Hukum Aurat Pria – Paha Pria Tidak Termasuk Aurat [Kencenderungan Pendapat Syaikh ibnu Utsaimin]


Al-Imam Ibnu Utsimin banyak ditanya seputar masalah aurat ini. Berikut diantaranya secara spesifik masalah paha, saya kutip dari Fatawa wa Rasa’il Ibnu Utsaimin (170 dan 937) :
(170)

S: Apakah paha termasuk aurat?

J: Terdapat perbedaan pendapat dalam masalah ini, diantara ahli ilmu ada yang berpendapat bahwa paha bukan termasuk aurat pria dan tidak wajib ditutupi. Zhahir perkataan mereka menunjukkan bahwa hal ini berlaku secara mutlak baik dalam sholat ataupun diluar sholat.

Sementara yang lain berpendapat bahwa paha termasuk aurat baik di dalam sholat ataupun diluar sholat.

Hadits-hadits berkenaan dengan masalah paha termasuk aurat atau bukan tidak terlepas dari apakah dia itu shohih tapi tidak tegas menyatakan paha adalah aurat (shohihah ghairu shorihah) atau tegas menyatakan aurat tapi derajatnya tidak shohih (shorihah ghairu shohihah). Oleh karenanya Al-Imam Al-Bukhari berkata: Sesungguhnya hadits Anas itu asnad (lebih kuat dan lebih shohih dari sisi sanad) dan hadits Jarhad itu ahwath (dari sisi makna lebih hati-hati dan menjaga diri).

Seolah-olah Al-Imam Al-Bukhari menyatakan bahwa hadits-hadits yang shohih menujukkan bahwa paha bukan termasuk aurat lantaran paha Nabi pernah terlihat, padahal Nabi adalah manusia yang paling pemalu. Kalau seandainya paha adalah aurat tentu Nabi tidak akan memperlihatkannya.

Memang ada hadits Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya paha termasuk aurat.” Dan sabdanya: “Jangan kamu perlihatkan pahamu dan jangan pula melihat paha orang lain baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal dunia.” Namun hadits-hadits ini semuanya dlo’if.

والذي يظهر لي أن الفخذ ليس بعورة إلا إذا خيف من بروزه فتنة فإنه يجب ستره كأفخاذ الشباب

Dan yang tampak bagi saya (yazhar lii) bahwa paha bukan termasuk aurat kecuali apabila dikhawatirkan muncul fitnah dengan ditampakkanya paha tersebut. Dalam kondisi ini maka wajib ditutupi, seperti misalnya paha para pemuda.

(937)

J: … Adapun terlambatnya kalian sholat lantaran menonton pertandingan sepak bola, maka -demi Allah- saya nasihatkan kepada kalian dengan nasihat seorang yang benar-benar penuh kasih sayang, jangalah kalian membuang-baung waktu yang sangat berharga untuk menyaksikan pertandingan sepak bola, karena saya sama sekali tidak melihat manfaat yang bisa kalian peroleh baik di dunia ataupun di akhirat. Sungguh yang demikian ini sejatinya hanyalah membuang-buang waktu saja.

Ditambah lagi, umumnya pertandingan tersebut -seperti yang saya dengar ceritanya – di sana menampakkan aurat. Anda bisa jumpai celana yang hanya sampai setengah paha atau semisal itu sementara mereka adalah para pemuda. Padahal yang namanya pemuda jelas merupakan fitnah apabila terlihat pahanya…..

Demikian, mudah-mudahan ini yang Pak Abu Jibrin inginkan.

Catatan:

Perhatikan setiap kalimat yang digunakan oleh para ulama ketika memberikan fatwa. Kalimat: walladzii yazhru li tentu berbeda dengan warraajih ‘indii (yang rajih menurut saya) atau wash-shawaab (yang benar adalah) dst..

Kalimat yang pertama tentu dilandaskan pada apa yang tampak dari dalil-dalil yang ada… adapun kalimat yang lainya itu menujukkan bahwa yang berkata sudah melakukan pembahasan dan penelitian mendalam serta berujung pada kesimpulan tersebut.

Dengan demikian, ketika kita akan menukil perkataan/pendapat mereka pastikan mana yang disampaikan dengan redaksi jazm (pasti) atau redaksi yang lebih “lunak” dari itu. Karenanya saya katakan beliau condong kepada pendapat bahwa paha tidak termasuk aurat bukan beliau menyatakan bahwa paha tidak termasuk aurat.

Dengan adanya contoh ini, jika kita berpegang pada kesimpulan Imam Ibnu Utsaimin, kemudian besok berjumpa dengan kesimpulan Imam Ibnu Baz, esoknya lagi jumpa degan kesimpulan Imam-Imam yang lainnya, maka bagaimana saudara sekalian akan menentukan dan memilih mana yang benar untuk dipegang?

Tentunya semuanya kita kembalikan kepada apa yang sudah dan sedang kita usung bersama, bahts, itulah solusinya. Melalui metoda bahts dengan ilmu hadits dan ushul fiqih sebagai alat utamanya, tentu kita akan bisa mengetahui rahasia dan semua yang melatar belakangi kesimpulan-kesimpulan tersebut dan dengan demikian insya Allah kita akan mantap untuk memilih mana yang dirasa lebih kuat dari sisi dalil dan argumentnya. Silakan dianalogikna untuk kasus-kasus yang lainnya.

Sumber :

Tulisan Abu Ishaq dari milis salafyitb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: