Hukum Memberikan Zakat Kepada Orang Yang Mampu


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Tidak boleh memberikan zakat kepada orang kaya dan orang yang kuat lagi normal [tidak cacat].” [Shahih, An Nasai V/99, Ibnu Mahah 1839, Ibnu Abu Syaibah III/207, Daruquthni II/118, Hakim I/407, Baihaqi VII/14, Ibnu Hibban 3290].

Dari Abdullah bin Ubay bin Al Khiyaar, bahwasannya dua orang telah menyampaikan kepadanya bahwa mereka berdua menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasalam meminta bagian zakat. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam menyorotkan pandangan kepada mereka berdua. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkata, “Jika kalian berdua mau bisa saja aku memberikannya kepada kalian, namun tidak ada bagian dari harta zakat bagi orang kaya dan bagi rang yang kuat lagi mampu berusaha.” [Shahih, Abu Dawud 1633, An Nasai V/99-100, Abdurrazzaq 7154, Ahmad IV/224 V/362, Al Baghawi 1598]

Tidak halal shadaqah bagi orang kaya kecuali 5 jenis orang kaya berikut ini : Pejuang fii sabilillah, orang yang berhutang, orang yang membeli shadaqah tersebut dengan hartanya, orang yang kaya yang memiliki tetangga yang miskin lalu ia bershadaqah kepada tetangganya yang miskin itu lalu si miskin menghadiahkannya kembali kepada si kaya, Amil shadaqah [zakat].” [Shahih, Abu Dawud 1635 & 1636, Ibnu Majah 1841]

Sebagian ulama mengatakan boleh, diantaranya adalah Al Baghawi. Beliau [Syarh Sunnah VI/81-82] mengatakan, “Jika seseorang tidak penya usaha atau mengaku memiliki banyak tanggungan sedangkan usahanya tidak mencukupi kebutuahan mereka maka pengakuannya itu diterima dan seseorang boleh memberinya zakat.”

Tetapi kemudian Al Baghawi [Syarh Sunnah VI/82] mengatakan, “Mayoritas ulama memperbolehkan. Ini pendapat Syafi’I dan Ishaq. Ashabur Ra’yi berpendapat boleh menerima zakat jika harta yang dimiliki kurang dari 200 dirham.”

Sebagian ulama berpendapat diperbolehkan dengan syarat [berdasarkan hadits 5 jenis penerima zakat/shadaqah diatas]. Dengan menggabungkan dalil-dalil yang ada, Al Mundziri, Ash Shan’ani dan Asy Syaukani berpendapat jika harta mencapai nishab maka tidak boleh menerima zakat. Jika tidak sampai nishab boleh menerima asal tidak meminta. Tidak berhak meminta selama masih bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Sumber :
Ensiklopedi Larangan Menurut Al Qur’an dan As Sunnah, Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly, Pustaka Imam Asy Syafi’i.

Iklan

2 Komentar to “Hukum Memberikan Zakat Kepada Orang Yang Mampu”

  1. -apa yg sebaiknya dilakukan jika kita menemukan uang receh 100an, 1000an/uang bernilai kecil, dmana pemiliknya yg khilangan ‘kemungkinan besar’ mengikhlaskan/tidak mau repot untuk mencari uang yg hanya bernilai kecil bagi dia…? apakah kita biarkan saja atau kita ambil terus diinfaqkan ke masjid misalnya..?atau apakh boleh kita ambil untuk dimiliki?

    -bagaimana jg jika kita menemukan harta bernilai besar?

    Abu Al Maira :

    Memungut luqathah [barang temuan] diperbolehkan karena Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Umumkan tempatnya beserta apa yang ada di dalamnya, dan talinya, kemudian umumkan selama setahun. Jika pemiliknya datang, berikan kepadanya. Dan jika pemiliknya tidak datang, maka terserah kepadamu.” [Diriwayatkan AL Bukhori]

    Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang kambing yang hilang, kemudian beliau bersabda: “Ambilllah, karena menjadi milikmu, atau milik saudaramu, atau milik serigala.” [Muttafaq ‘Alaih]

    Dari Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah mendapatkan wahyu kitab (Al-Qur’an) dan semisalnya (Hadits). Ketahuillah, hampir saja akan ada seseorang duduk seraya bersandar di atas ranjang hiasnya dalam keadaan kenyang, sedang dia mengatakan : “Berpeganglah kalian dengan Al-Qur’an. Apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara haram, maka haramkanlah”, Ketahuilah tidaklah dihalalkan untuk kalian keledai jinak dan setiap binatang buas yang mempunyai kuku tajam. Demikian pula luqathah (barang temuan) melainkan apabila pemiliknya telah merelakannya. Dan barang siapa singgah bertamu kepada suatu kaum, hendaklah mereka menjamunya. Jika tidak, boleh baginya (tamu) mengambil haknya”. [HADITS SHAHIH. Diriwayatkan Abu Dawud 4604, Ahmad 4/130-131, Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid 1/149-150, Al-Kahthib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/79 dan Al-Kifayah hal.8, Ibnu Nashr Al-Marwazi dalam As-Sunnah hal. 116, Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah hal. 51, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah 6/549 dari jalan Hariz bin Utsman Ar-Rahabi dari Abdullah bin Abu Auf Al-Jursyi dari Miqdam bin Ma’di Karib Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam]

    Jika luqathah berbentuk sesuatu yang tidak ada harganya dalam arti tidak begitu diminati manusia, misalnya sebutir kurma, atau sebutir biji gandum, atau kain usang atau cambuk, atau cemeti, maka orang Muslim diperbolehkan memungutnya dan memanfaatkannya sejak saat itu juga. Ia tak wajib mengumumkannya kepada khalayak ramai dan tidak juga harus menjaganya, karena Jabir Rodhiyallahu ‘Anhu berkata, “Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keringanan kepada kita tentang tongkat, cemeti, tali dan sejenisnya. Itu semua boleh dipungut dan memanfaatkannya.” [Diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud. Sanad hadits ini cacat, namun jumhur ulama mengamalkannya]

    Jika luqathah berbentuk sesuatu yang berharga dan diminati kebanyakan orang, maka multaqith (pemungut) harus mengumumkannya selama setahun penuh. Dalam jangka waktu setahun tersebut, ia umumkan di pintu-pintu masjid, atau di tempat-tempat umum atau di koran atau di radio. Jika pemiliknya datang kepadanya kemudian menyebutkan tempatnya beserta isinya, atau jumlahnya, atau ciri -cirinya, ia harus memberikannya kepada orang tersebut. Jika pemiliknya tidak datang kepadanya setelah setahun, ia boleh memanfaatkannya, atau bersedekah dengannya, namun dengan niat menggantinya jika pada suatu hari pemiliknya datang untuk memintanya.

    Luqathah di Makkah tidak boleh diambil kecuali jika dikhawatirkan mengalami kerusakan. Jadi barangsiapa memungut luqathah di Makkah, ia wajib mengumumkannya selama ia berada di Makkah. Jika ia hendak keluar dari Makkah, ia harus menyerahkannya kepada penguasa setempat dan tidak boleh memilikinya, karena Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya negeri ini (Makkah) adalah tanah haram. Tumbuh -tumbuhannya tidak boleh dipotong, rumputnya tidak boleh dipotong, hewan buruannya tidak boleh diusir dan luqathahnya tidak boleh dipungut kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya.” [HR Bukhari]

    Luqathah hewan jika berbentuk kambing di padang pasir boleh dipungut dan pemanfaatnya sejak saat pemungutan, karena Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambillah, karena menjadi milikmu, atau milik saudaramu atau milik serigala” [Muttafaq ‘Alaih] Jika luqathah berbentuk unta, maka tidak boleh dipungut apa pun alasannya, karena Rosulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau tidak berhak terhadapnya. Unta tersebut berhak atas sepatunya dan tempat minumnya. Ia bebas pergi ke air dan memakan daun di pohon hingga pemiliknya datang kemudian mengambilnya.” [Muttafaq ‘Alaih] Hewan yang seperti unta ialah keledai, bighal (peranakan kuda dengan keledai) dan kuda. Semua hewan tersebut tidak boleh dipungut.

    Allahu ‘alam

  2. apakah zakat fitrah dibayarkan harus dengan bahan makan pokok (beras) 2,5kg..? apakah boleh di ganti dgn uang yg seharga 2,5kg beras..?

    Abu Al Maira :

    Yang benar adalah dibayarkan dengan makanan pokok dan tidak diganti dengan uang…

    Allahu ‘alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: