Duduk-Duduk Dalam Takziyah


Dalam masalah ini ulama berselisih pendapat.

Pendapat pertama : Tidak disyariatkan duduk-duduk untuk berta’ziah. Ini adalah pendapat beberapa ulama. Ulama muta’akhirin yang berpendapat seperti ini adalah Syaikh Utsaimin rahimahullah. Imam Nawawi berkata,” Orang yang tertimpa musibah dapat ditemui dimasjid, atau dijalan-jalan atau dipasar-pasar.” Pendapat ini berdalil pada hadits Jarir bin Abdullah. Ia berkata,”

كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصُنعة الطعام من النياحة

Kami menganggap berkumpul-kumpul dikeluarga mayat dan membuat makanan untuk itu termasuk dari meratapi mayat yang dilarang. (Dikeluarkan imam Ahmad dalam musnadnya )

Pendapat kedua : Diperbolehkannya perbuatan ini. Yaitu keluarga yang tertimpa musibah berkumpul disuatu tempat dan orang-orangpun datang menemuinya.

Al Khalal mengatakan bahwa Imam Ahmad memperbolehkan duduk-duduk untuk berbelasungkawa. Ulama muta’akhirin yang berpendapat seperti ini adalah Syaikh Ibnu Baz rahimahullah. Mereka berdalih dengan apa yang terdapat pada Shohih Bukhari dari hadits Aisyah dia berkata :

لما جاء قَتل زيد بن حارثة وجعفر وعبدالله بن رواحة جلس النبي يُعرف فيه الحزن فأتاه رجل فقال يا رسول الله إن نساء جعفر وذكر بكاءهن فأمره أن ينهاهن عن البكاء وأن يأمرهن بالصبر فذهب الرجل

“ Tatkala terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far dan Abdullah bin Rowahah, Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam duduk dan kesedihan begitu nampak pada beliau. Seorang laki-laki mendatangi beliau dan mengingatkan tentang istri-istri Ja’far dan tangisan mereka. Maka Rosulpun menyuruh lelaki tersebut untuk melarang tangisan mereka dan memerintahkan mereka untuk bersabar. Lelaki itupun lantas pergi.”

Mereka mengatakan bahwa hadits diatas menunjukkan diperbolehkannya duduk-duduk untuk berta’ziyah dari 2 sisi:

Sisi pertama :
Aisyah berkata,” Nabi duduk..” Datangnya lelaki tadi menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam menunjukkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam duduk di tempat tertentu yang dapat ditemui manusia. Kesedihan beliau disebabkan meninggalnya Pasukan utusan beliau di Mu’tah.

Sisi kedua :
Lelaki tersebut menyebutkan tentang istri-istri Ja’far, maka Rosulpun melarang mereka dari menangisi saja. Adapun duduk-dudku tidak dilarang dan tidak diperintahkan mereka untuk berpencar.

Dari sini nampak bahwa duduk-duduk untuk berbela sungkawa itu diperbolehkan. Akan tetapi tetap tidak boleh melakukan hal-hal yang diperingatkan syariat seperti apa yang dilakukan banyak orang dengan berlebihan dalam memperbanyak makanan ditempat itu. Atau dengan memberikan penerangan berlebihan pada tempat itu dsb. Tempat duduk hanya digunakan oleh keluarga yang tertimpa musibah. Apabila ada makanan hanya untuk keluarga dan orang yang datang dari jauh. Orang yang datang dari jauh tidak diperkenankan ikut duduk-duduk karena itu hanya diperuntukkan bagi keluarga. Adapun penyediaan kursi-kursi, menghadirkan pembawa acara, memberikan sambutan-sambutan dsb ini termasuk dalam perkara bid’ah yang tidak dicontohkan oleh para salaf dari kalangan sahabat dan tabiin.

Sumber : www.almoshaiqeh.com/index.php?option=content&task=view&id=4553&Itemid=8 [1]


Artikel dicetak dari direktori-islam.com: http://www.direktori-islam.com

Alamat artikel: http://www.direktori-islam.com/2009/10/duduk-duduk-berbela-sungkawa/

URLs in this post:

[1] http://www.almoshaiqeh.com/index.php?option=content&task=view&id=4553&Itemid=8: http://www.direktori-islam.com//www.almoshaiqeh.com/index.php?option=content&task=view&id=4553&Itemid=8

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: