HADITS MUKHTALATH


Pengertian Ikhtilath
Ibnu Hajar rahimahullah berkata:”Buruknya hafakan yang menimpa seorang perawi hadits.”
As-Sakhawi rahimahullahberkata:”Hakekatnya adalah rusaknya akal seorang perawi dan ketidakteraturan ucapan-ucapan dan perbuatannya.”
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata:”Seorang perawi yang Mukhtalath (orang yang tertimpa ikhtilath) adalah seorang perawi yang tertimpa hal-hal yang menjadikannya tidak tsiqah (tidak kredibel.)


Dan pernyataan yang mengatakan bahwa hakekat Ikhtilath adalah rusaknya akal menunjukkan secara jelas bahwa seorang perawi yang disifati dengan Ikhtilath dahulunya adalah orang yang sehat akalnya, kemudian tertimpa sesuatu yang merubah hafalannya dan berpengaruh terhadap ingatannya. Oleh sebab itu kita mendapati sebagian ulama mengungkapkan hal itu dengan perkataanya:”Thari’u atau ‘Aridh.”
Sebab-sebab Ikhtilath
sebab-sebanya ada bermacam-macam, di antaranya adalah :
1. Tertimpa ketuaan (memasuki usia tua) dan apa-apa yang menimpanya berupa berbagai macam penyakit, seperti kebutaan dan lain-lain apabila dia meriwayatkan hadits dari kitabnya.
2. Hilang, rusak atau terbakar kitab-kitabnya (kitab hadits), apabila dia meriwayatkan hadits dari kitabnya.
3. Matinya orang yang dicintainya seperti anak dan yang semisalnya.
4. Kecurian harta (hartanya dicuri), dan kejadian ini (kecurian) termasuk musibah yang kadang-kadang mempengaruhi akal sebagian perawi.
Tingkatan-tingkatan Mukhtalathin
Perawi yang didha’ifkan (dilemahkan) hadits pada sebagian wakt dan dishahihkan pada waktu yang lain, mereka adalah ats-Tsiqat (perawi-perawi kredibel) yang mengalami Ikhtilath (perubahan hafalan) pada akhir-akhir umurnya, dan mereka bertingkat-tingkat dalam Ikhtilathnya. Maka di antara mereka ada yang Ikhtilathnya parah dan ada yang ringan.

Hukum hadits Mukhtalath
Al-‘Iraqi rahimahullah berkata:”Hukum terhadap perawi yang Ikhtilath (berubah hafalannya) adalah tidak diterima dari hadits yang disampaikannya ketikda dalam kondisi Ikhtilath, demikian juga yang tidak jelas dan membingungkan keadaaanya, sehingga tidak diketahui apakah dia meriwayatkan hadits sebelum atau setelah Ikhtilath? Dan apa yang diriwayatkannya sebelum Ikhtilath diterima, hanya saja hal itu dibedakkan dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari mereka (Mukhtalathin), maka di antara mereka ada yang mendengar hadits darinya sebelum Ikhtilath saja, dan di antara mereka ada yang mendengar hadits darinya setelah saja dan di antara mereka ada yang mendengar hadits darinya dalam dua kondisi dan tidak bisa dibedakkan.”
Dan Ibnu Hajar rahimahullah mengungkapkan dengan kata “tawaqquf/berhenti” sebagai ganti dari kata: “laa yuqbal/tidak diterima”, beliau berkata:”Dan hukum dalam masalah ini, bahwasanya apa yang diriwayatkan darinya sebelum Ikhtilath apabila bisa dibedakan adalah diterima, dan apabila tidak dapat dibedakkan maka tawaqquf. Demikian pula perawi yang tidak jelas keadaannya, dan hal tersebut hanya diketahui bedasarkan penilaian para perawi yang mengambil hadits darinya.”
Dan pengungkapan dengan kata “tawaqquf” mungkin lebih utama, karena dimungkinka seorang peneliti hadits menemukan sesuatu yang bisa membedakan perawi tersebut (yang terkena ikhtilath), atau dia mendapatkan perkataan yang menjelaskan waktu dia (perawi) mengambil hadits dari perawi yang mukhtalath(yang terkena ikhtilath). Wallahu A’lam.
Cara mengetahui keadaan perawi sebelum dan setelah ikhtilath?
Hal tersebut bisa diketahui lewat murid-muridnya. Sebagian murid mengambil hadits dari perawi tersebut dalam keadaan sehatnya, lalu apabila doa merasa ada perubahan maka dia berhenti mengambil hadits dari perawi yang mukhtalath tersebut. Maka hadits murid tersebut dari syaikh (guru) ini terhitung hadits shahih, dan seolah-olah syaikh tersbut sudah meninggal hanya dengan terjadinya perubahan dalam dirinya (hafalannya). Dan siapa saja yang meriwayatkan darinya setelah ikhtilath, maka orang inilah yang riwayatnya diliputi keraguan.
Dan sebagian mereka ada yang mengambil/meriwayatkan hadits darinya dalam kedua keadaan dan tidak berhenti dari meriwayatkan darinya serelah terjadi ikhtilath, maka perawi yang seperti ini hadits-haditsnya tidak dipakai walaupun yang shahih.
Dan terkadang sampai kepada kita hadits dan di dalamnya ada perawi yang meriwayatkan hadits syaikh yang mukhtalath setelah terjadinya ikhtilath, dan terakadang kita dengan cepat mengatakan:”Hadits ini dha’if (lemah), karena di dalamnya ada Fulan dan dia mukhtalath, dan Fulan (perawi) meriwayatkan darinya, dan dia termasuk perawi yang meriwayatkan darinya (syaikh yang mukhtalath) setelah terjadinya ikhtilath.”
Akan tetapi kalau kita bersabar (tidak secara cepat menghukumi hadits), dan kita membuka-buka kitab hadits, lalu kita kumpulkan jalur-jalur hadits, niscaya akan kita dapatkan bahwa di sana ada perawi yang meriwayatkan hadits dari syaikh tersebut, dan dia termasuk perawi yang mengambil haditsnya dari syaikh tersebut sebelum ikhtilath, mak dengan demikian shahihlah hadits tersebut, dan dan tidak dihukumi dengan dha’if, sebagaiman dia dihukumi sebelum diteliti secara panjang lebar terhadap hadits tersebut.Wallahu A’lam

 
(Sumber: Fataawaa Hadiitsiyyah karya Syaikh Sa’d bin Abdullah Alu Humaid hal.155-156, dan http://www.al-ittibaa.net/go/showthread.php?t=794. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

 

 

 

 

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&id=248

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: