Zakat Piutang


 

Siapa yang memiliki piutang dan harta yang hilang yang tidak bisa diharapkan bisa kembali maka tidak ada kewajiban zakatnya. Namun, jika bisa diharapkan kembali maka ada kewajiban zakatnya.


Dua Jenis Piutang

Para ulama membagi piutang dalam dua jenis:
Pertama, Piutang yang ada di tangan orang dan ia (debitor) bisa menarik atau menagihnya kembali saat kapan pun, akan tetapi ia sedang tidak membutuhkan harta tersebut sehingga ia membiarkan hartanya ada ditangan sang pengutang (kreditor). Maka, pada keadaan ini sang pengutang dianggap memegang amanah (titipan). Maka, harta yang demikian wajib ditunaikan zakatnya setiap tahun, sebab ia sebenarnya mampu untuk menariknya. Dengan tidak menagihnya, maka hartanya yang ada di tangan orang lain itu dianggap sebagai tabungan/simpanan. Maka, hukumnya ia harus dizakati sebagaimana ia menzakati harta simpanannya. Demikian juga semua tabungan yang tersimpan di berbagai bank dalam bentuk rekening-rekening.

Kedua, Piutang yang sulit atau tidak bisa ditarik kembali. Piutang jenis ini tidak ada kewajiban zakatnya, karena terkadang ia ada di tangan orang selama 10 atau 20 tahun bahkan lebih. Jika kita wajibkan ia menunaikan zakat atas hartanya yang ada di tangan orang ini, maka zakat akan merugikan dirinya.

Misalnya: Seseorang memiliki harta di tangan orang sebanyak 5.000 Dinar (Rp. 4,250 Milliar) selama 20 tahun. Setiap tahun ia, misalnya, diharuskan membayar zakatnya 2,5 %-nya. Maka, harta itu akan berkurang sedikit-demi sedikit. Oleh karena itulah, maka tidak ada zakat atas harta yang ada di tangan orang lain namun sulit atau tidak bisa ditarik kembali.

Sulit atau tidak bisa ditarik kembali, bisa jadi sang pengutang (kreditor) tidak bisa membayarnya. Tentang ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Orang kaya yang mengulur-ulur pelunasan hutangnya maka ia telah berlaku dhalim.

Bisa juga karena sang pengutang adalah orang miskin yang tidak punya apa-apa sehingga ia tidak bisa melunasi hutangnya. Tentang ini, Allah menyuruh kita untuk memberikan toleransi kepadanya.

Allah berfirman:
Maka, jika ia memiliki kesulitan, maka berilah ia tenggang waktu hingga ia bisa melunasimu. Q.S. Al-Baqarah: 280.

Maka, jika harta kita ada di tangan orang yang demikian keadaannya, maka tidak ada kewajiban zakat atas kita karenanya. Namun, jika telah dilunasi maka ia wajib dizakati dengan menganggapnya hanya dalam 1 haul (1 tahun) saja (walaupun ia ada di tangan orang lain sudah 20 tahun, misalnya).

Permasalahan

Beberapa wanita menanyakan tentang mahar miliknya yang dipinjam suaminya selama 20 atau 30 tahun. Ia tidak menagihnya karena belum merasa membutuhkannya. Sang suami juga mampu untuk melunasinya namun tidak ia lakukan karena isterinya belum membutuhkannya. Jika harta itu dianggap sebagai harta suami, maka ia harus dizakati sebagaimana ia menzakati hartanya sendiri dan harta itu dianggap sebagai harta modal. Dan jika isterinya memintanya kembali, maka ia mengembalikan harta modal itu kepadanya dengan tanpa berkurang satu peser pun. Dan sang isteri tidak wajib mengeluarkan zakat atas harta itu, karena harta itu sebelumnya sudah dianggap sebagai harta suami yang sudah ditunaikan zakatnya setiap tahun dengan cara menggabungkan dengan seluruh harta suami.

Zakat harus dari barang yang pertengahan, tidak dari yang terburuk atau terbagus. Tentang ini, sudah kami sebutkan di awal hadits Anas ibn Malik: Tidak boleh membayar zakat hewan ternak dengan yang kurus atau yang cacat. Kenapa? Karena itu mendhalimi sang fakir-miskin; sang fakir-miskin tidak bisa mendapatkan apa-apa dari harta yang demikian. Demikian juga tidak boleh dari yang terbagus, kecuali jika hal itu atas keridhaan dan kemauan sang wajib zakat (pezakat).

Amil Zakat tidak boleh mengambil barang terbagus dari pezakat untuk dijadikan zakatnya. Rasulullah telah bersabda kepada Muadz ibn Jabal: Jika mereka mentaatimu dalam hal ini (zakat), maka hati-hati dari harta terbagusnya mereka dan takutlah kalian dari doa-doa orang yang terdhalimi, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah. Key Word dari hadits ini adalah: harta yang terbagusnya, jika ternak maka tidak boleh yang tergemuk, tapi ambillah dari yang pertengahan. Demikian juga untuk buah-buahan dan sebagainya.

 

 

Sumber : Ibhaj Al-Muslimin bi Syarhi Manhaj Al-Salikin wa Taudhih Al-Fiqh fii Al-Diin, Syaikh ibn Jibrin  , Penerjemah: Abu Valech Yanhouth

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: