Hukum Muamalah Dengan Bank-Bank Syariah Yang Tidak Mengandung Riba


Hukum muamalah dengan bank-bank syariah [institusi sejenis] yang tidak mengandung riba, sementara perusahaan induknya [kantor pusatnya] adalah bank ribawi.

Al Lajna Ad Da’imah berfatwa [13-374-375]  :

“Tidak mengapa bila bermuamalah dengan bank atau cabangnya, bila muamalahnya tidak ada unsur riba. Sebab Allah subhana wa ta’ala menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Juga karena hukum asal muamalah adalah halal, dengan bank ataupun lainnya, selama tidak mengandung perkara haram….”

Sumber : Kajian Utama – Permasalahan Seputar Riba, tulisan Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin, Majalah Asy-Syariah No.29/III/1428H/2007M.

7 Responses to “Hukum Muamalah Dengan Bank-Bank Syariah Yang Tidak Mengandung Riba”

  1. orang berusaha dengan dagang ingin keuntungan yang sesuai syariat islam gimana ya???

  2. bagaimana sih hukum bermuamalah dengan bank syariah?

    tolong di jelaskan lebih mendetail..

    Abu al Maira :

    Halal-halal saja selama systemnya memang murni sesuai syariah. Coba anda beli buku Riba & Studi Kritis Perbankan Syariah karangan Ust. Muhammad Arifin bin Badri MA…. Disana pembahasannya cukup lengkap dan detail…

  3. jual beli (al-Ba’i) adalah perkara yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. Secara umum hampir setiap hari manusia melakukan transaksi jual beli mulai dari pasar tradisional sampai modern dilakukan baik secara langsung ataupun tidak. Dalam transaksi itu setiap orang mencari keuntungan, pembeli mendapaatkan barang dengan harga murah sementara penjual mendapat keuntungan yang tidak merugikan. Jika dalam transaksi itu tidak mengandung unsur-unsur mendzalimi dengan berbagai macam model, maka jual beli seperti itu sesuai dengan tuntunan syari’ah. Maka, jual beli yang dibenarkan dalam pandangan Islam adalah tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan orang lain baik penjual maupun pembeli tidak ridha pasca transaksi.

  4. BAGAIMANA HUKUMNYA MEMINJAM UANG DI BANK SYARIAH UNTUK MEMBAGANGUN RUMAH CONTOHNYA RP. 100 JUTA LANTAS PIHAK BANK TERSEBUT MENGATAKAN DICICIL SELAMA 6 TAHUN YANG AKHIRNYA SEMUANYA YAITU : 160 JUTA. BAGAIMANA HUKUMNYA

    Abu al Maira :

    Assalaamu alaikum warahmatulahi wabarakaatuh

    Begini pak…. Sebenarnya masalah ini menjadi perbincangan yang sangat seru dan banyak bersifat “keabu-abuan”.

    Yang saya ketahui bahwa perudang-undangan di Indonesia melarang bank memiliki bisnis di sektor real selain usahanya sebagai mediasi penyimpan dan penyalur dana kepada masyarakat. Alhasil, bank tidak boleh memiliki bisnis apapun kecuali menjalankan fungsinya sebagai lembaga penyimpanan dan pembiayaan kepada masyarakat.

    Jika Bapak mendatangi Bank untuk meminta pembiayaan dana renovasi rumah, maka bisa disimpulkan bahwa bank tidak memiliki usaha kontraktor pembangunan rumah.
    Jika bank [dan pastinya] tidak memiliki usaha kontraktor, maka sama saja halnya bahwa bank hanya memberikan pinjaman uang kepada Bapak dan harus Bapak kembalikan dengan nilai yang lebih banyak daripada yang Bapak pinjam dari pihak Bank.
    Kalau sudah seperti ini, sama saja hal ini seperti riba yang tersembunyikan oleh label syariah.

    Biasanya bank memberikan alternatif, dengan cara memberikan hak wakalah [perwakilan] kepada Bapak.
    Artinya, Bapak diberikan kuasa sebagai perwakilan bank untuk menunjuk kontraktor yang Bapak inginkan.
    Ini sebagai jalan keluar dikarenakan bank tidak boleh memiliki usaha lain [misalnya kontraktor] kecuali usaha simpan pinjam.
    Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah… Jika bank ingin menghilangkan kesan meminjamkan uang kepada Bapak dengan cara menunjuk kontraktor untuk merenovasi rumah Bapak, jika terjadi kegagalan atau kesalahan dalam renovasi, kepada siapakah Bapak akan komplain ?
    Sudah pastinya Bapak tidak akan bisa komplain kepada pihak bank, karena pihak bank [sekali lagi] hanya sebagai mediator [atau lebih tepat disebut sebagai pemberi dana].
    Akhirnya hal ini juga tidak menjadi solusi yang aman dari riba.

    Yang diperbolehkan adalah seperti ini :
    Misal Bapak datang kepada saya untuk meminta bantuan untuk renovasi rumah. Dan harga/biaya renovasi disepakati misalnya Rp 100 Juta jika Bapak langsung bayar atau Rp 200 Juta jika Bapak cicil 5 tahun.
    Lantas saya membantu Bapak dengan menyediakan tukang, bahan bangunan dan segala sesuatunya. Pokoknya Bapak tinggal ongkang-ongkang kaki saja. [Jadi dalam hal ini Bapak tidak menerima uang sepeserpun].
    Dan jika terjadi kegagalan/kesalahan renovasi, maka Bapak komplain kepada saya.
    Nah ini yang benar.

    Kalau Bapak tanya bagaimana solusinya untuk mendapatkan pinjaman yang tidak melanggar aturan main syariat, Maaf saya juga tidak bisa jawab.

  5. kalau mengambil uang bagi hasil dari bank syariah bagaimana hukumnya ?

    Abu al Maira :

    Ulama berbeda pendapat atas hal ini….

    Jika diyakini bahwa bagi hasil tersebut murni dari dijalankannya dari bisnis yang tidak melanggar syariat, maka sah2 saja…
    Jika ragu2 bahwa bagi hasil tersebut murni dari dijalankannya dari bisnis yang tidak melanggar syariat, maka tinggalkan…
    Jika tidak tahu apakah bagi hasil tersebut murni dari dijalankannya dari bisnis yang tidak melanggar syariat, maka boleh diambil.. Atau dengan kata lain sebatas maksimal pengetahuan kita bahwa tidak ada hal2 yang melanggar syariat…

    Cuma jangan pura2 tidak tahu…

  6. Mau tanya, katanya prinsip Bank syariah bagi hasil. Bagaimana kalo usahanya merugi?apa Bank Syariah harus tetap untung ? Misalnya , pada saat nasabah akan melunasi kewajibannya dengan menjual agunan. Ternyata Bank Syariah akan menilai aset yang akan dijual pada saat itu. Jika nilai agunannya naik, maka Bank meminta bagian yg lebih besar,bahkan kalau dibandingkan dg pengembalian pokok plus bunga Bank konvensional nilainya bisa jauh lebih tinggi. Ini beda Bank syariah dengan Bank konvensional. Suatu prinsip yg bertentangan. Jadi prinsip bagi hasil dari usaha tidak benar. Prinsipnya bagaimana untung besar, walau nasabah pailit dengan niat baik untuk melunasi dengan menjual agunan.Bank Syariah lebih kejam dari Bank konvensional. Karena itu hati2 dengan istilah bagi hasil. Yang ada adalah bagi untung atau kalo rugi,bagi hasil penjualan agunan dengan bagian Bank yang mencekik leher tampa rasa belas kasihan. Awalnya saya gembira tidak pinjam dengan riba,tapi ternyata Bank Syariah lebih kejam dari rentenir. Semoga Allah memberi ganjaran yg setimpal kepada semua pendukung Bank Syariah di Indonesia.

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: