (benar, jujur dan ikhlas) dan masing-masing memperbaiki diri, maka boleh dinikahi.

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma pernah berkata mengenai laki-laki yang berzina kemudian hendak menikah dengan wanita yang dizinainya, beliau berkata, “Yang pertama adalah zina dan yang terakhir adalah nikah. Yang pertama adalah haram sedangkan yang terakhir halal” [Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (VII/155). Lihat Adabul Khitbah waz Zifaf (hal. 29-30)]

Nikah dengan lebih dari empat wanita.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat…” [An-Nisaa’ : 3]

Ketika ada seorang Shahabat bernama Ghailan bin Salamah masuk Islam dengan isteri-isterinya, sedangkan ia memiliki sepuluh orang isteri. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memilih empat orang isteri, beliau bersabda, “Tetaplah engkau bersama keempat isterimu dan ceraikanlah selebihnya”

Juga ketika ada seorang Shahabat bernama Qais bin al-Harits mengatakan bahwa ia akan masuk Islam sedangkan ia memiliki delapan orang isteri. Maka ia mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaannya. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pilihlah empat orang dari mereka”

Sumber :

Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006

8 Komentar to “Pernikahan Terlarang Dalam Islam”

  1. Assalamu ‘alikum…
    Langsung saja saya mau tanya tentang wanita yang halal untuk dinikahi :

    Aku dan dia (wanita itu) saling cinta dan ingin berencana untuk menikah, akan tetapi kami masih dalam satu rumpun saudara (keluarga).

    Hubungan keluarga antara aku dan dia (wanita itu):
    – Dia adalah anak dari Bibi tiriku,
    – Orang tua dia adalah Adik tiri Ibuku

    Hubungan Ibuku dangan Ibunya :
    – Ibuku dan Ibunya lahir dari satu rahim Ibu yaitu Nenekku, namun beda Ayah (Kakekku, kakek tiri dia (wanita itu))

    Intinya, kami mempunyai nenek yang sama akan tetapi mempunyai kakek yang berbeda.

    Bolehkah wanita itu saya nikahi?
    Mohon penjelasannya.
    Terima kasih

    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

    Abu Al Maira :

    Wa alaykum salam warahmatullah

    Insya Allah boleh Pak Ipul. Silahkan anda baca lagi QS An Nisaa:23.

    Wasalamu ‘alaykum warahmatullah wabarakatuh…

  2. bagus bagt soale sesuai dengan kajian yang mau aku teliti di salah satu desa di kabupaten malang nikah di bawah umur gak jamin seseorang paham tenatng hukum perkawina asslkum Wr

  3. bagaimana hukumnya orang mukmin menikah dengan wanita yang pernah berzina dengan mantan pacarnya dan dia sudah bertobat.Niat dari ikhwan mukmin untuk membantu/membimbing kpd wanita agar tidak kembali ke jalan semula

    Abu Al Maira :

    Selama si wanita sudah bertaubat secara sungguh2 dan tidak lagi mengulangi perbuatannya, kemudian yang bersangkutan menikah, maka nikahnya sah.

  4. bagaimana hukumnya jikalau wanita non muslim menikahi pria non muslim

    Abu Al Maira :
    ya dua2nya non muslim ya gak papa

  5. tanya kk

    kalo pernikahan adik kandung ayah dengan adik kandung ibu itu haram atau tidak? mohon dalil nya juga kk dan pencerahan…… terima kasih

    Abu al Maira :
    Yang tidak dilarang berarti boleh….

  6. Assalamu ‘alikum…
    Langsung saja saya mau tanya tentang wanita yang halal untuk dinikahi :

    Aku dan dia (wanita itu) saling cinta dan ingin berencana untuk menikah, akan tetapi kami masih dalam satu rumpun saudara (keluarga).

    Hubungan keluarga antara aku dan dia (wanita itu):
    – Dia adalah anak dari ibu ayah tiriku,
    – Orang tua dia adalah Ibu dari ayah tiri ku

    Abu al Maira :
    Alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh…
    Kejadian seperti ini juga pernah terjadi di keluarga istri saya.
    Kebetulan pamannya istri menikah dengan adik ayah tirinya, dan mereka menikah dengan resmi.
    Hanya saja kalau menilik kasus anda, dan menilik QS An Nisaa ayat 23, dimana ada statement “Diharamkan atas kamu………. saudara-saudara bapakmu yang perempuan….”, disini tidak dikatakan apakah saudara2 bapakmu yg kandung/seibu, jadi sepertinya berlaku secara umum [menurut pemahaman saya].
    Amannya, maaf beribu maaf, saya belum bisa menjawab dengan pasti…. Baiknya anda konsultasi dengan ustadz2 yang alim atau ke KUA/Pengadilan Agama…
    Baarakallahu fiik…

  7. Asslamu alaikum saya mw brtanya?
    Bgaimana hukumnya jika menikahi seorang wanita dimana wanita itu merupakan anak dari adik ayah saya

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Menikahi sepupu [anak dari kakak/adik ayah/ibu] hukumnya halal…

  8. Saya agk bngung ada yg bilang kalo menikahi sepupu dari ayah itu haram (anak dari saudara ayah saya)
    itu bnar tdak?

    Abu al Maira :

    “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.” (QS. Al-Ahzab: 50)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: