Perbedaan Penentuan Hilal Dalam Kalender Islam Indonesia


Ada 4 kriteria yang menjadi dasar penyusunan Kalender Hijriyah di Indonesia khususnya untuk penentuan awal Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah.

rukyat1danjon.jpg

Kriteria Danjon menjadi syarat visibilitas/kenampakan hilal saat rukyat. Syarat ini sering tidak diperhatikan oleh para perukyat.

Rukyatul Hilal (bil Fi’li)

Hadits Rasulullah SAW menyatakan “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”. Berdasarkan syariat tersebut Nahdhatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam berhaluan ahlussunnah wal jamaah berketetapan mencontoh sunah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dalam hal penentuan awal bulan Hijriyah wajib menggunakan rukyatul hilal bil fi’li, yaitu dengan merukyat hilal secara langsung. Bila tertutup awan atau menurut Hisab hilal masih di bawah ufuk, mereka tetap merukyat untuk kemudian mengambil keputusan dengan menggenapkan (istikmal) bulan berjalan menjadi 30 hari. Hisab hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu masuknya awal bulan qamariyah. Sementara hisab juga tetap digunakan, namun hanya sebagai alat bantu dan bukan penentu awal bulan Hijriyah. Namun berdasarkan data rukyat Departemen Agama RI selama 30 tahun lebih banyak terdapat laporan kenampakan hilal yang masih tidak memenuhi syarat visibilitas serta kajian ilmiah.

Wujudul Hilal

rukyat2wujudulhilal.jpg

Menurut Kriteria Wujudul Hilal yang sering disebut juga dengan konsep “ijtimak qoblal qurub” yaitu terjadinya konjungsi (ijtimak) sebelum tenggelamnya matahari, menggunakan prinsip sederhana dalam penentuan awal bulan Hijriyah yang menyatakan bahwa :

Jika pada hari terjadinya konjungsi (ijtimak) telah memenuhi 2 (dua) kondisi, yaitu:
(1) Konjungsi (ijtimak) telah terjadi sebelum Matahari tenggelam,
(2) Bulan tenggelam setelah Matahari, maka keesokan harinya dinyatakan sebagai awal bulan Hijriyah.

Berdasarkan konsep inilah Muhammadiyah dapat menyusun kalender Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Ini sesuai dengan konsep Muhammadiyah yang memegang prinsip mempertautkan antara dimensi ideal-wahyu dan peradaban manusia dalam kehidupan nyata termasuk dalam penentuan awal bulan Hijriyah. Hal ini juga merupakan hasil keputusan Musyawarah Tarjih Muhammadiyah tahun 1932 di Makassar yang menyatakan As-Saumu wa al-Fithru bir ru’yah wa laa man ilaa bil Hisab (berpuasa dan Idul Fitri itu dengan rukyat dan tidak berhalangan dengan hisab) yang secara implisit Muhammadiyah juga mengakui Rukyat sebagai awal penentu awal bulan Hijriyah. Muhammadiyah mulai tahun 1969 tidak lagi melakukan Rukyat dan memilih menggunakan Hisab Wujudul Hilal, itu dikarenakan rukyatul hilal atau melihat hilal secara langsung adalah pekerjaan yang sangat sulit dan dikarenakan Islam adalah agama yang tidak berpandangan sempit, maka hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan Hijriyah. Kesimpulannya, Hisab Wujudul Hilal yang dikemukakan oleh Muhammadiyah bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak, akan tetapi dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus jadi bukti bahwa bulan baru sudah masuk atau belum. Pasca 2002 Persatuan Islam (Persis) mengikuti langkah Muhammadiyah menggunakan Kriteria Wujudul Hilal.

Imkanur Rukyat MABIMS

rukyat3mabims.jpg

Penanggalan Hijriyah Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) merumuskan kriteria yang disebut “imkanur rukyah” dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah yang menyatakan : “Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau (2)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku. Kriteria yang diharapkan sebagai pemersatu terhadap perbedaan kriteria yang ada nampaknya belum memenuhi harapan sebab beberapa ormas memang menerima, namun ormas yang lain menolak dengan alasan prinsip.

Rukyat Global (Matla al Badar)

rukyat4global.jpg

Kriteria ini dipakai oleh sebagian muslim di Indonesia melalui organisasi-organisasi tertentu sebagai jalan pintas merujuk kepada Arab Saudi atau menggunakan pedoman terlihatnya hilal di Negara lain dalam penentuan awal bulan Hijriah. Penganut criteria ini biasanya menggunakan dalil jika suatu penduduk negeri melihat bulan, hendaklah mereka semua berpuasa meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Sumber : www.rukyatulhilal.org
 

4 Komentar to “Perbedaan Penentuan Hilal Dalam Kalender Islam Indonesia”

  1. Pak Abu,

    tolong dong muat tulisan ttg jamak & qoshor
    lengkap dg hadis2 sahihnya, terutama ttg kondisi2
    yg membolehkan.

    terus, ada temen yg bilang kalo puasa 6 hari
    di bulan syawal itu tidak ada tuntunannya.
    apakah benar ?

    terima kasih, wassalam

    Abu Al Maira :

    ***Kalo tentang jama’ dan qashar, kalo tidak salah saya sudah pernah menuliskan di kategori Islam-Hukum, coba antum cari2 di sana. Tapi kalo memang tidak ada / kurang memuaskan, insya Allah saya akan menuliskan [mudah2an diberikan kemudahan dan keluangan waktu].

    Mengenai perkara tuntunan puasa syawal, ana kutipkan beberapa hadits sbb :
    Dari Abu Ayyub Al-Anshari radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun” (Shahih bi syawaahidihi; diriwayatkan oleh Muslim 1164, Abu Dawud 2433, Tirmidzi 759, dan lain-lain; seluruhnya dari jalur Sa’ad bin Sa’id bin Qais Al-Anshari dari Umar bin Tsabit dari Abu Ayyub Al-Anshari dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam)

    Dari Tsauban radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”barangsiapa puasa di bulan Ramadlan maka puasa sebulan itu sama dengan sepuluh bulan dan dengan puasa enam hari setelah berbuka (‘Iedul-Fithri), maka ia melengkapi puasa setahun” (Shahih; diriwayatkan oleh Nasa’I dalam As-Sunan Al-Kubra 2/2860 dan 2861, Ibnu majah 1715, Ahmad 5/280, dan lain-lain; seluruhnya melalui jalan Yahya bin Al-Harits Adz-Dzamari dari Abi Asma’ Ar-Rahbi, dari Tsauban)

  2. Sesuai dgn hadits Nabi Muhammad SAW, maka penentuan awal & akhir Ramadhan harus dengan melihat hilal (meru’yat hilal). Perhitungan posisi hilal hanya berfungsi sbagai alat bantu saja untuk meru’yat hilal & tdk dapat digunakan utk menetapkan awal / akhir Ramadhan. Dlm hal ini sikap NU benar sedang Muhammadiyah salah. Kepada umat Islam yg berada di jalan yg lurus supaya mengikuti cara ru’yatul hilal dlm menentukan akhir Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: