Perselisihan Mengenai Awal Fajar Shadiq


Tulisan ini dinukil dari blog milik Ustadz Abu Abdillah Addariny. Tulisan ini sengaja ditampilkan untuk menambah wawasan, bukan untuk dijadikan bahan perdebatan sengit ataupun untuk saling menyalahkan.

Selamat membaca…..

http://addariny.wordpress.com/2009/09/02/siapa-yg-salah-kaprah-dlm-waktu-shubuh%E2%80%A6/

Fenomena Fajar shodiq dan fajar kadzib.

Sebagaimana kita tahu bahwa fajar itu ada dua; fajar shodiq dan fajar kadzib, hal ini telah diterangkan dengan jelas beserta ciri-cirinya dalam sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

الفجر فجران: فأما الفجر الذي يكون كذنب السرحان فلا يحل الصلاة و لا يحرم الطعام و أما الفجر الذي يذهب مستطيلا في الأفق فإنه يحل الصلاة و يحرم الطعام.

Fajar itu ada dua: (a) Adapun fajar yang seperti ekor serigala (yakni fajar kadzib yg arahnya tegak meninggi), maka saat itu tidak boleh sholat (shubuh) dan dibolehkan makan. (b) Adapun fajar yang bentuknya memanjang datar di ufuk (yakni fajar shodiq), maka saat itu dibolehkan sholat (shubuh) dan diharamkan makan (bagi yang puasa). (HR. Hakim dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albani).

Sebatas pengetahuan penulis, tidak ada perselisihan diantara ulama dalam masalah pembagian fajar ini, ciri-ciri kedua fajar ini yang tertera dalam hadits di atas, dan bahwa semua hukum yang berhubungan dengan fajar hanya disandarkan pada fajar shodiq.

Jika demikian adanya, mengapa ada suara santer, bahwa seluruh negara islam -tanpa terkecuali- ternyata tidak melaksanakan sholat subuh tepat pada waktunya?!… Bukankah seluruh negara Islam, sudah tahu apa itu fajar shodiq beserta ciri-cirinya, dan tentunya mereka berusaha sebisa mungkin agar waktu sholat shubuh itu tepat ketika mulai fajar shodiq?!… Jadi akar permasalahan bukan pada masalah ini…

Alqur’an telah menjelaskan kapan masuknya waktu subuh

Langkah paling tepat dalam setiap perselisihan adalah dengan kembali kepada Alqur’an dan Assunnah… Marilah kita lihat permasalahan ini dalam Alqur’an, Alloh berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Makan dan minumlah (di malam hari kalian berpuasa), hingga jelas benang putihnya fajar dari benang hitamnya (malam). (Al-Baqoroh:187).

Petikan ayat ini berbicara tentang awal masuknya fajar shodiq, karena batas tidak bolehnya makan bagi orang yang berpuasa adalah fajar shodiq. Sungguh, tiada keterangan yang lebih jelas dan lebih detil dalam menggambarkan fajar shodiq melebihi ayat suci ini.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari ayat ini? Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari ayat ini, tapi ada dua pelajaran terpenting dalam ayat ini, yang berhubungan langsung dengan pembahasan yang sedang kita kaji kali ini:

(a) Ayat ini menggambarkan bahwa fajar shodiq itu seperti “benang putih“.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Penamaan Alloh putihnya siang dan hitamnya malam dengan istilah ‘benang putih‘ dan ‘benang hitam‘, adalah dalil bahwa fajar shodiq itu permulaan putih yang tampak di kegelapan, dengan bentuk yang halus dan tipis. (Yang demikian itu) karena ‘benang‘ itu bentuknya tipis. (Syarhul Umdah, kitab shiyam, 1/530).

Keterangan senada juga dikemukakan oleh banyak ulama’ diantaranya: Ibnu Manzhur (Lisanul Arob 7/298), Al-Fakhrur Rozi (tafsir kabir 5/110), Az-Zamahsyari (Al-Kasysyaf 1/339)

(b) Dengan redaksi [مِنَ الْفَجْرِ] di akhirnya, ayat ini menjelaskan bahwa fajar shodiq itu sudah berlaku hukumnya, meski belum sempurna terangnya. Karena kata “min” dalam ayat ini bisa dimasukkan dalam kategori “min tab’idhiyyah” yang berarti: sebagian. Dengan demikian, kata “minal fajr” dalam ayat ini bermakna “sebagian fajar”, yakni benang putih itu bukanlah fajar yang sudah sempurna terangnya. Lihat keterangan ini dalam Tafsir Thobari (3/530), Tafsir Abus Su’ud (1/318), Tafsir Ad-Durrul Mashun (1/434), Tafsir Al-Kasysyaf liz Zamakhsyari (1/339), dan yang lainnya.

Imam At-Thobari mengatakan: Ibnu Zaid juga mengatakan seperti perkataan kami dalam masalah ini… Ibnu Zaid mengatakan ketika menafsiri firmanNya: “minal fajr“: Itu adalah benang putih, dia itu sebagian dari fajar, bukan fajar semuanya. Karena itu jika datang benang ini, yang merupakan awal fajar, maka dibolehkan sholat (subuh), dan diharamkan makan dan minum bagi yang puasa. (Tafsir Thobari 3/530)

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa awal kemunculan sinar di bagian timur, meski kecil dan tipis seperti benang, sudah bisa dikategorikan sebagai fajar shodiq, asalkan bisa dilihat oleh mata telanjang, dan itu terjadi setelah hilangnya fajar kadzib.

Dari sini juga, kita dapat menyimpulkan, bahwa pada awal munculnya fajar shodiq yang digambarkan Alqur’an seperti benang, sinar terang fajar-nya masih lemah dan belum kelihatan jelas. Dengan demikian, Ayat ini mengandung bantahan bagi mereka yang mengatakan, bahwa diantara kriteria fajar shodiq, ia harus menyebar menerangi jalan dan rumah penduduk. Wallohu a’lam.

Keterangan hadits dan atsar mengenai waktu shubuh

Setelah melihat keterangan dalam Alqur’an, maka langkah kedua yang paling tepat dalam menyikapi perselisihan yang ada, adalah dengan menilik pada keterangan Assunnah. Sangat banyak hadits yang menerangkan waktu shubuh, yang semuanya senada dengan keterangan kami di atas, diantaranya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغُرَّنَّكُمْ مِنْ سَحُورِكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ وَلَا بَيَاضُ الْأُفُقِ الْمُسْتَطِيلُ هَكَذَا حَتَّى يَسْتَطِيرَ هَكَذَا (رواه مسلم: 1094)

Rosul bersabda: “Jangan sampai sahur kalian diganggu oleh adzannya Bilal dan putihnya ufuk yang meninggi seperti ini, (tapi teruskanlah sahur kalian) hingga putih ufuk itu mendatar seperti ini!” (HR. Muslim: 1094).

Dalam hadits ini beliau menghubungkan antara menghentikan sahur dengan putihnya ufuk yang bentuknya mendatar. Beliau tidak menyaratkan fajar itu harus menyebar sampai ke jalan dan rumah penduduk.

عن عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْغَلَسِ (البخاري واللفظ له: 578, ومسلم: 645)

Aisyah mengatakan: “Dahulu para sahabat dari kalangan wanita, ikut sholat fajar bersama Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam– dengan berbalut baju yang berbulu. Lalu mereka kembali ke rumah-rumah mereka, dan tidak ada seorangpun yang  mengenali mereka, karena suasana yang masih gelap”. (Bukhori dengan redaksi darinya: 578, dan Muslim: 645)

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَتَاهُ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا قَالَ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا (مسلم: 614) وفي رواية: حِينَ كَانَ الرَّجُلُ لَا يَعْرِفُ وَجْهَ صَاحِبِهِ أَوْ أَنَّ الرَّجُلَ لَا يَعْرِفُ مَنْ إِلَى جَنْبِهِ (أبو داود: 395)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari: bahwa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- pernah di datangi orang yang menanyakan waktu-waktu sholat, dan beliau tidak menjawabnya. Namun beliau kemudian mendirikan sholat shubuh, ketika muncul fajar. Ketika itu hampir saja mereka tidak mengenali satu sama lain. (HR. Muslim: 614) dalam riwayat lain redaksinya: “Ketika itu seseorang tidak mengenali raut wajah temannya”. Atau dengan redaksi: “Sungguh saat itu seseorang tidak mengenali siapa yang disampingnya”. (HR. Abu Dawud: 395, dishohihkan oleh Albani)

عن أبي برزة: وَكَانَ يُصَلِّي الصُّبْحَ وَمَا يَعْرِفُ أَحَدُنَا جَلِيسَهُ الَّذِي كَانَ يَعْرِفُهُ (أبو داود: 398)

Abu Barzah mengatakan: beliau -shollallohu alaihi wasallam- dulu sholat shubuh, sedang salah seorang dari kita tidak mengenali teman duduknya yang telah ia kenal sebelumnya. (HR. Abu Dawud: 398, dishohihkan oleh Albani)

Ibnu Rojab mengatakan: “Hadits ini senada dengan banyak hadits lain…”, lalu beliau menyebutkan banyak hadits diantaranya:

عن حَرْمَلَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْغَدَاةَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلاةَ نَظَرْتُ فِي وُجُوهِ الْقَوْمِ مَا أَكَادُ أَعْرِفُهُمْ

Harmalah mengatakan: Aku pernah mendatangi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, lalu aku sholat shubuh dengan beliau. Ketika selesai sholat, aku menatap raut wajah para jama’ah, dan hampir saja aku tidak mengenali mereka. (Lihat Fathul Bari, karya Ibnu Rojab, syarah hadits no: 578) (Lihat juga hadits ini dengan redaksi yang semakna, di Majma’uz Zawaid, hadits no: 1785)

حديث جبريل ثُمَّ أَتَاهُ حِينَ امْتَدَّ الْفَجْرُ وَأَصْبَحَ وَالنُّجُومُ بَادِيَةٌ مُشْتَبِكَةٌ فَصَنَعَ كَمَا صَنَعَ بِالْأَمْسِ فَصَلَّى الْغَدَاةَ (رواه النسائي: 513)ـ

Hadits Jibril (tentang waktu sholat): “…kemudian Jibril mendatangi beliau (di hari kedua) ketika fajar memanjang, dan bintang-bintang masih jelas dan bercampur, lalu ia melakukan apa yang dilakukannya kemarin, kemudian sholat shubuh. (HR. Nasa’i, dishohihkan oleh Albani). (Lihat syarah hadits ini di Dzakhirotul Uqba, karya Al-Itsyubi 6/675)

Melihat banyaknya hadits yang senada dengan ini, hingga Al-Baihaqi menyimpulkan, bahwa sebagian besar hadits menunjukkan bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu memulai sholat shubuh ketika suasana masih gelap”. (perkataan ini dinukil oleh Ibnu Rojab dalam Fathul Bari karyanya, syarah hadits no: 578)

Bertolak dari keterangan hadits-hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa awal masuknya fajar shodiq, itu masih dalam suasana gelap, hingga banyak perowi menggambarkannya dengan keadaannya yang tidak bisa mengenali wajah teman duduknya yang berada di sampingnya ketika sholat shubuh bersama Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-…

Kesimpulan fajar shodiq dari Qur’an dan Hadits

  1. Fajar shodiq itu berbentuk panjang dan mendatar di ufuk.
  2. Ia muncul setelah hilangnya fajar kadzib, yang bentuk sinarnya seperti ekor serigala, tegak meninggi.
  3. Pada awal munculnya ia seperti benang putih, karena saking tipisnya sinar putih yang dipancarkan. Dengan ini kita tahu, bahwa warna merah bukanlah syarat untuk fajar shodiq.
  4. Pada awal munculnya, sinar fajar masih sangat lemah, dan suasana masih gelap, hingga orang hampir tidak bisa mengenali orang yang berada di sampingnya. Dengan ini kita tahu, bahwa menyebarnya sinar fajar ke jalan dan perumahan bukan merupakan syarat fajar shodiq.
  5. Hukum fajar shodiq sudah diberlakukan meski masih seperti benang putih, hingga pada waktu itu kaum muslimin boleh menunaikan sholat shubuh, dan orang yang berpuasa tidak boleh makan.

Jika kita telah mengetahui hal ini, maka marilah kita beranjak mengetahui latar belakang munculnya tuduhan salah kaprah dalam waktu shubuh ini.

Tentunya setiap orang akan heran, mengapa muncul suara miring seperti yang beredar sekarang ini, hingga sampai pada taraf menyalahkan jadwal sholat shubuhnya umat islam seluruh dunia… Tapi keheranan itu akan hilang, dengan diketahuinya latar belakang tindakan mereka.

Tahukah anda, bahwa ternyata mereka mempunyai pandangan yang berbeda tentang fajar shodiq? Mereka menyelisihi Alqur’an dan ketetapan mayoritas ulama islam dalam masalah ini, dengan menambahkan dua syarat untuk fajar shodiq, yaitu:

(a)    Terangnya fajar shodiq harus memenuhi jalan dan perumahan.

(b)   Adanya campuran warna merah, khususnya ketika langit bersih (cuaca cerah).

Dua syarat inilah, yang menjadikan mereka menilai jadwal sholat shubuh yang ada sekarang terlalu cepat 20-30 menit, padahal sebenarnya tidak demikian.  Sebenarnya jadwal sholat shubuh yang ada sudah tepat, atau jika meleset itu tidak seperti yang disuarakan selama ini, tapi tanpa dua syarat fajar shodiq yang mereka tambahkan itu.

Apakah dua syarat tambahan itu benar adanya?

Dengan memahami uraian di atas, kita bisa menjawab pertanyaan pertama. Syarat terangnya fajar shodiq harus memenuhi jalan dan perumahan, jelas sangat bertentangan dengan banyak hadits shohih yang telah disebutkan di atas… Sedang syarat adanya campuran warna merah pada fajar shodiq khususnya ketika langit cerah, juga bertentangan dengan firman Alloh yang telah kami jelaskan di atas.

Lalu dari mana mereka menyimpulkannya?

Berikut ini kami kemukakan dalil-dalil mereka, beserta bantahannya, semoga bisa menjadi perbandingan dalam berwawasan. Perlu diketahui, bahwa diskusi yang akan kami paparkan di sini, kami nukil dari kitab “طلوع الفجر الصادق بين تحديد القرآن وإطلاق اللغة” karya syeikh Prof. Dr. Ibrohim bin Muhammad as-Shubaihi, yang telah didukung penuh oleh Syeikh Sholeh Fauzan dan mufti kerajaan saudi arabia, syeikh Abdul Aziz Alu syeikh, dengan beberapa penambahan dari penulis.

Ini adalah diskusi antara ulama’ yang menggunakan metode Ummul Quro, dengan ulama yang menyalahkannya. Metode Ummul Quro sendiri memakai derajat 19 di bawah ufuk sebagai patokan penentuan fajar shodiqnya, dan ini tidak jauh dengan metode yang dipakai indonesia (BRHI), yakni 20 derajat di bawah ufuk.

Arti Al-Khoitul Abyadh secara bahasa

Sebelum masuk ke dalil pertama, ada baiknya kita melihat makna “الخيط الأبيض” (benang putih) menurut para ahli bahasa arab.

Ibnu Faris mengatakan: kata “khoyatho” menunjukkan arti sesuatu yang tipis memanjang. (Mu’jam maqoyis lughoh: 2/233).

Ibnu Mandhur mengatakan: Firman Alloh ta’ala (yang artinya) “Makan dan minumlah (di malam hari kalian berpuasa), hingga jelas benang putihnya fajar dari benang hitamnya (malam). (Al-Baqoroh:187), maksudnya adalah putihnya subuh dan hitamnya malam, ia diserupakan dengan benang, karena tipisnya. (Lisanul Arob: 7/298).

Az-Zamakhsyari mengatakan: “Al-Khoitul Abyadh” adalah awal munculnya fajar yang mendatar di ufuk, seperti benang yang memanjang. (Al-Kasysyaf: 1/239)

Dalil mereka yang pertama:

Dari segi bahasa, Ibnu Manzhur mengatakan: Fajar adalah merahnya matahari di gelapnya malam (Lisanul Arob 2/182). Al-Jauhari mengatakan: Fajar di akhir malam itu seperti sinar merah matahari di awal malam. (2/778)

Jawaban: Ini adalah istidlal yang tidak tepat, karena Alloh ta’ala tidak menjadikan terbitnya fajar yang sempurna sebagai batas mulainya puasa, tapi yang Dia jadikan sebagai batasan adalah benang putihnya fajar, yakni awal mula munculnya fajar, dan sudah jelas ada perbedaan antara keduanya, karena definisi fajar yang mereka sebutkan di atas adalah untuk fajar yang sudah sempurna dengan semua ciri-cirinya. Adapun adanya benang putih, maksudnya adalah munculnya sinar pertama di ufuk, yang kemudian disusul bertambahnya cahaya hingga sempurnanya fajar dengan adanya warna merah.

Pendapat mereka ini melazimkan tidak wajibnya puasa hingga fajar terbit dengan sempurna, yaitu dengan munculnya warna merah, setelah sempurnanya warna putih yang muncul lebih dulu. Jelas, hal ini menyelisihi petunjuk Alqur’an, karena Alloh menjadikan wajibnya puasa ketika awal munculnya benang putih, yakni tahap awal munculnya fajar shodiq, bukan ketika fajar sudah sempurna. Maka seharusnya yang benar adalah istidlal dengan arti bahasanya benang putih, bukan istidlal dengan arti bahasanya fajar yang telah sempurna. Wallohu a’lam

Agar maksud dari redaksi “al-Khotul Abyadh” dalam Surat al-Baqoroh:187 lebih jelas, maka di sini, kami nukilkan ucapan para ahli tafsir, dalam menafsirinya:

والخيط الأبيض يعني أول بياض الصبح، الضوء المعترض قبل المشرق

Yang dimaksud dengan “al-Khoithul Abyadh” adalah awal munculnya sinar putih subuh, yakni sinar yang melintang di arah timur (Tafsir Muqotil bin Sulaiman 1/99)

لأنَّ الخيطَ الأبيضَ هو بعضُ الفجر وأوله

Karena yang dimaksud “al-Khoitul Abyadh” adalah sebagian fajar, yakni awal kemunculannya (Allubab fi ulumil kitab 3/313)

سميا خيطين لأن كل واحد منهما يبدو في الابتداء ممتدا كالخيط

Keduanya (yakni putihnya siang dan hitamnya malam) disebut benang, karena keduanya pada awal munculnya nampak memanjang seperti benang. (Tafsir Al-Baghowi 1/206)

كان من مستعملات العرب إطلاق الخيط الأبيض على أول ما يبدو من الفجر المعترض في الأفق كالخيط الممدود

Termasuk bahasa yang digunakan orang arab adalah penamaan “al-khoitul Abyadh” (benang putih), untuk awal munculnya fajar yang mendatar di ufuk, seperti benang yang memanjang. (Tafsir Naisaburi 1/445)

الخيط الأبيض وهو أول ما يبدو من الفجر الصادق المعترض في الأفق قبل إنتشاره

“Al-Khoitul Abyadh” adalah awal munculnya fajar shodiq yang mendatar di ufuk, sebelum sinarnya menyebar. (Tafsir Ruhul Ma’ani, 2/66)

وسُمِّيَ خيطاً ، لأن أول ما يبدو من البياض ممتد كالخيط

Fajar itu disebut “benang”, karena pada awal munculnya fajar, sinar putihnya memanjang seperti benang. (Tafsir Al-mawardi, 1/246)

هو أول ما يبدو من بياض النهار كالخيط الممدود دقيقاً ثم ينتشر

Al-Khoitul Abyadh adalah awal munculnya sinar putihnya pagi, seperti benang yang memanjang dan tipis, kemudian menyebar. (Tafsir Ruhul Bayan 1/245)

قال الشريف الرضى: هذه استعارةٌ عجيبة، والمراد بها حتى يتبيّن بياضُ الصبحُ من سواد الليل، والخيطان هاهنا مجاز، وإنما شبّهها بذلك لأنّ بياض الصبح يكون في أول طلوعه مشرقاً خافياً، ويكون سواد الليل منقضياً موليّاً، فهما جميعاً ضعيفان، إلاّ أن هذا يزداد انتشاراً وهذا يزداد استسراراً

Asy-Syarif Ar-Ridho, ketika menafsiri Surat Albaqoroh: 187 mengatakan : “Ini adalah kata kiasan yang menakjubkan, maksud ayat ini adalah, “Hingga jelas putihnya subuh dari hitamnya malam”, Redaksi “al-Khoitoon” (dua benang) di sini adalah majas, dia diserupakan dengan benang, karena putihnya subuh pada awal munculnya bersinar samar, dan hitamnya malam itu berlalu dan menghilang, jadi dua-duanya itu lemah, hanya saja yang ini semakin menyebar, sedang yang itu semakin menghilang. (Tafsiru Ayatil Ahkam 1/84)

Inilah ucapan para ulama ahli tafsir, dalam menafsiri redaksi “Al-Khoitul Abyadh” yang merupakan batas waktu bolehnya makan dan minum bagi mereka yang puasa, dan bisa kita simpulkan bahwa ketika awal munculnya fajar shodiq itu langit masih dalam keadaan gelap, sebagaimana digambarkan dalam banyak hadits.

Prof. Dr. Ibrohim bin Muhammad as-Shubaihi mengatakan: “Terbitnya fajar shodiq -yang dengannya masuk waktu sholat- itu, tidak menyebabkan adanya suasana terang, karena dengan kemunculannya itu, ia tidak menyinari kecuali tempat munculnya saja, lalu menyebar dan menyebar hingga memenuhi ufuk timur, lalu meninggi dan meninggi hingga terbit matahari”. (Thulu’ul Fajris Shodiq, hal: 135)

Sebelum masuk ke dalil mereka yang kedua, mari kita lihat dulu masalah berikut ini:

Kapan mulai diharamkan makan bagi yang puasa? Ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama:

Batas tidak bolehnya makan bagi orang yang berpuasa adalah dengan munculnya fajar shodiq yang mendatar di ufuk. (perkataan “di ufuk”, menunjukkan bahwa sinar fajar itu belum menyebar menerangi jalan dan rumah penduduk). Ini adalah pendapat mayoritas ulama Islam dan seluruh madzhab empat (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah).

Ibnu Qudamah mengatakan: Pendapat yang senada dengan ini, diriwayatkan dari Umar, Ibnu Abbas, Atho’, dan seluruh kalangan ulama’. (Al-Mughni: 4/325)

Imam Al-Qurthubi mengatakan: Pendapat inilah yang sesuai dengan hadits-hadits dan dipilih oleh para ulama seluruh negeri. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Jangan sampai sahur kalian diganggu oleh adzannya Bilal dan putihnya ufuk yang meninggi seperti ini (yakni fajar kadzib). (Tapi teruskanlah sahur kalian) hingga putih ufuk itu mendatar seperti ini (yakni fajar shodiq)!” (HR. Muslim: 1094) (Tafsir Qurtubi: 2/318)

Al-Jashshosh mengatakan: Tidak ada khilaf diantara kaum muslimin, bahwa dengan fajar putih yang mendatar di ufuk -sebelum munculnya warna merah-, makan dan minum menjadi haram bagi mereka yang berpuasa. (Ahkamul Qur’an lil Jashshosh 1/285). Keabsahan nukilan ijma’ ini meski bisa disanggah, tapi paling tidak, itu menunjukkan sangat banyaknya orang yang memilih pendapat ini.

Pendapat Kedua:

Batas tidak bolehnya makan bagi orang yang berpuasa adalah ketika fajar menyebar, hingga menerangi jalan dan rumah penduduk.

Konon pendapat yang ganjil ini dipilih oleh: Hudzaifah, Abu Musa Al-Asy’ari, Abu Mijlas, Tholq bin Ali, dan Al-A’masy. (Lihat Al-Majmu’ lin Nawawi, Tafsir Al-Qurthubi: 3/187, Tuhfatul Ahwadzy, syarah hadits no: 705 ).

Ini diantara nukilan atsar dari sebagian mereka:

عن زر قال قلنا لحذيفة: أي ساعة تسحرت مع رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؟ قال: هو النهار إلا أن الشمس لم تطلع

Zirr mengatakan, kami pernah bertanya pada Hudzaifah: “Kapan waktu sahurmu bersama Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-?” Ia menjawab: “Yaitu ketika pagi, hanya saja matahari belum terbit”. (Sunan Nasa’i: 2152, Albani mengatakan: Sanadnya hasan, meski mungkin ada cacatnya)

عن الأعمش، عن مسلم، قال: لم يكونوا يعدُّون الفجر فجرَكم هذا، كانوا يعدُّون الفجرَ الذي يملأ البيوتَ والطرُق

Dari Al-A’masy, dari Muslim, ia mengatakan: “Dahulu yang mereka anggap sebagai fajar, bukanlah fajar kalian ini. Tapi yang mereka anggap sebagai fajar adalah, (fajar) yang memenuhi rumah-rumah dan jalan-jalan”. (Tafsir Thobari)

عن الأَعْمَش أنه قَالَ : لَوْلَا الشُّهْرَة لَصَلَّيْت الْغَدَاةَ ثُمّ تَسَحَّرْت

Dari Al-A’masy, ia mengatakan: “Andai aku tidak khawatir syuhroh, tentu aku sholat shubuh kemudian sahur”. (lihat atsar ini di Fathul Bari, syarah hadits no: 1918)

Tapi pendapat kedua ini lemah, dan banyak ditentang oleh para ulama, lihatlah komentar para ulama berikut ini:

Imam Abu Dawud: “Ini diantara pendapat eksklusif-nya Ahlul Yamamah” (sunan Abi Dawud, hadits no:2348). artinya Ahlul Yamamah menyendiri dengan pendapat ini, dan selain mereka tidak ada yang berpendapat demikian.

Imam At-Thobari: Dalam firman-Nya (yang artinya): Makan dan minumlah, hingga jelas benang putihnya fajar dari benang hitamnya (malam), lalu sempurnakanlah puasa itu hingga malam. (Al-Baqoroh:187) terdapat dalil yang paling jelas tentang salahnya orang yang mengatakan, bolehnya makan dan minum bagi orang yang ingin puasa hingga terbit matahari. Karena benang putih fajar itu menjadi jelas ketika permulaan munculnya awal-awal fajar, sedang Alloh telah menjadikan itu sebagai pembatas waktu bagi orang yang wajib puasa, dari bolehnya makan, minum dan jima’. (Tafsir Thobari)

Al-Qurthubi juga menukil perkataan At-Thobari: “Yang mendorong mereka mengatakan ini; karena puasa itu dimulai dari siang, dan siang menurut mereka dimulai dari terbitnya matahari. (Tafsir Qurthubi 2/319)

Imam Nawawi: Syeikh Abu Hamid mengatakan, pendapat ini dinukil dari Hudzaifah ibnul Yaman, Abu Musa Al-Asy’ari, Abu Mijlaz, dan Al-A’masy –rodhiallohu anhum-. Mereka mengatakan, bahwa akhir malam adalah terbitnya matahari, (hingga) mereka mengatakan sholat shubuh termasuk sholat malam. Mereka juga mengatakan, orang yang berpuasa boleh makan hingga terbit matahari. Demikianlah nukilan Abu Hamid dari mereka, dan perkiraanku hal ini tidak valid dari mereka. (Al-Majmu’)

Al-Qodhi Abu Thoyyib dan Shohibusy Syamil: Konon Al-A’masy mengatakan bahwa sholat shubuh termasuk sholat malam, dan sebelum terbitnya matahari berarti masuk dalam waktu malam, sehingga pada waktu itu makan masih dibolehkan bagi orang yang puasa”. Mereka berdua mengatakan: Riwayat ini jauh dari ke-valid-an, karena jelasnya keharaman makan setelah terbitnya fajar, dalam setiap masa, serta jelasnya (keterangan) Alqur’an. (Al-Majmu’)

Al-Mawardi mengatakan: “(Para ulama) telah IJMA’ dalam menyelisihi pendapat ini” (Tafsir Al-mawardi, 1/246)

Imam Nawawi mengatakan: Jawaban pendapat ini adalah, bahwa sholat shubuh itu termasuk sholat siang, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-baqoroh: 187. Begitu pula ijma’ (kesepakatan) ulama sepanjang masa, tentang haramnya makan dan minum ketika terbitnya fajar. Dan telah shohih juga hadits Jibril yang di dalamnya dikatakan: “Lalu Jibril sholat Shubuh ketika muncul fajar dan diharamkannya makanan bagi orang yang puasa”. (Al-Majmu’ 3/46-48, dengan sedikit penyesuaian)

Intinya, pendapat yang jauh lebih kuat berdasarkan dalil-dalil syar’i adalah pendapat pertama, dan tidak boleh bagi kita memilih pendapat kedua, karena terlalu lemahnya pendapat itu dari sisi dalil, wallohu a’lam.

Setelah memahami uraian di atas, mari kita lihat dalil mereka yang kedua:

Diantara dalil kelompok yang menyalahkan metode kalender ummul quro adalah:

عن زِرّ قال: قُلْنا لحذيفة: أي ساعة تسحرت مع رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؟ قال: هو النهار إلا أن الشمس لم تطلع

Zirr mengatakan, kami pernah bertanya pada Hudzaifah: “Kapan waktu sahurmu bersama Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-?” Ia menjawab: “Yaitu ketika pagi, hanya saja matahari belum terbit”. (Sunan Nasa’i: 2152, Albani mengatakan: Sanadnya hasan, meski mungkin ada cacatnya)

عن الأعمش، عن مسلم، قال: لم يكونوا يعدُّون الفجر فجرَكم هذا، كانوا يعدُّون الفجرَ الذي يملأ البيوتَ والطرُق

Dari Al-A’masy, dari Muslim, ia mengatakan: “Dahulu yang mereka anggap sebagai fajar, bukanlah fajar kalian ini. Tapi yang mereka anggap sebagai fajar adalah, (fajar) yang memenuhi rumah-rumah dan jalan-jalan”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah: 9168)

Jawaban:

(a) Istidlal ini tidak pada tempatnya, karena itu adalah dalilnya orang yang berpendapat bolehnya makan meski telah terbit fajar, asal belum terbit matahari, (sebagaimana telah kami uraikan di atas). Jadi jelas, dalil ini tidak ada hubungannya dengan pembahasan masuknya waktu shubuh.

Dan sebatas pengetahuan penulis –wallohu a’lam-, tidak ada ulama salaf yang menjadikan ini, sebagai dalil munculnya fajar shodiq, yang ada, mereka memakainya untuk dalil bolehnya makan meski telah masuk waktu shubuh.

(b) Jika perkataan di atas valid dari mereka, dimaknai apa adanya, dan digunakan sebagai dalil masuknya waktu subuh, maka kita katakan: Dalil itu berseberangan dengan dalil yang lebih kuat, yakni Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana kita tahu, bahwa Alqur’an hanya memberi batasan waktu shubuh dengan munculnya benang putih (Albaqoroh: 187), sedang dari Sunnah banyak dijelaskan keadaan para sahabat, ketika memulai sholat shubuh bersama Rosul –shollallohu alaihi wasallam-, susananya masih gelap hingga mereka hampir saja tidak bisa mengenali teman yang duduk disampingnya. (HR. Muslim: 614, Abu Dawud: 395, dan 398).  Jelas jika keadaannya demikian, kita harus mendahulukan Al-Qur’an dan Sunnah, dari pada dalil yang lebih lemah yang menyelisihinya.

(c) Hadits Adiy r.a. yang diriwayatkan oleh Bukhori (1916) dan Muslim (1090), jelas-jelas menyelisihi dalil di atas. Yakni setelah Adiy r.a. mendengar firman Alloh surat Al-Baqoroh: 187, tentang tampaknya benang putih dan benang hitam sebagai tanda masuknya shubuh, maka ia memperaktekkannya dengan meletakkan dua tali warna hitam dan putih, di bawah bantalnya, lalu ia jadikan sebagai patokan masuknya fajar, ketika ia bisa membedakan warna keduanya -karena sinar fajar yang lambat laun menyebar hingga menerangi jalan dan rumahnya- berarti menurutnya waktu subuh telah tiba.

Setelah ia menceritakan hal itu pada Rosul ­-shollallohu alaihi wasallam-, beliau malah mengingkarinya dan menjelaskan bahwa maksud ayat itu adalah putihnya sinar pagi yang ada di ufuk dan hitamnya malam. Beliau tidak menjelaskan bahwa maksud ayat itu adalah pengaruh dari menyebarnya cahaya subuh dalam membedakan warna sesuatu.

Dari uraian di atas kita tahu, bahwa syarat yang menyatakan sinar fajar shodiq harus menyebar hingga memenuhi jalanan dan perumahan, adalah hal yang sebenarnya dilarang Rosul –shollallohu alaihi wasallam– sebagaimana terjadi pada Adiy r.a. Jika demikian, apakah boleh memaksakan syarat itu kepada Umat Islam, padahal beliau sendiri telah melarangnya?!…

Ada yang menyandarkan pendapat, bahwa fajar shodiq itu sinarnya harus menyebar ke jalanan dan perumahan kepada Ibnu Jarir At-Thobari, karena beliau menyebutkan pendapat ini:

صفة ذلك البياض أن يكون منتشرا مستفيضا في السماء يملأ بياضه وضوءُهُ الطرق

Ciri sinar putih itu adalah dengan menyebar dan menjadi banyak dilangit, hingga putih dan sinarnya (fajar shodiq) itu memenuhi jalan-jalan.

Kita katakan, bahwa penyandaran pendapat ini kepada Ibnu Jarir, tidaklah benar, karena beliau di sini hanya menyebutkan salah satu pendapat ulama dalam menafsiri firman-Nya dalam surat Al-Baqoroh: 187. Makanya setelah menyebutkan perkataan di atas, beliau langsung susuli dengan menyebutkan siapa yang mengatakan pendapat itu. Kemudian beliau tutup dengan menyebutkan pendapat yang dipilihnya, dengan mengatakan:

وأما قوله:”من الفجر” فإنه تعالى ذكره يعني: حتى يتبين لكم الخيطُ الأبيضُ من الخيط الأسود الذي هو من الفجر. وليس ذلك هوَ جميعَ الفجر، ولكنه إذا تبيَّن لكم أيها المؤمنون من الفجر ذلك الخيط الأبيض الذي يكون من تحت الليل الذي فوقه سواد الليل، فمن حينئذ فصُوموا، ثم أتِمُّوا صيامكم من ذلك إلى الليل. وبمثل ما قلنا في ذلك كان ابن زيد يقول… في قوله:”منَ الفجر” قال: ذلك الخيط الأبيضُ هو من الفجر نسبةً إليه، وليس الفجر كله، فإذا جاء هذا الخيط، وهو أوله، فقد حلت الصلاةُ وحَرُم الطعام والشراب على الصائم.

Adapun firman-Nya: “minal fajr“, maka yang Alloh ta’ala maksud adalah: Hingga tampak jelas bagimu benang putih -yang merupakan bagian dari fajar- dari benang hitamnya, dan itu bukanlah fajar seluruhnya. Tapi maksudnya adalah: “Wahai para mukminin! Jika telah jelas benang putihnya fajar, yang berada di bawah malam dan diatasnya ada hitamnya malam, maka mulai saat itu berpuasalah kalian, lalu sempurnakanlah puasa kalian hingga malam!”. Ibnu Zaid juga mengatakan seperti perkataan kami ini… ia mengatakan -ketika menafsiri firmanNya: “minal fajr“-: “Itu adalah benang putih, dan dia itu sebagian dari fajar, bukan fajar semuanya.  Jika datang benang ini -yang merupakan awal fajar-, maka dibolehkan sholat (subuh), dan diharamkan makan dan minum bagi orang yang puasa”. (Tafsir Thobari 3/530).

Inilah pendapat yang dikuatkan dan dipilih oleh Imamnya para ahli tafsir, Ibnu Jarir At-Thobari, tidak seperti yang disebarkan oleh sebagian orang selama ini, dan pendapat inilah -menurut kami- yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, wallohu a’lam.

Perlu kita camkan di sini, bahwa sebagaimana kita harus hati-hati dalam hal sholat, agar kita tidak sholat sebelum waktunya, kita juga harus hati-hati dalam hal puasa, agar puasa kita dimulai dari awal waktunya. Jadi, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama cepatnya hingga sholat subuh kita jadi tidak sah, begitu pula sebaliknya, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama lambatnya, hingga puasa kita jadi tidak sah… Syeikh Athiyah Salim mengatakan:

يقول الفقهاء: ينبغي أن يمسك قبل أن يتبين ولو بلحظات ليتأكد أن إمساكه وقع في جزء من الليل، وأن كامل النهار سلم من أن يأكل أو يشرب فيه

“Para ahli fikih mengatakan, sebaiknya orang yang berpuasa berhenti makan sebelum terangnya fajar shodiq meski sebentar, agar ia yakin telah berhenti (makan dan minum) pada sebagian waktu malamnya, dan (juga agar ia yakin) semua siangnya terbebas dari makan dan minum”. (Tafsir Surat Hujurat 8/3). Inilah tujuan utama kami menulis artikel ini… jadi mohon dimaklumi adanya.

Karena dalam artikel yang lalu telah dijelaskan bantahan terhadap syarat menyebarnya sinar fajar shodiq di jalanan dan perumahan, maka dalam tulisan ini penulis akan menyoroti masalah syarat campuran warna merah, terutama ketika langit bersih dan cuaca cerah.

Dalil keempat:

عَنْ طَلْقٍ بن علي قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا يَهِيدَنَّكُمْ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمْ الْأَحْمَرُ

Dari Tholq bin Ali, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Makan dan minumlah, jangan sampai pancaran cahaya yang tegak itu mencegah (sahur) kalian. Maka makan dan minumlah hingga datang (fajar) yang merah. (HR. Abu Dawud: 2348, dan tirmidzi: 705, dihasankan oleh Albani)

Pada hadits di atas Nabi -shollallohu alaihi wasallam- jelas-jelas menyifati fajar shodiq dengan warna merah, ini merupakan dalil nyata diharuskannya sifat merah dalam fajar shodiq.

Jawaban:

Meski ada beberapa ulama yang mempermasalahkan ke-shohih-an hadits ini, -seperti Addaruquthni yang mengatakan: “Qois bin Tholq, (salah perowi hadits ini) bukan perowi yang kuat”, juga Abu Hatim yang mengatakan: “ia (Qois bin Tholq) tidak bisa dijadikan sebagai hujjah”-, akan tetapi yang lebih kuat adalah pendapat yang meng-hasan-kannya, sebagaimana dipilih oleh Tirmidzi, Ibnu Hajar, dan Albani, wallohu a’lam.

Jika demikian, lalu bagaimana cara mengompromikan antara redaksi Alqur’an “benang putih” dengan redaksi hadits ini “alAhmar“? Ada dua versi dalam masalah ini:

(a) Bahwa maksud kata “Al-Ahmar” dalam hadits ini adalah warna putih, seperti dalam sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang lain: “بُعِثْتُ إلى الأحْمَر والأسود” Aku diutus kepada “Al-Ahmar” (bangsa kulit putih) dan bangsa kulit hitam. (HR. Ahmad: 13852, dan Addarimi: 2467, dishohihkan oleh Albani). Begitu pula ungkapan orang arab “امرأة حمراء”, yakni wanita yang berkulit putih. Pendapat ini dikuatkan oleh pengarang kitab Aunul Ma’bud syarah Sunan Abu Dawud, ketika mensyarah hadits di atas. (Lihat juga keterangan ini dalam An-Nihayah karya Ibnul Atsir 1/429, Lisanul Arob karya Ibnul Mandhur 2/989-990, Tahdzibul lughoh karya Al-Azhari 2/115).  Tajul Arus karya Azzabidi 11/73)

(b) Syeikh Albani mengatakan: “Ketahuilah, tidak ada pertentangan antara sifat “al-Ahmar” yang diberikan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- untuk fajar shodiq, dengan sifat “benang putih” yang diberikan oleh Alloh ta’ala kepadanya. Karena –wallohu a’lam– yang dimaksud dengan itu adalah: Fajar putih yang tercampuri warna merah, atau kadang putih dan kadang merah, tergantung perbedaan musim dan matla’ (tempat munculnya fajar)”. (Lihat di silsilah shohihah, hadits no: 2031)

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, karena:

(a) Pendapat kedua ini musykil, karena warna merahnya fajar shodiq itu tidak akan muncul, kecuali setelah hilangnya benang putih yang tipis dari fajar shodiq. Dan ini jelas menyelisihi petunjuk Alqur’an yang menyatakan fajar shodiq itu di mulai dengan jelasnya benang putih.

(b) pendapat kedua menyelisihi pendapat mayoritas ulama, bahkan Al-Jashshosh dalam kitab tafsirnya mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum muslimin, bahwa dengan fajar putih yang mendatar di ufuk sebelum munculnya warna merah, makan dan minum menjadi haram bagi orang yang puasa. (Ahkamul Qur’an 1/229)

(c) Hendaknya kita memaknai hadits ini dengan mengacu pada pemahaman Alqur’an, bukan sebaliknya memaknai Alqur’an dengan mengacu pada pemahaman hadits ini, apalagi sebagian ulama -seperti Addaruqutni dan Abu Hatim- telah mempertanyakan keshohihannya, wallohu a’lam.

Maksudnya, hendaklah kita memaknai redaksi “الأحمر” dalam hadits ini, dengan makna “warna putih” sebagaimana itu berlaku dalam bahasa arab, karena mengacu pada redaksi ayat “الخيط الأبيض”. Jangan sebaliknya, memaknai redaksi Alqur’an “الخيط الأبيض”, dengan mengacu pada redaksi hadits “الأحمر”, lalu mengatakan bahwa fajar shodiq itu harus tercampur warna merah.

Karena redaksi Alqur’an dalam hal ini lebih jelas dan lebih kuat dari pada redaksi hadits itu, redaksi Alqur’an “الخيط الأبيض”, tidak mungkin dalam bahasa arab dimaknai “warna merah”, sedang redaksi hadits “الأحمر” dalam bahasa arab bisa dimaknai “warna putih”, wallohu a’lam.

Kesimpulannya, harus adanya warna merah pada fajar shodiq, bukanlah syarat dalam menentukan masuknya waktu shubuh. Yang benar, waktu subuh sudah masuk dengan jelasnya benang putih, yakni awal dari fajar shodiq, meski belum muncul atau tercampuri warna merah. Wallohu a’lam….

Dalil mereka yang kelima:

Mereka mengatakan bahwa pedoman yang dipakai untuk menentukan fajar shodiq selama ini adalah apa yang dinamakan fajar falaki, yang menurut mereka sama dengan fajar kadzib.

Jawaban:

Memang para ulama menentukan waktu fajar itu dengan mengacu pada fajar falaki, tapi apa benar fajar falaki itu sama dengan fajar kadzib? Untuk menjawab ini, mari kita dengarkan para ahli falak dalam mendefinisikannya.

Dr. Ali Hasan Musa:

Kapan mulai fajar falaki? Fajar falaki itu awal sinar yang sesungguhnya sebelum terbit matahari, ini terjadi ketika matahari masih di bawah ufuk kira-kira 18 derajat, dan ini sama dengan kira-kira 72 menit. Sinar ini muncul dari pantulan cahaya matahari yang menyebar pada partikel-partikel atmosfer sebelum terbitnya matahari, dan ia memancar di pojok ufuk kira-kira 18 derajat. Andaikan tidak ada atmosfer bumi, tentu perpindahannya akan serta-merta, sehingga ia datang dari gelapnya malam yang pekat kepada terbitnya matahari yang terang. (Ilmul falak bainas sa’il wal mujib, hal: 306) 

Dr. Zainab Manshur:

Di tengah-tengah proses merendahnya matahari dari derajat 12 sampai derajat 18, terlihatlah syafaq falaki, dan ketika itulah dimulainya proses datang atau hilangnya kegelapan yang pekat. (Al-Mausu’ah Al-Falakiyah, hal: 170)

Prof. Ahmad Ali syawar al-Falaki:

Syafaq adalah sinar yang muncul saat sore, antara terbenamnya matahari sampai gelapnya malam. Sedang fajar adalah sinar yang muncul saat pagi, antara gelapnya malam sampai terbitnya matahari. Bentuk dan keadaan keduanya mirip dan sebabnya adalah pantulan matahari di udara. Yang pertama (syafaq) berakhir -sebagaimana dijelaskan oleh para ulama falak- ketika matahari di bawah ufuk di arah barat, kira-kira 18 derajat. Sedang yang kedua (fajar) mulai ketika matahari di bawah ufuk di arah timur, pada derajat itu juga (18). Dan antara berakhirnya syafaq sampai awalnya fajar, disebut jaufullail (tengah malam). (Al-Hai’ah Al-Falakiyah, yang dibimbing dan dikoreksi oleh Dr. Sholih bin Muhammad Al-Ujairi).

Inilah keterangan-keterangan dari para ahli falak, mereka menjelaskan bahwa fajar falaki terjadi antara derajat 12-18, dari derajat 18 sinar fajar itu mulai muncul, lalu makin turun derajatnya sinar matahari menjadi makin terang, hingga akhirnya terbit. Dalam proses itu tidak ada tanda fajar kadzib, yaitu proses munculnya sinar terang lalu gelap kembali, ini merupakan bukti bahwa fajar falaki bukanlah fajar kadzib sebagaimana dituduhkan oleh mereka. Tidakkah mereka tahu bahwa para ahli astronomi itu juga tahu  fajar kadzib dan menamainya dengan istilah khusus, yakni cahaya zodiak?!

Lihat juga keterangan dari T. Djamaludin (Anggota Badan Hisab Rukyat Depag RI/Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN) dalam mendefinisikan fajar shodiq dan kadzib berikut ini:

Fajar kidzib memang bukan fajar dalam pemahaman umum, yang secara astronomi disebut cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi rangkaian zodiak (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karenanya fajar kidzib tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Fajar kidzib muncul sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap”.

Fajar shadiq adalah hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi. Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih dari benang hitam”, yaitu peralihan dari gelap malam (hitam) menunju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam bermakna tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih bermakna ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya itu dari matahari dan penghamburnya adalah udara, maka cahaya fajar melintang di sepanjang ufuk (horizon, kaki langit). Itu pertanda akhir malam, menjelang matahari terbit. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq. Jadi, batasan yang bisa digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk.

Secara astronomi, fajar (morning twilight) dibagi menjadi tiga: fajar astronomi, fajar nautika, dan fajar sipil. Fajar astronomi didefinisikan sebagai akhir malam, ketika cahaya bintang mulai meredup karena mulai munculnya hamburan cahaya matahari. Biasanya didefinisikan berdasarkan kurva cahaya, fajar astronomi ketika matahari berada sekitar 18

derajat di bawah ufuk. Fajar nautika adalah fajar yang menampakkan ufuk bagi para pelaut, pada saat matahari berada sekitar 12 derajat di bawah ufuk. Fajar sipil adalah fajar yang mulai menampakkan benda-benda di sekitar kita, pada saat matahari berada sekitar 6 derajat.

Fajar apakah sebagai pembatas awal shaum dan shalat shubuh? Dari hadits Aisyah disebutkan bahwa saat para perempuan mukmin pulang dari shalat shubuh berjamaah bersama Nabi SAW, mereka tidak dikenali karena masih gelap. Jadi, fajar shadiq bukanlah fajar sipil karena saat fajar sipil sudah cukup terang. Juga bukan fajar nautika karena seusai shalat pun masih gelap. Kalau demikian, fajar shadiq adalah fajar astronomi, saat akhir malam”. (dinukil dari: http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!597.entry)

Dari nukilan di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa para ahli falak itu tidak menempatkan fajar shodiq pada waktunya fajar kadzib, karena mereka tahu perbedaan yang jelas antara keduanya.

Dalil mereka yang keenam:

Mereka menyebutkan perkataan beberapa ulama yang mendukung pendapat mereka, bahwa waktu sholat shubuh yang ada dalam kalender, terlalu cepat antara 15-30 menit.

Jawaban:

Meski ada beberapa ulama yang mendukung mereka, tapi yang lebih banyak adalah yang menentang mereka. Sayang perkataan dari ulama yang mayoritas itu tidak mereka sebutkan, sungguh alangkah baiknya jika mereka juga menyebutkan perkataan para ulama yang menentang mereka itu, agar masyarakat tahu, bahwa ini merupakan masalah khilafiyah, yang membutuhkan sikap yang arif dalam menyikapinya. Juga agar masyarakat tahu, bahwa ini bukanlah masalah yang salahnya tidak bisa ditoleran dan harus diingkari dengan keras, tanpa pertimbangan yang lebih mendalam.

Di sini kami hanya akan menyebutkan beberapa nukilan saja, semoga yang sedikit ini bisa memberikan wawasan yang lebih luas dan menumbuhkan sikap toleran dalam menyikapi masalah ini…

(a) Fatwa dari Mufti Negara Saudi Arabia sekarang, Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh.

Prof. Dr. Ibrohim bin Muhammad As-Shubaihi mengatakan: Yang terhormat Mufti Kerajaan (Saudi Arabia), Syeikh Abdul Aziz Alu Syaikh, mengecam pendapat yang meragukan keakuratan kalender Ummul Quro dalam penentuan waktu mulai puasa dan waktu berbuka di Bulan Romadhon. Beliau menegaskan bahwa semua pendapat yang  dikemukakan dalam masalah ini salah dan jauh dari kebenaran, dan harusnya (pendapat mereka itu) tidak usah dihiraukan, karena hal itu menimbulkan sikap skeptis di barisan kaum muslimin.

Prof. Dr. Ibrohim bin Muhammad As-Shubaihi menambahkan: Dalam keterangan resminya Mufti mengatakan, bahwa: Kalender Ummul Quro itu kalender yang resmi, syar’i, dan tidak sembarangan, karena telah disusun oleh para ulama pilihan yang tepercaya, baik dalam ilmu maupun amanahnya, dan telah dipakai sejak dahulu hingga sekarang.

Yang terhormat Mufti yang lalu, Syeikh Abdul Aziz Bin Baz, pada masanya juga telah memerintahkan untuk membentuk lajnah (tim khusus) yang terdiri dari para ulama dan tenaga ahli, untuk memeriksa ulang keakuratan kalender Ummul Quro. Hal itu dilakukan setelah banyaknya surat yang dikirim kepada beliau dari sebagian lembaga dakwah dan sebagian imam masjid tentang waktu fajar. Beliau tidak menolak untuk mengoreksi ulang keakuratan kalender yang ada, sebaliknya beliau memerintahkan untuk menindaklanjutinya.

(Tidak hanya itu), beliau juga melayangkan perintah kepada kementrian haji dan wakaf dengan surat resmi no 1/182, tanggal 20/1/1412 H, karena adanya permintaan dari ketua lembaga dakwah dan penyuluhan daerah Ar’ur yang melihat adanya perbedaan jauh dalam kalender Ummul Quro untuk daerah Ar’ur, antara adzan shubuh dengan terbitnya matahari. Kemudian lajnah (yang dibentuk untuk mengoreksi ulang kalender tersebut) menegaskan dalam laporan resminya, bahwa waktu yang ada masih akurat dengan terbitnya fajar (shodiq). Dan Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh (Mufti Kerajaan Saudi Arabia sekarang), menegaskan harusnya menerapkan kalender Ummul Quro, dan tidak mengakhirkan waktu mulai puasa dan waktu buka puasa, karena tidak adanya alasan yang mendasari hal ini.

Dalam masalah waktu atau kiblat, jika masyarakat telah berjalan di atas ketentuan yang didasari dengan ilmu dan fatwa, dan telah diperaktekkan oleh kaum muslimin secara umum, maka tidak boleh ada usaha untuk menimbulkan keraguan kepada mereka dalam hal waktu sholat, atau waktu ibadah, atau yang semisalnya. Ini tidak boleh dilakukan, karena peraktek mereka itu telah didasari dengan fatwa dari para ulama.

Dan usaha menimbulkan keraguan kepada fatwa para ulama dalam masalah ibadah, atau apa yang telah diamalkan (secara umum), jika kesalahannya tidak nyata, dan masih dalam lingkup ijtihad, maka hal itu tidak boleh disebarkan kepada khalayak.

Maka, waktu sholat yang wajib dipegang oleh semua adalah apa yang ada dalam kalender Ummul Quro, dan wajib bagi semua muadzin untuk konsisten dengannya, baik untuk waktu fajar ataupun untuk waktu lainnya, baik di Kota Riyadh maupun di kota lainnya. Adapun jika dia hidup di daerah yang belum dimasuki jadwal waktu, maka ia harus berijtihad (dalam waktu sholat) dengan berdasar tanda-tanda alam yang dilihatnya.

Jadwal waktu yang ada dalam kalender itu berdasarkan hisab, dan menyandarkan waktu sholat kepada hisab itu boleh berdasarkan IJMA’ (konsensus) para ulama, karena Alloh Jalla wa’ala berfirman (yang artinya): “Dirikanlah sholat sejak matahari tergelincir, sampai gelapnya malam” (Al-Isro’: 78). (Lihatlah, dalam Ayat ini) Alloh menjadikan pelaksanaan sholat dengan diketahuinya tergelincirnya matahari, tanpa membatasi sarana untuk mengetahui proses tergelincirnya matahari itu, dan para ulama mengatakan dalam kaidah fikih: “Hukum wadh’iyah yang meliputi sebab, syarat, mani’ dan yang lainnya, jika tidak ada batasan pada sarana (untuk mengetahui)-nya, maka dengan sarana apapun hal itu diketahui, hukum wadh’iyah tersebut menjadi tetap”, kecuali jika ada dalil khusus yang mengecualikannya, seperti dalam masalah puasa… Adapun selain puasa, maka penentuannya boleh dengan hisab, seperti penentuan waktu sholat… Dengan demikian, maka mengamalkan apa yang telah ditetapkan, dibagi, dan ada dalam kalender menjadi keharusan, dan tidak boleh meragukannya.

(Meski demikian), jika memang terdapat kesalahan, maka kementrian urusan keislaman, wakaf, dakwah, dan penyuluhan, akan menyampaikan kepada khalayak kesalahan yang memang telah terbukti terjadi.

Adapun jika ada satu orang atau seorang imam, lalu mengatakan: “Masyarakat, (waktu kita) terlalu cepat!”, yang lain mengatakan: “Jangan sholat (sekarang)!, dan yang lain lagi mengatakan: “Ulangilah sholat kalian!” atau “Sholat kalian batal (karena tidak tepat waktu)!”, maka tindakan seperti ini, merupakan tasykik (membikin keraguan) dalam hal ibadah, dan hal itu tidak boleh dilakukan kecuali dengan fatwa dari badan fatwa tertinggi di negara itu, karena ini menyangkut amal ibadah yang paling agung, dan tidak seorang pun berhak secara pribadi ikut campur dalam masalah ini. (Lihat Kitab Thulu’ul Fajris Shodiq hal. 32-35)

(b) Fatwa dari Mufti Mesir, Syeikh Jadul Haq -rohimahulloh- (tertanggal 25 Muharrom 1402 / 22 november 1981).

Soal: Banyak warga yang menanyakan kepada badan fatwa (negara Mesir), tentang isu yang disebarkan oleh sebagian kelompok, yang mengatakan bahwa: “Waktu sholat fajar yang berdasar hisab falak yang diterapkan di Mesir, terlalu cepat kira-kira 20 menit dari waktu terbitnya fajar shodiq berdasarkan tanda-tanda syar’inya, begitu pula tentang akhir waktu Maghrib dan  awal waktu isya’ tidak akurat juga, dengan alasan tidak sesuai dengan keterangan yang ada dalam hadits”. (Tidak hanya itu), kelompok-kelompok ini juga mengklaim bahwa semua orang salah dalam hal ini, dan menyebarkan keraguan (sahnya) ibadah masyarakat. Terutama ketika bulan Romadhon, mereka bahkan telah menfatwakan mundurnya waktu bolehnya makan bagi yang puasa hingga terang dan jelasnya cahaya pagi, hingga melewati batas waktu fajar sebagaimana tersebut dalam hisab. Mereka berdalil dengan ayat (yang artinya): ” Makan dan minumlah (di malam hari kalian berpuasa), hingga jelas benang putihnya fajar dari benang hitamnya (malam). (Al-Baqoroh:187). Dan mereka juga mengambil dua tali hitam dan putih, lalu membolehkan makan dan minum (bagi yang puasa) hingga mereka bisa membedakan tali putih dan tali hitamnya.

Mufti menjawab: Karena banyaknya pertanyaan tentang ini, baik lewat televisi maupun tulisan, maka mufti (Negara Mesir) mengajukan masalah hisab falak untuk jadwal waktu sholat, yang disusun oleh Badan Lapan Negara Mesir dalam kalender resminya, kepada badan yang terdiri dari para tenaga ahli dalam ilmu falak, ahli teropong, dan ahli hisab falak, dari Akedemi Penelitian Ilmiyah, dari Universitas Al-Azhar, dari Universitas Al-Qohiroh, dan Badan Lapan Negara Mesir, untuk mengungkapkan pendapat yang ilmiyah, tentang perbandingan waktu-waktu syar’i dengan waktu-waktu yang ada dalam hisab yang selama ini digunakan.

Ikut dalam penelitian itu, Sayyid Ketua Majlis Kantor Bank Islam Dubai, salah satu orang yang mengirimkan pernyataan kepada Badan Fatwa (Negara Mesir) tentang tidak akuratnya hisab (waktu sholat) yang selama ini diberlakukan di Mesir, terutama untuk sholat Isya’ dan Sholat Fajar.

Akhirnya Lajnah ini mengajukan laporan akhir -setelah diadakannya penelitian tersebut- bahwa cara yang yang dipakai dalam hisab waktu sholat di Negara Mesir, sesuai dari sisi syari’at maupun falak dengan pendapat pendahulu para ulama islam yang ahli falak. Dan untuk menegaskan hal ini, maka lajnah penelitian tersebut mengusulkan untuk membentuk lajnah ilmiyah yang bertanggung jawab mengawasi (tanda-tanda syar’i) dan mencocokkannya dengan waktu-waktu syar’i, untuk waktu yang berbeda-beda, dan dalam jangka waktu dua tahun.

Karena usulan itu patut untuk disetujui, apalagi untuk memperkuat (keakuratan) waktu-waktu ibadah, utamanya sholat dan puasa, dan dengan memanfaatkan sarana yang diberikan Alloh kepada Manusia berupa ilmu “yang diajarkan kepada manusia yang sebelumnya tidak diketahuinya” (al-Alaq:5), maka Mufti berdiskusi dengan Sayyid Menteri Prof. Dr. AB, seorang ketua Akedemi Penelitian Ilmiyah, untuk membentuk lajnah yang diusulkan tersebut, menentukan tugas khususnya, dan agar memberi kemudahan dalam setiap hal yang dibutuhkan dalam penelitian tersebut dari lembaga yang terkait dengan Akademi itu, dan berkat taufiq dari Alloh telah ada kesepakatan terhadap semua langkah-langkah itu.

Dan dengan ini, Mufti (Negara Mesir) ingin menjelaskan kepada semua warganya, bahwa dirinya menegaskan keakuratan jadwal waktu hisab sholat yang ada, dan disyariatkan untuk menerapkannya, mentaatinya, dan menjadikannya sebagai dasar untuk ibadah puasa dan sholat, tentunya dengan memperhatikan perbedaan hisab waktu, karena perbedaan waktu dan tempat. (Waktu dalam kalender itu) sesuai dengan waktu-waktu syar’i yang diterangkan oleh Malaikat Jibril Alaihissalam, kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dengan tanda-tanda alam yang dijabarkan dalam hadits-hadits mulia, yang diriwayatkan oleh Para Pengarang Kitab Sunan dalam bab waktu-waktu sholat.

Adapun mereka yang melihat tali hitam dan putih, untuk menentukan waktu fajar dan waktu mulainya puasa, mereka telah didahului oleh seorang arab baduwi, di zaman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, ia mengatakan: Telah turun ayat (yang artinya): “Makan dan minumlah (di malam hari kalian berpuasa), hingga jelas benang putih dari benang hitam. (Al-Baqoroh:187). Ketika itu belum turun tambahan redaksi ayat “Minal Fajr” (dari fajar). Maka orang-orang jika ingin puasa, mereka mengaitkan di kedua kakinya tali hitam dan putih, dan dia tidak berhenti makan dan minum hingga bisa melihat dengan jelas (warna) kedua talinya. Maka turunlah setelahnya redaksi ayat “Minal Fajr” (dari fajar). Dengan itu, mereka tahu, bahwa yang dimaksud dengan itu adalah putihnya pagi.

Diriwayatkan dari Adi bin Hatim, ia bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah yang dimaksud dengan (redaksi ayat) “tali putih dari tali hitam? apa benar itu dua tali (yang biasanya)?”. Beliau menjawab: “Sungguh tidurmu berarti terlalu lama, jika sampai bisa melihat dua tali itu!”, kemudian beliau mengatakan lagi: “Tidak, tapi yang dimaksud adalah hitamnya malam, dan putihnya pagi”. (HR. Bukhori). Fajar diibaratkan dengan tali/benang, karena putih yang terlihat memanjang itu seperti benang.

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah menjelaskan tanda fajar shodiq dalam banyak hadits tentang waktu sholat yang telah kami sebutkan, dan atas dasar itulah hisab waktu sholat disusun dengan ketelitian tinggi, yang dikuatkan oleh keterangan resmi dari lajnah ilmiyah yang telah melakukan penelitiannya.

Setelah keterangan ini, maka kepada mereka yang mengatakan dalam hal agama tanpa dasar ilmu, hendaklah mereka takut kepada Alloh, sehingga manusia tidak tersesat dalam agamanya, Alloh telah memperingatkan kepada mereka (yang artinya): “Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik, yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Alloh” (al-Baqoroh: 168-169)

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga telah menjelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Azzuhri, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia mengatakan: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah mendengar suatu kaum yang berdebat tentang Alqur’an, maka beliau mengatakan: “Inilah yang merusak umat sebelum kalian, menghantamkan sebagian Kitabulloh dengan sebagian yang lain, padahal sebenarnya Kitabulloh tersebut diturunkan dengan saling membenarkan sebagian yang satu dengan sebagian yang lain, dan tidak mendustakan antara sebagian yang satu dengan sebagian yang lainnya. Maka apa yang kalian ketahui, sampaikanlah! Sedangkan yang tidak kalian ketahui, maka serahkanlah kepada yang mengetahuinya! (HR. Ahmad, no: 6453).

Kepada mereka, janganlah campur-adukkan agama dengan tujuan lain yang dikehendakinya! Yang tidak menginginkan wajah Alloh dan tidak menginginkan tegaknya agama-Nya, maka sesungguhnya kebenaran itu lebih patut untuk diikuti, (Alloh berfirman yang artinya): “Jangalah kalian campur-adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahuinya. Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Albaqoroh 42-43). Wallohu subhanahu wa ta’ala a’lam.

(c) Fatwa dari Mufti Negara Palestina, Syeikh Muhammad Husein.

(sumber http://www.fpnp.name/arabic/?action=detail&id=30623)

Fatwa tentang keharusan menerapkan jadwal waktu yang resmi untuk sholat dan puasa, pada tanggal 10/9/2009

Kota Al-Quds -Media cetak Palestin-: Mufti Umum untuk Kota Al-Quds dan Negara Palestina, Muhammad Husain, mengeluarkan fatwa tentang wajibnya mengamalkan jadwal waktu yang ditetapkan oleh lembaga resmi yang berkompeten untuk mengeluarkan jadwal waktu sholat dan puasa di Negara Palestina.

Mufti juga memperingatkan dalam jumpa persnya, dari banyaknya usaha untuk menimbulkan keraguan atas keakuratan jadwal waktu sholat tersebut, dengan cara yang dapat menimbulkan keresahan dan kebingungan bagi masyarakat umum, dan itu muncul dari orang-orang yang memiliki ijtihad dan pandangan yang eksklusif dalam memahami nash-nash syar’i yang berhubungan dengan hal ini.

Mufti juga menegaskan, bahwa Jadwal waktu yang ditetapkan, telah disusun oleh lajnah yang ahli dalam bidang fikih, dan juga berpengalaman dalam hal ini, dan penentuan waktu sholat itu berdasar pada pengamatan tanda-tanda yang berhubungan dengan fajar, ghosaq, dan pergerakan matahari dan terbenamnya… sesuai keterangan-keterangan syar’i yang menyebutkan sifat dan batas tanda-tanda alam itu, dan itu telah dipraktekkan sejak bertahun-tahun lamanya.

(Akhirnya) Mufti mengajak kepada siapapun yang memiliki saran dan koreksi sekitar jadwal waktu yang berlaku, untuk memberi tahu langsung kepada lembaga yang berkompeten dalam hal ini, yakni Kementerian Wakaf dan Badan Fatwa Negara Palestina.

(d) Fatwa dari Mufti Saudi Arabia yang lalu, Syeikh Binbaz -rohimahulloh-:

Dalam keterangan resmi, yang dikeluarkan tanggal 22/7/1417  H, dari Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia, yang merangkap sebagai ketua Lembaga Ulama Besar, dan Ketua Kantor penelitian ilmiyah dan fatwa yang lalu, Syeikh Abdul Azin bin Baz -rohimahulloh-, berkaitan tentang jadwal waktu sholat di kalender Ummul Quro,  mengatakan:

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam atas Nabi kita, keluarga, dan para sahabatnya, wa ba’du:

Karena akhir-akhir ini, banyak suara dari sebagian orang tentang kalender Ummul Quro, yang mengatakan adanya kesalahan dalam penentuan waktu sholat fajar, karena terlalu cepat lima menit atau lebih, maka aku telah menugaskan lajnah yang terdiri dari para ulama, untuk pergi ke luar Kota Riyadh agar jauh dari polusi cahaya, guna mengamati terbitnya fajar dan mengetahui keakuratan kalender yang ada dengan kenyataan.

Dan lajnah itu telah memutuskan dengan kata sepakat, bahwa jadwal waktu dalam kalender itu sesuai dengan waktu terbitnya fajar, dan sungguh tidak benar apa yang disuarakan oleh sebagian orang, tentang terlalu cepatnya jadwal tersebut dari munculnya fajar.

Keterangan ini diberikan untuk menghilangkan keraguan yang membingungkan sebagian orang di dalam sholatnya, dan Alloh-lah yang maha pemberi taufiq dan pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Lihat Kitab Thulu’ul Fajris Shodiq: 31-32)

(e) Fatwa Syeikh Sholeh Fauzan

(sumber: http://www.alradnet.com/TopSin/article.php?id_Hour=72)

Belum lama ini, kita melihat sebagian orang ingin merubah cara ini, mereka menampakkan pendapatnya pada masalah-masalah yang tidak sepatutnya mereka menampakkan pendapatnya, sehingga menjadikan masyarakat bingung dalam urusan ibadah, mu’amalah dan akidah mereka. Seperti ikut campur mereka dalam masalah waktu sholat, mereka mulai membuat masyarakat ragu-ragu terhadapnya, dan menyebarkan isu bahwa orang-orang mendirikan sholat sebelum masuk waktunya. Mereka mengatakan, dalam kalender Ummul Quro ada kesalahan hisab, padahal itu merupakan kalender yang ditetapkan oleh waliyul amri, dan ditetapkan oleh para ulama sejak dahulu kala, dan tidak pernah terjadi kesalahan dalam prakteknya sejak puluhan tahun yang lalu.

Ada juga fatwa beliau yang berupa rekaman suara, anda bisa dengar dari link berikut ini:

http://www.midad.me/mediaFrame/fatwa/337790/337790

(f) Observasi dari Syeikh Abu Bakar Al-Jazairi dan banyak thullab ilmi di masanya.

Diceritakan bahwa Al-Allamah Syeikh Abu Bakar Al-Jazairi ketika mengunjungi Kota Iskandariyah (Ibu Kota Mesir) tahun 1406 H, ia keluar bersama sekelompok besar thullabul ilmi pilihan yang ada di Kota itu -diantaranya: Syeikh Muhammad bin Isma’il al-Muqoddam, Syeikh Ahmad Farid, Syeikh Sayyid Al-Ghobbasyi, Syeikh Imad Abdul Ghofur, dan yang lainnya- dengan beberapa mobil di pantai utara, untuk mengamati fajar shodiq dan fajar kadzib, karena pada saat itu telah tersebar tulisannya Syeikh Abdul Malik al-Kulaib, yang isinya membuat orang ragu dengan (keakuratan) kalender resmi, ia mengklaim bahwa waktu yang benar itu setelah waktu yang tertera di kalender 2. menit lamanya.

Oleh karena itu, mereka keluar, lalu syeikh Abu Bakar memperlihatkan kepada mereka, bahwa fajar shodiq itu muncul sesuai dengan kelender resmi yang berlaku di Negara Mesir. Dan mereka semua melihat dengan mata kepala sendiri, kadang fajar shodiq itu muncul setelah waktu yang ada di kalender 2 atau 3 menit saja, tapi Syeikh Abu Bakar memberitahu mereka, bahwa keterlambatan munculnya fajar, selama 2 menit itu karena kesalahan mereka, sehingga waktu kalender itu sudah benar.

Syeikh juga memberitahu mereka bahwa ia telah lama hidup di pedesaan, dan mempunyai pengalaman yang cukup dalam hal mengamati masuknya waktu shalat dengan mata telanjang. Oleh karena itu, kami tidak mungkin mendustakan apa yang kami lihat dengan mata kami, hanya karena hisab dan teori orang lain. Dan isu yang serupa juga dihembuskan di Negara Saudi, lalu Lajnah Da’imah telah menugaskan tim untuk mengamati waktu fajar dengan pandangan mata, dan mereka menyatakan bahwa kalender Ummul Quro itu akurat. (Lihat Thulu’ul Fajris Shodiq, hal: 23-24)

(g) Observasi dari Syeikh Muhammad alu Abdil Muhsin Ad-Du’aij, tahun 1938:

Dr. Sholih bin Muhammad al-Ujairi, seorang peneliti falak terkenal dari Negara Kuwait, mengatakan: “Aku masih ingat, pada tahun 1938 M, Muhammad alu Abdil Muhsin Ad-Du’aij –rohimahulloh- bercerita padaku, bahwa ia dahulu mengamati terbitnya fajar dengan menggunakan kalender as-Shobbagh yang berlaku di Negeri Mesir, dan hasilnya mendekati benar di semua musim sepanjang tahun”. (Thulu’ul Fajris Shodiq, hal: 148)

(h) Observasi dari lembaga IPTEK “Madinah Malik Abdul Aziz” :

Prof. Dr. Ibrohim As-Shubaihi mengatakan: Lembaga IPTEK Madinah Malik Abdul Aziz, telah membentuk lajnah kedua yang terdiri dari 6 peneliti falak untuk kajian “syafaq” pada tahap kedua. Lajnah tersebut pada tahun 1427 H, telah melakukan kegiatan kunjungan ke beberapa propinsi di Kerajaan Saudi Arabia, diantaranya adalah propinsi bagian utara, dan mereka melihat bahwa shubuh terbit setelah jadwal yang tertera dalam kalender Ummul Quro sekitar 3 menit, yakni mendekati derajat 18,5.

Ini menjadi bukti keakuratan kalender Ummul Quro, dan menafikan pendapat yang mengatakan bahwa waktu shubuhnya didasarkan pada fajar kadzib. Ini juga menjadi saksi benarnya apa yang ditetapkan oleh Syeikh Abdulloh Al-Khudhoiri (dalam pengamatannya dengan mata telanjang). Dan kesaksian lajnah tersebut (pada tahap kedua ini) bertentangan dengan ketetapan yang mereka buat pada tahap pertamanya. (Thulu’ul Fajris Shodiq, hal: 152)

(i) Fatwa dari Syeikh Abdulloh bin Sulaiman bin Mani’ (Anggota dari Hai’ah Kibar Ulama di Negara Saudi)

Soal: Bismillahirrohmanirrohim, aku mohon agar kalian mau menjelaskan padaku hukum syar’i dalam masalah ini. Ada seseorang yang menyebarkan tulisan berjudul “Tanbihul anam bibuthlani sholatil fajri fil masjidil harom” (peringatan bagi manusia, tentang batalnya sholat fajar di masjidil harom), orang ini beranggapan bahwa sholat fajar di masjidil harom makkah itu tidak sah, karena mereka sholat sebelum masuk waktunya. Apa pendapat kalian dalam masalah ini? Apa penilaian kalian terhadap orang seperti ini dan yang lainnya dalam tindakannya membuat keraguan terhadap kalender yang ada? Jazakamullohu khoiro.

Jawab: Segala puji bagi Alloh, tak diragukan lagi bahwa pendapat ini batil dan sama sekali tidak benar, karena masalah penentuan waktu sholat itu telah diserahkan kepada lajnah yang ahli dalam ilmu syar’i dan ilmu falak. Lajnah itu telah berusaha dan akan terus berusaha untuk mengurusi masalah itu, dan teliti dalam menentukan jadwal waktu sholat. Alhamdulillah lajnah ini telah menjalankan tugasnya dan dia yang akan bertanggung-jawab penuh atasnya.

Ucapan mereka itu, termasuk dalam sikap berlebih-lebihan dalam agama, padahal Rosul kita -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Janganlah kalian berlebih-lebihan, karena hal itu telah merusak umat sebelum kalian!”. (HR. Nasa’i:3057 dan Ibnu Majah: 3029) dari hadits riwayat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-.

Itu juga termasuk dalam sikap waswas dan tanaththu’ (ekstrim), padahal Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Binasalah orang-orang yang tanaththu’” (HR. Muslim: 2670) dari hadits riwayat Ibnu Mas’ud -rodhiallohu anhu-.

Oleh karena itu, hendaknya kita tidak menghiraukan pendapat-pendapat yang seperti ini, yang bersumber dari terkaan dan jauh dari kenyataan, serta tidak percaya kepada lembaga yang ahli dalam bidangnya dan memiliki kelebihan dalam bidang ilmu syariat dan ilmu falak. Wajib bagi kita untuk membuang jauh pendapat seperti ini dan jangan sampai menghiraukannya, karena ini merupakan tindakan skeptis yang tidak pada tempatnya, ditambah lagi mereka tidak memiliki dalil nyata yang mendukungnya. Adapun kalender Ummul Quro, ia disusun atas dasar ketentuan yang mendetail, baik dalam hal yang berhubungan dengan observasi maupun dalam hal yang berhubungan dengan hisab falak yang sekarang telah diakui dan digunakan, dalam hal yang berhubungan dengan masalah ini, wallohu a’lam.

(j) Syeikh al-Utsaimin dalam liqo’ bab maftuh.

Soal: Yang terhormat Syeikh Abdul Aziz bin Baz -hafidhohulloh- telah mengeluarkan fatwa bahwa kalender Ummul Quro dalam adzan shubuh, benar-benar sesuai dengan terbitnya fajar di Kota Riyadh, apakah hal ini bisa diterapkan pada semua kota di kerajaan Saudi Arabia?

Jawab: Demi Alloh aku tidak tahu, andai saja kalian menanyakan kepadanya! Karena dia yang mengeluarkan penjelasan itu. Masalahnya sederhana, karena perbedaannya -sebagaimana pendapat yang kami pilih- hanya 5 menit saja, dan apabila ia mengakhirkan 5 menit dari waktunya, maka itu tidak ada bedanya, meski ia mengatakan: “Barangsiapa mengambil manfaat sesuatu, maka hendaknya ia menanggung pula resikonya”. Yang terpenting adalah masalah sholat fajar, adapun masalah puasa, jika ia terlalu cepat 5 menit, itu tidak ada bedanya.

Penanya: (Bagaimana) jika untuk puasanya ia mengakhirkan 5 menit dari waktu kalender?

Syeikh: Jika dikatakan kalender itu benar dan dia berhenti makan sebagaimana jadwal di kalender, sedang kita mengatakan bahwa yang benar itu terlalu cepat 5 menit, maka hal ini tidak menjadi masalah. Yang penting adalah sholatnya, di dalam masalah sholat, jika ia mengakhirkan sholat 5 menit untuk hati-hati, itu tidak masalah.

Penanya: Masalahnya, mengakhirkan waktu berhenti makan untuk puasanya, para muadzin sekarang mengakhirkan adzannya hingga 10 atau 15 menit dari kalender?

Syeikh: Sesuatu yang datang dari Mufti Kerajaan (Saudi Arabia) tidak boleh kita ikut campur di dalamnya, dan selamanya kita tidak boleh menyelisihinya. Tapi kita katakan, khusus yang berkenaan dengan sholat, seseorang hendaknya berhati-hati dengan mengakhirkan sholatnya 5 menit, itu tidak masalah.

(k) MUI Yogyakarta tanggapi kontroversi sholat subuh (Jumat, 28 Agustus 2009)

YOGYA (KRjogja.com) – Terkait munculnya selebaran yang marak beredar di masyarakat mengenai jadwal waktu subuh yang menyesatkan, MUI DIY menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap segala hal yang dapat memecah belah umat Islam.

Seperti disampaikan Sekretaris MUI DIY, KRT Ahmad Muhsin Kamaludiningrat, pihaknya beberapa waktu lalu mendapatkan keluhan dari takmir Masjid Gedhe Kauman mengenai jadwal waktu shalat subuh yang digunakan di Indonesia dan negara-negara lain, tidak sesuai dengan syariat Islam dan salah kaprah.

“Mendapat usulan tersebut, kami langsung menggelar pertemuan dengan seluruh jajaran MUI DIY guna membahas akar permasalahannya supaya tidak menimbulkan konflik horizontal serta perpecahan umat Islam itu sendiri,” jelasnya kepada KRjogja.com, Jumat (28/8) siang.

Oleh karena itu, MUI DIY telah mengeluarkan maklumat kepada seluruh umat muslim, bahwa jadwal shalat subuh yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, adalah hasil hitungan para ulama dan ahli syar’i. Sehingga jadwal tersebut sudah sesuai dengan syar’i yang bersumber pada Al-qur’an dan Sunnah Rasul.

“Kami harap, masyarakat Muslim, khususnya yang berada di Yogyakarta untuk tidak ragu dan resah menggunakan jadwal tersebut dalam melakukan ibadah shalat, termasuk awal shalat subuh. Masyarakat juga harus waspada terhadap upaya-upaya yang dapat memecah belah umat Islam,” tegas Ahmad Muhsin.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Gedhe, Budi Setiawan, saat dikonfirmasi KRjogja.com membenarkan hal tersebut. “Selebaran mengenai jadwal waktu subuh yang dinilai menyesatkan tersebut diambil dari sebuah artikel dalam majalah Qiblati. Sebenarnya dalam dunia maya hal itu sudah muncul sejak akhir Juli lalu dan sempat membuat gempar masyarakat Muslim,” ujarnya.

Isi selebaran menjelaskan jika waktu awal subuh yang selama ini digunakan terlalu cepat 22 menit sehingga belum masuk waktu subuh yang sebenarnya. Hal itu disertai dengan penjelasan-penjelasan yang dapat melemahkan umat Islam. “Lebih jelasnya silahkan searching di internet dengan kata kunci shalat subuh salah kaprah,” pungkasnya. (Dhi)

(l) Jawaban dari T. Djamaludin (Anggota BHR Depag RI/Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN)

Catatan: Beberapa waktu lalu di majalah Qiblati (yang dikutip juga oleh beberapa blog) ada serangkaian tulisan bertema “Salah Kaprah Waktu Shubuh”. Dalam pertemuan Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag RI di Jakarta, 3-4 Agustus 2009 lalu, masalah tersebut sempat dibahas dan saya diminta untuk menuliskan tanggapannya untuk menjadi pencerahan bagi masyarakat. Catatan di bawah ini adalah hasil kajian lengkapnya sebagai tindak lanjut diskusi di BHR tersebut.

Jadwal Waktu Shubuh Terlalu Cepat?

Waktu shubuh ditinjau dari dalil syar’i dan astronomi

Penentuan waktu shubuh diperlukan untuk penentuan awal shaum (puasa) dan shalat. Tentang waktu awal shaum disebutkan dalam Al-Quran, “… makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS 2:187). Sedangkan tentang awal waktu shubuh disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Umar, “… dan waktu shalat shubuh sejak terbit fajar selama sebelum terbit matahari” (HR Muslim). Fajar yang bagaimana yang dimaksudkan tersebut? Hadits dari Jabir merincinya, “Fajar ada dua macam, pertama yang melarang makan, tetapi membolehkan shalat, yaitu yang terbit melintang di ufuk. Lainnya, fajar yang melarang shalat (shubuh), tetapi membolehkan makan, yaitu fajar seperti ekor srigala” (HR Hakim). Dalam fikih kita mengenalnya sebagai fajar shadiq (benar) dan fajar kidzib (palsu).

Lalu fajar shadiq seperti apakah yang dimaksud Rasulullah SAW? Dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari disebutkan, “Rasulullah SAW shalat shubuh saat kelam pada akhir malam, kemudian pada kesempatan lain ketika hari mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukan pada waktu gelap sampai beliau wafat, tidak pernah lagi pada waktu mulai terang.” (HR Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad yang shahih). Lebih lanjut hadits dari Aisyah, “Perempuan-perempuan mukmin ikut melakukan shalat fajar (shubuh) bersama Nabi SAW dengan menyelubungi badan mereka dengan kain. Setelah shalat mereka kembali ke rumah tanpa dikenal siapapun karena masih gelap.” (HR Jamaah).

Karena saat ini waktu-waktu shalat lebih banyak ditentukan berdasarkan jam, perlu diketahui kriteria astronomisnya yang menjelaskan fenomena fajar dalam dalil syar’i tersebut. Perlu penjelasan fenomena sesungguhnya fajar kidzib dan fajar shadiq. Kemudian perlu batasan kuantitatif yang dapat digunakan dalam formulasi perhitungan untuk diterjemahkan dalam rumus atau algoritma program komputer.

Fajar kidzib memang bukan fajar dalam pemahaman umum, yang secara astronomi disebut cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi rangkaian zodiak (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karenanya fajar kidzib tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Fajar kidzib muncul sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Fajar shadiq adalah hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi. Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih dari benang hitam”, yaitu peralihan dari gelap malam (hitam) menunju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam bermakna tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih bermakna ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya itu dari matahari dan penghamburnya adalah udara, maka cahaya fajar melintang di sepanjang ufuk (horizon, kaki langit). Itu pertanda akhir malam, menjelang matahari terbit. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq. Jadi, batasan yang bisa digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk.

Secara astronomi, fajar (morning twilight) dibagi menjadi tiga: fajar astronomi, fajar nautika, dan fajar sipil. Fajar astronomi didefinisikan sebagai akhir malam, ketika cahaya bintang mulai meredup karena mulai munculnya hamburan cahaya matahari. Biasanya didefinisikan berdasarkan kurva cahaya, fajar astronomi ketika matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk. Fajar nautika adalah fajar yang menampakkan ufuk bagi para pelaut, pada saat matahari berada sekitar 12 derajat di bawah ufuk. Fajar sipil adalah fajar yang mulai menampakkan benda-benda di sekitar kita, pada saat matahari berada sekitar 6 derajat.

Fajar apakah sebagai pembatas awal shaum dan shalat shubuh? Dari hadits Aisyah disebutkan bahwa saat para perempuan mukmin pulang dari shalat shubuh berjamaah bersama Nabi SAW, mereka tidak dikenali karena masih gelap. Jadi, fajar shadiq bukanlah fajar sipil karena saat fajar sipil sudah cukup terang. Juga bukan fajar nautika karena seusai shalat pun masih gelap. Kalau demikian, fajar shadiq adalah fajar astronomi, saat akhir malam.

Apakah posisi matahari 18 derajat mutlak untuk fajar astronomi? Definisi posisi matahari ditentukan berdasarkan kurva cahaya langit yang tentunya berdasarkan kondisi rata-rata atmosfer. Dalam kondisi tertentu sangat mungkin fajar sudah muncul sebelum posisi matahari 18 di bawah ufuk, misalnya saat tebal atmosfer bertambah ketika aktivitas matahari meningkat atau saat kondisi komposisi udara tertentu – antara lain kandungan debu yang tinggi – sehingga cahaya matahari mampu dihamburkan oleh lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Akibatnya, walau posisi matahari masih kurang dari 18 derajat di bawah ufuk, cahaya fajar sudah tampak.

Para ulama ahli hisab dahulu sudah merumuskan definisi fajar shadiq dengan kriteria beragam, berdasarkan pengamatan dahulu, berkisar sekitar 17 – 20 derajat. Karena penentuan kriteria fajar tersebut merupakan produk ijtihadiyah, perbedaan seperti itu dianggap wajar saja. Di Indonesia, ijtihad yang digunakan adalah posisi matahari 20 derajat di bawah ufuk, dengan landasan dalil syar’i dan astronomis yang dianggap kuat. Kriteria tersebut yang kini digunakan Departemen Agama RI untuk jadwal shalat yang beredar di masyarakat.

Kalau saat ini ada yang berpendapat bahwa waktu shubuh yang tercantum di dalam jadwal shalat dianggap terlalu cepat, hal itu disebabkan oleh dua hal:

Pertama, ada yang berpendapat fajar shadiq ditentukan dengan kriteria fajar astronomis pada posisi matahari 18 derajat di bawah ufuk, karena beberapa program jadwal shalat di internet menggunakan kriteria tersebut, dengan perbedaan sekitar 8 menit.

Kedua, ada yang berpendapat fajar shadiq bukanlah fajar astronomis, karena seharusnya fajarnya lebih terang, dengan perbedaan sekitar 24 menit. Pendapat seperti itu wajar saja dalam interpretasi ijtihadiyah.

Dalam seri keenam ini, penulis akan nukilkan definisi fajar shodiq dari beberapa ulama yang perkataannya dijadikan sandaran pendapat yang mengatakan terlalu cepatnya waktu shubuh yang ada dalam kalender-kalender pada umumnya, semoga dengan ini kita bisa memaklumi perbedaan pendapat yang ada…

1. Sayyid Abdul Malik Ali Al-Kulaib -rohimahulloh-:

الفجر الصادق هو المنشر في الأفق

Fajar shodiq adalah fajar yang (sinarnya) menyebar di ufuk (Thulu’ul Fajris Shodiq, hal: 130)

2. Syeikh Musthofa Al-Adawi -hafidhohulloh-:

فبهذا يتضح جليا أن أول وقت الفجر هو ذلك البياض المستطير الذي يملأ الأفق مستعرضا ناحية الشرق

وهو الفجر الصادق الذي يظهر مستطيرا أبيضا في عرض السماء في اتجاه المشرق في موضع طلوع الشمس

“Dengan demikian, jelaslah bahwa awal waktu fajar itu mulai dari warna putih yang menyebar, memenuhi ufuk, dan mendatar di arah timur (Yawaqitul falah fi mawaqitis sholah, hal: 122)

(Di tempat lain, beliau mengatakan:) “Fajar shodiq adalah fajar putih yang menyebar di langit, di arah timur, tepat di tempat terbitnya matahari. (Yawaqitul falah fi mawaqitis sholah, hal: 127)

3. Dr. Sulaiman bin Ibrohim Ats-Tsunayyan:

الفجر عند العرب ضوء الصباح, وهو حمرة الشمس في سواد الليل

فطلوع الفجر الذي تجب به صلاة الفجر لا يحتاج إلى حسابات فلكية مهما تغيرت الظروف المحيطة بالناس, كوجود الأضواء الساطعة والعمائر الشاهقة, وغير ذلك من تغير الأحوال

Fajar menurut orang arab adalah sinarnya pagi, yaitu merahnya sinar matahari di gelapnya malam (Auqotus sholawatil mafrudhoh, hal: 84)

Terbitnya fajar yang menjadikan wajibnya sholat shubuh itu tidak perlu menggunakan hisab falak, bagaimanapun perubahan lingkungan sekitar manusia itu terjadi, seperti adanya (polusi) cahaya yang terang, gedung yang menjulang, dan perubahan-perubahan lingkungan yang lainnya. (Auqotus sholawatil mafrudhoh, hal: 130)

Dalam tanggapannya terhadap pernyataan di atas, Prof. Dr. Ibrohim bin Muhammad As-Shubaihi mengatakan: “(Kalau fajar shodiq itu, seperti yang digambarkan di sini), maka ada masalah besar di dalamnya, karena cahaya subuh yang seperti itu, (yakni tetap tampak meski banyak polusi cahaya dan gedung yang menjulang), adalah cahaya yang bisa mengalahkan semua cahaya yang terang, bahkan tidak bisa terhalang oleh gedung yang menjulang sekalipun. Dan sudah dimaklumi, cahaya yang sifatnya seperti ini, bukanlah cahaya yang diserupakan dengan “benang putih”, tapi ia adalah cahaya matahari saat akan terbit. Dengan demikian, pendapat ini selaras dengan pendapatnya Al-A’masy, yang dianggap syadz (ganjil) oleh para imam, kerena menyelisihi petunjuk Alqur’an dan Assunnah”. (Thulu’ul Fajris shodiq, hal: 121)

4. Syeikh Taqiyuddin al-Hilali -rohimahulloh-:

وأوسط الأقوال الذي نفتي به ونعمل به أخذا من هذه الأحاديث كلها, أن الفجر الصادق الذي يحرم الطعام على الصائم ويحل الصلاة هو كما قال النبي صلى الله عليه وسلم الفجر الأحمر, أي الذي يشوب بياضه حمرة المعترض في الأفق, الذي يملأ البيوت والطرقات, ولا يختلف فيه أحد من الناس, يشترك في معرفته جميع الناس، وأما غير ذلك كالفجر الذي يعينه المؤقت المغربي فإنه باطل لا يحرم طعاما على الصائم ولا يحل صلاة الصبح, ونحن بعده أكثر من نصف ساعة حتى يتبين الفجر الصادق, فهذا الذي ندين الله به

Pendapat yang paling baik, yang kami fatwakan dan kami amalkan, berdasar pada semua hadits ini adalah, bahwa fajar shodiq yang mengharamkan makanan bagi yang puasa dan membolehkan sholat, itu fajar yang seperti disabdakan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, yakni fajar yang berwarna merah, yaitu fajar yang putihnya tercampur dengan warna merah dan berbentuk mendatar di ufuk, fajar yang memenuhi perumahan dan jalanan, yang tidak mungkin diperselisihkan oleh siapapun, dan fajar yang semua orang bisa mengetahuinya.

Adapun fajar yang selain itu, seperti fajar yang ditentukan oleh jadwal waktu di kota maroko ini, maka sungguh itu fajar yang batil, tidak mengharamkan makanan bagi yang berpuasa, dan tidak membolehkan sholat shubuh. Sedangkan (menurut) kami, fajar shodiq itu terbit setelahnya lebih dari 30 menit, inilah pendapat yang kami yakini sebagai Agama Alloh. (Thulu’ul Fajris shodiq, hal: 115)

5. Syeikh Muhammad Rosyid Ridho -rohimahulloh-:

إن نص الآية منوط بدء الصيام بأن يتبين للناس بياض النهار فاصلا من سواد الليل, بحيث يراه كل من وجه نظره إلى جهة المشرق, وقيل بحيث يرونه في طرقهم وبيوتهم ومساجدهم

Sesungguhnya teks ayat ini menggantungkan awal puasa, dengan jelasnya sinar putihnya pagi yang menjadi pemisah bagi kelamnya malam, hingga dapat dilihat oleh semua orang yang mengarahkan pandangannya ke arah timur, dan ada yang mengatakan: hingga orang-orang bisa melihat (sinar fajar)-nya di jalanan, perumahan dan masjid mereka. (Tafsir Al-Manar, 2/180)

6. Syeikh Albani -rohimahulloh-:

فالفجر عند سطوع النور الأبيض وانتشاره في الأفق

واعلم أنه لا منافاة بين وصفه عليه الصلاة والسلام لضوء الفجر الصادق بالأحمر, ووصفه تعالى إياه بقوله “الخيط الأبيض”, لأن المراد –والله أعلم- بياض مشوب بحمرة، أو تارة يكون أبيض، وتارة يكون أحمر, يختلف ذلك باختلاف الفصول والمطالع

Fajar adalah ketika sinar putih memancar dan menyebar di ufuk. (silsilah shohihah 7/1303)

“Ketahuilah, tidak ada pertentangan antara sifat “merah” yang diberikan oleh Nabi  -shollallohu alaihi wasallam- untuk fajar shodiq ini, dengan sifat “benang putih” yang diberikan oleh Alloh ta’ala kepadanya. Karena -wallohu a’lam- yang dimaksud adalah: Fajar putih yang tercampuri warna merah, atau kadang putih dan kadang merah, tergantung perbedaan musim dan matla’ (tempat munculnya fajar)”. (Lihat di silsilah shohihah, hadits no: 2031)

Inilah pendapat beliau tentang fajar shodiq, jelas di sini beliau menyatakan bahwa fajar shodiq harus sudah menyebar di ufuk, dan ini menyelisihi pendapat mayoritas ulama… Ditambah lagi, apa yang dikemukakan oleh syeikh Albani bahwa waktu subuh kita terlalu cepat antara 20-30 menit, itu berdasarkan pengamatan yang dilakukan beliau dari kediamannya, dan tentunya kita tahu, observasi yang demikian kurang memenuhi syarat jika dijadikan sebagai patokan, karena adanya polusi cahaya yang bisa mengganggu pandangan mata dalam melihat langsung awal kemunculan fajar shodiq, wallohu a’lam.

7. Ciri-ciri fajar shodiq yang disebutkan oleh Lembaga IPTEK  Madinah Malik Abdul Aziz:

تخالطه الحمرة أحيانا, خاصة إذا كانت السماء صافية

يملأ الأسواق والطرقات داخل البنيان

(Fajar shodiq itu) kadang dicampuri warna merah, khususnya ketika langit cerah.

Sinarnya (fajar shodiq) itu memenuhi pasar dan jalanan yang ada dalam komplek perumahan. (Proyek kajian untuk syafaq, hal 14, lihat juga hal 27)

8. Majalah Qiblati menyebutkan:

“Dari dalil-dalil ini, menjadi jelas bagi kita kapan waktu fajar shadiq. Kita bisa mengenalinya dengan sinar terang yang menyebar di langit“. (Salah kaprah, bag 1)

“Sifat sinar Subuh yang terang itu, ia menyebar dan meluas di langit, sinarnya (terangnya) dan cahayanya memenuhi dunia hingga memperlihatkan jalan-jalan menjadi jelas.” (Salah kaprah, bag 1)

Inilah definisi dan ciri-ciri fajar shodiq yang disebutkan oleh para ulama yang mengatakan bahwa waktu fajar kita terlalu cepat. Definisi-definisi mereka, meski redaksinya berbeda-beda, tapi  memiliki titik persamaan, yaitu: Fajar shodiq tidak dianggap kecuali setelah sempurna wujudnya, dengan ciri-ciri yang mereka sebutkan, misalnya: Dengan munculnya warna merah, sinarnya memenuhi ufuk, atau bahkan sinarnya memenuhi langit, perumahan, dan jalanan.

Definisi fajar shodiq inilah yang melatar belakangi pendapat mereka, bahwa waktu shubuh kita terlalu cepat 15-30 menit.

Syeikh Abdulloh Muhammad al-Khudhoiri mengatakan: Antara muncul dan meningginya benang putih hingga keluarnya cahaya merah yang ada di bawahnya, itu sekitar 15 menit. (Thulu’ul fajris shodiq, hal 151-152)

Senada dengan ini apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Ibrohim bin Muhammad Ash-Shubaihi, ia mengatakan: Telah diketahui dengan observasi, bahwa warna merah ini tidak akan terlihat, kecuali setelah munculnya warna putih, kira-kira 15 menit. (Thulu’ul fajris shodiq, hal. 120)

Lalu bandingkanlah pendapat ulama yang mengatakan waktu subuh kita terlalu cepat, dengan pendapat mayoritas ulama yang datang sebelum mereka berikut ini:

1. Ucapan Ahli Tafsir terkemuka, Abu Hayyan Al-Andalusi -rohimahulloh-, ketika beliau menafsiri ayat Al-Baqoroh: 187:

وشبه بالخيط, وذلك بأول حاله, لأنه يبدو دقيقا, ثم يرتفع مستطيرا, فبطلوع أوله في الأفق يجب الإمساك, هذا هو مذهب الجمهور, وبه أخذ الناس, ومضت عليه الأعصار والأمصار, وهو مقتضى حديث ابن مسعود وسمرة بن جندب

Fajar shodiq itu diserupakan dengan benang, dan itu saat awal munculnya, karena ia pada mulanya terlihat tipis, kemudian meninggi dan menyebar. Dan dengan awal munculnya di ufuk, orang yang berpuasa wajib berhenti makan, ini adalah pendapatnya mayoritas ulama, dipilih oleh semua orang, dan telah berjalan di seluruh masa dan tempat. Dan inilah yang ditunjukkan oleh hadits Ibnu Mas’ud dan Samuroh bin Jundub. (Tafsir Al-Bahrul Muhith 2/216)

2. Perkataan Al-Jashshosh dalam Ahkamul Qur’an:

ولا خلاف بين المسلمين أن الفجر الأبيض المعترض في الأفق قبل ظهور الحمرة, يحرم به الطعام والشراب على الصائم

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum muslimin, bahwa dengan munculnya fajar putih yang mendatar di ufuk sebelum munculnya warna merah, makan dan minum menjadi haram bagi yang puasa. (Ahkamul Qur’an 1/229)

3. Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

قال شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله-: تسميته لبياض النهار وسواد الليل بالخيط الأبيض والخيط الأسود, دليل على أنه أول البياض الذي يبين في السواد مع لطفه ودقته, فإن الخيط يكون مستدقا

“Penamaan Alloh putihnya siang dan hitamnya malam dengan istilah ‘benang putih‘ dan ‘benang hitam‘, adalah dalil bahwa fajar shodiq itu permulaan putih yang tampak di kegelapan, dengan bentuk yang halus dan tipis. (Yang demikian itu) karena ‘benang‘ itu bentuknya tipis. (Syarhul Umdah, kitab shiyam, 1/530).

4. Al-Fakhrur Rozi, dalam kitab tafsirnya mengatakan:

أن القدر من البياض الذي يحرم هو أول الصبح الصادق وأول الصبح الصادق لا يكون منتشراً بل يكون صغيراً دقيقا

Sesungguhnya kadar sinar putih yang mengharamkan (makan dan minum bagi yang puasa) adalah awal munculnya fajar shodiq, dan awal munculnya fajar shodiq itu tidak menyebar, tapi terlihat kecil dan tipis (Mafatihul Ghoib 5/93)

5. Al-Alusi dalam tafsirnya mengatakan:

الخيط الأبيض وهو أول ما يبدو من الفجر الصادق المعترض في الأفق قبل إنتشاره

“Al-Khoitul Abyadh” adalah awal munculnya fajar shodiq yang mendatar di ufuk, sebelum sinarnya menyebar. (Tafsir Ruhul Ma’ani, 2/66)

6. Dari ulama kontemporer, Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin:

ومن فوائد الآية: أن الاعتبار بالفجر الصادق الذي يكون كالخيط ممتداً في الأفق

Diantara pelajaran dari ayat ini, bahwa fajar shodiq yang mu’tabar adalah fajar shodiq yang seperti benang memanjang di ufuk. (Tafsir Syeikh al-Utsaimin 4/289)

7. Dr. Sholih bin Muhammad al-Ujairi -hafidhohulloh-:

قال الأستاذ الدكتور إبراهيم بن محمد الصبيحي -حفظه الله-: وقد سألت الدكتور صالح بن محمد العجيري الفلكي المعروف “هل من صفات تبين الخيط الأبيض تغير ألوانه, فتاره يكون أحمر, وأخرى تشوبه الحمرة؟” فنفى ذلك, والله أعلم

Prof. Dr. Ibrohim bin Muhammad As-Shubaihi -hafidhohulloh- mengatakan: Aku telah menanyakan kepada Ahli falak terkenal Dr. Sholih bin Muhammad al-Ujairi “Apakah jelasnya benang putih itu dibarengi dengan perubahan warna, sehingga kadang warnanya merah, dan kadang warnanya merah tipis?” maka beliau menafikan hal itu. (Thulu’ul fajris shodiq, hal 109-110)

8. Syeikh Sholeh Alu Syeikh -hafidhohulloh-:

وبياض الصبح أول ما ينفجر

Yang dimaksud dengan putihnya sinar shubuh (fajar shodiq) adalah, awal mula memancarnya (sinar fajar shodiq). (Manahijul Mufassirin, karya Syeikh Sholih Alu Syeikh, 1/4)

9. Syeikh Thontowi -rohimahulloh-:

والمقصود من الخيط الأبيض : أول ما يبدو من الفجر الصادق المعترض في الأفق قبل انتشاره

Maksud dari redaksi “Al-Khoitul Abyadh” adalah: Awal mula fajar shodiq yang mendatar di ufuk, sebelum sinarnya menyebar. (Tafsir al-Wasith, 1/314)

Inilah pendapat mayoritas ulama islam, mereka mengatakan bahwa fajar shodiq sudah diberlakukan hukumnya ketika awal munculnya, bukan pada saat telah sempurna fajarnya. Otomatis dengan perbedaan ini, akan berbeda pula waktu masuknya sholat shubuh antara mereka dengan mayoritas ulama islam dunia, wallohu a’lam.

Ada yang mengira bahwa perkataan Al-Hafidz Ibnu Hajar berikut ini, merupakan dalil bahwa waktu sholat shubuh kita terlalu cepat:

من البدع المنكرة ما أحدث في هذا الزمان من إيقاع الأذان الثاني قبل الفجر بنحو ثلث ساعة في رمضان, وإطفاء المصابيح التي جعلت علامة لتحريم الأكل والشرب على من يريد الصيام زعما ممن أحدثه أنه للاحتياط في العبادة, ولا يعلم بذلك إلا آحاد الناس

Termasuk bid’ah yang mungkar adalah bid’ah yang diadakan pada masa ini, yakni dengan mengumandangkan adzan kedua di Bulan Romadhon sebelum terbitnya fajar sekitar 20 menit dan memadamkan lentera-lentera yang dijadikan tanda haramnya makan dan minum bagi mereka yang hendak puasa. Orang yang mengada-adakan hal itu menganggapnya sebagai bentuk kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah, padahal tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali hanya segelintir orang. (Fathul bari 4/199)

Jawabannya:

Prof. Dr. Muhammad bin Ibrohim Ash-Shubaihi mengatakan: Sesungguhnya berdalil dengan perkataan Al-hafidz Ibnu Hajar -rohimahulloh- ini, tidak pas dengan pembahasan kita, karena perkataan beliau ini menyangkut orang yang (sengaja mengumandangkan adzan kedua) lebih cepat dari waktu terbitnya fajar shodiq sekitar 20 menit, dan (pada masalah kita) kecepatan itu tidak ada di kalender Ummul Quro. Adapun titik khilaf antara kita adalah kapan fajar dianggap telah terbit. Oleh karena itu perkataan Al-Hafidz ini tidak ada hubungannya dengan masalah kita  ini, wallohu a’lam.

Ada yang mengira bahwa Syeikh Utsaimin mendukung pendapat yang mengatakan fajar shodiq kita terlalu cepat 15-30 menit, padahal itu tidak benar, inilah perkataan beliau:

بعض الناس الآن يشككون في التقويم الموجود بين أيدي الناس، يقولون: إنه متقدم على طلوع الفجر، وقد خرجنا إلى البر وليس حولنا أنوار، ورأينا الفجر يتأخر، حتى بالغ بعضهم وقال: يتأخر ثلث ساعة، ولكن الظاهر أن هذا مبالغة لا تصح، والذي نراه أن التقويم الذي بين أيدي الناس الآن فيه تقديم خمس دقائق في الفجر خاصة

Di masa sekarang ini, ada sebagian orang yang meragukan kebenaran kalender yang dipakai oleh orang-orang, mereka mengatakan, bahwa waktu kalender itu lebih cepat dari terbitnya fajar. Sungguh kami telah mencoba keluar ke padang pasir sehingga tidak ada polusi cahaya di sekitar kami, dan memang kami melihat fajar terlambat, hingga ada sebagian orang yang melebih-lebihkan dan mengatakan fajarnya terlambat hingga 20 menit. Tapi yang jelas, pendapat ini tidak benar dan terlalu berlebihan. Yang kami pandang benar, kalender yang dipakai oleh orang-orang sekarang ini, terlalu cepat 5 menit khusus dalam waktu fajar saja. (Majmu’ fatawa Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, 19/302)

Karena terlalu panjangnya artikel tentang fajar ini, maka di sini kami buat ringkasannya, agar lebih mudah dipahami dan tidak salah dimengerti:

1. Sebaiknya permasalahan ini, hanya dibicarakan dalam forum tertutup, dengan lembaga resmi yang berkompeten dalam hal ini, sehingga tidak menimbulkan madhorot yang lebih besar. Dan inilah anjuran dari para kibarul ulamaTentang anggapan bahwa ini bersangkutan dengan fardhu ain sehingga tidak perlu menunggu tindak lanjut dari lembaga resmi, maka bisa juga disanggah dengan mengatakan: Argumen itu bisa diterima, jika orang yang sholat sesuai jadwal kalender itu sepakat dengan pihak yang mengatakan waktu sholatnya terlalu cepat, tapi kenyataan di lapangan tidak demikian, banyak dari masyarakat yang tetap yakin bahwa jadwal yang ada masih sesuai dengan kenyataan, alasannya karena yang menyusunnya adalah lembaga-lembaga tepercaya dan mumpuni dalam ilmu syar’i. Jika demikian, maka kita katakan sholat orang itu tetap sah, selama ia yakin bahwa sholatnya dilakukan tepat pada waktunya. Walyaqiin laa yazuulu illa bimitslih (keyakinan itu tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan keyakinan yang selevel dengannya), Wallohu a’lam.

2. Fajar shodiq yang mu’tabar adalah dengan munculnya sinar seperti benang putih yang tipis memanjang datar di ufuk, dan itu terjadi saat awal munculnya sinar fajar shodiq, sebagaimana diterangkan dalam Surat Al-Baqoroh:187. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama, bahkan ahli tafsir al-Jashshosh menukil ijma’ dalam masalah ini.

3. Masuknya waktu shubuh, dimulai ketika tampak benang putihnya fajar, bukan ketika fajar sudah sempurna wujudnya.

4. Tanda fajar shodiq seperti: Munculnya warna merah, atau sinarnya menyebar di ufuk, atau sinarnya menyebar di langit hingga menerangi rumah dan jalan, bukan merupakan syarat munculnya fajar shodiq, karena meski ada yang beranggapan hal itu ada dalilnya, tapi dalil itu menyelisihi dalil yang lebih kuat dari Qur’an dan Sunnah.

5. Banyak sekali keterangan dari hadits yang menerangkan bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dahulu memulai sholat shubuhnya dalam keadaan masih gelap, hingga para sahabat menggambarkan suasananya dengan mengatakan: “Ketika itu hampir saja mereka tidak mengenali satu sama lain”. (HR. Muslim: 614) dalam riwayat lain dikatakan: “Ketika itu seseorang tidak mengenali raut wajah temannya”. Atau “Sungguh saat itu seseorang tidak mengenali siapa yang disampingnya”. (HR. Abu Dawud: 395, dishohihkan oleh Albani). Padahal kita tahu adzan sudah dikumandangkan sebelum itu, lalu beliau juga selalu melakukan sholat qobliyah subuh sebelumnya. Fakta ini jelas menunjukkan bahwa pada masa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- adzan dikumandangkan saat awal munculnya fajar shodiq. Dan awal munculnya fajar shodiq itu tidak menyebabkan adanya suasana terang, karena dengan kemunculannya itu, ia tidak menyinari kecuali tempat munculnya saja, lalu menyebar dan menyebar hingga memenuhi ufuk timur, lalu meninggi dan meninggi hingga terbit matahari.

6. Sebagaimana kita harus hati-hati dalam hal sholat –agar kita tidak sholat sebelum waktunya-, kita juga harus hati-hati dalam hal puasa -agar puasa kita dimulai dari awal waktunya-. Jadi, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama cepatnya hingga sholat subuh kita jadi tidak sah, begitu pula sebaliknya, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama lambatnya, hingga puasa kita jadi tidak sah.

7. Tidaklah benar klaim yang mengatakan bahwa fajar falaki sama dengan fajar kadzib, sebagaimana diterangkan oleh para ulama.

8. Isu tentang fajar yang terlalu cepat 15-30 menit ini, sebenarnya telah lama digulirkan di negara-negara lain, seperti Mesir, Maroko, Saudi arabia, dan Palestina. Dan di negara-negara tersebut sudah terbukti bahwa isu ini tidaklah benar, tapi hanya didasarkan pada perbedaan pendapat tentang sifat fajar shodiq yang dikehendaki oleh pihak pengoreksi. Dan kasus di Indonesia ini, insyaAlloh sama dengan kasus-kasus sebelumnya yang telah terjadi di negara-negara tersebut, karena sumber isu ini juga berasal dari negara-negara itu. Wallohu a’lam.

9. Meski demikian, penulis secara pribadi tetap menghimbau pihak-pihak yang berkompeten dalam masalah ini, untuk meneliti ulang keakuratan kalender resmi DEPAG. Karena diakui atau tidak, dengan digulirkannya isu ini, tidak sedikit masyarakat yang menjadi ragu akan keabsahan jadwal waktu sholat yang ada di kalender. Dan untuk menghilangkan keraguan itu, tidaklah cukup dengan mengklaim saja, tapi harus ada bukti lapangan yang ri’il, sebagaimana telah dilakukan di negara-negara lain ketika menghadapi isu serupa. Wallohu a’lam.

Di akhir tulisan ini, tidak lupa penulis sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang merasa terusik dengan artikel ini, tidak lain penulis hanya ingin meluruskan pemahaman tentang fajar shodiq dan membahasnya secara ilmiyah, sebatas pengetahuan yang penulis miliki…

Akhirnya, sampai di sini artikel ini kami tulis, semoga bermanfaat bagi kaum muslimin semuanya, amin… Semua kebenaran di dalamnya adalah berkat taufiq dari Alloh, sedang jika ada kesalahan, tidak lain itu dari diri penulis dan dari setan, dan Alloh dan Rosul-Nya terbebas dari kesalahan itu… Wasubhaanakalloohumma wa bihamdika asyhadu’allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaiik… Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin…

http://addariny.wordpress.com/2009/09/02/siapa-yg-salah-kaprah-dlm-waktu-shubuh%E2%80%A6/

2 Komentar to “Perselisihan Mengenai Awal Fajar Shadiq”

  1. Thanks atas postingnya saya jadi tau arti dari nama saya, yang sudah saya cari dari kelas 7 dan sekarang kelas 10

  2. tulisan ustadz aldariny telah dijawab oleh ustadz abu hamzah, dan keduanya telah bertemudi masjid nabawi bersama ustadz Dr. arifin Badri.
    ustad addarini tidak ikut -20 derajat, tapi -18 derajat, ustadz addarini belum melihat fajar shadiq.
    ustadz arifin badri menegaskan syarat fajar yang bisa dilihat.
    ada baiknya anda baca makalah persoalan waktu subuh ditinjau dari dalil syar’i dan astronomi. cari di google
    juga ada baiknya anda baca info info baru seperti http://www.binamasyarakat.com/mpu-propinsi-aceh-melakukan-observasi-fajar-shadiq-di-pulau-simeulue/

    dan insyaallah akan ada buku baru berjudul “mengapa jadwal waktu shalat subuh ita salah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: