Bolehnya Taraweh Lebih Dari 11 Rakaat


Berkaitan dengan sholat taraweh ,maka ketahuilah bahwa perkara ini luas.Penambahan jumlah rokaat lebih dari 11 raka’at adalah boleh menurut ijma’ as salaf ash shalih.Dan saya tidak tahu seorangpun dari generasi Salaf yang berkata tidak bolehnya menambah lebih dari 11 rokaat,bahkan banyak atsar yang mutaawatir dalam kebolehan penambahan lebih dari 11 rokaat dalam qiyamu lail

Al Marwazi telah meriwayatkan dalam Kitab Al Witri,Ibnul Mundzir dalam Al Awsath,dan Al Hakim dalam Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahhain, dan Al Baihaqi serta Al Khatib dalam Mudhih Awham Baina Al Jam’i wat Tafriq dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bahwa beliau berkata :

لا تشبهوا الوتر بصلاة المغرب، ولكن أوتروا بخمس أو سبع أو تسع أو إحدى عشرة ركعة أو أكثر من ذلك

Jangan kalian serupakan antara sholat witir dengan sholat maghrib,akan tetapi witirlah dengan 5 atau 7 atau 9 atau 11 rakaat atau lebih dari itu.

Hadist diatas telah disahihkan oleh banyak dari kalangan ulama secara marfu’

Dan tambahan teks : أو أكثر من ذلك (Atau lebih dari itu),maka  Syaikh kami,yakni Al Albani mensahkan  kemauqufannya kepada Abu Hurairah.

Al Imam Asy Syafii meriwayatkan dalam kitab Al Umm dengan sanad hasan dari Kuraib ,maula Ibn Abbas :

أنه رأى معاوية صلى العشاء ثم أوتر بركعة واحدة لم يزد عليها فأخبر ابن عباس ، فقال عبدالله بن عباس: أصاب أي بنى ليس أحد منا أعلم من معاوية . هي واحدة أو خمس أو سبع إلى أكثر من ذلك ، الوتر ما شاء

Bahwasannya dia melihat Muawiyah sholat Isya kemudian witir satu rokaat, tidak menambah lagi dari melakukan itu.Kemudian apa yang dilihatnya ini diceritakan pada Ibn Abbas.Maka Ibn Abbas berkata: Dia benar, maksudnya anakku tidaklah satupun dari kita lebih tahu dari Muawiyah.Witir itu satu ,lima,tujuh rakaat sampai lebih dari jumlah itu.Witir itu boleh sesuai keinginan kita.

Olehkarenanya,maka  sahihnya atsar dari Abu Hurairah dan Ibn Abbas ini adalah dalil bahwasannya sahabat membolehkan tambahan lebih dari 11 rokaat,dan tidak ada yang menyelisihi mereka bedua dari sahabat lainnya.Dan As Salaf tidak memandang bahwasannya mereka berdua ini menyelisihi hadist Aisyah radhiallahu anha (mengenai sholat 11 rokaat Rasulullah)

Maka kita wajib memahami kitab dan sunnah menurut pemahaman salafush shalih.Dan Salafus shalih tidaklah memahami dari hadis Aisyah radhiallhu ‘anha akan pengharaman melebihkan jumlah rakaat lebih dari 11 rokaat dalam qiyamu lail.

Penyandaran kita kepada Manhaj Salaf dan ucapan kita bahwa memahami Al Qur’an dan Sunnah harus diatas manhaj salafus shalih, mengandung konsekuensi untuk membuang pemahaman kita jika terjadi kontradiksi dengan pemahaman As Salaf.Dan pemahaman salaf terhadap sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dalam masalah sholat malam ini adalah  tidak ada batasan bilangan rakaat tertentu yang dilarang melebihinya,bahkan perkara ini luas walhamdulillah

Adalah para Imam As Salaf seperti Atha’ bin Abi Rabah,  Malik, Ats Tsauri, Asy Syafi’i , Al Laits bin Sa’id,Ibn Mubarak , Waki’ ,Ahmad, Ishaq, Ibnu Ma’in,Ibnu Al Madini dan selain mereka membolehkan menambah bilangan rokaat lebih dari 11 rokaat padahal mereka adalah manusia-manusia yang paling bersemangat kepada sunnah dan lebih tahu akan sahih, dhaif ,serta cacat -cacat hadist.Dan mereka adalah orang-orang yang paling keras kepada Ahli Bid’ah  dan bersama itu mereka sholat 23 rakaat, 29 rakaat dan 30 rakaat dan lain-lain

Inilah sebagian nukilan dari Ulama dalam masalah ini

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyah  rahimahullah dalam Majmu Fatawa (22/272) :

Sebagaimana qiyamu ramadhan tidaklah Nabi menentukan jumlah rakaatnya dengan bilangan tertentu ,namun beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tidak menambah lebih dari 13 raka’at baik di bulan Ramadhan maupun selain Ramadhan.Akan tetapi beliau memanjangkan rakaat -rakaatnya.

Tatkala Umar mengumpulkan para sahabat pada Ubay bin Ka’ab,dia sholat dengan mereka 20 rakaat kemudian witir 3 rakaat,dan dia meringankan bacaan sesuai dengan adanya penambahan rakaat,karena hal itu lebih ringan bagi makmum dibandingkan memanjangkan bacaan pada satu rakaat.Sekelompok salaf melakukan sholat dengan 40 rakaat dengan 3 rakaat witir.Sedangkan yang lain melakukan 30 rakaat dengan 3 rakaat witir.Semua ini boleh dan baik.

Yang afdhal adalah bergantung pada keadaan orang-orang yang sholat.Jika memungkinkan untuk berdiri lama memanjangkan bacaan maka sholat dengan 10 rakaat dengan 3 rakaat witir setelahnya sebagaimana perbuatan Nabi secara prbadi pada bulan Ramadhan maupun diluar ramadhan.Inilah yang afdhal.

Jika tidak memungkinkan demikian maka sholat dengan 20 rakaat maka ini yang afdhol sebagaimana dilakukan oleh banyak kaum muslimin karena jumlahnya pertengahan antara 10 dan 40 rakaat.Jika sholat dengan 40 rakaat atau selainnya juga boleh tidak dimakruhkan sesuatupun dari hal itu sebagaimana telah di nash kan mengenai hal itu oleh banyak dari kalangan Imam seperti Ahmad dan lainnya.

Siapa yang menyangka bahwasannya qiyam ramadhan memiliki julah rakaat tertentu dari Nabi yang tidak boleh dilebihkan atau dikurangi maka dia telah salah-selesai kutipan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah-

Berkata Al Hafidz Ibnu Abdil Barr didalam At Tamhid (13/214) : Riwayat yang paling banyak mengenai sholat malam Nabi shalallahu alaihi wasalam adalah apa yang diriwayatkan dalam khabar  Ibnu Abbas  dari hadist Kuraib ini dan yang semisalnya.Tidak ada bilangan rakaat yang dibatasi menurut seorangpun dari ahli ilmu.Bahwasannya sholat malam ini adalah baik  dan perbuatan baik serta ibadah,siapa yang ingin memperbanyak silahkan dan siapa yang sedikit juga silahkan.Dan Allah memberikan taufiq  dan menolong siapa yang dikehendakiNya dengan rahmatNya ,tiada sekutu bagiNya

Berkata Al Qodhi Iyadh rahimahullah sebagaimana didalam Syarh Muslim karya An Nawawi (6/19) :” Tidak ada khilaf bahwasannya tidak ada bilangan rakaat yang dibatasi pada sholat malam yang tidak boleh ditambah atau kurang darinya.Sholat malam adalah bentuk ketaatan yang jika ditambah maka bertambah ganjarannya.Adapun khilaf yang ada adalah pada perbuatan Nabi shalallah ‘alaihi wasalam dan yang dipilih beliau secara pribadi.Allahu a’lam”

Dan pernyataan ini didukung oleh An Nawawi.

Berkata Al Hafidz Al Iraqi dalam At Tastrib : “Telah bersepakat ulama bahwasannya tidak ada bilangan rokaat tertentu yang dibatasi” (Yakni Qiyamu Lail)

Adapun hadist mengenai afdholiyah (yakni hadist Aisyah mengenai sholat malam RAsulullah yang 11 rokaat) adalah masalah lain.Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam terutama tatala sunnah qouliyah (ucapan) bertepatan dengan sunnah fi’liyah (perbuatan)

Dan saya ingin dari saudara-saudara kita yang berpendapat dengan pendapat Syaikh kami ,yakni Al Imam Al Albani rahimahullah untuk mendatangkan nash yang shahih satu saja dari kalangan As Salaf pada tiga generasi islam pertama akan ketidakbolehan menambah lebih dari 11 rokaat!

Sumber :  Makalah Syaikh Usamah Athaya Al Utaibi hafidzahullah di http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=2602 tertanggal 21 Agustus 2009.

http://www.direktori-islam.com/2009/08/taraweh-lebih-dari-11-rakaat/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: