Hukum Menikah Dalam Keadaan Hamil


Adapun perempuan hamil karena zina, perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak, dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para ‘ulama.

Secara global para ‘ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina

DONLOD ARTIKEL LENGKAP

Iklan

4 Komentar to “Hukum Menikah Dalam Keadaan Hamil”

  1. Maap, sayah mbaca cepat.

    Sayah ndak nemuin penjelasan, kalok nyang ngawinin si perempuwan hamil itu adalah pacarnya sendiri (nyang sering terjadi di masyarakat kita), apakah perkawinan ini tetep Bathil ???

    Kalok tetep Bathil, apa berarti nunggu si perempuwan ngelahirin bayinya doloo sampai masa idah nya slesai, apa gimana, Abu ???

    Abu Al Maira :

    Ulama berbeda pendapat apakah lepas ‘iddah, apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak, ada dua pendapat ada yang wajib nunggu masa iddah dan ada yang tidak.

    Yang tidak wajib ‘iddah. Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan Abu Hanifah, tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal, yaitu menurut Imam Syafi’iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima’ dengannya setelah akad, apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima’ dengannya, apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima’ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil.

    Dari yang diterangkan oleh Ustadz Abu Muhammad, nampaknya dengan dalil2 yang ada, kecenderungannya bahwa wajib menunggu masa iddah, baik yang dinikahi oleh yang menzinai atau bukan.

    Allahu ‘alam.

  2. Pak abu,
    tulis artikel ttg wudlu mengusap khuf dong.
    yg komprehensif 🙂

    buat mbelgedes, itu sunnah vs bidah di
    abusalafy kok mandeg ya ?

    wassalam

    Abu Al Maira :

    Coba anda cari di blognya Abu Salma [abusalma.wordpress.com].
    Dulu saya pernah donlod file pdf, isinya mengenai fikih khuf, ditulis oleh Al Ustadz Ibnu Abidin As Soronji. Insya Allah, tulisan beliau sudah cukup jelas.

    Maaf kalo kurang bisa membantu.

  3. Wadoohhh….
    Kasian jugak yah, perempuwannya.
    Mblendung setaon ndak ada suwami.
    Tapi mungkin ini memang ‘pelajaran berat’, agar ndak melakukeun zina.

    Oke, deh kalok getoo sayah paham.

    Abu Al Maira :

    Yang lebih repot lagi, si jabang bayi dinasabkan kepada ibunya bukan ayahnya. Jadi kalau nanti si anak hasil zina itu akan menikah, maka walinya wali hakim. Umumnya banyak orang yang tidak mengetahui perkara ini.

    Allahu ‘alam

  4. Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh !! Akh, kebetulan saya pernah nulis dengan tema yang sama. Semoga dapat menambah manfaat dari tulisan yang antum tampilkan.

    MENIKAHI WANITA YANG HAMIL KARENA ZINA

    Tulisan di sini terutama sekali bersumber pada kitab yang berjudul : Ahkaamul-Mar’atil-Haamil karya Yahya Yahya bin ’Abdirrahman Al-Khathiib, MA (yang bisa diunduh dari Maktabah Saaid – http://www.saaid.net/book – versi ini adalah versi ringkasan dari kitab aslinya) dengan beberapa tambahan lain yang perlu.

    Tentang hukum menikahi pezina, para fuqahaa berbeda pendapat menjadi tiga pendapat, yaitu :

    1. Pendapat Pertama

    Sesungguhnya tidak ada kemuliaan/kehormatan atas perbuatan zina tentang kewajiban ber-’iddah darinya (maksudnya : wanita tersebut dapat langsung dinikahi). Sama saja, apakah ia hamil atas perbuatan zinanya atau tidak. Dan juga sama saja apakah wanita tersebut telah bersuami sehingga si suami tersebut boleh langsung mencampurinya; atau tidak mempunyai suami sehinga diperbolehkan bagi laki-laki yang menzinahinya atau selainnya untuk menikahinya, baik ia dalam keadaan hamil atau tidak. Akan tetapi, jika wanita tersebut hami, maka dimakruhkan bagi suaminya (atau orang yang menkahinya) untuk mencampurinya hingga ia melahirkan. Ini adalah madzhab Syafi’iyyah [Asy-Syarbini, Mughnil-Mughtaj 5/84].

    Dalil yang mereka jadikan sandaran adalah :

    a) Firman Allah ta’ala :

    وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ

    ”Dan dihalalkan bagi kalian selain dari yang demikian…” [QS. An-Nisaa’ : 24].

    b) Hadits ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa, bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

    لَا يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ

    ”Perkara haram tidak dapat mengharamkan perkara yang halal” [HR. Ibnu Majah, Kitaabun-Nikaah Baab Laa Yuharrimul-Haraamul-Halaala no. 2015; Ad-Daruquthni 3/267-268. Hadits ini dla’if sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adl-Dla’iifah no. 385].

    c) Ijma’ di kalangan shahabat yang membolehkannya. Telah diriwayatkan hal itu (adanya ijma’) dari shahabat Abu Bakr, ’Umar, Ibnu ’Umar, Ibnu ’Abbas, dan Jabir radliyallaahu ’anhum. Di antaranya adalah perkataan Abu Bakar :

    إِذَا زَنَى رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ نِكَاحُهَا .

    ”Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, maka tidak diharamkan (laki-laki tersebut) untuk menikahinya” [Al-Mawardi, Al-Haawii 9/189].

    وَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَجُلًا تَزَوَّجَ امْرَأَةً ، وَكَانَ لَهَا ابْنُ عَمٍّ مِنْ غَيْرِهَا وَلَهَا بِنْتٌ مِنْ غَيْرِهِ ، فَفَجَرَ الْغُلَامُ بِالْجَارِيَةِ وَظَهَرَ بِهَا حَمْلٌ ، فَلَمَّا قَدِمَ عُمَرُ مَكَّةَ رَفَعَ إِلَيْهِ فَسَأَلَهُمَا فَاعْتَرَفَا ، فَجَلْدَهُمَا عُمَرُ الْحَدَّ ، وَعَرَضَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا فَأَبَى الْغُلَامُ .

    Diriwayatkan dari ’Umar bin Khaththab radliyallaahu ’anhu : Bahwa ada seorang laki-laki menikahi seorang wanita. Lalu tinggal bersama mereka sepupu laki-laki suami dan sepupu perempuan istri. Kemudian dua orang sepupu suami istri itu berzina dan kemudian hamil. Ketika ’Umar datang ke Makkah, maka peristiwa tersebut dilaporkan kepadanya. Setelah ’Umar menanyai mereka dan mereka mengakuinya, maka ’Umar menjilidnya sebagai hukuman hadd. Kemudian (setelah itu), ’Umar menawarkan untuk menikahkan mereka, namun si laki-laki menolaknya” [idem].

    وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّهُ سُئِلَ أَيَتَزَوَّجُ الزَّانِي بِالزَّانِيَةِ ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، وَلَوْ سَرَقَ رَجُلٌ مِنْ كَرْمٍ عِنَبًا ، لَكَانَ يَحْرُمُ عَلَيْهِ أَنْ يَشْتَرِيَهُ

    Diriwayatkan dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya ia pernah ditanya : ”Apakah boleh dinikahkan antara seorang laki-laki dan wanita yang melakukan zina ?”. Maka ia menjawab : Ya (boleh). Apa pendapatmu seorang laki-laki yang mencuri buah anggur, apakah diharamkan baginya untuk membeli buah anggur yang telah dicurinya tadi ? [idem].

    2. Pendapat Kedua

    Apabila wanita yang dizinai itu tidak hamil, maka dibenarkan (sah) untuk menikahinya bagi laki-laki yang menzinahinya atau selainnya. Tidak ada ’iddah bagi wanita tersebut. Hal ini merupakan kesepakatan dalam madzhab Hanafiyyah. Maka, apabila laki-laki yang menzinahi menikahi wanita itu, maka hal itu halal baginya untuk mencampurinya menurut kesepakatan madzhab Hanafiyyah. Adapun anak yang dihasilkan dari pernikahan, jika ia lahir setelah masa enam bulan dari pernikahan (maka dinasabkan kepada laki-laki tersebut). Namun apabila lahir kurang dari itu, maka anak itu tidak dinasabkan kepadanya. (Konsekuensinya), anak itu tidak mewarisi harta laki-laki tersebut, kecuali jika laki-laki tersebut berkata : ”Anak ini adalah dariku”. Ia tidak mengatakan anak tersebut dari hasil zina. Dan apabila wanita yang dizinahi itu hamil, maka diperbolehkan untuk menikahinya menurut Abu Hanifah dan Muhammad (bin Al-Hasan), akan tetapi si laki-laki yang tidak diperbolehkan untuk mencampurinya hingga wanita tersebut hinga ia melahirkan [Ibnu Hammaam, Syarh Fathil-Qadiir 3/241-242].

    Munaqasyah (Pendiskusian) terhadap Dua Pendapat Di Atas

    a. QS. An-Nisaa’ ayat 24 di atas masih sangat umum. Banyak ayat dan hadits yang secara khusus mengharamkan menikahi wanita pezina (yang belum bertaubat atas perbuatan zinanya) dan/atau menikahi wanita dalam keadaan hamil sebelum ia melahirkan kandungannya. Dalil-dalil ini akan disebutkan kemudian insyaAllah.

    b. Hadits ’Aisyah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah adalah dla’if sehingga tidak bisa untuk dijadikan sandaran hukum.

    c. Mengklaim adanya ijma’ dalam membolehkan menikahi wanita yang pezina membutuhkan penelitian yang mendalam. Klaim ini tidaklah benar, sebab beberapa shahabat menyelisihinya. Bahkan terdapat riwayat marfu’ dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

    لا يَنْكِحُ الزَانِي الْمَجْلُودُ إِلا مِثْلُهُ

    ”Laki-laki yang telah berzina dan dijatuhi hukuman jilid (cambuk) tidak boleh menikah kecuali dengan yang semisalnya (yaitu wanita pezina)” [HR. Abu Dawud no. 2052; shahih].

    Hadits ini menunjukkan bahwa tidak halal seorang wanita baik-baik untuk menikah dengan laki-laki pezina; atau seorang laki-laki baik baik untuk menikahi wanita pezina [Asy-Syaukani, Nailul-Authaar 6/163]. Hal itu selaras dengan firman Allah :

    الزَّانِي لا يَنْكِحُ إلا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

    ”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin” [QS. An-Nuur : 3].

    d. Dalil-dalil yang dipakai oleh madzhab Hanafiyyah dalam menghalalkan menikahi wanita pezina adalah sama dengan dalil yang dipakai oleh madzhab Syafi’iyyah (yang otomatis telah terbantah).

    e. Adapun dalil yang dipakai oleh madzhab Hanafy untuk melarang mencampuri wanita yang telah dinikahi dan hamil dari benih orang lain sampai ia melahirkan adalah hadits Ruwaifi’ bin Tsabit Al-Anshari, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

    من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسق ماءه ولد غيره

    ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyiramkan air (maninya) kepada anak orang lain” [HR. Tirmidzi no. 1131; hasan].

    Pendalilan ini kuat di satu sisi, namun lemah di sisi lain. Maksudnya, kuat dalam sisi pengharaman menumpahkan air mani di rahim yang telah berisi benih orang lain. Lemah di sisi pembolehan pernikahan dengan wanita tersebut sebagaimana telah disinggung dan akan dijelaskan lebih lanjut di bawah.

    3. Pendapat Ketiga

    Sesungguhnya wanita pezina itu tidak boleh langsung dinikahi. Dan baginya ada masa ’iddah beberapa quru’ jika ia tidak hami, dan hingga ia melahirkan jika hamil. Apabila wanita tersebut mempunyai suami, maka diharamkan bagi si suami untuk mencampurinya sampai selesai masa ’iddah-nya beberapa quru’ atau sampai melahirkan. Ini adalah pendapat Rabi’ah, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, dan Ishaq. Dan hal itu merupakan madzhab Al-Malikiyyah dan Al-Hanabilah [Ad-Dardiir, Asy-Syarhush-Shaghiir 2/410, 2/717; Al-Bahuti, Kasysyaaful-Qinaa’ 5/83]. Menurut madzhab Malikiyyah, wanita itu harus ber-istibraa’ sebanyak tiga kali haidl, atau dengan berlalunya masa tiga bulan [Ad-Dardiir, Asy-Syarhush-Shaghiir 2/410]. Dan menurut Imam Ahmad, ia wajib ber-istibraa’ sebanyak tiga kali haidl. Ibnu Qudamah berpendapat : Cukup bagi wanita tersebut untuk ber-istibraa’ dengan sekali haidl saja. Pendapat Ibnu Qudamah ini didukung dengan dibela dengan kuat oleh Ibnu Taimiyyah. Madzhab Hanabilah menambah satu syarat tambahan untuk halalnya untuk menikahi wanita pezina, yaitu taubatnya wanita tersebut dari zina (yang telah dilakukannya) [Al-Bahuti, Al-Kasysyaaful-Qinaa’ 5/83; Ibnu Taimiyyah, Majmuu’ul-Fataawaa 32/110].

    Pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat dari dua pendapat sebelumnya.

    Dalil yang dipergunakan untuk membangun pendapat ini adalah :

    a. Allah ta’ala berfirman :

    وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

    ”Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya” [QS. Ath-Thalaq : 4].

    Pada dasarnya ’iddah dijalankan untuk mengetahui bersihnya rahim, sebab sebelum ’iddah selesai ada kemungkinan wanita bersangkutan hamil. Menikah dengan wanita hamil itu aqadnya batal, nikahnya tidak sah, sebagaimana tidak sahnya menikahi wanita yang dicampuri karena syubhat [Ibnu Qudamah, Al-Mughni 6/601-602].

    b. Hadits Ruwaifi’ bin Tsabit Al-Anshari radliyallaahu ’anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

    من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسق ماءه ولد غيره

    ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyiramkan air (maninya) kepada anak orang lain” [HR. Tirmidzi no. 1131; hasan].

    c. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ’anhu, bahwasannya beliau shallallaahu ’alaihi wasalam pernah bersabda mengenai sejumlah tawanan perang Authas :

    لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة

    ”Tidak boleh dicampuri wanita yang hamil hingga ia melahirkan, dan wanita yang tidak hamil tidak boleh dicampuri hingga ia haidl sekali” [HR. Abu Dawud no. 2157; shahih].

    d. Hadits Abu Darda’ dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

    أَتَى بِامْرَأَةٍ مُجِحٍّ عَلَى بَابِ فُسْطَاطٍ فَقَالَ لَعَلَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُلِمَّ بِهَا فَقَالُوا نَعَمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لَا يَحِلُّ لَهُ كَيْفَ يَسْتَخْدِمُهُ وَهُوَ لَا يَحِلُّ لَهُ

    Bahwasannya Abu Dardaa’ mendatangi seorang wanita yang tengah hamil tua di pintu Fusthath. Maka beliau shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangkali ia (Abud-Dardaa’) ingin memilikinya ?”. Mereka (para shahabat) berkata : “Ya”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh aku ingin melaknatnya dengan satu laknat yang ia bawa hingga ke kuburnya. Bagaimana ia bisa memberikan warisa kepadanya seangkan ia tidak halal baginya ? Bagaimana ia akan menjadikannya pelayan sedangkan ia tidak halal baginya ?” [HR. Muslim no. 1441].

    Rasulullah shallalaahu ’alaihi wasallam benar-benar mencela orang yang menikahi wanita yang sedang halal. Maka tidak diperbolehkan untuk menikahi wanita yang sedang hamil (berdasarkan riwayat ini).

    e. Ibnu Mas’ud radliyallaahu ’anhu berkata :

    إِذَا زَنَى الرَّجُلُ بِالْمَرْأَةِ ثُمَّ نَكَحَهَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُمَا زَانِيَانِ أَبَدًا

    ”Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, kemudian ia menikahinya setelah itu, maka keduanya tetap dianggap berzina selamanya”.

    Menikah adalah satu kehormatan. Agar tetap terhormat, hendaklah seorang laki-laki tidak menumpahkan air (mani)-nya dengan cara berzina, sebab dengan cara berzina akan bercampur yang haram dengan yang halal. Akan bercampur juga air yang hina dengan air yang mulia [Al-Qurthubi, Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an 12/170; Ad-Dardiir, Asy-Syarhush-Shaghiir 2/410,717].

    f. Jika laki-laki atau wanita tersebut tidak bertaubat dari perbuatan zinanya, maka ia tetap dinamakan pezina yang diharamkan bagi seorang laki-laki dan perempuan baik-baik untuk menikah dengannya. Allah berfirman :

    الزَّانِي لا يَنْكِحُ إلا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

    ”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin” [QS. An-Nuur : 3].

    Bila ia telah bertaubat, maka hilanglah predikat sebagai pezina [lihat Al-Mughni 6/602]. Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam telah bersabda :

    التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ

    ”Orang yang bertaubat (dengan benar) dari suatu dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa” [HR. Al-Hakim 2/349, Ibnu Majah no. 4250, dan yang lainnya; hasan].

    g. Anak hasil perbuatan zina tidaklah dinasabkan kepada laki-laki manapun, baik yang menikahi ibunya atau yang tidak, baik yang menzinahi atau yang tidak. Ia dinasabkan kepada ibunya berdasarkan pendapat yang rajih. Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

    الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

    ”Anak itu bagi (pemilik) firasy, dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)” [HR. Bukhari no. 1948 dan Muslim no. 1457].

    Firasy adalah tempat tidur. Maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. Keduanya dinamakan firasy, karena suami atau tuannya menggaulinya (tidur bersamanya). Sedangkan makna hadits di atas, anak itu dinasabkan kepada si pemilik firasy. Namun karena laki-laki pezina itu bukan suami (dari wanita yang dizinahi), maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya, dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan [Abdurrahman Ali Bassam, Taudlihul-Ahkaam 5/103].

    Kesimpulan :

    1. Tidak boleh bagi seorang laki-laki atau wanita yang baik-baik untuk menikah dengan laki-laki atau perempuan pezina sebelum ia taubat dari perbuatan zinanya.

    2. Haram hukumnya menikahi wanita yang hamil karena zina. Berlaku ’iddah (istibra’) bagi wanita tersebut hingga ia melahirkan kandungannya.

    3. Anak yang dilahirkan tidaklah dinasabkan kepada laki-laki manapun. Ia dinasabkan kepada ibunya.

    Wallaahu a’lam.

    Abu Al-Jauzaa’

    Abul Maira :

    Wa alaykum salam warahmatullah wabarakatuh…
    Jazakallahu khoir akh…
    Semoga Allah semakin menambah ilmu yang bermanfaat kepada antum…
    Barakallahu fiik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: