Jual Beli Kredit Dengan Penambahan Harga Halal Atau Haram Dalam Islam ?


 

Assalamu ‘alaykum warahmatullah wabarakatuh

Dalam topik tulisan ini, saya ingin menyampaikan permasalahan jual beli kredit dengan penambahan harga. Terus terang, sebelumnya berdasarkan apa yang saya pelajari dan saya ketahui, bahwasannya jual beli kredit dengan penambahan harga adalah HARAM hukumnya dalam Islam. Ini saya dapatkan dari cukup banyak narasumber, ustadz, buku-buku. Disamping itu pendapat dari para ulama terdahulul dan ulama terkini seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly, dan lainnya.

Selanjutnya, dalam proses pembelajaran yang saya jalani, kebetulan saya mengikuti salah satu milis, akhirnya di sana saya menemukan suatu hal yang menurut saya pada waktu itu adalah “sesuatu yang kontroversil”. Dalam milis dikatakan bahwa jual beli kredit dengan penambahan harga adalah “HALAL”. Dimana hal ini juga dipegang oleh Syaikhul Islam, dan 4 imam besar ahlus sunnah. Hal ini juga dipegang oleh Syaikh bin Baz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, dan ulama lainnya.

Berikut, saya sampaikan penjelasan dari sahabat saya yang terhormat dan tercinta Abu Al Jauzaa [semoga Allah senantiasa melimpahkan ilmu kepada beliau], walaupun beliau tidak menutup kemungkinan terjadinya kesalahan dan tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun kepada para ulama yang berseberangan pendapat. Hal ini bukan sesuatu untuk diperselisihkan tetapi sebagai bahan pembelajaran.

Berikut penjelasan Abu Al Jauzaa [via email kepada saya] :

Berikut adalah sedikit ringkasan pembahasan mengenai jual beli secara kredit atau yang dikenal dengan (Al-Bai’ut-Taqsiith – البيع التقسيط).

Definisi jual beli kredit secara terminologis adalah menjual sesuatu dengan pembayaran tertunda, dengan cara memberikan cicilan dalam jumlah-jumlah tertentu dalam beberapa waktu secara tertentu, lebih mahal daripada harga kontan. Atau dengan definisi lain : Pembayaran secara tertunda dan dalam bentuk cicilan dalam waktu-waktu yang ditentukan. Saya kira, dengan definisi ini antum pun telah memahaminya, karena memang hal itu telah akrab disebagian kehidupan kita.

Langsung saja pada yang antum tanyakan mengenai hukum syar’i tentang masalah ini. Jual beli apapun pada asalnya adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Allah ta’ala telah berfirman :يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُوَاْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مّنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. An-Nisaa’ : 29).

ذَلِكَ بِأَنّهُمْ قَالُوَاْ إِنّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرّبَا وَأَحَلّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرّمَ الرّبَا

Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah : 275).

Dua ayat di atas berlaku umum untuk semua jenis jual beli, termasuk jual beli secara kredit. Sampai ayat ini, para ulama mu’tabar tidak berbeda pendapat mengenai jual beli kredit.  Hal itu dikarenakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah melakukan jual beli dengan menunda waktu pembayaran sebagaimana terdapat dalam hadits :

عن عائشة رضى الله تعالى عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم اشترى من يهودي طعاما إلى أجل معلوم وارتهن منه درعا من حديد

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran tertunda dan menggadaikan baju besinya sebagai boroh atau gadai (HR. Bukhari nomor 2134 – maktabah sahab).

Kemudian,….. para ulama berselisih pendapat mengenai hukum jual beli dengan penundaan waktu pembayaran plus penambahan harga. Ringkasnya, hal itu terbagi menjadi 2 (dua) kelompok besar pendapat :

  1. Mengharamkannya
  2. Membolehkannya

Pendapat pertama tersebut dipegang oleh mayoritas ulama baik dulu dan sekarang. Sedangkan pendapat kedua dipegang oleh sebagian ulama (seperti Asy-Syaukani dalam Naiulul-Authaar 5/162 – Daarul-Kutub). Jika saya memakai bahasa antum tempo hari, maka di kalangan kontemporer, khilaf ini adalah khilafnya Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan mayoritas fuqaha Nejd versus Syaikh Al-Albani, Syaikh Muqbil, Syaikh Salim, dan yang semisal. Mana yang rajih ? Berikut sedikit pembahasannya :

Makna Dua Jual Beli dalam Satu Jual Beli (بيعتان في بيعة)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيعتين في بيعة

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang dua jual beli dalam satu jual beli (baca : dua jual beli dalam satu akad/transaksi – Abul-Jauzaa’) (HR. Tirmidzi nomor 1231, An-Nasa’i nomor 4632, dan lain-lain dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu – shahih).

As Syaikh Al Albani menjelaskan, maksud larangan dalam hadits tersebut adalah larangan adanya dua harga dalam satu transaksi jual beli, seperti perkataan seorang penjual kepada pembeli: Jika kamu membeli dengan kontan maka harganya sekian, dan apabila kredit maka harganya sekian (yakni lebih tinggi).

Hal ini sebagaimana ditafsirkan oleh Simaak bin Harb dalam As Sunnah (karya Muhammad bin Nashr Al Marwazi), Ibnu Sirin dalam Mushonnaf Abdir Rozaq jilid 8 hal. 137 no. 14630, Thoowush dalam Mushonnaf Abdir Rozaq jilid 8 no. 14631, Ats Tsauri dalam Mushonnaf Abdir Rozaq jilid 8 no. 14632, Al Auza’i sebagaimana disebutkan oleh Al Khaththaabi dalam Ma’alim As Sunan jilid 5 hal. 99, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam Shahih Ibni Hibban jilid 7 hal. 225, dan Ibnul Atsir dalam Ghariibul Hadits.

Juga perkataan Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu :

صفقتان في صفقة ربا

Transaksi dalam dua penjualan adalah riba (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan Abul-Ahwash – shahih. Lihat Irwaaul-Ghalil 5/148).

1. Pendapat yang mengharamkannya memaknai hal itu sebagaimana perkataan : “Aku jual barang ini kepadamu, secara kontan 10 ribu rupiah dan jika secara angsuran (kredit) 12 ribu rupiah”. Dan inilah kredit pada umumnya sebagaimana yang sedang dibahas.

2. Pendapat yang membolehkannya memaknai hal itu dengan dua inti perkataan, yaitu :

a. “Aku jual kepadamu baju ini secara kontan seharga 50 ribu rupiah, dan secara kredit 55 ribu rupiah”; namun ketika berpisah ia tidak bersepakat dalam satu harga, apakah akan mengambil yang kontan atau secara kredit. Jadi antara penjual dan pembeli bersepakat dalam transaksi tanpa menentukan penjualan mana yang akan diambil (kontan atau kredit).

b. “Aku jual sepeda ini padamu seharga 100 ribu dengan syarat kamu menjual kambingmu”. Atau sebaliknya : “Aku jual sepeda ini padamu dengan syarat kamu menjual kambingmu seharha 200 ribu”. Ketika pembeli menyepakati, maka otomatis berlangsung dua akad jual beli dalam satu jual beli. Transaksi ini sangat rentan terhadap kedhaliman pada harta. Maka, di sini jumhur ulama mengatakan bahwa jual-beli secara kredit sebagaimana lazimnya tidak termasuk dalam larangan di atas (kecuali jika sampai berpisah penjual dan pembeli bersepakat namun tidak menentukan jenis pembayaran yang akan dilakukan – sebagaimana telah dijelaskan).Inti perkataan tersebut saya modifikasi dari contoh yang dikemukakan Imam At-Tirmidzi dalam Sunannya (nomor 1231) [1].

 

Mana Yang Lebih Kuat ?

InsyaAllah yang lebih kuat adalah Pendapat Kedua (yang membolehkannya). Sebagaimana yang telah disinggung, jual beli kredit yang berlangsung seperti sekarang bukanlah dua jual beli dalam satu transaksi. Sebab, ketika berpisah, mereka umumnya telah menyepakati jenis pembayaran yang akan dilakukan (yaitu bersepakat dengan akad kredit). Maka pada akhirnya di sini hanya ada satu jual beli saja dalam satu transaksi. Adapun contoh perkataan dari pendapat kedua (yang membolehkan kredit), maka sangat jelas bahwa akhir transaksi terdapat dua jual beli dalam satu transaksi dari pihak penjual maupun pembeli yang penuh gharar (ketidakjelasan) dan manipulasi.

Bagaimana dengan Pernyataan : Tafsiran Perawi Lebih Didahulukan daripada Selainnya ?

Hujjah di atas adalah hujjah yang dipakai oleh para ulama yang mengharamkan kredit dengan tambahan harga, sebab terdapat perkataan perawi hadits larangan dua jual beli dalam satu transaksi. Simmak bin Harb – perawi hadits – telah membawakan tafsiran tentang larangan dua jual beli dalam satu transaksi dengan perkataan :

[إن كان بنقد فبكذا و كذا , و إن كان إلى أجل فبكذا و كذا]

“Apabila dibayar secara kontan maka sekian, dan apabila secara kredit sekian”.

 

Selain dari apa yang telah dijawab di atas, maka hujjah ini dapat dibantah sebagai berikut :

Tafsiran seorang perawi tidaklah mutlak didahulukan, sebab belum tentu yang membawakan hadits itu lebih paham daripada yang disampaikan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها وحفظها وبلغها فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه

Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Betapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih paham daripadanya (HR. Tirmidzi nomor 2658).Hadits di atas menjelaskan bahwa kedudukan pembawa hadits (rawi) tidak mutlak selalu lebih unggul dalam pemahaman dibandingkan orang yang disampaikan.

Madzhab jumhur ulama ushul-fiqh adalah tidak bertaqlid kepada pendapat shahabat. Kalau seorang shahabat memberi kekhususan pada sebuah nash umum atau menafsirkan nash yang masih global pengertiannya dengan salah satu kemungkinan penafsirannya tanpa penjelasan sebab adanya pengkhususan dan penafsiran tersebut, maka pendapatnya tidak bisa dijadikan hujjah dalam mengkhususkan nash umum tersebut atau dalam penafsiran nash yang masih penuh kemungkinan tersebut. Apabila demikian halnya yang berlaku pada shahabat dengan segala kemuliaan dan keutamaannya, tentu bagi seorang tabi’in atau orang sesudah mereka lebih jelas lagi. Dan sebagai catatan, Simmak bin Harb ini adalah seorang tabi’i, bukan seorang shahabat.

 

Perkataan seorang perawi dapat didahulukan jika memang terdapat qarinah yang jelas bahwa perkataannya tersebut merupakan penjelasan yang bersumber pada ujung sanad (dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam atau shahabat untuk kasus hadits mauquf) dan tidak mungkin ditafsirkan bahwa itu semata-mata ijtihad perawi. Contohnya adalah tentang masalah berdzikir dengan tangan kanan :

حدثنا عبيد الله بن عمر بن ميسرة ومحمد بن قدامة في آخرين قالوا ثنا عثام عن الأعمش عن عطاء بن السائب عن أبيه عن عبد الله بن عمرو قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح قال بن قدامة بيمينه

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Umar bin Maisarah dan Muhammad bin Qudamah dan yang lainnya mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Atsaam dari Al-‘Amasy dari ‘Atha’ bin Saib dari ayahnya dari Abdillah bin ‘Amru ia berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menghitung bacaan tasbihnya”. Berkata Muhammad bin Qudamah (perawi hadits) : “Yaitu dengan tangan kanannya” (HR. Abu Dawud nomor 1502).

 

Perkataan perawi (Muhammad bin Qudamah) : “Yaitu dengan tangan kanannya” tidaklah mungkin hanyalah penafsirannya semata. Penjelasan itu didapatkan dari penjelasan rawi di atasnya sampai di ujung sanad yang merupakan penjelasan dari orang yang melihat fi’il Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam (yaitu Abdullah bin ‘Amru radliyallaahu ‘anhuma). Hadits tersebut dibawakan oleh Abdullah bin ‘Amr dengan apa yang dilihat, bukan dengan apa yang didengar. Sehingga, dari apa yang dilihat tersebut dikatakan/dijelaskan kepada perawi dibawahnya. Semoga antum dapat membedakan dua kasus perkataan rawi di atas.

Bagaimana Penjelasan Hadits Abu Hurairah ?

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam

من باع بيعتين في بيعة فله أوكسهما أو الربا

Barangsiapa yang menjual dengan dua penjualan dalam satu transaksi, maka baginya harga yang terendah atau riba (HR. Abu Dawud nomor 3461 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah nomor 2326). [2]

 

Sebagian ulama melemahkan hadits ini karena adanya anggapan syadz. Diantara ulama yang melemahkannya adalah Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Ahaadits Mu’allah Dhahiruhash-Shihhah halaman 242 nomor 369 Cet. II). Alasannya adalah bahwa hadits di atas diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al-Qahthan, ‘Abdan bin Sulaiman, ‘Abdil-Wahhab bin ‘Atha’, Yazid bin Harun, Isma’il bin Ja’far, ‘Abdul-‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi, Mu’adz bin Mu’adz Al-Anbary, dan Muhammad bin Abdillah Al-Anbary; semuanya dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah taoi dengan lafadh :

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن البيعتين في بيعة

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang dua jual beli dalam satu jual beli (baca : dua jual beli dalam satu akad/transaksi – Abul-Jauzaa’)

 

Akan tetapi ana cenderung mengikuti penshahihan Syaikh Al-Albani. Hal itu dikarenakan matan hadits pertama tidaklah bertentangan dengan matan hadits yang kedua (yang diriwayatkan oleh banyak perawi). Padahal yang dinamakan hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi dengan menyelisihi perawi lain yang lebih banyak atau lebih kuat darinya. Dua hadits tersebut adalah satu makna dalam pengharaman dua jual beli dalam satu transaksi (satu jual beli). Hanya ada tambahan ”maka baginya harga yang terendah atau riba” yang tidak terdapat dalam 9 riwayat lainnya. Tambahan ini – sepanjang apa yang saya ketahui – termasuk ziyadatutss-tsiqah maqbulatun (tambahan dari seorang perawi tsiqah adalah maqbul). Dan Yahya bin Zakariyya termasuk perawi tsiqah. Kaidah ini adalah sebagaimana dijelaskan Ibnu Shalah dalam Ulumul-Hadits.

 

Adapun pengertiannya adalah bahwa hadits Abu Hurairah dengan matan pertama (yang terdapat keharusan memilih harga terendah), maka sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, itu masuk dalam jual beli ‘inah yang memang termasuk riba. Ibnul-Qayyim dalam Tahdzibus-Sunnan (9/240) mengatakan : “Makna kalimat dalam hadits terdahulu : ‘…barangsiapa yang melakukan dua jual beli dalam satu jual beli, hendaknya ia mengambil yang termurah, bila tidak ia memakan riba’ ; yaitu seperti jual beli ‘ienah. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Khaththabi. Karena itu artinya dua jual beli dalam satu jual beli. Yang termurah adalah harga kontan. Apabila yang diambil adalah yang lebih mahal, yaitu pembayaran berjangka, maka ia telah mengambil harta riba. Kemungkinan yang terjadi hanya salah satu dari dua : mengambil harga termurah atau memakan riba. Itu hanya terjadi pada jual beli ‘ienah” <selesai>

 

Jual beli ‘ienah gambarannya adalah sebagai berikut :Si (A) menjual mobil kepada si (B) dengan pembayaran tempo (5 tahun) seharga 50 juta. Mobil diterima si (B). Kemudian si (A) mensyaratkan untuk membeli kembali mobil tersebut seharga 40 juta secara kontan dari si (B). Maka di sini terdapat unsur manipulasi dan riba. Si (A) sebenarnya tidak berkeinginan untuk menjual mobil kepada si (B), melainkan ia hanya ingin “menggandakan” uangnya yang 40 juta itu menjadi 50 juta (ada tambahan 10 juta) dalam tempo 5 tahun. Ini riba. Sedangkan si (B) tujuannya tidaklah ingin membeli mobil si (A), melainkan hanya menginginkan uang kontan 40 juta dengan konsekuensi ia harus mengembalikan sebesar 50 juta di tahun kelima. Jadi sebenarnya ini hanya manipulasi riba yang dibungkus atas label jual-beli.

 

Dalam jual beli ini terdapat dua jual beli dalam satu jual beli. Jika penjual dan pembeli memilih harga terendah (yaitu 40 juta kontan), maka jual beli itu adalah mubah dan terbebas dari riba. Namun jika yang disepakati seperti di atas, maka itulah larangan dalam hadits Abu Hurairah. Wallaahu a’lam.

Kesimpulan :

  1. Jual beli kredit pada asalnya adalah boleh.
  2. Walaupun boleh, namun sudah selayaknya kita menghindarinya untuk menghindari perselisihan yang ada. Harus diakui bahwa hujjah ulama yang mengharamkannya pun terbilang cukup “kuat”. Apalagi hal itu didukung oleh para ulama-ulama Ahlus-Sunnah yang terkenal seperti Ibnu Sirin, Simak bin Harb, Ats-Tsauri, Ibnu Qutaibah, An-Nasa’I, Ibnu Hibban, dan yang lainnya.
  3. Juga, sudah selayaknya juga kita menghindari kredit (jangan menggampangkannya) karena pada hakikatnya kredit itu adalah hutang. Jika kita mati dan tunggakan kredit itu masih ada, maka statusnya adalah seperti hutang dimana kita tetap “tertahan” sampai kredit kita tersebut terselesaikan.
  4. Bersikap zuhud dan wara’ adalah utama. Beli kalau ada uang, dan tidak membeli kalau memang tidak ada uang. Kita tidak akan mati hanya gara-gara tidak bisa punya spring-bed kreditan, lemari kreditan, motor kredita, mobil kreditan, dan yang lainnya. Tengoklah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang melakukan pembayaran tempo untuk hal-hal yang memang sangat mendesak dan perlu : Yaitu makanan (sebagaimana haditsnya telah disebutkan).
  5. Mohon maaf jka tidak memuaskan. Sengaja tidak saya panjang lebarkan pembahasannya, karena saya yakin sebagian penjelasannya telah antum punyai. Saya hanya menuliskan sebagian pokok-pokok yang kira-kira menjadi titik kritis dalam penyikapan dua khilaf ini.
  6. Kalau ada masukan, kritikan, atau sanggahan, silakan disampaikan kepada saya. Manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika malah mbulet………….Wallaahu a’lam bish-shawab.

Demikian penjelasan sahabat saya Abu Al Jauzaa.


 

 

Footnote :

[1]     Tepatnya penjelasan At-Tirmidzi tersebut adalah sebagai berikut :

[وقد فسر بعض أهل العلم قالوا بيعتين في بيعة أن يقول أبيعك هذا الثوب بنقد بعشرة وبنسيئة بعشرين ولا يفارقه على أحد البيعين فإذا فارقه على أحدهما فلا بأس إذا كانت العقدة على أحد منهما قال الشافعي ومن معنى نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن بيعتين في بيعة أن يقول أبيعك داري هذه بكذا على أن تبيعني غلامك بكذا فإذا وجب لي غلامك وجب لك داري وهذا يفارق عن بيع بغير ثمن معلوم ولا يدري كل واحد منهما على ما وقعت عليه صفقته]

Sebagian ahli ilmu menafsirkannya, mereka berkata : “Aku menjual baju ini dengan kontan senilai sepuluh dan dengan berangsur senilai dua puluh” dan ia tidak berpisah (yaitu tidak bersepakat) dengannya pada salah satu harga. Kalau ia berpisah dengannya di atas salah satunya, maka itu tidak apa-apa apabila akad berada di atas salah satu dari keduanya. Berkata Imam Asy-Syafi’I : “Dan dari makna larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari dua penjualan dalam satu transaksi, seseorang berkata : ‘Aku menjual rumahku kepadamu dengan syarat kamu menjual budakmu kepadaku dengan harga sekian. Kalau budakmu telah wajib untukku maka aku wajibkan rumahku untukmu’ dan ini berpisah (yaitu bersepakat) dengan penjualan tanpa harga yang pasti dan setiap dari keduanya tidak mengetahui bagaimana bentuk transaksinya”. Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Al-Khaththabi dalam Ma’aalimus-Sunan.

[2]  Hadits tersebut diriwayatkan dari jalur : Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Zakariya dari Muhammad bin ‘Amru dari Abi Salamah dari Abi Hurairah.

14 Responses to “Jual Beli Kredit Dengan Penambahan Harga Halal Atau Haram Dalam Islam ?”

  1. saya sekarang sedang bisnis jual beli barang sistem kredit. Pada saat pembelian barang pesanan pembeli saya sering kesulitan dalam memilih produk yang dipesan karena khawatir kualitasnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bolehkah saya berikan uangnya terlebih dahulu, kemudian dia membeli barang yang diinginkan. Kemudian dilakukan akad jual beli? (Sebelumnya disepakati saya akan menerima keuntungan 15% dari harga pembelian barang)? Bagaimana menurut pendapat anda? Halal atau haram?

    Terima kasih
    SUkirno

    Abu al Maira :
    Mas dari penjelasan yang anda berikan, [kalo saya gak salah nangkap] dikarenakan ketidakyakinan konsumen atas kualitas barang yang akan anda jual maka produsen mengkreditkan barang yang dibelinya kepada anda. Sama halnya bahwa anda menjual barang yang tidak anda miliki dan ada unsur riba yang disamarkan di dalamnya.

    Sekarang kalau saya lihat, masalahnya gak berbeda dengan kasus seperti ini :
    Saya mau beli handphone di counter HP harga cash Rp 2 Juta. Lantas saya mempunyai keinginan untuk mengkreditkan barang tersebut [dengan alasan misalnya tidak punya uang atau tertarik dengan program kredit yang diberikan oleh pihak pemberi kredit] melalui kartu kredit dengan asumsi jika kredit selesai maka total angsuran yang saya lunasi adalah Rp 2,2 Juta.
    Sama saja toh… Dalam hal ini anda bertindak sama halnya dengan bank [penerbit kartu kredit], dan keuntungan yang anda ambilpun tidak ada bedanya dengan keuntungan dari hasil riba yang didapatkan oleh bank, dan anda pun pada asalnya tidak memiliki barang tsb [jadi jika konsumen komplen atas produk/barang, maka anda bisa lepas tangan karena pada asalnya memang barang/produk tsb bukan milik anda dan konsumen sendiri yang memilih barang/produk tsb]

    Baiknya begini saja Mas, anda berdagang seperti apa adanya pedagang. Anda harus mempunyai barang yang benar2 berkualitas yang bisa dijual. Artinya anda harus mempunyai modal yang cukup dan keberanian untuk memiliki stock barang, berarti anda harus berani menanggung resiko. Andaikanpun karena keterbatasan modal/supply, paling tidak anda mempunyai contoh barang dan anda bisa melaksanakan dengan sistem jual beli salam atau jual beli istishna’.

    Sementara itu aja mas yang bisa saya sampaikan dari literatur2 yang saya miliki.
    Jika kurang memuaskan, silahkan tanya ke ustadz2 yang lebih mengetahui.

  2. maaf saya ingin menanyakan kalau misalnya saya mengkreditkan emas dengan penambahan harga atau misalkan ada konsumen yang memesan emas 2 gram,kemudian saya pergi ke toko emas dan membeli sesuai pesanan konsumen,anggap saja mas 1 gram=Rp.200.000 jadi saya membeli emas ke toko mas dengan harga Rp.400.000,selanjutnya emas tersebut saya berikan kepada konsumen yang memesan tersebut,tetapi dari 1 gram emas saya memakai penambahan harga Rp.50.000,jadi konsumen harus membayar 500.000 dalam batas waktu 3 bulan,apakah hal seperti ini di haramkan atau di halalkan menuru syariat agama islam…trima kasih

    Abu al Maira :

    Yang anda lakukan adalah riba. Termasuk riba fadhl, HARAM hukumnya.

    “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584).

    Artinya, transaksi harus dilakukan secara kontan (tunai). Sehingga penyerahan barang yang dijual/dibarter harus dilakukan pada saat terjadi akad transaksi dan tidak boleh ditunda seusai akad atau setelah kedua belah pihak yang mengadakan akad jual beli/akad barter berpisah, walaupun hanya sejenak.

    Kemudian, barang yang menjadi objek jual beli/barter harus sama jumlah dan takarannya, walau terjadi perbedaan mutu antara kedua barang.
    Misalnya, anda ingin menukar emas 21 karat sebanyak 5 gram dengan emas 24 karat. Maka ketika terjadi akad barter, tidak boleh emas 24 karat dilebihkan misalnya jadi 7 gram. Jika dilebihkan, maka terjadilah riba fadhl.

    Jika dua syarat di atas tidak terpenuhi, maka jual beli di atas tidaklah sah dan jika barangnya dimakan, berarti telah memakan barang yang haram.

  3. akan tetapi konsumen mengembalikanya kpada saya dalam bentuk uang bukan dengan emas,bagaimana kalao yang demikian

    Abu al Maira :
    Begini mas, intinya jual beli emas itu harus kontan,tidak boleh kredit. Baik jual beli / barter, keduanya tidak boleh dalam bentuk kredit.
    Karena dalil mengatur demikian bahwa emas tidak boleh diperjualbelikan secara kredit walaupun penukarnya dalam bentuk uang.

    Menurut pendapat ulama, uang disamakan fungsinya dengan emas.

    lain halnya jika anda menukar satu gram emas dengan 1 kodi kain, ini tidak mengapa, tapi tetap harus kontan

  4. Bila dalam masalah pertama si penjual tidak memiliki barangnya. bagaimana jika si penjualnya terlebih dahulu yg membeli barang yg diinginkan oleh si calon pembeli baru kemudian djual secara kredit…??tlong jwabannya…

    Abu al Maira :

    Kalau jual beli salam boleh.. Dan kalau tidak ada perjanjian yang mengharuskan si pembeli harus benar2 membeli barang si penjual ketika barangnya ada, maka hukumnya boleh

  5. Assalaamualaikum,
    Mohon bantuannya.
    Jika akan memberikan pinjaman modal kpd pengusaha kecil yg cara pengembaliannya diangsur,apa boleh meminta biaya administrasi pd saat transaksi. Besarnya administrasi tergantung besarnya pinjaman.
    Yg kedua,di lingkungan sy bnyak transaksi seperti ini ustad. Misalkan,sy beli emas 1gram 420rb dr toko lalu ada orang yg mau beli emas itu ke sy dg harga 600rb dg cara diangsur sebesar 20rb selama 30 kali. Bagaimana dg transaksi tsb ?
    Mohon penjelasan dr kedua pertanyaan dan bagaimana solusinya agar tidak termasuk transaksi haram.
    Terimakasih,wassalaam

    Abu al Maira :

    Seluruh pinjaman yang memberikan keuntungan bagi pemberi pinjaman, maka itu adalah riba. Apapun istilahnya, mau biaya administrasi, biaya penitipan atau apapun namanya.

    Jual beli emas harus dilakukan secara tunai dan pada waktu itu juga. Artinya pembayaran harus lunas dan serah terima barang dilakukan saat itu juga. Jual beli emas tidak boleh dilakukan secara tempo. Riba hukumnya.

  6. Terima kasih atas penjelasannya,
    lalu bagaimana menurut anda tentang Bank-Bank Syariah?
    Mohon sudilah kiranya anda menjelaskan proses/akad yg dilakukan Bank Syariah thd nasabah(meminjam uang pada Bank).
    Terima kasih.

    Abu al Maira :

    Anda bisa membaca disini :

    http://majalah.pengusahamuslim.com/2012/01/31/masih-adakah-riba-di-bank-syariah/
    http://pengusahamuslim.com/mudharabah-bank-syariah-1476
    http://pengusahamuslim.com/kpr-bank-syariah-1463

  7. Assalamualaikum. Wr.wb..
    Mas saya mau tanya tentang jual beli kredit handphone dengan bunga yang lumayan tinggi..
    Misal membeli handphone yang harga cash’ya 2juta sedangkan jika kredit selama 1bulan menjadi 2.200.000.. Tetapi disaat itu juga sudah ada kesepakatan untuk membeli yang kredit selama 1bulan..
    Apakah itu hukumnya jual beli yang syah atau riba.. Thx

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam

    Kalau konsepnya mengandung riba, maka haram hukumnya.
    Dalam kasus ini saya tidak mengetahui apakah anda membelinya langsung kepada toko handphone atau anda menggunakan jasa financing. Jika anda menggunakan jasa financing, maka hampir seluruh konsep financing adalah haram.

  8. assalamualaikum
    bagaimana dg hadith yg mengatakan nabi membayar dg unta yg lebih besar dari unta yg dipinjam oleh beliau?
    mohon penjelasannya.

    Abu al Maira :

    ‘Alaikumussalaam…

    Tambahan ataupun kelebihan pembayaran yang disyaratkan dalam urusan hutang/piutang maka hukumnya adalah haram.

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا
    فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِىَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ
    فَرَجَعَ إِلَيْهِ أَبُو رَافِعٍ فَقَالَ لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلاَّ خِيَارًا رَبَاعِيًا.
    فَقَالَ ) أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً ).
    Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam pernah meminjam dari seseorang
    seekor onta yang masih muda. Kemudian ada satu ekor onta sedekah yang dibawa kepada beliau.
    Beliau lalu memerintahkan Abu Rafi’ radhiyallâhu’anhu untuk membayar kepada orang tersebut pinjaman satu ekor onta muda. Abu Rafi’ pulang kepada beliau dan berkata: “Aku tidak mendapatkan kecuali onta yang masuk umur ketujuh”. Lalu Beliau menjawab: “Berikanlah itu kepadanya! Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya”. (HR Muslim no.4192)

    Yang perlu diperhatikan adalah adanya persyaratan untuk membayar lebih atas sesuatu yang dipinjam/diperhutangkan.

  9. Assalamualaikum, saya mau bertanya, jika saya membeli borongan apakah boleh? Misalnya saya membeli baju,celana, tas,jaket dll di satu toko dan saya jual kembali misal total semua 1juta, maksudnny banyak barang tapi saya bayar sekali dalam satu pembelian apakah boleh?

    Abu al Maira :

    Boleh

  10. maaf pak saya mau bertanya meskipun tidak sesuai dengan topik pembicaraan tetapi ini juga sama kaitannya ini mengenai gadai barang..
    contoh saya menggadaikan barang elektronik kemudian saya dapat pinjaman 5.000.000 dan dalam perjajian atau akad perjanjian saya mensetujui pembayarnya secara mencicil 12 x yaitu sekitar 416.500 x 12 hasilnya 4.998.000 kemudian saya dikenakan biaya penitipan barang gadai sekitar 5.000/harinya..
    jika dijumlahkan saya harus membayar 5.000/hari x 30 hari = 150.000
    150.000 x 12 bulan = 1.800.000..
    jadi hutang yang saya lunasi 4.998.000 + 1.800.000 = 6.798.000 dalam jangga waktu 12 bulan apakah hal seperti ini diperbolehkan dalam ajaran islam??
    karena menurut yang saya baca di media gadai itu diperbolehkan dan untuk besarnya hutang harus sesuai dengan akad perjajian yang telah disetujui dengan kedua belah pihak tanpa ada dasar paksaan..
    mohon pencerahannya.

    Abu al Maira :

    Untuk apakah biaya penitipan barang gadai sebesar Rp 5.000,- tersebut ?
    Apakah biaya tersebut benar2 digunakan untuk kepentingan penyimpanan atau perawatan barang ? Ataukah biaya tersebut merupakan pendapatan terselubung dari si pemberi pinjaman ?

    Yang sudah2, biasanya biaya penitipan adalah kata lain dari pendapatan bagi si pemberi pinjaman….

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: