Pedoman Menghajr Istri


 Cara nasihat sudah ditempuh tapi si istri belum juga kembali pada kelurusannya. Maka syariat mengajarkan agar dijalani tahapan kedua, hajr, sebagaimana dalam ayat: “Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka maka berilah mau’izhah kepada mereka, hajrlah mereka di tempat tidur….” (An-Nisa`: 34)
Kata hajr mungkin lebih mudahnya kita artikan memboikot. Sebagian ulama berkata, “Yang dimaksudkan dengan hajr di sini adalah hajrul jima’, maknanya si suami tetap seranjang dengan istrinya namun ia tidak menggaulinya bahkan memunggunginya.” Yang lainnya mengatakan bahwa hajr di sini adalah tidak mengajaknya bicara dalam artian mendiamkannya. Adapula yang mengatakan, si suami meninggalkan tempat tidurnya, tidak tidur sekamar dengan istrinya yang berbuat nusyuz tersebut. Adapun jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaukan dengan hajr di sini adalah tidak masuk ke tempat si istri dan tidak tinggal di sisinya menurut dzahir ayat. (Fathul Bari, 9/374)
Ada beberapa hadits yang menyinggung tentang hajr ini, sebagiannya akan kita sebutkan dalam pembahasan kali ini.

Donlod Artikel Lengkap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: