AKIDAH IMAM MALIK -rohimahulloh-


 

 

 

Imam Malik pernah ditanya tentang ilmu kalam dan tauhid, maka beliau menjawab: “Mustahil orang berprasangka kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau telah mengajarkan umatnya cara istinja’, tapi tidak mengajarkan tauhid. Dan tauhid adalah apa yang disabdakan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Aku telah diperintah untuk memerangi segenap manusia, hingga mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallooh’, maka apa yang karenanya darah dan harta menjadi terlindungi, itulah hakekat tauhid. (Dzammul Kalam, lembaran no: 210)

Walid bin Muslim mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Imam Malik, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, dan al-Laits bin Sa’d, tentang Nash-nash yang menerangkan sifat-sifat Alloh. Maka mereka semua mengatakan: “Perlakukanlah Nash-nash itu dengan apa adanya!”. (ash-Shifat lid Daruquthni, hal:75. Asy-Syari’ah lil Ajurri, hal:314. Al-I’tiqod lil baihaqi, hal:118. At-Tamhid libni Abdil barr, 7/149)

Ibnu Abdil Bar mengatakan: Imam Malik pernah ditanya: “Apakah Alloh akan dilihat (makhluk-Nya) pada hari kiamat?”. Beliau menjawab: “Ya, Alloh azza wajalla berfirman: Pada hari itu wajah-wajah (orang mukmin) berseri-seri, memandang kepada Tuhannya. (surat Al-Qiyamah: 22-23). Alloh juga mengatakan kepada sekelompok manusia lain: “Sekali-kali tidak, sungguh mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Tuhannya”. (Al-Muthoffifin: 15) (lihat kitab Al-Intiqo, hal: 36)

Dari Ibnu Nafi’, dan Asyhab, -salah satu dari keduanya berkata dan yang lain menambahi-: “wahai Abu Abdillah (sebutan kesayangan Imam Malik)! Firman Alloh: Pada hari itu wajah-wajah (orang mukmin) berseri-seri, memandang kepada Tuhannya. (surat Al-Qiyamah: 22-23). Benarkah mereka akan melihat Alloh?

“Ya, dengan dua mata mereka ini”. Jawab beliau.

Aku mengatakan: “Ada sekelompok orang mengatakan: mereka tidak akan melihat Alloh, karena maksud redaksi ‘nadhiroh’ dalam ayat itu adalah ‘muntadhirotuts tsawab’ (menunggu pahala)”.

Beliau mengatakan: “Sungguh mereka telah dusta, yang benar mereka akan melihat Alloh, tidakkah kau dengar perkataan Musa -alaihissalam-: ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau!’ (surat Al-A’rof:143), apakah kau kira Nabi Musa meminta suatu yang mustahil kepada Tuhannya?!… Lalu Alloh menjawab: “Kamu tidak akan mungkin melihatku” (surat Al-A’rof:143), maksudnya ketika di dunia, karena dunia adalah tempat semua yang fana’, dan sesuatu yang kekal tidak akan dapat dilihat dengan sesuatu yang fana’, lalu apabila mereka sudah sampai pada kehidupan yang kekal, tentu mereka akan melihat suatu yang kekal dengan suatu yang kekal pula. Alloh juga berfirman: “Sekali-kali tidak, sungguh mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Tuhannya”. (Al-Muthoffifin: 15). (lihat kitab tartibul madarik lil qodli iyadh, 2/42)

Ja’far bin Abdulloh mengatakan: Kami pernah bersama Imam Malik bin Anas, lalu datanglah seorang lelaki, ia mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (panggilan kesayangan Imam Malik), Alloh berfirman: ‘Yang maha pengasih itu beristiwa’ (berada) di atas arsy’ (Surat Thoha:5), bagaimana istiwa’-Nya?”. Maka, tidak pernah Imam Malik marah sebagaimana marahnya ketika mendengar pertanyaan orang itu, lalu beliau memandang ke tanah, dan mulai mengusap keringat yang mengucur dengan kayu di tangannya, kemudian mengangkat kepalanya dan melempar orang itu dengan kayunya, dan mengatakan: “Bagaiamananya sifat itu tidak mungkin diketahui, tetapi istiwa’Nya bukanlah hal yang tidak dimengerti, dan wajib mengimani hal itu, sedang mempertanyakannya adalah bid’ah. Dan Aku mengira kau adalah ahli bid’ah itu! lalu beliau memerintahkan agar ia dikeluarkan dari majlisnya. (Al-Hilyah li Abi Nu’aim 6/325. Aqidatus salaf ahlil hadits lis shobuni, hal:17-18. At-Tamhid 7/151. al-Asma was shifat lil baihaqi, hal: 407. Alhafidz Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Bari 13/406-407 mengatakan sanadnya jayyid, dan adz-Dzahabi dalam kitab al-Uluw, hal:103 menshohihkannya)

Yahya bin Ar-Robi’ mengatakan: Aku pernah bersama Imam Malik bin Anas, lalu ada seorang lelaki yang datang menemuinya, dan mengatakan: “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu terhadap orang yang mengatakan bahwa Alqur’an itu makhluk?” Imam malik menjawab: “Ia ini zindiq, bunuhlah dia!”. Orang itu mengatakan: “Wahai Abu Abdillah, aku hanya menceritakan perkataan yang ku dengar!”. Beliau mengatakan: “Aku belum pernah mendengarnya dari seorang pun, aku baru mendengarnya darimu”, dan beliau menganggap perkataan itu sangat berbahaya. (Al-Hilyah li abi Nu’aim 6/325. Syarhu Ushul I’tiqodi ahlissunnah wal jama’ah lil laalaka’i 1/249. Tartibul Madarik lil qodhi iyadh 2/44)

Abdulloh bin Nafi’ mengatakan: Imam Malik dahulu mengatakan: “Barangsiapa mengatakan Alqur’an itu makhluk, maka harusnya ia dihukum dengan cambukan dan dibui hingga bertaubat”. (Al-Intiqo’, hal:35).

Dari Abdulloh bin Nafi’: Imam malik mengatakan: “Alloh berada di atas langit, sedang ilmunya meliputi segala tempat”. (Masa’il Imam Ahmad li Abi Dawud, hal:263. Assunnah li abdillah bin Ahmad, hal:11. At-Tamhid libni Abdil Barr, 7/138).

 

http://addariny.wordpress.com/2009/10/31/akidah-imam-malik-rohimahulloh/#more-1191

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: