Amil [Pembagian Zakat] Salah Sasaran


 

 

Jika amil zakat sudah memberikan harta zakat kepada orang yang menurutnya adalah mustahiq (orang yang berhak mendapatkan zakat), baik karena pengakuannya atau diketahui ia mustahiq, lalu ia memberikan zakat kepadanya, namun setelah itu baru diketahui bahwa ternyata ia bukan mustahiq, maka harta zakat itu harus diambil kembali dan diberikan kepada orang lainnya yang sudah jelas mustahiq.

Jika tidak bisa diambil kembali karena ia pailit/defisit atau sudah habis, dan amil tidak mampu menarik kembali harta zakat tersebut, maka tidak ada beban apapun atas amil, sebab ia hanya bertanggung jawab terhadap orang yang diberi (mustahiq) dan terhadap orang yang berzakat. Dan jika salah, maka ia hanya menghukumi secara lahiriyah apa yang tampak saja, dan ia tidak dibebani untuk mengetahui apa-apa yang terrahasiakan darinya. Dan kapanpun ia bisa menarik kembali harta zakat tersebut ataupun petugas lainnya, maka perhitungkanlah hal itu (jadikan itu sebagai hutang atas orang yang ternyata bukan mustahiq tersebut).

Jika orang tersebut meninggal, maka limpahkanlah hutang itu kepada ahli warisnya. Jika mereka fakir atau kaya, maka limpahkanlah hutang itu kepadanya karena dahulu ia sesungguhnya bukan mustahiq walaupun saat ini ia adalah mustahiq karena fakir. Jika yang menyalurkan zakat itu adalah pemilik zakat itu sendiri, bukan amil, kemudian ia baru tahu bahwa sebagian orang yang sudah ia beri zakat adalah bukan mustahiq, maka ia harus mengambilnya kembali dan menyalurkannya kepada orang lain yang jelas mustahiq; jika mereka sudah meninggal atau pailit, maka tentang ini ada dua pandangan:

 

Pertama: Mereka tetap berhutang atas dana yang bukan haknya itu dan pemilik zakat harus menyalurkannya kepada yang berhak. Pemilik zakat tersebut tidak akan terbebas dari tanggung jawab ini kecuali setelah dana itu diambil dan disalurkan kepada mustahiqnya, sama seperti amil yang salah dalam menyalurkan dana zakatnya.

Kedua: Tidak ada tanggung jawab apapun atas pemilik zakat tersebut, jika kesalahannya itu karena keputusan yang salah, bukan karena kesengajaan, sama seperti amil jika salah karena keputusannya yang keliru.

Jika amil memberikan zakat kepada orang yang akan berjihad atau orang yang akan meneruskan perjalanan (ibnu sabil), dan kemudian ternyata kedua orang ini tidak jadi berangkat, maka amil harus mengambil kembali harta zakat dari kedua orang tersebut dan menyalurkannya kepada orang lain yang jelas mustahiq.

Sumber : Kitab Al-Umm, Imam Syafi’iy, Penerjemah: Abu Valech Yanhouth

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

One Comment to “Amil [Pembagian Zakat] Salah Sasaran”

  1. Assalamu’alaikum wr wb

    mau tanya :
    Bolehkah masjid mendapat bagian dari zakat. dimana masjid di tempat kami memerlukan dana untuk renovasi.

    wassalam

    Abu Al Maira :

    Alaikumussalam warahmatullah….

    Mustahiq [yang berhak menerima zakat] sudah jelas pak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: