AKIDAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL


 

 

 

 

 

 

 

 

قال الإمام أحمد: لم يزل الله عزَّ وجلَّ متكلماً، والقرآن كلام الله عزَّ وجلَّ، غير مخلوق، وعلى كل جهة، ولا يوصف الله بشيءٍ أكثر مما وصف به نفسه، عزَّ وجلَّ

Imam Ahmad mengatakan: “Alloh azza wajall itu selamanya maha berbicara, sedang Alquran itu kalamulloh (firman-Nya) dan tidak makhluk dari sisi manapun. Alloh tidak boleh disifati lebih dari sifat yang diberikan-Nya untuk diri-Nya azza wajall. (kitab al-Mihnah li hambal, hal 68)

عن أبي بكر المروذي قال: سألت أحمد بن حنبل عن الأحاديث التي تردها الجهمية في الصفات والرؤية والإسراء وقصة العرش فصححها، وقال: تلقتها الأمة بالقبول وتمر الأخبار كما جاءت

Abu Bakar al-Marudzi mengatakan: aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang hadits-hadits yang ditolak oleh kelompok jahmiyah, dalam hal sifat-sifat Alloh, ru’yah (melihat Alloh), isro’ mi’roj, kisah Arsy, maka beliau menshohihkan hadits-hadits tersebut. Beliau mengatakan: “Seluruh umat telah menerimanya, dan memperlakukannya dengan apa adanya”. (Manaqibusy Syafii libni Abi Hatim, hal. 182)

قال عبد الله بن أحمد: إن أحمد قال: من زعم أن الله لا يتكلم فهو كافر، إلاَّ أننا نروي هذه الأحاديث كما جاءت

Abdulloh bin Ahmad mengatakan, sungguh Imam Ahmad pernah mengatakan: “Barangsiapa beranggapan bahwa Alloh tidak berkata-kata, maka ia kafir. Sungguh kami meriwayatkan hadits-hadits tentang ini sebagaimana telah datang (dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-). (Thobaqotul Hanabilah 1/56)

عن حنبل أنه سأل الإمام أحمد عن الرؤية فقال: أحاديث صحاح، نؤمن بها، ونقر، وكل ما روي عن النبي – صلى الله عليه وسلم – بأسانيد جيدة نؤمن به ونقر

Hambal pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang ru’yah (melihat Alloh di surga), maka beliau menjawab: “Hadits-hadits (yang menerangkan hal itu) shohih, maka kami mengimani dan mengikrarkannya. Dan setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dengan sanad-sanad yang jayyid (bagus), maka kami mengimani dan mengikrarkannya. (Syarhu Ushuli I’tiqodi Ahlis sunnah wal Jama’ah lilla laka’i 2/507, as-Sunnah, hal. 71)

أورد ابن الجوزي في المناقب كتاب أحمد بن حنبل لمسدَّد وفيه: صفوا الله بما وصف به نفسه، وانفُوا عن الله ما نفاه عن نفسه

Ibnul Jauzi menceritakan dalam kitabnya “Al-Manaqib” tentang surat Imam Ahmad bin Hambal untuk Musaddad, beliau mengatakan: “Sifatilah Alloh dengan sifat yang diberikan-Nya kepada diri-Nya, dan nafikanlah dari Alloh, apa yang dinafikan-Nya dari diri-Nya. (Siyaru a’lamin nubala 10/591, Tahdzibut tahdzib 10/107)

قال الإمام أحمد: وزعم – جهم بن صفوان – أن من وصف الله بشيءٍ مما وصف به نفسه في كتابه، أو حدَّث عنه رسوله كان كافراً وكان من المشبِّهة

Imam Ahmad mengatakan: “Jahm bin Shofwan beranggapan bahwa siapa saja yang menyifati Alloh dengan sifat yang diberikan Alloh di dalam kitab-Nya, atau diberikan Rosul untuk-Nya, maka ia kafir dan termasuk dalam golongan musyabbihah (yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya)” (Manaqibul Imami Ahmad, hal. 221)

قال الإمام أحمد: نحن نؤمن بأن الله على العرش، كيف شاء، وكما شاء، بلا حد، ولا صفة يبلغها واصف أو يحده أحد؛ فصفات اللهِ منه وله، وهو كما وصف نفسه، لا تدركه الأبصار

Imam Ahmad mengatakan: “Kami mengimani bahwa Alloh berada di atas Arsy, sesuai kehendak-Nya, seperti yang dikehendaki-Nya, dengan tanpa batasan dan sifat dari siapapun. Karena sifat Alloh adalah dari-Nya dan untuk-Nya, Dia itu sebagaimana disifati oleh-Nya, dan ia tidak bisa dilihat oleh indra mata (ketika di dunia)”. (Dar’u Ta’arudhil Aqli wan Naql libni Taimiyah 2/30)

قال الإمام أحمد: من زعم أن اللهَ لا يُرى في الآخرة فهو كافر مكذب بالقرآن

Imam Ahmad mengatakan: “Barangsiapa beranggapan bahwa Alloh tidak bisa dilihat pada hari kiamat, maka ia telah kafir, dan telah mendustakan Alqur’an” (Thobaqotul Hanabilah 1/59, 145).

عن عبد الله بن أحمد، قال: سألت أبي عن قوم يقولون: لما كلم اللهُ موسى، لم يتكلم بصوت فقال أبي: تكلم اللهُ بصوت، وهذه الأحاديث نرويها كما جاءت

Abdulloh bin Ahmad mengatakan: “Aku pernah bertanya kepada ayahku, tentang suatu kaum yang mengatakan bahwa “ketika Alloh berbicara dengan Musa, Dia tidak berbicara dengan suara”, maka ayahku menjawab: “Alloh berbicara dengan suara, dan hadits-hadits tentang hal ini, kami meriwayatkannya sebagaimana telah datang dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

عن عبدوس بن مالك العطار، قال: سمعت أبا عبد الله أحمد بن حنبل يقول: … والقرآن كلام اللهِ، وليس بمخلوق، ولا تضعف أن تقول ليس بمخلوق؛ فإن كلام اللهِ منه، وليس منه شيء مخلوق

Abdus bin Malik al-Aththor mengatakan: Aku pernah mendengan Abu Abdillah Ahmad bin Hambal mengatakan: “… Alquran adalah kalamulloh, ia tidaklah makhluk. Dan jangan sampai kamu ragu untuk mengatakan bahwa Alquran itu tidak makhluk, karena kalamulloh itu dari-Nya, dan tidak ada sesuatupun dari-Nya yang makhluk. (Syarhu ushuli I’tiqodi Ahlis sunnah wal jama’ah lilla laka’i 1/157)

 

 

 

http://addariny.wordpress.com/2009/11/10/akidah-imam-ahmad-bin-hambal-rohimahulloh/#more-1230

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: