Archive for ‘Ilmu Hadits’

Desember 15, 2011

MUSTADRAK DAN MUSTAKHRAJ


 

 

Pembahasan Seputar Kitab Mustdarak Imam AL-Hakim, Shahih Ibnu Hibban Dan Shahih Ibnu Khuzaimah

Mustdarak Al-Hakim adalah salah satu kitab berukuran besar di antara kitab-kitab hadits, yang mana di dalamnya penyusunnya menyebutkan hadits-hadits shahih berdasarkan (sesuai) syarat asy-Syaikhani (Imam al-Bukhari dan Muslim) atau syarat salah satunya, namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mencantumkan hadits tersebut dalam kitab mereka. Penyusunnya juga menyebutkan hadits-hadits shahih menurutnya sekalipun tidak berdasarkan syarat salah satu di antara keduanya (al-Bukhari dan Muslim), dengan mengungkapkan bahwa hadits tersebut shahih sanadnya. Dan terkadang menyebutkan beberapa hadits yang tidak shahih, namun ia memperingatkan hal itu, dan dia (Imam al-Hakim) termasuk seorang ulama yang mutasaahil (mudah/gampang dalam menshahihkan sebuah hadits).

read more »

Januari 13, 2011

HADITS MUKHTALATH


Pengertian Ikhtilath
Ibnu Hajar rahimahullah berkata:”Buruknya hafakan yang menimpa seorang perawi hadits.”
As-Sakhawi rahimahullahberkata:”Hakekatnya adalah rusaknya akal seorang perawi dan ketidakteraturan ucapan-ucapan dan perbuatannya.”
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata:”Seorang perawi yang Mukhtalath (orang yang tertimpa ikhtilath) adalah seorang perawi yang tertimpa hal-hal yang menjadikannya tidak tsiqah (tidak kredibel.)

read more »

Juni 15, 2010

Studi Kritis Hadits Taat Kepada Ali Berarti Taat Kepada Nabi


Baca selengkapnya………

Juni 14, 2010

Berkah Kubur Nabi


Baca selengkapnya…….

April 7, 2010

Hadits Ma’ruf


 

Ma’ruf adalah isim maf’ul dari kata ‘Arofa yang berarti yang sudah dikenal atau diketahui.
Adapun menurut ilmu hadits, hadits Ma’ruf adalah :
“Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqoh (terpercaya) yang menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh rawi yang dha’if (lemah)”

Dengan definisi ini, kita mengetahui bahwa hadits Ma’ruf adalah lawan dari hadits Munkar. Karena Munkar adalah : “Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dha’if (lemah) yang menyelisihi dengan apa yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqoh (terpercaya)”

Dengan ini, kita juga mengetahui bahwa hadits Ma’ruf bukanlah termasuk kategori hadits dhaif, tapi dia termasuk hadits maqbul dan shahih. Dia disebutkan setelah pembahasan hadits Munkar karena dia adalah lawan darinya, supaya bisa dibedakan dan jelas putih di atas hitam.

Contoh Hadits Ma’ruf
Contoh hadits Ma’ruf adalah contoh dari hadits Munkar. Hanya saja kalau Munkar dari jalan rawi yang dhaif sedangkan Ma’ruf dari jalan rawi yang tsiqah. Seperti hadits :

مَن أَقامَ الصَّلاةَ وآتى الزَّكاةَ وحَجَّ البيتَ وصامَ وقَرَى الضَّيْفَ دَخَلَ الجنَّةَ

“Barangsiapa mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, berpuasa dan memuliakan tamu, maka niscaya dia masuk surga”

Hadits ini dilihat dari jalan Hubayyib bin Habib az-Zayyat dari Abu Ishaq adalah Munkar, karena Hubayyib meriwayatkannya secara marfu’. Adapun selain dia (Hubayyib) dari para rawi yang tsiqat meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Ishaq secara mauquf (disandarkan kepada Shahabat). Riwayat para rawi yang tsiqat inilah yang disebut dengan Ma’ruf.
Imam Ibnu Abi Hatim rahimahullah setelah memaparkan hadits Hubayyib secara marfu’ tersebut, beliau berkata :
“Hadits itu Munkar, karena selain dia (Hubayyib) dari para rawi yang tsiqat meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Ishaq secara mauquf (disandarkan kepada Shahabat). Dan itulah yang Ma’ruf (lawan Munkar)”
Wallahu A’lam

(Abu Maryam Abdusshomad, diambil dari : Taisir Musthalah Hadits oleh Dr. Mahmud Thahhan)

http://alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&id=198

Maret 22, 2010

Hadits Kewajiban Saksi dalam Pernikahan


Hadits Kewajiban Saksi dalam Pernikahan

Maret 11, 2010

Hadits Matruk


 

 

Secara bahasa Matruk adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja Taroka. Orang Arab menamakan telur yang keluar darinya itik dengan at-Tarikah yang artinya yang tertinggal dan tidak ada gunanya.
Adapun menurut istilah ilmu musthalah hadits adalah :
“Hadits yang pada sanadnya terdapat rawi yang tertuduh berdusta”

Sebab-Sebab Seorang Rawi Tertuduh Berdusta
Penyebab tertuduhnya seorang rawi bahwa dia berdusta adalah salah satu dari dua sebab berikut :

1. Hadits tersebut hanya diriwayatkan dari jalannya saja dan hadits tersebut menyelisihi kaidah-kaidah yang yang sudah dimaklumi, yaitu kaidah-kaidah umum yang telah disimpulkan oleh para ulama dari seluruh dalil yang shahih.
2. Rawi tersebut terkenal dengan dusta dari bicaranya pada waktu biasa namun tidak terlihat bahwa dia berdusta di waktu menyampaikan hadits.

Contoh Hadits Matruk
Hadits ‘Amr bin Syamir al-Ju’fi Al-Kufi asy-Syi’i dari Jabir dari Abu at-Thufail dari ‘Ali dan ‘Ammar bahwa mereka berdua berkata :

كان النبي صلى الله عليه و سلم يقنت في الفجر ويكبر يوم عرفة من صلاة الغداة ويقطع صلاة العصر آخر أيام التشريق

“Nabi Sallallahu ‘Alahi Wasallam selalu membaca qunut pada shalat fajar, bertakbir pada hari Arafah dari semenjak shalat shubuh dan berhenti pada waktu shalat ashar di terakhir dari hari tasyrik”

Imam Nasa’i, Daruquthni dan yang lainnya mengatakan tentang ‘Amr bin Syamir bahwa dia adalah Matrukul Hadits (Haditsnya ditinggalkan dan tidak dipakai)

Contoh lain dari hadits Matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari jalan Juwaibir bin Sa’id al-Azdi dari ad-Dhahhak dari Ibnu Abbas dari Nabi Sallallahu ‘Alahi Wasallam bahwa beliau bersabda :

عليكم باصطناع المعروف فإنه يمنع مصارع السوء و عليكم بصدقة السر فإنها تطفئ غضب الرب عز وجل

“Hendaklah kalian selalu berbuat ma’ruf (baik), karena itu akan menahan keburukan dan hendaklah kalian bershodaqoh dengan cara sembunyi karena hal itu dapat memadamkan kemarahan Rabb (Tuhan) ‘Azza Wajalla”

Hadits dengan sanad ini di dalamnya terdapat Juwaibir bin Sa’id al-Azdi yang mana imam Nasa’i, Daruquthni dan yang lainnya mengatakan bahwa dia matrukul hadits.
Namun matan hadits tersebut adalah shahih, bila dilihat dari sanad yang lain.

Hadits Matruk menempati peringkat kedua setelah Hadits Maudhu’dari tingkatan hadits-hadits dhaif.
Wallahu A’lam

(Abu Maryam Abdusshomad, diambil dari : Taisir Musthalah Hadits oleh Dr. Mahmud Thahhan dan Musthalah Hadits Lilmubtadi’in oleh Amr Abdul Mun’im Salim)

http://alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&id=191

Februari 16, 2010

Pahala dan Berkah Dalam Hujan


 

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala urusan manusia , di antara hal yang diatur oleh Islam adalah bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi hujan. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan kepada umatnya bagaiman sikap dan cara menghadapi hujan. Sesungguhnya termasuk hal yang disyariatkan ketika turun hujan, adalah mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di antara petunjuk beliau adalah sebagai berikut:

read more »

Februari 16, 2010

Hadits Maudhu’


 

 

Dari segi bahasa, al-Maudhu’ adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja Wadho’a yang berarti menurunkan atau meletakkan dibawah.
Adapun dari segi istilah ilmu musthalah hadits, para ulama mendefinisikan hadits Maudhu’ dengan :

“Kebohongan yang diada-adakan, dibuat-buat, kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam dengan sengaja”

Hadits maudhu’ ini adalah tingkatan hadits dhaif yang terburuk dan terendah. Bahkan sebagian ulama menganggap bahwa hadits Maudhu’ bukanlah termasuk bagian dari hadits dhaif, namun dia adalah bagian tersendiri.

read more »

Januari 13, 2010

KEPERCAYAAN-KEPERCAYAAN VERSI JAHILIYAH


read more »

Januari 4, 2010

HADITS MU’DHAL


 

 

Secara bahasa Mu’dhal adalah bentuk isim maf’ul dari “A’dholahu” yang berarti menyulitkan dan membuat lemah.

Adapun secara istilah ilmu hadits, hadits Mu’dhal adalah :
“Hadits yang pada sanadnya gugur dua orang rawi atau lebih secara berurutan”

Contoh Hadits Mu’dhal
Contoh dari hadits Mu’dhal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitab “Ma’rifat Ulumil Hadits” dengan sanadnya yang terhubung kepada al-Qo’nabi dari Malik bahwa telah sampai kepadanya bahwa Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda :

لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بالمعروف وَلا يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ إِلا مَا يُطِيقُ

“Hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya secara ma’ruf (yang sesuai) dan tidak boleh dibebani pekerjaan, kecuali yang disanggupinya saja”

read more »

Desember 23, 2009

Lima Belas Macam Hadits Dha’if


1. AL-MUA’LLAQ

read more »

Desember 22, 2009

Hadits Dhaif Yang Berkaitan Dengan Keutamaan ‘Asyura


Hadits Pertama :

مَن وسَّع على أهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته

“Siapa yang memberikan kelonggaran (nafkah) kepada orang yang menjadi tanggungannya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya selama setahun penuh”. (HR. al-Baihaqi dalam asy-Syu’abil Iman, 3/365; ath-Thabrani, dalam al-Mu’jam al-Ausath, no. 9302 dan dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 10007 dari Ibnu ‘Uyainah ).

read more »