Khilaf Mengenai Kewajiban Membaca Surat Al Fatihah Dalam Setiap Sholat


Ulama berbeda pendapat kedalam tiga pemahaman dalam masalah ini.

• Wajib diam mendengarkan bacaan Imam jika bacaannya dikeraskan. Apabila tidak terdengar bacaan Imam,misalkan karena jauh maka wajib membaca. Pendapat inilah yang dirajihkan dalam artikel tersebut, yang berarti inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berbaris dalam barisan ini diantaranya Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Imam Malik bin Anas, dan lainnnya.
• Wajib membaca al-fatihah secara mutlak baik dalam shalat jahriyah atau sirriyah, juga baik mendengar suara imam maupun tidak. Berbaris dalam pendapat ini diantaranya: Umar bin Khattab, Ubadah bin Shamit, Abdullah bin Amr bin ‘Ash, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhum jami’an, Imam Syafi’i dalam qoul jadidnya, Ishaq bin Rahawaih, Imam Al-Bukhari, Imam Asy-Syaukani,dan lain-lain.
• Tidak wajib membaca,baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud, Imam Abu Hanifah dan lainnya.

Pendapat pertama, seolah dipilih sebagai jalan tengah dari dua kutub berlawanan dari pendapat kedua dan ketiga yang saling berseberangan.
Berdalil dengan surat Al-A’raaf 204 : “Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat).

Jawaban :
Sisi pertama, ketahuilah bahwa hadist-hadist yang sharih bahwa al-fatihah itu wajib adalah umum.

Dalam riwayat Muslim, Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Imam Malik disebutkan, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata (dalam lafadz riwayat Imam Ahmad) : “Shalat apa saja yang tidak dibaca didalamnya surat Al-Fatihah maka shalatnya rusak kemudian rusak dan rusak.” (Khidaz disebutkan oleh Imam Albani dalam bukunya,artinya “An-Nuqshon wal fasad”)

Kaidah ushul mengatakan : Asal dalam bentuk umum adalah tetap pada keumumannya sampai datang dalil yang menunjukkan kekhususannya

Seandainya memang disana ada pengecualian, maka tentunya Nabi akan mengatakan : “Kecuali bagi makmum” atau “Kecuali bagi yang shalat dibelakang imam” atau yang semakna dengan ini

Hadist Ubadah bin Shamit, hadist muttafaqun ‘alaih : “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat Al-Fatihah

Nabi menjelaskan bahwa shalat tidaklah sah apabila tidak membaca Al-Fatihah, sama saja apakah sebagai makmum atau ketika shalat sendiri atau ketika menjadi imam.

Kaidah mengatakan : Asal dalam nash yang umum adalah tetap pada keumumannya, tidaklah dikhususkan kecuali dengan dalil syar’iy baik itu nash atau ijma’ atau qiyah yang shahih

Adakah disebutkan disana sesuatu yang mengkhususkan?
Berkata Imam Ahmad, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dalam sholat. Maka ayat ini menunjukkan bahwa selayaknya bagi makmum untuk diam dan sibuk untuk mendengarkan bacaan alquran dari imam.

Jawab:
Bahwa ayat yang dibahas ini adalah umum (‘aam), adapun hadist-hadist tentang kewajiban membaca Al-Fatihah yang sudah saya sampaikan sebelumnya adalah kekhususan. Kaidah mengatakan : Apabila bertentangan nash yang shorih (gamblang) dalam suatu masalah dengan nash yang lainnya yang lebih umum, maka dikedepankan nash yang shahih dan gamblang tadi

Ingat hadist Bukhari tentang kejadian shalat subuh Rasulullah.Rasulullah merasa terganggu oleh bacaan salah seorang makmum. Setelah shalat beliau bertanya : “Benarkah kalian tadi turut membaca bersama imam?” Kami menjawab: “Ya, tetapi dengan cepat,wahai Rasulullah” Beliau bersabda: “Kalian tidak boleh melakukannya kecuali [membaca] Al-Fatihah, karena tidak sah sholat seseorang jika tidak membacanya dalam sholat”

Mana yang lebih umum antara ayat Al-A’raaf dengan hadist diatas ini? Ayat Al-A’raaf lebih umum, walaupun keduanya bisa dikatakan umum (dalam artian bahwa hadist ini bisa dikhususkan untuk shalat sirriyah). Tetapi hadist ini diungkapkan Al-Imam Ibnu Utsaimin adalah nash yang shorih tentang kewajiban Al-Fatihah. Dengan kaidah ini maka selayaknya yang didahulukan adalah hadist ini bukan ayat Al-A’raaf.

Kaidah mengatakan : Apabila bertentangan antara rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban maka dikedepankan rukun atas kewajiban

Membaca Al-Fatihah adalah kewajiban sebagai rukun dari sholat. Adapun wajib diam mendengar Al-Qur’an adalah kewajiban namun bukan rukun. Maka seharusnya didahulukan kewajiban sebagai rukun

Mungkin ada yang akan mengatakan, bahwa Al-Fatihah itu sebagai rukun adalah sebatas ijtihad ulama. Jadi kedudukannya sama, antara dua kewajiban yang bertentangan. Satu kewajiban membaca dan yang lain kewajiban mendengar. Sehingga tidak bisa diterapkan kaidah diatas ini.

Maka kami jawab sebagai berikut :
Ketahuilah bahwa ada dua jenis wajib : Wajib muttashil (Berkaitan langsung) dan wajib munfashil (terpisah). Hadist Al-Fatihah jelas berkaitan erat (muttashil) dengan shalat. Sedangkan ayat Al-A’rof kewajibannya terpisah (munfashil)

Kaidah mengatakan : Apabila bertentangan antara wajib muttashil (berkaitan dengan ibadah tertentu) dengan kewajiban yang munfashil (terpisah tidak berkaitan langsung) maka didahulukan yang muttashil tadi dari yang munfashil.

Adalah mungkin membaca Al-Fatihah dalam keadaan Imam berhenti sebentar sebelum membaca surat. Walaupun tidak ada dalil yang kuat Imam mesti berhenti sebentar, akan tetapi jika kebetulan kita bermakmum pada imam yang seperti ini, maka kita lebih lagi wajib membacanya

Dalam kitab Al-Inshaf fi ma’rifati Ar-rajih Minal Khilaf disebutkan demikian : “Dianjurkan membaca Al-Fatihah disaat imam berhenti membaca.Inilah pendapat yang dipilih dalam manhaj dan juga merupakan pendapat jumhur ulama. Bahkan ada yang mengatakan wajib membaca Al-Fatihah tatkala imam berhenti membaca”

Berdalil dengan hadist: “Imam dijadikan sebagai anutan makmum.Jika ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jika ia membaca, diamlah kalian” (lihat shifat sholat Nabi oleh Imam Albani rahimahullah)

“Dan apabila imam membaca,maka diamlah”. Na’am (iya) sepakat diam, KECUALI surat Al-Fatihah.Disamping itu sanad hadist ini walaupun berterima akan tetapi lebih lemah dari tingkatan hadist-hadist yang menetapkan dengan jelas wajibnya membaca Al-Fatihah. Ulama Ushul mengatakan agar didahulukan Al-Ashohhu ‘ala As-Shohih (Yang lebih shahih atas yang shahih), didahulukan Al-aqwa ‘ala maa huwa qowiy (yang lebih kuat atas yang kuat), didahulukan Al-qowiy ‘ala Adh-dho’if (yang kuat atas yang lebih lemah), didahulukan Ash-Shahih ‘ala al-hasan (yang shahih atas yang hasan).

Berdalil dengan hadist: “Barangsiapa shalat dibelakang imam maka bacaan imam adalah bacaannya (man kaana lahu imam fa qiro-atuhu lahu qiro-ah)

Sebagian ulama mengatakan bahwa hadist ini tidak shahih. Sekalipun shahih, maka membaca Al-Fatihah adalah kekhususan yang diperintahkan membacanya.
Berdalil dengan adanya naskh

Al-Imam Albani rahimahullah dalam kitab nya yang sangat “hebat”, yakni “Al-Ashlu Sifat Sholat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam minat takbir ilat taslim ka-annaka taroha” menulis sub bab pada hal 327-364 (Maktabah Al-Ma’arif cetakan tahun 2006) “Naskhul qiro-ah waro-al imam fil jahriyah” (Dihapuskannya hukum membaca dibelakang imam dalam sholat yang dikeraskan bacaannya)

Beliau mengatakan, pada awalnya makmum dibolehkan membaca surat Al-Fatihah dibelakang imam dalam sholat jahr, sebagaimana pernah terjadi pada waktu sholat shubuh.Rasulullah merasa terganggu oleh bacaan salah seorang makmum.Setelah shlat beliau bertanya : “Benarkah kalian tadi turut membaca bersama imam?” Kami menjawab:”Ya, tetapi dengan cepat,wahai Rasulullah” Beliau bersabda:”Kalian tidak boleh melakukannya kecuali [membaca] Al-Fatihah, karena tidak sah sholat seseorang jika tidak membacanya dalam sholat”

Di naskh oleh apa? Al-Imam Albani membawakan dalil kedua sebagai penghapus hukum hadist pertama diatas :
“Adakah seseorang diantara kalian tadi membaca Al-Quran bersamaan dengan aku membaca?” Seseorang menjawab:”Ya,saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah mengatakan :”Aku katakan kepadamu mengapa aku diganggu (sehingga bacaanku terganggu)?”Abu Hurairah berkata :Kemudian para sahabat berhenti membaca al-Quran bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membacanya dengan suara keras dan bacaan itu mereka dengar [dan mereka membaca sendiri tanpa suara bila imam tidak mengeraskan bacaannya]”

Hadist ini bermasalah akan keshahihannya dan juga pada ucapan Abu Hurairah. Sebagian ulama mengatakan bahwa lafadz tersebut bukan dari Abu Hurairoh, akan tetapi dari Az-Zuhri. Diantaranya yang berpendapat demikian adalah Al-Imam Al-Bukhari.Seandainya benar itu lafadz Az-Zuhri maka hukum hadist ini mursal munqothi’ karena Az-Zuhri seorang tabi’in sehingga tidak boleh berhujjah dengan dalil ini (ini pandangan Imam Albani sendiri pada hal.339). Dan juga, Abu Hurairoh dengan lafadz tegas dalam riwayat Muslim, menyatakan bahwa dalam sholat jahar pun makmum tetap membaca Al-Fatihah.
Taruhlan ini hadist yang berterima dan lafadz “intahan naas…”(manusia kemudian berhenti dari membaca dibelakang imam) adalah ucapan Abu Hurairoh, maka Al-Imam Ibnu Utsaimin menjawab pendapat naskh ini, bahwa hal tersebut tidak tepat karena diantara syarat naskh (penghapusan hukum) adalah tidak mungkinnya dilakukan jama’. Padahal sangat mungkin dilakukan jama diantara keseluruhan dalil, yakni bahwa al-fatihah adalah kekhususan dari lafazd-lafadz dalil yang umum.

Dari Al-Ushul min ‘ilmil ushul karya Imam Ibnu Utsaimin tentang syarat naskh ini sebagai berikut:

  • Tidak mungkinnya menjama’ antara dua dalil,jika memungkinkan jama’ maka tidak ada naskh
  • Mengetahui bahwa nasikh (dalil yang menghapus hukum) datangnya paling akhir (dari dalil yang mansukh),baik dengan nash atau khabar dari sahabat atau tarikh
  • Keberadaan nasikh (dalil yang menghapus hukum) disyaratkan oleh jumhur harus lebih kuat dari dalil yang dimansukh atau minimal satu level.Maka dalil yang mutawatir tidak boleh dihapus hukumnya oleh dalil yang ahad. Tetapi yang rajih adalah tidak disyaratkan point ketiga ini.

Ketiga atau minimalnya kedua syarat diatas tidak dipenuhi, dalam berpendapat “Naskh”. Allahu a’lam.

Dan juga Imam Albani pun jujur dalam footnote bahwa beliau tidak punya dalil (nash) mana yang datang duluan dan terakhir dari dua dalil diatas yang dikatakan beliau yang satu nasikh dan yang lainnya mansukh. Yang beliau pakai adalah logika bahwa tidak mungkin larangan (an-nahyu) datang lebih awal. Insya Allah kaidah Imam Ibnu Utsaimin menurut saya lebih tepat yakni tidak bisa diterapkan hukum naskh ini.

Sehingga, karena tidak ada dalil untuk mengetahui mana yang datangnya lebih awal atau belakangan dari dua dalil yang nampaknya bisa terjadi nasikh mansukh ini. Kaidah mengatakan : An-Naskh tidak tersebut jika adanya kemungkinan

Ada yang mengatakan begini :”Siapa yang mendakwa bahwa Hadist Abu Hurairoh “Maka berhentilah para sahabat dari membaca pada sholat yang mana Rasulullah mengeraskan bacaannya” adalah menghapuskan dalil tentang membacanya sahabat dalam sholat shubuh maka Al-Hazimi dalam kitab Al-I’tibar (Hal 72-75) mendakwa kebalikannya yakni menjadikan dalil-dalil kewajiban membaca Al-Fatihah menghapuskan dalil-dalil larangan membaca dibelakang imam”

Lantas, apakah benar tidak mungkin menjama’? Abu Hurairoh memandang tidak demikian ketika ditanya bagaimana tentang makmum yang membaca dibelakang imam sedangkan ada dalil yang mengharuskan diam, Abu Hurairoh menjawab :”Iqro biha yaa farisi fi nafsika”

Berdalil dengan cara berpikir “Apa faidah Imam membaca kalau begitu, jika makmum sibuk membaca Al-Fatihah? atau “Apa gunanya Imam membaca keras?”
Kami katakan in adalah qiyas atau logika yang berhadapan dengan nash, sedangkan Qiyas yang menyelisihi nash harus diabaikan (dibuang).

Selanjutnya, Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa Ibn Baz 11/234-244 ,beliau berkata : “Membaca doa istiftah adalah sunnah dan membaca Al-fatihah adalah wajib bagi yang sholat dibelakang Imam,berdasar pendapat ulama yang lebih benar.Apabila anda khawatir ketinggalan membaca Al-Fatihah maka mulailah dengan membacanya (tidak perlu membaca doa iftitah). Dan jika Imam ruku sebelum anda selesai membaca al-fatihah maka rukulah bersama Imam dan yang tersisa dari kewajiban membaca Al-Fatihah itu telah terangkat berdasar sabda Nabi : “Imam itu diangkat untuk diikuti, jangan berbeda. Apabila Imam takbir, maka bertakbir. Jika imam ruku, maka ruku’lah …(muttafaqun ‘alaihi)

Allahu A’lam
Abu Umair As-Sundawy

Untuk lengkapnya, silahkan membaca di forum ini

3 Komentar to “Khilaf Mengenai Kewajiban Membaca Surat Al Fatihah Dalam Setiap Sholat”

  1. apakah rasullullah membaca surat al fatihah dengan men-siir-kan kata Bissmillahirrahmanirrahiim?

    Abu Al Maira :

    Ini masalah khilaf akhi… Ada yang mengatakan di-jahr [dikeraskan], ada yang mengatakan di-sirr [dilirihkan], ada juga yang mengatakan kadang di-jahr dan kadang di-sirr.

    Insya Allah akan ana sampaikan dari forum myquran secara lengkap mengenai permasalahan ini.

  2. saya mo tanya benarkah apabila orang membaca al quran tp tidak mengerti artinya itu sama saja bohong dlm artian tidak ada gunanya?
    mohon penjelasan.

    Abu Al Maira :

    Saya belum pernah menemukan riwayat yang mengatakan demikian. Kalau menurut saya, itu adalah pemahaman yang salah. Khawatirnya nanti orang semakin malas membaca Al Qur’an. Sedangkan orang2 yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata pun mendapat pahala. Toh sekarang juga sudah banyak kitab2 tafsir, sambil sementara kita belajar bahasa Arab.

  3. -apakah makmum diwajibkan untuk membaca takbir perpindahan gerak(allahuakbar) dlm sholat?

    -apakah ‘sami’allahuliman hamidah’ saat bangkit dr ruku’ juga wajib dibaca makmum..?

    Abu Al Maira :

    Ya begitulah yang saya pahami, apa2 yang disebut diatas memang dibaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: