Zakat Perhiasan – Pandangan Syaikh bin Shalih al Utsaimin


 

Khilaf Ulama

Para

ulama telah berbeda pandangan tentang hukum emas perhiasan, apakah ada zakatnya ataukah tidak. Tentang ini ada 5 (lima) pendapat yang berbeda:

Pertama : Tidak ada zakatnya. Ini adalah pendapat tiga imam madzhab: Malik, Syafi’I, dan Ahmad. Dan inilah yang masyhur dari mereka bertiga. Hal ini dikecualikan jika emas perhiasan itu memang dimiliki dengan niat untuk biaya nafkah, maka ada zakatnya. Dan jika dimiliki dengan tujuan untuk membayar gaji karyawannya, maka menurut para sahabat Imam Ahmad, ada zakatnya, akan tetapi para sahabat Imam Malik dan Syafi’I menyatakan tetap tidak ada zakatnya.

Kedua : Ada zakatnya

tapi hanya sekali pada tahun pertama kepemilikan. Ini adalah riwayat dari Anas bin Malik

Ketiga : Zakatnya adalah dengan cara meminjamkannya kepada orang lain. Ini juga satu riwayat dari Anas bin Malik

Keempat : Wajib dengan memilih satu dari dua hal, apakah dalam bentuk zakat atau meminjamkannya kepada orang lain. Iman ibn Qayyim menyatakan bahwa metode ini yang terkuat (Al-Thuruq Al-Hukmiyah);

Kelima : Wajib zakat tiap tahun jika mencapai nishab. Ini adalah pandangan yang dilontarkan oleh Imam Abu Hanifah, bahkan juga ada satu riwayat dari Imam Ahmad serta salah satu dari dua pandangan madzhab Syafi’i.

Wajib Setiap Tahun Sekali


Pandangan yang terakhir (ke lima) inilah yang menurut saya sebagai pandangan yang terkuat jika kita cocokkan dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Sunnah serta Atsar (praktik para sahabat Nabi). Dalil-dalil yang menyatakan ini adalah:

 

Dalil Al-Qur’an:


Allah berfirman, Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak tetapi tidak menyalurkannya di fiii sabilillah, maka berilah mereka kabar gembira dengan azab yang sangat pedih; yaitu pada hari dimana mereka dijerumuskan ke dalam api neraka maka kami sungkurkan dahi-dahi mereka, pinggang-pinggang mereka, dan punggung-punggung mereka dengan harta yang mereka timbun itu. Inilah balasan bagi perbuatan mereka itu; maka rasakanlah apa yang sudah kalian timbun itu.

Keyword dari ayat ini adalah tidak mengeluarkan zakat dan kewajiban lainnya dari kepemilikan emas dan perak. Abdulah ibn Umar mengatakan, Setiap harta yang telah ditunaikan zakatnya, maka tidak termasuk harta yang ditimbun walaupun tersimpan di dasar lapisan bumi yang ke tujuh, dan setiap harta yang tidak ditunaikan zakatnya maka ia disebut harta timbunan walaupun ada dipermukaan bumi.

Ibn Katsir mengatakan bahwa ungkapan Ibn Umar ini juga merupakan ungkapan yang pernah diucapkan oleh Ibn Abbas, Jabir, dan Abu Hurairah secara marfu’ dan mauquf.

Ayat di atas adalah bersifat jeneral mencakup seluruh jenis emas dan perak dan tidak hanya kasuistik. Maka, siapapun yang mengecualikan emas perhiasan atau perak pehiasan dari keumuman ayat ini, ia wajib menunjukkan dalil atasnya.

 

Dalil Al-Sunnah

Hadits riwayat Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tiada seorang pemilik emas atau perak pun yang tidak menunaikan haknya, kecuali kelak pada hari kiamat akan dibentangkan api neraka sehingga membakar pinggang, dahi dan punggung mereka. Dan orang memakai perhiasan emas atau perak adalah pemilik keduanya, dan tidak ada satu dalil pun yang mengecualikan perhiasan emas dan perak dari barang emas dan perak itu sendiri; dan hak emas dan perak yang terutama bahkan wajib adalah hak zakat. Abu Bakar Al-Shiddiq mengatakan, Zakat adalah haknya harta.

Hadits riwayat Imam Tirmidzi, Nasa’I, Abu Daud, Ada seorang wanita bersama puterinya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tangan puterinya tersebut ada dua perhiasan emas. Maka, Rasulullah bersabda, Apakah kalian sudah menunaikan zakatnya? Maka puteri tersebut menjawab, Belum. Maka Rasulullah mengatakan, Apakah kamu mau jika Allah memakaikanmu dua gelang dari api neraka? Maka ia pun melepasnya dan menghadap Rasulullah dan berkata, Ini untuk Allah dan Rasul-Nya. Imam Ibn Hajar Al-Asqalany (Bulughul Maram) mengatakan,sanad-sanadnya kuat. Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata, Ada riwayat yang senada dari Ibnu Luhaiah dan Mutsanna bin Al-Shabah, namun kedua orang ini adalah orang yang dhaif dalam hal hadits, dan dalam hal ini tidak shahih sama sekali. Akan tetapi ada riwayat yang senada yang membantah ucapan Imam Tirmidzi ini dari riwayat Abu Daud dari jalan Husain Al-Muallim, dan ia terpercaya, bahkan Husain dipegang hujjahnya oleh Imam Bukhari dan Muslim. Imam Ibn Arthah juga sejalan dengan para ulama ini. Imam Ahmad juga meriwayatkan hal serupa dari Asma’ binti Yazid dengan sanad yang hasan.

Hadits riwayat Abu Daud, katanya Abdullah ibn Syaddad ibn Hadi berkata, Kami bertamu kepada Aisyah, kata Aisyah, Ali pernah bertamu kepada Rasulullah, maka ia melihat di tanganku ada perhiasan dari wariq (emas), maka Rasulullah bertanya, Itu apa wahai Aisyah? Maka, aku menjawab, Aku membuatnya dan aku berhias dengannya untukmu wahai Rasulullah. Maka Rasulullah menimpali, Apakah kau sudah menunaikan zakatnya? Jawab Aisyah, Belum, masya Allah. Maka rasulullah menjawab, Itu adalah bagianmu dari api. Maka ditanyakan kepada Sufyan, Bagaimana caranya ia menzakatinya? maka, dijawab, Dengan cara digabungkan dengan emas yang lain lalu dikeluarkan zakatnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Hakim, Daraquthni, dan mengatakan (Al-Talkhis), Sanad-sanadnya adalah memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh Bukhari, dan Hakim menshahihkannya dan mengatakan, Shahih berdasarkan penetapan kualifikasi Bukhari dan Muslim. Imam Ibn Daqiq Al-Ied mengatakan, Shahih berdasarkan penetapan kualifikasi Muslim.

Hadits riwayat Abu Daud dari jalan Ummu Salamah, Aku pernah memakai perhiasan dari emas, maka aku bertanya kepada Rasulullah, Apakah ini termasuk harta timbunan? Rasulullah menjawab,Setiap harta yang ditunaikan zakatnya maka bukan tergolong harta timbunan. Shahih, HR. Hakim dan Daraquthni, ia mengatakan, Shahih berdasarkan penetapan kualifikasi Bukhari, dan dishahihkan oleh Al-Dzahabi. AL-Baihaqi mengatakan, Ibnu Ajlan telah sendirian dalam meriwayatkan hadits ini. Dalam Al-Tanfiih, disebutkan, Tidak mengapa karena Tsabit ibn Ajlan adalah diakui oleh Imam Bukhari, dipercaya oleh Imam Ibn Main dan An-Nasai. Adapun ucapan Abdul Haq yang menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Tsabit ibn Ajlan adalah tidak bisa dijadikan hujjah adalah ucapan yang menyediri dan tidak dikatakan oleh Imam yang lainnya.


Komentar dan Jawaban

1.          Jika ada yang berkata, Mungkin saja, hadits-hadits ini terjadi ketika berhias dengan emas saat itu masih dilarang. Maka kami jawab bahwa dugaan ini tidak berdasar sama sekali sebab Nabi tidak pernah melarang perhiasan, bahkan beliau mengakui dipakainya perhiasan dengan tetap memberikan wanti-wanti agar menunaikan zakatnya. Jika memakai perhiasan itu terlarang, maka tentu Nabi melarangnya dan menyuruh untuk melepasnya. Juga, adanya kemansukhan (ketidak berlakukan larangan) penggunaan perhiasan sangat membutuhkan pengetahuan tentang tarikh (waktu dan periodisasi) dan tidak cukup hanya dengan ungkapan mungkin. Dan jika benar waktu itu adalah masa larangan pemakaian perhiasan, maka hadits-hadits tersebut memberi arti boleh memakai perhiasan asalkan menunaikan zakatnya. Akan tetapi syarat ini tidak bisa diterima karena pembolehan perhiasan adalah pembolehan yang nersifat umum.

2.          Jika ada yang berkata, Apa jawaban anda terhadap orang yang berpandangan bahwa zakat perhiasan tidak wajib, dan ini adalah diriwayatkan oleh Ibn Al-Jauzi dengan sanadnya, dalam Al-Tahqiq, dari jalan Afiyah ibn Ayyub dari Laits ibn Saad dari Abu Zubair dan Jabir, bahwa Rasulullah bersabda, Tidak ada zakat atas kepemilikan perhiasan. HR. Baihaqi dalam Al-Sunan wa Al-Atsaar. Maka kami jawab dalam tiga point (a) Baihaqi mengatakan tentang hadits ini bahwa hadits ini bathil tidak ada asal-usulnya sama sekali, akan tetapi diriwayatkan dari Jabir dari ucapannya sendiri. Dan Afiyah ibn Ayyub adalah majhul, maka siapa yang berdalil dengan ucapan Afiyah ibn Ayyub maka ia sudah tertipu dengan dosanya sendiri. (b) Kami, jika mempercayai Afiyah ibn Ayyub, sebagaimana yang dinukil Ibn Abi Hatim dari Abu Zur’ah, maka itu pun tidak kontradiksi dengan hadits wajibnya zakat perhiasan andai pun itu shahih, apalagi ternyata dhaif. (c) Kami, jika mensejajarkan kedua hadits itu dan mempertentangkannya, maka kami akan ambil hadits wajib zakat dan ini adalah sikap yang paling hati-hati. Dan kehati-hatian tentu lebih utama untuk diikuti, persis sebagaimana sabda Nabi, Tinggalkan hal yang meragukan kalian dan ambillah hal yang tidak meragukan. Dan sabda Nabi yang lainnya, Siapa yang meninggalkan hal yang syubhat maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.

Dalil Atsaar

1.          Amirul Mukminin, Umar ibn Khaththab menulis surat perintah kepada Abu Musa Al-Asyari agar memerintahkan kepada para wanita untuk bershadaqah atas kepemilikan perhiasan. HR. Ibn Abi Syaibah, Baihaqi. Bukhari menyatakan hadits mursal, dan Al-Hasan mengingkari riwayat ini dengan ucapannya, Aku tidak tahu sama sekali dari semua khalifah yang ada yang pernah menulis surat bahwa dalam perhiasan ada kewajiban zakat. Akan tetapi, Imam ibn Qudamah (Al-Mughni), Al-Mulahhi, dan Al-Khathabi juga menyebutkan satu riwayat dari Umar ibn Khaththab.

2.          Ibn Abbas pernah ditanya oleh seorang perempuan yang memiliki perhiasan. Maka Ibn Abbas menjawab, Jika perhiasanmu itu mencapai 200 dirham maka ada zakatnya. HR. Tabhrani, Baihaqi, Daraquthni, marfu’. Ini salah, yang benar adalah bahwa hadits ini mauquf. (200 dirham perak senilai dengan 20 dinar emas, keduanya adalah nishab untuk perak dan emas. Jika dikonversikan sama dengan 85 gram emas 24K –pent)

3.          Ibn Abbas, Imam Al-Mundziri dan Baihaqi menghikayatkan satu kisah dari Ibn Abbas. AKan tetapi Imam syafi’I menyatakan, Aku tidak tahu apakah hikayat itu benar darinya ataukah tidak.

4.          Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash. Ia menyuruh para puteri dan isterinya untuk menunaikan zakat perhiasan mereka. Ini disebutkan di dalam Al-Muhalla (Ibn Hazm) dari jalan Jarir ibn Harim dari Amar ibn Syuaib dari bapaknya (Syuaib).

5.         

Aisyah. Ia mengatakan, Tidak mengapa memakai perhiasan jika telah ditunaikan zakatnya. HR. Darquthni. Imam Malik (Al-Muwaththa’) meriwayatkan bahwa Aisyah menyuruh keponakan-keponakannya (puteri) yang yatim untuk tidak menzakati perhiasan mereka. Al-Hafidz mengomentari, Kedua ucapan Aisyah, mungkin, karena ia berpandangan wajib zakat atas perhiasan dan tidak wajib zakat secara umum atas harta anak yatim. Akan tetapi riwayat kedua ini kontradiksi dengan dengan riwayat dari Aisyah sendiri, bahwasannya ia menyuruh Al-Qashim dan kedua puteri yatim untuk menunaikan zakat perhiasan mereka. Sebagian ulama berpadangan atas kontradiksinya riwayat Aisyah karena Aisyah mungkin berpandangan tidak wajib zakat atas harta yatim, maka terkadang ia menunaikan zakat dan terkadang tidak menunaikannya.

 

Perdebatan

1.          Jika ada yang mengatakan, Apa jawaban anda atas riwayat dari Imam Ahmad bahwasannya ada lima sahabat yang menyatakan tidak wajib zakat atas perhiasan: Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, Aisyah, dan Asma’ Maka, jawaban kami adalah bahwa ada riwayat dari sebagian dari 5 sahabat tersebut yang menyatakan wajib, namun jika memang ternyata kesemuanya sependapat bahwa tidak ada zakat atau mereka terlambat dari mengatakan wajibnya zakat, maka mereka menyelisihi para sahabat yang lainnya. Dan ketika terjadi perselisihan, wajib dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan sudah ada dalil bahwa mereka akhirnya menyatakan wajib. Lihat penjelasan dalil kami terdahulu.

2.          Jika ada yang mengatakan, Ada sebuah hadits dalam shahih Bukhari & Muslim yang berbunyi, Bershadaqahlah kalian wahai para wanita walaupun dengan perhiasan kalian. Hadits ini menunjukkan bahwa zakat tidak wajib atas perhiasan, sebab jika wajib maka untuk apa Nabi menyuruh mengeluarkannya sebagai suatu shadaqah sunnah. Jawabannya adalah: Bahwa perintah shadaqah dengan perhiasan bukan dalil ada atau tidaknya zakat perhiasan, akan tetapi hanya merupakan motivasi untuk gemar bershadaqah walaupun dengan barang yang menjadi kebutuhan wanita (perhiasan). Hal ini sama seperti ungkapan bershadaqahlah walaupun dengan beberapa dirham anggaran biaya hidup keluarga. Ungkapan ini tentu tidaklah menunjukkan bahwa zakat atas dirham tidak wajib.


Nishab Zakat Perhiasan
Jika jelas sudah tentang hal ini, maka sesungguhnya zakat perhiasan tidak akan jatuh wajib kecuali jika sudah mencapai nishab. Hal ini berdasarkan hadits Ummu Salamah yang sudah kami kemukakan terdahulu, yaitu Jika mencapai jumlah kewajiban zakat lalu ia menunaikan zakatnya, maka tidak termasuk harta timbunan, maka nishab emas adalah 20 dinar dan nishab perak adalah 200 dirham.

Jika seorang memiliki memiliki perhiasan emas namun kurang dari nishabnya (kurang dari 20 dinar) dan ia tidak memiliki sesuatu pun untuk bisa menyempurnakan jumlah hingga mencapai kadar nishab, maka ia tidak wajib zakat. Demikian juga perak. Dan yang bisa menyempurnakan untuk bisa menjadi penambah adalah emas ditambahkan kepada emas dan perak ditambahkan kepada perak. Tidak dibenarkan mutiara atau berlian dan yang semisalnya ditambahkan kepada emas untuk bisa menyempurnakan nishabnya.

 

Dinar Islami Vs Dinar Umum

Akan tetapi, mana yang diakui. Dinar atau Dirham Islami atau dinar dan dirham yang digunakan umum yang bergantung waktu dan tempat? Jumhur ulama menyatakan bahwa yang digunakans ebagai patokan nishab adalah dinar dan dirham islami, bahkan ada hikayat yang menyatakan bahwa hal ini sebagai ijma’ (kesepakatan seluruh ulama). Akan tetapi Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berpendapat dengan memilih dinar dan dirham yang digunakan umum yang disesuaikan dengan waktu dan lokasi dimana ia digunakan. Dan inilah, menurut saya, yang paling rajih (paling kuat) karena kesesuaiannya dengan nash-nash.

Maka, jika seseorang memiliki 20 dinar emas (85 grm emas 24K) atau 200 dirham perak (senilai dengan 85 gram emas 24K), maka ia wajib mengeluarkan 2,5% darinya untuk zakat. Hal ini berdasarkan hadits Ali ibn Abi Thalib bahwa Nabi bersabda, Jika engkau memiliki 200 dirham dan berlalu selama 1 tahun maka zakatnya adalah 5 dirham, dan engkau tidak ada kewajiban apapun hingga memiliki 20 dinar emas dan berlalu selama 1 tahun maka zakatnya adalah 1/2 dinar. HR. Abu Daud

 

Penutup

Oleh karena itu, wajib atas setiap muslim untuk bertaqwa kepada Alah secara optimal, dan mengerahkan kesungguhannya untuk selalu berhati-hati di dalam mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah. Jika telah jelas kebenaran kepadanya dari keduanya, maka ia wajib mengamalkannya serta tidak mengedepankan perkataan siapapun melebihi Al-Qur’an dan Sunnah, apalagi qiyas. Dan ketika berselisih bersegera untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, karena keduanya adalah jalan yang lurus dan timbangan yang adil lagi kokoh.

Allah berfirman, Maka, jika kalian berselisih, maka kembalikanlah urusan tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian memang orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itulah keputusan dan penafsiran yang terbaik. (Q.S. An-Nisaa’: 60)

Keyword dari ayat ini adalah bahwa Allah bersumpah dengan kerububiyahan-Nya bahwa tidak ada iman kecuali dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai hukum di setiap perselisihan kita serta tidak ada keterpaksaan di dalam jiwa kita atas semua keputusan Rasul-Nya.

Akan tetapi, jika kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah itu belum tampak jelas bagi anda, maka wajib bagi anda untuk mengambil apa yang hati anda cenderung kepadanya, bahwa hal itu lebih dekat kepada kebenaran, tentu berdasarkan ilmu dan agama yang sampai kepada anda. Kenapa?? Karena Rasulullah pernah bersabda, Wajib atas kalian untuk mengambil sunnahku dan sunnah-sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk, pegang erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan orang yang paling berhak mendapatkan sebutan khulafa’ur rasyidin adalah empat orang: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, sebab merekalah pengganti urusan sepeninggal Rasulullah dan mengurus ummatnya, baik dalam ilmu, amal, politik, manhaj. Semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan.

Kita memohon kepada Allah agar selalu memberi hidayah kepada kita dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang ketika melihat kebenaran lalu mengikutinya dan melihat kemungkaran lalu menjauhinya. Shalawat dan salam untuk nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabtnya dengan sebaik-baiknya. 

Selesai sampai di sini.
Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin

12 Shafar 1382H / 14 Juli 1962M

 

Sumber : Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin, Risalah fii Wujub Zakah Al-Hulliy , Penerjemah: Abu Muhammad ibn Shadiq

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: