Istri Mensyaratkan Untuk Tidak Dipoligami


Masalah ini bukan masalah biasa yang bisa dengan mudah kita bawa ke khalayak ramai. Pastikan kita cukup bijak dalam menyikapinya. Apa yang sedari dulu tidak ‘populer’ tidak serta merta kita coba untuk mempopulerkannya sekarang. Patikan dulu kenapa itu tidak populer.Dalam masalah ini, ringkasnya ada dua pendapat yang masing-masing memiliki alasan yang cukup kuat dan akurat.

Pendapat Pertama

Tidak boleh seorang wanita atau keluarganya menetapkan syarat dalam aqad nikah agar si wanita tidak dimadu. Jika ini terjadi, maka akad nikah tetap sah dan syarat yang ditetapkan tersebut tidak berlaku. Dengan kata lain si suami tidak harus memenuhi syaratnya dan status akad/pernikahannya tetap sah tidak terpengaruh sama sekali. Berbaris dengan rapi dalam pendapat ini adalah para fuqaha dari kalangan Hanafi, Maliki dan Syafi’i. Pendapat ini dinisbatkan juga kepada Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas serta sebagian fuqaha Tabi’in semisal Sa’id bin Al-Musayyib (Musayyab?), ‘Atha, Asy-Sya’bi, Ats-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri serta Ibrahim An-Nakha’i.

Tidak ketinggalan Ibnu Hazam sebagai wakil dari kalangan Zhahiri ikut berbaris di sini.

Dalilnya:

Setiap syarat yang tidak ada di dalam Kitab Allah adalah bathil.” (Bukhari dan Muslim)

Menetapkan syarat agar tidak menikah lagi/memadu jelas bertentangan dengan apa yang ada di dalam kitab Allah bahkan bisa dikatakan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, di mana Allah berfirman: “Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi; dua, tiga atau empat.” (An-Nisa: 3)

Dengan demikian persyaratan tersebut bukan saja tidak ada dalam Kitab Allah malah justru bertentangan dengan apa yang jelas dan lugas tercantum dalam Kitab Allah.

Setiap muslim terikat dengan syarat-syarat yang mereka tetapkan kecuali syarat yang implikasinya mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (At-Tirmizi dan Abu Dawud)

Penetapan syarat tidak boleh menikah lagi jelas merupakan bentuk mengharamkan sesuatu yang halal.

Apa yang diriwayatkan dari sebagian shahabat diantaranya Ibnu Abbas bahwa mereka menetapkan sahnya aqad yang semisal itu. Adapun status syaratnya adalah gugur dan tidak harus dipenuhi.

Pada hakekatnya, syarat seperti ini adalah janji seorang suami terhadap istrinya. Padahal yang namanya janji, kendati menepatinya termasuk bagian dari akhlak mulia, tidak dituntut secara syar’i sehingga si suami bisa saja ingkar dan tidak menepati.

Pendapat Kedua

Boleh hukumnya bagi seorang wanita atau keluarganya untuk menetapkan persyaratan ketika aqad nikah bahwa si suami tidak akan memadu si wanita. Kalau ini terjadi, maka aqadnya sah dan persyaratan itu juga ada. Artinya, si suami wajib memenuhi syarat ini. Kalau suatu saat si suami melanggar maka si istri berhak menuntut fasakh pernikahannya dan ia berhak menuntut dipenuhi semua haknya. (Coba buka buku fiqih, lihat Kitab Nikah bab Khulu’).  Masalah nikah itu bukan hanya sebatas ta’arruf, nazhar, khithbah, ‘aqad serta thalaq, tapi ada juga yang namanya ‘ila, zhihar, khulu’, dan lain-lain.

Berbaris di belakang pendapat ini adalah para fuqaha dari kalangan Hambali. Pendapat ini dipegang juga oleh sebagian shahabat diantaranya Umar bin Al-Khaththab, Abdullah bin Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqqash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Dari kalangan tabi’in: Syuraih Al-Qadhi, Umar bin Abdul Aziz, Al-Laits bin Sa’d, Thawus, Az-Zuhri, Al-Auza’I, serta Sa’id bin Jubair.

Dalilnya:

Redaksi sebagian ayat yang tegas menyatakan wajibnya menunaikan aqad, janji serta syarat. Diantaranya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (Al-Maidah: 1)

Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra: 34)

Serta hadits Nabi: “Empat hal yang apabila terkumpul dalam diri seseorang maka dia adalah seorang munafiq sejati. Barang siapa yang terdapat dalaml dirinya salah satu dari keempat hal tersebut maka berarti dia sedang berada dalam salah satu cabang kemunafiqan sampai dia meninggalkannya: Apabila diberi amanat dia khianat, apabila bicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila berselisih dia akan bermusuhan.” (Bukhari dan Muslim)

Ayat dan hadits ini jelas memerintahkan untuk memenuhi janji, aqad dan juga syarat serta apapun yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Termasuk dalam hal ini adalah syarat yang ditetapkan seorang istri kepada suaminya agar tidak memadunya.

Hadits Nabi: “Syarat yang paling utama untuk kalian penuhi adalah syarat yang dengannya kalian bisa halal berhubungan badan” (Bukhari)

Hadits ini tegas menyatakan bahwa setiap syarat yang bisa mengantarkan pada suatu pernikahan adalah harus ditunaikan karena masalah nikah lebih mulia kedudukannya serta lebih berharga dari pada harta. Penetapan syarat dari istri agar suami tidak memadunya adalah termasuk ke dalam bagian ini serta masyru’.dan suami wajib memenuhnya.

Hadits Nabi ketika Ali meminang putri Abu Jahl kemudian Fathimah mengetahuinya lalu datang kepada Nabi seraya mengatakan: Kaum mu mengira kalau engkau tidak bisa marah demi membela putrimu padahal Ali hendak menikahi putri Abu Jahl. Mendengar penuturan Fathimah ini Nabi segera bediri seraya mengatakan: “Sesungguhnya Fathimah adalah bagaian dari diriku, sehingga akan menyakitiku apapun yang menyakitinya, sungguh saya tidak suka sekiranya mereka berbuat jelek terhadapnya… Sesungguhnya Bani Hisyam bin Al-Mughirah telah datang meminta ijin untuk menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib, maka saya tidak mengijinkannya dan tidak akan mengijinkannya. Saya tidak sedang mengharamkan yang halal dan tidak pula menghalalkan yang haram. Hanya saja tidak akan pernah bersatu putri rasulullah dengan putri musuh Allah kecuali jika Ibnu Abi Thalib menceraikan putriku.” (Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini tampak bahwa Nabi menetapkan syarat kepada Ali agar tidak memadu Fathimah serta tidak melakukan perbuatan yang bisa menyakiti hatinya. Sehingga ketika Ali berniat untuk menyelisihi syarat ini maka Nabi segera mengingatkannya dengan hal tersebut. Dan beliau mema’lumkan kepada manusia bahwa beliau tidak akan melepaskan syarat itu dan beliau dengan sikapnya ini tidak berarti sedang mengharamkan yang halal dan tidak pula penghalalkan yang haram. Akan tetapi ini semua adalah berkaitan dengan apa yang Ali pilih dan wajib dia penuhi.

Apa yang diriwayatkan dari sebagian shahabat bahwa mereka berfatwa dan menetapkan wajibnya suami memenuhi syarat tersebut jika sejak awal memang meridhainya:

  1. Seseorang berkata kepada Umar: Saya menikahi seorang wanita dan dia menetapkan syarat berkaitan dengan rumahnya dan agar saya tidak mengajaknya safar. Namun saya harus bersafar bersamanya ke daerah ini dan itu. Maka Umar menjawab: Dia berhak dengan syarat tersebut (yakni: kamu harus penuhi syaratnya). Seorang mu’min itu terikat dengan syarat-syaratnya. (At-Tirmidzi dan Bihaqi). Semisal dengan ini berfatwa Abdullah bin Mas’ud.
  2. Maula Nafi’ bin Utbah bin Abi Waqqash: Saya melihat Sa’ad bin Abi Waqqash menikahkan putrinya dengan seorang pria dari kalangan penduduk Syam dan menetapkan syarat agar putrinya tidak dibawa pindah. (Ibnu Abdil Barr). Semisal dengan ini Mu’awiyah dan Amr bin Al-Ash memfatwakan: Wajib bagi suami untuk memenuhi apa yang telah dipersyaratkan kepadanya.

Penetapan syarat ini tidak berarti menghilangkan maksud atau tujuan dari nikah itu sendiri yakni untuk bersenag-senang serta tidak pula menafikannya terlebih lagi menyelisihi nash-nash syar’i. Bahkan sebaliknya hal ini justru mendukung nash yang ada sebagaimana tersebut di atas teristimewa hadits Ali dan Fathimah.

Sumber :

Tulisan Abu Ishaq di milis salafyitb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: