10 PEMBATAL KEIMANAN


Ada sepuluh perkara Pembatal keislaman, dan hal ini telah banyak terjadi serta tersebar di tengah-tengah masyarakat.

DONLOD ARTIKEL LENGKAP

2 Komentar to “10 PEMBATAL KEIMANAN”

  1. dalam artikel tsb bab perantara dalam berdoa
    (no 2), disebutkan
    “Contoh: wahai Syaikh (fulan) mintakanlah kepada Allah agar aku selamat atau wahai
    penunggu kubur melalui perantaraanmu, mohonkanlah kepada Allah agar aku sehat.
    Oleh karena itu apabila kita meminta, mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
    apabila kita berdoa, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara langsung.”

    apakah ini berarti kita tidak boleh minta didoakan
    oleh orang lain ?
    misalkan minta ibu kita mendoakan kita,
    atau nitip doa ke orang yg mau pergi haji ?

    wassalam

    Abu Al Maira :

    Yang paling utama adalah kita bermunajad langsung kepada Allah.

    Yang anda tanyakan berkaitan dengan masalah tawassul. Kalau minta didoakan oleh orang tua, orang2 yang nyata keshalehannya, atau bertawassul dengan amal ibadah, sepengetahuan saya ini diperbolehkan. Doa orang tua kepada anak termasuk salah satu doa yang diijabah oleh Allah. Begitu juga doa orang yang sedang wukuf.

    Yang tidak boleh adalah mendatangi kuburan2 keramat, ngalap berkah, dll.

    Allahu ‘alam

  2. ada yang berpendapat bahwa mengganti hukum Allah dengan hukum manusia adalah tindakan kemusyrikan, yang mengakibatkan seseorang keluar dari Islam. Benarkah?

    Abu Al Maira :

    Memang ada yang berpendapat demikian, seprti khawarij dan mu’tazilah. Kalau yang saya pahami dari pemahaman para ulama ahlussunnah, tidak demikian adanya.

    Tidak mudah untuk mengatakan seseorang kafir/fasiq/munafiq..

    Ahlussunnah berkeyakinan bahwa, tetapnya pokok iman bersamaan dengan adanya dosa. Sedangkan Khawarij dan Mu’tazilah meyakini lenyapnya iman secara keseluruhan, bersamaan dengan adanya sebagian dosa. Karena inilah Ahlus Sunnah tidak mengeluarkan pelaku dosa besar dari agama Islam, sedangkan Khawarij dan Mu’tazilah mengeluarkan mereka dari Islam.

    Perbedaan Ahlus Sunnah dengan Khawarij dan Mu’tazilah tentang penamaan orang fasiq (pelaku dosa besar) dan hukumnya.
    Ahlus Sunnah berkata: “Ia muslim dan hukumnya di akhirat di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya”.
    Khawarij berkata: “Dia (pelaku dosa besar) adalah kafir dan hukumnya di akhirat berada di dalam neraka, dan kekal selama-lamanya”.
    Sedangkan Mu’tazilah mengatakan bahwa, dia berada pada satu kedudukan di antara dua kedudukan (manzilah bainal manzilataini), yaitu tidak mukmin dan tidak kafir. Hukumnya di akhirat, ia kekal di dalam neraka.

    Masalah pengkafiran adalah hukum syar’i dan tempat kembalinya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Barangsiapa yang tetap keislamannya secara meyakinkan, maka keislaman itu tidak bisa lenyap darinya, kecuali dengan sebab yang meyakinkan pula. [Majmu’ Fatawa’ (XII/466)]
    Tidak setiap ucapan dan perbuatan -yang disifatkan nash sebagai kekufuran- merupakan kekafiran yang besar (kufur akbar) yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena sesungguhnya kekafiran itu ada dua macam, yaitu: kekafiran kecil (asghar) dan kekafiran besar (akbar). Maka, hukum atas ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan ini, sesungguhnya berlaku menurut ketentuan metode para ulama Ahlus Sunnah dan hukumhukum yang mereka keluarkan.
    Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir kepada seorang muslim, kecuali telah ada petunjuk yang jelas, terang dan mantap dari al-Qur‘an dan as-Sunnah atas kekufurannya. Maka, dalam permasalahan ini, tidak cukup hanya dengan syubhat dan zhan (persangkaan) saja.
    “Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “wahai kafir”, maka dengan ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya, apabila seperti yang ia katakan; namun apabila tidak, maka akan kembali kepada yang menuduh” [Muslim (no. 60), Abu ‘Awanah (I/23), Ibnu Hibban (no. 250-at-Ta’liqatul-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban), dan Ahmad (II/44) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma]

    Terkadang ada keterangan dalam al-Qur‘an dan as-Sunnah yang mendefinisikan bahwa suatu ucapan, perbuatan atau keyakinan merupakan kekufuran (bisa disebut kufur). Namun, tidak boleh seseorang dihukumi kafir, kecuali telah ditegakkan hujjah atasnya dengan kepastian syarat-syaratnya, yakni mengetahui, dilakukan dengan sengaja dan bebas dari paksaan, serta tidak ada penghalang-penghalang (yang berupa kebalikan dari syarat-syarat tersebut).

    Dan yang berhak menentukan seseorang telah kafir atau tidak adalah Ahlul ‘Ilmi yang dalam ilmunya, dan para ulama Rabbani dengan ketentuan-ketentuan syari’at yang sudah disepakati.

    Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan orang yang dipaksa (dalam keadaan diancam), selama hatinya tetap dalam keadaan beriman.

    Sebab-sebab yang dapat membawa kepada kekafiran besar ada tiga macam, yaitu: perkataan, perbuatan, dan i’tiqad (keyakinan). Di antara kufur ‘amali (perbuatan) dan qauli (ucapan), ada yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama dengan sendirinya dan tidak mensyaratkan penghalalan hati.
    Dijatuhkannya hukum kufur ini kepada orang-orang tertentu tidak boleh, melainkan setelah memenuhi syarat-syarat (kufur) yang bisa diterima, sebagaimana perbuatanperbuatan lain yang menyebabkan kafir pelakunya.

    Amalan kekafiran adalah kufur dan bisa menyebabkan pelakunya kafir, sebab keadaannya menunjukkan kepada batinnya yang juga kufur. Ahlus Sunnah tidak mengatakan seperti ucapannya para ahli bid’ah: “Amalan kekafiran tidak kufur, tapi dia menunjukkan kepada kekufuran!” Perbedaan keduanya jelas.

    Ketaatan merupakan sebagian dari cabang-cabang iman, demikian juga maksiat merupakan sebagian dari cabang kekafiran. Masing-masing sesuai dengan kadarnya.

    Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan seorang pun dari ahlul kiblat (kaum Muslimin), yang dikarenakan dosa-dosa besarnya. Mereka mengkhawatirkan terjadinya nash-nash ancaman kepada pelaku dosa-dosa besar, walaupun mereka tidak kekal di dalam neraka. Bahkan mereka akan bisa keluar dengan syafa’at para pemberi syafa’at, dan karena rahmat Allah Ta’ala disebabkan pada mereka masih ada tauhid.

    Allahu ‘alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: