Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (Penyewaan Yang Berakhir Dengan Kepemilikan)


 Transaksi ini untuk awal kalinya terjadi pada tahun 1847 di Ingris. Mula-mula hanya dilakukan perindividu kemudian menjadi transaksi yang dipakai oleh banyak perusahan sehingga mulailah transaksi ini tersebar ke negara-negara lain. Pada tahun 1953 M mulai masuk ke amerika serikat dan tahun 1962 M masuk ke Prancis dan pada tahun 1397 H mulai masuk ke negara-negara Islam.

Istilah Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik adalah istilah yang baru dan tidak dikenal dalam buku-buku fiqh sebelumnya. Namun penjelasan dan hukum untuk setiap masalah pasti ada tuntunannya dalam syari’at Islam.

Berhubung karena pembahasan masalah ini membutuhkan uraian yang panjang dan mendetail maka kami akan berusaha menyebutkan kesimpulan-kesimpulan hukum bagi setiap bentuk dari Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan).

DONLOD ARTIKEL LENGKAP

3 Komentar to “Al-Ijar Al-Muntahi Bit Tamlik (Penyewaan Yang Berakhir Dengan Kepemilikan)”

  1. pak,
    artikel ttg adzan subuh dong …

    kemarin pas solat di sebuah masjid kok
    mereka tidak memakai assolatu minan naum …

    terima kasih

    Abu Al Maira :

    Wah, artikel kayak gimana ya…. Kayaknya umum2 aja tuh akh… Coba antum cari di assunnah.web.id, kyknya ada tuh…
    Maaf bukan gak mau bantu, tapi kebetulan ana juga gak punya akh…

  2. terima kasih pak.
    btw, apakah di salaf ada yg ikut di milis
    wanita-muslimah@yahoogroups.com ?

    banyak celaan ke islam di milis tsb,
    tapi sedikit yg bisa jawab dg lugas tepat
    dan benar dan ilmiah. (termasuk sy 😦

    mungkin antum atau teman2 salaf yg lain
    bisa bantu ?

    atau memang tidak mau krn sudah menjurus
    ke debat kusir ?

    wassalam

    Abu Al Maira :

    Ana gak ikut milis tersebut. Disamping dengan ana masih miskin ilmu, ana cenderung menghindari perdebatan tanpa henti, terlebih lagi berdebat dengan orang2 yang teramat jahil.

  3. Terimakasih informasinya.
    Sekedar berbagi pendapat, dalam nilai-nilai Islam terdapat perbedaan yang nyata antara ibadah dengan muamallah.
    Ibadah, kata kuncinya “dilarang”, kecuali yang diperintahkan. Oleh karena itu, melakukan ibadah yang tidak diperintahkan tergolong bid’ah.
    Muamallah, kata kuncinya “diperintahkan”, kecuali yang dilarang. Oleh karena itu, ketika bermuallah diperbolehkan dalam berbagai bentuk atau cara, sepanjang tidak dilarang oleh Allah SWT.
    Untuk share silahkan klik gratis http://sosiologidakwah.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: