Menyikapi Kesalahan ‘Ulama Ahlus-Sunnah


 

 

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitaabusy-Syuruuth (Syarat-Syarat) dalam Shahih-nya tentang kisah peristiwa (perjanjian damai) Al-Hudaibiyyah dan perjalanan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ke tempat tersebut. Di dalamnya disebutkan[1] :

وسار النبي صلى الله عليه وسلم حتى إذا كان بالثَّنِيَّةِ التي يهبط عليهم منها بَرَكَت به راحلتُهُ، فقال النَّاسُ : حَلْ حَلْ، فألَحَّتْ فقَلوا : خلأت القصواءُ. فقال النّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : ((ما خلأت القصواء وما ذاك لها بخلقٍ ولكن حَسَبَهَا حَابسُ الفيل))….الحديث

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berjalan.  Hingga ketika sampai di Bukit Tsaniyyah tempat mereka turun, tiba-tiba kendaraan onta yang beliau naiki menderum.  Para shahabat berkata : ‘Lepaskan, lepaskan…’.  Ternyata onta tersebut malah mogok tidak mau jalan.  Para shahabat berkata : ‘Onta belang itu mogok’.  Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ia tidak mogok, dan tidak biasanya ia seperti itu.  Tetapi ia ditahan oleh yang menahan onta…..” [al-hadiits].

Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata tentang fiqh hadits ini :

جواز الحكم على الشيء بما عرف من عادته وإن جاز أن يطرأ عليه غيره فإذا وقع من شخص هفوة لا يعهد منه مثلها لا ينسب إليها ويرد على من نسبه إليها معذرة من نسبه إليها ممن لا يعرف صورة حاله لأن خلاء القصواء لو لا خارق العادة لكان ما ظنه الصحابة صحيحا ولم يعاتبهم النبي صلى الله عليه وسلم على ذلك لعذرهم في ظنهم

”Diperbolehkan menghukumi sesuatu berdasarkan apa yang diketahui dari kebiasaannya, meskipun kemudian yang terjadi berbeda (dari kebiasaan tersebut).  Apabila seorang melakukan sesuatu kekeliruan yang tidak biasa terjadi padanya, maka ia tidak boleh divonis atau dihakimi begitu saja.  Tetapi harus ditolerir dan dimaafkan. Hal itu dikarenakan onta belang dalam hadits di atas seandainya ia tidak menyalahi kebiasaan, maka dugaan shahabat pasti benar dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari mereka karena mereka salah menduga seperti itu” [selesai].  

Sungguh, Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam saja memaafkan binatang-binatang yang memang tidak dibebani kewajiban syari’at.  Lebih-lebih lagi apabila kita melihat seorang ’aalim (orang yang berilmu) melakukan suatu perbuatan, kemudian ia berbuat kekeliruan (yang tidak biasanya ia berbuat kekeliruan), maka ia pun lebih pantas untuk dimaafkan, tidak boleh divonis, atau dihakimi begitu saja, atau dikecam tanpa mempedulikan kapasitasnya sebagai orang yang baik serta memiliki banyak ilmu dan keutamaan.  Sebab kalau tidak demikian, niscaya hal tersebut akan menjadi penyebab pemisahan seorang ’aalim dengan ilmunya.  Sementara kita dilarang membantu syaithan untuk mencelakakan sesama saudara kita. Istidlal seperti itu sangat cermat dan tepat.  Semoga Allah merahmati Al-Haafidh Al-Kinaaniy Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy yang begitu luas wawasannya dan dalam pemahamannya, sehingga mampu menghukumi sesuatu dengan sangat bijaksana seperti di atas.

Ash-Shan’aniy rahimahullaahu ta’ala berkata[2] :

وليس أحدٌ من أفرادِ العلماء إلا وله نادرةٌ ينبغي أن تُغْمَرَ في جَنبِ فَضلِهِ وَتُجْتَنَبَ

”Tidaklah setiap individu ulama itu melainkan ia mempunyai satu keanehan (kekeliruan) yang sudah sepatutnya untuk dilupakan (tidak diungkit-ungkit) dan tidak perlu dipermasalahkan karena keutamaan yang dimilikinya” [selesai].

Abu Hilaal Al-’Askariy berkata[3] :

لا يضع من العالم الذي برع في علمه زلة، إن كان على سبيل السَّهْوِ والإغفال، فإنه لم يعر من الخطأ إلا من عصم اللهُ جَلَّ ذِكْرُهُ. وقد قالت الحُكَمَاءُ : ((الفاضل من عُدَّتْ سقطاتُهُ، وليتنا أدركنا بعض صوابهم أو كنا ممن يميزُ خطأهم)).

”Seorang ’aalim yang dalam ilmunya bisa saja terjatuh dalam kesalahan karena lupa atau lalai. Tidaklah ada seorang manusiapun yang bisa lepas dari kesalahan kecuali orang yang telah di-ma’shum-kan oleh Allah Yang Maha Besar (yaitu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam). Telah berkata ahli hikmah : ’Orang yang mempunyai keutamaan yang dihitung kesalahan-kesalahannyanya, dan alangkah celakanya kita yang menjumpai sebagian kebenaran mereka namun kita justru termasuk orang yang memilih kesalahan mereka (untuk disebutkan)” [selesai].

Terdapat beberapa kalimat dari para ulama agar memberikan ’udzur kepada para aimmah (pemimpin umat). Betapapun mereka (para aimmah) yang telah melakukan kesalahan, jangan sampai hal itu menjadi halangan bagi kita untuk mengambil manfaat dari ilmu dan keutamaannya.

Dan inilah perkataan Al-Haafidh Adz-Dzahabi – rahimahullahu ta’ala – ketika beliau menjelaskan biografi seorang mufassir (ahli tafsir) besar yang bernama Qataadah bin Di’aamah As-Saduusiy (wafat tahun 117 H) rahimahulaahu ta’ala, yaitu setelah beliau meminta untuk memberikan ’udzur kepadanya[4] :

ثم إن الكبير من أئمة العلم إذا كَثُرَ صوابُهُ، وعُلِمَ تَحَرِّيه للحقِّ واتَّسع علمُهُ، وظهر ذكاؤُهُ، وعُرِفَ صَلَاحُهُ وورعُهُ يُغْفَرُ له زَلَلُهُ، ولا نضَلِّله وطرحه ونَنسَى مَحَاسنهُ، نعم : ولا نقتدي به في بدعته وخطئته ونرجو التَّوبة من ذلك

”Sesunguhnya para ulama besar jika telah dimaklumi banyak kebenarannya (yang ada padanya), diketahui kecenderungannya kepada al-haq, luas ilmunya, nampak kecerdasannya, shalih, dan wara’; maka dimaafkan kesalahan-kesalahannya. Kita tidak menyesatkannya, mencampakkannya, dan melupakan segala kebaikan yang ada padanya. Benar, bahwasannya kita tidak boleh mengikuti kebid’ahan dan kesalahannya. Kita berharap agar ia mau bertaubat atas hal tersebut” [selesai].

Beliau (Adz-Dzahabi) juga berkata ketika memberikan pembelaan kepada Al-Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy rahimahullah dari serangan orang-orang yang mencelanya[5] :

ولو إنا كلما أخطأ إمامٌ في اجتهاده في آحاد المسائل خطأ مغفوراً له، قمنا عليه، وبدَّعناه وهجرناه، لما سَلِمَ معنا لا ابنُ نَصر ولا ابن منده، ولا من هو أكبرُ منهما، والله هو هادي الخلْق إلى الْحقِّ، وهو أرحم الراحمين، فنعوذ بالله من الهوى والفظاظة

”Seandainya setiap perkataan imam yang keliru dalam ijtihadnya pada permasalahan-permasalahan yang sebenarnya hal itu masih bisa diampuni; lantas kita kecam ia, kita bid’ahkan ia (sebagai ahlul-bid’ah), dan kita hajr ia,…. maka tidak akan ada (seorang ulama pun) yang selamat. Tidak Ibnu Nashr (Al-Marwaziy), tidak Ibnu Mandah, tidak pula ulama yang lebih besar dari keduanya. Allah adalah Pemberi Petunjuk makhluk-Nya kepada kebenaran, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. Kita berlindung kepada Allah dari bisikan hawa nafsu dan berkata kasar” [selesai].

Ketika memaparkan biografi Ibnu Khuzaimah rahimahullaahu ta’ala (wafat tahun 311 H), Adz-Dzahabi berkata :

وكتابُهُ في التوحيد، مُجَلِّدٌ كبيرٌ، وقد تأوَّل في ذلك حديث الصُّورة، فلْيُعْذَرْ من تَأَوَّلَ بعضَ  الصِّفاتِ، وأمَّا السَّلف فما خاضوا في التأويل، بل آمنوا وكفُّوا، وَفَوَّضُوا عِلْمَ ذلك إلى الله ورسوله، ولو أن كلَّ من أخطأ في اجتهاده – مع صِحَّةِ إيمانه وتوخِّيه لاتباع الحق – أهدرناه وبدَّعناه، لقلَّ من يَسلَم من الأئمة معنا. رحم الله الجميع بمنِّهِ وكَرَمِهِ

”Kitabnya yang berbicara tentang masalah tauhid cukup besar (tebal). Ia telah melakukan ta’wil dalam hadits ash-shuurah. Maka hendaknya diberikan ’udzur orang yang menakwilkan sebagian shifat Allah, kendatipun (kita tahu bahwa) salaf tidak mau melakukan ta’wil. Akan tetapi, (dalam masalah shifat Allah) mereka mengimaninya, menahan diri, dan menyerahkan ilmu (kaifiyat) tentang hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila setiap orang yang melakukan kesalahan dalam ijtihadnya – sementara itu telah dipersaksikan kebenaran imannya dan mempunyai komitmen tinggi untuk mengikuti kebenaran – kemudian kita kecam dan kita bid’ahkan ia (sebagai ahlul-bid’ah), niscaya sangat sedikit ulama yang akan selamat dari tindakan kita tersebut. Semoga Allah merahmati mereka semua dengan anugerah dan kedermawanan-Nya” [selesai].

Dalam biografi Ibnu ’Abdil-Hakam, Adz-Dzahabi menjelaskan[6] :

قلتُ : له تصانيفُ كثيرةٌ، منها : كتاب في الردِّ على الشافعي. وكتاب أحكام القرآن، وكتاب الرّد على فقهاء العراق، وما زال العلماء قديماً وحديثاً يَرُدُّ بعضهم على بعضٍ في البحث وفي التَّواليف، وبمثل ذلك يَتَفَقَّهُ العالمُ، وَتَتَبَرْهَنُ له المشكلات، ولكن في زماننا قد يُعاقَبُ الفقيهُ إذا اعتنى بذلك لسوءِ نيته، ولطلبه للظهور والتَّكثُّر، فيقوم عليه قضاة وأضداد، نسأل الله حسن الخاتمة وإخلاص العمل

”Aku katakan : ia mempunyai banyak karya tulis, diantaranya kitab dalam rangka bantahan kepada Asy-Syaafi’iy. Juga kitab Ahkaamul-Qur’aan dan Ar-Radd ’alaa Fuqahaa’ Al-’Iraaq. Dan hal itu terus-menerus berlangsung dimana para ulama dahulu hingga sekarang memberikan bantahan sebagian kepada sebagian yang lain dalam beberapa pembahasan/permasalahan. Mereka terus berlomba memperdalam ilmu dan menjelaskan beberapa permasalahan (kepada umat). Namun (sunguh memprihatinkan) di jaman kita sekarang ini, dimana ada seorang faqih yang melakukan hal tersebut langsung divonis salah dengan tuduhan jeleknya niat yang ada pada dirinya, sehingga ia dikecam habis-habisan dan bahkan berurusan dengan pengadilan. Kita memohon kepada Allah husnul-khaathimah dan ikhlashnya ’amal” [selesai].

Telah berkata Asy-Syaikh Thaahir Al-Jazaairi (wafat tahun 1338 H) saat di tempat tidurnya menjelang kematiannya[7] :

عدُّوا رجالكم، واغفروا لهم بعضَ زَلَّاتِهم، وعضّوا عليهم بالنواجذ لتستفيد الأُمة منهم، ولا تُنَفِّرُوهم لئلا يزهدوا في خدمتكم

”Kembalilah kepada ulama kalian dan maafkanlah sebagian kesalahan mereka. Gigit erat mereka dengan gigi gerahammu agar umat bisa mengambil manfaat dari mereka. Jangan kalian menjauhi mereka agar supaya mereka dapat belaku zuhud dalam berkhidmat kepada kalian” [selesai].

Hal di atas perlu disebutkan mengingat bala’ yang telah menimpa para ulama (Ahlus-Sunnah) akibat ulah sebagian orang-orang yang bodoh yang cenderung membesar-besarkan permasalahan. Hanya Allah lah tempat dimintai pertolongan dari apa-apa yang mereka lakukan.

Adapun mubtadi’, maka perkara berbeda. Kita harus bersikap waspada dan hati-hati terhadap mereka. Wajib atas kita untuk menjelaskan dan men-tahdzir mereka atas kebid’ahan yang mereka lakukan. Kita peringatkan umat agar tidak bergaul dan berkumpul dengan mereka, karena hal itu merupakan racun yang membunuh.

 

— selesai, diambil dengan peringkasan dari buku Al-Majmuu’atul-’IlmiyyahAt-Ta’aalum, karya Asy-Syaikh Dr. Bakr bin ’Abdillah Abu Zaid rahimahullaahu ta’ala, hal. 100-108; Daarul-’Aashimah, Cet. Thn. 1416 H —-

 

NB : Dan itulah keprihatinan kita sekarang dimana banyak orang juhaal yang menodai kehormatan ’ulamaa dan asaatidzah Ahlus-Sunnah berdasarkan taqliid, suu’udh-dhann, dan suu’ul-fahm. Nas-alullaaha as-salaam wal-’aafiyah. [Abul-Jauzaa’, Bogor – Shaffar 1430]


[1]   Fathul-Baariy 5/335-336.

[2]  Subuulus-Salaam, sebagaimana dinukil oleh Abu Madyan Asy-Syinqithiy dalam Ash-Shawaarimul-Asinnah, hal. 12.

[3]   Syarh Maa Yaqa’u fiihit-Tashhiif, hal. 6.

[4]   As-Siyar 5/271.

[5]   Idem, 14/40.

[6]   Idem, 12/500-501.

[7]   Kunuuz Al-Ajdaad. 

 

 

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/menyikapi-kesalahan-ulama-ahlus-sunnah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: