Makna Syahadat Laa ilaaha illallah


 Mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa dapat diterima oleh semua agama di Indonesia? Padahal semua orang tahu bahwa agama selain Islam di Indonesia mempunyai lebih dari satu tuhan. Keesaan Tuhan yang bagaimanakah yang dimaksud dalam sila tersebut, sehingga tampaknya non-muslim (ahlul kitab atau bukan) menerima dengan ‘lapang dada’? Apakah makna Sila Pertama itu sama dengan Laa ilaaha illallah, sehingga sebagian dari kita pun serta merta menjadi pendukungnya?!

Rukun Kalimat Laa ilaaha illallah

Kalimat Laa ilaaha illallah memiliki dua rukun, sebagaimana sholat, puasa dan haji mempunyai rukunnya masing-masing yang apabila rukun tersebut ditinggalkan maka tidak sah sholat, puasa atau hajinya. Rukun yang pertama adalah nafyi (peniadaan) yaitu penggalan kalimat Laa ilaaha, maksudnya, kalimat tersebut meniadakan hak peribadatan kepada selain Allah. Rukun yang kedua adalah itsbat (penetapan) yaitu penggalan kalimat illallah, maksudnya kalimat tersebut menetapkan hak peribadatan hanya milik Allah.

Allah telah menjelaskan hakikat kedua rukun ini ketika menceritakan perkataan Ibrohim kepada ayah dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az Zukhruf: 26-27). Penggalan ayat yang pertama, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah” merupakan penjelasan penggalan kalimat Laa ilaaha. Sedangkan penggalan ayat yang kedua, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku” adalah penjelasan penggalan kalimat illallah.

Jadi, Yang berhak diibadahi hanya Allah saja. Tuhan-tuhan selain Allah pada hakikatnya tidak layak dan tidak berhak untuk disembah dan diibadahi. Tetapi mengapa jin dan manusia tetap ada yang beribadah kepada selain Allah padahal mereka telah mengucapkan kalimat syahadat? Ini menunjukkan kejahilan mereka tentang makna syahadat Laa ilaaha illallah.

Kesalahpahaman dan Bantahannya

Sebagian orang ada yang memaknai kalimat Laa ilaaha illallah adalah “Tidak ada Pencipta kecuali Allah.” Makna ini malah diyakini oleh kebanyakan kaum muslimin di negeri kita, yang non-muslim pun mengakuinya. Kalaulah memang benar demikian maknanya, kesimpulannya kaum musyrikin Quraisy sudah mengucapkan kalimat syahadat. Karena mereka mengakui bahwa pencipta alam semesta, yang mengaturnya, memberi rizki kepada penghuninya, yang menghidupkan dan mematikan adalah Allah Ta’ala.

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam untuk menyerukan kepada orang-orang musyrik, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?'” (QS. Yunus: 31).

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?'” (QS. Al Mu’minun: 84-89). Masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan hal ini. Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa pengakuan mereka akan rububiyah Allah (bahwasanya yang menciptakan, mengatur dan memerintah hanyalah Allah) tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Buktinya, Rasululloh memerangi mereka, menghalalkan darah dan harta mereka. Jadi pemaknaan kalimat Laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Pencipta selain Allah” adalah tidak benar. Karena bukan ini yang dimaksud dan diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sebagian lagi ada yang memaknai kalimat Laa ilaaha illallah adalah “Tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah”. Seandainya makna ini benar, maka artinya semua tuhan yang disembah adalah Allah?!? Tidak mungkin. Karena Allah adalah Ahad (Esa). Padahal musyrikin Quraisy dahulu menyembah/beribadah kepada Allah, Lata, ‘Uzza, Manah dan Hubal, apakah mereka adalah Allah? Tentu tidak. Kenyataannya orang Nasrani menyembah Bapa, Yesus (nabi Isa) dan Roh Kudus (malaikat Jibril), apakah Isa dan Jibril adalah Allah? Tentu juga tidak. Kesimpulannya, pemaknaan seperti ini jelas tidak benar.

Makna Laa ilaaha illallah Sesungguhnya

Yang benar, makna kalimat Laa ilaaha illallah adalah “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah”. Berarti, Tuhan yang berhak diibadahi adalah Allah. Tuhan-tuhan selain Allah tidak punya hak untuk disembah/diibadahi, walaupun jin dan manusia menyembahnya. Maka peribadatan kepada Allah saja itulah yang benar (haq), sedangkan peribadatan kepada selain Allah itulah yang salah (batil). Makna ini sesuai dengan firman Allah, “Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka ibadahi selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62)

Konsekuensinya

Seseorang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah seharusnya memahami maknanya dengan landasan ilmu, meyakini kebenarannya serta mengamalkan konsekuensinya dengan anggota tubuhnya. Sehingga ia tidak membatalkan ucapannya sendiri karena ketidaktahuannya tentang hakikat pengucapan Laa ilaaha illallah. Dan di antara konsekuensinya adalah apapun bentuk ibadah (seperti nadzar, sembelihan, tawakal, takut, mengharap dan sebagainya) yang kita lakukan harus ditujukan untuk Allah saja, tidak kepada selain-Nya, entah itu nabi, malaikat, wali, jin, berhala, kuburan, bebatuan, pepohonan maupun yang lain.

Bukankah kita mengetahui bahwa orang-orang munafik semacam Abdullah bin Ubay bin Salul juga mengucapkan kalimat syahadat Laa ilaaha illallah? Ia mengucapkan kalimat syahadat dan juga mengerti maknanya, tetapi hatinya mengingkarinya dan tidak mengamalkan konsekuensinya. Namun di manakah tempat kembalinya orang-orang munafik? Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisaa’: 145). Lalu bagaimana halnya keadaan kaum muslimin dewasa ini, khususnya di negeri kita, yang mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya, tapi tidak paham maknanya dan mengingkari kebenarannya serta tidak mengamalkan konsekuensinya, bukankah ini lebih parah dari orang-orang munafik? Mengapa sedikit sekali yang mengambil pelajaran? Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Yazid, Bulletin At-Tauhid, http://www.muslim.or.id

Iklan

One Trackback to “Makna Syahadat Laa ilaaha illallah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: