Etika Tidur Dan Berpergian Dalam Islam


Rasulullah shalallahu alaihi wasalam melarang sendirian, artinya tidur seorang diri atau pergi seorang diri. [HR Imam Ahmad, dari Ashim bin Muhammad dari ayahnya dari Ibnu Umar secara marfu’]
Syaikh Al Albani berpendapat hadits ini shahih, sesuai dengan kriteria Bukhari. Perawi-perawinya tsiqah dan dipakai oleh Bukhari Muslim.Seandainya manusia mengetahui bahaya yang aku ketahui, maka takkan ada orang yang berjalan sendirian di waktu malam. [HR Bukhari, Tirmidzi, Ad Darimy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Hakim, Imam Ahmad, Al Baihaqi, Ibnu Asakir, dari Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah dari ayahnya dari Ibnu Umar secara marfu’]
Hakim dan Adz Dzahabi mengatakan hadits ini shahih. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih [tidak diketahui hasan atau shahih].
Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini memiliki syahid yang diriwayatkan oleh Jabir dengan tambahan, “Dan tidak akan ada orang yang tidur di rumah seorang diri”.

Ada seseorang datang dari perjalanan. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bertanya, “Dengan siapa engkau pergi?” Dia menjawab, “Tak ada seorangpun menemaniku”. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Satu orang yang berjalan adalah durhaka. Dua orang yang berjalan adalah durhaka. Tiga orang yang berjalan satu kafilah”. [HR Imam Malik, Abu Dawud, At Tirmidzi, Hakim, Baihaqi, Imam Ahmad, dari Amer bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya secara marfu.
Hakim dan Adz Dzahabi mengatakan hadits ini shahih sanadnya. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan.
Syaikh Al Albani mengatakan, “hadits ini hasan sanadnya karena Amer bin Syu’aib diperselisihkan mendapatkan hadits dari ayahnya yang mengutip dari kakeknya. Hadits ini mengandung pengharaman berjalan sendirian atau dengan teman. Kemungkinan yang dimaksudkan adalah berjalan seorang diri atau dengan teman di hutan belantara atau gurun yang jarang dijumpai manusia. Sedangkan perjalanan pada saat ini tidak termasuk dalam hadits tersebut.”
Sumber :
Silsilah Al Hadits As Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, CV. Pustaka Mantiq, 1995

4 Komentar to “Etika Tidur Dan Berpergian Dalam Islam”

  1. Assalamu alaikum, pak Abu.
    Sangat mungkin maksudnya berjalan sendiri di hutan, atau di padang pasir, di jaman dulu.
    Saat ini, rasanya aneh juga bila kemana-mana mesti bertiga…
    Walahualam…

  2. Wa Alaykum salam warahmatullah…

    Ya benar. Seperti yang dikatakan Syaikh Al Albani

    Allahu ‘alam

  3. mari kita dahulukan yang wajib….baru jalankan sunah….bukan sebaliknya

  4. @sulistyo maksdunya gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: